BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap ibu yang telah melahirkan menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan tidak ada kelainan – kelainan pada bayi tersebut. Tetapi keinginan tersebut tidak akan diperoleh oleh setiap ibu. Karena sebagian kecil ada yang lahir dalam keadaan abnormal. Misalnya anak lahir dengan BBLR, ikterus, hidrosefalus, dan kelainan – kelainan lainnya. Hal ini di sebabkan oleh banyak factor pencetusnya. Seperti kurang teraturnya antenatal care ibu saat hamil, asupan gizi yang kurang baik pada ibu maupun pada janin yang di kandung, atau penyakit yang diturunkan oleh ibu sendiri.
Kemudian kurangnya pengetahuan ibu untuk mengenali tanda – tanda kelainan yang mungkin timbul pada bayi baru lahir. Seperti bayi dengan hiperbilirubin, dimana kebanyakan ibu membawa bayinya ke Rumah Sakit dalam derajat yang tinggi. Sebagaimana kita ketahui bahwa ikterik itu terjadinya dimulai dari wajah. Di sini jelas bahwa kurangnya pengetahuan ibu atau orang tua tentang hiperbilirubin tersebut, kemudian kurangnya memperoleh pelayanan kesehatan dari tenaga kesehatan. Untuk itulah penulis mengangkat makalah ini dengan judul Hiperbilirubin pada Bayi.
Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan hiperbilirubin ?
2. Apakah yang menjadi penyebab terjadinya hiperbilirubin ? 3. Bagaimana manifestasi klinis penyakit hiperbilirubin?
4. Bagaimana komplikasi yang terjadi pada penyakit hiperbilirubini? 5. Bagaimana patofisiologi terjadinya penyakit hiperbilirubin, ? 6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada penyakit hiperbilirubin?
7. Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan pada penyakit hiperbilirubin? 8. Bagaimana proses asuhan keperawatan pada penyakit hiperbilirubin? C. Ruang Lingkup
Dari rumusan masalah diatas penulis membatasi area meliputi asuhan keperawatan pada bayi baru lahir di Ruang Peristi bangsal Perawatan Resiko Tinggi Rumah Sakit Emanuel Klampok.
D. Tujuan
Umum
Melalui pelaksanaan praktik klinik keperawatan pada mata kuliah sistem integumen, respirasi, kardio, pencernaan, imun hematologi, persepsi sensori, neuro, sistem muskuloskeletal, sistem reproduksi dan sistem perkemihan yang dilaksanakan di Rumah Sakit Emanuel.
Klampok Banjarnegara diharapkan mahasiswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan serta sikap yang telah diperoleh selama mempelajari mata kuliah kebutuhan dasar manusia .
Khusus
1. Melakukan observasi tindakan keperawatan terhadap pasien dengan Masalah kehamilan, proses persalinan, dan bayi dengan kelahiran matur ataupun prematur
2. Melakukan kompetensi pada sistem reproduksi, sistem muskuloskeletal dan bayi yang meliputi :
1. Melakukan Pijat Oksitosin 2. Merawat tali pusat
3. Memasang infus pada bayi 4. Mengambil darah vena pada bayi 5. Memandikan bayi
BAB II
PELAKSANAAN PRAKTIK
A. Waktu dan tempat
Penulis mengikuti praktik dari tanggal 26 Juli – 28 Juli 2015 di Ruang Peristi Rumah Sakit Emanuel Klampok
B. Profil ruang Peristi
Inkubator 2 Tempat penyimpanan cove dan infus pum Inkubator 1
Ruang obat dan penyimpan
an susu
Ruang isolasi Tempat
mandi bayi
Ruang ganti
Cove Cove11 8Cove 5 Cove
4
Cove 12 Cove
9 Cove
6 Cove
3
Cove 14 Cove
10 Cove
7 Cove
2 Cove
1 Cove
b. Keterangan Ruangan
1. Ruang Bethania mempunyai 19 box bayi yang terdiri dari 2 inkubator, 2 bpx isolasi dan 15 cove
2. Keadaan ruang Peristi
Di ruangan peristi keadaanya aman, suasana ruangan tenang, rapi dan bersih karena klien membutuhkan istirahat. Banyak pekerjaan yang dikerjakan di ruangan,seperti mengukur vital sign,menulis vital sign di status,menghitung dan menulis balance cairan,mencatat perkembangan klien dari waktu ke waktu, memberikan obat peroral, injeksi, observasi setiap klien, merawat luka, tali pusat memandikan bayi, melakukan fototerapi, memasang infus, melakukan imunisasi pada bayi dan masih banyak lagi tindakan lainnya.
