LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN SPEKTROSKOPI ANALISIS KUANTITATIF ZAT PEWARNA TEKSTIL RHODAMIN B
DALAM SAMPEL SAOS DAN SOFT DRINK MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS
OLEH :
NAMA : WA ODE RUSFIANTI MASTUTI R.
NIM : F1C1 14 028
KELOMPOK : X (SEPULUH)
ASISTEN : IWAN KURNIAWAN MARTONO
LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALU OLEO
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pewarna makanan merupakan salah satu bahan yang biasa digunakan oleh para produsen pangan. Selain untuk memberi kesan menarik terhadap makanan, pewarna makanan juga berfungsi sebagai pengstabil warna dan menutupi perubahan warna selama penyimpanan (Adnan, 1997). Pewarna makanan terbagi atas pewarna alami dan pewarna sintetis, namun dizaman sekarang ini masih banyak produsen makanan di Indonesia yang menggunakan bahan tambahan makanan (food additive) yang kurang terpantau baik dalam ketepatan bahan yang digunakan maupun dosis yang digunakan serta tidak aman untuk makanan. Bahan tambahan tersebut salah satunya adalah zat pewarna tekstil.
Pewarna tekstil merupakan pewarna yang digunakan untuk pewarna pakaian, namun penggunaan pewarna tekstil pada makanan masih banyak dijumpai. Hal ini dikarenakan pewarna tekstil memiliki warna yang sangat bagus, warnanya dapat bertahan lama, mudah didapat, dan murah harganya. Begitu banyak jenis pewarna tekstil dan Salah satu pewarna tekstil yang sering digunakan sebagai pewarna makanan ialah rhodamin B.
dapat mengganggu kesehatan, diantaranya yaitu mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, oleh karena itu rhodamine B dinyatakan sebagai pewarna berbahaya. Mengetahui begitu banyaknya bahaya dari Rhodamin B, maka perlu dilakukanya tindak pencegahan terhadap Rhodamin B yakni dengan dilakukan praktikum tentang analisis kuantitatif zat pewarna tekstil Rhodamin B pada sampel saos dan soft drink menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana cara menentukan kadar Rhodamin B pada saos dan soft drink dengan analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis?
C. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu:
1. Untuk menentukan kadar Rhodamin B pada sampel saos dan soft drink secara kuantitatif dengan metode spektrofotometri uv-vis,
D.Manfaat Percobaan
Manfaat dilaksanakanya praktikum ini yaitu
1. Manfaat dalam bidang Akademik
Yaitu adalah dapat memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai cara menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
2. Manfaat untuk masyarakat
Yaitu masyarakat dapat mengetahui cara membedakan antara pewarna yang aman dan berbahaya untuk dikonsumsi dalam makanan.
3. Manfaat kepada pemerintah
II. TIJAUAN PUSTAKA
A.Zat Pewarna Tekstil Pada Makanan
Menurut Witt (1876) dalam Juliana (2013) Zat warna merupakan gabungan zat organik tidak jenuh, kromofor dan ausokrom. Zat organik tidak jenuh adalah senyawa organik yang mempunyai ikatan rangkap, sehingga pada reaksi pemutusan ikatan, ikatan itu dapat berubah menjadi ikatan tunggal dan mengikat atom H. Kromofor adalah pembawa warna sedangkan aukrosom adalah pengikat antara warna dengan serat.
Zat pewarna dibagi menjadi dua kelompok yaitu certified color dan uncertified color. Perbedaan antara certified dan uncertified color adalah certified color merupakan zat pewarna sintetik yang terdiri dari dye dan lake, sedangkan uncertified color adalah zat pewarna yang berasal dari bahan alami (Winarno, 2002). Zat warna memiliki banyak kegunaan diantaranya yaitu dalam bidang estetika, maupun pangan. Dalam bidang pangan, zat pewarna biasanya digunakan untuk pempercantik makanan agar menarik minat penikmatnya, namun Kadang-kadang pengusaha yang nakal menggunakan pewarna yang bukan pewarna makanan (non food grade) melainkan pewarna lain.
penggunaanya lebih praktis dan biasanya lebih murah. Namun, disamping keuntungan itu semua, pewarna sintetik dapat memberikan efek yang kurang baik pada kesehatan. Salah satu pewarna sintesis yang banyak digunakan akhir-akhir ini adalah Rhodamin B (Anonim, 1990).
B.Rhodamin B
Rhodamin B merupakan zat warna golongan Xhantenes dyes (Cahyadi, 2009)
yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Rhodamin B adalah
zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah
keungulan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang
berpendar (fluorescens) pada konsentrasi rendah. Zat tersebut dapat menyebabkan iritasi
pada saluran pernafasan dan merupakan zat karsinogenik apabila digunakan untuk
pewarna bahan pangan (Aprilia dkk., 2012). Struktur Rhodamin B dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1. Struktur Rhodamin B (Muntaha dkk., 2005).
merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya. Selain terdapat ikatan Rhodamin B dengan Klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan konjugasi dari Rhodamin B inilah yang menyebabkan Rhodamin B bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang ada pada Rhodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen (Subandi, 1999).
