• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggugat Revolusi Hijau Sebuah Dekontru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Menggugat Revolusi Hijau Sebuah Dekontru"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Menggugat Revolusi Hijau:

Sebuah Dekontruksi Materi Ajar Kebijakan Ekonomi Orde Baru dalam Pembelajaran Sejarah

Oleh

Ika Ningtyas Unggraini

Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: [email protected]

Abstrak

As an agrarian country, the history school textbooks in Indonesia, do not give space to study the agriculture problems. That's because history textbooks contained anthropocentrism ideology which placed human beings as the central control of history. So, the face of history textbook contain mostly about wars, power struggles and political elites. While abaout the destruction of nature, including agriculture exploitation as human effects never explained. Even though, the nature is the living space for humans, and degradation in environmental has threaten the human life. Such as, the threat of a food crisis in Indonesia, as a result of agricultural policy that ignores environmental conservation. One way to encourage awareness of leaners on the agriculture management, the teacher can use a green history approach in the historical learning that change from anthropocentrism to ecocentrism. Teacher can deconstruct the teaching material in textbooks that anthropocentrism ideology, like about Green Revolution, one of the economic policy in the New Order era. The Green Revolution that is claimed to be success in New Order era, that have affect the degradation of agricultural land, environmental pollution, declining yields and changes in social life in rural communities.

Keyword: agriculture, historical learning, green revolution

PENDAHULUAN

(2)

setiap bangsa, yang kebutuhannya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Materi ajar sejarah yang selama ini terlalu politik sentris dan berkisah tentang para elit, telah mereduksi fakta-fakta historis penting lain seperti persoalan pangan dan petani.

Materi ajar sejarah di sekolah hingga sekarang masih bertumpu pada buku teks sejarah, sebagai bagian penting dalam kurikulum yang dibuat pemerintah. Padahal apa yang tersaji dalam buku teks di sekolah seperti yang disampaikan Sartono Kartodirjo (1976:66): “Buku sejarah penuh dengan cerita tentang perang dan perebutan kekuasaan, tindakan manusia yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman, kepahlawanan atau penghianatan”. Sejarah konvensional yang berpusat pada politik, selama satu abad lebih, dianggap sebagai bentuk tertinggi pemikiran historis, bahkan sejarah juga diberi definisi sebagai politik masa lampau. Meski dalam perkembangannya, terjadi tren penelitian sejarah sosial dan ekonomi, namun belum terakomodasi dalam kurikulum sejarah.

Ada berbagai permasalahan dalam pertanian yang mengancam Indonesia ke kondisi krisis pangan. Salah satunya ditunjukkan oleh survey Badan Pusat Statistik (2014), bahwa rumah tangga usaha tani turun 5,04 juta keluarga (16 persen) selama 10 tahun, dari 31,17 juta di tahun 2003 menjadi 26,13 juta keluarga di tahun 2013. Dari jumlah tersebut, 60,8% persen petani berusia lebih dari 45 tahun dengan 73,97 % berpendidikan SD dan akses teknologi rendah (Mongabay, 2016).

Para petani beralih ke sektor non-pertanian karena penghasilannya kecil sekitar Rp 200 ribu per bulan. Penyebab lainnya, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan pemukiman juga cukup besar yakni 80 ribu hektar per tahun (Pikiran Rakyat, 2013). Alih fungsi tanah pertanian menyebabkan konflik agraria antara petani versus pemerintah dan swasta. Konsorsium Pembaruan Agraria (2015) mencatat dalam 11 tahun terakhir terjadi 1.772 konflik pada luasan wilayah 6.942.381 hektar yang melibatkan 1.085.817 keluarga (berdikarionline,2015). Terpinggirkannya perhatian kita pada dunia agraris berdampak pada hilangnya gairah generasi muda menjadi petani.

