BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia masih banyak konsumen yang menggunakan sepeda
untuk kebutuhan sehari-hari. Konsumen tentunya menginginkan suatu
produk yang nyaman dan tangguh. Poros merupakan salah satu bagian dari
sepeda yang funginya tidak dapat diabalkan. Karena poros berfungsi untuk
menahan beban sepeda maupun pengendara sendiri.
Poros merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam bidang
permesinan. Perancangan poros adalah suatu perencanaan dasar dari
perancangan karena poros merupakan salah satu elemen mesin yang
penting dan diperlukan sebagai penumpu dari pemasangan suatu roda pada
suatu konstruksi mesin, khusunya pada suatu kendaraan transportasi yang
sering kita temui di sekitar lingkungan sendiri.
Poros menumpu roda yang terpasang pada poros ini biasanya
diteruskan dengan bantalan/bearing yang merupakan salah satu komponen
mesin yang berfungsi sebagai penumpu poros agar dapat bergerak lebih
halus dan aman. Selain itu bantalan juga berfungsi memperpanjang umur
dari poros yang ditumpunya. Dari poros ke roda di ikat menggunakan baut
dan mur yang merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari
elemen mesin, kedua benda ini sangat sering kita temui yang fungsinya
sebagai pengikat dari satu komponen ke komponen lainnya dari elemen
1.2 Maksud dan Tujuan
Tujuan dari perancangan poros sepeda ini adalah untuk menentukan
diameter poros serta bahan poros yang akan digunakan.
1.3 Batasan Masalah
Dalam perancangan poros sepeda ini dilakukan perhitungan yang
hanya meliputi bagian–bagian dari poros sepeda untuk menentukan
diameter poros yang digunakan.
1.4 Cara Memperoleh Data
Data yang dibutuhkan selama proses perancangan poros ini diperoleh
dengan mengukur jarak bantalan roda , jarak tumpuan body ke poros, tinggi
START
1Beban pada poros belakang W (kg) Jarak bantalan roda g (mm)
Jarak tumpuan body ke poros j (mm) Tinggi titik berat h (mm)
Kecepatan kerja maks. V (km/h) Jari-jari telapak roda r (mm)
2 Momen pada tumpuan roda karena beban statis M1(kg mm)
3.
4 Momen pada tumpuan roda karena gaya vertikal tambahan M2(kg mm)
5 Jarak dari tengah bantalan ke ujung luar bantalan roda a (mm)
Panjang bantalan roda l (mm)
6Beban horizontal P (kg)
Beban pada bantalan karena beban horizontal Q0 (kg)
Beban pada telapak roda karena beban horizontal R0 (kg)
7Momen lentur pada bearing tumpuan roda sebelah dalam karena beban horizontal M3 (kg mm)
8 Macam, pemakaian, bahan, Tegangan lentur yang diizinkan menurut macam roda σWb (kg/mm2) Faktor tambahan untuk tegangan
9 Diameter poros ds (mm)
10 Tegangan lentur pada tumpuan roda di sebelah dalam bearing rodaσb(kg/mm2)
11 Faktor keamanan kelelahan n
1.6 Sistematika Penulisan
Laporan ini terdiri dari 5 Bab, yaitu
Bab 1 berisikan latar belakang, tujuan, batasan masalah, cara memperoleh
data serta sistematika penulisan.
Bab 2 Pada bab ini berakitan dengan pembahasan teori dasar tentang suatu
poros dan komponen yang berkaitan dalam poros roda sepeda.
Bab 3 membahas perhitungan dalam perancangan poros sepeda serta berisi
rumus-rumus perhitungan yang merupakan suatu inti dari proses
perancangan ulang poros roda belakang.
Bab 4 memaparkan analisa dari hasil perhitungan yang diperoleh.
