PENGELOAAN LINGKUNGAN HIDUP,
Sebagai Tugas dan Tanggung Jawab Etis
Kristiani
Oleh : Johan Andres Serhalawan
Abstrak
Krisis dan kerusakan lingkungan dalam dua dekade belakang ini sangat memprihatikan sekali. Kerusakan lingkungan yang bersifat lokal membawa dampak yang sangat mengglobal. Pemanasan bumi, perubahan iklim, pemunahan spesies, penipisan sumber daya adalah rentetan hal-hal yang mengiringi kerusakan lingkungan. Atas dasar masalah-masalah inilah, maka manusia harus segera disadarkan bahwa alam atau lingkungan yang sementara di diaminya sedang mengalami ‘sakit’. Manusia harus segera berbenah diri untuk melakukan tindakan pemulihan lewat tugas dan tanggung jawab mengelola lingkunga hidup secara baik, benar dan tepat.
Keywords : Pengelolaan, Lingkungan Hidup, Etis, Kristen
Pendahuluan
Menyelidiki cikal bakal kerusakan lingkungan bukanlah suatu perkara yang mudah. Lintasan sejarah yang terbentang di hadapan kita begitu luas dan kompleks. Tentunya hal ini akan menyulitkan kita untuk memetakan awal mula terjadinya kerusakan lingkungan. Beberapa ahli berpendapat bahwa awal mula terjadinya kerusakan lingkungan adalah ketika populasi manusia mulai berkembang, pertumbuhan ekonomi, perubahan gaya dan pola hidup serta munculnya industrialisasi. Terlepas dari pendapat tersebut, menurut Otto Piper dalam bukunya Christian Ethics bahwa kerusakan lingkungan hidup berakar dalam filsafat yang membatasi etika pada hubungan interpersonal atau hubungan antara manusia, akibatnya manusia bebas menentukan hubungan dengan alam sesuai dengan yang dikehendakinya.1 Manusia memandang alam hanya dalam kepentingan ekonomi
saja, oleh sebab itu relasi yang dibangun antara manusia dengan alam adalah relasi
pemilik dan milik.
Sikap manusia yang memandang alam sebatas nilai ekonomis tersebut dimulai oleh pengaruh filsafat, terutama filsafat modern dalam sosok rasionalisme dan empirisme yang berkembang di Eropa sejak abad ke-13, tetapi terutama sesudah Abad Pertengahan. Rasionalitas Descartes dan kritisisme Immanuel Kant dapat dianggap sebagai sebagai legitimasi filosofis terhadap pandangan etis yang melahirkan hubungan diskontinuitas manusia dengan alam secara mutlak.2 Akumulasi dari semunya itu adalah
pengeksploitasian sumber daya alam sebagai sumber ekonomi yang mendorong meledaknya Revolusi Industri sebagai kekuatan pembangunan modern dan yang melahirkan ideologi pertumbuhan, baik dalam kapitalisme maupun sosialisme.
Pada abad ke-19, ketika industri telah berkembang sedemikian rupa dan ditopang oleh munculnya teori evolusi yang menghasilkan pandangan baru di bidang biologi, maka alam semakin dikuasai dan dikontrol oleh manusia, akibatnya nasib alam berada dalam tangan manusia. Kecenderungan menguasai alam nyata dari sikap dan perilaku utilitarianistis yang semata-mata memanfaatkan alam.
Dunia modern ditandai dengan pembangunan yang bersifat intensif dan sistematis yang bertujuan untuk mematuhi kebutuhan manusia agar makin sejahtera. Alam atau lingkungan dilihat sebagai sumber ekonomi objek, hubungan saya-benda. Arti dan makna benda sepenuhnya ditentukan dan tergantung pada penilaian manusia. Kalau manusia menilai sesuatu, maka benda itu bernilai. Kalau manusia menganggap benda itu tidak bernilai, maka benda itu tidak bernilai. Cara penilaian yang demikian membuat arti dan makna benda hanya bernilai alat/instrumen bagi manusia. Benda itu tidak mempunyai nilai pada dirinya.