3. Fasilitas yang ada di ruangan yaitu: AC,kipas angin,kursi roda,dapur, kamar mandi, telepon,computer,ruang obat,kulkas untuk menyimpan obat-obatan, gudang untuk menyimpan tas mahasiswa praktik, bantal, alat-alat medik seperti diatermi, alat infus pum, dan tempat untuk perawat tidur saat shift malam. 4. Ruang Peristi merupakan ruang untuk perawatan pada bayi dengan
partus spontan maupun SC dengan berbagai macam masalah perinatal.
5. Perawat-perawat yang berada di ruang Bethania berjumlah 10 orang yang terdiri dari:
Kepala ruangan terdiri dari 1 orang berijasah S1 Keperawatan yaitu Ibu Katharina Susanti S.Kep.,Ns
c. Pembahasan/analisa dari pencapaian praktik
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemahaman akan landasan teori yang matang membuat praktik lapangan yang dilakukan dan pengelolaan kasus yang ada dapat berjalan dengan baik sebagai penegakan diagnose yang diterapkan pada pasien. Penegakan diagnose keperawatan antara landasan teori dan pengelolaan kasus sama, karena keluhan pasien yang sama. Pengkajian yang komperhensif perlu dilakukan untuk membantu masalah pasien dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
B. Saran
Berdasarkan hasil prektik klinik laboratorium keperawatan, maka ada beberapa saran yang sekiranya dapat digunakan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi pasien:
1. Bagi pasien
Pemerliharan lingkungan serta pola makan yang teratur dan menjaga kebiasaan hidup sehat dan bersih perlu dilakuakan untuk menghindari penyakit ini.Penanganan yang tepat dan cepat dapat membantu pemulihan pasien serta mengindari terjadi komplikasi dari penyakit tersebut.
2. Bagi perawat
Pengkajian yang menyeluruh dan komperhensif perlu dilakuakn untuk mengevalusai masalah yang dialami pasien. Pengkolaborasian dengan tim kesehatan yang dapat membatu penanganan masalah pasin perlu dilakuakn guna peningkatan derajad kesehatan pasien.
Pemahaman landasan teori yang ada perlu dilakuakan agar tidak terjadi kerancuan dari penegakan diagnose yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes.(2008). Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: USAID FKUI. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. Gary dkk. (2006). Obstetri Williams, Edisi 21. Jakarta, EGC.
Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America: Mosby.
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Wiknjosostro. (2002). Ilmu Kebidanan Edisi III. Jakarta: Yayasan Bima pustaka Sarwana Prawirohardjo.
LAPORAN PENDAHULUAN
BAYI Ny. E DENGAN HIPERBILIRUBIN
DI RUANG PERISTI RUMAH SAKIT EMANUEL KLAMPOK
Disusun oleh : Petrus Dwi Asmara
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYYAKARTA
TAHUN AJARAN 2015/2016
HIPERBILIRUBIN PADA BAYI
A. Definisi
a.
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2007). Nilai normal bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4 mg/dl.b.
Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik (Prawirohardjo, 2007).c.
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning (Ngastiyah, 2009).B. Epidemiologi
Pada sebagian besar neonatus, ikterik akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukan bahwa angka kejadian iketrus terdapat pada 60 % bayi cukup bulan dan 80 % bayi kurang bulan. Ikterus ini pada sebagian penderita dapat berbentuk fisiologik dan sebagian lagi patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian.