Terakhir adalah Bab 5 berisikan kesimpulan yang merupakan pembahasan
BAB II
TEORI DASAR
2.1 Poros
Poros adalah salah satu Elemen Mesin yang berbentuk silindris memanjang dengan penampang yang biasanya berbentuk lingkaran yang memiliki fungsi sebagai penyalur daya atau tenaga melalui putaran sehingga poros ikut berputar. Jadi, poros bisa dikatakan transmisi atau penghubung dari sebuah elemen mesin yang bergerak ke sebuah elemen mesin yang akan digerakan.
Ada berbagai macam penamaan poros, mulai dari shaft maupun axis ada juga yang menyebut poros sebagai as namun disini as lebih berperan sebagai poros yang statis dan tidak ikut berputar sebagai penyalur daya atau tenaga
Beban yang didukung oleh poros pada umumnya adalah roda gigi, roda daya (fly wheel), roda ban (pulley), roda gesek, dan lain lain. Poros hampir terdapat pada setiap konstruksi mesin dengan fungsi yang berbeda beda. dilihat dari fungsinya poros dibedakan menjadi :
1. Poros dukung : misalnya gandar, poros motor
2. Poros transmisi : misalnya poros motor listrik, poros gigi transmisi pada
gear box
3. Gabungan antara poros dukung dan transmisi : misalnya poros pada roda mobil
Perencanaan poros mengacu pada kekuatan bahan poros. untuk bahan yang liat (ductile material), ukuran poros dihitung dengan menggunakan teori tegangan geser meksimal, sedangkan untuk bahan yang getas (brittle material) dihitung dengan teori tegangan normal maksimal. dimana kedua teori tersebut dikembangkan dari teori tegangan utama yaitu
sebesar 400-800 kg/cm persegi, tegangan geser ijin sebesar 420 kg/cm persegi untuk yang berpasak dan 560 kg/cm persegi yang tanpa pasak. Yang tergolong machinery steels yaitu high carbon steel dan tensile steel. Dipasaran Indonesia yang tergolong kelompok tersebut adalah JIS s 45 c, SCM-4
2.2 Macam-Macam Poros
Poros dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Poros transmisi/Shaft
Poros semacam ini mendapat beban puntir murni atau beban puntir dan lentur. Daya yang ditransmisikan kepada poros melalui kopling, roda gigi, puli sabuk, atau sproket rantai, dan lain–lain.
b. Spindel
Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama pada mesin bubut, dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
c. Line shaft
Poros ini berhubungan langsung dengan mekanisme yang digerakkan dan berfungsi memindahkan daya dari motor penggerak ke mekanisme tersebut.
d. Gandar
Poros seperti yang dipasang di antara roda-roda kereta barang,dimana tidak mendapat beban puntir,bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar,disebut gandar..
2.3 Hal-Hal yang Penting dalam Perencanaan Poros
a. Kekuatan poros
Poros transmisi mengalami beban puntir atau lentur maka
kekuatannya harus direncanakan sebelumnya agar cukup kuat dan
b. Kekakuan poros
Lenturan yang dialami poros terlalu besar maka akan menyebabkan
ketidaktelitian atau getaran dan suara. Oleh karena itu kekakuan poros
juga perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan mesin.
c. Putaran kritis
Putaran kerja poros haruslah lebih rendah dari putaran kritisnya demi
keamanan karena getarannya sangat besar akan terjadi apabila putaran
poros dinaikkan pada harga putaran kritisnya.
d. Korosi
Poros-poros yang sering berhenti lama maka perlu dipilih poros yang
terbuat dari bahan yang tahan korosi dan perlu untuk dilakukannya
perlindungan terhadap korosi secara berkala.
e. Bahan poros
Poros yang biasa digunakan pada mesin adalah baja dengan kadar
karbon yang bervariasi.
Tabel 2.1 Penggolongan Bahan Poros
2.4 Poros dengan Beban Lentur Murni
beban dinamis, tetapi dalam perhitungan yang lebih teliti,beban dinamis dalam arah tegak dan mendatar harus ditambahkan pada beban statis.
