• Tidak ada hasil yang ditemukan

INVENTARISASI SUMBER DAYA MINERAL DI KAB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INVENTARISASI SUMBER DAYA MINERAL DI KAB"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi

INVENTARISASI SUMBER DAYA MINERAL DI

KABUPATEN BUOL MELALUI FOTO SATELIT

Laporan Antara

ENGINEERING CONSULTANT

(2)

ATA PENGANTAR

Dokumen ini merupakan Laporan Antara pekerjaan inventarisasi sumber daya mineral di Kabupaten Buol melalui foto satelit. Dengan demikian maka kegiatan inventarisasi ini telah dilakukan melalui pada pendekatan regional (regional appraisal) dengan bantuan foto satelit sebagai media utamanya.

Laporan ini disusun secara sistematik dalam 6 (enam) bab, diawali dari Bab I yang berisi pendahuluan, kemudian dilanjutkan dengan Bab II yang menjelaskan kondisi umum dan kondisi geologi daerah pekerjaan, diikuti oleh Bab III membahas sumber daya alam dan bencana alam geologi, Bab IV membahas hasil identifikasi potensi sumber daya alam dan bencana alam geologi, Bab V membahas prospek pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya alam di Kabupaten Buol, dan diakhiri dengan Bab VI yang berisi kesimpulan dan saran.

Kami sangat berharap bahwa laporan ini dapat memberikan manfaat, menambah dan memperkaya wawasan, sikap kritis, kreatif, serta sikap bijak dalam berbagai aspek yang berkaitan dengan potensi sumber daya alam dan bencana alam geologi. Kami sadar bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan masukan yang membangun tentunya sangat kami butuhkan. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah ikut membantu penyelesaian laporan ini, kami ucapkan terima kasih.

(3)

ii

1.3 Sasaran dan Manfaat yang Diharapkan ... 2

1.4 Metodologi Pekerjaan ... 3

1.4.1 Pengumpulan, Studi dan Evaluasi Data Sekunder ... 3

1.4.2 Pengadaan Peta dan Citra Satelit ... 3

1.4.3 Pengecekan Lapangan (Ground Check)... 4

1.4.4 Analisis Laboratorium ... 4

1.4.5 Analisis dan Evaluasi Data ... 5

1.5 Lokasi Daerah Pekerjaan... 5

1.6 Sistematika Laporan ... 6

2.1.4 Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat ... 9

2.2 Kondisi Geologi ... 10

2.2.1 Kerangka Tektonik Regional ... 10

2.2.2 Geologi Kabupaten Buol... 13

BAB III SUMBER DAYA ALAM DAN BENCANA ALAM GEOLOGI... 19

3.1 Sumber Daya Mineral ... 19

3.1.1 Pengertian dan Definisi ... 19

3.1.2 Jenis dan Tipe Endapan Mineral... 19

3.1.3 Konsep Eksplorasi Mineral ... 22

3.2 Sumber Daya Energi... 26

3.2.1 Pengertian dan Definisi ... 26

3.2.2 Batubara ... 26

3.2.3 Sistem Petroleum (Petroleum System) ... 28

3.2.4 Sistem Panasbumi (Geothermal) ... 33

(4)

3.3 Bencana Alam Geologi ... 39

3.3.1 Pengertian dan Definisi ... 39

3.3.2 Jenis Bencana Alam Geologi ... 40

3.3.3 Mitigasi Bencana Alam Geologi ... 45

BAB IV IDENTIFIKASI POTENSI SUMBER DAYA ALAM DAN BENCANA ALAM GEOLOGI... 47

4.1 Identifikasi Potensi Sumber Daya Mineral ... 47

4.1.1 Identifikasi Potensi Mineral Logam atau Mineral Bijih. 50 4.1.2 Identifikasi Potensi Mineral Non Logam (Bahan Baku Industri)... 62

4.2 Identifikasi Sumber Daya Energi... 68

4.2.1 Identifikasi Potensi Batubara ... 68

4.2.2 Identifikasi Potensi Migas ... 70

4.2.3 Identifikasi Potensi Panas bumi ... 71

4.3 Potensi Bencana Alam Geologi ... 72

BAB V PROSPEK PEMANFAATAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI SUMBER DAYA ALAM DI KABUPATEN BUOL... 76

5.1 Potensi Pemanfaatan Sumber Daya Mineral... 76

5.1.1 Mineral Logam ... 76

5.1.2 Mitigasi Bencana Alam Geologi ... 77

5.2 Potensi Pemanfaatan Sumber Daya Energi ... 80

5.2.1 Batubara ... 80

5.2.2 Migas ... 80

5.2.3 Panasbumi... 81

5.3 Kendala Pengembangan dan Pengelolaan ... 81

5.3.1 Aspek Tata Ruang Wilayah ... 81

5.3.2 Faktor Jarak dan Transportasi ... 82

5.3.3 Aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)... 82

5.4 Kriteria Kelayakan ... 83

5.4.1 Kriteria Fisik ... 83

5.4.2 Kriteria Ekonomi ... 84

5.4.3 Kriteria Sosial Budaya ... 84

5.4.4 Kriteria Lingkungan Fisik ... 85

5.4.5 Kriteria Pembatas ... 86

5.4.6 Kriteria untuk Lokasi di Sekitar Kawasan Lindung ... 87

5.4.7 Batasan Teknis untuk Aktivitas Penggalian di Sungai 88 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 91

(5)

iv

AFTAR TABEL

Tabel 3.1 Beberapa metoda eksplorasi ………... 24

Tabel 3.2 Penggolongan batubara menurut mutu... 27

Tabel 3.3 Kriteria batuan induk berdasarkan TOC... 29

Tabel 3.4 Tipe-tipe kerogen………....……... 30

Tabel 4.1 Sebaran contoh batuan di Kabupaten Buol... 50

Tabel 4.2 Contoh sedimen sungai unsur Cu di atas harga ambang. 57 Tabel 4.3 Contoh sedimen sungai unsur Pb di atas harga ambang.. 57

Tabel 4.4 Contoh sedimen sungai unsur Zn di atas harga ambang.. 58

Tabel 4.5 Contoh sedimen sungai unsur Co di atas harga ambang.. 58

Tabel 4.6. Contoh sedimen sungai unsur Ni di atas harga ambang... 59

Tabel 4.7 Contoh sedimen sungai unsur Mn di atas harga ambang. 60 Tabel 4.8 Contoh sedimen sungai unsur Ag di atas harga ambang.. 60

Tabel 4.9 Contoh sedimen sungai unsur Li di atas harga ambang... 61

Tabel 4.10 Contoh sedimen sungai unsur Fe di atas harga ambang.. 61

Tabel 4.11 Contoh sedimen sungai unsur Cr di atas harga ambang.. 62

Tabel 4.12 Contoh sedimen sungai unsur K di atas harga ambang... 62

Tabel 4.13 Endapan non-logam serta lokasi keterdapatannya... 63

Tabel 4.14 Analisis kimia batugamping... 65

(6)

AFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta indeks lokasi pekerjaan... 6

Gambar 2.1 Kerangka struktur regional Pulau Sulawesi…….…….. 11

Gambar 2.2 Elemen struktur utama Pulau Sulawesi... 12

Gambar 2.3 Provinsi Tektonik Sulawesi ………... 13

Gambar 2.4 Peta Geologi Kabupaten Buol dirangkum dari Peta Geologi bersistem lembar Tolitoli dan Tilamuta ... 16

Gambar 3.1 Endapan chromit berupa perlapisan dengan kandungan plagioklas tinggi... 20

Gambar 3.2 Tipe endapan layered mafic intrusi sebagai proses syngenetik ... 21

Gambar 3.3 Pengisian oleh mineral berat membentuk struktur vein... ... 21

Gambar 3.4 Bagan alir perencanaan eksplorasi ... 25

Gambar 3.5 Konsep batuan induk dalam sistem petroleum... 28

Gambar 3.6 Perangkap-perangkap minyak bumi ... 32

Gambar 3.7 Model-model perangkap struktur ... 32

Gambar 3.8 Model-model perangkap stratigrafi... 33

Gambar 3.9 Model-model perangkap kombinasi struktur dan stratigrafi... 33

Gambar 3.10 Sumber panas dan reservoir panas... 34

Gambar 3.11 Urutan operasi survei eksplorasi migas... 38

Gambar 3.12 Alur penyelidikan dan pengembangan panas bumi... 39

Gambar 3.13 Skematik gelombang pasang tinggi akibat tsunami... 41

Gambar 3.14 Sebaran gunungapi di Indonesia... 43

Gambar 3.15 Gunungapi dan bahaya-bahaya akibat letusannya... 43

Gambar 4.1 Peta lokasi pengamatan dan pengambilan contoh di Kabupaten Buol... 48

Gambar 4.2 Peta potensi sumber daya mineral dan energi di Kabupaten Buol... 49

Gambar 4.3 Kekar yang telah mengalami pengisian... 51

Gambar 4.4 Contoh batuan yang mengalami proses mineralisasi (BL-02, BL-03, BL-04, dan BL-12 )... 52

Gambar 4.5 Singkapan BL-02 dan BL-03 memprlihatkan batuan gunungapi yang telah terubah hidrotermal dan dipotong oleh jaringan urat-urat tipis kalsit dan kuarsa... 53

(7)

vi

Gambar 4.7 Aktivitas penambangan emas rakyat di Daerah

Paleleh ... 54

Gambar 4.8 Penyebaran beberapa unsur di Kabupaten Buol... 56

Gambar 4.9 Singkapan batugamping terumbu BL-06 memperlihatkan struktur masif bewarna putih – krem berkadar CaCO3 tinggi yang baik untuk industri semen... 64

Gambar 4.10 Singkapan batugamping dipinggir jalan dekat kota Buol merperlihatkan struktur berlapis dengan penyusun utama bioklastik packstone – wackestone disekitar terumbu... 64

Gambar 4.11 Foto singkapan batulempung lokasi BL-13 dan BL-14. 67 Gambar 4.12 Singkapan Batubara BL-08 berada di dasar Sungai Kecil di Desa Lamadong-1 berada di atas lapisan batugamping... 69

Gambar 4.13 Foto singkapan dan sampel lokasi BL-08……….. 70

Gambar 4.14 Cekungan Minahasa serta penyebarannya... 71

Gambar 4.15 Mata air panas pada lokasi BL-10... 72

Gambar 4.16 Peta potensi bencana alam geologi di Kabupaten Buol... 75

(8)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Potensi sumber daya alam merupakan sumber daya yang bersifat tak

terbarukan, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, dan pengelolaannya

dikuasai oleh negara. Penguasaan oleh negara dilaksanakan oleh

pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pada

pelaksanaannya, pengelolaan sumber daya alam ini dilakukan untuk dapat

dimanfaatkan yang sebesar-besarnya demi meningkatkan kemakmuran

masyarakatnya, secara efisien, transparan, berkelanjutan, serta berwawasan

lingkungan. Oleh karena itu, potensi sumber daya alam, baik itu sumber daya

mineral maupun sumber daya energi seperti minyakbumi dan panas bumi

yang terdapat di suatu daerah, memerlukan penanganan yang khusus.