Alhasil dari sikap dan sifat manusia yang berlaku semena-mena terhadap lingkungan hidup adalah terjadinya krisis lingkungan hidup berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Manusia seakan-akan disadarkan dari mimpinya bahwa alam atau lingkungan yang di diaminya sementara mengalami “sakit”. Berbagai upaya penyadaran dilakukan dalam rangka penataan dan “penyehatan” kembali lingkungan hidup.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapan sistem pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Artinya sistem tersebut merupakan upaya manusia
untuk berinteraksi dengan lingkungan untuk mencapai kehidupan dan kesejahteraannya.3
Pengelolaan ini mempunyai tujuan adalah :
a) Mencapai kelestarian hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan membangun manusia seutuhnya.
b) Mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. c) Mewujudkan manusia sebagai Pembina lingkungan hidup.
d) Melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.4
Hal senada pula disampaikan oleh Herman Haeruman Js bahwa pengelolaan lingkungan hidup dapat diartikan sebagai upaya mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungan alam dan bertujuan untuk mendapatkan kualitas lingkungan hidup yang mampu memberikan dukungan maksimum dan bermutu bagi kelangsungan peri kehidupan.5
Di sisi lain, Pengelolaan lingkungan hidup juga berkaitan dengan upaya meningkatkan hubungan yang harmonis antara kegiatan manusia dengan alam sehingga kualitas kegiatan manusia dan kualitas dukungan alam menjamin kehidupan yang berkelanjutan.6 Alam lingkungan hidup pada umumnya terdiri dari berbagai kejadian,
seperti : (a) komponen-komponen biotik dan abiotiknya (sumber daya alam), (b) keterkaitan antara komponen (sistem ekologis), (c) sekuen kejadian (dimensi waktu dalam perubahan), (d) dan semua kejadian terdapat dalam suatu ruang. Sehingga pengelolaan hidup erat kaitannya dengan fungsi ruang dimana semua kegiatan manusia berlangsung.
Kerusakan Lingkungan hidup, Sebuah Realitas lokal dan global
Menurut Calliot J Baird, kesadaran manusia akan krisis dan kerusakan lingkungan telah muncul pada awal 1970-an sebagai tanggapan atas situasi tahun 1960-an ketika orang tiba-tiba sadar bahwa peradaban industrial telah mengakibatkan krisis lingkungan yang bermuara pada rusaknya lingkungan beserta ekosistemnya.7 Industrialisasi yang
3 http://pustaka.ictsleman.net/ristek/bio. htm
4Ibid
5 Haeruman Js., Herman, Artikel, Aplikasi Prinsip Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Hukum Nasional, (Jakarta : KLH, 2003), hlm. 1
6 Ibid
pada awalnya lahir dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia dan peningkatan ekonomi, justru berubah menjadi momok yang menakutkan. Rupa-rupanya industrialisasi bukan saja membawa hal positif bagi kehidupan manusia, tetapi juga dampak negatifnya adalah rusaknya lingkungan hidup akibat pengeksploitasian yang berlebihan terhadap alam lingkungan hidup. Sewaktu pertama kali disadari, krisis dan kerusakan lingkungan hidup hanya dianggap sebagai kumpulan fenomena lokal.
Walaupun fenomena kerusakan lingkungan hidup berdimensi lokal, tetapi dampak yang dihasilkan memiliki dimensi global. Peristiwa-peristiwa lokal seperti yang terjadi di Prince William Sound, Bhopal dan Chernobyl adalah jawaban bahwa kerusakan lingkungan yang sifatnya lokal setempat tetapi sangat berdampak global.8
Peta lingkungan (The Atlas Of Environment) akan memberikan gambaran informasi tentang hasil negatif yang timbul akibat terjadinya kerusakan lingkungan hidup yakni : 1. Punahnya Spesies
Akhir abad ini diperkirakan sejuta jenis binatang, tumbuhan dn serangga terancam punah akibat kegiatan manusia. Tahun 2050 setengah dari spesies yang ada akan hilang selama-lamannya. Penurunan jumlah spesies yang mengerikan ini akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.9 Keadaan ini juga merupakan kehilangan tragis
potensi genetik dari planet bumi. Diperkirakan bahwa antara 5-200 spesies hilang tiap hari. Beberapa spesies hanya ada di lokasi tertentu dan bersifat endemik pada daerah tertentu di bumi.