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut menurut (Hanifah, 1987), dan (Callhon, 1996), (Tarigan, 2003) dalam (Schwats, 2005):
1. Timbul pada hari kedua - ketiga.
2. Kadar bilirubin indirek setelah 2x24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg% pada kurang bulan. 3. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg%
perhari.
4. Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg%. 5. Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
6. Tidak mempunyai dasar patologis; tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis tertentu.
7. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik sebagai berikut Menurut (Surasmi, 2003) bila
Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.
Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau > setiap 24
jam.
Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus < bulan dan 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.
Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah,
defisiensi enzim G6PD dan sepsis).
b. Ikterus Patologis
Menurut Tarigan, (2003) adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
c. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum, talamus, nucleus subtalamus, hipokampus, nukleus merah, dan nukleus pada dasar ventrikulus IV. Kern ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg%) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf simpatis yang terjadi secara kronik. (Ngastiyah, 2009).
D. Etiolog
Peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat terjadi karena keadaan sebagai berikut (Ngastiyah, 2009) :
1. Pembentukan bilirubin yang berlebihan.
2. Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati. 3. Gangguan konjugasi bilirubin.
4. Penyakit Hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan sel darah merah. Disebut juga ikterus hemolitik. Hemolisis dapat pula timbul karena adanya perdarahan tertutup.
6. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. Siphilis.
7. Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
8. Produksi yang berlebihan
9. Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya, misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G6PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
10. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
11. Gangguan transportasi
12. Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, dan sulfaforazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
13. Gangguan fungsi hati; defisiensi glukoronil transferase, obstruksi empedu (atresia biliari), infeksi, masalah metabolik galaktosemia, hipotiroidjaundice ASI
Adanya komplikasi; asfiksia, hipotermi, hipoglikemi. Menurunnya ikatan albumin; lahir prematur, asidosis.
Rumus Kramer
Daerah Luas Ikterus Kadar Bilirubin
1 Kepala dan Leher 5 mg%
3 Daerah 1, 2 + badan bagian bawah dan tungkai
11 mg%
4 Daerah 1, 2, 3 + lengan dan kaki dibawah lutut
12 mg%
5 Daerah 1,2,3,4 + tangan dan kaki 16 mg%
Metabolisme Bilirubin
75%dari bilirubin yang ada pada BBL yang berasal dari penghancuran hemoglobin ,dan
25%dari mioglobin ,sitokrom ,katalase dan tritofan pirolase .satu gram bilirubin yang hancur menghasilkan 35 mg bilirubin .bayi cukup bulan akan menghancurkan eritrosit sebanyak satu gram/hari dalam bentuk bilirubin indirek yang terikat dengan albumin bebas (1 gram albumin akan mengikat 16 mg bilirubin). Bilirubin indirek larut dalam lemak dan bila sawar otak terbuka, bilirubin akan masuk kedalam otak dan terjadilah kernikterus. yang memudahkan terjadinya hal tersebut ialah imaturitas, asfiksia/hipoksia, trauma lahir, BBLR (kurang dari 2500 gram), infeksi, hipoglikemia, hiperkarbia.didalam hepar bilirubin akan diikat oleh enzim glucuronil transverse menjadi bilirubin direk yang larut dalam air, kemudian diekskresi kesistem empedu, selanjutnya masuk kedalam usus dan menjadi sterkobilin. sebagian di serap kembali dan keluar melalui urin sebagai urobilinogen.
Pada BBL bilirubin direk dapat di ubah menjadi bilirubin indirek didalam usus karena disini terdapat beta-glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut. bilirubin indirek ini diserap kembali oleh usus selanjutnya masuk kembali ke hati (inilah siklus enterohepatik).
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
1.Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
2.Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis)
Sedangakan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.
F. Komplikasi
Terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. Pada kern ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap, letargi, mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements), kejang tonus otot meninggi, leher kaku, dn akhirnya opistotonus
G. Patofisiologi
1. Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
2. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl.
Sumber : ( AH, Markum,2007)
H. Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium (Pemeriksan Darah)
1. Pemeriksaan billirubin serum. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 14 mg/dl dan bayi cukup bulan kadar billirubin 10 mg/dl merupakan keadaan yang tidak fisiologis.