Masalah yang terjadi di Kabupaten Buol, yaitu belum diketahuinya dengan

pasti pola keterdapatan potensi sumber daya alam tersebut. Sumber daya

alam tersebut mungkin saja memiliki nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan

dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan

tersebut maka perlu dilakukan kajian yang menyeluruh berbagai potensi

sumber daya alam yang mungkin terdapat di Kabupaten Buol.

Namun demikian, selain potensi sumber daya alam, pengaruh dari

kondisi/tatanan geologi daerah setempat seringkali juga mengakibatkan

adanya potensi terjadinya proses yang bersifat penghancuran (destruktif),

yaitu berupa bencana alam, yang dapat mengakibatkan terjadinya korban

yang berarti. Meskipun potensi bahaya yang mengakibatkan bencana alam

tidak dapat ditolak dan dihindari, namun diperlukan usaha-usaha khusus

untuk dapat meminimalkan atau bahkan menghindari dampak yang

(9)

Bab I - 2 Berkenaan dengan hal tersebut, kegiatan inventarisasi potensi sumber daya

dan bencana alam yang ada di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, ini

dilaksanakan dengan media utama yaitu melaui pendekatan regional

(regional appraisal) dengan bantuan foto satelit, sehingga diharapkan Pemda

setempat dapat memanfaatkan data potensi sumber daya dan bencana alam

tersebut untuk dapat memacu pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.

1.2 Lingkup dan Tujuan

Lingkup pekerjaan ini dititikberatkan pada inventarisasi potensi sumber daya

alam, baik sumber daya mineral maupun sumber daya energi, dan potensi

bencana alam geologi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah melalui

pendekatan reginal (regional appraisal) dengan bantuan foto satelit.

Adapun tujuan dari pekerjaan ini, meliputi :

• Melakukan inventarisasi potensi sumber daya mineral

• Melakukan inventarisasi potensi sumber daya energi

• Mendeliniasi potensi bencana alam geologi

• Menyusun basis data seluruh potensi tersebut di atas dalam suatu

peta berskala 1 : 250.000.

1.3 Sasaran dan Manfaat yang Diharapkan

Sasaran pekerjaan ini, antara lain :

• Terbentuknya basis data awal (preliminary) potensi sumber daya

alam baik sumber daya mineral maupun energi secara akurat,

informatif, dan sistematis

• Terbentuknya basis data awal (preliminary) potensi potensi bencana

(10)

Beberapa manfaat yang dapat diharapkan dari inventarisasi ini, antara lain

yaitu :

• Ketersediaan data secara akurat, informatif, dan sistematis mengenai

potensi sumber daya alam yang ada di Kabupaten Buol

• Pemda setempat diharapkan dapat mengetahui potensi sumber daya

alam dan memanfaatkannya sebagai dasar dalam kegiatan

peningkatan perekonomian dan pendapatan daerah.

• Pemda setempat diharapkan dapat mengambil kebijakan-kebijakan

penting berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam maupun

berkaitan dengan potensi bencana alamnya.

• Masyarakat setempat diharapkan dapat memanfaatkan dan

menikmati karunia Tuhan Yang Maha Esa berupa potensi sumber

daya alam dan dapat dapat meminimalkan atau bahkan menghindari

dampak potensi bencana alam yang terdapat di daerahnya.

1.4 Metodologi Pekerjaan

Untuk mencapai hasil yang diharapkan, pekerjaan inventarisasi ini dilakukan

dengan beberapa tahapan, antara lain :

1.4.1 Pengumpulan, studi dan evaluasi data sekunder

Tahapan ini meliputi pengumpulan data-data hasil inventarisasi yang telah

dilakukan sebelumnya, baik yang berkaitan dengan potensi sumber daya

alam maupun potensi bencana alam geologi. Data-data tersebut selanjutnya

dianalisis dan dikaji secara detail dalam rangka penyusunan rencana

pekerjaan inventarisasi yang akan dilakukan saat ini dan penyusunan

laporan pendahuluan.

1.4.2 Pengadaan Peta dan Citra Satelit

Beberapa peta dan citra satelit yang diperlukan sebagai data dasar antara

lain adalah peta rupabumi skala 1: 50.000 yang dibuat oleh Bakosurtanal,

(11)

Bab I - 4 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), peta topografi (skala 1 :

250 000) yang dibuat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,

citra landsat 6 band dan citra radar.

Peta dan citra satelit ini digunakan sebagai bahan dasar utama dalam

pelaksanaan pekerjaan inventarisasi ini. Hasil dari analisis citra ini juga

digunakan sebagai dasar untuk perencanaan kegiatan pengecekan lapangan

(ground check).

1.4.3 Pengecekan lapangan (ground check)

Pengecekan lapangan didasarkan pada hasil interpretasi citra satelit, peta

topografi, dan peta geologi. Pengecekan lapangan dilakukan terutama pada

beberapa lokasi yang diindikasikan memiliki potensi terdapatnya sumber

daya mineral dan energi, serta potensi bencana alam geologi. Dalam

pelaksanaannya, pengecekan lapangan dilakukan dengan menggunakan

metode GPS tracking, dimana semua data geologi yang dijumpai di lapangan

ditentukan lokasi keterdapannya, yang kemudian dimasukkan ke dalam peta

dasar (base map) dan dibuat basis datanya, sehingga mudah untuk

dilakukan pengecekan ulang apabila diperlukan.

Selain itu, dalam pengecekan lapangan juga dilakukan pengambilan contoh

batuan (sampling) untuk kemudian dilakukan pengujian di laboratorium.

Pengambilan contoh batuan galian logam dilakukan pada daerah yang

memungkinkan terjadinya alterasi dan mineralisasi, berupa singkapan

batuan segar (rock chip/RC). Pengambilan contoh batuan galian non logam

juga dilakukan, terutama batugamping, andesit, batupasir, dan batulempung.

Batubara, sebagai salah satu bahan baku energi, juga merupakan target

utama dalam pengecekan lapangan ini.

1.4.4 Analisis Laboratorium

Analisis laboratorium dilakukan terhadap beberapa contoh batuan yang

(12)

diperoleh kadar unsurnya (grade). Pekerjaan laboratorium yang dilakukan

antara lain :

• Analisis kimia contoh batuan dalam usaha mengetahui kandungan

unsur-unsur kimia logam dan non logam utama.

• Analisis petrografis (secara mikroskopis) contoh batuan dilakukan

untuk mengetahui komposisi mineralogi dan genesa/asal mula

pembentukannya.

Untuk analisis laboratorium, contoh batuan yang mengandung bahan galian

non logam, dilakukan analisis mutu dan kadar dari setiap bahan galian yang

dianggap perlu. Selain itu juga, pengujian contoh batuan yang mengandung

bahan galian non logam hanya dilakukan pada contoh batuan yang

diperkirakan memiliki jumlah cadangan yang berarti.

Analisis kimia pada pengujian laboratorium ini dilakukan dengan

menggunakan fasilitas laboratorium yang terdapat di PSDG (Pusat Sumber

Daya Geologi), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik

Indonesia, Laboratorium Endapan Mineral dan Laboratorium Sedimentologi

dan Sumber Daya Energi Migas, Departemen Teknik Geologi, Institut

Teknologi Bandung.

1.4.5 Analisis dan Evaluasi Data

Analisis data dilakukan dengan memadukan data sekunder dan data primer

guna menyusun basis data awal (preliminary) potensi sumber daya alam baik

sumber daya mineral maupun energi dan potensi bencana alam geologi

secara akurat, informatif, dan sistematis.

1.5 Lokasi Daerah Pekerjaan

Lokasi pekerjaan inventarisasi ini meliputi seluruh Kabupaten Buol, Propinsi

Sulawesi Tengah. Secara geografis terletak pada 1°22’ Lintang Utara (LU)

(13)

Bab I - 6 (BT), berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi di sebelah utara, Propinsi

Gorontalo di sebelah timur, Kabupaten Parigi Moutoung di sebelah selatan,

dan Kabupaten Tolitoli di sebelah barat (Gambar 1.1). Kabupaten ini memiliki

luas wilayah sekitar 3.507 km2.

Gambar 1.1 Peta indeks lokasi daerah pekerjaan.

1.6 Sistematika Laporan

Laporan ini merupakan laporan antara yang disusun setelah pengecekan

lapangan dan sebagian analisis laboratorium telah selesai dilakukan.