Satu dari sebab utama kepunahan adalah hilangnya hunian liar karena pertanian, industri bahan bakar dan kegiatan manusia lainnya. Wilayah yang paling kaya spesies di dunia adalah hutan hujan tropis. Menurut peta lingkungan yang diterbitkan tahun 1990, tersisa kurang lebih 50% hutan tropis yang asli, yakni 750 hingga 800 juta hektar dari keseluruhan hutan topis yang diperkirakan 1,5 hingga 1,6 miliar hektar. Persentase hutan yang tinggal diperkirakan lebih kecil dari angka ini. Penggunaan potensi tumbuhan dalam obat-obatan yang diperas dari sejenis tanaman rambat berbunga warna merah, yang berasal dari hutan madagaskar, telah menolong penyembuhan anak yang menderita leukemia dari 20% menjadi 80%. Banyak spesies akan hilang sama sekali sebelum
Mary E & Grim Jhon A , Agama, Filsafat dan Lingkungan Hidup, (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hlm. 29
8 Ibid
manfaatnya dapat diselidiki. Sampai sekarang, hanya kurang dari 1 % spesies tanaman di dunia yang telah sempat diselidiki manfaatnya bagi manusia.
2. Kemerosotan Tanah
Sebanyak 35% dari permukaan bumi kemungkinan besar akan menjelma menjadi padang pasir yang potensial mendukung kehidupan yang terbatas pada spesies padang pasir.10 Manusia telah menciptakan padang pasir sejak permulaan pertanian menetap
10.000 tahun yang lalu. Hampir seluruh Mesopotamia, terletak antara dua sungai Tigris dan Efrat, telah menjadi padang pasir, padahal lebih dari 4.000 tahun yang lalu daerah itu menjadi tempat lahirnya peradaban mula-mula. Irigasi kurang baik dan penggunaan tanah yang berlebihan telah membuat daerah itu tandus dan gundul dan menjadi salah satu alas an utama runtuhnya peradaban kuno ini.
Lapisan tanah yang subur atau humus membutuhkan waktu antara 200 tahun hingga 120.000 tahun untuk berkembang, tetapi humus itu dapat hilang dalam beberapa bulan saja. Sekali suatu wilayah digunakan berlebihan, humusnya menjadi debu dan diterbangkan angina. Salah satu masalah adalah sementara tanah yang tertekan dapat pemulihan sebagian kesuburannya, motivasi politik yang sangat rendah untuk membawa perubahan. Idealnya masalah ini dapat diatasi dengan melakukan suatu pada tingkat lokal untuk membawa perubahan.11
3. Penipisan Sumber-Sumber Energi
Pemakaian energi komersial (energi yang diperdagangkan oleh masyarakat industri seperti listrik) secara global meningkat 2-3% setiap tahun. Menurut perkiraan baru dalam peta lingkungan, bahan bakar minyak menyediakan kira-kira separuh dari energi dunia., batu bara seperti, dan seperlima berupa gas alam.12 Akhir tahun 1980-an tenaga nuklir
diperkirakan memenuhi hampir seperlima dari kebutuhan listrik dunia. Selama beberapa dasawarsa industri nuklir mendapat dukungan popular karena dirasakan efisien dalam menghasilkan tenaga listrik. Akan tetapi apabila memperhitungkan biaya jangka panjang,
10 Kerusakan tanah dapat disebabkan oleh banyak factor, antara lain erosi, banjir, penipisan hara, kemerosotan struktur tanah, penggundulan hutan, bertambahnya kadar garam, peternakan dan pencemaran.
11 Bandingkan dengan Chang William, Moral Lingkungan Hidup, (Yogyakarta : Kanisius, 2001), hlm. 19
maka biaya sesungguhnya dari tenaga nuklir diperkirakan tiga kali lebih mahal dibandingkan dengan batu bara. Keunggulan tenaga nuklir dari sudut pandang lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil agak ditentang oleh ancaman musibah lingkungan yang disebabkan oleh musibah nuklir.
