• Tidak ada hasil yang ditemukan

Defisit Anggaran Dan Implikasinya Badan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Defisit Anggaran Dan Implikasinya Badan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 

KEMENTERIAN KEUANGAN

Serambi  Publikasi Artikel  Artikel Anggaran dan Perbendaharaan  Defisit Anggaran dan Implikasinya

Defisit Anggaran dan Implikasinya

Kebijakan  defisit  selama  ini  terlihat  bahwa  defisit  merupakan  kebijakan  yang  tidak  dapat dihindari untuk dilakukan. Alasan utamanya terjadi gap antara penerimaan dan pengeluaran. Di satu sisi  penerimaan  tumbuh  lebih  rendah  daripada  tingkat  pengeluaran  terutama  peningkatan  pada  sisi pengeluaran  rutin.  mengharuskan  pemerintah  melakukan  kebijakan  kontraktif  dengan  memperbesar pengeluaran  yang  ditujukan    untuk  menggenjot    sisi  produksi  sehingga  meningkatkan  pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah  berkomitmen  mempertahankan  kebijakan  makro  ekonomi  yang  mengedepankan prinsip kehati­hatian, termasuk dalam pengelolaan anggaran  yang tidak defisit berlebihan. Pada saat yang  sama,  pemerintah  berupaya  senantiasa  mengantisipasi  keadaan  ekonomi  dunia  yang  penuh ketidakpastian.

Kata kunci: Defisit Anggaaran dan Implikasinya

I.  Latar Belakang

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan suatu komponen penting  di dalam  penyelenggaraan    suatu  negara.  Hal  tersebut  dapat  dimengerti  karena  APBN  merupakan “mesin” penggerak penyelenggaraan negara.

Dalam penyusunan APBN biasanya diadakan pada dua pilihan, antara kebijakan defisit atau surplus.  Kebijakan  defisit  menjadi  pilihan  ketika  tujuan  makro  ekonomi  dimaksudkan  untuk menciptakan  pertumbuhan  ekonomi  yang  tinggi,  sehingga  pemerintah  lebih  banyak    melakukan pengeluaran  (ekspansif).  Tetapi  sebaliknya  jika  tujuan  anggaran  adalah  mengendalikan  laju pertumbuhan  ekonomi maka pemerintah akan mengurangi pengeluarannya (kontraktif).

Bagi  Indonesia,  berdasarkan  sejarah  kebijakan  APBN­nya  bahwa  kebijakan  defisit  selalu menjadi pilihan utama, bahkan kebijakan defisit  mempunyai hubungan dengan rezim kekuasaan. Dengan  defisit  memberikan  konsekuensi  tekanan  berat  dalam  APBN,  yaitu  lewat  pembayaran bunga  dan  cicilan.  Akibat  kebijakan  defisit    juga  APBN  menjadi  sensitif  terhadap  kondisi  makro ekonomi.

Dengan  latar  belakang  permasalahan  defisit  anggaran  yang  selalu  muncul  dalam  setiap penyusunan  APBN,  dengan  sendirinya  defisit  telah  menjadi  pilihan  tetap  dalam  kebijakan

(2)

anggaran.  Oleh  karena  itu,  tulisan  ini  akan  dijelaskan  kenapa  harus  defisit  anggaran,  apa penyebabnya dan implikasinya dalam perekonomian nasional.

II. PEMBAHASAN

a.   Pengertian

Ilmu  dan  praktek  ekonomi  mengenal  alternatif.  Pengeluaran  tidak  perlu  mengecil,  tetapi penerimaan  yang  mengecil  pada  tahun  ini  bisa  ditutup  dengan  penerimaan  yang  lebih  besar  dari tahun­tahun mendatang. Artinya, sebagian penerimaan dari tahun ini merupakan utang yang harus ditutup  oleh  tahun­tahun  mendatang.  Istilahnya  adalah  anggaran  defisit/defisit  anggaran.  Dengan kata lain defisit anggaran terjadi apabila pengeluaran pemerintah melebihi penerimaannya, dan jika sebaliknya adalah surplus, yaitu apabila penerimaannya lebih besar daripada pengeluarannya.

