• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI KONSEP GREEN CONSTITUTION DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APLIKASI KONSEP GREEN CONSTITUTION DALAM"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI KONSEP GREEN CONSTITUTION DALAM

SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

NAMA : DWI ZAEN PRASETYO

NPM : 1212011101

MATA KULIAH : NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

BAB .I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Undang-Undang Dasar 1945, sebagai konstitusi tertulis di Indonesia dan juga merupakan refleksi dari cita-cata hukum bangsa Indonesia, secara eksplisit telah menggariskan beberapa prinsip dasar. Salah satu prinsip dasar yang mendapatkan penegasan dalam perubahan UUD 1945 (perubahan keempat) adalah prinsip negara hukum, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat (3) yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Jauh sebelum termuat dalam UUD 1945 secara historis negara hukum (rechtsstaat) adalah negara yang diidealkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) sebagaimana dituangkan dalam penjelasan umum UUD 1945 sebelum perubahan tentang sistem pemerintahan negara yang menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machtsstaat).

(3)

melahirkan hukum-hukum yang non demokratis. Negara yang demokratis akan melahirkan hukum yang demokratis pula, sedangkan Negara yang otoriter tentunya akan melahirkan hukum yang tidak demokratis. Begitu juga dalam hubungannya dengan Perlindungan Lingkungan Hidup, dimana untuk saat ini Lingkungan hidup merupakan hal yang dapat dikatakan riskan bagi keberlangsungan hidup semua makhluk tidak terkecuali manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk yang berkuasa di bumi patut merenung, dan lebih memperhatikan nasib kondisi alam di dalam tempat tinggalnya. Pada praktiknya, kehancuran alam sedikit demi sedikit semakin terasa, tak hanya dalam lingkup Nasional Republik Indonesia tetapi juga dalam lingkup Dunia Internasional, Pemerintah sebagai Penyelenggara Negara memiliki peran besar terhadap pelestarian Lingkungan Hidup, dan tegas terhadap pengaturan akan pelestariannya, untuk itu penjagaan dan pelestarian lingkungan hidup tidak cukup hanya dengan diatur dalam Undang-undang saja, tetapi haruslah dimasukkan kedalam Konstitusi itu sendiri, karena konstitusi adalah supremasi hukum tertinggi di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, jadi jika Pelestarian dan perlindungan Lingkungan hidup diatur dalam Konstitusi maka penjagaan akan hal tersebut akan semakin kuat.

Penuangan kebijakan Lingkungan (Green Policy) ke dalam produk perundang-undangan juga bisa diterjemahkan dalan bahasa Inggris dengan green Legislation. Karena itu jika norma hukum tersebut diadopsikan ke dalam teks Undang-undang dasar, maka hal itu disebut Green Constitution1. Pada prinsipnya, green constitution melakukan konstitusionalisasi norma hukum lingkungan ke dalam konstitusi melalui menaikkan derajat norma perlindungan lingkungan hidup ke tingkat konstitusi. Dengan demikian, pentingnya prinsip pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan perlindungan terhadap lingkungan hidup menjadi memiliki pijakan yang kuat dalam peraturan perundang-undangan. Atas dasar itu, green constitution kemudian mengintrodusir terminologi dan konsep yang disebut dengan ekokrasi (ecocracy) yang menekankan pentingnya kedaulatan lingkungan.

(4)

Dalam konteks Indonesia, green constitution dan ecocracy tercermin dalam gagasan tentang kekuasaan dan hak asasi manusia serta konsep demokrasi ekonomi sebagaimana ditegaskan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Kekuasaan tertinggi atau kedaulatan yang ada di tangan rakyat yang tercermin dalam konsep hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana dimaksud oleh Pasal 28H Ayat (1) dan pasal 33 Ayat (4) Undang-Undang Dasar Tahun 1945, serta tercermin pula dalam konsep demokrasi yang dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan (subtasinable development) dan wawasan lingkungan. Hal-hal itulah yang memberikan basis konstitusional bagi green constitution. Dengan demikian, norma perlindungan lingkungan hidup di Indonesia sebetulnya kini telah memiliki pijakan yang semakin kuat. Namun, masih belum banyak pembuat kebijakan publik maupun masyarakat luas di Tanah Air yang mengetahui dan memahami tentang hal yang penting ini. Itulah sebabnya diperlukan program untuk menyebarluaskan pengetahuan pemahaman tentang green constitution dan ecocracy tersebut. Program Green Constitution ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan, diantaranya:

a. bagaimanakah hubungan dan aplikasi konsep Negara hukum dan demokrasi dalam system ketatanegaraan Indonesia?

(5)

BAB. II. PEMBAHASAN

1. Konsep Negara hukum dan demokrasi

a.Konsep Negara Hukum

Istilah “the rule of law” mulai populer dengan terbitnya sebuah buku dari Albert Venn Dicey tahun 1885 dengan judul “Introduction to the study of the law of de constitution”. Dari latar belakang dan dari sistem hukum yang menopangnya terdapat perbedaan antara konsep “rechtsstaat” dengan konsep “the rule of law” meskipun dalam perkembangan dewasa ini tidak dipermasalahkan lagi perbebadaan antara keduanya karena pada dasarnya kedua konsep itu mengarahkan dirinya pada satu sasaran yang utama yaitu pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Meskipun dengan sasaran yang sama tetapi keduanya tetap berjalan dengan sistem sendiri yaitu sistem hukum sendiri. Konsep “rechtsstaat” lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga sifatnya revolusioner sebaliknya konsep “the rule of law” berkembang secara evolusioner. Hal ini nampak dari isi atau kriteria rechtstaat dan kriteria the rule of law2.