(3)

petani, tidak mendapatkan penjelasan memadai dari buku teks sejarah mengenai kebijakan pertanian, perubahan dan bagaimana dampaknya. Dari proses kelahirannya, buku teks sejarah dilandasi oleh ideologi antroposentrisme yakni menempatkan manusia sebagai pelaku utama dalam sejarah. Selain penaklukan terhadap sesama manusia, pendidikan sejarah yang antroposentris dianggap menjadi sarana melegitimasi peserta didik untuk melakukan eksploitasi terhadap bumi, termasuk tanah pertanian.

Cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pelaku sejarah harus dibongkar dan dikonstruksi kembali menjadi cara pandang baru yaitu ekosentrisme, cara pandang yang menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Menurut Nana Supriatna (2016:106), dalam sejarah, perubahan cara pandang ini memakai pendekatan green history, yang memaparkan data historis mengenai perubahan perjalanan sejarah manusia dari waktu ke waktu dalam mengembangkan kehidupannya serta dampaknya bagi lingkungan.

Agar pembelajaran sejarah dapat dikembalikan dalam posisinya sebagai sarana belajar dari nilai-nilai humanistik masa lalu, sarana merefleksikan dari tindakan-tindakan historis, dan pemberi inspirasi tentang kesadaran historis dalam berempati pada sesama manusia dan semua makhluk hidup serta fisik alam, maka diperlukan dekonstruksi. Menurut Sallis (1987) dalam Nana Supriatna (2016: 117-118), dekonstruksi dapat digunakan untuk membongkar tatanan lama, cara berpikir dan berpandangan serta berparadigma yang tidak selaras dengan pelestarian alam.

Salah satu materi yang bisa didekontruksi adalah tentang kebijakan pertanian selama era Orde Baru (Kompetensi Dasar 4.5). Selama rezim otoritarian Soeharto tersebut, diberlakukan program Revolusi Hijau (1970-1988) yang dikritik banyak pihak sebagai titik awal permasalahan pertanian saat ini. Sementara dalam buku teks pelajaran Sejarah Indonesia, menampilkan klaim keberhasilan program Revolusi Hijau yang membawa Indonesia ke dalam swasembada pangan. Dalam penelitian ini menjawab dua hal yakni Revolusi Hijau dalam buku teks sekolah dan dekonstruksi materi ajar kebijakan pertanian di era Orde Baru.

(4)

Revolusi Hijau dalam Buku Teks Sekolah

Pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto (1966-1998) diperkenalkan sebuah pendekatan pembangunan yang otoriter yang bertujuan mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat serempak dengan stabilitas politik. Negara dilihat sebagai satu-satunya pelaksana yang sah dari proses yang terkendali yang akan membawa Indonesia ke sebuah era baru ke arah kemajuan dan kemakmuran. Pendekatan sentralistis ini diiringi dengan historiografi yang juga sentralistis dan eskatologis (Nordholt dkk, 2013:11).

Historiografi yang sentralistik ini akhirnya diakomodasi dalam kurikulum sekolah dan buku teks pelajaran. Menurut Nordholt dkk (2013), hal itu tercermin dalam penggunaan yang luas buku pelajaran sejarah untuk SMU yang mengikuti kurikulum 1994. Mengikuti model jilid enam buku sejarah nasional edisi 1993, buku pelajaran sekolah itu menguraikan pada bagian pertamanya mengenai kelahiran Orde Baru yang muncul dari kekacauan tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Pada bagian ketiga digunakan sepenuhnya untuk menguraikan perkembangan teknologi di bawah Orde Baru. Inovasi-inovasi ini mencakup Revolusi Hijau, perkembangan dalam bidang komunikasi, angkutan, industri dan teknologi. Setelah rezim Soeharto jatuh, klaim-klaim keberhasilan pembangunan Orde Baru tak banyak berubah dalam buku pelajaran sejarah, tetapi dalam materi berikutnya diingatkan bahwa pemerintahan Soeharto akhirnya kandas oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang setelahnya diikuti oleh krisis ekonomi 1997.