Laporan disusun secara sistematik dalam 5 bab, diawali oleh Bab I yang

berisi pendahuluan, kemudian diikuti oleh Bab II yang menjelaskan kondisi

umum daerah pekerjaan, Bab III tentang sumber daya alam dan bencana

alam geologi, Bab IV membahas identifikasi potensi sumber daya alam dan

bencana alam geologi, Bab V mengenai prospek pengembangan dan

pemanfaatan potensi sumber daya alam Kabupaten Buol, dan Bab VI yang

(14)

KONDISI UMUM

Dalam bab ini akan diuraikan kondisi umum Kabupaten Buol dan kondisi

geologi yang dikaitkan dengan keterdapatan berbagai potensi sumber daya

alam dan potensi bencana alam geologi.

2.1 KONDISI UMUM KABUPATEN BUOL

Uraian tentang kondisi umum Kabupaten Buol meliputi pembahasan kondisi

fisik, kesampaian daerah, iklim, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

2.1.1 Kondisi Fisik

Kabupaten Buol termasuk daerah yang beriklim tropis dan sebagian besar

wilayahnya berupa pegunungan. Pemukiman dan pusat pemerintahan

kabupaten terletak di sepanjang pantai utara Pulau Sulawesi. Di kabupaten

ini juga terdapat beberapa potensi pariwisata yang belum dikembangkan,

seperti terdapatnya air terjun, pantai yang indah, dan terdapatnya sumber

mataair panas.

Sarana perhubungan darat dan laut sangat terbatas. Kondisi fisik jalan raya

di Kabupaten Buol, terutama yang berada di bagian pantai utara, telah

mengalami kerusakan yang parah di beberapa bagian, bahkan sering sekali

menjadi berita besar di berbagai media (berdasarkan Buku Profil Daerah

Kabupaten dan Kota, Jilid 4). Hal serupa juga terjadi pada jalan yang menuju

Propinsi Gorontalo. Pada route ini terdapat empat jembatan yang terputus

yaitu di Desa Kuala Besar, Oyak, Lintindu, dan Lumoto, Kecamatan Paleleh.

Permukaan kerikil yang menutupi jalan juga mendominasi hampir seluruh

jalan di Kabupaten Buol. Ruas jalan Buol sepanjang 429 kilometer terdiri dari

(15)

Bab II - 8 jalan yang berstatus milik kabupaten ini tercatat 20 kilometer dalam kondisi

baik, sedangkan sisanya 70 kilometer dalam kondisi sedang. Jalan dalam

kondisi rusak dan rusak berat masing-masing 65 kilometer dan 90 kilometer.

Selain jalan darat, terdapat jalur laut Kabupaten Buol dengan Pelabuhan

Regional Leok yang biasa digunakan sebagai sandar kapal jurusan Tolitoli

maupun Gorontalo. Namun, yang menjadi permasalahan, jadwal sandar

kapal cukup terbatas. Dalam seminggu, hanya hari Senin, Kamis, dan

Minggu kapal datang bersandar. Pembukaan akses melalui transportasi laut

skala nasional dan internasional dilakukan dengan membangun Pelabuhan

Lokodidi. Sementara itu, jalur perjalanan udara dapat dilakukan melalui

Lapangan Terbang Pogogul di Kecamatan Momunu. Inilah satu-satu fasilitas

transportasi udara kebanggaan masyarakat Buol. Meskipun demikian, jadwal

kedatangan dan keberangkatan pesawat juga masih tergantung cuaca.

Selain itu, fasilitas listrik dan sarana telekomunikasi juga masih sangat minim.

Listrik yang berkapasitas 2.690 kW hanya mampu berfungsi selama 12 jam

dan beroperasi mulai saat magrib hingga menjelang matahari terbit.

Kebutuhan listrik siang hari di perkantoran disuplai dengan mesin diesel milik

sendiri. Sarana telekomunikasi di Kota Buol berupa dua kantor pos dan

telepon dengan 1.000 satuan sambungan telepon. Saluran telepon itu relatif

baru dan terpasang mulai Tahun 2001.

2.1.2 Kesampaian Daerah

Jarak antara Kota Kabupaten Buol dengan Kota Palu tidak kurang dari 573

kilometer. Untuk sampai ke Kabupaten Buol bisa ditempuh dengan

menggunakan pesawat, kapal, dan perjalanan darat. Dari Ibukota Propinsi

Sulawesi Tengah yaitu Kota Palu, Kota Buol dapat dicapai dengan pesawat,

namum karena jadwal penerbangan hanya terjadi satu kali penerbangan

dalam seminggu, seringkali alternatif lain digunakan, yaitu dengan

menggunakan kapal air yang menyusuri pantai utara Sulawesi, dan

(16)

sampai Kota Tolitoli, sehingga dari Tolitoli harus dilanjutkan dengan

perjalanan darat. Perjalanan kapal air dari Kota Palu ke Tolitoli ditempuh

selama 13 jam, sedangkan perjalanan darat dari Kota Tolitoli ke Kabupaten

Buol ditempuh dengan 3 jam perjalanan. Selain itu, alternatif lain adalah

dengan menggunakan perjalanan darat dari Kota Palu ke Kabupaten Buol

dengan lama perjalanan 15 jam.

2.1.3 Kondisi Iklim

Kondisi geografis Kabupaten Buol yang dilalui oleh garis katulistiwa

mengakibatkan Kabupaten Buol beriklim tropis. Akan tetapi berbeda dengan

Pulau Jawa dan Pulau Bali serta sebagian Pulau Sumatra, karena musim

hujan di Kabupaten Buol terjadi antara Bulan April dan Bulan Oktober,

sedangkan musim kemarau antara terjadi pada Bulan Oktober hingga Bulan

April. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 – 3000 mm per tahun, dan

ini merupakan curah hujan terendah di seluruh Indonesia.

Temperatur udara di Kabupaten Buol berkisar antara 25º C – 31º C untuk

dataran pantai hingga tingkat kelembaban 71% – 76%. Malam semakin

dingin dengan adanya hembusan angin laut. Sedangkan di daerah

pegunungan, suhu udara dapat mencapai 16º C - 22º C, khususnya di waktu

malam, suhu udara dapat lebih rendah lagi.

2.1.4 Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Penduduk asli Kabupaten Buol didiami oleh Suku Buol. Selain itu, terdapat

masyarakat pendatang dari suku-suku lain seperti Suku Bugis, Suku Jawa,

Suku Sunda, Suku Bali, dan lain-lain. Sebagian dari mereka datang ke

Kabupaten Buol dengan tujuan untuk mencari nafkah dari hasil pertanian.

Mereka ini umumnya dikenal dengan masyarakat transmigran dan bekerja

dengan mengusahakan hasil pertanian yang tersebar di beberapa lokasi di

Kabupaten Buol. Mereka umumnya datang dari Pulau Jawa dan Bali.

Sedangkan para penduduk lainnya umumnya datang ke Kabupaten Buol

(17)

Bab II - 10 Tanah di Kabupaten Buol sangat cocok untuk ditanami tanaman pangan

seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang kedele, dan

kacang hijau, yang menjadi sumber mata pencaharian tidak kurang dari

57 % penduduknya. Bila melihat penduduk yang bekerja dalam lapangan

usaha pertanian secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi sumber

pendapatan ekonomi serta mata pencarian utama yang menyerap tidak

kurang 73 persen penduduk. Pertanian merupakan kontributor utama

kegiatan ekonomi Kabupaten Buol. Nilai ekonomi yang dihasilkan sebesar

Rp. 215,6 miliar atau sekitar 57,9 persen dari total kegiatan ekonomi pada

tahun 2001. Sedangkan, untuk informasi nilai ekonomi terbaru belum

diperolah data pasti (berdasarkan Buku Profil Daerah Kabupaten dan Kota,

Jilid 4).

Dari beberapa komoditas pertanian yang dihasilkan Kabupaten Buol, kelapa

sawit menjadi komoditas unggulan. Tanaman ini menurut hasil pengujian

salah-satu pabrik minyak goreng di Surabaya, menghasilkan minyak goreng

kualitas tinggi. Kandungan asam lemaknya kurang dari 3 %. Lokasi

perkebunan kelapa sawit terletak di Kecamatan Bunobogu, Bokat, dan Biau.

Dari areal seluruhnya 12.493,07 hektar, terdapat 9.982,31 hektar lahan

tanaman menghasilkan kelapa sawit. Perusahaan kelapa sawit swasta yang

beroperasi sejak 1994 ini menampung 3.282 tenaga kerja. Selain

menyediakan lapangan usaha, pengolahan perkebunan kelapa sawit ini

memberikan pemasukan bagi kas kabuaten.

2.2 KONDISI GEOLOGI

2.2.1 Kerangka Tektonik Regional

Secara geologi Pulau Sulawesi dan daerah sekelilingnya merupakan suatu

area yang kompleks. Kompleksitas daerah ini disebabkan oleh adanya

pertemuan antara tiga lempeng litosfer yaitu Lempeng Australia yang

bergerak ke arah utara, Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat dan

(18)

Gambar 2.1 Kerangka struktur regional Pulau Sulawesi

(Darman dan Sidi, 200)

Wilayah ini mewakili suatu pusat dari triple junction akibat konvergensi

lempeng (Simandjuntak, 1992 dalam Darman dan Sidi 2000). Konvergensi ini

menyebabkan peningkatan intensitas pembentukan struktur, dari semua tipe

struktur pada semua skala, termasuk subduksi dan zona tumbukan, sesar

dan lipatan. Saat ini hampir seluruh struktur terjadi pada umur Neogen dan

beberapa struktur pada umur pra-Neogen masih aktif atau tereaktivasi.

Struktur-struktur utama Pulau Sulawesi antara lain Palung Minahasa, Sistem

Sesar Palu-Koro, Anjakan Batui, Anjakan Poso dan Sesar Walanae (Darman

(19)

Bab II - 12 Gambar 2.2 Elemen struktur utama Pulau Sulawesi (Darman dan Sidi, 2000).