Konsep negara Rule of Law merupakan konsep negara yang dianggap paling ideal saat ini, meskipun konsep tersebut dijalankan dengan persepsi yang berbeda-beda. Terhadap istilah “ rule of law” ini dalam bahasa Indonesia sering juga diterjemahkan sebagai “supremasi hukum” (supremacy of law) atau “ Pemerintahan Berdasarkan atas hukum. Disamping Itu, istilah “ Negara Hukum” (Goverment by law) atau rechstaat, juga merupakan istilah yang sering digunakan untuk itu. Pengakuan kepada suatu negara sebagai negara hukum sangat oenting, karena kekuasaan negara dan politik bukanlah tidak terbatas (Tidak Absolut). Perlu pembatasan-pembatasan terhadap kewenangan dan kekuasaan negara dan politik tersebut, untuk menghindari timbulnya kesewenang-wenangan dari pihak penguasa.3

2http://akademik.nommensenid.org/portal/public_html/JURNAL/TULISAN%20MARTHIN %20SIMANGUNSONG/Analisis%20Yuridis.pdf.

(6)

Dalam negara hukum tersebut, pembatasan terhadap kekuasaan negara dan politik haruslah dilakukan dengan jelas, yang tidak dapat dilanggar oleh siapapun. Karena itu, dalam negara hukum, hukum memainkan peranannya yang sangat penting, dan berada di atas kekuasaan negara dan politik. Karena itu pula muncul suatu istilah “Pemerintahan dibawah Hukum”. Maka terkenallah konsep tersebut didalam sistem hukum dalam negara-negara comon law disebut “Pemerinatahan berdasarkan hukum, bukan berdasarkan (Kehendak) Manusia” (Goverment by law, not by men). Sedangkan dinegara-negara eropa kontinental dikenal konsep negara hukum (rechstaat), sebgai lawan dari “ Negara Kekuasaan” (machstaat). Rechstaat ini adalah istilah bahasa Belanda yang memiliki pengertian yang sejajar dengan pengertian rule of law di negara-negara yang berlaku sistem hukum Anglo Saxon. Dalam bahasa Indonesia sering disebut juga dengan istilah “Negara Hukum”, atau dalam bahasa Perancis disebut juga dengan “ Etat de Droit” sedangkan dalam bahasa Italia disebut dengan “Stato di Diritto”. Dalam konsep Negara Hukum versi Eropa Kontinental ini, prinsip supremasi hukum ( Supremacy of law) merupakan inti utamanya, menurut Dicey, makna dan supremaci hukum , dengan mengutip hukum klasik dari pengadilan-pengadilan di Inggris, adalah sebagai berikut: Hukum menduduki tempat tertinggi, lebih tinggi dari kedudukan raja, terhadapnya raja dan pemerintahannya harus tunduk, dan tanpa hukum maka tidak ada raja dan tidak ada pula kenyataan hukum ini.4

Dalam era negara hukum dalam keadaan pengecualian, kebebasan-kebebasan tertentu dari rakyat baik yang asasi maupun yang bukan asasi dikecualikan keberlakuannya untuk sementara sesuai keadaan dan urgensi tegaknya hukum. Kebebasan-kebebasan rakyat paling minim adalah dalam keadaan perang. Dilema bagi Negara-negara sementara berkembang adalah karena mereka untuk dapat maju harus mengadakan pembangunan secara berencana. Hal mana berarti bahwa status negara hukum dalam keadaan pengecualian. Konsekuensi negara hukum dalam keadaan pengcualian adalah bahwa aparat negara terutama aparat kepolisian dan tentara dalam hal-hal tertentu dapat bertindak sangat jauh dalam mencampuri kehidupan sosial ekonomi. Materi hukum baik yang tidak asasi maupun yang asasi dapat untuk sementara

(7)

dikecualikan demi proses kemajuan negara hukum sementara berkembang menuju negara maju atau demi mengatasi kesulitan sosial dan eksistensi tertentu pada wilayah dan tempat tertentu.5

Dengan demikian sejak kelahirannya, konsep Negara Hukum atau rule of law ini memang sebagai usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa negara agar tidak menyalahgunaan kekuasaan untuk menindas rakyatnya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa dalam suatu Negara Hukum, semua orang harus tunduk kepada hukum yang adil. Tidak ada seorang pun termasuk penguasa negara yang kebal terhadap hukum. Dalam hal ini, konsep Negara Hukum sangat tidak bisa menolerir baik terhadap sistem pemerintahan totaliter, diktator atau fascis, maupun terhadap sistem pemerintahan yang berhaluan anarkis. Dan, karena sistem negara totaliter/diktator sering memperlakukan rakyat dengan semena-mena tanpa memperhatikan harkat, martabat, dan hak-haknya, maka perlindungan hak-hak fundamental dari rakyat menjadi salah satu esensi dari suatu negara hukum.6

b. Sejarah Negara Hukum

Pemikiran atau konsepsi manusia tentang negara hukum lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan sejarah manusia, oleh karena itu, meskipun konsep negara hukum dianggap sebagai konsep universal, pada tataran implementasi ternyata memiliki karakteristik beragam.

Pemikiran-pemikiran tentang konsep negara hukum sebelum konsep negara hukum berkembang seperti sekarang ini, diantaranya dikemukakan oleh beberapa ahli berikut ini7:

A: Plato mengemukakan konsep nomoi yang dapat dianggap sebagai cikal bakal pemikiran tentang negara hukum. Dalam nomoi Plato mengemukakan bahwa penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik.

5 Willy D.S, Negara Hukum dalam Keadaan Pengecualian, Jakarta: Sinar Grafika, 2013. hlm. 47-48.

6 Opcit.

(8)

B: Aristoteles mengemukakan ide negara hukum yang dikaitkannya dengan arti negara yang dalam perumusannya masih terkait kepada “polis”. Bagi Aristoteles, yang memerintah dalam negara bukanlah manusia, melainkan pikiran yang adil, dan kesusilaanlah yang menentukan baik buruknya suatu hukum. Manusia perlu dididik menjadi warga negara yang baik, yang bersusila, yang akhirnya akan menjelmakan manusia yang bersifat adil. Apabila keadaan semacam itu telah terwujud, maka terciptalah suatu “negara hukum”, karena tujuan negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas keadilan.