Kegiatan  ekonomi  keseluruhan  tidak  perlu  menciut,  laju  pertumbuhan  ekonomi  tidak  perlu tertahan.  Hanya  saja  pengeluaran  tahun  ini  menjadi  lebih  besar  daripada  penerimaan  tahun  ini. Sesungguhnya  alternatif  itu  juga  sudah  dilaksanakan  dalam  anggaran  negara  kita.  Apa  yang disebut  sebagai  penerimaan  pembangunan  (pembiayaan)  pada  dasarnya  adalah  utang  dari  luar negeri yang diharapkan bisa dilunasi dari penerimaan tahun­tahun mendatang.

Sejak tahun 2003  APBN anggaran kita sudah defisit, bahkan dapat dikatakan tahun­tahun mulai  periode  orde  lama,  orde  baru,  dan  sampai  pemerintahan    saat  ini  kebijakan  defisit  sudah dijalankan  dan sampai saat ini masih dipertahankan  sebagai kebijakan anggaran.

b.  Penyebabnya

  Adapun  faktor  penyebab  terjadinya  pembengkakan  pengeluaran  negara  salah  satunya karena tingginya tingkat pembangunan ekonomi, sehingga pengeluaran meningkat  dengan cepat, sedangkan laju pertumbuhan penerimaan yang tidak diharapkan atau laju penerimaan yang tidak stabil.  Penyebab  defisit  bisa  muncul  dalam  kondisi  krisis  ekonomi,  karena  keadaan  ini  akan berimbas  kepada  anggaran  negara.  Dalam  keadaan  krisis  akan  memaksa  pemerintah  untuk mengadakan pengeluaran ekstra untuk memperbaiki keadaan ekonomi (pemulihan ekonomi). Oleh karena  itu,  ekspansi  anggaran  akan  memacu  pertumbuhan  ekonomi,    dengan  demikian  dapat dikatakan penyerapan dan efektivitasnya merupakan masalah krusial.

Anggaran negara dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi belanja negara dan sisi pendapatan. Dalam  dua  tahun  anggaran  dapat  dilihat  komposisi  anggaran  yang  dalam  APBN  Perubahan (APBN­P)  2015  belanja  ditetapkan  Rp  1.984,1  triliun.  Jumlah  itu  lebih  tinggi  Rp  107,3  triliun dibandingkan dengan APBN Perubahan (APBN­P) 2014 sebesar Rp 1,876,8 triliun. APBN­P 2015 defisit direncanakan Rp 222,5 triliun, turun dibandingkan dengan APBN 2014 defisit sebesar 241,5 triliun.  Dengan  defisit  tersebut  diharapkan  lebih  ekspansif  dalam  memacu  perekonomian  untuk mencapai  pertumbuhan  ekonomi,  karena  setiap  penambahan  pengeluaran  akan  mendorong pertumbuhan ekonomi asal ditujukan untuk belanja yang produktif.

Penurunan  defisit  dapat  terjadi  penerimaan  negara  meningkat  lebih  besar  dibandingkan dengan    perkiraan  perubahan  dari  sisi  pengeluaran.  Adapun  menyebab  rendahnya  pengeluaran: pertama,  tertundanya  penyelesaian  anggaran;  kedua,  rendahnya  pembiayaan  subsidi    dan pembayaran  bunga  utang    luar  negeri  yang  diikuti  dengan  lebih  cepatnya  apresiasi  rupiah; tertundanya  beberapa  penarikan  pinjaman  luar  negeri;  keempat,  terlambatnya  otorisasi pembelanjaan  dana­dana proyek.  

(3)

disebabkan  subsidi  BBM  lebih  rendah  dibandingkan  dengan  perkiraan  perubahan  pada  sisi pengeluaran.