2. Hb, HCT, Hitung Darah Lengkap. 3. Protein serum total.
4. USG, untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
5. Radioisotop Scan, dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan atresia billiari.
I. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Radiologi
Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma 2. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic
3. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma
J. Penatalaksanaan
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin 4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.
a. Pemberian ASI b. Foto terapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984).
c. Tranfusi PenggantiTransfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl. 8. Bayi dengan Hidrops saat lahir. 9. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus. Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menja dipertentangan karena efek sampingnya (letargi). Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urinesehingga menurunkan siklus Enterohepatika(Ngastiyah, 2009).
K. Pengkajian
ASUHAN KEPERAWATAN
1. . Pengkajian
A. Pengumpulan Data 1. Riwayat Penyakit
Perlunya ditanyakan apakah dulu pernah mengalami hal yang sama, apakah sebelumnya pernah mengkonsumsi obat-obat atau jamu tertentu baik dari dokter maupun yang di beli sendiri, apakah ada riwayat kontak denagn penderiata sakit kuning, adakah rwayat operasi empedu, adakah riwayat mendapatkan suntikan atau transfuse darah. Ditemukan adanya riwayat gangguan hemolissi darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau darah ABO), polisitemia, infeksi, hematoma, gangguan metabolisme hepar, obstruksi saluran pencernaan dan ASI, ibu menderita DM.
2. Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
3. Pengkajian Psikososial :
4. Pengetahuan Keluarga meliputi :
5. Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia .
B. Pola Kebutuhan sehari-hari. Data dasar klien:
1. Aktivitas / istirahat : Latergi, malas
2. Sirkulasi : Mungkin pucat, menandakan anemia.
3. Eliminasi : Bising usus hipoaktif, Pasase mekonium mungkin lambat, Feses lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin,Urine gelap pekat, hitam kecoklatan ( sindrom bayi bronze )
4. Makanan/cairan : Riwayat perlambatan/makan oral buruk, ebih mungkin disusui dari pada menyusu botol, Palpasi abdomen dapat menunjukkan perbesaran limfa, hepar.
5. Neurosensori : Hepatosplenomegali, atau hidropsfetalis dengan inkompatibilitas Rh berat. Opistetanus dengan kekakuan lengkung punggung,menangislirih, aktivitas kejang (tahap krisis).
6. Pernafasan : Riwayat afiksia
7. Keamanan : Riwayat positif infeksi/sepsis neonatus , Tampak ikterik pada awalnya di wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh, kulit hitam kecoklatan sebagai efek fototerapi.
8. Penyuluhan/Pembelajaran : Faktor keluarga, misal: keturunan etnik, riwayat
hiperbilirubinemia pada kehamilan sebelumnya, penyakithepar,distrasias darah (defisit glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD). Faktor ibu, mencerna obat-obat (misal: salisilat), inkompatibilitas Rh/ABO. Faktor penunjang intrapartum, misal: persalinan pratern.
C. Pemeriksaan Fisik :
dan masa abdominal, selaput lender, kulit nerwarna merah tua, urine pekat warna teh, letargi, hipotonus, reflek menghisap kurang/lemah, peka rangsang, tremor, kejang, dan tangisan melengking
D. Pemeriksaan Diagnostik
1. Golongan darah bayi dan ibu, mengidentifikasi inkompatibilitas ABO. 2. Bilirubin total: kadar direk bermakna jika melebihi 1,0 – 1,5 mg/dL kadar
indirek tidak boleh melebihi peningkatan 5 mg/dL dalam 24 jam, atau tidak boleh lebih 20 mg/dL pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dL pada bayi pratern.
3. Darah lengkap: Hb mungkin rendah (< 1 mg/dL) karena hemolisis. 4. Meter ikterik transkutan: mengidentifikasi bayi yang memerlukan
penentuan bilirubin serum. E. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidak seimbangan volume cairan berhubungan dengan pemajanan sinar (panas) yang lama sekunder foto terapi, belum matangnya sistem pencernaan bayi karena bayi lahir berat rendah.
