MEKANIKA
STATISTIK
Disusun oleh :Annisa Putri
Dessy Ramadhianti Junita Eka Heryanti Kang Helen Dian L
Mekanika
Statistik
Statistik Maxwell-Boltzmann
Energi Molekuler Dalam Gas Ideal
Laser
Statistika Kuantum
Radiasi Benda-Hitam
Rumus Rayleigh-Jeans
Hukum Radiasi Plank
Kalor Jenis Zat Padat
Elektron Bebas Dalam Logam
Mekanika Statistik ialah menentukan peluang
terbesar bagaimana sejumlah energi tertentu terdistribusi diantara anggota sistem partikel
dalam kesetimbangan termal pada
temperatur mutlak T.
Berarti berapa banyak partikel berpeluang
berenergi є1 , є2 , dan seterusnya.
Anggapan dasar mekanika statistika ialah
terdapatnya banyak cara W partikel dapat diatur diantara keadaan yang bisa diperoleh sehingga menghasilkan distribusi energi tertentu untuk distribusi yang berpeluang besar.
Prosedurnya ialah mendapatkan rumusan umum
untuk W untuk jenis partikel yang sedang ditinjau, kemudian memaksimumkan W dengan syarat bahwa sistem itu terdiri dari sejumlah partikel tertentu (kecuali dalam sistem foton atau ekuivalen akustiknya fonon) dan bahwa sistem itu berenergi total tertentu.
Hasil dalam setiap kasus ialah rumusan n(є), jumlah
partikel berenergi є yang bentuknya :
9.1
dengan ;
g(є) = banyaknya keadaan berenergi є
= bobot statistik yg bersesuaian dgn energi є
f(є) = fungsi distribusi
= banyaknya partikel rata-rata untuk setiap keadaan berenergi є
= peluang terisinya setiap keadaan berenergi є. n(є) =
Jika distribusi malar (kontinue), alih-alih
distribusi diskrit dari energi, g(є) diganti dengan g(є) dє yang menyatakan banyaknya keadaan dengan energi antara є dan є + dє .
Mula-mula kita akan meninjau sistem partikel
identik yang jaraknya cukup berjauhan
sehingga satu sama lainnya dapat
dibedakan.
Menurut istilah kuantum, fungsi gelombang
partikel yang saling bertumpangan dapat diabaikan.
Partikel-partikel ini berkelakuan klasik, dan
Molekul gas merupakan partikel sejenis ini,
dan fungsi distribusi Maxwell-Boltxmann
berlaku :
9.2
Harga A tersebut bergantung dari jumlah
partikel dalam sistem dan disini memegang peranan yang serupa dengan konstanta normalisasi suatu fungsi gelombang. Dengan
k ialah konstanta Boltzmann ;
FMB{є} = Ae-є/kT
k = 1,381 x 10-23 J/K
Misalnya, jika terdapat lima cara partikel itu dapat membagi energi є, maka peluang P(Є1 , Є2)
bahwa terjadi pembagian energi tertentu Є1 , Є2
terjadi ialah 1/5 P’(Є). Karena P’(Є) merupakan
fungsi dari є, P(Є1 , Є2) juga, sehingga ;
P(Є1 + Є2) untuk kedua keadaan terisi ialah perkalian f(Є1) dan f(Є2) ;
Yang merupakan fungsi dari Є1 + Є2 seperti yg
diperlukan.
P(Є1 , Є2) = P’(
Є) = P’’(Є1 + Є2)
P(Є1 , Є2) = f(Є1)f(Є2) f(Є1)f(Є2) = P’’(
Є1 + Є2)
Membuktikan cara f(є) berubah terhadap T.
dengan persamaan 9.2 dapat menghitung energi internal total E dari sebuah sistem partikel,
Sistem partikel nya ialah sampel gas ideal
yang terdiri dari N molekul. Sehingga energi molekuler total haruslah E = NkT .
Jika n(є) dє menyatakan banyaknya molekul
yang energinya terletak antara є dan є + dє’ persamaan 9.1 dapat ditulis ;
9.3
ENERGI MOLEKULER DALAM GAS
IDEAL
Banyaknya keadaan yang mempunyai energi
antara є dan є + dє. Sebuah molekul berenergi є memiliki momentum p yang besarnya ialah ;
9.4
Setiap kumpulan komponen momentum
px,py,pz memberi ciri suatu keadaan gerak.
