• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Perundingan Negosiasi biaya pengawasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tahap Perundingan Negosiasi biaya pengawasan "

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Tahap Perundingan Negosiasi

Terdapat setidaknya dua jenis tahapan dalam kegiatan bernegosiasi. Tahap pertama yaitu, tahap-tahap persiapan negosiasi. Kemudian, tahap kedua yaitu, tahap perundingan dalam negosiasi. Pada kesempatan sebelumnya, penulis telah membahas sedikit mengenai tahap-tahap persiapan negosiasi. Kali ini penulis akan membahas mengenai tahap-tahap-tahap-tahap perundingan dalam kegiatan negosiasi. Jika sebelumnya penulis membahas bahwa tahap persiapan awal negosiasi merupakan hal yang penting dalam proses negosiasi, begitu pula dengan tahap perundingan dalam proses negosiasi karena dari tahap perundingan ini kemudian akan diambil suatu keputusan dan penentuan kesepakatan apa yang disetujui atau diambil oleh masing-masing pihak yang bernegosiasi.

Setidaknya terdapat tiga jenis perundingan dalam negosiasi. Pertama perundingan posisional yang merupakan perundingan yang bersifat tradisional. Perundingan ini didasarkan pada posisi masing-masing pihak dengan mandat yang ketat dan untuk mencapai kesepakatan harus melalui proses menemukan dasar-dasar pemufakatan terlebih dahulu (Guntur, 2010). Kedua, prinsipil yang mendorong perunding untuk lebih kreatif memberi pilihan untuk sama-sama membidik sasarannya. Ketiga, situasional yang berlangsung sebelum perundingan posisional dan prisipil. Perundingan ini merupakan perundingan secara tidak langsung yaitu dengan mengirim pesan melalui pihak ketiga sebelum pertemuan berlangsung (Guntur, 2010).

(2)

mempekuat dan memperjelas posisi dari negara yang diwakili oleh negosiator (Smutko, 2005).

Kemudian, tahapan selanjutnya yaitu tahap pembahasan. Tahap pembahasan ini yaitu, ketika masing-masing pihak saling membicarakan peroalan-persoalan atau isu-isu yang sebelumnya telah di presentasikan oleh negosiator. Pada tahap ini, negosiator juga harus dapat membaca pikiran atau strategi dari lawan sehingga jika terjadi konflik, negosiator dapat cepat dan tanggap untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, serta juga harus menjalankan strategi dan taktik agar pihak lawan mau menyetujui apa yang pihak negosiator ajukan (Smutko, 2005).

Tahap ketiga, yang juga berkaitan dengan tahap-tahap sebelumnya yaitu, tahap menawar. Setidaknya terdapat dua jenis menawar dalam proses negosiasi yaitu, tawar-menawar secara vertikal, dan tawar-tawar-menawar secara horizontal. Tawar-tawar-menawar secara vertikal dilakukan secara bertahap di antara pihak-pihak yang bersangkutan (Anon, 2009). Contoh dari proses tawar-menawar vertikal yaitu antara pelaksana proyek yang akan membangun proyeknya, akan terlebih dahulu bernegosiasi dengan masyarakat untuk setidaknya memberitahukan bahwa proyeknya akan sedikit mengganggu kenyamanan masyarakat (Angelsen, et al., 2013). Kemudian, tawar-menawar secara horizontal yaitu, dilakukan secara langsung antarpihak yang bersangkutan yang memiliki posisi yang sama; misalnya, koordinasi yang terjalin antara menter kehutanan, pertanian, dan pertambangan (Angelsen, et al., 2013).

Selanjutnya, dari semua tahap yang telah dilaksanakan, akan menghasilkan atau akan berpengaruh pada tahap keempat yaitu, evaluasi output yang akan dihasilkan. Terdapat setidaknya empat pola output yang akan dihasilkan yang berupa kesepakatan antara pihak-pihak yang beregosiasi (Lewicki, et al., 2003). Pertama yaitu, win-lose (pihak-pihak negosiator A menang, dan pihak B kalah); kedua, win-win (terjadi kesetaraan atau keuntungan didapat oleh kedua belah pihak yang bernegosiasi); ketiga, lose-win (pihak negosiator A kalah, pihak negosiator B menang); keempat, lose-lose (pihak-pihak yang bernegosiasi sama-sama tidak mendapatkan keuntungan dari proses negosiasi tersebut).

(3)

tahapan-tahapan yaitu, presentasi, pembahasan, tawar-menawar (bargaining), dan juga evaluasi output. Semua tahapan-tahapan perundingan dalam negosiasi, sangat berkaitan erat dengan tahapan persiapan, seperti dalam tahap presentasi, negosiator harus benar-benar mempersiapkan dan memahami isu-isu yang akan dibahas sehingga lebih mudah untuk menyampaikan maksud dan tujuannya kepada pihak lawan dan agar lebih mudah untuk tawar-menawar. Sebaliknya, proses persiapan juga akan sia-sia jika tahapan perundingan tidak dilakukan.

Referensi:

Anon. 2009. Five-Phase Negotiation Process. Houston: Baker Communications.

Angelsen, Arild, et. al. 2013. Menganalisis REDD+ (Sejumlah Tantangan dan Pilihan) [Online]. Tersedia dalam: https://books.google.co.id/books?id=B5I2AgAAQBAJ&pg= PA27&lpg=PA27&dq=negosiasi+horizontal+dan+vertikal&source=bl&ots=jc9lG3aSIp &sig=0_V4x6OMEmm48QJTqT6-tRS2Fug&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiri6yGy8 DJAhWGjo4KHUSuCRUQ6AEIJDAB#v=onepage&q=negosiasi%20horizontal %20dan%20vertikal&f=false [Diakses pada, 3 Desember 2015].

Guntur, Agus. 2010. Strategi Negosiasi. STEKPI: School of Business and Management. Lewicki, Roy J., et al., 2003. Negotiation: Exercise, Reading, and Cases. New York: McGraw

Hill.

Smutko, L. Steven. 2005. Negotiation and Collaborative Problem Solving. Raleigh: North Carolina State University Press.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menimbulkan kekhawatiran para petani ikan, sehingga segala cara yang dianggap praktis, murah dan mudah didapat akan dilakukan termasuk penggunaan bahan-bahan kimia

Sementara itu motif atau makna alih kode (alih bahasa) dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda, meliputi: 1) Merasa janggal (ganjil) tidak berbahasa Sunda dengan orang

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh sarana prasarana sekolah dan kesulitan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tanjung Baru dimulai dari jembatan Kereta Api Dusun III Saung Naga menyusuri sungai Ogan menuju pangkalan mandi Dusun IV

Penentuan lokasi peneliti merupakan salah satu langkah penting dalam penelitian lapangan, dalam penelitian ini penulis menentukan tempat penelitian di Madrasah

Bagi pelaku IKM sektor makanan di Kabupaten Majalengka, pendaftaran HKI terhadap produk yang dihasilkan, tidaklah begitu penting untuk bersaing di pasar. Pelanggan

[r]