2. Gangguan thermogulasi ( Peningkatan suhu badan) berhubungan dengan pemajanan panas yang lama sekunder foto terapi
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan denga peningkatan bilirubin dikulit dan efek foto terapi
F. Rencana Keperawatan DIA
KEPERAWATAN RA
PE N U NJ
Ketidakseimbang an nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau mencerna nutrisi oleh karena faktor belum
sempurnanya organ pencernaan
NOC
o Nutritional Status : food and Fluid Intake
:Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama2X24
JAM.nutrisi kurang teratasi dengan indikator:
Albumin dalam rentang normal
Penurunan bb
tidak lebih dari 10%/2hari Turgor kulit
baik
Jumlah intake dan output seimbang
Monito
r TTV setiap 2 jam, tingkat kesadaran
Monito
r berat badan bayi
Pertaha
nkan intake 8cc asi
Pantau
jumlah residu
Menget
ahui perubahan suhu bayi terkait dengan penurunan suhu tubuh bayi.
Menget
ahui dan membandin gkan bb bayi
Untuk
menjaga keseimbang an nutrisi bayi
Untuk
mengetahui jumlah residu dan sebagai patokan pemberian intake
Resi
Thermogulasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
NIC
Monitor suhu sesering mungki n
uh
peningkatan suhu tubuh dapat diatasi dengan kriteria hasil :
Suhu 36 – 37C
Nadi dan RR
dalam rentang normal
kulit
Tanda-tanda vital
Monitor penurun an tingkat kesadara n
Monitor Turgor Kulit
i U
n t u k
m e n g e t a h u i
p e r u b a h a n
w a r n a
k u l i t U
n t u k
g e t a h u i
t i n g k a t
k e s a d a r a n
b a y i U
n t u k
m e n g e t a h u i
a integrity : skin and mucous membranes
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam risiko kerusakan integritas kulit dapat diminimalkan dengan kriteria hasil :
Tidakada luka dan lesi pada kulit
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
Menunjukan terjadinya proses penyembuhan - Monitor
kulit akan an tekanan
m b u l k a n
l u k a U
n t u k
m e n g e t a h u i
w a r n a
k u l i t A
g a r
a k
a d a
a l a t / b e n d a
y a n g
d i
p a k a i
b a y i
m e n i m b u l k a n
r i t a s i
p a d a
k u l i t
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA BAYI Ny. E DENGAN HIPERBILIRUBIN
DI RUANG PERISTI RUMAH SAKIT EMANUEL KLAMPOK
Disusun oleh : Petrus Dwi Asmara
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYYAKARTA
TAHUN AJARAN 2015/2016
FORMAT PENGKAJIAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI
Tanggal : 27 Juli 2015 Pukul 12.00 Nama Mhs : Petrus Dwi Asmara
Tempat Praktik : Ruang Peristi RS Emanuel Klampok Banjarnegara
A. IDENTITAS
Nama ayah/Ibu : Ibu E
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Suku/budaya : Jawa
Alamat : Simbang
Tgl. Masuk/jam : 22 Juli 2015 pukul 11:45 wib
Ruang/kamar : Peristi
No RM : 4432XX
Diagnose Kerja/medis : Diagnosa diferensial : BBLR
Diagnosa defenitif : Hiperbilirubin
B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan utama saat dikaji Kulit terlihat bewarna kuning
2. Keluhan tambahan/lainnya saat dikaji
Bayi memiliki daya hisap kurang, BB bayi 1850gr, menangis kuat
3. Alasan Utama Saat masuk Rumah Sakit Bayi baru lahir dan Berat Bayi Lahir Rendah
4. Riwayat penyakit sekarang
Bayi lahir pada tanggal 22-07-2015 jam 08:20 wib dengan berat badan 2000gr, dengan UK 33 minggu, G3 P2 A0 dengan indikasi plasenta previa, ketuban pecah saat SC.