C: Machiavelli, seorang sejarawan dan ahli negara telah menulis bukunya yang terkenal “II Prinsipe (The Prince)”, mengemukakan dalam usaha untuk mewujudkan supaya suatu negara menjadi suatu negara nasional raja harus merasa dirinya tidak terikat oleh norma-norma agama maupun norma-norma akhlak. Raja dianjurkan supaya jangan berjuang dengan mentaati hukum; raja harus menggunakan kekuasaan dan kekerasan seperti halnya juga binatang.

D: Jean Bodin jugua menganjurkan absolutisme raja. Jean Bodin berpendapat bahwa dasar pemerintah absolut terletak dalam kedaulatan yaitu kekuasaan raja yang superior.

E: Thomas Hobbes dalam teorinya yaitu teori hobbes, perjanjian masyarakat yang tidak dipakai untuk membangun masyarakat (civitas) melainkan untuk membentuk kekuasaan yang diserahkan kepada raja. Raja bukan menerima kekuasaan dari masyarakat melainkan ia memperoleh wewenang dan kuasanya kepada raja, maka kekuasaan raja itu mutlak.

Perlawanan terhadap kekuasaan yang mutlak dari raja secara konkret dilaksanakan dengan memperjuangkan sistem konstitusional, yaitu sistem pemerintahan yang berdasarkan konstitusi. Pemerintah tidak boleh dilakukan menurut kehendak raja saja, melainkan harus didasrkan pada hukum konstitusi. Perjuangan konstitusional yang membatasi kekuasaan raja banyak dipengaruhi oleh berbagai perkembangan, di antaranya:

a) Reformasi b) Renaissance c) Hukum Kodrat

(9)

Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat pada waktu, lahir pula gagasan atau pemikiran untuk melindungi hak-hak asasi manusia yang dipelopori oleh pemikir-pemikir Inggris dan perancis yang sangat mempengaruhi tumbangnya absolutismne dan lahirnya negara hukum. Paham negara Rule of law yang membatasi kekuasaan penguasa negara sesuai dengan hukum tertinggi sebagaimana terdapat dalam konstitusi atau Konvensi dalam sistem ketatanegaraan ini, berkembang juga di negara-negarayang menganut sistem hukum Anglo Saxon. Pembatasan kekuasaan kepala negara dengan memberikan perlindungan kepada hak-hak rakyat ini di Inggris sudah dikenal dalam Dokumen Magna Charta 1215, atau di negara Amerika Serikat dengan Konstitusinya yang mulai berlaku sejak Revolusi Amerika Serikat tahun 1776.8

c. Unsur-unsur Negara Hukum

Setelah mengalami beberapa perkembangan pemikiran konsep negara hukum kemudian mengalami penyempurnaan, yang secara umum diantaranya: a. Sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat;

b.Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasarkan atas hukum atau peraturan perundang-undangan;

c. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara); d. Adanya pembagian kekuasaan dalam negara;

e. Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan tidak berada dibawah pengaruh eksekutif;

f. Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah;

g. adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata sumber daya yang diperlukan bagi kemakmuran warga negara.

d. Negara Indonesia sebagai Negara Hukum

(10)

Negara Indonesia sebagai negara hukum dapat diketahui dalam :

a. Bab 1 pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, Negara Indonesia adalah Negara Hukum;

b. Pembukaan dicantumkan kata-kata: Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia; c. bab X Pasal 27 ayat (1) disebutkan segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan itu dengan tidak ada kecualinya;

d. Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 (yang sudah dihapus) disebutkan dalam Sistem Pemerintahan Negara, yang maknanya tetap bisa dipakai, yaitu Indonesia ialah negara berdasar atas hukum (rechtsstaat). Tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat);

e. Sumpah/Janji Presiden/Wakil Presiden ada kata-kata “memegang teguh Undang-Undang Dasar dan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya”;

f. Bab XA Hak Asasi Manusia Pasal 28 i ayat (5), disebutkan bahwa “Untuk penegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan;

g. Sistem hukum yang bersifat nasional;

h. Hukum dasar yang tertulis (konstitusi), hukum dasar tak tertulis (konvensi); i. Tap MPR No.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan;

j. Adanya peradilan bebas.

2. Pengertian Demokrasi

(11)

masing-masing negara. Dalam praktek penyelenggaraan demokrasi sering terjadi permasalahan yaitu masalah bagaimana pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat dipraktekan secara riil dan efektif dalam kehidupan nyata. Demokrasi mempunyai arti penting bagi masyarakat yang menggunakannya sebab dengan demokrasi hak masyarakat untuk menentukan sendiri jalannya organisasi Negara dijamin. Oleh sebab itu, hampir semua pengertian yang diberikan untuk istilah demokrasi ini selalu memberi posisi penting bagi rakyat kendati secara operasional implikasinya di berbagai Negara tidak sama9.

Secara historis tercatat bahwa prinsip demokrasi lahir sebagai saudara kembar dari prinsip hukum dalam negara-negara demokrasi moderen. Jadi demokrasi dan hukum lahir dari ibu kandung yang sama sehingga sering muncul adigum bahwa demokrasi dan hukum ibarat dua sisi dari sebuah mata uang. Tidak akan ada demokrasi tanpa ada hukum yang tegak dan tidak akan ada hukum yang tegak tanpa pembangunan kehidupan politik yang demokratis. Demokrasi memiliki kecendrungan yang sama dalam hal prinsip-prinsip yang dianut. Beberapa prinsip demokrasi yang berlaku secara universal, antara lain:

1. Keterlibatan warga Negara dalam penbuatan keputusan politik Ada dua pendekatan tentang keterlibatan warga Negara yaitu teori elitis dan partisipator Pendekatan elitis adalah pembuatan kebijakan umum namun menuntut adanya kualitas tanggapan pihak penguasa dan kaum elit, hal ini dapat kita lihat pada demokrasi perwakilan. Pendekatan partisipatori adalah pembuatan kebijakan umum yang menuntut adanya keterlibatan yang lebih tinggi.