2.5 Poros dengan Beban Puntir
Berikut ini akan dibahas rencana sebuah poros yang mendapat pembebanan utama berupa torsi,seperti pada poros motor dengan sebuah kopling.
Jika diketahui bahwa poros yang akan direncanakan tidak mendapat beban lain kecuali torsi, maka diameter poros tersebut dapat lebih kecil daripada yang di bayangkan.
Meskipun demikian,jika diperkirakan akan terjadi pembebanan berupa lenturan,tarikan,atau tekanan,misalnya sebuah sabuk,rantai atau roda gigi dipasangkan pada poros motor,maka kemungkinan adanya pembebanan tambahan tersebut perlu diperhitungkan dalam faktor keamanan yang diambil.
2.6 Poros dengan Beban Puntir dan Lentur
Poros pada umumnya meneruskan daya melaui sabuk,sabuk,roda gigi dan rantai. Beban yang bekerja pada poros umumnya adalah beban berulang. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar. Dengan mengingat macam beban ,sifat beban,dll. ASME menganjurkan suatu rumus untuk untuk menghitung diameter poros secara sederhana dimana sudah dimasukan pengaruh kelelahan karena beban berulang.
2.7 Sepeda
2.7.1 Sejarah Sepeda
Sepeda yang kita kenal sekarang memiliki sejarah yang sangat panjang. Dari bentuk sepeda yang sangat primitif, beroda tiga, hingga kehadiran sepeda dengan berbagai tipe dan model yang kita kenal dewasa ini. Semua tidak lepas dari inovasi dan kreatifitas para ahli dari berbagai bidang yang saling melengkapi satu sama lain..
Ensiklopedia Columbia memperkirakan bahwa nenek moyang sepeda berasal dari Perancis. Menurut catatan sejarah, negeri ini sudah mengenal kendaraan roda dua ini semenjak awal abad ke-18. Mereka menyebutnya dengan velocipede.
Namun, penemu sepeda yang ditemui dari berbagai sumber dan catatan sejarah bukan dari Perancis. Melainkan berkebangsaan Jerman, yaitu Baron Karls Drais von Sauerbronn. Tahun 1818, seorang kepala pengawas hutan bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn dari Jerman menyempurnakan
velocipede.
Sebagai seorang Kepala Pengawas hutan, ia memang membutuhkan alat transportasi untuk mempermudah mobilitas kerjanya yang tinggi. Model sepeda yang dikembangkannya masih sangat sederhana, gabungan antara model sepeda dan kereta kuda. Sejarah kemudian mencatat nama Baron Karls Drais von Sauerbronn atau dikenal juga dengan Karls Drais sebagai penemu sepeda. Karena ia dianggap sebagai peletak dasar pertama teknologi pembuatan sepeda.
Tahun 1839 Kirkpatrick MacMillan seorang pandai besi dari Scotlandia menciptakan pedal besi untuk mengayuh sepeda. Pedal besi ini berfungsi sebagai alat untuk mendorong atau menggerakkan sepeda. Pedal diaktifkan oleh engkol melalui gerakan turun naik kaki dalam mengayuh sepeda. MacMillan kemudian menghubungkan pedal dengan tongkat kemudi atau stang sederhana yang berfungsi penting untuk memandu arah perjalanan sepeda.
Tahun 1855 ditemukan pemberat engkol oleh Ernest Michaux seorang pandai besi berkebangsaan Perancis. Pemberat engkol ini bermanfaat untuk menjaga agar gerak sepeda menjadi lebih stabil.
Tahun 1965 kembali seorang ahli Prancis lainnya, Pierre Lallement, menambahkan lingkaran besi pada roda saat ini kita kenal dengan istilah pelek atau velg–. Selain itu, Lallement juga memperkenalkan model sepeda dengan ban belakang lebih kecil dari pada ban depan.
Selanjutnya, perkembangan industri dan model sepeda terus berkembang pesat. Terutama setelah dikenalnya teknologi pembuatan baja berlubang dan penemuan-penemuan lainnya seperti rem, rantai, stang yang bisa digerakkan dan lain-lain.