. Rhodamin B dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Ciri-ciri makanan yang menggunakan pewarna rhodamin B, seperti:
Warnanya mencolok Cerah mengilap
Warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal) Ada sedikit rasa pahit
Berbagai peraturan pemerintah ditetapkan selain untuk melindungi konsumen sekaligus juga merupakan informasi / petunjuk bagi pengusaha kecil industri akan adanya bahan-bahan tambahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia (Suprapti, 2005:10).
termasuk salah satu zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan. Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan sebagai pewarna tekstil. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 28 Tahun 2004, Rhodamin B merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produk-produk pangan (Hasanah dkk.,2014).
Rhodamin B memiliki beberapa bahaya sehingga dilarang penggunaanya sebagai pewarna makanan diantaranya yaitu, Penggunaan Rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati maupun kanker. Namun demikian, bila terpapar Rhodamin B dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan terjadi gejala akut keracunan Rhodamin B (Yamlean dan Paulina, 2011).
C. Spekrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi (Harjadi, 1990).
atau dua macam dari tiga kejadian yang mungkin terjadi, yaitu hamburan (scattering), absorpsi (absorption), dan emisi (emission) REM oleh atom-atom atau molekul yang diamati. Hamburan REM oleh atom atau molekul melahirkan spektrofotometri Raman, absorpsi melahirkan spektrofotometri UV-Vis dan infra merah, sedangkan absorpsi yang disertai emisi melahirkan fotoluminesensi yang kemudian dikenal sebagai fluoresensi dan fosforesensi (Underwood, 1999).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Percobaan analisis kuantitatif pewarna Rhodamin B pada sampel saos dan soft drink menggunakan spektrofotometer UV-Vis dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2016, pada pukul 13.00-17.10 WITA dan bertempat di Laboratorium Kimia Analitik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan 1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan adalah spektrofotometer UV-Vis, gelas ukur 100 mL, waterbath, gelas kimia, , timbangan analitik, spatula, corong, pipet tetes dan batang pengaduk.
2. Bahan
C. Prosedur Kerja 1. Preparasi Sampel
a. Preparasi Sampel Soft Drink Merek X
Soft drink merek X
-dipipet sebanyak 20 mL
-dimasukkan ke dalam gelas kimia 50 mL -ditambahkan 32 tetes HCl
-dipanaskan menggunakan hot plate -ditambahkan Na-sulfat anhidrat -diaduk
-didinginkan pada suhu ruang Larutan sampel soft
drink merek x
-dipipet sebanyak 3 mL
-dimasukkan kedalam gelas kimia 50 mL -diencerkan dengan akuades hingga 20
mL
-diukur abssorbansnya pada panjang gelombang 544 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis
b. Preparasi Sampel Pada Saos
Sampel Saos
-ditimbang sebanyak 2 gram
-dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL
-ditambahkan 26 tetes HCl -ditambahkan 50 mL metanol -dipanaskan menggunakan hot plate -ditambahkan Na-sulfat anhidrat -diaduk
-didingikan pada suhu ruang
Larutan sampel saos
-Dipipet sebanyak 3 mL
-Dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL
-Diencerkan dengan akuades hingga 20 mL
-Diukur absorbansnya pada panjang gelombang 544 nm
dengan menggunkan
spetrofotometer UV-Vis
2. Pembuatan larutan induk Rhodamin B
3. Pembuatan Larutan Baku Rhodamin B 10 ppm
4. Pembuatan Larutan Standar
a. Larutan Standar Rhodamin B 1 ppm
Rhodamin B
- Dipipet 0,1 mL
- Dimasukkan dalam labu takar 1000 mL - Ditambahkan akuades sampai tanda tera - dihomogenkan
Larutan induk Rhodamin B 100 ppm
Larutan induk 100 ppm Rhodamin B
- Dipipet 10 mL
- Dimasukkan dalam labu takar 100 mL - Ditambahkan akuades sampai tanda tera - dihomogenkan
Larutan baku Rhodamin B 10 ppm
Larutan baku Rhodamin B 10 ppm
-dipipet 0,5 mL
-dimasukkan dalam labu takar 50 mL -ditambahkan akuades sampai tanda tera -dihomogenkan
b. Larutan Standar Rhodamin B 2 ppm Larutan baku Rhodamin B 10 ppm
-dipipet 1 mL
-dimasukkan dalam labu takar 50 mL -ditambahkan akuades sampai tanda tera -dihomogenkan
Larutan standar Rhodamin B 2 ppm
Larutan baku Rhodamin B 10 ppm
-dipipet 1,5 mL
-dimasukkan dalam labu takar 50 mL -ditambahkan akuades sampai tanda tera -dihomogenkan
Larutan standar Rhodamin B 3 ppm
Larutan baku Rhodamin B 10 ppm
-dipipet 2 mL
-dimasukkan dalam labu takar 50 mL -ditambahkan akuades sampai tanda tera -dihomogenkan
Larutan standar Rhodamin B 4 ppm
Larutan baku Rhodamin B 10 ppm-dipipet 2,5 mL
A. Karakteristik Sampel
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yakni Saos tomat (merek x) kemasan sachet yang diperoleh dari sebuah pasar di kota kendari, dan soft drink kemasan botol yang diperoleh dari kantin yang ada di Universitas Halu Oleo Kendari.