2. Persamaan diantara warga Negara8 Tingkat persamaan yang ditunjukan biasanya yaitu dibidang politik, hukum,bkesempatan ekonomi sosial dan hak Kebebasan atau kemerdekaan yang diakui dan dipakai oleh warga Negara.

3. Supremasi Hukum Penghormatan terhadap hukum harus dikedepankan baik oleh penguasa maupun rakyat, tidak terdapat kesewenang–wenangan yang biasa dilakukan atas nama hukum, karena itu pemerintahan harus didasari oleh hukum yang berpihak pada keadilan.

4. Pemilu berkala Pemilihan umum, selain mekanisme sebagai menentukan komposisi pemerintahan secara periodik, sesungguhnya merupakan

(12)

sarana utama bagi partisipasi politik individu yang hidup dalam masyarakat yang luas, kompleks dan modern.10

2. 1. Demokrasi Dalam Konsep.

Istilah demokrasi berasal dari dua kata pada masa yunani yang disebut yaitu demos dan kratos. Menurut artinya secara harfiah yang dimaksud demokrasi adalah pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat. Demokrasi menyiratkan arti kekuasaan pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat.

Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran mengenai hubungan negara dan hukum Yunani Kuno dan dipraktekan dalam hidup bernegara antara abad ke-4 sebelum Masehi sampai abad ke-6 masehi.Dillihat dari pelaksanaannya pada masa itu, demokrasi dipraktekan bersifat langsung, artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas. Pada negara kota bentuk demokrasi dilakukan secara langsung yaitu rakyat berkumpul di suatu tempat untuk memecahkan masalah secara langsung bersama-sama. Oleh karena itu demokrasi seperti ini pada jaman yunani kuno dikenal sebagai demokrasi partisipatif dan tidak mengenal lembaga perwakilan. Pada negara-negara modern dikembangkan model demokrasi tidak langsung melalui lembaga perwakilan. Lembaga perwakilan memegang peranan yang penting dalam menata jalannya roda pemerintahan bagi negara demokrasi modern, walaupun pada mulanya keberadaan lembaga perwakilan bukan dimaksudkan sebagai perangkat sistem demokrasi.

Hukum nasional yang demokratis setidaknya mempunyai karakter dan alur pikir sebagai berikut: a. Hukum nasional dibuat sesuai dengan cita-cita bangsa, yakni masyarakat adil dan makmur berdasar falsafah negara. b. Hukum nasional dirancang untuk mencapai tahap tertentu dari tujuan negara sebagaimana tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. c. Hukum nasional harus menjamin integrasi

(13)

bangsa dan negara baik teritori maupun ideologi, mengintegrasikan prinsip demokrasi dan nomokrasi, artinya pembangunan hukum harus mengundang partisipasi dan menyerap aspirasi masyarakat melalui prosedur dan mekanisme yang fair, transparan dan akuntabel; dan berorientasi pada pembangunan keadilan sosial; dan menjamin hidupnya toleransi beragama yang berkeadaban. Sebagai implementasi dari hal tersebut, maka hukum nasional, harus mengabdi kepada kepentingan nasional, dan menjadi pilar demokrasi untuk tercapainya kesejahteraan rakyat dan secara sosiologi menjadi sarana untuk tercapainya keadilan dan ketertiban masyarakat. Tujuan dari hukum yang demokratis tidak saja hanya tercapainya keadilan, akan tetapi juga terciptanya ketertiban (order). Hukum harus berfungsi menciptakan keteraturan sebagai prasyarat untuk dapat memberikan perlindungan bagi rakyat dalam memperoleh keadilan, keteraturan dan ketenangan dan bukan untuk menyengsarakannya.11

Lembaga perwakilan pada negara demokrasi modern sangat penting dalam suatu negara bangsa. Melalui lembaga perwakilan, persoalan-persoalan yang komplek dihadapi masyarakat akan dapat diselesaikan. Dengan demikian lembaga perwakilan berfungsi untuk menjembatani dan menyalurkan aspirasi rakyat dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. Dalam praktek, demokrasi itu dipahami dan dijalankan secara berbeda-beda, sehingga timbul masalah antara wakil(lembaga perwakilan) dan yang diwakilinya(rakyat). Artinya, apa yang dilakukan oleh wakil rakyat dalam lembaga perwakilan tidak selamanya dapat diterima oleh rakyat.keadaan ini sering muncul menjadi permasalahan dalam praktek demokrasi, berkaitan dengan pilihan akan melaksanakan demokrasi elitis atau demokrasi partisipatoris.

Menurut Arief Sidharta , Scheltema, merumuskan pandangannya tentang unsur-unsur dan asas-asas Negara Hukum itu secara baru, yaitu meliputi 5 (lima) hal sebagai berikut:

1. Pengakuan, penghormatan, dan perlindungan Hak Asasi Manusia yang berakar dalam penghormatan atas martabat manusia (human dignity).

(14)

2. Berlakunya asas kepastian hukum.

Negara Hukum untuk bertujuan menjamin bahwa kepastian hukum terwujud dalam masyarakat. Hukum bertujuan untuk mewujudkan kepastian hukum dan prediktabilitas yang tinggi, sehingga dinamika kehidupan bersama dalam masyarakat bersifat ‘predictable’. Asas-asas yang terkandung dalam atau terkait dengan asas kepastian hukum itu adalah:

a. Asas legalitas, konstitusionalitas, dan supremasi hukum;

b. Asas undang-undang menetapkan berbagai perangkat peraturan tentang cara pemerintah dan para pejabatnya melakukan tindakan pemerintahan;

c. Asas non-retroaktif perundang-undangan, sebelum mengikat undang-undang harus lebih dulu diundangkan dan diumumkan secara layak;

d. Asas peradilan bebas, independent, imparial, dan objektif, rasional, adil dan manusiawi;

e. Asas non-liquet, hakim tidak boleh menolak perkara karena alasan undangundangnya tidak ada atau tidak jelas;

f. Hak asasi manusia harus dirumuskan dan dijamin perlindungannya dalam undang-undang atau UUD.