2.7.2.Jenis-Jenis Sepeda
Jenis sepeda saat ini sudah semakin beraneka ragam. Dilihat dari jenis dan desainnya, sepeda memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis sepeda yang banyak dipakai masyarakat
Single Speed
Sepeda jenis ini biasanya digunakan di dalam perkotaan yang minim hambatan. Hanya memiliki 1 gir, sehingga pengendaranya tidak perlu mengatur kecepatan pada sepeda. Salah satu dari jenis sepeda single speed ini adalah sepeda fixie, yang sedang digandrungi para kaula muda sekarang.
Road BikeRoad bike atau yang lebih akrab dikenal dengan sepeda balap ini, biasanya digunakan pada jalan raya yang mulus atau beraspal (road). Cocok juga jika Anda menggunakannya untuk bekerja di daerah perkotaan yang umumnya melewati jalan yang sudah beraspal baik. Jenis sepeda ini masih terbagi atas beberapa model lainnya.
Competitive Road Bike
Merupakan jenis sepeda balap yang biasa digunakan untuk pertandingan. Karena fungsinya tersebut, sepeda ini hanya memiliki berat sekitar 5 kg, sehingga sangat ringan untuk diangkat.
Time Trial Bike
Termasuk pengembangan dari Competitive Road Bike. Digunakan untuk pertandingan yang memerlukan kecepatan. Didesain dengan bentuk aerodinamis yang dapat menahan terpaan angin yang dapat menghambat lajunya. Seperti sepeda balap pada umumnya, sepeda ini sangat ringan.
Gambar 2.5 Competitive Road Bike
Mountain Bike
Biasa dikenal dengan sepeda gunung. Sepeda ini cocok digunakan untuk pengendara yang senang berpetualang di alam bebas. Didesain agar dapat menaklukan jalanan alam bebas atau pegunungan yang tidak mulus dan menantang.
All Mountain Bike
Kelebihannya ada pada fitur shock absorber yang biasa dilalui oleh sepeda gunung. Cocok untuk jalan yang terjal karena mampu membuat pengendara tetap nyaman.
Gambar 2.7 Mountain Bike
Free Ride Bike
Bentuk sepeda Freeride hampir mirip dengan jenis bentuk sepeda downhill, mampu menempuh tanjakan berbukit sama baiknya dengan saat menuruninya, namun perbedaan yang mendasar adalah sepeda freeride memiliki suspensinya yang lebih sedikit dan lebih ringan. Sepeda ini biasa digunakan untuk menaklukan medan jalan yang ekstrem.
Downhill Bike
Sepeda ini sangat cocok digunakan untuk menuruni gunung dengan kecepatan tinggi.
Cross Country (XC) Bike
Jika Anda akan melewati medan yang bervariasi. Misal, melalui jalanan beraspal, tanah, datar, menanjak atau menurun, Anda dapat menggunakan sepeda jenis ini untuk melakukan perjalanan.
Gambar 2.9 Free Ride Bike
Sepeda Lipat
Jenis sepeda yang banyak dipilih karena kepraktisannya. Seperti namanya, sepeda ini dapat dilipat sehingga memudahkan untuk dibawa-bawa. Anda mungkin dapat melihat, pengendara yang melipat sepedanya dan naik kereta atau bus. Sehingga jika seluruh perjalanan tidak mungkin ditempuh dengan sepeda, maka dengan sepeda lipat Anda dapat menggunakan transportasi lain untuk sampai ke tujuan. Penyimpannya juga tidak membutuhkan ruang yang besar, karena dapat dilipat.
