MAKALAH
HUBUNGAN ANTARA DATA, KONSEP, KONSTRUK, TEORI DAN HUKUM ATAU POTULAT DALAM KONTEKS PENDIDIKAN SAINS
Mata Kuliah : Filsafat Sains
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Wahidin, M.Pd.
Disusun oleh : Nama : Zulfanur
Kelas /semester : Biologi C / VII
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
Nama : Zulfanur NIM :1413163126 Kelas : Biologi C
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan menurut hamdani (2001) merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia sebagai media efektif yang telah teruji mampu mengantarkan dan menyiapkan generasi insani yang berkualitas. Dalam pendidikan tidak terlepas dari ilmu, ilmu dipahami sebagai proses penyelidikan yang berdisiplin. Jadi, ilmu bertujuan untuk meramalkan dan memahami gejala-gejala alam dan ilmu pengetahuan ialah pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan koheren.
B. Rumusan Masalah
1. Apa arti dari pendidikan sains?
2. Bagaimana hakikat dari pendidikan sains?
3. Bagaimana hubungan antara data, konsep, konstruk, teori dan hukum dalam pendidikan sains?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui arti dari pendidikan sains
2. Untuk mengetahui hakikat dari pendidikan sains
3. Untuk mengetahui hubungan antara data, konsep, konstruk, teori dan hukum dalam pendidikan sains
PEMBAHASAN A. Pengertian Pendidikan Sains
Pendidikan Sains menurut Zuhdan (2005) merupakan disiplin ilmu yang didalamnya terkait dengan ilmu pendidikan dan Sains itu sendiri. Sebelum mengetahui lebih jelas mengenai pendidikan Sains serta ruang lingkupnya, Sains memiliki dua pengertian yaitu dari segi pendidikan dan Sains itu sendiri.
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut John Dewey (1978) merupakan “Aducation is all one with growing, with has no end beyond itself” yang berarti pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan, pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik dirinya.
Pendidikan menurut Siswoyo merupakan “proses sepanjang hayat dan perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam arti pengembangan segenap potensi dalam rangka pemenuhan dan cara komitmen manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta sebagai makhluk Tuhan”.
Definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari setiap individu maupun kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan potensi yang ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang diharapkan. Dari definisi di ini dapat dikatakan bahwa pendidikan tidak hanya menitik beratkan pada pengembangan pola pikir saja, namun juga untuk mengembangkan semua potensi yang ada pada diri seseorang. Jadi pendidikan menyangkut semua aspek pada kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebut menjadi lebih baik.
2. Pengertian Sains
memandang sains terhadap sesuatu itu berbeda dengan cara memandang biasa atau cara memandang filosof misalnya dengan cara memandang sains bersifat analisis, melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta dihubungkan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain sehingga secara keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang diamati. Lebih lanjut ia menandaskan bahwa ”the whole science is nothing more than a refinement of everyday thinking”. Kalimat tersebut maksudnya adalah metode berpikir atau pola pikir sains tidak sama dengan pola pikir seharihari, di mana berpikirnya harus menjalani “refinement” sehingga cermat dan lengkap.
Dalam pembelajaran Sains mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup sains yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. Sains terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika, Biologi dan Kimia. Pada apek Fisika sains lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada sapek Biologi sains mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia sains mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam.
Pendidikan sains menurut Sadia (1999) merupakan “usaha untuk menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses sains, memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap sains serta menguasi materi sains berupa fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori sains”. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Sains merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses sains dan dapat dikembangkan di masyarakat. B. Hakikat Pendidikan Sains
Hakikat sains menurut Piaget (dalam Sanjaya, 2008) adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
Kuslan dan Stones dalam buku Samatowa (2006) menyatakan bahwa hakikat sains mencakup dua aspek, yaitu body of knowledge yang sering disebut sebagai aspek produk dan method yang dikenal dengan aspek proses. Jadi, hakikat sains merupakan jembatan bagi para siswa untuk mengungkap dan memahami realitas alam.
Menekankan hakikat sains dalam pembelajaran, merupakan upaya untuk memberdayakan pembelajar melalui pendidikan sains. Hal ini merupakan harapan dalam kegiatan pendidikan secara keseluruhan.
Berdasarkan uraian di atas maka tinjauan terhadap pendidikan sains pada hakekatnya dapat dilihat dari tiga segi, yaitu :
1. Sains sebagai proses
Pengertian sains sebagai proses maksudnya adalah bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut. Pengertian mendapatkan pengetahuan untuk pembelajar dapat berupa konsep-konsep yang sedang dipelajarinya. Penekanan dari hakekat sains sebagai proses adalah pada bagaimana seorang pembelajar menemukan sendiri apa yang sedang dipelajarinya. Yang dimaksud dengan menemukan sendiri disini bukan berarti konsep yang sedang dipelajarinya adalah murni hasil pemikiran pembelajar tersebut. Dalam hal ini, pembelajar masih tetap mempelajari konsep-konsep yang sudah ditemukan oleh para ahli sains, tetapi yang menjadi titik berat adalah bagaimana urutan-urutan atau tahapan-tahap yang dilakukan pembelajar pada saat mempelajari konsep tersebut. Jika pembelajar dalam memahami suatu konsep sesuai dengan urutan atau langkah yang seharusnya, maka berarti pembelajar tersebut telah memahami hakekat sains sebagai proses.
sedangkan kelompok kedua terdiri atas besi, aluminium, tembaga, dan seng dapat menyalakan lampu.
