ETIKA BISNIS
“ETIKA & MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA”
Disusun Oleh :
Nur Kusumo Adityo
022120044
Bayu Desmanto
022120045
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015
Hubungan antara perusahaan dengan pekerja merupakan kontrak implisit juga yang mengikuti doktrin yang disebut “employment at will”. Pemberi kerja bebas untuk menerima kerja siapapunyang mereka pilih yang menawarkan mereka kerja atau posisi dan mereka dapat keluar kapanpun mereka inginkan untuk berbagai alas an atau tanpa alasan apapun. Karena perjanjian ini berlaku timbal balik, dan keduanya bebas untuk membuat persetujuan, maka perjanjian kerja ini dapat dimulai atau diakhiri sekehendak hati masing-masing.
Doktrin employment at will juga berarti bahwa tidak ada calon pekerja yang memiliki hak untuk suatu posisi atau pekerjaan yang dilamarnya. Keputusan akhir tetap pada perusahaan. Jadi tidak ada orang yang dapat menuntut dipekerjakan karena menurutnya dirinyalah yang paling memenuhi semua syarat yang diperlukan oleh pekerjaan tersebut. Calon hanya dapat menuntut untuk perlakuan yang adil dan hak untuk tidak didiskriminasikan terhadap kriteria yang tidak berhubungan dengan
Kerja melekat pada tubuh manusia. Kerja adalah aktifitas tubuh dan
karena itu tidak bisa dilepaskan atau difikirkan lepas dari tubuh manusia.
Kerja merupakan perwujudan diri manusia, melalui kerja manusia
merealisasikan dirinya sebagai manusia dan sekaligus membangun hidup dan lingkungannya yang lebih manusiawi. Maka melalui kerja manusia menjadi manusia, melalui kerja mamnusia menentukan hidupnya sendiri sebagai manusia yang mandiri.
Hak atas kerja juga merupakan salah satu hak asasi manusia karena
kerja berkaitan dengan hak atas hidup, bahkan hak atas hidup yang layak.
2. Hak Untuk Berserikat
Hak untuk berserikat, yaitu hak untuk bisa memperjuangkan kepentingannya, khususnya hak atas upah yang adil, pekerja harus diakui dan dijamin haknya untuk berserikat dan berkumpul. Yang bertujuan untuk bersatu memperjuangkan hak dan kepentingan semua anggota mereka. Menurut De Geroge, dalam suatu masyarakat yang adil, diantara perantara-perantara yang perlu untuk mencapai suatu sistem upah yang adil, serikat pekerja memainkan peran yang penting. Ada dua dasar moral yang penting dari hak untuk berserikat dan berkumpul :
Ini merupakan salah satu wujud utama dari hak atas kebebasan yang
merupakan salah satu hak asasi manusia.
Dengan hak untuk berserikat dan berkumpul, pekerja dapat
bersama-sama secara kompak memperjuangkan hak mereka yang lain, khususnya atas upah yang adil.
3. Hak Untuk Mogok
Secara umum pekerja memiliki hak untuk mogok. Akan tetapi hak mogok tersebut dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu, yaitu :
Bahwa pihak-pihak yang terikat terikat suatu kontrak yang benar,
wajib untuk menghormati kontrak tersebut kecuali ada alasan moral untuk tidak demikian, yang benar-benar merupakan konflik terhadap kewajiban moral serius yang serius, tidak dengan keinginan untuk
Hak atas upah yang adil, yaitu hak atas upah yang adil merupakan hak legal yang diterima dan dituntut seseorang sejak ia mengikat diri untuk bekerja pada suatu perusahaan. Dengan hak atas upah yang adil sesungguhnya bahwa : Bahwa setiap pekerja berhak mendapatkan upah, artinya setiap pekerja
Prinsip comparable worth. Setiap orang tidak hanya berhak
memperoleh upah, ia juga berhak memperoleh upah yang adil yaitu upah yang sebanding dengan tenaga yang telah disumbangkannya. Bahwa prinsipnya tidak boleh ada perlakuan yang berbeda atau
diskriminatif dalam soal pemberian upah kepada semua karyawan, dengan kata lain harus berlaku prinsip upah yang sama untuk pekerjaan yang sama.
