• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengukur Kualitas Citra Hasil Steganogra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengukur Kualitas Citra Hasil Steganogra"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Mengukur Kualitas Citra Hasil Steganografi

Oleh Achmad Solichin, S.Kom, M.T.I ([email protected]), 16 April 2015

Sekilas Steganografi

Steganografi berasal dari bahasa Yunani yaitu Steganós yang berarti menyembunyikan dan

Graptos yang artinya tulisan sehingga secara keseluruhan artinya adalah tulisan yang disembunyikan. Secara umum steganografi merupakan seni atau ilmu yang digunakan untuk menyembunyikan pesan rahasia dengan segala cara sehingga selain orang yang dituju, orang lain tidak akan menyadari keberadaan dari pesan rahasia tersebut. Steganografi sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu untuk kepentingan politik, militer, diplomatik, serta untuk kepentingan pribadi sebagai alat komunikasi.

Dari masa ke masa, steganografi digunakan untuk menyembunyikan pesan rahasia dalam berbagai media. Bahkan diantaranya masih menjadi misteri hingga saat ini. Contoh yang fenomenal adalah pesan tersembunyi yang konon disematkan oleh Leonardo da Vinci pada lukisan terkenalnya Mo alisa . Kisahnya diceritakan dengan apik dalam sebuah novel berjudul Da Vi ci Code ya g ke udia di-film-kan dengan judul yang sama.

Pada era digital seperti saat ini, selain untuk menyembunyikan pesan, teknik steganografi juga digunakan untuk keperluan lain seperti sebagai penanda keaslian suatu dokumen digital dan penanda kepemilikan sebuah dokumen digital. Media yang digunakan untuk menyembunyikan pesan juga beragam, mulai dari teks, citra (image), audio hingga video. Citra merupakan salah satu media yang paling banyak digunakan dalam steganografi, karena berbagai kelebihan yang dimilikinya. Jika dibandingkan dengan teks, citra memiliki jangkauan area penyembunyian yang lebih luas. Setiap titik (pixel) terdiri dari 3 buah channel yang mewakili komponen warna R (red), G (green) dan B (blue).

(2)

mengenai bagaimana mengukur kualitas citra (image) hasil steganografi. Dalam proses steganografi secara umum, hasil pengukuran kualitas citra merupakan hal yang penting dalam rangka mengetahui seberapa baik teknik steganografi yang digunakan. Bagi Anda yang sedang skripsi atau thesis dan mengambil topik steganografi, perlu nih ditambahkan pada bagian evaluasi.

Pengukuran Kualitas Citra Hasil Steganografi

Sebuah teknik steganografi citra yang baik setidaknya harus memenuhi 4 kriteria yaitu tidak terlalu dapat dibedakan secara inderawi (imperectible), mutu citra hasil steganografi masih cukup baik (fidelity), tahan terhadap operasi citra dasar seperti rotasi dan perubahan ukuran citra (robustness), dan pesan yang disisipi dapat dipisahkan kembali (recoverable). Untuk menguji keempat kriteria tersebut perlu dilakukan serangkaian pengujian.

Secara umum, pengukuran kualitas citra yang sudah disisipi pesan melalui teknik steganografi tertentu (sering disebut sebagai stego-image) dapat dilakukan melalui 3 (tiga) aspek, yaitu:

1. Imperectibility. Aspek ini berusaha mengetahui seberapa mudah sebuah stego-image dapat terdeteksi oleh inderawi manusia. Pengujian tingkat imperectibility dilakukan secara manual dengan melibatkan sejumlah responden yang diminta mengisi sebuah kuesioner. Pada umumnya kuesioner berisi sejumlah citra yang diuji dan responden diminta membedakan antara citra asli dengan citra yang sudah disisipi (stego-image). Hasil kuesioner dihitung secara statistik dan ditentukan berapa persentase tingkat

imperectibility-nya.

2. Fidelity. Pengujian terhadap aspek mutu (fidelity) citra hasil steganografi dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satu metode yang paling banyak digunakan adalah dengan mengukur nilai MSE (Mean Square Error) dan PSNR (Peak Signal to Noise Ratio). Keduanya merupakan sebuah nilai yang memiliki satuan dB (desibels). Semakin rendah nilai MSE maka kualitas citra semakin baik. Sementara itu, mutu stego-image dikatakan baik jika nilai PSNR 40 dB atau lebih. Bagaimana menghitung nilai MSE dan PSNR? Akan dijelaskan pada bagian selanjutnya dari artikel ini.