3. Berlakunya Persamaan (Similia Similius atau Equality before the Law) Dalam Negara Hukum, Pemerintah tidak boleh mengistimewakan orang atau kelompok orang tertentu, atau memdiskriminasikan orang atau kelompok orang tertentu. Di dalam prinsip ini, terkandung (a) adanya jaminan persamaan bagi semua orang di hadapan hukum dan pemerintahan, dan (b) tersedianya mekanisme untuk menuntut perlakuan yang sama bagi semua warga Negara.

4. Asas demokrasi dimana setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk turut serta dalam pemerintahan atau untuk mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintahan. Untuk itu asas demokrasi itu diwujudkan melalui beberapa prinsip, yaitu:

a. Adanya mekanisme pemilihan pejabat-pejabat publik tertentu yang bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil yang diselenggarakan secara berkala;

(15)

c. Semua warga Negara memiliki kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan politik dan mengontrol pemerintah;

d. Semua tindakan pemerintahan terbuka bagi kritik dan kajian rasional oleh semua pihak;

e. Kebebasan berpendapat/berkeyakinan dan menyatakan pendapat; f. Kebebasan pers dan lalu lintas informasi;

g. Rancangan undang-undang harus dipublikasikan untuk memungkinkan partisipasi rakyat secara efektif.

5. Pemerintah dan Pejabat mengemban amanat sebagai pelayan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan bernegara yang bersangkutan. Dalam asas ini terkandung hal-hal sebagai berikut:

a. Asas-asas umum peerintahan yang layak;

b. Syarat-syarat fundamental bagi keberadaan manusia yang bermartabat manusiawi dijamin dan dirumuskan dalam aturan perundang-undangan, khususnya dalam konstitusi;

c. Pemerintah harus secara rasional menata tiap tindakannya, memiliki tujuan yangn jelas dan berhasil guna (doelmatig). Artinya, pemerintahan itu harus diselenggarakan secara efektif dan efisien.12

Pada dasarnya, Indonesia menganut demokrasi pancasila yaitu demokrasi yang merupakan perwujudan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, yang mengendung semangat Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Demokrasi pancasila juga diartikan sebagai demokrasi yang dihayati oleh bangsa dan negara Indonesia yang dijiwai nilai-nilai luhur Pancasila13.

Namun Implementasi demokrasi pancasila belum bisa seutuhnya terealisasi karena masih banyaknya rakyat yang kurang bertanggungjawab dan

12https://www.academia.edu/9090259/Kajian_Teoritis_Konsep_Demokrasi_dan_Negara_Hukum_ Rule_of_Law.

(16)

SDM rendah yang kerjanya hanya menyalahkan pemerintah, sehingga dalam perkembangan kedepannya Demokrasi Pancasila perlu peran dari pemerintah dan rakyat yang berintegrasi dalam menerapkan Demokrasi Pancasila dengan penuh tanggungjawab.

2.2. Perkembangan Demokrasi

Dilihat dari arti kata-katanya, demokrasi mengandung arti pemerintahan oleh rakyat. Walaupun ditinjau dari segi kata-katanya terlihat sederhana, akan tetapi sampai sekarang masih belum diperoleh kesamaan pandangan tentang batasan demokrasi. Hal ini deisebabkan oleh dua hal :

a. Bahwa demokrasi memiliki dua arti dari segi formal dan material. b. Demokrasi itu sendiri telah da terus mengalami perkembangan.

Perbedaan mendasar tentang demokrasi yang dianut oleh masing-masing bangsa atau negara terletak pada arti demokrasi secara material dimana arti demokrasi tergantung dari ideologi suatu bangsa atau negara masing-masing, sedangkan dalam arti formal terdapat cukup banyak persamaan-persamaan.

Seperti dalam sejarah, yang sampai sekarang masih berlaku, ada beberapa landasan falsafah yang dipergunakan oleh demokrasi, yaitu :

-Demokrasi yang mendasarkan diri atas kemerdekaan dan persamaan

-Demokrasi yang mendasarkan diri atas kemajuan dibidang sosial dan ekonomi -Demokrasi yang mendasarkan diri atas kemerdekaan serta persamaan, dan atas kemajuan sosial dan ekonomi sekaligus.

Perlakuan demokrasi di setiap negara tidak selalu sama, oleh karena demokrasi pada kenyataannya, memang tumbuh bukan diciptakan. Maka setidaknya, negara dikatakan demokratis jika memenuhi syarat sebagaimana dikemukan oleh Bagir Manan:

1. Ada kebebasan untuk membentuk dan menjadi anggota perkumpulan. 2. Ada kebebasan menyatakan pendapat.

3. Ada hak untuk memberikan suara dalam pemungutan suara.

4. Ada kesempatan untuk dipilh atau menduduki berbagai jabatan pemerintahan atau negara.

(17)

atau suara.

6. Terdapat berbagai sumber informasi. 7. Ada pemilihan yang bebas dan jujur.

8. Semua lembaga yang bertugas merumuskan kebijakan.14

HUBUNGAN NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI

Negara hukum dan demokrasi adalah dua konsepsi yang saling berkaitan yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Pada konsepsi demokrasi, di dalamnya terkandung prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (democratie) sedangkan di dalam konsepsi Negara hukum terkandung prinsip-prinsip negara hokum

(nomocratie), yang masing-masing prinsip dari kedua konsepsi tersebut dijalankan secara beriringan sebagai dua sisi dari satu mata uang. Paham negara hukum yang demikian dikenal dengan sebutan “negara hukum yang demokratis”

(democratische rechtsstaat) atau dalam bentuk konstitusional disebut

constitutional democracy. Disebut sebagai “negara hukum yang demokratis”, karena di dalamnya mengakomodasikan prinsip-prinsip Negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi.