Gambar 2.11 Cross Country (XC) Bike
2.7.3 Bagian-Bagian Sepeda
Untuk keterangannya sebagai berikut :
1. Frame/Rangka
2. Fork/Garpu
Gambar 2.13 Bagian-bagian sepeda
Gambar 2.14 Rangka Sepeda
3. Atas : Seat Post / Tiang Penahan Sadel (Tempat duduk)
Tengah : Stem / Tiang Penghubung Garpu Depan ke Stang Sepeda Bawah : Handle Bar / Stang
4. Rem / Brake
5. Gigi Depan Penghubung Pedal
Gambar 2.16 Tiang penahan sadel, Tiang Garpu, Stang
Gambar 2.17 Rem
6. Wheel Set/ Roda Berikut Jari-jari dan Komponen Lainnya
7. Chain / Rantai Sepeda
8. Ban
Gambar 2.19 Wheel Set
Gambar 2.20 Rantai Sepeda
2.7.4 Bagian-Bagian Poros Sepeda Belakang
Dari Gambar di atas dapat dilihat beberapa bagian poros roda belakang sepeda, yaitu :
Poros utama
Baut Pengunci
Ring
Mur
2.7.5 Prinsip Kerja Poros Roda Belakang Sepeda
Seperti umumunya poros roda dimana memiliki prinsip kerja yang sama hanya saja terdapat beberapa perbedaan saja. Dari poros roda sepeda ini memiliki prinsip kerja sebgai berikut :
Poros di pasang di body sepeda bagian belakang.
Pemasangan poros pada body belakang sepeda ditumpu pada frame belakang sepeda dan diikat oleh baut pada ujung-ujung poros dengan pengikat ulir yang terdapat pada poros.
Pada poros tersebut di pasang 2 bearing untuk penempatan hub ke roda sehingga roda belakang sepeda dapat berputar, karena dipasangnya hub roda belakang dengan roda gigi dan dikaitkan
rantai sebagai pemindah trasmisi putaran dari kaki pengendara melalui pedal kayuh, sehingga roda belakang pun dapat berputar.
2.7.6 Gaya-Gaya yang Bekerja
BAB III
PERHITUNGAN
3.1 Perhitungan Poros Roda Belakang Sepeda
Melakukan perhitungan untuk mendapatkan diameter, bahan dan perlakukan panas poros roda belakang sepeda. Serta memiliki kecocokan antara poros dalam aslinya dengan hasil perhitungan
3.1.1 Data yang Diperoleh
Massa Sepeda : 9,5 kg
Massa Pengendara : 100 kg
Beban Statis pada Poros Belakang (W) : 30,76 kg
Jarak Bantalan Roda (g) : 140 kg
Jarak Tumpuan Body ke Poros (j) : 160 kg
Tinggi Titik Berat (h) : 480 mm
Kecepatan Kerja Maksimum (V) : 50
km
h
W = 109,5 kg (massasepeda + pengendara)
Ra 430 mm 598 mm Rb
A B
Jari-Jari Telapak Roda (r) : 279,5 mm
3.1.2 Perhitungan Distribusi Beban pada Masing-Masing Roda
DBB :
Subtitusi Persamaan 1 dan 2 Ra + Rb = 109,5 kg
Ra = 109,5 – 78,74
= 30,76 kg (Beban pada poros belakang sepeda)
3.1.3 Menentukan Momen pada Tumpuan Roda Karena Beban Statis
M1 =
j - g) W
¿ ¿ ¿
M1 : Momen pada tumpuan roda karena beban statis (kg.mm) j : Jarak tumpuan body ke poros (mm)
g : Jarak bantalan roda (mm)
M1=
Dari tabel pada buku Sularso hal. 15 ditentukan beberapa ketentuan.