B. Kadar Rhodamin
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5
Berdasarkan pemeriksaan larutan standar Rhodamin B diperoleh grafik hubungan konsentrasi terhadap adsorbansi dengan persamaan Y = 0,005x + 0,014 dengan nilai linearitas (R2) = 0,901 atau mendekati 1. (Andayani dkk.,2008), menyatakan bahwa Nilai R2 yang mendekati 1 membuktikan bahwa persamaan tersebut adalah linier dan simpangan baku yang kecil menunjukkan ketepatan yang cukup tinggi.
Selanjutnya, setelah dilakukan pengukuran absorbansi sampel saos dan soft drink dengan panjang gelombang sebesar 544 nm. maka dilakukan pengukuran, terhadap sampel yang mana diperoleh data bahwa sampel saos memiliki nilai absorbansi sebesar 0,033 dan nilai absorbansi pada sampel soft drink sebesar 0,039. dan kadar Rhodamin B pada sampel saos sebesar 3,8 ppm dan sampel soft drink sebesar 5 ppm. Terdapat perbedaan antara kadar rodamin B dalam saos dan soft drink, namun meski begitu dalam kadar tersebut rodamin B dapar membahayakan kesehatan dikarenakan sifatnya yang sulit dicerna oleh tubuh dan dapat menyebabkan pengendapan dalam pencernaan dan hati sehingga memicu kangker hati.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa kadar Rhodamin B yang terdapat dalam dalam sampel saos sebesar 3,68 ppm sedangkan pada sampel soft drink sebesar 5 ppm. Dalam jumlah kadar tersebut, rodamin B dapat membahayakan kesehatan dikarenakan sifatnya yang sulit dicerna oleh tubuh dan dapat menyebabkan pengendapan dalam pencernaan dan hati sehingga memicu kangker hati.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan dalam percobaan ini ialah setelah mengetahui kadar rhodamin B yang terdapat dalam makanan dan minuman yang telah diuji, sebagai mahasiswa dapat memberikan inovasi baru mengenai zat pewarna yang lebih aman digunakan pada makanan agar mengurangi semakin banyaknya penggunaan pewarna tekstil pada makanan.
Andari S., 2013, Perbandingan Penetapan Kadar Ketoprofen Tablet Secara Alkalimetri Dengan Spektrofotometri- Uv, Jurnal Eduhealth, Vol. 3(2). Anonim. 2009, Gambaran Rhodamin B yang ditemukan pada makanan dan
minuman di Makassar (skripsi), Fakultas Kedokteran Universitas Hassanuddin, Makassar.
Aprilla N.I., Woro S. dan Eko B.S., 2012, Sintesis Membran padat Silika Abu Sekam Padi dan Aplikasinya untuk Dekolorisasi Rhodamin B pada Limbah Cair, Indonesian Journal oe chemical Science, Vol. 1(2).
Cahyadi W., 2009., Analisis & aspek kesehatan bahan tambahan makanan. Edisi ke-2, Bumi Aksara,
Donatus, I.A. 1990. Toksikologi Pangan, PAU Pangan dan Gizi. Yogyakarta: UGM.
Harjadi, W, 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT. Gramedia, Jakarta
Hasanah A.N., Ida M., Nyi M.S. dan Dryanti R, 2014, Identifikasi Rhodamin B pada Produk Pangan dan Kosmetik yang Berada di Bandung, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol. 2(1).
Julyana, T. S., 2013, Analisis Pewarna Rhodamin B Dan Pengawet Natrium Benzoat Pada Saus Tomat X Dari Pasar Tradisional R Di Kota Balikpapan., Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 2(2)
Muntaha, dkk, 2006, Gambaran Kandungan Zat Pewarna Rhodamin B dalam Terasi yang dijual Di Wilayah Kota Palembang Tahun 2005, Jurnal Kesehatan Bina Husada, Vol 2(2).
Susilowati, Andari., 2013, Perbandingan Penetapan Kadar Ketoprofen Tablet Secara Alkalimetri Dengan Spektrofotometri-UV, Jurnal Edehealt, Vol. 3(2).
Subandi, 1999, Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Underwood, A.L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi 6. Jakarta : Erlangga. Winarno, F.G., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Yamlean dan Naulia V.Y., 2011, Identifikasi dan Penetapan Kadar Rhodamin B