Lebih lanjut Jimly Asshiddiqie, menegaskan bahwa negara hukum yang bertopang pada sistem demokrasi pada pokoknya mengidealkan suatu mekanisme bahwa negara hukum itu haruslah demokratis, dan negara demokrasi itu haruslah didasarkan atas hukum. Menurutnya, dalam perspektif yang bersifat horizontal gagasan demokrasi yang berdasarkan atas hukum (constitutional democracy) mengandung 4 (empat) prinsip pokok, yaitu:

1. Adanya jaminan persamaan dan kesetaraan dalam kehidupan bersama; 2. Pengakuan dan penghormatan terhadap perbedaan atau pluralitas;

3. Adanya aturan yang mengikat dan dijadikan sumber rujukan bersama; dan 4. Adanya mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan mekanisme aturan yang

(18)

ditaati bersama dalam konteks kehidupan bernegara, di mana terkait pula dimensi-dimensi kekuasaan yang bersifat vertical antar institusi negara dengan warga negara.

Dalam pandangan Jimly Asshiddiqie, keempat prinsip-prinsip pokok dari

demokrasi tersebut lazimnya dilembagakan dengan menambahkan prinsip-prinsip negara hukum (nomokrasi), yaitu:

1) Pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia;

2) Pembatasan kekuasaan melalui mekanisme kekuasaan dan pembagian kekuasaan disertai mekanisme penyelesaian sengketa ketatanegaraan antar lembaga negara, baik secara vertikal maupun horizontal;

3) Adanya peradilan yang bersifat independen dan tidak memihak (independent and impartial) dengan kewibawaan putusan yang tertinggi atas dasar keadilan dan kebenaran;

4) Dibentuknya lembaga peradilan yang khusus untuk menjamin keadilan warga negara yang dirugikan akibat putusan atau kebijakan pemerintahan (pejabat administrasi negara);

5) Adanya mekanisme judicial review oleh lembaga legislatif maupun lembaga eksekutif;

6) Dibuatnya konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang mengatur jaminan-jaminan pelaksana prinsip-prinsip tersebut; dan

7) Pengakuan terhadap asas legalitas atau due process of law dalam keseluruhan sistem penyelenggaraan negara.

(19)

yang sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara yang paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara hukum. Dengan demikian dalam negara hukum yang demokratis, hukum dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan “tangan besi” berdasarkan kekuasaan semata (machtsstaat). Sebaliknya, demokrasi haruslah diatur berdasar atas hukum (rechtsstaat) karena perwujudan gagasan demokrasi memerlukan instrumen hukum untuk mencegah munculnya mobokrasi, yang mengancam pelaksanaan demokrasi itu sendiri.

APLIKASI KONSEP NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI DALAM KETATANEGARAN

Indonesia, sebagai negara yang terlahir pada abad modern melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 juga “mengklaim” dirinya sebagai Negara hukum. Hal ini

terindikasikan dari adanya suatu ciri negara hukum yang prinsip-prinsipnya dapat dilihat pada Konstitusi Negara R. I. (sebelum dilakukan perubahan), yaitu dalam Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh (non Pasal-pasal tentang HAM), dan Penjelasan UUD 1945 dengan rincian sebagai berikut:

(20)

itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia”.

2. Batang Tubuh UUD 1945, menyatakan bahwa “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undangundang Dasar (Pasal 14). Ketentuan ini menunjukkan bahwa presiden dalam menjalankan tugasnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan dalam Undang-undang Dasar. Pasal 9 mengenai sumpah Presiden dan Wakil Presiden “memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya selurus-lurusnya”. Melarang Presiden dan Wakil Presiden menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan tugasnya suatu sumpah yang harus dihormati oleh Presiden dan Wakil Presiden dalam

mempertahankan asas negara hukum. Ketentuan ini dipertegas lagi oleh Pasal 27 UUD 1945 yang menetapkan bahwa “segala warga negara bersamaan

kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Pasal ini selain menjamin prinsip equality before the law, suatu hak demokrasi yang fundamental, juga menegaskan kewajiban warga negara untuk menjunjung tinggi hukum suatu prasyarat langgengnya negara hukum; dan

3. Penjelasan UUD 1945, merupakan penjelasan autentik dan menurut Hukum Tata Negara Indonesia, Penjelasan UUD 1945 itu mempunyai nilai yuridis, dengan huruf besar menyatakan: “Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat)”. Ketentuan yang terakhir ini menjelaskan apa yang tersirat dan tersurat telah dinyatakan dalam Batang Tubuh UUD 1945.

(21)

Kemudian di dalam Pasal 1 ayat (1) Konstitusi RIS juga disebutkan; “Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat ialah suatu Negara hukum yang demokrasi dan berbentuk federasi”.

Demikian pula halnya, di dalam Mukaddimah UUDS 1950 pada alinea keempat menyebutkan: Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan, berdasar pengakuan

Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna. Kemudian di dalam Pasal 1 ayat (1) UUDS 1950 disebutkan; Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ialah negara hukum yang

demokratis dan berbentuk kesatuan.

Setelah UUD 1945 dilakukan perubahan, rumusan negara hukum Indonesia yang semula hanya dimuat secara implisit baik di dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh UUD 1945 dan secara eksplisit dimuat di dalam Penjelasan UUD 1945, penempatan rumusan negara hukum Indonesia telah bergeser kedalam Batang Tubuh UUD 1945 yang secara tegas dinyatakan di dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi: Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Jika dikaitkan dengan unsur-unsur negara hukum sebagaimana uraian pada pembahasan di atas, maka dapat ditemukan pengaturan unsur-unsur negara hukum dalam Batang Tubuh UUD 1945 sebagai berikut:

1. Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM);

2. Pemisahan/pembagian kekuasaan;

3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang; dan

(22)

Dengan demikian, dalam sistem konstitusi Negara Indonesia cita negara hukum itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan gagasan kenegaraan Indonesia sejak kemerdekaan. Meskipun dalam pasal-pasal UUD 1945 sebelum perubahan, ide Negara hukum itu tidak dirumuskan secara eksplisit, tetapi dalam penjelasannya ditegaskan bahwa Indonesia menganut ide ‘rechtsstaat’, bukan ‘machtsstaat’. Sementara dalam Konstitusi RIS Tahun 1949, ide Negara hukum itu bahkan tegas dicantumkan, demikian pula dalam UUDS 1950, kembali rumusan bahwa Indonesia adalah negara hukum dicantumkan dengan tegas. Bahkan dalam Perubahan Ketiga pada tahun 2001 terhadap UUD Negara RI Tahun 1945,

ketentuan mengenai negara hukum ini kembali dicantumkan secara tegas dalam Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi: “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”.

