KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Tuhan YME karena atas rahmat dan hidayahNya,maka makalah yang diberi judul “Globalisasi dalam Islam ” ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Dalam makalah ini penulis ingin memaparkan tentang pengaruh globalisasi dalam pengaruh negatif maupun pengaruh positif serta keterkaitannya dengan ajaran islam.
Didalam proses penyusunan makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
DAFTAR ISI
Sampul ... i
Kata Pengantar... 1
Daftar Isi ... 2
BAB I (Pendahuluan) ... 3
BAB II (Pembahasan) ... 5
BAB III (Penutup) ... 13
Daftar Pustaka ... 17
BAB I
(PENDAHULUAN)
1.1. Latar Belakang Masalah
itu juga, sementara jarak tempuh yang sedemikian jauh dapat dijangkau dalam waktu yang singkat sehingga dunia ini menjadi seperti sebuah kampung yang kecil, segala sesuatu yang terjadi bisa diketahui dan tempat tertentu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat.
Persoalan-persoalan yang terjadi di suatu negara yang semula disembunyikan atau ditutup-tutupi menjadi transparan dan dapat diketahui secara detail, begitu juga dengan persoalan-persoalan pribadi seseorang yang dipublikasikan melalui media massa. Dalam konteks ekonomi-politik, kenyataan tersebut bahkan dijadikan faktor penting untuk melihat kemungkinan memudarnya batas-batas teritorial negara-bangsa.
Proses globalisasi ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan nilai-nilai agama. Realitas ini mendapat respon yang cukup beragam dari kalangan pemikir dan aktivis agama. Agama sebagai sebuah pandangan yang terdiri dari berbagai doktrin dan nilai memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat. Hal ini diakui oleh para pemikir, antara lain Robert N. Bellah dan Jose Casanova, mereka mengakui pentingnya peran agama dalam kehidupan sosial politik masyarakat dunia. Dalam konteks ini agama memainkan peranan yang penting di dalam proses globalisasi. Agama bukan hanya pelengkap tetapi menjadi salah satu komponen penting yang cukup berpengaruh di dalam berbagai proses globalisasi. Karena begitu pentingnya peran agama dalam kehidupan masyarakat, maka perlu kiranya kita memahami sejauh mana posisi agama di dalam merespon berbagai persoalan kemasyarakatan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dapat di rumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
2. Bagaimana pandangan Islam mengenai Globalisasi? 3. Dampak Globalisasi?
BAB II
(PEMBAHASAN)
2.1. Pengertian Globalisasi
wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
2.2. Pandangan Islam mengenai Globalisasi
Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah peradaban islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas islam menyerukan kepada semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an,
o Semenjak abad VII H., nabi Muhamad SAW. sudah menerapkan konsep globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya ketika beliau mengirim utusannya membawa surat-surat beliau kepada para raja dan para pemimpin di berbagai negara tetangga. Di antara para raja dan pemimpin itu adalah Raja Romawi dan Kisra Persia. Dengan demikian, ketika beliau wafat maka seluruh bangsa Arab sudah mampu meneruskan globalisasi yang telah dirintis oleh beliau. Perlu dipahami bahwa globalisasi islam berangkat dari kesatuan antara tataran konseptual dan tataran aktual, dan ini merupakan salah satu keistimewaan islam. Bahkan menurut Fathi Yakan, globalisasi islam memiliki keistimewaaan-keistimewaan, yaitu:
Memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban
Membangun suatu masyarakat yang adil dan memiliki kekuatan
Memiliki landasan atau konsep kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, baik status sosial, etnis, kekayaan, warna kulit dan sejenisnya
Menjadikan musyawarah sebagai landasan sistem politik
Menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat kemanusiaan dan lain-lain
Globalisasi yang kita pahami adalah globalisasi islam. Dalam kerangka filosofis keumatan, kita harus memahami bahwa islam adalah aturan universal yang bisa menjangkau dunia. Ia bisa melampaui ruang dan waktu, dan tak terbatasi. Globalisasi islam adalah proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain-lain.