Perlawanan public terhadap pembangunan pembangkit nuklir yang baru, muncul sesudah kecelakaan nuklir Chernobyl bulan April 1986. Akibat radioaktif dari kecelakaan tersebut adalah 31 orang meninggal, 135.000 telah dipindahkan dan antara 20.000-40.000 orang akan meninggal karena kanker sebagai akibat peningkatan dosis radiasi. Radiasi meracuni bahan makan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui rantai makanan. Suatu akibat tidak langsung dari produksi energi adalah pencemaran dan resiko kesehatan.
4. Perubahan Cuaca
Para ilmuan sekarang ini bersepakat bahwa efek rumah kaca (ERK) mengakibatkan perubahan iklim yang paling besar dan paling cepat dalam sejarah peradaban. Karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer bekerja seperti kaca dalam rumah kaca, membiarkan matahari tembus, tetapi memerangkap sebagian panas yang seharusnya dipancarkan kembali ke ruang angkasa. Sementara kita membutuhkan karbon dioksida sesuai takaran ilmiah untuk menjaga posisi iklim pada temperatur yang memungkinkan kehidupan, ada cukup bukti bahwa terjadi kelebihan panas dalam iklim sebagai akibat kegiatan manusia yang meningkatkan produksi karbon dioksida, seperti konsumsi bahan bakar dan penggundulan hutan. Setiap tahun kira-kira 24 miliar ton karbon dioksida dilepaskan, meningkatkan 750 juta metric ton per tahun. Karbon dioksida menimbulkan lebih dari separuh peningkatan suhu dalam iklim dunia.13
Jika iklim dunia semakin panas, hujan jatuh pada waktu yang berbeda dan ditempat yang berbeda, sehingga mengganggu produksi hasil pertanian. Perkiraan kenaikan 30C
setiap dasawarsa menyebabkan hasil panen lebih rendah di negara penghasil padi-padian seperti Amerika Serikat, Cina dan Negara-negara bekas Uni Soviet. Dampak yang dihadapi oleh Negara-negara dunia ketiga adalah kehilangan tanah yang dapat ditanami karena musim kemarau dan jatuhnya hujan yang tak diperhitungkan. Perubahan iklim
juga berperan dalam punahnya spesies yang banyak di antaranya tidak akan mampu berpindah ke daerah yang lebih dingin untuk bertahan hidup.
Pada tataran lokal (khususnya dalam konteks Indonesia), perhatian terhadap masalah krisis dan kerusakan lingkungan telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Tongak pertama sejarah tentang permasalah lingkungan hidup dipancangkan melalui seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan oleh Universitar Padjajaran pada 15-18 Mei 1972. Hasil yand diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam hal ini perhatian terhadap perubahan iklim, kejadian geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup dapat digunakan sebagai pentunjuk munculnya permasalah lingkungan hidup.
Pada dua dekade terakhir ini, berbagai kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan cenderung meningkat. Kemajuan transportasi dan industriliasasi yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan perkotaan. Sungai-sungai di perkotaan tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga. Kondisi tanah semakin tercemar oleh bahan kimia baik dari sampah, pupuk maupun pestisida.
Masalah pencemaran dan kerusakan ini disebabkan oleh masih redahnya kesadaran para pelaku dunia usaha ataupun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan kualitas lingkungan yang baik. Dengan kata lain, permasalahan lingkungan tidak semakin ringan namun justru akan semakin berat. Apalagi, mengingat sumber daya alam dimanfaatkan untuk pembangunan yang bertujuan memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu terpenuhinya tujuh kebutuhan dasar yang terdiri dari sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, energi, dan keamanan. Dengan kondisi tersebut, maka pengelolaan lingkungan hidup beserta sumber daya alam harus dilakukan secara berkelanjutan sehingga perlu ditingkatkan kualitasnya dengan dukungan penerapan dan penegakan hokum lingkungan yang adil dan tegas, sumber daya manusia yang berkualitas, perluasan penerapan etika lingkungan serta asimilasi social budaya yang semakin mantap. Tentunya hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita baik sebagai orang Kristen maupun sebagai warga negara.