KONSEPSI KONSTITUSI HIJAU DALAM PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA

(23)

Salah satu ide dan perkembangan dalam upaya perlindungan terhadap lingkungan adalah menempatkan pengaturan hak asasi terhadap lingkungan dalam konstitusi negara sebagai komitmen terhadap perlindungan dan pengelolaan Lingkungan hidup. Konstitusi hijau (Green Constitution) menjadi salah satu hal yang menjawab berbagai macam kekhawatiran masyarakat berkenaan dengan penurunan fungsi lingkungan sebagaimana penyataan bahwa :

“ Negeri ini sedang melihat proses kegentingan ekologi yang tak terbendung, bencana ekologis mengancam dimana jutaan rakyat terus bertaruh atas keselamatan diri dan keluarga mereka akibat lemahnya peran negara didalam melindungi keselamatan warga negaranya sebagaimana yang diamanatkan dalam Konstitusi negara”.15

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) alinea keempat menyatakan bahwa negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia, seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. Negara mempunyai tanggung jawab terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan sumberdaya budaya). Lebih lanjut Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 Amandemen Kedua menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam upaya mencapai tujuan nasional, dilakukanlah kegiatan pembangunan nasional sebagai rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.Kegiatan tersebut memungkinkan terjadinya pemanfaatan sumber daya secara berlebihan sehingga mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan secara global.

Secara sistemik, dalam sistem hukum nasional yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) setiap bidang hukum merupakan bagian dari sistem nasional serta harus bersumber pada pancasila dan UUD 1945. Setiap bidang hukum nasional itu bersumber pada pancasila, berlandaskan UUD 1945 dan terdiri dari sejumlah peraturan perundang-undangan, yurisprudensi maupun hukum kebiasaan termasuk hukum lingkungan. Dengan menggunakan pola atau kerangka pemikiran tersebut kita akan berfikir sistemik, walaupun masing-masing

(24)

bidang hukum itu dapat berkembang sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Hukum lingkungan dalam pengertian yang paling sederhana sebagai hukum yang mengatur tatanan lingkungan (lingkungan hidup). Lingkungan hidup sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.16

Berkenaan dengan hak asasi manusia dimana hakikat HAM sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi HAM menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah, dan Negara17. Hak asasi manusia yang berhubungan tentang hak atas lingkungan hidup sebetulnya Indonesia telah memberikan pengaturan dalam Pasal 28 H Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen Kedua Tahun 2000 menyatakan bahwa “setiap orang berhak ……..mendapatkan lingkungan hidup yang sehat…” Namun pengaturan ini dirasakan masih terlalu abstrak dalam pelaksanaannya. Berkenaan dengan Negara harus memberikan dorongan kepada setiap orang dan badan hukum untuk melindungi alam dan harus mempromosikan sikap penghormatan kepada semua elemen dalam satu kesatuan ekosistem tidak diatur secara tegas dalam konstitusi dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan diatur pula dalam berbagai Undang-Undang di bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hal negara harus melakukan prinsip kehati-hatian dan mengadakan pembatasan dalam semua aktivitas yang dapat mengarah kepada pemusnahan spesies, perusakan ekosistem atau menyebabkan perubahan permanen pada sirkuk alam di atur dalam Undang-Undang dan Peraturan-peraturan pemerintah yang lebih teknis seperti ketentuan mengenai kewajiban bagi kegiatan usaha untuk melakukan analisis mengenai dampak Lingkungan (AMDAL). Berkenaan dengan kegiatan dalam pemanfaatan sumber daya alam diatur dalam Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa Bumi Air dan kekayaan alam yang terkandung di

16 Ibid.

(25)

dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan hal inipun menjadi permasalahan karena dijadikan dasar bagi sektor-sektor untuk membuat undang-undang sehingga menjadikan tidak harmonis dan sinkron-nya peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.18 Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 juga menegaskan adanya prinsip berkelanjutan yang terkandung dalam asas demokrasi ekonomi yang dianut oleh konstitusi Indonesia. Dapat dijelaskan bahwa kata “berkelanjutan” itu sebenarnya berkaitan dengan konsep sustainable development atau dalam bahasa Indonesia disebut pembangunan berkelanjutan. Hal ini terkait juga dengan perkembangan gagasan tentang pentingnya wawasan pemeliharaan, pelestarian, dan perlindungan lingkungan hidup yang sehat, dimana telah menjadi wacana dan kesadaran umum diseluruh penjuru dunia untuk menerapkannya dalam praktik19.

Konstitusi di Indonesia dipahami sebagai suatu naskah tertulis, tertinggi dan berlaku serta dijadikan dasar dalam penyelenggaraan negara. Suatu hal yang positif apabila konstitusi memut hal-hal maupun hak-hak berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup dalam konstitusi Penegasan hak atas Lingkungan akan mencegah tumpang tindih peraturan perundang-undangan serta membuat peraturan perundang-undangan menjadi harmonis karena bersumber langsung kepada konstitusi.