Kemudian  pada  pemerintahan  Joko  Widodo,  kebijakan  defisit  anggaran  2015  masih dipertahankan, yakni dengan menetapkan defisit sebesar Rp222,5 triliun.

c.   Implikasinya

Sebagaimana  di  katakan  di  atas,  bahwa  defisit  terjadi  karena  pengeluaran  anggaran  lebih besar  dari  penerimaan.  Dari  aspek  pengeluaran  defisit  anggaran  dapat  terjadi  karena  adanya penerapan kebijakan utang luar negeri, namun demikian harus dapat mengelola utang dengan baik, kalau tidak, akan dengan sengaja  pemerintah mengabaikan generasi mendatang.

Dalam  manajemen  pengeluaran  juga  terkait  pengelolaan  utang    luar  negeri  yang  ditujukan untuk  melihat  efektifitas  penggunaannya  lewat  pembiayaan  sektor­sektor  produktif.  Adapun dengan  konsep  pengelolaan  utang  akan  terkait  aspek  makro  ekonomi,  seperti  nilai  tukar,  inflasi dan variabel moneter lainnya yang ikut menentukan besarnya volume hutang suatu negara.

Sedangkan dalam hal penerimaan negara  dijadikan alat pengimbang pengeluaran (menekan defisit  anggaran  sekecil  mungkin).  Penerimaan  ini  haruslah  berupa  akumulasi  penerimaan  yang netral.  Adapun  kebijakan  yang  netral  yang  dimaksud  adalah  kebijakan  perpajakan.  Sehingga kebijakan perpajakan diarahkan  untuk meningkatkan penerimaan. Salah satu cara meningkatkan penerimaan pajak melalui peningkatan sumber daya manusia (fiskus) pegawai pajak.

Di  sisi  lain  peningkatan  penerimaan  pemerintah  melalui  pajak  sudah  menjadi  keharusan mengingat tax  ratio  yang  masih  rendah.  Kebijakan  perpajakan  diarahkan  untuk  meningkatkan penerimaan  perpajakan  lewat  ekstensifikasi  dan  intensifikasi.  Penerimaan  negara  dari  pajak  ini, memang  masih  sangat  potensial  untuk  ditingkatkan  terutama  setelah  diaktifkan/difokuskan lembaga penyanderaan, namun  perlu  didukung  dengan  pengawasan  yang  ketat.  Di  samping  itu, faktor  utama  yang  perlu  diperhatikan  adalah  menjaga  kestabilan  ekonomi.  Penerimaan  pajak tergantung  pada  pertumbuhan  ekonomi,  kalau  ekonomi  tumbuh/meningkat  maka  pajak  akan meningkat.    Di  samping  itu  juga,  secara  umum,  pertumbuhan  ekonomi  yang  tinggi  akan menciptakan lapangan kerja guna mengatasi pengangguran dan mengurangi kemiskinan.

Oleh  karena  itu,  secara  teori  peningkatan  defisit  dilakukan  untuk  mengejar  pertumbuhan ekonomi,  dalam  jangka  panjang  defisit  anggaran  akan  tetap  memberikan  dorongan  untuk pertumbuhan  ekonomi  sebanyak  mungkin,  asal  bukan  untuk  pembayaran  rutin,  utang,  atau pembayaran bunga obligasi.

Terlepas  dari  sudut  analisis,  maka  ada  beberapa  hal  yang  harus  dilakukan  sehubungan dengan  pencapaian  sasaran  defisit,  yaitu:  mengurangi  subsidi    serta  pengetatan  kebijakan  rutin  dan  pembangunan.  Pengurangan  subsidi    merupakan  kebutuhan    mendesak,  karena  itu penyumpang terbesar bagi tidak sehatnya  APBN selama ini. Hal ini dapat dilihat pada APBN 2015 bahwa subsidi energi turun menjadi Rp344,7 dibandingkan dengan APBN 2014 sebesar Rp 350,3 triliun.  Konsep  subsidi  ada  yang  menginginkan  seharusnya  dihapus    dan  diganti  dengan  alokasi anggaran  pembangunan    yang  menyentuh  langsung  terhadap  pelayanan  publik,  atau  pelayanan yang diterima secara langsung  oleh masyarakat miskin.

d.  Apa yang harus dilakukan agar perekonomian meningkat?