HAK KARYAWAN
Penghargaan dan jaminan terhadap hak karyawan merupakan salah satu penerapan dari prinsip keadilan dalam pengelolaan bisnis. Pertimbangan keadilan menuntut agar semua karyawan diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing. Secara umum ada beberapa hak karyawan yang dianggap mendasar dan harus dijamin, walaupun dalam penerapannya perlu menyesuaikan dengan tingkat perkembangan ekonomi dan sosial budaya dari masyarakat atau negara dimana suatu perusahaan beroperasi.
1. Hak Karyawan Dalam Bekerja, Promosi, dan Pemutusan Hubungan Kerja Setelah diterima, maka karyawan memiliki hak untuk kenaikan biaya hidup secara periodic dan pertimbangan yang adil untuk kenaikan gaji. Karyawan tidak memiliki hak untuk promosi, kecuali promosi tersebut otomatis. Akan tetapi karyawan memiliki hak untuk penilaian dan pertimbangan yang adil untuk promosi dan mereka memiliki hak untuk diberitahu alasan untuk tidak dipromosikan.
memecatnya. Prinsip kedua menyatakan bahwa perusahaan harus memberitahu karyawan alasan untuk pemutusan hubungan kerja tersebut. 2. Hak Sipil dari Karyawan
Hak sipil adalah hak legal dari tiap orang yang memberikan hak untuk suatu perlakuan. Berikut hak sipil yang melekat pada karyawan :
Hak kebebasan menyatakan pendapat
Hak untuk memilih agama mereka sendiri
Hak untuk diperlakukan sebagai manusia
Hak untuk bebas dari pelecehan seksual
Hak privasi
3. Kualitas Kehidupan Kerja
Masyarakat makin memperhatikan kualitas hidup mereka, termasuk kualitas kehidupan dalam bekerja. Aspek dari kualitas kehidupan kerja yaitu :
Kondisi kerja
Organisasi kerja
Hubungan karyawan dengan karyawan lain
Hubungan karyawan dengan atasan
Hubungan karyawan dengan peralatan kerja mereka
Sikap karyawan pada kerja itu sendiri
KEWAJIBAN KARYAWAN
Karyawan berkewajiban untuk mematuhi hokum moral dan secara legal mereka berkewajiban untuk mematuhi hokum sipil. Karyawan berkewajiban untuk tidak bohong atau menyebarluaskna informasi yang salah dan tidak melakukan pelecehan seksual. Karyawan berkewajiban untuk memperhatikan kepentingan perusahaan tempat mereka bekerja. Kewajiban karyawan sering dinyatakan dalam kontrak ataupun deskripsi pekerjaan, ataupun tidak tertulis sama sekali.
Loyalitas Karyawan dan Kepatuhan
oleh atasannya. Perintah-perintah tersebut antara lain seperti etika atasan menyuruh karyawan tersebut untuk melakukan hal yang tidak bermoral, seperti membunuh musuh atasannya, atau dapat pula berupa korupsi. Dapat pula dalam bentuk mengerjakan tugas pribadi atasannya, misalnya untuk kepentingan pribadi atasan bukan untuk kepentingan perusahaan. Karyawan juga tidak perlu mematuhi perintah yang memang demi kepentingan perusahaan, tetapi tidak sesuai dengan penugasan yang disepakati. misalnya sekretaris diberi tugas untuk bersih-bersih, dan lain sebagainya.
Selain kewajiban kepatuhan, diperlukan juga kewajiban loyalitas dalam karyawan. Kewajiban loyalitas adalah konsekuensi dari status seseorang sebagai karyawan perusahaan ia harus mendukung tujuan-tujuan perusahaan dan turut merealisasikan tujuan tersebut. Faktor utama yang dapat membahayakan terwujudnya loyalitas adalah konfilk kepentingan (conflict of interest) artinya konflik kepentingan pribadi karyawan dan kepentingan perusahaan. Karyawan tidak boleh menjalankan kepentingan pribadi yang bersaing dengan kepentingan perusahaan. Misalnya karyawan memproduksi produk yang sama dengan produk perusahaan dan menjualnya dengan harga murah. Konflik kepentingan tidak selalu berkaitan dengan masalah uang. Contohnya, seorang yang bekerja di suatu perusahan memutuskan untuk membeli peralatan kantor dari perusahaan tempat dimana anaknya bekerja, walaupun sebenarnya ada penawaran harga yang lebih baik dari perusahaan lain.