Tabel 3.1 Tabel penentuan αv dan αL dari kecepatan kerja
Data yang di dapat dari tabel berhubungan dengan kecepatan kerja. Pada sepeda diperoleh, bahwa kecepatan sepeda maksimum bisa mencapai 50 km/jam. Jadi untuk αv = 0,4 dan αL = 0,3
3.1.5 Momen pada Tumpuan Roda Karena Gaya Vertikal Tambahan
M2 = αV.M1
M2 : Momen pada tumpuan roda karena gaya vertikal tambahan (kg.mm) αV : Harga yang didapat dari tabel 3.1
M1 : Momen pada tumpuan roda karena beban statis (kg.mm)
M2= 0,4 x 153,8
= 61,52 kg.mm
3.1.6 Input Data
Jarak dari penumpu poros ke bantalan roda (a) = 9 mm
Panjang bearing roda (l) = 5mm
3.1.7 Mencari Pengaruh Beban Horizontal Beban horizontal
P = αL.W
P : Beban horizontal (kg)
Kecepatan Kerja Max. (km/jam) αv αL
αL : Harga yang di dapat dari tabel 3.1 W : Beban statis pada poros belakang (kg) P= 0,3 x 30,76
= 9,23 kg
Beban pada bantalan karena beban horizontal
Qo = P
(
hj)
Qo : Beban pada bantalan karena beban horizontal (kg) P : Beban horizontal (kg)
h : Tinggi titik berat (mm)
j : Jarak tumpuan body ke poros (mm)
Qo = 9,23
(
480160)
= 27,69 kg
Beban pada telapak roda karena beban horizontal
Ro = P
(
h + r g
)
Ro : Beban pada telapak roda karena beban horizontal (kg) P : Beban horizontal (kg)
h : Tinggi titik berat (mm)
r : Jari-jari telapak roda (mm)
g : Jarak bantalan roda (mm)
Ro= 9,23
(
480 + 279,5140
)
= 50,08 kg
3.1.8 Momen Lentur pada Bearing Tumpuan Roda Sebelah Dalam
M3 = P + Qo (a + l) - Ro [(a + l) – (j – g) / 2]
Qo : Beban pada bantalan karena beban horizontal (kg)
a : Jarak dari penumpu poros ke bantalan roda (mm)
l : Panjang bearing roda (mm)
Ro : Beban pada telapak roda karena beban horizontal (kg) j : Jarak tumpuan body ke poros (mm)
g : Jarak bantalan roda (mm)
M3 = 9,23 + 27,69 (9 + 5)–50,08[(9 + 5) – (160 – 140) / 2]
= 187,57 kg.mm
3.1.9 Tegangan Lentur yang Diizinkan
Sebelum mecari tegangan lentur yang diizinkan kita perlu mengetahui bahan dari poros sepeda ini sebagai berikut :
Standar dan Macam Lambang Perlakuan Panas Kekuatan tarik (kg/mm2)
Tabel 3.2 Baja karbon dan baja batang yang difinis dingin
Dari tabel 3.2, baja yang dipilih adalah S55C (Baja karbon JIS G4501)
Kekuatan tarik (σB) 66 kg/mm2
Faktor keamanan beban statis 6 (SF1) ; dipilih dengan harga 6 karena
untuk baja berbahan S-C dengan pengaruh massa dan baja paduan, dan harga SF1-nya adalah 6
Faktor keamanan beban dinamis 2 (SF2) ; sedangkan kenapa untuk
harga ini dipilih 2, karena pengaruh konsentrasi tegangan tidak terlalu besar akibat dari putara bantalan pada poros, maka untuk nilai SF2-nya
dengan rentan harga 1,3 sampai 3,0 dipilih harga 2,0.