Pendekatan Alkitabiah terhadap isu lingkungan ialah melalui pertanyaan bahwa bumi ini milik siapa? Pertanyaan ini mudah kedengarannya, padahal tidak. Sebab, apa jawaban yang harus kita berikan? Jawaban pertama cukup gamblang. Mazmur 24, ayat pertama : “Tuhan-lah yang mempunyai bumi beserta segala isinya”. Allah adalah Khalik, dank arena Ia yang menciptakannya, maka tentu Ia pula yang memilikinya. Namun jawaban ini baru setengah dari jawabannya.
Mazmur 115:16 “Langit itu langit kepunyaan Tuhan, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia”. Jadi, jawaban Alkitabiah yang lengkap atas pertanyaan kita ialah bahwa bumi ini milik Allah sekaligus milik manusia. Milik Allah karena Ia yang menciptakannya, milik kita sebab Ia telah memberikannya kepada kita. Tetapi jelas bukan memberikannya kepada kita sedemikian tuntas sehingga Ia sama sekali tidak mempunyai hak dan tidak mempunyai control lagi atasnya, melainkan memberikannya kepada kita supaya kita menguasainya atas nama Dia. Itulah sebabnya penguasaan kita atas bumi ini adalah berdasarkan hak pakai, bukan berdasarkan hak milik. Kita hanya penggarap saja; Allah sendiri tetap (dalam artinya yang paling harafiah) ‘Tuan tanah-nya’, tuan atas semua tanah.14
Kitab Kejadian dan Ulanganlah yang terbanyak berbicara mengenai lingkungan hidup. Para pengarang kedua kitab itu mengaitkan pengalaman hidup mereka dari kawasan lingkungannya dengan pemahaman tentang sejarah penyelenggaraan ilahi Israel sebagai bangsa yang dipersatukan dengan Tuhan dan sebagai bangsa yang telah dijanjikan tanah khusus. Mereka menggolongkan alam semesta kedalam peristiwa penciptaan manusia dan mereka menyisipkannya ke dalam terjadinya kehidupan. Bab-bab pertama dari kitab Kejadian, antara lain melukiskan permenungan klasik tentang peristiwa penciptaan. Perbedaan-perbedaan yang muncul dalam lukisan ini menunjukkan kekayaan gambaran mereka tentang penciptaan.
Tradisi Yahwista (Y) melukiskan kosmos sebagai peristiwa yang tertuju pada Yahwe, sebagai tempat kehadiran berkat Tuhan bagi manusia. Manusia mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan alam semesta. Manusia hidup berdekatan dengan hewan
(Kej. 2 : 19-20).15 Sementara itu, tradisi Priester (P) (Kej. 1 : 1-2 : 4a) mengisahkan asal
kosmos untuk menunjukkan struktur arketipe keberadaan manusia dan dunia. Ada tiga hal yang dititikberatkan oleh tradisi Priester sehubungan dengan peristiwa penciptaan dunia : tatanan, waktu dan hidup. Sorotan atas Kejadian 1:11 sebenarnya bukan terutama terletak pada gagasan sekarang, tatanan kosmik dikaitkan dengan tatanan moral dan social: ketidakteraturan moral, kekerasan, air bah. Perhatian bagian Alkitabiah khususnya terpusat pada tatanan kosmos dan buka pada penggalian asal-muasal kosmos.16
Lalu, apakah yang dimaksud dengan kekuasaan manusia terhadap makhluk ciptaan lain seperti yang dilukiskan dalam Kitab Kejadian? Penulis kitab ini tidak memandangnya sebagai kuasa tak terbatas, namun di hadapan mata Tuhan makhluk ciptaan non-manusia dan manusia diandaikan untuk membentuk suatu komunitas makluk ciptaan, dan di dalam komunitas itu manusia bertanggung jawab. Inilah dimensi tanggung jawab manusia terhadap alam!