HUBUNGAN KARYAWAN DENGAN PERUSAHAAN
Sebagai aturan umum, karyawan memiliki kewajiban moral untuk mencegah kerugian yang ditimbulkan perusahaan kepada masyarakat. Dalam mencegah perusahaannya dari merugikan masyarakat, karyawan dapat menggunakan metode
whistle blowing.
melewati kepala bagian dan manajer umum. Pada pelaporan eksternal, karyawan melaporkan kesalahan perusahaan kepada instansi pemerintah atau kepada masyarakat melalui media komunikasi. Misalnya karyawan melaporkan bahwa perusahaannya tidak membayar pajak melalui media massa atau pihak eksternal lainnya.
Whistle blowing secara moral dapat dibenarkan bila berbagai hal telah dipertimbangkan dan dilakukan :
Melalui produk atau kebijakannya, perusahaan akan menimbulkan kerugian
yang serius pada karyawan atau masyarakat.
Bila karyawan mengidentifikasi adanya ancaman bagi public, maka
seharusnya dilaporkan terlebih dahulu pada atasan langsungnya.
Bila atasan langsung tidak melakukan apapun yang bersangkutan dengan
keluhan karyawan, maka karyawan harus mencoba dahulu menggunakan segala prosedur internal yang mungkin dalam perusahaan.
DISKRIMINASI
Diskriminasi dalam perusahaan adalah membedakan berbagai karyawan karena alasan yang tidak relevan yang berakar pada prasangka atau stereotip. Diskriminasi dapat terjadi pada saat perekrutan calon karyawan, seleksi karyawan, kenaikan pangkat, maupun kondisi pekerjaan. Diskriminasi biasanya terjadi terhadap ras, agama, dan jenis kelamin.
Beberapa teori menentang adanya praktek diskriminasi, teori ini antara lain adalah utilitarisme atau utility, deontologi atau right, dan keadilan atau justice.
1. Utilitarian. Berpendapat bahwa diskriminasi menimbulkan penggunaan sumber daya manusia yang tidak efisien.
2. Deontologi. Berpendapat bahwa diskriminasi melanggar hak asasi manusia.
Terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk melawan diskriminasi ditempat kerja. Pertama affirmative action law, suatu program yang didesain untuk memastikan porsi minoritas cocok dengan porsi yang ada di perusahaan. Perlakuan preferensial (khusus) dapat dengan meng-hiring kaum minoritas atau wanita untuk menempati posisi yang dianggap stereotip oleh mayoritas sebagai bentuk kompensasi atas kerugian yang mereka alami. Mereka juga mengintepretasikan perlakuan preferensial sebagai sarana guna mencapai tujuaan sosial, seperti keadialan yang merata. Kedua, diversity management program (awareness based diversity training dan skill based diversity training), suatu program yang didesain untuk mengajarkan karyawan untuk menerima perbedaan-perbedaan yang ada disekitarnya.
CONTOH KASUS
“KARYAWAN INDOSIAR DIPECAT SECARA SEPIHAK”
Jakarta: Puluhan karyawan PT Indosiar Visual Mandiri, Kamis (11/3), kembali berdemonstrasi dengan cara memblokade pintu masuk kantor Indosiar di Jalan Damai nomor 11, Daan Mogot Raya, Jakarta Barat. Bukan cuma itu, demonstran juga membentangkan sejumlah poster dan spanduk yang mewakili perasaan mereka.
Karena itu, karyawan yang telantar berdemo menuntut keadilan. Selain itu, demonstran juga menuntut pembayaran upah yang belum dibayarkan perusahaan.
Sumber : Liputan6.com (11 Maret 2010)
Analisis Kasus :