Keterangan :
: laki-laki : perempuan :pasien
C. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal
Umur kehamilan: 33mg
Kehamilan direncanakan/tidak : tidak direncanakan
Penambahan BB : bayi mengalami penurunan berat badan dari tanggal 22 juli dengan berat 2000gr sampai tanggal 27 juli 2015 menjadi 1850gr
Frekuensi ANC
Trisemester I : 1 kali Trisemester II : 2 kali Trisemester III : 2 kali
Suntikan TT I : diberikan TT II : tidak
Obat yang diminum :Tambah darah sangobion dan vitamain k
2. Natal
Penolong : Dokter
Tempat melahirkan : Rumah Sakit
BB : 2000gr PB : 38cm LD :20cm
LK :27cm
Cara melahirkan : SC
Komplikasi waktu lahir : BBLR
3. Postnatal
Perlu perawatan pendukung : infus pam KA-EN 1B 10ml/jam
BBL : 2000gr BB waktu pulang :
-D. RIWAYAT KESEHATAN LALU
1. Penyakit yang pernah di derita waktu lalu : Ibu belum pernah menderita penyakit apapun selama kehamilan, jika masuk angin atau meriang hanya dikasi minyak angin
2. Pernah di rawat di RS/ tidak : Belum pernah
3. Obat-obatan yang digunakan : Ibu belum pernah menggunakan obat obatan tertentu
4. Pernah operasi/tidak : Belum pernah
5. Alergi : Ibu tidak memiliki alergi apapun
6. Pernah mengalami kecelakaan/tidak : Ibu belum pernah mengalami kecelakaan.
7. Immunisasi : belum diberi karena BB bayi <2.5kg
E. RIWAYAT SOSIAL
1. Yang mengasuh : diasuh oleh ayah dan ibu 2. Hubungan dengan anggota keluarga : baik 3. Hubungan dengan teman sebaya : baik 4. Pembawaan/tingkah laku secara umum : baik
5. Kebiasaan bermain : bayi batu lahir belum mempunyai kebiasaan bermain
6. Keinginan bermain : bayi batu lahir belum mempunyai keinginan bermain
F. RIWAYAT PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA 1. Pola nutrisi sebelum masuk Peristi
ASI dan PASI Jumlah yang diberikan, : 8ml/3jam 8x sehari
2. Pola tidur
Bayi sering tidur setelah minum asi
3. Pola eliminasi
BAB : bayi BAB dengan frekuensi 9x
BAK : bayi BAK dengan frekuensi 9x dengan warna
kekuningan
G. KEADAAN SAAT INI (Saat Pengkajian)
1. Status nutrisi : Makanan asi dan pasi, 8cc/3jam 8x sehari melalui OGT
2. Status cairan : Bayi terpasang infus pam KA- EN
1B di tangan kanan 10 ml/jam
3. Eliminasi
BAB : Warna kekuningan, dengan
frekuensi 9x
BAK :Warna bening kekuningan, dengan frekuensi 9x
4. Kebutuhan tidur
Tidur siang : Bayi lebih banyak tidur
Tidur malam : Bayi lebih banyak tidur
5. Pola kebersihan diri
Dibantu penuh oleh perawat dan ibu 6. Aktifitas
Pengukuran Antropometri :TB 38 cm, BB 2000, LK 27 cm, LD 20cm, LLA 9cm.