Ada tiga penegasan yang dapat disimpulkan dari berbagai bahan Alkitabiah Perjanjian Lama mengenai tugas dan tanggung jawab etis kristiani terhadap lingkungan hidup yakni : pertama, Allah memberikan manusia kekuasaan atas bumi. Sejak awal manusia sudah dikaruniai dengan suatu keunikan ganda: kita mangandung gambar Allah (terdiri dari kualitas-kualitas rasional, moral, social dan spiritual, yang memungkinkan kita memegang kekuasaan atas bumi dan semua makhluknya. Memang, kekuasaan kita yang unik itu atas bumi adalah hubungan kita yang unik dengan Allah. Allah telah menyusun suatu tatanan, bahkan suatu hirarki dalam ciptaan-Nya. Disatu pihak kita adalah satu dengan alam, sebagian daripadanya dan mempunyai status sebagai makhluk segambar dengan Allah dan diserahi kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksudkan disini bukanlah kekuasaan sebagai ‘raja’ atas ciptaan yang lain. Tetapi dengan keunikan kita sebagai manusia, maka tugas kekuasaan itu adalah dalam rangka untuk menjaga, memelihara serta mengola alam dengan penuh rasa tanggung jawab.
Kedua, kekuasaan kita atas bumi adalah suatu kekuasaan koperatif. Artinya, dalam menjalankan kekuasaan pemberian Allah itu, kita bukannya menciptakan, melainkan bekerja sama dengan proses-proses alam itu. Dari Kej. 1 jelas bumi sudah dibuat menghasilkan sebelum manusia diminta memenuhi dan menaklukannya. Manusia
15 Drummond D Celia, Op. cit, hlm. 49
memang dapat membuat bumi itu lebih menghasilkan. Ia dapat membersihkan, membajak, mengairi dan menyuburkan tanah. Ia dapat menempatkan tanaman di dalam rumah kaca untuk memperoleh lebih banyak kesuburan tanah dengan bercocok tanam secara silih ganti. Ia dapat meningkatkan mutu ternaknya dengan pengembangbiakan selektif. Ia dapat menemukan jenis gandum hibrida yang hasilnya berlimpah ruah. Ia dapat memekanisasi pekerjaan penuai raksasa yang dapat melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus. Tapi yang ia lakukan dalam semua kegiatan ini hanyalah bekerja bersama dengan hokum-hukum keberhasilan yang sudah ditetapkan Allah. Lagi pula, takdir ‘mencari rejeki dengan bersusah payah’ yang dialami manusia dalam pertanian, akibat Allah telah menjatuhkan ‘kutuk-Nya atas tanah (Kej. 3 :17), hanya membatasi tapi tidak mengakibatkan Allah berhenti mengarunia tanah dengan ‘kelimpahan’ (Mazmur 65:9).
Manusia memang mengendalikan dan bahkan memacu hal-hal secara buatan. Namun yang dikendalikan dan ditingkatkan efisiensinya secara buatan itu adalah proses-proses yang pada hakikatnya alami. Dalam hal itu manusia bekerja sama dengan Allah. Apa yang diberikan Allah adalah ‘alam’, sedang yang kita perbuat adalah ‘kultur’ atau ‘pembudidayaan’. Benar, Allah telah merendahkan diri-Nya sehingga memerlukan kerja sama kita (yakni untuk menaklukkan bumi dan mengerjakan tanah). Namun kita juga harus merendahkan diri kita untuk mengakui bahwa kekuasaan kita atas alam akan total sia-sia dan tak ada kegunaannya, seandainya Allah tidak membuat bumi subuh, dan seandainya Ia tidak secara berkesinambungan memelihara kelestariaanya.