Berdasarkan asosiasi litologi dan perkembangan tektoniknya, Sulawesi dapat

dibagi menjadi 5 provinsi tektonik (Darman dan Sidi, 2000) seperti terlihat

dalam Gambar 2.3, yaitu :

1. Busur Volkanik Tersier Sulawesi bagian Barat

2. Busur Volkanik Kuarter Minahasa-Sangihe

3. Busur Metamorfik Kapur-Paleogen Sulawesi Tengah

4. Busur Ofiolit Kapur Sulawesi Timur

(20)

Gambar 2.3 Provinsi Tektonik Sulawesi (Darman dan Sidi, 2000)

Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, terletak pada provinsi tektonik Busur

Volkanik Sulawesi Barat, daerah ini memanjang dari lengan selatan Sulawesi

sambai ke lengan utara. Secara umum busur ini terdiri dari batuan

plutonik-volkanik berumur Paleogen sampai Kuarter dengan batuan sedimen dan

metamorf berumur Mesozoik-Tersier.

2.2.2 Geologi Kabupaten Buol

Wilayah Kabupaten Buol, tercakup oleh dua lembar Peta Geologi bersistem

yang dikeluarkan Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi (P3G), yaitu

lembar Tolitoli (Ratman, 1976) dan lembar Tilamuta (Bachri dkk., 1994).

Sketsa peta geologi Kabupaten Buol yang ditampilkan berikut merupakan

kompilasi dari dua lembar peta tersebut (Gambar 2.4). Pembahasan

mengenai stratigrafi dan struktur geologi Kabupaten Buol selanjutnya, akan

(21)

Bab II - 14 Stratigrafi

Batuan yang menyusun stratigrafi Kabupaten Buol dari tua ke muda dapat

diuraikan sebagai berikut :

• Kompleks Metamorfosis (km) dan Daerah Terutama Sekis Hijau (kmg)

Kompleks metamorfosis terdiri dari sekis biotit-kuarsa, sekis biotit-felspar,

sekis granit-epidot, sekis klorit, sekis talkum, gneiss mika, gneiss

mika-granit, gneiss mika felspar dan gneiss muskovit dengan sisipan kuarsit.

Satuan km ditemukan didaerah sekitar Bukit Malino, G. Luante dan Bukit

Suampa, sedangkan satuan kmg ditemukan pada lembah sungai di tepi

lereng G. Solusuipande.

• Batuan Gunung Api (Ttv)

Terdiri dari lava bantal dan aglomerat dengan susunan bersifat andesitik

sampai basalt, diabas yang terkersikkan dan spilit. Umumnya

terprofilitkan dan termetamorfosis lemah, berwarna hijau muda atau hijau

gelap. Sebagian diabas dan spilitnya bertekstur ofit, porfir dan

amigdaloid. Bagian bawah dari satuan ini di sepanjang Sungai Buol

terdiri dari aliran lava berselingan dengan rijang. Satuan ini diperkirakan

menjari dengan Formasi Tinombo. Umur dari satuaan ini diperkirakan

Kapur Atas sampai Oligosen Bawah.

• Formasi Tinombo (Tts).

Terdiri dari filit, batu sabak, batu sabak bersifat filit, batu pasir kwarsa,

batulanau, kwarsit, pualam, batu tanduk, serpih merah dan rijang merah,

serta batuan gunung api. Satuan ini diperkirakan diendapkan pada

lingkungan laut dalam. Kadar (1974) menentukan umur formasi ini Eosen

sampai Oligosen Bawah berdasarkan fosil Nummulites. Satuan ini di

beberapa tempat seperti pada Sungai Aerterang dan Sungai Lakea

diterobos oleh Satuan Terobosan Granit (gr).

• Formasi Dolokapa (Tmd)

Terdiri dari Batupasir wacke, batulanau, batulumpur, konglomerat, tuf, tuf

lapili, aglomerat, breksi gunung api dan lava bersusunan andesit sampai

basalt. Batupasir wacke warna abu, setempat gampingan, berlapis baik,

(22)

sampai abu-abu muda dan abu-abu kecoklatan, kompak dan setempat

berlapis buruk. Sedang aglomerat berwarna abu-abu, tersusun oleh

kepingan batu andesitan hingga basalt, dengan masa dasar tersusun

oleh tuf, terpilah buruk, kemas tertutup dan kompak. Breksi berwarna

abu-abu dan abu-abu gelap tersusun oleh kepingan batuan andesit

sampai basalt, fragmen berukuran 2-8 cm, bentuk menyudut sampai

menyudut tanggung, pemilahan buruk, kemas tertutup umumnya kompak.

Lava umumnya berwarna abu-abu sampai abu-abu tua, bersifat

andesitan hingga basalt, tekstur afanitik, masif dan kompak. Berdasarkan

analisil mikrofosil dan kedudukan stratigrafinya yang menindih secara tak

selaras Formasi Tinombo yang berumur Eosen, maka Formasi Dolokapa

diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir. Adapun

lingkungan pengendapannya adalah inner sublitoral. Tebal formasi

secara keseluruhan diperkirakan sekitar 2000 m. Satuan ini diterobos

oleh satuan terobosan Diorit Boliohotu (Tmbo) yang berupa batuan

intrusi diorit dan granodiorit.

• Breksi Wobudu (Tpwv)

Satuan ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Dolokapa.

Satuan ini terdiri dari breksi gunung api, aglomerat, tuf, tuf lapili, lava

andesitan dan basalt. Breksi gunung api berwarna abu-abu tersusun oleh

fragmen batuan andesit dan basalt yang berukuran kerikil sampai

bongkah, menyudut tanggung hingga membulat tanggung mempunyai

susunan dan kenampakan fisik yang sama dengan breksi gunung api.

Tuf dan tuf lapili berwarna kuning dan kuning kecoklatan, terkekarkan,

umumnya lunak dan berlapis. Sedangkan lava umumnya berwarna

abu-abu sampai abu-abu-abu-abu tua, masif, bertekstur porfiro-afanitik dan

bersusunan andesit hingga basalt. Berdasarkan posisi stratigrafinya

satuan ini diperkirakan berumur Pliosen Awal.

• Formasi Lokodidi (TQls)

Terdiri dari perselingan konglomerat, batupasir, batupasir konglomeratan,

batupasir tufan, tuf pasiran, batulempung dan serpih hitam. Konglomerat

(23)

Bab II - 16 susu yang berukuran kerikil-kerakal, bentuk membundar, massa dasar

tuf, terpilah buruk, kemas tertutup, setempat bersifat gampingan dan

umumnya agak kompak, dibeberapa tempat terdapat perlapisan

bersusun yang diselingi oleh batupasir halus dengan struktur perlapisan

sejajar dan silang siur. Batupasir berwarna abu hingga coklat kemerahan,

berbutir halus hingga sedang umumnya kompak, merupakan sisipan

diantara serpih dan konglomerat. Batupasir tufan dan tuf berwarna putih

hingga abu-abu muda, berbutir sedang dan agak kompak, sedang serpih

berwarna hitam umumnya kurang kompak, gampingan dan berstruktur

laminasi sejajar. Berdasarkan posisi stratigrafinya satuan ini diperkirakan

berumur Pliosen Awal sampai Pliosen Akhir. Satuan ini diterobos oleh

satuan terobosan Diorit Boliohotu (Tmbo)

Gambar 2.4 Peta Geologi Kabupaten Buol, dirangkum dari Peta Geologi

bersistem lembar Tolitoli (Ratman, 1976)

(24)

• Molasa Celebes Sarasin dan Sarasin (Qts)

Terdiri dari konglomerat, batupasir kuarsa, greywacke, batulempung,

serpih, napal, dan batugamping koral. Mengeras lemah dengan

kemiringan antara 0° sampai 10°. Konglomerat mengandung komponen

dari batuan yang lebih tua terutama batuan gunungapi, diperkirakan

diendapkan pada lingkungan laut. Dari analisis mikrofosil, umur dari

satuan ini diperkirakan Miosen Akhir sampai Pliosen (Kadar, 1979 dalam

Ratman, 1976).

• Batugamping Koral (Ql)

Terdiri dari batugamping koral, breksi koral dengan cangkang moluska

dan napal, sebagian pejal. Terbentuk pada lingkungan neritik dan litoral.

Di daerah Sabang dan Buol, satuan ini membentuk morfologi perbukitan

rendah dengan topografi karst. Berdasarkan analisis mikrofosil, umur

satuan ini diperkirakan tidak lebih tua dari Pliosen (Koperberg, 1928

dalam Bachri dkk., 1994).

• Endapan Danau dan Sungai (Qs)

Terdiri dari kerikil dan batupasir kurang terekatkan, lempung dan lapisan

tipis sisa tanaman. Umumnya mengeras lemah, diendapkan pada

lingkungan danau dan setempat mungkin daratan. Singkapan kecil

ditemukan di sepanjang Sungai Buol dengan tebal sekitar 6 m, hampir

datar dan tertutupi aluvium.

• Aluvium dan Endapan Pantai (Qal)

Terdiri dari kerikil, pasir dan lumpur, terbentuk dalam lingkungan sungai,

delta dan pantai.

Struktur Geologi

Struktur geologi yang utama di daerah ini adalah struktur sesar, berupa sesar

normal, sesar naik dan sesar mendatar. Sesar normal yang terdapat pada

Gunung Boliohuto menunjukkan pola memancar. Sedangkan sesar mendatar

pada umumnya bersifat menganan, tetapi ada juga sebagian yang mengiri.

