• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN FISKAL DALAM MEMACU dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN FISKAL DALAM MEMACU dalam"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN FISKAL DALAM MEMACU

PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI DAN

INFRASTRUKTUR

FEB UNIKA Atma Jaya

Prodi Ekonomi Pembangunan

Andreas Andrew Toedjono

2013 013 010

(2)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 2

HALAMAN PENGESAHAN

Esai yang berjudul

“KEBIJAKAN FISKAL DALAM MEMACU PERTUMBUHAN SEKTOR

INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR”

adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil jiplakan atau kopian dari penulis

lain.

Esai ini disusun oleh :

Andreas Andrew Toedjono

Martinus Christian Mbui

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Ekonomi

Pembangunan Universitas Khatolik Indonesia

(3)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 3

SURAT PERNYATAAN ORIGINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama Lengkap : Andreas Andrew Toedjono 2013013010

Martinus Christian Mbui 2013013022

Universitas : UNIKA Atma Jaya, FEB Ekonomi Pembangunan

Alamat Universitas : Jl. Jendral Sudirman No.51, Jakarta Selatan

Telepon : (62-21) 5727615, 5703306, 5708823.

Menyatakan bahwa esai ini, yang berjudul ‘KEBIJAKAN FISKAL DALAM MEMACU PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR’ adalah sepenuhnya ditulis oleh peneliti dan penulis menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang pengetahuan saya, di dalam esai ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Jakarta, 25 September 2015

(4)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 4

DAFTAR ISI

1 COVER

2 HALAMAN PENGESAHAN

3 SURAT PERNYATAAN ORIGINALITAS

4 ABSTRAK

5 PENDAHULUAN

8 LANDASAN TEORETIS

8 Definisi Kebijakan Fiskal

9 Instrumen dan Jenis Kebijakan Fiskal

10 Tujuan dan Fungsi Kebijakan Fiskal

10 Kebijakan Fiskal Ekspansif

11 METODOLOGI PENULISAN

12 INSENTIF FISKAL UNTUK MENINGKATAN INVESTASI DALAM INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR

14 Insentif fiskal dan Investasi Industri

16 Pengeluaran Pemerintah dan Infrastruktur

18 KESIMPULAN

(5)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 5

ABSTRACT

The decreasing trend in global economic growth results in global economic volatility and uncertainty. This condition leads to recession in numerous region. In Indonesia, it has an impact on economic growth. The figure is 4,7% this year, a decrease from last year’s 5%. Therefore, to stimulate the economy, the Indonesian Government is putting in the effort to attract investors, both domestic and foreign, to invest in Indonesia. Manufacturing and infrastructure are the sectors which posseses the most significant impact on the republic’s economic growth. Thus, improvements in these sectors are of utmost importance. The implementation of an incentive-driven fiscal policy is the best way to stimulate investment in the mentioned sectors. Incentives given through tax holidays or tax allowances can attract investors to entrust their funds in Indonesia. But, an incentive-compatible fiscal policy is not enough. Strengthening the investment climate and deregulation of policies must be done as well. One of the ways is to cut bureaucracy with PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu or the “one-stop service in investment coordination”), together with industrial clustering. Other than that, government spending also has an important role for the investment climate. Steering government spending in a direction focused on infrastructure is also an important move to increase growth and stimulate investment in this sector.

(6)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 6

PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi nasional sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup berat karena volatilitas dan uncertainty perekonomian global. Perlambatan kinerja perekonomian global terjadi diberbagai negara-negara yang berpengaruh besar pada perekonomian global seperti Uni eropa, China dan Jepang. Realisasi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2015 diperkirakan sedikit menurun sekitar 3,3% dari 3,4 % pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh karena membaiknya perekonomian Amerika dan menguatnya mata uang Dolar terhadap mata uang negara lain.