Selanjutnya diharapkan peserta didik dapat menggeneralisasikan sendiri benda-benda lainnya yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dan benda-benda-benda-benda lainnya yang dapat menghantarkan arus listrik. Dari kegiatan yang dilakukannya tersebut, peserta didik dapat mengelompokan sendiri benda yang termasuk isolator dan benda yang termasuk konduktor. Kegiatan seperti itu mencerminkan hakekat pendidikan sains sebagai proses; karena peserta didik pada saat mempelajari konsep isolator dan konduktor.
b. Sains sebagai Produk
Pengertian sains sebagai produk maksudnya adalah lebih menekankan pada memahami apa yang sudah dihasilkan oleh sains itu sendiri misalnya, prinsip-pinsip, hukum-hukum, dan rumus-rumus. Usaha pemahaman peserta didik terhadap prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan penggunaan rumus-rumus yang berlaku dalam sains menunjukkan hakekat sains sebagai produk. Pemahaman yang dilakukan peserta didik terhadap prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan rumus-rumus tidak memerlukan urutan atau tahapan tertentu. Peserta didik cukup memahami isi kandungan dari prinsip atau hukum yang sedang dipelajarinya itu; atau bagaimana caranya menggunakan rumus untuk memecahkan soal yang sedang dibahasnya.
c. Sains sebagai sikap atau nilai
Sains diyakini dapat melatih atau menanamkan sikap dan nilai positif dalam diri siswa. Jujur, dapat bekerja sama, teliti, tekun, hati-hati, toleran, skeptis, merupakan sikap dan nilai yang dapat terbentuk melalui pembelajaran sains.
C. Hubungan antara Data, Konsep, Konstruk, Teori dan Hukum atau Potulat dalam Konteks Pendidikan Sains
1. Pengertian dan contoh dari Data, Konsep, Konstruk, Teori dan Hukum atau Potulat dalam Konteks Pendidikan Sains
a. Data
Data menurut Zuhdan (2005) merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya.
Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi. Dalam IPA suatu fakta dapat dinyatakan dengan matahari terbit dari Timur dan terbenam ke sebelah Barat.
Jenis data menurut cara memperolehnya (Varel, 1965) :
1) Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi.
2) Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial.
Macam-macam data berdasarkan sumber data :
1) Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal.
2) Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi.
Klasifikasi data berdasarkan jenis datanya :
1) Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka.
2) Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna.
b. Konstruk dan Konsep
mengekspresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger menyebut konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah cirri atau standar umum suatu objek.
Pengetahuan tentang konsep penting dipahami karena beberapa alasan. Pertama, untuk menyederhanakan proses riset dengan cara mengombinasikan karakteristik-karakteristis tertentu, objek-objek atau individu-individu ke dalam kategori yang lebih umum. Kedua, konsep menyederhanakan komunikasi diantara orang-orang yang ingin berbagi pemahaman tentang konsep yang digunakan dalam riset. Ketiga, sebagai dasar untuk membangun variable maupun skala pengukurang yang akan digunakan.
Dikemukakan oleh Collette &Chiappetta, menurut Bruner, Goodnow, dan Austin (1965), sebuah konsep setidaknya memiliki 5 unsur, (1) nama, (2) definisi, (3) lambang, (4) nilai, dan (5) contoh. Misalnya konsep tentang perpindahan. Nama dari konsep adalah perpindahan, definisinya adalah sebuah vektor yang arahnya dari benda pada kedudukan awal menuju kedudukan akhir dan mempunyai besar yang sama dengan jarak terpendek antara dua kedudukan. Lambang perpindahan adalah C, mempunyai nilai,
c. Teori
Ilmuwan menggunakan teori untuk menjelaskan pola-pola. Teori merupakan usaha intelektual yang sangat keras karena ilmuwan harus berhadapan dengan kompleksitas dan kenyataan yang tidak jelas dan tersembunyi dari pengamatan langsung. Teori memiliki tujuan yang berbeda dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan hukum-hukum, tetapi ilmuwan menggunakan jenis pengetahuan ini untuk menyajikan penjelasan-penjelasan dari fenomena-fenomena yang terjadi. Teori-teori mempunyai hakikat berbeda dan tidak pernah menjadi fakta atau hukum, tetapi teori tetap berlaku sementara sampai disangkal atau direvisi.