3. Robustness. Tingkat ketahanan citra hasil steganografi terhadap operasi dasar seperti rotasi dan resize merupakan aspek yang cukup penting. Pesan yang terkandung di dalam stego-image seharusnya tidak rusak walaupun citra diputar, diperbesar atau diperkecil. Pengujian terhadap tingkat ketahanan citra dapat dilakukan dengan mengenakan operasi tertentu terhadap citra stego lalu dilihat apakah pesan yang disisipi masih dapat diambil atau tidak.

(3)

Menghitung MSE dan PNSR

Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) merupakan perbandingan antara nilai maksimum dari sinyal yang diukur dengan besarnya derau yang berpengaruh pada sinyal tersebut. PSNR biasanya diukur dalam satuan decibel (dB). PSNR digunakan untuk mengetahui perbandingan kualitas citra cover (asli) sebelum dan sesudah disisipkan pesan. Untuk menentukan PSNR, terlebih dahulu harus ditentukan nilai MSE (Mean Square Error). MSE adalah nilai error kuadrat rata-rata antara citra asli dengan citra manipulasi (dalam kasus steganografi ; MSE adalah nilai error kuadrat rata-rata antara citra asli (cover-image) dengan citra hasil penyisipan (stego-image).

Nilai PSNR dan MSE dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.

� = ��� ���

� = . ∑ ∑ − �

= =

dimana:

 Cmax adalah nilai pixel terbesar pada keseluruhan citra.

 x dan y adalah koordinat suatu titik pada citra.

 M dan N adalah dimensi dari citra.

 S adalah citra tersisipi (stego-image)

 C adalah citra asli (cover image)

PSNR sering dinyatakan dalam skala logaritmik dalam decibel (dB). Nilai PSNR jatuh dibawah 30 dB mengindikasikan kualitas yang relative rendah, dimana distorsi yang dikarenakan penyisipan terlihat jelas. Akan tetapi kualitas stego-image yang tinggi berada pada nilai 40dB dan diatasnya.

Berikut ini adalah contoh perhitungan PSNR. Citra asli (cover image) adalah citra yang belum disisipi pesan, dan citra akhir (stego-image) adalah citra yang sudah disisipi pesan.

Nilai pixel citra asli berukuran 3x3 pixel.

7 1 1 2 3 4 5 0 6

Nilai pixel citra akhir berukuran 3x3 pixel.

(4)

Selanjutnya hitung nilai PSNR:

� = ��� ���

� = ��� ,

� = ,

Demikian penjelasan mengenai bagaimana mengukur kualitas citra hasil steganografi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam memahami topik steganografi.

Referensi

 http://ketutrare.blogspot.com/2014/07/mse-dan-psnr.html

 https://cogierb201.wordpress.com/2012/05/08/teknik-menyembuyikan-pesan-dengan-steganografi/

 http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/computer-science/2009/Artikel_11104284.pdf

 https://danangjunaedi.files.wordpress.com/2011/02/latihan-soal-fidelity-criteria.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Membangun aplikasi yang dapat merahasiakan pesan ke dalam citra dengan menggunakan dua teknik yaitu enkripsi dan dekripsi menggunakan algoritma.. Knapsack serta teknik

ANALISIS METODE ALGORITMA COEFFICIENT DIFFERENCE DALAM IHWT PADA STEGANOGRAFI UNTUK CITRA DIGITAL. Diajukan untuk memenuhi salah satu

Pada penelitian ini akan diimplementasikan teknik steganografi ke dalam program aplikasi untuk menyembunyikan data berupa file teks, file gambar, dan file suara ke dalam

Oleh karena itu pada penelitian ini digunakan unsharp masking yang merupakan teknik perbaikan citra untuk memperbaiki kualitas citra hasil citra keabuan pada citra

Tidak ada perubahan yang signifikan antara citra yang asli dan citra yang telah disisipkan pesan, maka dari itu teknik steganografi cukup efektif untuk menyembunyikan pesan karena

Peningkatan mutu citra diperlukan karena seringkali citra yang dijadikan objek pembahasan mempunyai kualitas yang buruk, misalnya citra mengalami derau, kabur

Metode peningkatan mutu citra dengan kontras tingkat keabuan ini akan membuat histogram piksel citra merata memenuhi bagian atas dan bawah dari daerah tingkat keabuan sehingga

 Citra yang dihasilkan metode Qiang mempunyai nilai yang berada diluar kriteria citra ideal (visually optimal).. R 0 5699 Rata-rata 0.5699 Rata-rata Simpangan Baku