Gambar 1. Pertumbuhan ekonomi 2013 – 2016

Sumber: World economic outlook 2015 IMF

Berhadapan dengan ketidakstabilan ekonomi dunia, Pemerintah Indonesia seharusnya memiliki strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ekonomi nasional yang terjadi. Strategi dan arah pembangunan yang paling tepat adalah penguatan ekonomi domestik. Selain kebijakan moneter, kebijakan fiskal memiliki peranan penting dalam stabilisasi ekonomi dan menciptakan tingkat kegiatan ekonomi domestik ke arah yang lebih baik. Kebijakan fiskal umumnya merepresentasikan pilihan-pilihan pemerintah dalam menentukan besarnya jumlah pengeluaran atau belanja dan jumlah pendapatan, yang secara eksplisit digunakan untuk mempengaruhi perekonomian (Subiyantoro,2004). Berbagai pilihan tersebut dalam prakteknya, diwujudkan melalui anggaran pemerintah, yang di

7,70% 7,40%

(7)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 7 Indonesia lebih dikenal dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam kenyataanya, APBN malah digunakan untuk keperluan yang kurang produktif. Subsidi BBM, misalnya, dapat digunakan untuk sektor-sektor yang lebih produktif seperti pembangunan infrastruktur.

Selain penempatan APBN yang tepat sasaran dan produktif, pajak sebagai salah satu instrumen fiskal harus dioptimalkan. Selama ini pemerintah hanya melihat pajak sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan pendapatan negara. Padahal di beberapa negara maju seperti Amerika, China dan Jepang, pajak bukanlah satu-satunya sumber pendapatan utama negara. Pemberian insentif pajak seperti pengurangan tarif PPh, tax holidays (income yang tidak dikenakan PPh untuk suatu periode tertentu), investment allowances dan tax credits (pengurangan pajak didasarkan atas jumlah investasi) terbukti mendongkrak pendapatan negara. Irlandia, Mauritus dan Singapura adalah contoh negara yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan investasi industri melalui penerapan kebijakan pembebasan atas pajak tidak langsung.

Sektor industri dan infrastruktur merupakan elemen pertumbuhan ekonomi yang saling berkaitan dan bertajuk pada stabilitas perekonomian domestik. Peningkatan pada dua sektor tersebut merupakan motor pertumbuhan ekonomi. Mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan, infrastruktur menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan ekonomi. Kesenjangan pemerataan pembangunan infrastruktur adalah salah satu indikator lambannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Infrastruktur terbatas, pertumbuhan industri pun terhambat. Korelasinya jelas. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat memacu pertumbuhan kedua sektor tersebut.

(8)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 8 Fiskal sebagai salah satu instrumen pemerintah harus dimanfaatkan. Insentif fiskal dapat dimanfaatkan guna menarik para investor agar mampu berinvestasi di Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis berupaya mencari solusi untuk meningkatkan investasi sektor infrastruktur dan industri melalui insentif fiskal agar sektor tersebut mampu berkembang guna mencapai pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi yang diinginkan.

LANDASAN TEORETIS

Definisi Kebijkan Fiskal

Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Sebaliknya, kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum. Dalam literatur klasik, terdapat beberapa perbedaan pandangan mengenai kebijakan fiskal, terutama menurut teori Keynes dan teori klasik tradisional (Nopirin, 2000). Pada prinsipnya Keynes berpendapat bahwa kebijakan fiskal lebih besar pengaruhnya terhadap output daripada kebijakan moneter. Hal ini didasarkan atas pendapatnya bahwa, pertama elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga kecil sekali (extrim-nya nol) sehingga kurva IS tegak. Kebijakan fiskal yang ekspansif akan menggeser kurva IS kekanan sehingga output meningkat. Sedangkan ekspansi moneter dengan penambahan jumlah uang beredar pada kurva IS yang tetap tidak akan berpengaruh terhadap output. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal akan lebih efektif dibandingkan dengan kebijakan moneter.