Gambaran visual ini akan lebih sukar diterima ketika meninjau salah satu aspek teori yang menyatakan bahwa sebuah atom sebenarnya 99,99 % kosong. Selain teori atom ada teori relativitas,yaitu tentang lubang hitam yang dikategorikan sebagai teoritis karena diramalkan menurut teori relativitas umum tetapi belum pernah teramati di alam. Terdapat miskonsepsi yang menyatakan apabila sebuah teori ilmiah telah mendapatkan cukup bukti dan telah teruji oleh para peneliti lain tingkatannya akan menjadi hukum ilmiah. Hal ini tidaklah benar karena definisi hukum ilmiah dan teori ilmiah itu berbeda. Teori akan tetap menjadi teori, dan hukum akan tetap menjadi hukum.
d. Hukum
Hukum adalah prinsip yang bersifat spesifik. Kekhasan hukum dapat ditunjukkan dari sifat lebih kekal karena telah berkali-kali mengalami pengujian. Hukum dalam sains merupakan suatu pernyataan yang mengungkapkan adanya hubungan antara gejala alam yang konsisten.
Adapun yang perlu diingat untuk memahami hukum ini adalah: a. Suatu pernyataan
g. Peramalan hanya cocok bila kondisi tertentu yang terbatas itu terpenuhi.
Pengkhususannya dalam menunjukkan hubungan antar variable Hukum-hukum tentang gas, hukum-hukum tentang gerak, dan hukum tentanglistrik sebagai contoh, menentukan hal-hal yang dapat diamati di bawah kondisi-kondisi tertentu. Contohnya dalam sains adalah hukum Archimedes, yaitu “ Suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut”. Maka terjadilah peristiwa benda yang terapung, melayang, dan tenggelam pada air.
Tiga komponen sains menurut Yogiela (2011) dalam blognya menyatakan bahwa produk sains (products of science), proses sains (scientific processes), dan sikap sains (scientific attitudes). Pengetahuan sains yang sering disebut produk sains merupakan akumulasi antara hasil aktivitas empiris dan analisis para ilmuwan. Aspek produk diantaranya adalah fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip, dan teori. Fakta merupakan produk dari aktivitas empiris sains, sedangkan konsep, prinsip, dan teori adalah produk dari aktivitas analisis. Pengetahuan, prinsip, hukum maupun teori-teori merupakan hasil rekaan atau buatan manusia dalam memahami dan menjelaskan alam dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamya. Dengan demikian, sains sebagai suatu produk keilmuwan mencakup konsep, hukum dan teori yang dikembangkan sebagai pemenuhan rasa ingin tahu manusia. Dalam pembelajaran sains, aspek produk tampil dalam bentuk bahan pengajaran yang berisi pokok-pokok bahasan. Ilmuwan menggunakan beraneka ragam prosedur empiris dan analitik dalam usahanya mengungkap realitas semesta. Prosedur inilah yang lebih dikenal sebagai proses sains. Aspek proses, yaitu suatu cara atau metode memperoleh pengetahuan. Metode ini disebut dengan metode keilmuwan. Metode keilmuwan yang baku saat ini merupakan hasil perkembangan sebelumnya. Menurut Fadia (2008) metode keilmuwan merupakan perpaduan antara rasionalisme yang meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melaui pikiran dan empirisme yang meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman. Metode keilmuwan memiliki enam kerangka dasar prosedur yaitu sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah, pengamatan dan pengumpulan data yang relevan, penyusunan atau klasifikasi data, perumusan hipotesis, deduksi dan hipotesis, serta tes dan pengujian kebenaran hipotesis.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Pendidikan Sains merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses sains dan dapat dikembangkan di masyarakat.
2. Hakikat sains mencakup dua aspek, yaitu body of knowledge yang sering disebut sebagai aspek produk dan method yang dikenal dengan aspek proses. Jadi, hakikat sains merupakan jembatan bagi para pembelajar untuk mengungkap dan memahami realitas alam.
3. Sains sebagai suatu produk keilmuwan mencakup konsep, hukum dan teori yang dikembangkan sebagai pemenuhan rasa ingin tahu manusia. Dalam pembelajaran sains, aspek produk tampil dalam bentuk bahan pengajaran yang berisi pokok-pokok bahasan.
DAFTAR PUSTAKA
Fadila, S. 2008. Perkembangan IPA (Sains) di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Sadia,W. et al. 1999. Pengembangan Buku Ajar IPA Pendidikan dasar Berwawasan STM. Laporan Penelitian HB Dirjen Dikti.
Samatowa. 2006 . Membelajarkan IPA. Jakarta: Direktorat Pendidikan Nasional
Vessel, M.F. 1965. Elementary School Science Teaching. New Delhi: Pentice-Hall of India, Ltd.
Zuhdan. 2005. Bahan ajar Pemantapan Penguasaan Materi Pendidikan Profesi Guru Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogjakarta
Zuhairini.2009. filsafat pendiikan islam. Jakarta : Bumi Askara
Yogielka11. 2011. Pengertian science http://yogielka11.blogspot.com/2011/11/pengertian-science.html