Apabila kita mengkaji secara mendalam tentang globalisasi, akan ditemui beberapa fakta penting:
Pertama: Globalisasi hanya baru dari sudut istilah, tidak dari sudut maksudnya. Ini kerana pertukaran, pemindahan dan perkongsian dalam berbagai tempat sudah berlaku di antara manusia. Bahkan antara tujuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan manusia adalah untuk mereka saling “berglobalisasi” seperti firman-Nya:
Artinya: Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan
perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu
berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya
semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih
keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam
PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).[13]
Kedua: Globalisasi tidak seluruhnya membawa manfaat dan tidak seluruhnya membawa mudarat. Ia bercampur aduk antara manfaat dan mudarat, antara positif dan negatif. Globalisasi pasar-pasar yang besar misalnya, membawa manfaat peluang pekerjaan, peningkatan ekonomi negara dan kemudahan kepada pelanggan. Akan tetapi ia juga membawa mudarat seperti penindasan kepada pedagang kecil yang kecil dan pmbuangan uang bagi pelanggan yang tidak berhemat dalam membeli barang.
Ketiga: Sekali pun globalisasi pada mulanya bermaksud pertukaran, pemindahan dan kerjasama antara negara, kenyataannya menunjukkan bahwa ia tidak berwujud dalam bentuk dua hal yang adil. Sebaliknya, ada negara yang bersifat “mengglobalisasi” dan ada negara yang bersifat “diglobalisasi”.
Maksud saya dengan “mengglobalisasi” adalah negara yang menyebarkan ilmu, pemikiran, ekonomi, kebudayaan dan agama mereka kepada negara lain. dan “diglobalisasi”, adalah negara yang bersifat hanya menerima ilmu, pemikiran, ekonomi, kebudayaan dan agama dari negara yang “mengglobalisasi” tanpa menilai sama membawa manfaat atau mudarat.
2.4 Dampak Globalisasi
terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).
Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut. Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb. di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain.
2.5. Langkah dasar menghadapi globalisasi
Berikut ini langkah – langkah dasar dilakukan oleh generasi muda islam menghadapi globalisasi.
1. Penguasaan atas referensi keIslaman
Penguatan keislaman akan menjadi pegangan kita menghadapi Globalisasi. Kisah – kisah rasul yang menjdi tauladan untuk kita. seperti kata pepatah ”Tak kenal maka tak sayang”. Pelajaran penting dari fenomena-fenomena tersebut adalah bahwa dalam dunia yang penuh dengan kreasi ini, penuh dengan tantangan yang mengglobal seperti saat ini, yang harus kita lakukan adalah merasionalisasikan pemahaman yang kita yakini secara terbuka yang dilandasai oleh ‘penguasaan’ atas ilmu pengetahuan atau kemampuan ‘mendialogkan islam’ secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun. Dan peran ‘berani tampil’ ini merupakan langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata. Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama peradabannya.
Yang jelas, kebangkitan umat islam akan menjadi catatan sejarah dengan berbagai dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin.
Kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Yang jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka, memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan sesaat.
Artinya, Indonesia harus menjadi inisiator sekaligus pelaku utama kebangkitan islam dalam merekayasa peta baru peradaban dunia. Jika ini yang menjadi titik tolak obsesinya, maka dalam waktu yang tidak lama kebangkitan islam akan menjadi kenyataan, dan itu berawal dari Indonesia. Negeri ini adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, negeri ini idealnya mesti menjadi pelaku utama dalam meretas peran-peran besarnya sebagai juru bicara kebaikan-kebaikan Islam di belahan dunia.
3. Penguatan diplomasi dan jaringan
bisa melihat bagaimana islam itu berkembang dan diakui bahkan diyakini oleh banyak manusia sebagai satu-satunya ‘dien’ yang mampu menyeting peradaban untuk waktu yang cukup lama.
Melalui ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa rahasia kekuatan umat islam terletak pada mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari akhir ayat tersebut, yakni kefaqihan ummat pada agamanya. Kuncinya ada pada al-fiqh. Yang dimaksud al-fiqh di sini bukanlah fiqih dalam terminologi ilmu hukum Islam semata. Lebih dari itu, al-fiqh sesuai dengan makna dasarnya adalah al-fahmud-daqiq atau pemahaman yang mendalam mengenai substansi dan berbagai sisi agama dan peradabannya. Jadi mengetahui (al-‘ilm) saja tidak cukup, perlu ditingkatkan ke level memahami (al-fahm). Tapi memahami juga tidak cukup, perlu pendalaman hingga pada tingkat pemahaman yang mendalam (al-fiqh) atau al-fahmud-daqiq.