Sesar tersebut memotong batuan yang berumur tua (Formasi Tinombo/Tmd)

(25)

Bab II - 18 ditemukan di sebelah barat daya dari Sungai Airterang, dan satuan termuda

yang dipotongnya adalah Satuan Batuan Gunungapi (Ttv). Sesar naik ini

dipotong oleh dua sesar mendatar menganan yang berumur lebih muda dari

Satuan Molasa Celebes. Hal ini dikarenaan kedua sesar tersemut memotong

satuan batuan yang berumur Miosen Akhir sampai Pliosen.

Struktur lipatan hanya terdapat setempat terutama pada Formasi Dolokapa

dan Formasi Lokodidi, dengan sumbu lipatan secara umum berarah

(26)

SUMBER DAYA ALAM DAN

BENCANA

ALAM

GEOLOGI

3.1 Sumber Daya Mineral

3.1.1 Pengertian dan Definisi

Sumber daya mineral adalah suatu objek atau gejala geologi dimana terjadi

konsentrasi unsur-unsur atau mineral tertentu yang mempunyai nilai

ekonomi. Keterdapatannya biasanya merupakan suatu tubuh geologi berupa

batuan atau agregat dari beberapa mineral yang di dalamnya terkandung

unsur-unsur logam atau senyawa lainnya. Unsur-unsur logam atau senyawa

tersebut dapat diekstraksi secara ekonomis. Secara umum (populer) sumber

daya mineral sering disebut juga sebagai cebakan mineral (mineral deposit),

dan dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) golongan, yaitu :

1. Cebakan mineral logam atau cebakan bijih.

2. Cebakan mineral non-logam.

Cebakan mineral logam atau cebakan bijih, adalah cebakan yang di

dalamnya terkandung unsur-unsur/mineral logam, seperti emas, besi,

tembaga, timah, mangan, dan lain-lain, serta dapat diambil/diekstraksi yang

umumnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sedangkan cebakan mineral

non-logam terdiri dari cebakan mineral yang tidak mengandung unsur logam.

Yang termasuk cebakan mineral non-logam antara lain gamping, kuarsa,

bentonit, zeolit, granit, marmet, dan lain-lain.

3.1.2 Jenis dan Tipe Endapan Mineral

Jenis dan tipe endapan mineral berhubungan erat dengan cara atau proses

pembentukan mineral dan dipengaruhi oleh waktu pembentukannya.

Berdasarkan proses pembentukannya, jenis dan tipe endapan mineral terdiri

(27)

Bab III - 20

• Endapan hasil proses kimia

• Endapan hasil proses mekanik

• Endapan hasil pengaruh meteorit

Sedangkan berdasarkan waktu pembentukannya, jenis dan tipe endapan

mineral terdiri dari :

Syngenetic, dibentuk pada waktu yang bersamaan dengan pembentukan

batuan yang mengelilinginya. Sebagai contoh adalah proses diferensiasi

magma yang menghasilkan jenis batuan dan mineral tertentu. Yang

termasuk jenis ini adalah Volcanic Massive Sulphide (VMS), Sedimentary

Massive Sulphide (Sedex), Magmatic-Layered Mafic Intrusion (Gambar

3.1 dan 3.2), dan Placer.

Epigenetic, terbentuk setelah terjadinya konsolidasi batuan yang

mengelilinginya, sehingga sifat endapannya berupa hasil terobosan baik

dari arah atas (supergene), dari bawah (hypogene), maupun dari samping

(lateral secretation). Contoh jenis ini adalah endapan porphyry, skarn,

vein (Gambar 3.3), dan mississippi valey.

• Kemungkinan kombinasi, waktu pembentukan endapan dapat merupakan

kombinasi dari syngenetic dan epigenetic.

Gambar 3.1 Endapan chromit berupa perlapisan

(28)

Gambar 3.2 Tipe endapan layered mafic intrusion

sebagai proses syngenetik.

Gambar 3.3 Pengisian oleh mineral

(29)

Bab III - 22 3.1.3 Konsep Eksplorasi Mineral

Eksplorasi adalah merupakan aktivitas pencaharian dan penambahan

cadangan dari mulai perencanaan sampai pada tingkat produksi. Jadi secara

singkat dapat dikatakan bahwa eksplorasi adalah kegiatan yang meliputi

aktivitas pelacakan suatu prospek endapan mineral yang selanjutnya

dilakukan pembuktian dari suatu prospek, sehingga menjadi sebuah

cadangan mineral.

Eksplorasi cebakan mineral selalu dilakukan bertahap. Setiap tahapan

pekerjaan akan bersifat memperkecil daerah prospek dan akan

meningkatkan kemungkinan diketemukannya cebakan mineral. Semakin

tinggi tahapan pekerjaan maka semakin besar biaya yang akan dikeluarkan

dan semakin besar pula tingkat keberhasilan pekerjaan. Namun demikian

apabila pada tahapan tertentu tidak menunjukan kemungkinan terdapatnya

prospek yang baik, maka dapat dilakukan pemberhentian kegiatan

pekerjaan.

Secara umum, tahapan eksplorasi mineral terdiri dari :

• Tahap perencanaan eksplorasi, yaitu berupa formulasi objek dan

penyusunan model geologi. Kegiatan ini meliputi penentuan jenis objek

eksplorasi mineral sehingga dapat diketahui jenis dan tipe mineral yang

akan dieksplorasi. Setelah itu, dilakukan pembuatan model geologi yang

cocok dengan objek pekerjaan, terutama terkait dengan bagaimana

genesa pembentukan mineral tersebut.

• Tahap pemilihan daerah dan pembuatan model eksplorasi. Pemilihan

daerah ini dilakukan setelah objek dan model geologi ditentukan.

Pemilihan diprioritaskan terutama pada daerah yang cocok dengan

genesa endapan mineral tersebut.

• Tahap studi kesampaian daerah, yaitu meliputi kegiatan penentuan

sarana transportasi ke lokasi objek eksplorasi dan penyampaian logistik

(30)

• Tahap studi keekonomian. Studi ini sangat penting karena terkait dengan nilai tambah dari endapan mineral apabila endapan tersebut akan

dieksploitasi.

• Tahap survei tinjau (reconnaisance), yaitu identifikasi daerah-daerah

potensi didasarkan atas pengkajian studi regional (regional appraisal),

pemetaan geologi regional, metoda lintas udara serta metoda tidak

langsung, pemeriksaan lapangan pendahuluan, termasuk penalaran dan

ekstrapolasi geologi. Tujuannya adalah mengidentifikasikan area yang

termineralisasikan yang layak untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Perkiraan mengenai kuantitas hanya boleh dilakukan jika tersedia data

yang memadai dan jika suatu analogi dengan cebakan yang telah

diketahui dan mempunyai karakteristik geologi yang serupa.

• Tahap prospeksi (prospecting), yaitu proses sistematik dalam pencarian

suatu cebakan mineral dengan melakukan penyempitan daerah yang

akan dieksplorasi dan dianggap sebagai daerah yang memiliki potensi

mineral yang menjanjikan. Metoda yang digunakan pada tahapan ini

antara lain identifikasi singkapan, pemetaan geologi dan studi geokimia

serta geofisika. Selain itu juga, dapat dilakukan paritan, pemboran, dan

pengambilan contoh batuan yang akan digunakan pada tahap eksplorasi

lebih lanjut. Pada tahap ini dilakukan pula penafsiran kuantitas cebakan

mineral berdasarkan studi geologi regional, geokimia, dan geofisika.

• Tahap eksplorasi umum (general exploration), meliputi pembuatan outline

pendahuluan suatu cebakan yang sudah teridentifikasi. Metoda yang

digunakan antara lain pemetaan permukaan, pengambilan contoh dengan

jarak yang jarang, pembuatan paritan dan pemboran untuk evaluasi

pendahuluan kuantitas dan kualitas mineral (termasuk pengujian pada

skala laboratorium jika diperlukan), dan interpolasi didasarkan atas

metoda penyelidikan tidak langsung. Maksud tahapan ini adalah

mengetahui gejala-gejala utama dari suatu cebakan, yang memberikan

suatu petunjuk yang masuk akal mengenai kesinambungan dan

memberikan perkiraan pendahuluan mengenai ukuran, bentuk, struktur,

(31)

Bab III - 24 keputusan apakah suatu studi kelayakan dan eksplorasi rinci dapat

dipertanggungjawabkan untuk dilanjutkan.

• Tahap eksplorasi rinci (detailed exploration), yaitu meliputi pendelineasian

3 (tiga) dimensi yang rinci dari suatu cebakan yang telah diketahui

dengan melakukan pencontohan detil, seperti dari singkapan, paritan,

lubang bor, sumuran (shaft) dan terowongan (tunnel). Kisi pencontohan

adalah sedemikian ketatnya sehingga ukuran, bentuk, struktur, kadar,

dan karakteristik cebakan lainnya yang relevan dapat dimantapkan

dengan derajat keakuratan yang tinggi. Uji pemrosesan (processing tests)

menyangkut contoh besar (bulk samples) boleh jadi diperlukan. Suatu

keputusan apakah suatu studi kelayakan dapat dilakukan dapat diambil

berdasarkan informasi yang diperoleh dari eksplorasi rinci.

Beberapa metoda eksplorasi yang biasa digunakan pada setiap tahapan

seperti terlihat di Tabel 3.1. Sedangkan bagan alir perencanaan eksplorasi

mineral ditampilkan pada Gambar 3.4.

Tabel 3.1 Beberapa metoda eksplorasi.