Setiap negara yang mengaku sebagai demokrasi konstitusional harus menjamin hak asasi manusia yang fundamental tersebut sebagai hak konstitusional. Oleh karena itu Indonesia sebagai negara demokrasi konstitusional sudah seharusnya memberikan jaminan konstitusional akan lingkungan yang baik di konstitusi. Jaminan konstitusional lingkungan dalam konstitusi dapat bernilai positif terhadap perlindungan lingkungan dalam beberapa hal. Pertama, jaminan konstitusional memebrikan dasar akan hubungan negara rakyat dan lingkungan. Ketentuan konstitusional mempunyai ranking tertinggi dalam hierarki norma sehingga memberikan kepastian dan kekuatan lebih dari UU, peraturan administrasi, atau putusan pengadilan.20

18 Opcit.

19 Jimly Asshiddiqie, Green Constitution, Jakarta: Rajawali Pers, 2010. hlm. 133.

(26)

Kedua, ketentuan konstitusional dapat menjadi elemen koordinasi dalam perlindungan lingkungan. Dalam konteks ini, jaminan konstitusional dalam konstitusi dapat menjadi mercusuar koordinasi bagi seluruh instrument hukum perlindungan lingkungan, dengan demikian memudahkan bagi pengajuan constitutional review terhadap pengaturan yang merugikan lingkungan.21

Ketiga, jaminan konstitusional dapat memupuk dan memberdayakan partisipasi masyarakat yang lebih besar dalam perlindungan lingkungan.22

BAB. III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Konsep negara Rule of Law merupakan konsep negara yang dianggap paling ideal saat ini, meskipun konsep tersebut dijalankan dengan persepsi yang

21 Ibid.

(27)

berbeda-beda. Terhadap istilah “ rule of law” ini dalam bahasa Indonesia sering juga diterjemahkan sebagai “supremasi hukum” (supremacy of law) atau “ Pemerintahan Berdasarkan atas hukum. Disamping Itu, istilah “ Negara Hukum” (Goverment by law) atau rechstaat, juga merupakan istilah yang sering digunakan untuk itu. Pengakuan kepada suatu negara sebagai negara hukum sangat oenting, karena kekuasaan negara dan politik bukanlah tidak terbatas (Tidak Absolut). Perlu pembatasan-pembatasan terhadap kewenangan dan kekuasaan negara dan politik tersebut, untuk menghindari timbulnya kesewenang-wenangan dari pihak penguasa.

Pada konsepsi demokrasi, di dalamnya terkandung prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (democratie) sedangkan di dalam konsepsi Negara hukum terkandung prinsip-prinsip negara hokum (nomocratie), yang masing-masing prinsip dari kedua konsepsi tersebut dijalankan secara beriringan. Paham negara hukum yang demikian dikenal dengan sebutan “negara hukum yang demokratis” (democratische rechtsstaat) atau dalam bentuk konstitusional disebut constitutional democracy. Disebut sebagai “negara hukum yang demokratis”, karena di dalamnya mengakomodasikan prinsip-prinsip Negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi.

Dengan demikian, dalam sistem konstitusi Negara Indonesia cita negara hukum itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan gagasan kenegaraan Indonesia sejak kemerdekaan. Meskipun dalam pasal-pasal UUD 1945 sebelum perubahan, ide Negara hukum itu tidak dirumuskan secara eksplisit, tetapi dalam penjelasannya ditegaskan bahwa Indonesia menganut ide ‘rechtsstaat’, bukan ‘machtsstaat’.

(28)

konstitusional sudah seharusnya memberikan jaminan konstitusional akan lingkungan yang baik di konstitusi. Jaminan konstitusional lingkungan dalam konstitusi dapat bernilai positif terhadap perlindungan lingkungan dalam beberapa hal. Pertama, jaminan konstitusional memebrikan dasar akan hubungan negara rakyat dan lingkungan. Ketentuan konstitusional mempunyai ranking tertinggi dalam hierarki norma sehingga memberikan kepastian dan kekuatan lebih dari UU, peraturan administrasi, atau putusan pengadilan.

Daftar Pustaka

Budiyono dan Rudy. Konstitusi dan HAM. Bandar Lampung: Justice Publisher,2014.

Jimly Asshiddiqie, Green Constitution, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

(29)

Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jurnal Konstitusi, Volume 7, Nomor 4, Agustus 2010.

Munir Faudi, Teori Negara Hukum Modern, Bandung: Refika Aditama, 2011.

Willy D.S, Negara Hukum dalam Keadaan Pengecualian, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000).

Rudy, Dari Putusan Hijau Mahkamah Konstitusi ke Green Constitution (Refleksi Dinamika Putusan MK dan Penguatan Perlindungan Konstitusional dalam UUD 1945). Dinamika Hukum Lingkungan: Mengawal Spirit Konstitusi Hijau. Bandar Lampung, Indepth Publishing, 2015.

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/4068/DEMOKRASI %20DALAM%20PILKADA%20DI%20INDONESIA%20(Jurnal

%20Humanis%20UNM).pdf?sequence=1.

http://repo.unsrat.ac.id/196/1/MEMBANGUN_HUKUM_NASIONAL_YANG_D EMOKRATIS_DAN_CERDAS_HUKUM_FRANKIANO_B._RANDAN G.pdf.

http://www.spocjournal.com/hukum/389-konsep-negara-hukum-dan-demokrasi-dalam-ajaran-confucius.html.

http://akademik.nommensenid.org/portal/public_html/JURNAL/TULISAN

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini membuat aplikasi rekam jejak mahasiswa berprestasi dengan algoritma K- Means, Belum adanya rekaman jejak informasi mahasiswa berprestasi terintegrasi

Beberapa hal telah berhasil diidentifikasi sebagai komponen- komponen penting yang berkontribusi pada proses inflamasi aterosklerosis, yaitu (1) disfungsi endotel, (2) akumulasi

(4) Untuk memperoleh Izin Prinsip mendirikan usaha hotel, permohonan diajukan secara tertulis diatas kertas bermaterai sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada

Jadual 5 juga menunjukkan mikrostruktur tanah baki granit mempunyai matriks berbutir yang disebabkan oleh kehadiran kuarza dan matriks lempung yang disebabkan oleh mineral

PERBEDAAN KUALITAS HIDUP PASIEN HIPERTENSI DENGAN OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA DAN TANPA OBSTRUCTIVE SLEEP. APNEA DI POLI UMUM PUSKESMAS

Metode analisis yang dapat digunakan untuk penentuan kadar hidrokuinon yang nantinya sekaligus dapat digunakan untuk pengawasan mutu krim pemutih wajah yang mengandung hidrokuinon

Dari hasil uji koefisien regresi linier berganda dan uji t pada penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja guru

Satgas RPIJM daerah perlu merumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya, yang