Karena setiap besar momentum p
bersesuaian dengan energi tunggal є, sehingga ;
9.6
Karena p2 = 2mє and dp =
Maka persamaan 9.6 menjadi ;
9.7
Dan untuk jumlah molekul dengan energi antara є dan dє
9.8
Dengan C (= 2m3/2 AB) merupakan konstanta
yg harus dicari.
g(є) dє = Bp2
dp
g(є) dє = 2m3/2B dє
Untuk mencari C kita pakai syarat normalisasi
bahwa jumlah molekulnya N, sehingga ;
9.9
dari tabel untuk integral tertentu kita dapatkan ;
disini α = 1/kT, dan hasilnya ialah ;
9.10
N = = C ℮-є/kT dє
℮-αx dx =
N = (kT)3/2
C =
DISTRIBUSI ENERGI MOLEKULAR
Pendistribusian energi Maxwell-Boltzmann
untuk molekul gas ideal dengan langkah terakhir yaitu energi internal total sistem. Yang didapatkan hasil ; (energi total N
Untuk sejumlah molekul dengan kelajuan
Kelajuan sebuah molekul dengan energi
rata-rata 3/2kT ialah ; (kelajuan Rms)
9.15
hubungan antara dan vrms bergantung dari
hukum distribusi yang berlaku untuk kelajuan molekular dalam sistem tertentu. Untuk distribusi Maxwell-Boltzmann ;
Kelajuan berpeluang terbesar dengan
bertambahnya temperatur dan berkurangnya massa molekular ; (Kelajuan berpeluang terbesar)
9.16
v
rms= =
V
rms=
RADIASI BENDA HITAM
Setiap zat memancarkan radiasi elektro-magnetik yang sifatnya bergantung dari sifat dan temperatur zat itu sendiri.Kita telah membahas spektrum diskirit gas tereksitasi yang timbul dari transisi elektronik dalam atom terisolasi.
MAXWELL-BOLTZMANN BOSE-EINSTEIN FERMI-DIRAC
Kategori partikel Klasik Boson Fermion
Sifat partikel Setiap spin, partikel
berjarak cukup berjauhan
Contoh Molekul gas Foton dalam rongga; foton dalam zat padat; helium cair pada temperatur
keadaan berenergi E pada temperatur T
fMB (ɛ) = Ae-ɛ/kT fBE (ɛ) = 1
eαeɛ/kT - 1
fFD (ɛ) = 1
e(ɛ-ɛf)/kT + 1
Sifat distribusi Tidak ada batas pada
jumlah partikel perkeadaan Tidak ada batas pada jumlah partikel perkeadaan;lebih banyak partikel perkeadaan dari
fMB pada energi rendah ; mendekati fMB pada energi tinggi
Tidak lebih dari satu
partikel perkeadaan ; lebih sedikit jumlah partikel perkeadaan dari fMB pada energi rendah ; mendekati
Kemampuan sebuah benda untuk meradiasi
sangat berdekatan dengan kemampuannya untuk mengabsorpsi (menyerap) radiasi.
Benda pada temperatur konstan berada dalam kesetimbangan termal dengan sekelilingnya dan harus mengabsorpsi energi dari sekelilingnya
dengan laju yang sama seperti benda itu memancarkan (mengemisi energi).
Suatu benda yang mengabsorpsi semua radiasi yang jatuh padanya, tak bergantung dari
Benda hitam merupakan pemancar (emitter) radiasi yang terbaik. Eksperimen yang ditunjukun pada gambar disamping menggambarkan tidak ada perbedaan temperatur yang teramati antara permukaan I’ dan permukaan II’. Pada temperatur tertentu permukaan I’ dan I’ meradiasikan dengan laju e1 W/m2.
Sedangkan II dan II’ meradiasikan dengan laju e2. Permukaan I dan I’ mengabsorpsifraksi a1 dan radiasi
yang datang padanya, sedangkan II dan II’ mengabsorpsi fraksi a2. Jadi I’ mengabsorpsi energi dari II dengan laju yang berbanding lurus dengan a1e2. Karena I’ dan II’ tetap berada pada temperatur yang sama, haruslah berlaku bahwa :
Kemampuan sebuah benda untuk memancarkan radiasi
berbanding lurus dengan kemampuannya untuk mengabsorpsi radiasi. Marilah kita anggap bahwa I dan I’ benda hitam,
sehingga a1 = 1 dan II dan II’ bukan, sehingga a2 < 1.