(5)

“Soeharto juga mengembangkan institusi-institusi yang mendukung pertanian lainnya seperti institusi penelitian seperti BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) yang berkembang untuk menghasilkan inovasi untuk pengembangan pertanian yang pada masa Soeharto salah satu produknya yang cukup terkenal adalah Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW).

Pemerintah Orde Baru membangun pabrik-pabrik pupuk untuk penyediaan pupuk bagi petani. Para petani diberi kemudahan memperoleh kredit bank untuk membeli pupuk. Pemasaran hasil panen mereka dijamin dengan kebijakan harga dasar dan pengadaan pangan. Diperkenalkan juga manajemen usaha tani, dimulai dari Panca Usaha Tani, Bimas, Operasi Khusus, dan Intensifikasi Khusus yang terbukti mampu meningkatkan produksi pangan, terutama beras. Saat itu, budi daya padi di Indonesia adalah yang terbaik di Asia. Pemerintah memfasilitasi ketersediaan benih unggul, pupuk, pestisida melalui subsidi yang terkontrol dengan baik. Pabrik pupuk yang dibangun antara lain adalah Petro Kimia Gresik di Gresik, Pupuk Sriwijaya di Palembang, dan Asean Aceh Fertilizer di Aceh.

Jaringan irigasi teknis dibangun di berbagai daerah dan program pembibitan ditingkatkan. Di dalam Pelita I Pertanian dan Irigasi dimasukkan sebagai satu bab tersendiri dalam rincian rencana bidang-bidang. Di dalam rincian penjelasan dijelaskan bahwa tujuannya adalah untuk peningkatan produksi pangan terutama beras.”

Revolusi Hijau di Indonesia merupakan agenda ketahanan pangan yang banyak diimplementasikan di banyak negara. Konsep ketahanan pangan dianggap ideal untuk mencegah kelaparan di dunia setelah Perang Dunia II. Konsep itu kemudian diabadikan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966. Badan Pangan Dunia atau FAO (2008) memberikan definisi bahwa ketahanan pangan adalah ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi untuk makanan yang cukup, aman dan bergizi yang memenuhi kebutuhan makanan mereka dan preferensi makanan untuk hidup aktif dan sehat.

(6)

mereka dari definisi tersebut ketahanan pangan menjadikan makanan ansich sebagai masalah perdagangan, daripada memperkuat kontrol atas sistem produksi dan konsumsi. Dalam konsepsi ini, makanan adalah komoditas yang diperdagangkan daripada hak setiap orang dan kelaparan hanya masalah distribusi pangan. Secara cepat revolusi hijau mampu menaikkan produksi beras, namun perubahan teknologi dalam pertanian bukannya tanpa konsekuensi terhadap lingkungan dan petani. Selain kerusakan lingkungan, konsepsi ini menjadikan sebuah negara hanya berfokus bagaimana memenuhi pangan dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan produksi pangan global, yang dampaknya, sumber-sumber pangan dikendalikan oleh korporasi atau rezim pangan neoliberal, dan meminggirkan petani sebagai produsen pangan.

Degradasi pertanian Akibat Revolusi Hijau : Sebuah Dekonstruksi

Banyak penelitian yang melaporkan dampak Revolusi Hijau bagi lingkungan dan kesejahteraan petani. Kebijakan tersebut direplikasi hingga saat ini sehingga memberikan dampak yang tak kunjung berakhir. Gelombang kritik terhadap revolusi hijau yang lahir dalam konsep ketahanan pangan muncul pada 1996 oleh La Via Campesina, -sebuah organisasi yang merepresentasikan komunitas-komunitas petani kecil dari 56 negara yang terbentuk sejak tahun 1993. Via Campesina memunculkan kosep tandingan bernama kedaulatan pangan (food soveringty) pada World Food Summit di Roma tahun 1996. Istilah kedaulatan pangan mengacu pada hak masyarakat atas makanan sehat, yang dihasilkan sesuai budaya, ekologi serta metode yang berkelanjutan. Serta hak masyarakat untuk menentukan makanan dan sistem pertanian mereka sendiri (Wittman, 2011: 87-105).