(9)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 9 langkah ini akan menaikkan pendapatan nasional dan tingkat penggunaan tenaga kerja. Menurut Mankiw (2008) kebijakan fiskal sebagai pilihan pemerintah terkait tingkat pengeluaran dan pajak. Bila diputuskan besar pengeluaran melampaui penerimaan maka kebijakan fiskal akan berkaitan pula dengan aspek pinjaman/utang (Barrow, 1987 dalam Heru Subiyantoro , 2004). Kebijakan fiskal juga merupakan sarana untuk mempecepat pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya mengurangi pengagguran dan kemiskinan (Restrepo, 2011). Menurut Nopirin (1987) kebijakan fiskal terdiri dari perubahan pengeluaran pemerintah atau perpajakkan dengan tujuan untuk mempengaruhi besar serta susunan permintaan agregat. Indikator yang biasa dipakai adalah budget deficit yakni selisih antara pengeluaran pemerintah (dan juga pembayaran transfer) dengan penerimaan terutama dari pajak.

Istrumen dan Jenis Kebijakan Fiskal

Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:

 Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi

 Pola persebaran sumber daya

 Distribusi pendapatan

Pemerintah menjalankan kebijakan fiskal dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian dan berusaha mencapai keadaan yang diinginkannya. Melalui kebijakan fiskal, antara lain pemerintah dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional, dapat mempengaruhi kesempatan kerja, dapat mempengaruhi tinggi rendahnya investasi nasional, dan dapat mempengaruhi distribusi penghasilan nasional.

(10)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 10 menimbulkan terjadinya kestabilan dalam kegiatan ekonomi. Kebijakan ini biasa disebut kebijakan fiskal pasif. Instrumen kebijakan fiskal otomatis biasanya dilakukan dengan perpajakan yang bersifat progresif dan proporsional, sistem asuransi pengangguran, dan kebijakan harga minimum, sedangkan kebijakan fiskal diskresioner (discretionary fiscal policy) aktif adalah tindakan yang diambil pemerintah dalam bidang pengeluaran pemerintah atau penerimaan pajak yang secara khusus dapat mengubah sistem yang ada. Sedangkan menurut Sukirno dan Sadono (2006), dalam kebijakan ini pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang dapat mengubah pengeluaran negara atau mengurangi pungutan pajak dari masyarakat. Tujuan yang hendak dicapai adalah mengurangi gejolak atau naik turunnya kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu dan bertujuan untuk menciptakan suatu tingkat kegiatan ekonomi dengan tingkat penggunaan tenaga kerja yang tinggi serta terhindar dari masalah inflasi, sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Tujuan dan Fungsi Dari Kebijakan Fiskal

Menurut Subiyantoro (2004) kebijakan fiskal sebagai sarana untuk meningkatkan pembangunan ekonomi bermaksud mencapai tujuan sebagai berikut, yaitu untuk meningkatkan laju investasi, mondorong investasi optimal secara sosial, meningkatkan kesempatan kerja, stabilitas ekonomi ditengah ketidak stabilan internasional, menanggulangi inflasi, meningkatkan dan mendistribusikan pendapatan nasional. Selain itu, kebijakan fiskal juga merupakan sarana untuk memobilisasi sumber daya, meningkatkan investasi, menyediakan infrastruktur, dan pengelolaan energi (Sujai, 2011).

Kebijakan Fiskal Ekspansif

(11)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 11 pengangguran dimana Uaktual > Ualamiah. Kebijakan ekspansif dilakukan dengan cara menaikkan pengeluaran pemerintah (G) atau menurunkan pajak (T) untuk meningkatkan output (Y), adapun mekanisme peningkatan pengeluaran pemerintah ataupun penurunan pajak (T) terhadap output adalah sebagai berikut, pada gambar 2 dapat dijelaskan bahwa disaat pengeluaran pemerintah (∆G) naik

atau selisih pajak (∆T) turun maka akan menggeser kurva pengeluaran agregat

keatas sehingga pendapatan akan naik dari (Y1) menjadi (Yf).