2.6. Peran Agama di dalam Kehidupan Masyarakat Islam
Barat berusaha membuat sains selaras dengan agama, di saat sains telah berkembang, nilai agama selalu diabaikan mereka memisahkan urusan antara agama dan negara, karena dianggap urusan agama merupakan hal yang sacral, hal ini selanjutnya disebut dengan sekularisasi, dengan adanya sekularisasi inilah lambat laun nilai-nilai agama akan pudar.
sosial modern yang ahli dalam sains sosial barat dan akhirnya yang mereka lakukan adalah menyesuaikan lembaga-lembaga sosial mereka dengan ideologi barat.
Agama, terlahir awalnya adalah berasal dari keyakinan terhadap adanya yang ghaib, yang mempunyai kekuatan supranatural yang pada mulanya agama-agama muncul dari unsur kebudayaan sebuah masyarakat sebagai bagian ritus transendental yang didominasi kekuatan mistis, agama ini lahir dalam bentuk-bentuk yang plural sesuai dengan corak ekonomi sosial tiap-tiap masyarakat pada masanya[4].dimna agama diturunkan guna memberikan aturan-aturan hidup yang akan membawa kebahagiaan bagi kehidupan manusia.
Fungsi agama adalah sebagai landasan dimana individu itu bertindak atau melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Selain daripada fungsi agama sebagai landasan dalam tindakan individu agama juga sebagai pengendali di dalam langkah kehidupan masyarakat, selain itu agama sebagai pemersatu umat manusia karena adanya persamaan keyakinan maka peran agama di dalam perkembangan masyarakat:
(1) Agama sebagia motivtor, yaitu penyemangat dalam mencapai cita-cita di dalam seluruh aspek kehidupan.
(2) Agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja kreatif dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik pula.
BAB III
(PENUTUP)
3.1. Kesimpulan
yang dulunya tradisional berubah menjadi masyarakat yang modern. Globalisasi merupakan suatu pandangan masyarakat global yang merujuk pada perkembangan tatanan kehidupan, mulai dari perkembagan sektor perekonomian, perdagangan dan teknologi informasi. Namun, perkembangan itu tidak selalu merujuk pada hal-hal positif saja, banyak dampak-dampak negatif globalisasi di rasakan masyarakat.
Globalisasi yang cenderung ke arah westernisasi yang bersumber dari masyarakat Barat, yang akan mempengaruhimasyarakat akan berpola hidup ke barat-baratan ketika terkena arus globalisasi. Begitu juga dengan nila-nilai agama yang telah tercipta akan terpengaruh dengan pola pikir barat. Dunia globalisasi dapat dikatakan cenderung pula pada dunia yang tak mengenal moral, sekularisasi dan merupakan bentuk hegemoni barat terhadap Negara berkembang. Sekarang Di Indonesia sendiri yang merupakan Negara mayoritas beragama islam telah terkena pengaruh barat. Nila-nilai dari ajaran agama Islam telah banyak yang luntur, karena globalisasi bersifat sekularistik, materialistik dan liberal serta tidak mengenal moral karena selalu menjunjung pada kebebasan berpendapat dan melekukan sesuatu sesuai hak asasinya. Umat islam diberbagai penjuru merasakan sebuah ketidakadilan, terutama dimana mereka hidup sebagai minoritas di Negara-negara non-muslim. Oleh karena itu umat islam harus waspada untuk menghadapi globalisasi.
3.2. Saran
Memahami bahaya meniru orang non muslim apalagi sampai membeo kepada mereka. Karena kita akan digolongkan seperti mereka.
Umat Islam harus membangun ukhuwah Islamiyah dan lebih mengedepankannya daripada ukhuwah atas dasar basyariyah, wathaniyah dan lainnya. Karena itulah persaudaraan yang sesungguhnya. Innamal mukminun ikhwah.
Umat Islam harus memperkuat jalinan ikatan dan networking ekonomi, politik, pendidikan dsb untuk membangun kekuatan global umat Islam. Sehingga kelak bisa memimpin globalisasi.
Menyadari dan memikirkan nasib anak-anak dan generasi umat Islam mendatang, yang jika globalisasi ini tak terkendali maka generasi umat Islam kelak hanya akan menjadi pembeo dan pak turut dari globalisasi yang disetir barat, yang naudzubillah bisa membahayakan aqidah dan agama mereka. Maka kita harus bentengi mereka dengan aqidah yang lurus.
DAFTAR PUSTAKA
Qardhawi, Yusuf, Islam dan Globalisasi Dunia, terj. dari buku Muslimun wa Al-Aulamah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. I. 2001.
http://hasyim-aq.blogspot.com (Di akses pada Senin 25 november 2013 pukul 15.30)