(7)

kebijakan pertanian yang difasilitasi oleh organisasi seperti WTO, Bank Dunia dan IMF (Bernstein & Bachriadi, 2014).

Dampak Revolusi Hijau bagi lingkungan menyangkut pemakaian pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan pada pertanian. Amonia yang dihasilkan dari pupuk nitrogen berkontribusi terjadinya hujan asam, sedangkan kandungan nitrat dapat mencemari air di dalam tanah dan penipisan ozon karena gas rumah kaca (Cabanillas et al, 2013.; FAO, 2009). Pestisida beracun karena melalui proses sintesis sehingga menyebabkan kematian atau membahayakan organisme hidup. Dioksin adalah salah satu polutan lingkungan yang potensial dari pestisida. Penelitian bahaya pestisida pada manusia telah dilakukan di Cina, Indonesia dan Vietnam. Studi menunjukkan bahwa petani yang menyemprot pestisida lebih mungkin untuk menderita keracunan pestisida seperti sakit kepala, muntah dan iritasi kulit.

Sementara praktek irigasi telah menyebabkan salinitas tanah, tingkat air tanah menurun di daerah yang lebih banyak air kaena dipompa untuk irigasi daripada yang dapat diisi ulang oleh hujan, akhirnya besarnya ketergantungan pada varietas padi tertentu menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati di pertanian (Mariyono, 2015). Pada periode awal, rata-rata produksi padi di Asia memang meningkat. Akan tetapi, kerusakan lingkungan dan mahalnya pupuk, akhirnya menurunkan laju pertumbuhan produksi padi secara cepat dalam kurun 10 tahun, dari 3 persen pada 1970an jatuh ke 2,2 persen pada tahun 1980an (Notohadiprawiro, 1993).

Selain menyebabkan degradasi lingkungan, Revolusi Hijau memberikan pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat pedesaan. Kim Hyung-Jun (2012) dalam penelitiannya di Kolojonggo, sebuah dusun yang terletak 9 kilometer di barat Yogyakarta, menuliskan, bahwa revolusi hijau mengurangi lapangan kerja di sektor pertanian. Penggunaan teknologi baru seperti sabit yang menggantikan ani-ani, pemakaian huller untuk merontokkan dan menggiling padi, serta traktor, telah menggeser kultur sebelumnya. Perubahan tersebut lebih besar menggeser peran perempuan dari aksesnya terhadap pertanian.

(8)

di awal 1970an, orang-orang desa terbiasa melibatkan para pemuda atau anak-anak mereka ke sawah pada usia 10-13 tahun. Para pemuda itu bekerja dalam proporsi waktu yang sama dengan orang dewasa. Namun di akhir 1970an atau 1980an, keterlibatan para pemuda ke sawah mulai jarang hingga 1993-1994.

KESIMPULAN

Sejarah pertanian dan petani belum terakomodasi dalam buku teks Sejarah Indonesia yang menjadi rujukan utama di sekolah. Materi ajar sejarah dalam buku teks yang berideologi antroposentrisme membuat sejarah hanya menampilkan perebutan kekuasaan, elit politik, dan peperangan serta melegitimasi tindakan manusia mengeksploitasi lingkungan, termasuk pertanian. Dengan pendekatan green history, mengubah cara pandang antroposentrisme menjadi ekosentrisme, di mana hubungan manusia menjadi sejajar dengan alam. Dalam pembelajaran sejarah di sekolah, green history bisa diaplikasikan dengan mendekonstruksi materi ajar di buku teks yang mengabaikan pelestarian lingkungan. Salah satu materi yang bisa didekontruksi dalam konteks pertanian adalah Revolusi Hijau, kebijakan pertanian masa Orde Baru yang diajarkan untuk siswa kelas XII. Revolusi Hijau yang hanya mengejar produktivitas beras, ternyata berdampak serius pada perusakan lingkungan dan mengubah kehidupan sosial masyarakat pedesaan.