Gambar 2. Kurva Fiskal Ekspansif

Sumber: Raman, A. 2009, Analisis Efektivitas Kebijakan Fiskal Dan Moneter Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia

METODOLOGI PENULISAN

Pendahuluan: Bagian ini berisi kondisi perekonomian dunia umumnya dan Indonesia khususnya serta berbagai permasalahan perekonomian di Indonesia karena kebijakan yang kurang produktif.

Landasan Teoretis: Bagian ini berisi teori-teori yang dipakai penulis dalam menganalisis serta menyarankan kebijakan yang hendak diambil pemerintah dalam permasalahan yang terjadi.

Metodologi Penulisan: Berisi teknik penulisan dan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan.

Analisis: Bagian ini berisi hasil analisis dan kebijakan fiskal yang akan diambil berhadapan dengan situasi yang tengah terjadi.

(12)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 12 Esai ini ditulis menggunakan penelitian kepustakaan, yaitu berbagai referensi buku, jurnal, dan makalah yang ada di perpustakaan Universitas Atma Jaya Jakarta maupun referensi lainnya.

INSENTIF FISKAL UNTUK MENINGKATAN INVESTASI

DALAM INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR

Kebijakan fiskal seharusnya menjadi salah satu pemacu stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi perekonomian domestik yang lesuh, sebagai akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global, sektor riil yang menjadi sumber pendapatan pemerintah dari pajak tidak bisa diharapkan lagi. Dampak melambatnya ekonomi dunia memberi impact pada kondisi ekonomi domestik. Pembebanan pajak kepada sektor riil malah menambah beban yang berdampak pada penurunan produktivitas. Tambahan lagi, banyak penggunaan anggaran untuk sektor-sektor yang kurang produktif menyebabkan pemerintah kurang optimal dalam merangsang pertumbuhan sektor riil.

Salah satu sektor riil yang berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri. Pemerintah harus membuat kebijakan yang tepat agar sektor ini dapat menjadi pelopor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di saat kondisi ekonomi dunia yang sedang lesuh seperti saat ini, pemerintah tidak bisa hanya menunggu investor asing maupun domestik untuk berinvestasi.

Gambar 3. Pertumbuhan PDB Riil per sektor

(13)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 13 Pada gambar 3 diatas, sektor industri memiliki peran yang besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kontribusi sektor industri selama tahun 2014 sebesar 21,02 % dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,63 % dari total pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 5,02%. Pertumbuhan sektor industri tersebut didukung oleh tingginya tingkat konsumsi dan investasi di sektor industri. Oleh karena itu, potensi dari sektor industri masih dapat dikembangkan melalui kebijakan – kebijakan yang mendukung optimalisasi sektor ini. Salah satu kebijakan yang mendukung adalah insentif fiskal bagi para pelaku industri.

Peningkatan produktivitas dan selanjutnya stabilisasi perekonomian pada sektor industri, insentif pajak dapat menjadi sarana untuk menarik investor asing dan domestik untuk berinvestasi. Insentif tersebut dapat berupa pengurangan bea ekspor, tax holiday, pengurangan PPH, tax allowance. Selanjutnya, anggaran pemerintah seharusnya digunakan untuk sektor-sektor yang dapat memacu pertumbuhan, misalnya pembenahan infastruktur. Perubahan kebijakan yang telah dibuat pemerintah dengan mengurangi subsidi BBM yang kurang tepat sasar dan mengalihkan kepada sektor yang lebih produktif seperti infrastuktur sudah merupakan kebijakan penempatan anggaran yang baik. Pada gambar 4 terlihat jumlah subsidi BBM pada APBN dari tahun 2007 – 2015.

Gambar 4. Pertumbuhan Subsidi BBM Sumber: Budget in brief APBN 2015

(14)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 14 enggannya investor asing untuk berinvestasi karena hal tersebut. Oleh karena itu, seiring dengan insentif pajak yang diberikan, pengembangan sektor infrstruktur pun menjadi prioritas guna memaksimalkan potensi output yang dimiliki.