TAHAPAN METODA JENIS/ENDAPAN

MINERAL

PETUNJUK GEOLOGI

Pendahuluan Citra landsat, sintesis

regional Semua jenis

Tektonik, fisiografi, stratigrafi

Foto udara Semua jenis Praktis semua

petunjuk geologi

Aeromagnetik Base metals Petrologi-mineralogi

Pemetaan geologi Semua jenis Stratigrafi, struktur Pengukuran

penampang stratigrafi

Jenis syngenetic antara

lain batubara Stratigrafi, litologi Survey Tinjau

Stream sampling, pendulangan

Base metals mas, heavy mine-rals, timah, intan

Geomorfologi,

Pendulangan Heavy minerals Geomorfologi,

sedimentologi

Survey gravitasi - Petrolologi dan

struktur geologi

Survey seismic Synogenetic, batubara, non-logam

Stratigrafi dan struktur geologi Survey magnetik Logam dasar tertentu Petrologi-mineralogi Prospek umum

Rock sampling Semuanya Petrologi-mineralogi

Prospeksi rinci Pemetaan geologi Semua jenis Semua petunjuk

(32)

Paritan dan sumuran Hampir semua jenis cebakan

Praktis semua petunjuk geologi

Survey geolistrik Terutama logam dasar, batubara

Petrologi-mineralogi, stratigrafi-litologi

Survey seismik Cebakan singenetik, batubara

Stratigrafi-litologi, geologi struktur Survey magnetik rinci Base metal tertentu Petrologi-mineralogi

Soil sampling

(geokimia) Logam dasar

Petrologi-mineralogi, geomorfologi

Rock sampling

(geokimia) Semua jenis endapan Petrologi-mineralogi Eksplorasi

Gambar 3.4 Bagan alir perencanaan eksplorasi.

FORMULASI DAERAH EKSPLORASI YANG DIAJUKAN

(33)

Bab III - 26

3.2 Sumber

Daya

Energi

3.2.1 Pengertian dan Definisi

Sumberdaya energi yang dimaksud di sini adalah sumberdaya alam yang

dapat menghasilkan energi. Sumberdaya energi yang dibahas meliputi

batubara, minyak dan gas bumi, serta energi panasbumi (geothermal).

Batubara (coal) merupakan salah satu sumber daya energi hidrokarbon

padat yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dalam lingkungan yang bebas

oksigen dan telah mengalami pengaruh suhu serta tekanan tinggi dalam

jangka waktu yang cukup lama. Sedangkan, minyak dan gas bumi (migas)

atau petroleum didefinisikan sebagai cairan hidrokarbon alami berwarna

kuning sampai hitam, mudah terbakar dan ditemukan di bawah permukaan

bumi. Definisi lain dari petroleum adalah campuran organik hidrokarbonan

yang terbentuk dari atom karbon dan hidrogen. Adapun, panasbumi

(geothermal) didefinisikan sebagai energi panas yang didapatkan dari titik

atau area panas yang ada di bawah permukaan bumi.

3.2.2 Batubara

Proses pembentukan batubara secara spesifik disebut sebagai coalification.

Proses ini juga dapat diartikan sebagai proses pengeluaran

berangsur-angsur zat pembakar (O2) dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O)

hingga akhirnya menyebabkan konsentrasi karbon tetap (fixed carbon). Oleh

sebab itu proses ini disebut juga karbonifikasi. Dengan demikian, bahan

batubara mulai dari yang terbentuk paling awal yaitu lignit hingga produk

paling akhir yaitu antrasit mengandung kadar air (kelembaban) yang semakin

kecil. Dari kandungan air sebesar lebih dari 60% dalam gambut menyusut

menjadi 30 – 45% dalam batubara lignit, 10 – 25% dalam batubara

sub-bituminous, 5 – 10% dalam batubara bituminous dan 1 – 3% kandungan air

dalam antrasit. Seiring dengan kenaikan kadar air akan terdapat kenaikan

(34)

menjadi 7.000 – 8.000 kkal/kg bagi beberapa jenis batubara bitominous dan

antrasit.

Klasifikasi batubara menurut mutu dan tingkatannya (rank) secara umum

dapat diuraikan seperti tabel berikut ini.

Tabel 3.2 Penggolongan batubara menurut mutu.

Jenis Golongan Batas Karbon Tetap

dan Nilai Kalori Sifat Fisik

Meta Antrasit

Karbon tetap kering, 98% atau lebih, zat terbang kering, 2% atau kurang

Antrasit

Karbon tetap kering, 92% zat terbang kering, 8% atau kurang dan lebih dari 2%

Antrasit

Semi Antrasit

Karbon tetap kering, 80% atau lebih,dan kurang dari 92%,zat terbang kering, 14% atau kurang lebih dari 8%

Karbon tetap kering, 78% atau lebih, dan kurang dari 86%,zat terbang kering, 22% atau kurang dan lebih dari 14%

b.b.bituminous dengan zat terbang sedang

Karbon tetap kering, 69% atau lebih, dan kurang dari 78%, zat terbang kering, 31%atau kurang dan lebih dari 22%

b.b.bituminous dengan zat terbang tinggi A

Karbon tetap kering, kurang dari 69%, zat terbang kering,lebih daru 31%, lembab BTU lebih dari 14.000.

b.b.bituminous dengan zat terbang tinggi B.

Lembah BTU, 13.000 atau lebih dan kurang dari 14.000

Bituminus

b.b.bituminous dengan zat terbang tinggi C

Lembah BTU 11.000 atau lebih

dan kurang dari 13.000 Menggumpal atau tidak melapuk

Batubara Sub-bituminous A

Lembab BTU, 11.000 atau lebih dan kurang dari lebih 13.000

Melapuk atau tidak menggumpal

Batubara Sub-bituminous B

Lembab BTU, 9.500 atau lebih dan kurang dari lebih 11.000

Sub-Bituminous

Batubara Sub-bituminous C

Lembab BTU, 8.300 atau lebih dan kurang dari lebih 11.000

Lignit Lembab BTU, kurang dari 8.300 Terkonsolidasi Lignit

(35)

Bab III - 28 3.2.3 Sistem Petroleum (Petroleum System)

Sistem petroleum diartikan sebagai sistem alamiah yang mencakup batuan

induk aktif serta segala sesuatu yang berhubungan dengan minyak dan gas

bumi yang menyangkut semua proses dan unsur geologi pada pengadaan

akumulasi hidrokarbon (Magoon dan Dow, 1994). Syarat dari keberadaan

migas di suatu daerah adalah adanya suatu sistem petroleum yang lengkap

dan hubungan yang sempurna antar sub-sistem yang ada di dalamnya

(Gambar 3.5).

Demaison dan Huizinga (1991) membagi sistem petroleum atas dua

sub-sistem utama, yaitu :

Sub-Sistem Pembentukan (Generative Sub-System)

Subsistem yang berhubungan dengan pembentukan hidrokarbon dalam

jangka waktu tertentu. Sub-sistem ini pada dasarnya dikontrol oleh

proses kimiawi, terdiri dari transformasi biokimia dari sisa-sisa organisme

ke dalam kerogen pada waktu pengendapan batuan induk, dan energi

kinetik termokimia yang mengontrol transformasi kerogen menjadi

hidrokarbon. Sub-sistem ini menyangkut batuan induk, unsur organik

(kerogen) dan proses pembentukannya menjadi minyak bumi.

(36)

Batuan induk merupakan batuan tempat pembentukan unsur organik

menjadi minyak bumi. Syarat untuk menjadi batuan induk adalah

kandungan organik yang cukup besar yang dinyatakan dalam TOC (total

organic content). Batuan yang dapat menjadi batuan induk meliputi dua

jenis yaitu serpih hitam (black shale) dan batuan karbonat. Pada

umumnya batuan induk ini diendapkan pada lingkungan reduktif atau

lingkungan dengan sirkulasi O2 terbatas, lingkungan ini disebut cekungan

euksinit. Pada lingkungan darat lingkungan ini dapat berupa lingkungan

lacustrine (danau) sedangkan pada lingkungan laut dapat berupa suatu

paparan karbonat.

Kriteria batuan induk sehingga dapat menghasilkan hidrokarbon

menyangkut 5 (lima) hal, yaitu :

a. Kuantitas dari unsur organik yang dinyatakan dengan TOC. Berikut

adalah tabulasi kriteria batuan induk berdasarkan TOC (Tabel 3.3).

Tabel 3.3 Kriteria batuan induk berdasarkan TOC.

b. Tipe dari unsur organik.

Unsur organik pada batuan induk harus merupakan tipe yang dapat

menghasilkan hidrokarbon. Tipe unsur organik memiliki peranan

penting dalam menentukan jenis hidrokarbon yang akan dihasilkan

(gas atau minyak bumi). Berikut adalah tabulasi tipe-tipe kerogen atau

unsur organik yang ada beserta asal dan kemungkinan jenis

hidrokarbon yang akan dihasilkan (Tabel 3.4).

(37)

Bab III - 30 Tabel 3.4. Tipe-tipe kerogen.

c. Kematangan (maturity) unsur organik

Kematangan kerogen ditandai dengan perubahan fisik dari kerogen

yaitu perubahan warna dari kerogen dan meningkatnya pantulan

vitrinit (vitrinite reflectance). Perubahan ini disebabkan oleh proses

naiknya temperatur seiring dengan waktu akibat proses penguburan

(burial). Kematangan kerogen juga dapat diketahui dengan suatu

simulasi yang disebut rock eval pyrolisis dimana batuan induk

disimulasikan seperti saat sedang terjadi pembentukan hidrokarbon

yaitu dengan dipanaskan.

d. Pembentukan hidrokarbon

Dengan bertambahnya temperatur seiring dengan bertambahnya

kedalaman burial maka kerogen akan semakin kaya dengan karbon

dengan menjadi lebih padat dan membentuk lebih banyak struktur

aromatik. Kuantitas dari bitumen akan bertambah karena bitumen ini

akan terbentuk dari kerogen. Pembentukan bitumen dari kerogen ini

merupakan proses pembentukan minyak bumi, sebab pada tahap

selanjutnya fraksi dari bitumen ini akan bermigrasi dan terakumulasi

sebagai minyak mentah. Pada proses ini perubahan temperatur

adalah hal yang utama, maka untuk dapat membentuk hidrokarbon

(38)

batuan induk harus mengalami proses burial sehingga terjadi

penambahan temperatur.

e. Ekspulsi atau penarikan hidrokarbon dari batuan induk menuju lapisan

pembawa (carrier beds) sehingga migrasi menuju perangkap atau

cebakan (trap) hidrokarbon dapat terjadi.