Kepemilikan Allah dan pemeliharaan-NYa yang bersinambungan atas bumi (dan alam semesta) berulang-ulang ditegaskan dalam Alitab. Dalam Mazmur 24 : 1 sudah kita baca bahwa “Tuhan-lah yang empunya bumi: ‘ segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan digunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah kuasa-Ku (Maz. 50 : 10, 11). Dalam Khotbah di Bukit Yesus mengembangkan pendominasian ilahi itu lebih luas lagi – dari makhluk yang terbesar hingga terkecil. Di satu pihak, Allah menerbitkan matahari (yang Ia adalah pemiliknya), dan di lain pihak Ia memberi makan kepada burung-burung, pakian kepada buka bakung dan mendandani rumput di padang (Mat. 5:45; 6:26, 28, 30). Jadi, ia memelihara seluruh ciptaan-NYa; dengan menyerahkannya kepada kita, ia bukannya menanggalkan tanggung jawab-Nya atasnya.
Jadi, jika kekuasaan atas bumi ini dengan demikian adalah yang didelegasikan kepada kita oleh Allah, dalam rangka suatu kerja sama dengan Dia dan pembagian hasil dengan orang lain, maka kita pun harus bertanggung jawab kepada Dia atas caranya kita mengelola bumi ini. Kita tidak berhak berbuat semau kita. ‘Menguasai’ bukanlah sinonim dari ‘merusak’. Karena bumi ini adalah yang dipercayakan kepada kita, maka kita harus mengelola serta memproduktifkannya secara bertanggung jawab demi kebaikan generasi kita dan generasi-generasi berikutnya.
Penutup
Manusia harus menyadari bahwa dunia (alam) yang ditempatinya bukanlah hak ‘milik tunggal’ yang harus diberlakukan dengan seenaknya. Alam atau lingkungan adalah tanda kebesaran Allah17, sehingga ia harus memperlakukan alam atau lingkungan sesuai
dengan tugas dan tanggung jawab yang telah Allah berikan kepadanya. Krisis dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi secara terus menerus mempunyai arti bahwa manusia ‘gagal’ dalam upaya untuk menjaga serta melestarikan lingkungan. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu usaha baru, dalam hal ini suatu etika hidup yang ‘mengikat’ kehidupan manusia bahwa alam atau lingkungan mempunyai ‘nilai’ atau ‘harganya juga. Alam bukanlah sekedar alat dalam rangka pemenuhan hidup manusia belaka, tetapi alam atau lingkungan adalah merupakan bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Jika manusia
mencemarinya serta merusakinya, maka sebenarnya manusia telah mencemari dan merusaki dirinya sendiri.
Manusia harus melakukan upaya pemulihan lingkungan dengan cara menata kembali paradigma atau cara pandang tentang alam atau lingkungan18, serta memberlakukan
sistem pengelolaan lingkungan yang baik. Sistem pengelolaan tersebut adalah upaya untuk mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungan alam dan bertujuan untuk mendapatkan kualitas lingkungan hidup yang mampu memberikan dukungan maksimum dan bermutu bagi kelangsungan peri kehidupan. Inilah tugas dan tanggung jawab etis kristiani sebagai bagian dari warga negara.
KEPUSTAKAAN
Borrong Robert P. Etika Bumi Baru, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000) Chang William, Moral Lingkungan Hidup, (Yogyakarta : Kanisius, 2001)
Drummond D Celia, Teologi Dan Ekologi, buku pegangan (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001)
Emanuel G. Singgih, Menguak Isolasi, Menjalin Relasi, Teologi Kristen dan Tantangan Dunia Postmodern, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009)
Haeruman Js., Herman, Artikel, Aplikasi Prinsip Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Hukum Nasional, (Jakarta : KLH, 2003)
Jhon Stott, Isu-Isu Global, Menentang Kepemimpinan Kristen, Peniliaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000)
Jongneel, Hukum Kemerdekaan I, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980) Piper Otto, Christian Ethics, (London : Thomas Nelson & Sons, 1970)
Tucker Mary E & Grim Jhon A , Agama, Filsafat dan Lingkungan Hidup, (Yogyakarta : Kanisius, 2003)
Tjaya H Thomas, Kosmos Tanda Keagungan Allah, Refleksi Menurut Louis Bouyer, (Yogyakarta : Kanisius, 2002)
www.wikipedia.com/perubahan-iklim-dan-efek-rumah-kaca.
http://pustaka.ictsleman.net/ristek/sponsor/sponsorpendamping/praweda/biologi/0039 bio 1-8d.htm