Pengukuran tanda vital : S: 36,7°C RR: 52x/menit HR:
121x/menit SpO2 97% , Tingkat kesadaran
Compos Mentis E4 V5 M 6
Keadaan umum
Bayi menangis kuat, KU sedang, refleks rooting kurang baik. Bayi banyak tidur dan lemes
Kulit
Kulit berwarna kekuningan, tipis, transparan dan teraba hangat
Kepala
Kepala mempunyai ukuran 27 cm, rambut hitam jarang, ubun ubun berdenyut
Mata
Mata normal, tekanan TIO pada kanan kiri sama sclera ikterik
Telinga
Simetris kanan dan kiri
Hidung
Hidung simetris, tidak ada pengeluaran cairan, terpasang nasal kanul 1liter/menit
Mulut/gigi
Mulut bersih, belum tumbuh gigi, terpasang OGT, Reflek hisap lemah
Leher/tengkuk
Berwarna sama dengan kulit, banyak rambut halus, funnel chest/cekung
Abdomen
Perut terlihat sama warnanya dengan kulit, bising usus 13x/menit
Residu -2.5 cc
Punggung tidak terdapat kelainan bentuk, terdapat banyak
bulu tipis Genito urinaria
Testis sudah turun di skrotum, dan skrotum berwarna coklat muda
Anus
Bayi memiliki anus dan berlubang
Ekremitas
Akral teraba hangat, sudah tidak sianosis
Refleks-refleks
Refleks moro +, Babinski +, rooting +
I. Pemeriksaan Penunjang/ Diagnostik
Tanggal 23 Juli 2015. Pemeriksaan Darah Lengkap Bagian yg
diperiksa
H a s i
l n
Hematoktit 38
k
GDS tanggal 23 Juli 2015 pukul 7.40 66 mg/100dl, pukul 10.30 wib 86
mg/100dl
Hasil Pemeriksaan Bilirubiil Total Pada tanggal 27-07-2015 jam 13:00 wib
Post Foto terapi tanggal 29 juli 2015 Hasil Pemeriksaan Bilirubiin Total Pada tanggal 29-07-2015
Pem
J. Analisa Obat
No Na
Indikasi Ko
e ri p e r u t. J a r a n g d il a p o r k a n : p a n k r e a ti ti s m i a l g i a .
Infus pum KA-EN 1B 500ml 10ml/jam Foto terapi tanggal
Perawatan Tali Pusat
Injeksi Ranitidin 2x2mg IV
L. ANALISA DATA
ah n
Sklera kuning
Ikterus ( + ) Bil total 12.6 mg, Tali pusat Kering,
Ikterik (+), Turgor Kulit sedang, gerak bayi aktif, Suhu badan 36.7 0 C. turgor cukup. BB 1850 gr. Kulit tangan tampak
Banyak mengelupas
Resiko menangis kuat, terpasang OGT.
Terpasang infus pum KA-EN 1B pada tangan kanan 10ml/jam UK 33 minggu
Residu -2.5CC
Minum asi 8cc/3jam x BBS 1850gr
BBL 2000gr
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Tanggal : 27 Juli 2015
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Berhubungan dengan : Ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi oleh karena faktor belum sempurnanya organ pencernaan
2.
Resiko Perubahan suhu tubuh ( Peningkatan suhu badan) berhubungan dengan pemajanan panas yang lama sekunder foto terapi3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan denga peningkatan bilirubin dikulit dan efek foto terapi
Banjarnegara, 27 Juli 2015
Petrus Dwi Asmara
Nama pasien : By E
Ruangan : Peristi
Tanggal : 27 Juli 2015
Nama mahasiswa : Petrus Dwi Asmara
DIAG karena faktor belum
sempurnanya organ
pencernaan
NOC
oNutritional Status : food kurang teratasi dengan
indikator: Penuruna
n bb tidak lebih dari 10%/2hari tingkat kesadaran
hankan intake 8cc asi
Cek
residu setiap 3 jam sekali
Kola
borasi kepada ahli gizi untuk pemberian nutrisi
Mengetahui
perubahan suhu bayi terkait dengan
penurunan suhu tubuh bayi.
Untuk
memngetahui penurunan atau penambahan bb bayi
Memberika
n nutrisi pada bayi
Untuk
mempertimbang angkan
kulit baik Jumlah
intake dan output seimbang TTV
dalam rentang normal
Thermogulasi
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24
jam risiko
hipertermi dapat diminimalkan dengan kriteria hasil :
Suhu 36 – 37C Nadi dan
RR dalam rentang normal
NIC
Monito r suhu setiap 2 jam sekali
Monito r
Monito r
Monito r Turgor Kulit
n integrity : skin and mucous membran es
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama 2 x 24
jam resiko
kerusakan
integritas kulit dapat dikurangi dengan kriteria hasil :
Tidak ada
luka atau lesi Integritas
kulit yang baik mampu di pertahank - Monitor
kulit akan adanya kemeraha n
terjadi iritasi
kan kada r bilir ubin
CATATAN PERKEMBANGAN Nama pasien : By E
Ruangan : Peristi
Diagnosa Medis : Berat Bayi Lahir Rendah dengan Hiperbilirubin
No
No DK/ MK
Wakt PERKEMBA
NGAN (SOAPIE)
T A N D A
T A N G A N
1 Ketid
ak sei mba nga n nutr isi dari keb utuh an tubu h berh ubu nga
13.0
I: Memberi pasi 8ccx3jam, E
O: suhu bayi 36,7°C, nadi 121x/menit , bergerak aktif SpO2 97%, menangis
den
2 Resik
o
Rencana Foto terapi jam 18:00wib Hasil lab billirubin
total 12.6mg/dl
E S:
O: Bayi bergerak aktif, suhu
bayi 36,7°C, HR
a
S: bayi menangis sedang O: Kulit bagian tangan bayi
mengelupas, FT 24 jam
1 Ketid
ak kadang menggigil.