Insentif Fiskal Dan Investasi Industri

Pemberian insentif fiskal akan sangat bermanfaat bagi investor swasta terutama pada saat membayar pajak. Hal tersebut dapat membuat pihak investor melakukan ekspansi usaha dan berkontribusi terhadap pertumbuhan investasi di Indonesia. Menurut Hassett dan Hubbard (2002) insentif pajak berpengaruh terhadap investasi, dimana peningkatan cost of capital 1% akibat pajak membuat investasi turun sekitar 0,5 % – 1 %. Sementara dalam penelitian Mintz and Tarasov (2008), respon FDI akan meningkat 3 point GDP jika Marginal Effective Taxes Rates (METRs) turun 10 %. Karenanya, pemerintah harus berupaya untuk membuat keseimbangan antara penerimaan pajak yang agresif, namun tetap dalam aturan yang benar sehingga diharapkan dapat mendorong investasi swasta masuk ke Indonesia.

Beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk memacu investasi di bidang industri adalah sebagai berikut: Pertama, bagi investor asing yang ingin menanamkan modal di Indonesia melalui FDI, pemberian tax holiday (fasilitas pengurangan atau pembebasan PPH) dapat menjadi opsi guna menarik minat investasi terutama kepada industri yang telah go public karena laporan keuangannya transparan; Kedua, tax allowance diberikan terutama pada industri yang berorientasi ekspor juga bagi industri yang melakukan riset dan pengembangan (R&D); Ketiga, keringanan pajak dikawasan ekonomi khusus, artinya setiap perusahaan yang masuk dalam kawasan ekonomi khusus berhak mendapat fasilitas tax allowance ataupun tax holiday.

(15)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 15 mendorong terciptanya transformasi keunggulan komparatif menuju keunggulan kompetitif.

Selain itu, pemerintah harus juga menyiapkan kebijakan pro industri berbasis mikro. Industri mikro memiliki peranan penting selain industri – industri besar. Salah satu kebijakan yang bisa dilakukan adalah memberikan subsidi secara tepat sasar bagi para pengusaha industri mikro. Subsidi yang diberikan disesuaikan berdasarkan basis usaha industri yang dijalankan, misalnya subsidi alat – alat (equipment) penunjang industri. Menurut Hassett dan Hubbard (2002), negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi adalah negara yang berinvestasi lebih pada equipment. Diharapkan dengan adanya subsidi tersebut industri – industri kecil mampu berkembang pesat.

Gambar 5. Hubungan insentif fiskal dengan Iklim Investasi

Sumber: Tax and Non-Tax Incentives and Investments: Evidence and Policy Implications (James, 2009)

Gambar di atas menunjukan bahwa insentif fiskal tidak memiliki dampak yang baik selama iklim investasi pada suatu negara tidak mendukung. Iklim investasi yang buruk misalnya, birokrasi yang berbelit, pungli, infrastrukur pendukung kurang memadai, dan tidak terintegrasi. Maka, pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada kondisi iklim investasi (James, 2007).

(16)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 16 mempermudah perizinan berusaha dan berinvestasi. Penerapan PTSP diharapkan menjadi sebuah jawaban dari keluhan yang sering disampaikan oleh para calon investor terkait dengan lamanya proses perizinan berinvestasi di Indonesia.

Selain mengandalkan investasi pihak swasta, investasi dari pemerintah masih menjadi salah satu kontributor dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan memanfaatkan tambahan alokasi belanja dalam APBN-P 2015 yang berasal dari pengalihan subsidi energi. Salah satunya dilakukan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama yang bergerak dalam sektor strategis seperti infrastruktur guna mendukung program pembangunan.

Pengeluaran Pemerintah dan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses pembangunan nasional, mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti: transportasi, telekomunikasi, sanitasi, energi, dan sebagainya. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini menjadi dasar dari pembangunan ekonomi yang berkelanjutan pada suatu negara.