(4)

perlu mempertimbangkan isu­isu yang berkembang di kalangan pengamat ekonomi, yakni menurut Prof.  ekonomi  sekaligus  dekan  untuk  program  MBA  di  INSEAD,  Antonio  Fatas,  suatu  ketika  ia mengatakan  dalam  seminar  bisnis  untuk  wartawan,  Rabu  (17/10/2007)  di  Singapura,  bahwa investasi  harus  berkontribusi  30  persen  terhadap  Produk  Domistik  Bruto  per  tahun  jika  suatu negara ingin perekonomiannya tumbuh enam persen.

Ada  beberapa  hal  yang  menjadi  faktor  untuk  menunjang  pertumbuhan  ekonomi  suatu negara, yaitu:

1.   Investasi

Invetasi  merupakan  kata  kunci  dalam  hal  produksi,  sedangkan  produksi  merupakan  faktor utama  pertumbuhan  ekonomi.  Korea  Selatan  merupakan  salah  satu  negara  miskin  yang mencapai  pertumbuhan  ekonomi  rata­rata  lebih  dari  enam  persen  pada  periode  1960­2005, dengan  rata­rata  kontribusi  investasi  terhadap  PDB  sebesar  30  persen  dalam  kurun  waktu tersebut.

2.   Inovasi

Inovasi  juga  menjadi  faktor  penunjang  pertumbuhan  ekonomi.  Dengan  adanya  insentip  dalam hal inovasi, misalnya hak cipta, bisa mendorong produktivitas suatu negara, selain itu

3.   Kebijakan kelembagaan (pemerintah) serta stabilitas politik.

Dalam  hal  tertentu  terdapat  penyebab  investasi  belum  tumbuh/pertumbuhan  lambat  yaitu pembangunan/perbaikan berbagai proyek infrastruktur sangat lambat. Untuk menopang percepatan pembangunan  dan  pertumbuhan  ekonomi,  peningkatan  stok  infrastruktur  merupakan  salah  satu persyaratan mutlak. Beberapa contoh dari kurang baiknya infrastruktur adalah (a) pelabuhan dan transportasi  darat  yang  buruk  menyebabkan  pengiriman  barang  dengan  container  dari  pabrik  ke pelabuhan  berjalan  lambat.  Kesemrawutan  penanganan  container  di  pelabuhan  dan  pelayanan yang buruk dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman dan ketibaan. Padahal faktor ketepatan waktu  merupakan  persyaratan  penting  bagi  sistem  kanban  atau just  in  time dalam  jaringan produksi global, (b) persoalan listrik yang tak memadai dari segi jumlah pasokan dan keandalan, dan (c) pasokan gas dan air bersih.

Kesemuanya  inilah  yang  pada  akhirnya  menyebabkan  kos  tetap  (fixed  cost)  dalam berusaha  di  Indonesia  menjadi  sangat  mahal  dan  pada  gilirannya  mengikis  daya  saing perekonomian.

Berdasarkan  World  Competitivenness  Yearbook  2007  keluaran  International  Institute  for Management  Development  (IMD),  dalam  menghitung  daya  saing  keseluruhan  dikelompokkan  ke dalam  empat  faktor  utama,  yaitu:  (1)  kinerja  ekonomi,  (2)  efisiensi  pemerintahan,  (3)  efisiensi bisnis; dan (4) infrastruktur.