Sub-Sistem Migrasi dan Pemerangkapan (Migration-Entrapment Sub System)

Sub-sistem yang berhubungan dengan proses penarikan hidrokarbon

dari batuan induk yang telah matang dan mendistribusikannya menuju

suatu lokasi sehingga terakumulasi secara ekonomis. Sub-sistem ini

menyangkut proses migrasi hidrokarbon baik itu migrasi primer maupun

sekunder hingga penjebakan hidrokarbon dalam perangkap, baik itu

perangkap struktural, perangkap stratigrafi maupun kombinasi keduanya.

Pola migrasi, khususnya pola migrasi sekunder, merupakan faktor

penting yang harus dikenali agar dapat ditemukannya lokasi yang

mempunyai akumulasi hidrokarbon yang ekonomis. Migrasi sekunder

berdasarkan kondisi stratigrafi dan struktur dari suatu cekungan secara

umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu migrasi lateral dan migrasi

vertikal. Migrasi lateral berperan penting pada kondisi dimana akumulasi

hidrokarbon ditemukan pada lapisan reservoardengan umur yang sama

dan di atasnya terdapat suatu penyekat (seal) regional dengan

penyebaran lateral yang luas. Migrasi vertikal berperan penting pada

kondisi dimana akumulasi hidrokarbon ditemukan dalam beberapa

reservoar dengan umur yang berbeda-beda dan di atasnya terdapat

penyekatyang telah terpotong-potong oleh sesar. Perangkap merupakan

unsur paling penting dalam cara terdapatnya minyak dan gas bumi.

Perangkap merupakan pembentuk reservoar yang bentuknya

sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan

bentuk cekung ke bawah dan menyebabkan minyak dan gas berada di

bagian teratas (Koesoemadinata, 1980), seperti tampak dalam Gambar

(39)

Bab III - 32 Gambar 3.6. Perangkap-perangkap minyak bumi.

Berdasarkan genesanya, perangkap dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

• Perangkap Struktur (Gambar 3.7), merupakan tipe perangkap dimana

unsur perangkap membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoar

yang dapat menyimpan minyak disebabkan gejala tektonik atau struktur,

misalnya sesar dan lipatan.

Gambar 3.7. Model-model perangkap struktur (Koesoemadinata, 1980).

Salt Dome Fault

Unconformity Pinchout

(40)

• Perangkap Stratigrafi (Gambar 3.8), yaitu perangkap yang terjadi karena

berbagai variasi lateral dalam litologi suatu lapisan reservoar atau

penghentian dalam kelanjutan penyaluran minyak dalam bumi. Contoh

dari perangkap jenis ini adalah pembajian dan penyerpihan.

Gambar 3.8. Model-model perangkap stratigrafi (Koesoemadinata, 1980).

• Perangkap Kombinasi Struktur dan Stratigrafi (Gambar 3.9), yaitu

perangkap yang dibentuk oleh unsur-unsur stratigrafi dan struktur secara

bersamaan.

Gambar 3.9. Model perangkap kombinasi struktur dan stratigrafi

(Koesoemadinata, 1980).

3.2.4 Sistem Panasbumi (Geothermal)

Sumberdaya panasbumi berasal dari fluida panas dalam kerak bumi akibat

aktivitas magma/kegiatan gunungapi, atau umumnya disebut dengan istilah

lapangan panasbumi dan reservoir panasbumi (geothermal field/geothermal

reservoir). Sumberdaya ini merupakan sumberdaya yang dapat diperbarui

(41)

Bab III - 34 Ada dua unsur utama pada suatu sistem energi panasbumi yaitu sumber

panas (heat source) dan keberadaan reservoir panasbumi (geothermal

reservoir) yang akan menjadi tempat bagi media (air) yang akan

menghantarkan panas dari sumber (heat source) sehingga dapat

dimanfaatkan sebagai sumber daya energi (Gambar 3.10). Sumber panas

bagi sistem panasbumi ini berasal dari dapur magma yang ada di bawah

permukaan. Dapur magma ini dapat berasal dari proses pelelehan parsial

(partial melting) dari material lempeng yang menunjam ke bawah lempeng

yang lain dalam suatu proses interaksi lempeng konvergen.

Gambar 3.10. Sumber panas dan reservoir panasbumi.

Sumber panas ini dapat terdiri dari berbagai macam geometri dan

karakteristik, antara lain :

• Sistem magma asam yang besar

• Zona dapur magma intermediet sampai asam

• Rangkaian tubuh magma basaltik, andesitik, dasitik dan riolitik

• Komplek tubuh magma basaltik kecil dan riolitik

(42)

3.2.5 Konsep Eksplorasi Sumber Daya Energi

Konsep eksplorasi untuk setiap jenis sumber daya energi adalah sangat khas,

yang secara singkat akan diuraikan dalam sub-bab ini.

Konsep Eksplorasi Batubara

Urutan kualitas batubara cenderung menggambarkan umur dari batubara

tersebut. Selama ini batubara di Indonesia dihasilkan pada cekungan yang

berumur Tersier. Sedangkan gambut berumur Resen sampai Paleosen,

batubara sub-bituminus berumur Miosen dan batubara bituminus berumur

Eosen. Parameter yang mengontrol pembentukan batubara antara lain :

a. Sumber vegetasi

b. Posisi muka air tanah

c. Penurunan yang terjadi bersamaan dengan pengendapan

d. Penurunan yang terjadi setelah pengendapan

e. Kendali lingkungan geotektonik endapan batubara

f. Lingkungan pengendapan terbentuknya batubara.

Batubara umumnya terbentuk di dataran sungai teranyam, lembah aluvial,

dataran delta, dataran pantai berpenghalang dan estuaria. Kegiatan

eksplorasi batubara memerlukan penelitian dan persiapan yang matang.

Beberapa tahapan eksplorasi yang umum adalah sebagai berikut :

a. Penyelidikan Umum

Penyelidikan umum meliputi studi kepustakaan berupa kajian berbagai

hal yang berkaitan dengan keadaan geologi secara regional dan keadaan

tektoniknya. Kemudian dilanjutkan dengan pengecekan lapangan dengan

fokus pada usaha menemukan adanya singkapan (outcrop) batubara.

Selain itu juga, dilakukan pengambilan beberapa contoh batuan batubara

yang diperlukan.

b. Penyelidikan Pendahuluan

Pada tahap ini diadakan pemetaan daerah pekerjaan, baik dengan jalan

(43)

Bab III - 36 geologi dengan menggunakan peta permukaan dan peta udara dimaksud

untuk melakukan interpretasi struktur singkapan-singkapan batubara

yang ditemukan. Selain itu, dilakukan beberapa pemboran untuk

mengetahui statigrafi endapan batubara yang bertujuan untuk

mendapatkan data yang berhubungan dengan keterdapatan batubara.

Dari kegiatan tersebut diharapkan dapat memperoleh data yang

berhubungan dengan ketebalan dan kedudukan formasi. Pada akhir

program ini, bila sekiranya endapan tersebut merupakan endapan yang

mempunyai nilai ekonomis, maka akan diperoleh data sebagai berikut:

- Hasil perhitungan cadangan sampai tingkat indikatif.

- Perkiraan tentang kualitas.

- Interpretasi tentang geometri dan struktur endapannya.

- Laporan tentang sumber cadangan secara cukup untuk keperluan

studi financial.

c. Penyelidikan secara mendetail

Pada tingkat ini kegiatan eksplorasi lebih terpusat pada kegiatan

pemboran yang bertujuan untuk lebih mengetahui bentuk geometri dari

endapan batubara dan kemungkinan adanya anomali-anomali geologis.

Pada akhir kegiatan program ini akan dihasilkan data sebagai berikut :

- Perhitungan cadangan sampai tingkat yang dapat dihasilkan

(recoverable reserves)

- Data lengkap mengenai kualitas termasuk keterangan mengenai

kandungan air, abu dan sebagainya.

- Data tentang penggunaannya yang dilengkapi dengan hasil

percobaan pembakaran (burning test) baik pada skala laboratorium

maupun pada skala komersial.

- Data yang menyangkut tingkat pencucian batubara (washability test)

- Tingkat selanjutnya adalah pengumpulan data mengenai

penambangan dan masalah yang menyangkut engineering seperti

masalah geoteknik, masalah hidrologi, dan perencanaan proses

(44)

penimbun batubara. Semua data tersebut akan disusun dan dijadikan

bahan untuk membuat studi kelayakan pengembangan endapan

batuabara ke arah pembukaan tambang.