Keadaan infrastruktur di Indonesia belum sepenuhnya layak untuk menjadi penopang kegiatan industri yang mendukung pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Konsekuensinya, produk ekonomi tidak terdistribusi secara merata dan tidak sampai tepat waktu ke daerah tujuan. Potensi sumber daya yang dimiliki tidak dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien sehingga kesenjangan antardaerah selalu terjadi. Alokasi dana APBN yang tidak tepat sasar menjadikan penyerapan dan penggunaan dana menjadi tidak produktif. Alokasi APBN yang terlalu membebankan kepada subsidi juga dapat menyebabkan Indonesia terjebak didalam middle income trap.

(17)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 17 kegiatan industri tersebut. Jika kondisi infrastruktur suatu negara baik, maka para investor pun akan lebih tertarik berinvestasi di negara tersebut. Selain itu, kegiatan bisnis yang dijalankan juga berjalan lebih baik dan menguntungkan jika kondisi infrastruktur lebih baik.

Infrastruktur yang memadai menjadikan kegiatan industri lebih efektif dan produktif. Produk industri pun dapat terdistribusi secara merata dan lebih efisien. Barang-barang komoditi dapat disalurkan ke daerah-daerah pelaku industri dengan mudah dan tidak menimbulakan cost yang besar, ketimbang harus mengimpornya dari luar negeri. Selain itu, pelaku industri dapat membuka usahanya di daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya yang besar dan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru di tempat tersebut, dengan tujuan peningkatan daya beli dan kesejahteraan rakyat. Hal itu merupakan dukungan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak multiplier bagi kegiatan ekonomi dan memperbesar peluang kegiatan ekonomi dari pihak swasta.

Oleh karena itu, guna menunjang pertumbuhan sektor industri pemerintah mengalokasikan dana melalui APBN untuk memacu pertumbuhan sektor tersebut dan pemerintah mengarahkan kebijakan agar infrastruktur sebagai sektor utama guna menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika dilihat pada gambar 6, persentase anggaran untuk sektor infrastruktur dari tahun ke tahun selalu meningkat.

(18)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 18 Selain mengandalkan dana APBN untuk mengimbangi pertumbuhan sektor industri dan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur secara keseluruhan, investasi swasta baik domestik maupun asing dapat dijadikan partner dalam pengembangan infrastruktur. Salah satu cara yang dapat dilakukan pemerintah, adalah kerjasama antara BUMN dan swasta dalam bentuk public private partnership, rencana induk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, tujuan APBN dapat dimaksimalkan untuk belanja modal yaitu infrastruktur.

Investasi asing dalam rangka pembangunan infrastruktur seperti kereta cepat dan MRT, yang merupakan hasil kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang, bermanfaat bagi para pelaku ekonomi dalam mendistribusikan produknya secara merata. Selain itu pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan raya, telekomunikasi, listrik, dan saluran air sangat membantu mempercepat kegiatan ekonomi dan terdistribusinya produk ekonomi di Indonesia.

KESIMPULAN

Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara untuk mengarahkan kondisi perekonomian menjadi lebih baik. Tentu saja kebijakan fiskal ini berbasis pada sumber-sumber penerimaan dan alokasi pengeluaran negara yang terbatas sebagaimana tercantum dalam APBN. Adapun kebijakan fiskal sebagai sarana menggalakkan pembangunan ekonomi bermaksud mencapai tujuan peningkatan laju investasi dan pendistribusian hasil produksi yang merata. Kebijakan insentif fiskal dinilai mampu menggenjot pertumbuhan investasi di Indonesia melalui sektor industri. Tax holiday dan tax allowance merupakan salah satu bentuk insentif fiskal yang mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi di Indonesia.

(19)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 19 investasi yang baik, deregulasi peraturan harus dioptimalkan. Salah satunya adalah penerapan PTSP.

Selain kebijakan insentif fiskal, infrastruktur pun menjadi faktor pendukung dalam keberhasilan investasi di Indonesia. Infrastruktur yang memadai mengundang investor untuk berani berinvestasi di Indonesia. Peningkatan anggaran untuk pembangunan infrastruktur menjadi langkah produktif untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kerjasama antara pemerintah dengan BUMN dan pihak swasta, melalui penerapan kebijakan public private partnership untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, adalah langkah tepat dalam perencanaan pembangunan ekonomi.