O: Suhu pada hari kedua 37°C, RR 46, N130, SpO2 93%, Feses - , Urine +, residu 2,5 cc asi
A: masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi
Monitor TTV setiap 2 jam, tingkat kesadaran Monitor berat
badan bayi Cek residu 3 jam
sekali
gan
Pertahankan intake 8cc asi
I:
Memberikan ASI 8 cc melalui oral
S:
O:
Bayi aktif ,warna masih kulit sedikit kekuningan. KU baik
A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi
Monitor TTV Tingkatkan intake
2 Resik
o
Bayi gerak aktif TTV S 37º, RR 46,
N130, A: Masalah teratasi
P: Stop Intervensi
I:
E : S: O:
A: Masalah teratasi P: Stop intervensi
Bayi gerak aktif TTV S 37.1ºC, RR
sek
3 Resik
o
bayi terlihat kecil,
kulit bayi masih kuning
Sclera ikterik
Kulit di tangan mengelupas
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi Jaga kulit agar tetap
bersih dan kering Monitor kulit akan
adanya kemerahan Kaji lingkungan
dan peralatan yang menyebabkan tekanan
I: Mengganti pampers pada bayi
E: S : O :
Bayi masih
beradaptasi dengan lingkungan
A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi
Mengganti pampers
pada bayi Mengobservasi
No
DK/ M K
Wak PERKEMBAN
GAN (SOAPIE)
TA N125, SpO2 93%, Feses - , Urine +
BB bayi 1800gr Residu 2.7cc asi
Bayi sudah selesai foto terapi
Hasil lab
Bill Total 11.04 Bill direk 1.84
A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi
Monitor TTV setiap 2 jam, tingkat kesadaran Monitor berat badan
bayi
Pertahankan intake 8cc asi
I:
Memberikan ASI 8 cc melalui OGT
S:
O:
me Residu -1cc asi Bab frekuensi 5x Bak frekuensi 5 kali Berat badan bayi
1800gr
A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi
Monitor TTV Tingkatkan intake
2
Bayi gerak aktif
TTV S 37.1ºC, RR 58, N125
A: Masalah teratasi
P: Stop Intervensi
I:
E : S: O:
A: Masalah Teratasi P: Stop Intervensi
Bayi gerak aktif TTV S 37ºC, RR 56,
api
3
Resi ko ker usa kan int egr itas kul it ber hu bu nga n den ga pen ing kat an bili rub in dik ulit dan efe k fot o
S: O:
bayi terlihat kecil,
BB bayi 1800 gr, bayi
masih kekuningan Sclera anemis,
Ikterik berkurang
Kulit di tangan mengelupas
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
Jaga kulit agar tetap bersih dan kering Monitor kulit akan
adanya kemerahan Kaji lingkungan dan
peralatan yang
menyebabkan tekanan
I: Mengganti pampers pada bayi
-ter api
O :
Bayi bergerak aktif.
Bayi berwarna merah kulit tipis transparan Bayi masih beradaptasi
dengan lingkungan Hasil lab
Bill total 1.84 Bill direk 11.04 TTV S 37ºC, RR 56, N130,
A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi
Mengganti pampers
pada bayi
Observasi kulit akan