DAFTAR PUSTAKA Buku:

Bernstein, Henry dan Bachriadi, Dianto. 2014. Tantangan Kedaulatan Pangan. Bandung: ARC Books.

FAO. 2008. An Introduction to the Basic Concepts of Food Security, Food Security Information for Action: Practical Guides. Rome: EC-FAO Food Security Programme.

Kartodirjo, Sartono. 1976. Sejarah Pedesaan dan Pertanian dalam Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Reformasi penyunting William H Frederick dan Soeri Soeroto, Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial

(9)

McMichael, Philip. 2004. Development and Social Change: A Global Perspective. Thousand Oaks, CA: Pine Forge Press

Nordholt, Henk Schulte dkk. 2013. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta

Patel, Raj. 2010b. “What Does Food Sovereignty Look Like?” Pp. 186–196 in Food Sovereignty: Reconnecting Food, Nature and Community, ed. Hannah Wittman, Annette Aurelie Desmarais, and Nettie Wiebe. Halifax: Fernwood

Supriatna, Nana. 2016. Ecopedagogy: Membangun Kecerdasan Ekologis dalam Pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jurnal:

Hyung-Jun, Kim. 2002. Agrarian and Social Change in a Javanese Village, Journa of Contemporary Asia, 2002; 32, 4; Social Science Database

Mariyono, Joko. 2015. Green Revolution and wetland linked technological change of rice agriculture in Indonesia, Management of Environmental Quality: An International Journal Vol. 26 No. 5, 2015 pp. 683-700

Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 1993. Konservasi Tanah dalam Revolusi Hijau, makalah Pelatihan Konservasi Hutan, Tanah dan Air. PPLH UGM, Yogyakarta 1-13 November 1993.

Wittman, Hanna. 2011. Environment and Society: Advances in Research 2: 87– 105.

Website:

http://www.mongabay.co.id/2016/08/14/sektor-pangan-terancam-kala-generasi-muda-enggan-jadi-petani/ dan Statistik Tenaga Kerja 2014 di http://pusdatin.setjen.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik_tenaga_kerja _2014_1.pdf

http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2013/12/25/263653/alih-fungsi-lahan-pertanian-di-indonesia-80-ribu-hektar-tahun

Referensi

Dokumen terkait

Strategi pemuliaan yang digunakan untuk mencapai revolusi hijau lestari ini adalah (1) pemuliaan yang merakit varietas tanaman dengan arsitektur baru (new ideotype)

Dengan adanya pelaksanaan program Revolusi Hijau ini, lembaga-lembaga sosial seperti Dinas Pertanian dan Kantor Kecamatan bekerja sama untuk memberikan penyuluhan

Selain itu juga seiring dengan berjalannya waktu, pelaksanaan Program Revolusi Hijau juga membawa dampak terhadap perubahan budaya para petani di Sukawening yakni

Dengan adanya pelaksanaan program Revolusi Hijau ini, lembaga-lembaga sosial seperti Dinas Pertanian dan Kantor Kecamatan bekerja sama untuk memberikan penyuluhan

Dengan berjalannya program Revolusi Hijau di daerah pedesaan, menyebabkan perubahan lapisan masyarakat Jawa yang semakin jelas. Perubahan ini menyebabkan perubahan

Kebijakan modernisasi pertanian di Indonesia pada masa Orde Baru yang sering dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau merupakan proses memodernisasikan pertanian gaya lama

Oleh karena itu, melalui paper ini saya ingin menjelaskan mengenai ambiguitas atau ambivalensi yang terjadi pada proyek Revolusi Hijau yang pada mulanya

Pandangan terhadap revolusi yang digambarkan oleh Orwell dalam novel ini merupakan suatu yang pesimistik, karena menurutnya sebuah revolusi yang dilakukan dengan cara