Insentif fiskal berupa pengurangan pajak terhadap pelaku industri dan peningkatan pelayanan infrastruktur melalui alokasi APBN, yang berfokus pada belanja modal berupa infrastruktur, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan dan mendongkrak investasi baik asing maupun domestik di Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan tersebut perlu dioptimalkan guna meningkatkan investasi dan daya saing ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Hassett, Kevin, dan Hubbard, G. 2002. Tax Policy and Business Investment,In Alan Auerbach and Martin Feldstein (eds.), Handbook of Public Economics, Vol.III, 1293-1343. Amsterdam: North-Holland.

International Monetary Fund (IMF). 2015. World Economic Outlook. Washington D.C: International Monetary Fund.

(20)

Kebijakan Fiskal Dalam Memacu Pertumbuhan Sektor Industri dan Infrastruktur 20 James, S. 2009. Incentives and Investments: Evidence and Policy Implications.

Washington D.C: The World Bank Group.

Mankiw, N. 2008. Principles of Economics. Australia: South-Western.

Muliani,S. Agustus,8 2007. Menkeu Tetapkan Tarif Bea Masuk Impor Barang. Suara Pembaruan.

Nopirin. 1987. Ekonomi Moneter Buku II. Yogyakarta: BPFE-UGM

Nopirin. 2000. Pengantar Ilmu Makro dan Mikro. Yogyakarta:BPFE-UGM

Raman, A. 2009, Analisis Efektivitas Kebijakan Fiskal Dan Moneter Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia, Tesis, Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara

Satrowardoyo, S. September,4 1997. Tak Ada Diskriminasi Dalam Pemberian Tax Holliday. Media Indonesia

Subiyantoro dan Heru. 2004. Kebijakan Fiskal Pemikiran, Konsep, dan Implementasi. Jakarta: PT.Kompas Media Nusantara

Sukirno dan Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Sujai, M. 2011. Dampak Kebijakan Fiskal Dalam Upaya Stabilisasi Harga Komoditas Pertanian. Analisis Kebijakan Pertanian, Vol .9 (4), 297-312.

http://www.anggaran.depkeu.go.id, Diunduh tanggal 14 dan 16 September 2015

http://www.bps.go.id, Diunduh tanggal 16 September 2015

(21)

Gambar

Gambar 1. Pertumbuhan ekonomi 2013 – 2016
Gambar 2. Kurva Fiskal Ekspansif
Gambar 3. Pertumbuhan PDB Riil per sektor
Gambar 4. Pertumbuhan Subsidi BBM
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dilansir dari Internetlivestats.com (2017) sekitar 40% populasi dunia memiliki koneksi internet sekarang ini, sedangkan di tahun 1995, kurang dari 1%. Jumlah pengguna internet

Mapping , subjek dapat mencari hubungan yang identik dari karakteristik antara masalah sumber dan masalah target kemudian membangun kesimpulan untuk selanjutnya hubungan

didirikan oleh bangsa Arab sebelum kedatangan Islam bertujuan memberikan pendidikan kepada anak-anak.Namun lembaga pendidikan ini tidak mendapat perhatian dari

bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sam bagi setiap warganegara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang

Bank Mega menganalisis kinerja keuangannya dengan melakukan perbandingan laporan keuangan yaitu nilai laba bersih, pendapatan operasional, dan kredit yang

Hasil Uji Beda Penyerapan Cd oleh Fraksi Terlarut ( Soluble ) Antar Konsentrasi.. Padatan

7 Beberapa software engineers berpendapat bahwa “my code is self-documenting”. Mereka beranggapan cukup dengan source code sudah merupakan dokumentasinya, sehingga tidak

Bidang Sumber Daya Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, koordinasi, pembinaan, bimbingan, pengendalian, pengembangan teknis