Konsep Eksplorasi Migas

Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi tidak dibedakan antara suatu survei

pendahuluan atau prospeksi dan eksplorasi sebagaimana dalam bidang

pertambangan. Yang diartikan sebagai eksplorasi migas adalah semua

kegiatan dari permulaan sampai akhir dalam usaha penemuan atau

penambahan cadangan migas yang baru. Operasi eksplorasi mencakup

semua kegiatan yang merupakan bagian integral dalam usaha pencarian

migas, termasuk pemboran eksplorasi. Urutan suatu operasi eksplorasi

migas meliputi urutan sebagai berikut :

a. Perencanaan eksplorasi

b. Operasi survey lapangan

c. Penilaian dan prognosis prospek

d. Pemboran eksplorasi

e. Pengembangan dan reevaluasi daerah

Secara visual urutan ini diperlihatkan pada Gambar 3.11.. Dalam gambar ini

diperlihatkan diagram alur bahwa yang pertama kali perlu dilakukan adalah

suatu studi mengenai keadaan geologi regional daerah yang kita pilih. Dari

studi ini kemudian dilakukan survei tinjau (reconnaissance survey) yang

merupakan kegiatan operasi lapangan, yaitu dengan mengunjungi

daerah-daerah tertentu yang telah dipilih dan diduga memiliki prospek berdasarkan

keadaan geologi regionalnya. Dari hasil survei tinjau ini kemudian dilakukan

suatu penelitian detail pada daerah yang kita anggap memiliki prospek. Lebih

lanjut, kemudian dari penyelidikan detail ini kita dapat membuat suatu

penilaian dan prognosis terhadap prospek tersebut, apakah cukup memiliki

harapan untuk menghasilkan migas. Bila jawabannya benar daerah itu cukup

memiliki prospek maka dapat dilakukan pemboran eksplorasi. Perlu diingat

(45)

Bab III - 38 yaitu mencapai jutaan US Dolar, dan tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi,

maka rangkaian penyelidikan harus dilakukan dengan teliti dan detail.

Gambar 3.11. Urutan operasi survei eksplorasi migas.

Konsep Eksplorasi Panasbumi

Analisis potensi dan energi sistem panasbumi dibuat berdasarkan kajian

komprehensif yang meliputi kajian geologi, geokimia, geofisika dan teknik

reservoir. Potensi dari sumberdaya energi panasbumi secara umum dapat

diklasifikasikan sebagai berikut :

• Sumberdaya spekulatif

• Sumberdaya hipotetis

Sedangkan cadangan panasbumi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

• Cadangan tereka/mungkin (inferred/ possible reserve)

• Cadangan boleh jadi/terindikasi (probable/indicated reserve)

(46)

Berikut adalah diagram yang memuat alur penyelidikan dan pengembangan

panasbumi (Gambar 3.12).

Gambar 3.12. Alur penyelidikan dan pengembangan panasbumi.

3.3 Bencana

Alam Geologi

3.3.1 Pengertian dan Definisi

Bencana adalah gangguan yang serius dari berfungsinya satu masyarakat,

(47)

harta-Bab III - 40 benda (properti), dan lingkungannya, yang melebihi kemampuan dari

masyarakat yang tertimpa bencana untuk menanggulanginya dengan hanya

menggunakan sumberdaya masyarakat itu sendiri. Bencana yang penyebab

kejadiannya bersifat alami lebih lanjut disebut sebagai bencana alam.

Bencana alam secara lebih khusus disebut sebagai bencana alam geologi

karena faktor-faktor geologi sangat dominan menjadi penyebab timbulnya

bencana alam ini. Bencana alam geologi merupakan bahaya yang timbul dari

kejadian geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunungapi, amblesan,

dan longsoran. Wilayah tanah air Indonesia merupakan wilayah yang rentan

terhadap hampir semua bentuk bencana alam geologi ini. Telah dilaporkan

bahwa sekitar 60% dari bencana di dunia muncul di wilayah Asia Pasifik.

Kerentanan terhadap bencana akan semakin meningkat dengan adanya

penambahan intensitas penduduk, urbanisasi dan industrialisasi.

3.3.2 Jenis Bencana Alam Geologi

Bencana alam secara lebih khusus disebut sebagai bencana alam geologi

karena faktor-faktor geologi sangat dominan menjadi penyebab timbulnya

bencana alam ini. Berikut ini adalah uraian singkat beberapa jenis bencana

alam geologi yang sangat umum terjadi di wilayah tanah air, yaitu :

Gempabumi dan Tsunami

Teori Tektonik Lempeng telah mengajarkan bahwa bagian luar bumi kita

terdiri dari berbagai lempeng kerak benua dan samudra, yang saling

bergerak satu terhadap lainnya, dengan kecepatan hingga bisa mencapai 20

cm/tahun. Gerakan lempeng tersebut dapat saling mendekat, saling

menjauh, saling berpapasan dan menunjam satu terhadap yang lainnya.

Proses pergerakan inilah yang lebih lanjut dapat mengakibatkan

terbentuknya akumulasi energi dan tegangan yang cukup tinggi pada kerak

bumi, yang kemudian suatu saat dapat terlepaskan secara tiba-tiba berupa

kejutan gempabumi (earthquake) yang dahsyat. Gempabumi jenis ini secara

(48)

paling berbahaya dibandingkan jenis gempabumi lainnya (gempabumi

volkanik dan gempabumi indus). Selain mengakibatkan goncangan yang

dahsyat pada kulit bumi (ground-shaking) dan terjadinya pergeseran pada

kulit bumi (ground-faulting).

Gempabumi dapat pula mengakibatkan adanya gelombang tsunami,

gelombang pasang laut yang cukup besar yang menerpa kawasan pantai

secara tiba-tiba. Proses terjadinya tsunami kebanyakan disebabkan oleh

adanya gempa yang besar di laut sehingga menciptakan gelombang pasang

yang abnormal (Gambar 3.13.). Namun beberapa kasus tsunami juga dapat

disebabkan oleh longsor atau jatunya massa dalam jumlah besar ke dalam

air, misalnya jatuhnya batu dalam volume sangat besar ke dalam pantai yang

dalam dengan bentang alam teluk di sekitarnya.

Tingkat kerawanan terhadap tsunami juga dapat diperkirakan dari tingkat

kegempaan dan bentuk bentang alam pantai dan laut di sekitar pantai.

Bentang alam dari pantai dapat mempengaruhi penjalaran dari gelombang

tsunami. Bentang alam yang datar dan homogen membuat suatu daerah

menjadi rawan terhadap tsunami, sementara dasar pantai yang tidak

seragam, curam bergelombang akan mengurangi kekuatan gelombang

tsunami.

(49)

Bab III - 42 Selain tsunami, bencana lain yang seringkali menyertai gempabumi yaitu

likuifaksi, dimana lapisan material padatan berubah konsistensinya menjadi

seperti cairan. Material tersebut seakan mengalir ke permukaan dengan

cepat dan lebih lanjut menyebabkan daya dukung tanah menjadi berkurang.

Dengan demikian, maka daerah yang rawan gempa akan memiliki potensi

atau kerawanan likuifaksi yang tinggi. Dalam hal ini, material yang mudah

terlikuifaksi umumnya adalah material bersifat pasiran.

Letusan Gunungapi

Gunungapi (volcano) adalah suatu bentuk timbulan di permukaan bumi, yang

dapat berbentuk kerucut besar, kerucut terpancung, kubah atau bukit, akibat

oleh adanya penerobosan magma ke permukaan bumi. Di Indonesia kurang

lebih terdapat 80 buah dari 129 buah gunung aktif yang diamati dan dipantau

secara menerus (Gambar 3.14.). Bahaya letusan gunungapi antara lain

berupa aliran lava, lontaran batuan pijar, hembusan awan panas, aliran lahar

dan lumpur, hujan abu, hujan pasir serta semburan gas beracun (Gambar

3.15.).

Proses meletus gunungapi seringkali diawali lebih dahulu oleh gempa-gempa

kecil di daerah sekitar gunung. Pada saat gaya dari dalam bumi mencapai

klimaks dan melampaui daya tahan material penutup kawah maka terjadi

letusan gunungapi yang dapat membawa material-material berbahaya bagi

manusia.

Longsoran dan Amblesan

Longsoran (landslide) merupakan pergerakan masa batuan dan/atau tanah

secara grafitasional yang dapat terjadi secara perlahan maupun tiba-tiba.

Dimensi longsoran sangat bervariasi, berkisar dari hanya beberapa meter

hingga ribuan meter. Longsoran dapat terjadi secara alami maupun dipicu

oleh adanya ulah manusia. Jenis bencana alam akibat longsoran ini

merupakan jenis bencana yang cukup penting karena distribusinya yang

(50)

longsoran secara umum selalu menepati intensitas kejadian yang paling

banyak, serta dapat terjadi secara bersamaan dengan bencana alam geologi

lainnya, seperti gempabumi dan letusan gunungapi.

Gambar 3.14. Sebaran gunungapi di Indonesia.

Gambar

Gambar 1.1 Peta indeks lokasi daerah pekerjaan.
Gambar 2.1 Kerangka struktur regional Pulau Sulawesi
Gambar 2.2 Elemen struktur utama Pulau Sulawesi (Darman dan Sidi, 2000).
Gambar 2.3 Provinsi Tektonik Sulawesi (Darman dan Sidi, 2000)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Stratigrafi Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dari tua ke muda disusun oleh : Komplek Metamorf (S), Batuan Ultrabasa (Ku) berumur Kapur, Komplek Melang

Bab I berisi tentang Pendahuluan yang menguraikan latar belakang permasalahan yang mendasari peneliti untuk membuat suatu rancangan perbaikan terhadap masalah produktivitias lantai

Diskusi akan diawali dengan uraian tentang kondisi kota Yogyakarta di awal kemerdekaan, kemudian dilanjutkan dengan kelahiran laskar-laskar rakyat, dan ditutup dengan

Sistematika penulisan pada laporan penelitian disusun menjadi enam bab yang terbagi ke dalam sub tema terstruktur. Pada Bab ) memuat Pendahuluan yang mencakup

Tesis ini terdiri dari enam bab yaitu: Bab I Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang, rumusan masalah dan tujuan serta manfaat yang diperoleh dari

Undang-Undang ini terdiri dari enam bab yaitu bab I tentang Aturan Bujang Gadis dan Kawin (32 pasal), bab II memuat Aturan Marga (29 pasal), bab III berisi Aturan Dusun dan

Bab Pertama : Berisi Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah yang menegaskan mengapa penelitian ini dilaksanakan, kemudian merumuskan permasalahan sebagai inti kajian

Dokumen ini berisi informasi tentang program pemilihan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya