• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Matematika dan Nilai Nilai Kei

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Integrasi Matematika dan Nilai Nilai Kei"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Rista Risqi Khoiriyah

Jurusan Tadris Matematika, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungagung

e-mail: [email protected]. iain-tulungagung.ac.id

ABSTRAK

Usaha pengintegrasian matematika dan nilai-nilai keislaman masih dirasa sebagai hal yang cukup baru bagi dunia pendidikan di Indonesia, karena masih beberapa guru yang menerapkan model yang demikian dalam pembelajran matematika. Apabila dikaji lebih dalam, matematika memiliki hubungan erat dengan Al-Qur’an. Matematika merupakan bagian kecil dari Al-Quran. Pembelajaran matematika dapat digunakan untuk membentuk pendidikan yang berkarakter Islami karena proses pembelajaran matematika secara tidak langsung membiasakan peserta didik untuk berkarakter jujur, sabar, cermat, dan teliti. Penelitian ini berusaha mengkaji tentang pengintegrasian nilai-nilai keislaman dan matematika dalam rangka membentuk generasi yang berkarakter Islami.

Kata Kunci: Integrasi, Matematika, Nilai-Nilai Keislaman, Pembelajaran Matematika, Generasi Berkarakter Islami

PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Banyak ayat al-

Qur’an yang menjelaskan bahwa ilmu dan ahli ilmu berada pada tempat yang mulia dan agung. Selain itu, di dalam Al-Qur’an juga terdapat banyak ayat yang memotivasi umat Islam untuk menuntut ilmu pengetahuan. Seperti yang diketahui, menurut Al-Quran manusia berpotensi untuk

menguasai ilmu pengetahuan. Dalam Al-Quran juga, manusia diperintahkan untuk bekerja pada

amal-amal yang menghasilkan ilmu. Manusia lebih unggul daripada makhluk yang lainnya karena

ia dikarunia kemampuan untuk mencari ilmu pengetahuan. Manusia yang paling ideal dalam

pandangan Al-Quran adalah manusia yang mencapai derajat ketinggian iman dan ilmu

pengetahuan.

Melaui pembelajaran matematika, logika berfikir dapat terbentuk. Matematika pada dasarnya

mengajarkan logika berfikir, yakni berdasarkan akal dan nalar. Namun, sifat matematika itu abstrak

dan tidak nyata karena terdiri dari simbol-simbol. Sehingga, matematika sebagai ilmu pengetahuan

dapat digunakan sebagai pendekatan dalam menjelaskan nilai-nilai keislaman.

Pendekatan matematika digunakan di sini tidak berarti bahwa nilai-nilai keislaman itu

(2)

itu bernilai kebaikan dan bisa mengantarkan kepada kebaikan yang hakiki serta meningkatkan

keimanan dan kedekatan kepada Allah. Bahkan banyak ditemukan ayat dalam al-Qur’an yang menggunakan angka-angka dalam menyampaikan informasi kebenaran kepada manusia. Oleh

karena itu, tulisan ini akan membahas tentang pembelajaran matematika yang mengintegrasikan

nilai-nilai keislaman di dalamnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.

Pengertian Integrasi Keilmuan

Menurut Wedawaty, integrasi secara istilah memiliki sinonim dengan perpaduan, penyatuan,

atau penggabungan dari dua objek atau lebih. Hal ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan

oleh Poerwardarminta dalam Siti Mahfuzoh, integrasi adalah penyatuan supaya menjadi satu satu

kebulatan atau menjadi utuh.Integrasi merupakan usaha untuk menjadikan dua atau lebih hal

menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.1

Menurut Sauri, integrasi diartikan sebagai proses memadukan nilai-nilai tertentu terhadap

sebuah konsep lain sehingga menjadi satu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan atau

proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Menurut Alim, secara

definitif integrated knowledge merupakan produk dari berpikir terpadu, yaitu berpadunya logika

penalaran dengan iman kepada wahyu agama, dengan kata lain berpadunya produk dan dzikir.

Ajaran islam dalam penafsiran cendikiawan memuat semua sistem ilmu pengetahuan, tidak ada

dikotomi dalam sistem keilmuan islam.2

Menurut Nurizzati, landasan integratif adalah ilmu-ilmu agama (Islam) dan ilmu umum

(sains, teknologi, dan sosil) itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam Al-Qur’an surat Al -Qashash ayat 77, Allah memerintahkan kita agar hidup seimbang. Dengan demikian integrasi

adalah keterpaduan antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam), dengan ilmu pengetahuan pada

umumnya (dalam hal ini matematika). Jadi dapat disimpulkan bahwa integrasi adalah usaha

menjadikan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dalam hal ini proses memadukan nilai-nilai

agama terhadap konsep lain yaitu ilmu pengetahuan umum (matematika) sehingga menjadi

kesatuan yang utuh.3

Berdasarkan pendapat Mahfudzoh, bentuk-bentuk kajian integrasi keilmuan adalah: (1)

Komparasi yaitu membandingkan konsep atau teori sains termasuk matematika dengan konsep

wawasan agama mengenai gejala-gejala yang sama, (2) Induktifikasi yaitu asumsi-asumsi dasar

dari teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empirik dilanjutkan pemikirannya secara

teoritis abstrak kearah pemikiran metafisik kemudian dihubungkan dengan prinsip agamadan Al

1 Nani Fitriah, Jamali Sahrodi, dan Arif Muchyidin, Implementasi Model Pembelajaran Matematika

Berintegrasi Keislaman dalam Meningkatkan Karakter Demokrasi Siswa, Eduma 4, no. 2 (2015): 88–104.

2

Ibid.

(3)

qur’an mengenai hal tersebut. (3) Verifikasi yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat Al Qur’an.4

2. Sifat Matematika

Pendidikan matematika tidak dapat terlepas dari matematika itu sendiri. Untuk

mengintegrasi matematika dan islam dalam pembelajaran matematika maka lebih baik jika dikaji

terlebih dahulu sifat-sifat matematika sebagai ilmu pengetahuan. Menurut Suparni, sifat atau

karakteristik dari matematika yaitu obyek matematika abstrak, simbol yang kosong dari arti,

kesepakatan dan pemikiran deduktif aksiomatik.5

Matematika memiliki sifat universal yang mendasari perkembangan teknologi modern,

memilki karakteristik: (1) menuntut kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif

dan inovatif, (2) menekankan kepada penguasaan konsep dan algoritma disamping kemampuan

memecahkan masalah dan (3) terdapat empat obyek belajar yaitu: fakta, konsep, prinsip dan

prosedur. Matematika bukan pengetahuan yang menyendiri, yang dapat sempurna karena dirinya

sendiri, tetapi keberadaan matematika diperlukan manusia untuk membantu dalam memahami dan

menguasai masalah agama, sosial, ekonomi, dan alam. Karena itu, dengan belajar matematika anak

diajak untuk belajar kritis pada setiap persoalan yang berkaitan dengan bidang studi lain, maupun

persoalan-persoalan yang dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari.6

Berdasarkan referensi lainnya, berikut akan dipaparkan sifat/karakteristik umum

matematika:

a. Memiliki objek kajian yang bersifat abstrak:

Objek matematika adalah objek mental atau pikiran. Objeknya pun bersifat abstrak.

Objek kajian matematika yang dipelajari di sekolah adalah fakta, konsep, operasi (skill), dan

prinsip.7

b. Mengacu pada kesepakatan

Fakta matematika meliputi istilah (nama) dan simbol atau notasi atau lambang. Fakta

merupakan kesepakatan atau permufakatan atau konvensi. Kesepakatan itu menjadikan

pembahasan matematika mudah dikomunikasikan. Pembahasan matematika bertumpu pada

kesepakatankesepakatan. Contoh: Lambang bilangan 1, 2, 3, ... adalah salah satu bentuk

4 Ibid. 5

Samsul Maarif, Integrasi Matematika dan Islam dalam Pembelajaran Matematika , Infinity 4, no. October 2015 (2016): 223–36.

6 Salafudin (Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan) Salafudin, Pembelajaran Matematika yang Bermuatan

Nilai Islam, Penelitian 12 (2015): 223–43.

7

(4)

kesepakatan dalam matematika. Lambang bilangan itu menjadi acuan pada pembahasan

matematika yang relevan.8

c. Mempunyai pola pikir deduktif

Matematika mempunyai pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif didasarkan pada

urutan kronologis dari pengertian pangkal, aksioma (postulat), definisi, sifat-sifat, dalil-dalil

(rumus-rumus) dan penerapannya dalam matematika sendiri atau dalam bidang lain dan

kehidupan sehari-hari. Pola pikir deduktif adalah pola pikir yang didasarkan pada hal yang

bersifat umum dan diterapkan pada hal yang bersifat khusus, atau pola pikir yang didasarkan

pada suatu pernyataan yang sebelumnya telah diakui kebenarannya. Contoh: Bila seorang

siswa telah belajar konsep ‟persegi‟ kemudian ia dibawa ke suatu tempat atau situasi (baru) dan ia mengidentifikasi benda-benda di sekitarnya yang berbentuk persegi maka berarti

siswa itu telah menerapkan pola pikir deduktif (sederhana).9

d. Konsisten dalam sistemnya

Dalam suatu sistem matematika berlaku hukum konsistensi atau ketaatazasan, artinya

tidak boleh terjadi kontradiksi di dalamnya. Konsistensi ini mencakup dalam hal makna

maupun nilai kebenarannya. Contoh: Bila kita mendefinisikan konsep trapesium sebagai

segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar, maka kita tidak boleh menyatakan bahwa

jajaran genjang termasuk trapesium. Hal ini karena jajaran genjang mempunyai dua pasang

sisi sejajar.10

e. Memiliki simbol yang kosong dari arti

Matematika memiliki banyak simbol. Rangkaian simbol-simbol dapat membentuk

kalimat matematika yang dinamai model matematika. Secara umum simbol dan model

matematika sebenarnya kosong dari arti, artinya suatu simbol atau model matematika tidak

ada artinya bila tidak dikaitkan dengan konteks tertentu. Kekosongan arti dari simbol-simbol

dan model-model matematika merupakan ‟kekuatan‟ matematika, karena dengan hal itu matematika dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.11

f. Memperhatikan semesta pembicaraan

Karena simbol-simbol dan model-model matematika kosong dari arti, dan akan

bermakna bila dikaitkan dengan konteks tertentu maka perlu adanya lingkup atau semesta

dari konteks yang dibicarakan. Lingkup atau semesta dari konteks yang dibicarakan sering

8 Ibid. 9 Ibid. 10

Ibid.

(5)

diistilahkan dengan nama ‟semesta pembicaraan‟. Ada-tidaknya dan benar-salahnya penyelesaian permasalahan dalam matematika dikaitkan dengan semesta pembicaraan.12

Dari beberapa uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa karakteristik/sifat matematika

meliputi (1) memiliki objek kajian yang bersifat abstrak, (2) mengacu pada kesepakatan, (3)

mempunyai pola pikir deduktif, (4) konsisten dalam sistemnya, (5) memiliki simbol yang kosong

dari arti, dan (6) memperhatikan semesta pembicaraan.

3.

Nilai Keislaman

Menurut Elmubarok, secara garis besar nilai dibagi menjadi dua yaitu nilai nurani dan

nilai pemberi. Nilai nurani yang dimaksud adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian

berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. Contoh kejujuran,

keberanian,disiplin dan lain-lain. Nilai pemberi yang dimaksud adalah nilai yang perlu

dipraktekkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan. Contoh tidak

egois, adil, dapat dipercaya dan lain-lain.13

Menurut Kohar, nilai Islam didefinisikan sebagai sifat-sifat atau hal-hal di dalam ajaran

yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang digunakan sebagai dasar penentu tingkah laku atau

rujukan seseorang dalam melaksanakan sesuatu sebagai bekal hidup didunia dan akhirat. Adapun

arti dari keislaman adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan agama Islam. Sedangkan Islam

adalah agama yang dibawa oleh Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW yang berpedoman kepada Al

qur’an sebagai kitab suci. Jadi integrasi matematika dan nilai keislaman adalah menyatu padukan antara pelajaran matematika dengan agama, yang didalamnya terdapat nilai-nilai keislaman. Dalam

hal ini, nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai keislaman yang berlandaskan Al qur’an.14

4.

Hubungan Karakteristik Manusia dengan Karakteristik Matematika

Dalam mengembangkan karakter apa yang dapat ditumbuhkan pada siswa pada bidang mata

pelajaran matematika tentunya seorang guru harus mengenal karakteristik dari setiap konsep

matematika. Karakteristik apa yang terkait dengan karakter atau sifat manusia. Jika kita tau

karakteristik matematika yang memiliki hubungan erat dengan sifat dari manusia, tentunya kita

dapat mengembangkan sebuah pengajaran matematika dengan menanamkan nilai-nilai dari setiap

konsep matematika. Dampak karakteristik dari konsep matematika itu apabila ditanamkan dalam

kehidupan siswa tentunya akan berdampak positif terhadap sikap siswa.

12 Ibid. 13

Ibid. Nani Fitriah dkk, Implementasi Model Pembelajaran...

(6)

Menurut Abdussyakir, pembelajaran matematika mempunyai dampak positif yang berkaitan

dengan sikap terpuji sebagai berikut.

a. Sikap Jujur, Cermat dan Sederhana

Orang sering menyebut matematika sebagai ilmu hitung karena ilmu ini berkaitan

dengan proses hitung-menghitung. Dalam proses perhitungan, untuk menentukan hasil dari

jawaban menggunakan teorema ataupun defisnisi dibutuhkan sikap ketelitian, kecermatan dan

ketepatan. Setelah didapatkan hasilnya tentu kita memerlukan proses pengecekan dari

langkah-langkah yang telah kita lakukan. Apakah langkah-langkah-langkah-langkah tersebut sudah sesuai dengan teorema

atau tidak. Jangan sampai langkah yang kita buat melenceng dari teorema sehingga tentunya

jawaban akan salah. Oleh sebab itu, dalam matematika sangat diperlukan ketelitian dan

kecermatan.15

Dalam matematika juga terdapat prinsip kejujuran, di mana ketika kita melakukan

proses dalam matematika dan tidak sesuai dengan prinsip atau teorema-teorema yang ada

tentunya pekerjaan kita akan salah. Seseorang tidak dapat mengelak dengan dasar diluar

matematika untuk membenarkan hasil pekerjaan yang salah tadi. Sebaliknya, seseorang tidak

dapat menyalahkan sebuah definisi atau teorema yang sudah terbukti kebenarannya untuk

mencapai tujuan dari perhitungan yang diinginkan oleh seseorang.16

b. Sikap Konsisten dan Sistematis Terhadap Aturan

Matematika adalah ilmu yang didasarkan pada kesepakatan-kesepakatan yang sistematis

dan dari kesepakatan itu seseorang yang bekerja dengan matematika harus mentaatinya. Sebagai

contoh, jika jumlah sudut dalam segitiga = 180 (pada geometri Euclid). Tentunya kita harus

mentaatinya untuk membuktikan kebenaran selanjutnya. Kita tidak boleh menabrak kesepakatan

itu kalau tidak mau dibilang salah.17

Aturan-aturan dalam matematika itu tersusun rapi secara sistematis mulai dari definisi

ataupun kebenaran pangkal yang tidak perlu pembuktian karena sudah terbukti kebenarannya.

Adanya teorema yang merujuk pada sebuah definisi harus dibuktikan kebenarannya. Teorema

akan menimbulkan sebuah akibat yang disebut Lemma ataupun Corollary.18

Pada bagian-bagian matematika juga sudah tersusun rapi dan sistematis seperti contoh

pada konsep bilangan yang memuat bilangan kompleks didalamnya. Di dalam bilangan

kompleks terdapat bilangan real dan imajiner. Dalam bilangan real ada bilangan rasional dan

irrasional. Didalam bilangan rasional terdapat bilang bulat dan pecahan. Dari contoh tersebut

matematika sangat sistematis dan harus ditaati dalam proses pengerjannya.19

15 Ibid Maarif, Integrasi Matematika dan Islam dalam Pembelajaran Matematika . (dengan pengubahan). 16 Ibid. (dengan pengubahan).

17 Ibid. (dengan pengubahan). 18

Ibid. (dengan pengubahan).

(7)

Dalam kehidupan sesungguhnya, hal-hal di atas dapat diartikan bahwa apabila menjadi

seorang pemimpin harus berpegang pada kebenaran dari aturan yang sistematis dan konsisten

menjalankannya. Amanah yang diberikan oleh rakyat harus dijalankan sesuai dengan apa yang

dibutuhkan oleh rakyat. Konsistensi itu harus selalu ada pada kondisi apapun.20

c. Sikap adil

Dalam matematika terdapat prinsip keadilan dalam hal sebuah persamaan. Seperti contoh:

2x + 5 = 15, tentukan nilai x (solusi dari persamaan) !

Untuk mencari solusi dari persamaan tersebut diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

2x + 5 = 15

2x + 5 – 5 = 15 – 5 2x = 10

x =

x = 5

Kalau kita lihat operasi pada ruas kiri harus sama dengan ruas kanan. Jadi, dalam

pengerjaanya terdapat prinsip keadilan dalam matematika.

21

d. Sikap Tanggungjawab

Dalam matematika ada yang dinamakan proses pembuktian baik secara induktif ataupun

deduktif. Dalam proses pembuktian terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan dan

semuanya itu didasarkan pada kebenaran dan alasan yang kuat. Seperti contoh: untuk

membuktikan Luas Daerah Segitiga = ½ * alas * tinggi kita memerlukan langkah-langkah yang

terkait misalkan salah satunya dengan menggunkan teorema phytagoras yang sudah dibuktikan

kebenarannya. Jadi, untuk membuktikan luas daerah segitiga tersebut dalam langkahnya kita

memilih menggunakan teorema phytagoras karena alasan yang kuat yaitu sudah terbukti

kebenarannya dan terkait dengan prinsip-prinsip segitiga.22

e. Sikap Percaya Diri dan Tidak Mudah Menyerah

Sikap percaya diri amat sangat dibutuhkan oleh siswa. Seorang siswa akan menyelesaikan

tugas-tugasnya dengan baik bila memiliki kepercayaan terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Dalam atematika sendiri untuk menyelesaikan sebuah persoalan matematika dituntut untuk

percaya diri dalam mengerjakannya. Biasanya dalam pembelajaran matematika tidak jarang

siswa yang suka mencocok-cocokan jawabannya dengan jawaban temannya dengan alasan

apakah jawabannya itu benar. Tapi, terkadang karena kurang percaya dirinya siswa tersebut

ketika jawabannya berbeda dengan temannya bukan malah termotivasi untuk mencari

20 Ibid. (dengan pengubahan). 21

Ibid.

(8)

jawaban yang benar tapi sebalikanya rasa menyerah. Siswa tersebut merasa jawabannya salah

dan yang timbul menyontek jawaban temannya yang belum tentubenar.23

Yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika terkait dengan sikap rasa

percaya diri adalah membiarkan siswa berkreasi dengan jawabannya menurut kemampuannya.

Jika terjadi kegagalan dalm mencari hasil jawaban, gurumemberikan scaffolding ataupun

bantuan sehingga memotivasi siswa untuk mencari jawaban yang benar. Jika kegiatan itu

dilakukan terus menerus tentunya sikap tidak mudah menyerah pada siswa akan terbangun.

Siswa akan terus mencari dan mencari jawaban dari permasalahan sehingga mereka

mendapatkan hasilanya. Rasa tidak mudah menyerah tersebut akan menimbulkan kepercayaan

diri pada diri siswa.24

Dalam pembelajaran matematika sangat penting utnuk membentuk pribadi yang

berkualitas. Jika guru dapat menentukan karakteristik dari setiap konsep matematika tentunya

guru akan lebih mudah mengembangkannya dalam setiap proses pembelajaran. Guru dapat

menciptakan desain pembelajaran dengan mengkombinasikan nilai-nilai yang terkandung di

setiap konsep matematika. Sehingga, pendidikan karakter tidak hanya dituliskan sebagai sarat

administratif saja, tapi benear-benar nilai karakter sikap siswa juga dapat terbangun dengan

baik.25

5.

Pembelajaran Matematika

Kata “matematika” berasal dari kata mathema dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai

“sains, ilmu pengetahuan, atau belajar”, juga mathematikos yang diartikan sebagai “ suka belajar”. Pengertian matematika menurut Jhonshon dan Miklebust mengatakan bahwa: “matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan kuantitatif. Sedangkan

fungsi teoritisnya, adalah untuk memudahkan berfikir. Sedangkan Lerner mengemukakan, bahwa

matematika selain sebagai bahasa simbolis juga sebagai bahasa universal yang memungkinkan

manusia memikirkan, mencatat, mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas”. Belajar matematika tidak terlepas dari permainan angka-angka serta cara mengoperasikannya. Dalam

kamus besar bahasa Indonesia, pengertian matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan,

hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah

mengenai bilangan". Matematika menurut Russefendi adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang

tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang

terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefenisikan ke unsur yang didefenisikan, ke postulat

23 Ibid. 24

Ibid. (dengan pengubahan).

(9)

dan akhirnya ke dalil. Sedangkan Hakikat matematika menurut Soedjadi yaitu objek tujuan abstrak,

bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.26

Pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai cara berpikir dan bernalar yang digunakan

untuk memecahkan berbagai jenis persoalan dalam keseharian, sains, pemerintah, dan industri.

Lambang dan bahasa dalam matematika bersifat universal sehingga dipahami oleh bangsa–bangsa di dunia.27 Sehingga, karena mtematika bersifaat universal, maka kegunaannya berlaku untuk

menyelesaiakan masalah secara universal pula.

6.

Integrasi Matematika dan Nilai-nilai Keislaman dalam Pembelajaran Matematika

Ismail Al-faruqi, tokoh Islamisasi ilmu mengemukakan lima prinsip metodologi islam di

bidang sains sebagai berikut28:

a. Prinsip Keesaan Allah. Dia adalah sang khalik, dialah pencipta dari segala macam disiplin ilmu yang ada di muka bumi ini.Dialah Pencipta dan dengan perintahNya segala sesuatu

peristiwa itu terjadi. Dialah sebab pertama dan terakahir dari detiap sesuatu.

b. Prinsip kesatuan alam semest. Sebagai akibat logis dari keesaan Allah, kita harus mempercayai kesatuan ciptaan-Nya. Allah bukan hanya menciptakan kemudian mengundurkan

diri, akan tetapi secara aktif mengatur dan mengontrol alam.

c. Prinsip kesatuan, kebenaran, dan kesatuan pengetahuan. Meski manusia memiliki kemampuan nalar, akan tetapi kemampuan itu terbatas dan mungkin melakukan kesalahanatau

penyimpangan. Nalar bisa melakukan kritik, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap

nalar orang lainn dan kritik itu merupakan mekanisme untuk memperbaiki kesalahan.

d. Prinsip kesatuan hidup. Manusia adalah makhluk yang mengemban amanah (kepercayaan Allah) yakni bahwa kehidupannya ditujukan untuk mengabdi kepadaNya. Pengabdian kepada

Allah diwujudkan dengan melaksanakan kehendakNya.

e. Prinsip kesatuan umat manusia. Islam mengajarkan bahwa setiap orang adalah ciptaan Allah SWT dan karena itu pada hakekatnya meraka itu sama dihadapan Allah.

Melalui prinsip-prinsip yang telah disebutkan, berikut disajikan beberapa materi matematika

yang dapat dikaitkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam islam.29

a. Memahami Keesaan Allah dengan Konsep Limit

Dalam matematika terdapat beberapa prinsip-prinsip yang dapat dijadikan acuan untuk

membuktikan keesaan dan sifat-sifat Allah. Misalkan, pada konsep limit terdapat pertanyaan

26 Nasaruddin (Dosen Prodi Pendidikan Matematika STAIN Palopo) Nasaruddin, Pembelajaran Matematika

Berbasis Islam, Al-Khawarizmi II (2014): 59–68.

27 Ibid. 28

Ibid. Maarif, Integrasi Matematika dan Islam dalam Pembelajaran Matematika...

(10)

sederhana, yakni “Dalam sebuah barisan bilangan asli yaitu 1, 2, 3, 4, . . . Barisan tersebut

berhingga atau tak hingga?”

Dari pertanyaan tersebut hampir banyak orang yang menganggap “tak berhingga”.

Kemudian, penulis melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Akan tetapi, kalau dicermati lebih

mendalam, bahwa pada barisan bilangan asli akan berhingga sampai n atau 1,2,3,.... ,n. Nilai n nya

tergantung sesuai keinginan kita, akan tetapi manusia tidak mampu menjawabnya karena hanya

Tuhan yang tahu, karena barisan tersebut akan mendekati tak hingga.

Makna yang dapat dipetik dari konsep di atas adalah kehidupan di dunia ini bukan keabadian

ataupun kekekalan, karena kedua sifat tersebut hanya dimiliki oleh Tuhan. Allah berfirman dalam

Surat Al-Qoshoss ayat 88:

binasa, kecuali Wajah Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada -Nya-lah kamu

dikembalikan.”

Ayat di atas bermakna bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini tidak kekal, semua akan

binasa termasuk hukum-hukum matematika yang oleh sebagian orang dianggap tak terhingga.

Pemikiran manusia hanya dapat mengagungkan sifat Tuhan dengan segala Ilmu yang dimilikinya.

Dengan ilmu yang dimiliki, hendaknya setiap muslim lebih mempertebal keimanannya, bukan

makin menjauh dari Tuhan karena merasa sudah mampu menyelesaikan segala permasalahan

dengan ilmu yang sudah dimiliki. Perlu diingat bahwa manusia adalah makhluk yang berdimensi,

dan eksistensi setiap makhluk yang berdimensi akan terbatas. Pemikiran manusia hanya dapat

mencapai sedikit dari bukti kekuasaan Allah SWT dan yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas

hanya Allah SWT.

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna yang merupakan simbol

pernyataan yang ingin disampaikan. Simbol-simbol matematika bersifat artifisial, yang artinya

simbol akan memiliki makna setelah orang menyepakati suatu makna dari simbol tersebut. Seperti

Simbol “1” ini tidak memiliki arti apa-apa, akan tetapi setelah ada kesepakatan bahawa simbol bilangan “1” dimaknai sebauah nilai dari jumlah suatu benda maka orang akan memaknainya sebagai banyaknya adalah 1 yang menandakan keesaan Allah. Allah berfirman dalam Surat

Al-Ikhlas ayat 1-4:

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang

(11)

b. Memahami Eksistensi Manusia di Dunia dengan Konsep Geometri

Mathematics is the Quin and The Serve Of Science. Pernyataan tersebut berarti bahwa

matematika merupakan ratu ilmu sekaligus pelayan bagi ilmu-ilmu lain. Meskipun matematika

berdiri sendiri dan terlahir dari proses filsafat dan logika tanpa ilmu lain, tetapi matematika tetap

menjadi pelayan bagi ilmu lain sehingga sering disebut dengan matematika terapan. Dalam hal ini

matematika menjunjung tinggi kesatuan alam semesta untuk saling mendukung ilmu-ilmu lain

untuk mengungkap rahasia-rahasia alam semesta sebagai simbol kekuasaan Allah.

Dalam matematika terdapat ilmu geometri, yaitu salah satu cabang matematika yang

mempelajari bentuk benda dan karakteristiknya. Geometri merupakan representasi dari alam

semesta dalam matematika. Tentunya alam semesta mengandung banyak makna yang harus

diungkap salah satunya dengan pendekatan geometri. Salah satunya yang akan dikaji pada tulisan

ini adalah tentang eksistensi manusia di dunia.

Keberadaan manusia di dunia ini berdasarkan eksistensi Allah yang dengan sifat rakhman

dan rakhimNya meniupkan ruh dan memberikanya kehidupan. Manusia hadir di muka bumi dengan

segala kesempurnaan dan kesucian seperti kertas putih yang siap diisi dengan guratan tinta-tinta

kehidupan. Setiap manusia akan menuliskan eksistensinya di dunia ini menurut guratan hidup

masing-masing individu.

Matematika disebut ilmu lambang yang mana setiap aturan mempunyai lambang atau

simbol. Sebuah simbol pasti memiliki arti baik tersurat maupun tersirat. Sebuah simbol dalam

matematika juga mungkin memiliki arti dalam kehidupan. Oleh karena itu, untuk membahas

eksistensi diri akan digunakan pendekatan konsep matematika yakni geometri. Di sini akan

dimulai dengan pembahasan eksistensi sebuah bangun dimensi dua.

Gambar 1 Segitiga dan Segiempat

Gambar 2

Gambar 1 disebut segitiga dan segi empat, akan tetapi pada gambar 2

meskipun memiliki tiga buah segmen garis dan empat buah segmen garis orang

tidak menyebutnya segitiga ataupun segi empat. Dalam hal ini eksistensi segitiga dan segiempat

ada karena adanya pendefinisian sehingga sebuah segitiga dan segi empat terdefinisi dengan baik

(12)

segiempat dibatasi oleh empat buah sisi yang masing-masing saling berpotongan. Pembatas

keduanya adalah sisi yang berupa segmen garis. Itulah alasannya pada gambar 2 terdapat sisi yang

tidak ada atau ada batasan yang hilang sehingga keduanya tidak terdefinisi dengan baik.

Apabila ditelusuri lagi, bukan hanya pada dimensi dua maupun dimensi tiga, sebuah bangun

ruang akan terdefinisi dengan baik jika dibatasi oleh sisi yang berbentuk bidang. Mungkin

dimensi-dimensi yang lain akan sama pula. Jadi, setiap makhluk yang berdimensi-dimensi memiliki batasan-batasan.

Jika dianalogikan, sesuatu hal dengan salah satu sifat Allah mukholafatu llilkhawaditsi (yang

artinya Allah berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya) adalah setiap makhluk Allah berdimensi

sehingga terbatas ataupun memiliki batasan yang disebut dengan sisi yang membatasi. Sedangkan

Allah berbeda dengan makhluknya, Allah tidak terbatas ataup tidak ada satupun yang membatasi

sehingga tidak seorangpun yang dapat mendefinisikan Allah secara fisik.

Di samping itu, kalau manusia sebagai makhluk yang berdimensi artinya memiliki

batasan-batasan sehingga dapat terdefinisi dengan baik dan bisa memiliki eksistensi dimata orang lain. Apa

batasan-batasan itu? Tentunya sama dengan bangun dimensi yaitu sisi-sisi. Akan tetapi, sisi-sisi

tersebut berbentuk nilai-nilai agama, moral dan lainnya yang menjadikan manusia bermartabat.

Eksistensi semu akan didapatkan bagi seseorang yang mendapatkan sebuah pengakuan dengan

cara-cara yang keluar dari jalur dan itu bukan sifat seorang makhluk yang berdimensi.

c. Memahami Sikap Berserah Diri Kepada Allah dengan Konsep Barisan Bilangan Pecahan Menurut Julardi, matematika sebagai ilmu pengetahuan dengan penalaran deduktif

mengandalkan logika dalam meyakinkan akan kebenaran suatu pernyataan. Faktor intuisi dan pola

berpikir induktif banyak berperan pada proses awal dalam merumuskan suatu konjektur

(conjecture) yaitu dugaan awal dalam matematika. Proses penemuan dalam matematika dimulai

dengan pencarian pola dan struktur, contoh kasus dan objek matematika lainnya. Selanjutnya,

semua informasi dan fakta yang terkumpul secara individual ini dibangun suatu koherensi untuk

kemudian disusun suatu konjektur. Setelah konjektur dapat dibuktikan kebenarannya atau

ketidakbenaranya maka selanjutnya ia menjadi suatu teorema. Tentunya dalam matematika sendiri

banyak hal-hal untuk membuktikan suatu kebenaran tentang sunnatullah atau kejadian-kejadian

yang ada di dunia ini.

Sebagai contoh, akan dicermati bilangan yang lebih besar antara 1/2 dengan 1/3, lalu

didapatkan 1/2 yang lebih besar. Selanjutnya, terdapat pertanyaan “antara 1/3 dengan ¼ lebih besar yang mana?”, apabila 1/4 dengan 1/5 , 1/5 dengan 1/6 dan seterusnya. Dari beberapa pertanyaan tersebut, tentu bilangan yang berada di sebelah kiri akan lebih besar sehingga, semakin

besar nilai dari sebuah penyebut (denominator) maka pecahan itu akan semakin kecil. Pada

akhirnya semakin besar pembagi (dalam artian tak hingga), maka 1/tak hingga = 0. Konsep itu

bermakna apabila 1 = Allah (Al-Ahad) yang diposisikan sebagai bilangan yang dibagikan (bahwa

Allah itu pemberi rahmat dan hidayah), dan tak hingga = manusia sebagai hamba Allah. Tak

(13)

dengan segala kekuasaan dan kepintarannya. Jika manusia berlaku demikian, maka dimata Allah

harganya “0″ (1/tak hingga = 0).

Sebaliknya, jika dicermati: 1/(1/2) dengan 1/(1/3) lebih besar mana? Yang pastinya bilangan

sebelah kanan akan lebih besar sehingga, semakin kecil nilai pembagi maka nilai sebuah pecahan

akan menjadi lebih besar hingga pada akhirnya: 1/0 = tak terdefinisi. Hal ini memiliki arti yang

sama dengan konsep sebelumnya. Nilai yang terkandung pada kondisi tersebut adalah jika

seseorang merasa tak punya daya dan upaya di hadapan Allah, selalu berserah diri pada Allah yang

dalam hal ini dilambangkan dengan “0″ maka insya Allah akan bernilai tak ternilai di hadapan Allah. Dalam hal ini yang perlu ditekankan, betapa pun berkuasanya seseorang, sepintar apapun ia

dan sekaya apapun, itu semua tidak lepas dari kekuasaan Allah (la haula walaquwwata illa billahil

‘aliyyil ‘adzim). Hal terpenting dalam hidup ini “menge-nol-kan” diri dihadapan Allah dan selalu bertawakal kepada-Nya.

d. Memahami Konsep Kejujuran dengan Konsep Perkalian

Banyak pernyataan yng menyatakan bahwa alam semesta ini berjalan sesuai dengan

sunnatullah ataupun hukum-hukum Allah. Dalam matematika sendiri terdapat hukum-hukum yang

disebut dengan postulat, teorema, lemma corollary yang harus dipatuhi dan bersifat mengikat dan

memaksa. Apabila tidak dipatuhi, maka akan menyalahi aturan-aturan yang mengakibatkan

kesimpulan salah. Oleh karena itu, dalam menjalani hidup aturan-aturan Allah harus dilaksanakan

sebagai simbol upaya kepatuhan hamba pada Dzat yang memberi kehidupan di alam jagad raya ini.

Disamping itu, tentunya aturan-aturan itu juga harus dimaknai sebagai upaya pendekatan diri

kita kepada-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah perintah untuk selalu berperilaku jujur. Dalam

konsep matematika sendiri prinsip kejujuran dapat dilihat pada konsep perkalian sebagai berikut:

1) + * + = +, mengandung makna "jika ada suatu kebenaran dan kita katakan benar

maka kita adalah golongan orang-orang yang benar"

2) + * - = - , mengandung makna "jika ada sebuah kebenaran dan kita mengatakannya

salah maka kita merupakan golongan orang yang salah"

3) - * + = - , apa artinya " sesuatu yang salah kita katakan benar kitapun menjadi orang

yang salah"

4) - * - = +, mengandung arti " sesuatu yang salah kita katakan salah maka insya Allah

kita termasuk golongan orang2 yang berjalan di atas kebenaran"

Dari beberapa konsep di atas dapat diartikan bahwa perkara yang benar harus dikatakan benar dan

perkara yang salah harus dikatakan salah. Hal yang perlu ditekankan disini bahwa ternyata

matematika juga mengajarkan konsep "kejujuran", dalam artian yang benar harus dikatakan benar

dan yang salah juga harus dikatakan salah sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang

(14)

e. Memahami Kesatuan Umat Manusia dengan Konsep Sistem Persamaan Linier

Kesatuan umat diibaratkan adanya persamaan-persamaan dalam hal membangun umat.

Sebuah persamaan dalam matematika akan muncul ketika terdapat sebuah solusi yang kemudian

dimasukan ke dalam sistem persamaan tersebut. Sebagai contoh 2x = 10, x = 5 adalah solusi dari

sebuah persamaan diatas. Ketika terdapat dua buah persamaan yang berbeda. maka terdapat prinsip

dalam matematika yang dikenal dengan “Eliminasi” ataupun “Substitusi”. Dalam hal ini perbedaan-berbedaan hanya dapat disatukan dengan cara mengeliminasi keegoisan pada diri kita

masing-masing dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Allah berfirman dalam Surat Al Mukminun: 52-53

ٰه ه إ

ٓ

ف مكُب نأ ٗةدح ٰ ٗةهمأ مكتهمأ

ٱ

وقهت

٢

وح ف م يدل مب ۢ زح ُلك ۖا ٗ ب م ۡب مه مأ ْآوُهطقتف

٢

“Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, danAKU adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada KU, kemudian mereka (pengikutpengikut rasul itu) menjadi

-kan agama mereka terpecah belah. Tiap-tiapgolongan merasa bangga dengan apa yang ada pada

diri mereka masing-masing ”.

Dengan mengambil hikmah dari prinsip eliminasi dan substitusi, persatuandan kesatuan umat

islam akan lebih kokoh, bukan dengan meninggalkan suku, ras, dangolongan akan tetapi tetap

saling mendukung dan saling mengisi demi kejayaanumat Islam.

SIMPULAN

Hendaknya setiap pembelajaran mampu memberikan manfaat kepada seluruh siswa baik

secara koqnitif, afektif maupun psikomotorik, dan dapat mentransfer nilai-nilai luhur demi

pembentukan karakter islami dari generasi bangsa. Pengintegrasian konsep-konsep matematika

dengan nilai-nilai keislaman sangat penting untuk diterapkan sebagai cara pembentukan karakter

generasi bangsa. Sehingga, perlu dikembangkan secara kontinu analisa materi matematika dengan

mengaitkan ayat-ayat Al-Quran yang merupakan sumber dari segala sumber ilmu yang dapat

diambil hikmah dan pelajaranya melalui matematika oleh setiap manusia.

DAFTAR RUJUKAN

Fitriah, Nani, Jamali Sahrodi, dan Arif Muchyidin. “Implementasi Model Pembelajaran Matematika Berintegrasi Keislaman dalam Meningkatkan Karakter Demokrasi Siswa.”

Eduma 4, no. 2 (2015): 88–104.

Maarif, Samsul. “Integrasi Matematika dan Islam dalam Pembelajaran Matematika.” Infinity 4, no. October 2015 (2016): 223–36.

(15)

Salafudin, Salafudin (Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan). “Pembelajaran Matematika Yang

Bermuatan Nilai Islam.” Penelitian 12 (2015): 223–43.

Gambar

Gambar 1 Segitiga dan Segiempat

Referensi

Dokumen terkait

Konsumen yang merasa dapat memperoleh manfaat dan informasi terkait dengan produk yang sedang dicari sehingga memperoleh kesenangan, hiburan, dan kenikmatan ketika membaca online

Jurnal Fiqh, Vol.. 2 keluarga yang harmonis dan jauh dari konflik, baik kecil maupun besar, apalagi yang berujung perceraian. Fenomena perceraian menjadi berita sehari-hari,

Dapatan kajian mendapati sikap pelajar lebih menggemari untuk mempelajari bahasa Inggeris daripada bahasa Indonesia dan responden juga mempunyai motivasi belajar bahasa yang

Remaja putri di MTs Ma’Arif Nyatnyono yang mempunyai pola makan dalam kategori baik tetapi mengalami anemia karena konsumsi gizi yang tidak tepat.. Terjadinya defisiensi

Mahasiswa : Ya menurut saya itu proses pelaksanaan PLP itu ya kurang, maksudnya ya pekerjaan kita di manajemen pendidikan ya mungkin karena minimnya pekerjaan di tempat saya kan

Dari makna dan fungsi bagian-bagian tradisi lisan serta makna dan fungsi keseluruhan tradisi lisan sebagai wacana yang lengkap akan dapat diungkapkan nilai dan norma

yang berjudul “ Peran Dinas Kesehatan Dalam Pelaksanaan Permenkes Nomor 15 Tahun 2014 pada Rumah Sakit di Kota Semarang sebagai Pengawasan terhadap Penyelenggaraan

Pemberian kuasa dan wewenang kepada Direksi Perseroan dengan hak subsitusi untuk melaksanakan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan Penawaran Umum