Pemakaian Gandar Faktor Tambahan Tegangan m
Gandar pengikut (tidak termasuk dengan rem cakeram)
1,0
Gandar yang digerakkan ; di tumpu pada ujungnya
1,1 – 1,2
Gandar yang digerakkan ; lenturan silang
1,1 – 1,2
Gandar yang digerakkan ; lenturan terbuka
1,2 – 1,3
Tabel 3.3 Faktor tambahan tegangan pada gandar
Faktor tambahan tegangan dikutip dari tabel sularso hal. 13, yaitu di
atas pada tabel 3.3 dengan ketentuan gandar yang digerakkan ; ditumpu pada ujung-ujungnya (m) = 1,2
σ
Wb= σBSF1 x SF2
3.1.10Diameter Poros
m : Faktor tambahan tegangan
M1 : Momen pada tumpuan roda karena beban statis (kg.mm)
M2 : Momen pada tumpuan roda karena gaya vertikal (kg.mm)
M3 : Momen lentur pada bearing tumpuan roda sebelah dalam (kg.mm) σWb : Tegangan lentur yang diizinkan (kg/mm2)
ds ≥
[
10,25,5 x 1,2 (153,8 + 61,52+ 187,57
]
1 3
ds ≥ 9,65 mm = 10 mm
3.1.11Tegangan Lentur Pada Tumpuan Roda Di Sebelah Dalam Bearing Roda
σb : Tegangan lentur pada tumpuan roda disebelah dalam
bearing roda (kg/mm2) m : Faktor tambahan tegangan
M1 : Momen pada tumpuan roda karena beban statis (kg.mm) M2 : Momn pada tumpuan roda karena gaya vertikal (kg.mm) M3 : Momen lentur pada bearing tumpuan roda sebelah
dalam (kg.mm)
σb=
[
10,2x1,2(153,8 + 61,52+ 187,57)]
1 3103
σb= 0,018 kg/mm2
3.1.12 Faktor Keamanan Kelelahan
n = σWb
σb
≥1
n : Faktor keamanan kelelahan
σWb : Tegangan lentur yang diizinkan (kg.mm2)
σb : Tegangan lentur pada tumpuan roda di sebelah dalam
bearing roda (tegangan yang terjadi) (kg.mm2)
n = 0,0185,5
n = 305,56
305,56 ≥1
hal ini memenuhi persyaratan perancangan yaitu n ≥ 1, sehingga hasil perancangan dapat dikatakan baik.
3.1.13 Ketentuan untuk Faktor Keamanan
Dari buku Sularso ditentukan bahwa untuk factor keaman yang dihitung harus memenuhi (n) lebih dari atau sama dengan satu, dan hasil di atas hasilnya adalah 305,56 berarti factor keamanan untuk poros adalah baik.
3.2 Hasil Perhitungan
Diameter poros roda (ds) : 9,65 mm → 10 mm
Bahan poros : S55C (baja karbon konstruksi mesin
BAB IV
ANALISA
Dari hasil perhitungan poros roda belakang sepeda diambil beberapa analisis sebagai berikut :
Diperoleh diameter poros pada perhitungan sebesar 9,65 mm di
bulatkan ke atas menjadi 10 mm itu untuk memperkuat poros sendiri dimana kelengkapan standar untuk poros sepedanya adalah berdiamater 10 mm di pasaran.
Faktor keamanan kelelahan dihasilkan lebih besar dari 1 yaitu dalam
standar faktor keamanan kelelahan mimimal harganya adalah 1, itu berarti poros yang dirancang termasuk baik dari segi faktor keamanan kelelahan.
Dari perancangan ulang poros roda belakang sepeda di dapatkan
BAB V
KESIMPULAN
Hasil yang diperoleh dari perancangan poros belakang sepeda gunung yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
Momen pada tumpuan roda : 153,,8 kg.mm karena beban statis (M1)
Momen pada tumpuan roda : 61,52 kg.mm karena gaya vertikal tambahan (M2)
Beban Horizontal (P) : 9,23 kg
Beban pada bantalan karena
beban horizontal (Qo) : 27,69 kg
Beban pada telapak roda : 50,08 kg
karena beban horizontal (Ro)
Momen lentur bearing : 187,57 kg.mm tumpuan roda sebelahdalam (M3)
diizinkan(
σ
Wb) Diameter poros (ds) : ≥ 9,65 mm → 10 mm
Kekuatan tarik bahan (σb) : 0,018 kg/mm2
Faktor kemanan kelelahan (n) : 305,56
Bahan poros : S30C (baja karbon konstruksi mesin
JIS G 4501)
DAFTAR PUSTAKA
1. Suga Kiyokatsu & Sularso, Dasar perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradnya Paramitha : Jakarta, 1997
2. Sato, G. Takeshi dan N. Sugiarto H. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Pradnya Paramita: Jakarta,1999