Di samping itu, beberapa tahun yang lalu (2007) dan dapat menjadi rujukan di tahun 2015, bahwa  pada  2007  beberapa  analisis  menjelaskan  sebab  iklim  investasi  tak  kunjung  membaik adalah (1) akibat ekses desentralisasi. Banyak kebijakan baru sudah baik, akan tetapi tidak efektif karena kerangka implementasi yang tidak konsisten dan lemah. Seperti kebijakan desentralisasi, integrasi  administrasi  keuangan  negara,  dan  anti  korupsi  satu  sama  lain  telah  menghambat program  pembangunan,  (2)  akibatnya  siklus  pembelanjaan  proyek  menjadi  berpluktuasi  dengan sangat  tajam,  dengan  proyek­proyek  ditumpuk  pada  akhir  tahun  (backloading),  (3)  peraturan perburuhan,  (4)  tumpang  tindih  berbagai  peraturan,  misalnya  antara  peraturan  pertambangan dengan desentralisasi dan pemeliharaan lingkungan hidup, dan (5) kita tidak bisa memanfaatkan maksimal  booming  dalam  pertambangan.  Ketika  harga  batu  bara  tinggi,  output  batu  bara  tahun 2007 menunjukkan gejala merosot, proses kebijakan pemerintah cenderung melemah.

Konsep  dan  strategi  masa  kini  dan  masa  depan  pembangunan  berkelanjutan  ekonomi Indonesia,  dipengaruhi  oleh globalisasi,  desentralisasi,  dan  demokratisasi, dengan  penjelasan sebagai berikut.

1.   Globalisasi 

(5)

bermata dua. Ia membuka peluang dan cakrawala baru bagi mereka yang ikut serta untuk maju lebih  cepat.Ia  membawa  pula  risiko­risiko  baru.  Menutup  diri  atau  melawan  arus  globalisasi bukanlah opsi yang realistis.

Sikap terbaik bagi suatu perekonomian    atau negara adalah pragmatis, melibatkan  diri  dalam globalisasi  secara  cerdas.  Tujuan  utamanya,  memperoleh  manfaat  sebesar­besarnya  dari globalisasi  itu  dan  sejauh  mungkin  menghindari  risiko  negatifnya.  Kegamangan  hanya  akan merugikan.

2.   Demokratisasi

Ekonom  senior  lainnya,  Dr.  Sjahrir,  menilai  demokratisasi  yang  berlangsung  saat  ini menghasilkan  kondisi  politik  yang  penuh  keanekaragaman  kegiatan  politik.  Dari  sisi  positif, terlihat hubungan yang lebih langsung antara pemilih dan pemimpin mereka di berbagai level. Di  sisi  negatif,  yang  amat  menonjol  adalah  berlangsungnya  kekerasan  bersifat  fisik  hingga potensi retaknya hubungan  sesama bangsa akibat semakin berkurangnya kepercayaan antara rakyat dan pemimpin.

3.   Desentralisasi

Desentralisasi yang merupakan proses baru menghasilkan  suatu dinamika ekonomi dan politik yang berpengaruh langsung pada kehidupan perekonomian, tingkat kemiskinan, dan stabilitas ekonomi­politik di suatu wilayah. Desentralisasi sebagai kelanjutan dari semangat demokrasi, menurut Sjahrir, ternyata menghasilkan prioritas anggaran daerah yang tidak memihak rakyat. Kecenderungan  APBD  di  tingkat  I  dan  II  adalah  meningkatnya  pengeluaran  rutin  dan berkurangnya  pengeluaran  pembangunan.  Tidak  heran  bahwa  dalam  fase  reformasi,  angka­ angka indeks pembangunan manusia nyaris tidak beranjak.

III.  Penutup

Defisit  anggaran  harus  diarahkan  pada  mekanisme  pemanfaatan,  yaitu  jenis  penggunaan dan kelembagaan yang menjamin efektifitas dari penggunaannya. Penggunaan defisit anggaran untuk  pembiayaan  konsumsi  akan  membahayakan  perekonomian  dalam  jangka  panjang.  Tapi apabila pembiayaan defisit anggaran tersebut  digunakan untuk memperluas kapasitas produksi dan memperkuat anggaran tidak akan memberatkan generasi mendatang.

Kebijakan  defisit  selama  ini  terlihat  bahwa  defisit  merupakan  kebijakan  yang  tidak  dapat dihindari  untuk  dilakukan.  Alasan  utamanya  terjadi  gap  antara  penerimaan  dan  pengeluaran. Di satu  sisi  penerimaan  tumbuh  lebih  rendah  daripada  tingkat  pengeluaran  terutama  peningkatan pada  sisi  pengeluaran  rutin.  mengharuskan  pemerintah  melakukan  kebijakan  kontraktif  dengan memperbesar  pengeluaran  yang  ditujukan    untuk  menggenjot    sisi  produksi  sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya untuk kesejahteraan rakyat.

 

DAFTAR PUSTAKA

UU No. 12 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2013 tentang APBN­P 2014. UU No. 3 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas UU No. 27 Tahun 2014 tentang APBN­P 2015. Harian Kompas. 2007. “Tuntutan Pembangunan Infrastuktur” Analisis Ekonomi Faisal Basri. 25 Juni.

Jakarta.

Harian Kompas. 2006. “Mencari Format Ekonomi yang Pas” 21 Juni. Jakarta.

(6)

ESEL O N  I   K EM ENT ERI A N  K EUA NG A N

 

Hakcipta © BPPK | Peta Situs| Tentang Kami| Email BPPK| FAQ| Prasyarat| Hubungi Kami| Ikuti Kami 

 

 

Jalan Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan . Telp: 021­29054300 . Fax: 021­7244912

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan infak/sedekah, seperti persentase pembagian, alasan dan konsistensi kebijakan.. Kebijakan penyaluran

Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran perbandingan peran antara peneliti dan analis kebijakan dalam pembuatan rekomendasi kebijakan, serta melihat gap rekomendasi

Perbandingan antara F-Hitung dengan F- Tabel yang menunjukkan bahwa F-Hitung >F-Tabel, menandakan bahwa variabel independen secara bersama berpengaruh signifikan

Studi yang mengkaji tentang hubungan kausalitas antara defisit anggaran, jumlah uang beredar dan inflasi di Indonesia menggunakan data sekunder dengan jenis data runtun waktu

Secara umum, sistem informasi akuntansi penerimaan DJBC masih belum selaras dengan proses bisnis yang dijalankan. Masih terlihat adanya gap antara akuntansi dengan

dari surplus atau defisit fiskal pemerintah, yang bermanfaat untuk menentukan dampak moneter otoritas moneter terhadap fiskal pemerintah atau koordinasi antara kebijakan fiskal

Kebijakan yang ditempuh Pemerintah dalam memenuhi target pembiayaan hingga akhir tahun 2008 antara lain: (1) melakukan diversifikasi instrumen dalam rangka memperluas basis

Defisit terjadi ketika pengeluaran suatu organisasi seperti pemerintah atau individu lebih banyak daripada pendapatannya. Ketika negara membelanjakan lebih banyak uang daripada pendapatan yang diperoleh dari pendapatan negara termasuk pajak dan sumber pendapatan lainnya, maka hal ini akan menciptakan defisit anggaran. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak selalu menggambarkan kondisi perekonomian yang buruk. Sebaliknya, defisit dapat dipandang sebagai taktik yang bertujuan untuk mengelola keuangan negara guna mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari kebijakan defisit anggaran pemerintah adalah untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian dengan menentukan pengeluaran yang melebihi pendapatan negara. Secara umum, kebijakan ini diterapkan secara bijaksana selama ekonomi resesi. Defisit anggaran pemerintah pada awalnya dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode waktu yang sama, namun dapat memberikan dampak positif pada periode berikutnya.