Jadi :
e
1= e
2/a
2Dan,karena a2 <1,e1> e2 . Sebuah benda hitam pada
Dalam laboratorium, sebuah benda dapat di aproksimasi dengan benda berongga berlubang sangat kecil yang menembus kedalam. Setiap radiasi yang jatuh pada lubang itu, masuk ke dalam rongga dimana radiasi itu
terperangkap oleh pemantulan bolak balik sehingga akhirnya terabsorpsi semuanya. Dinding rongga terus menerus memancarkan dan
RUMUS RAYLEIGH-JEANS
Mereka meninjau radiasi dalam rongga
bertemperatur T yang dindingnya merupakan
pemantul sempurna sebagai sederetan
gelombang elektromagnetik berdiri pada
9.30 jx = 2L = 1, 2, 3, …
Untuk gelombang berdiri arah sembarang , harus dipenuhi :
Untuk menghitung banyaknya
gelombang berdiri g(λ) dan dλ dalam
rongga yang panjang gelombangnya
diantara λ dan λ + dλ yang harus kita
hitung ialah banyaknya kelompok
harga
jx, jy, jz
yang diijinkan yang
menghasilkan panjang
gelombang-gelombang dalam selang tersebut.
Marlah kita bayangkan ruang-j yang
sumbu
koordinatnya jx, jy, jz .Gambar 9-14 menunjukkan sebagian bidang jx-jy seperti itu. Setiap titik dalam ruang-j bersesuaian dengan kelompok harga jx, jy, jz
yang diijinkan, jadi bersesuaian dengan suatu gelombang berdiri. Jika j merupakan vektor dari titik asal ke titik tertentu jx, jy, jz , besar
vektor itu ialah
Banyaknya panjang gelombang antara λ dan λ + dλ sama dengan banyaknya titik dalam ruang-j yang jaraknya dari titik asal terletak diantara j dan j + dj.
Volume kulit bola berjejari j daan tebal dj ialah 4 ∏j2 dj,
tetapi kita hanye memerlukan oktan (seperdelapan) dari kulit ini yang berkaitan dengan harga positif jx, jy, dan jz. Juga untuk setiap gelombang berdiri yang
dicacah dengan cara seperti itu, terdapat dua arah tegal lurus dari polarisasinya. Jadi banyakya
gelombang berdiri yang bebas dalam rongga itu ialah
Dari persamaan 9.31 dan 9.32
9.33 j = 2L = 2Lv λ c dj = 2L dv c
dan kita dapat menyatakan Persamaan 9.33 dalam v alih-alih j sebgai berikut :
9.34 g(v) dv = ∏(2Lv)2
c
Volume rongganya ialah L3, ini berarti banyaknya gelombang
berdiri yang bebas per satuan volume ialah
9.35 G(v) dv = 1 g(v) dv = 8 ∏v2dv
L3 c3
Langkah selanjutnya ialah mencari energi pergelombang
berdiri. Disinilah timbul perbedaan antara fisika klasik dan fisika kuantum. Menurut teorem klasik mengenai ekuipartisi energi, seperti yang telah disebutkan, energy rata-rata
perderajat kebebasan dari kesatuan yang merupakan bagian dari system kesatuan tersebut dalam
kesetimbangan bertemperatur T ialah 1/2 kT.
Masing-masing gelombang berdiri dalam ongga berisi radiasi bersesuaian dengan dua derajat kebebasan yang energy total rata-ratanya Ē sama dengan kT. Kesimpulan ini timbul dari pengamatan bahwa masing-masing gelombang berasal dari sebuah osilator dalam dinding rongga, dan osilator
seperti itu memiliki dua derajat kebebasan, satu yang
menyatakan energi kinetic, dan yang lainnya menyatakan energy otensial. Energi u(v)dv per satuan volume dalam rongga dalam selang frekuensi v dan v + dv menurut fisika klasik menjadi :
Walaupun dalam sekejap kita sudah melihat bahwa terdapat kesalahan rumus Rayleigh-Jeans. Ketika v bertambah besar, bersesuaian dengan daerah ultra-ungu dari spektrum Persamaan 9.36 menyatakan bahwa laju radiasi energy bertambah menurut v2; dalam
batas energy sangat tinggi, u(v) dv menuju tak-berhingga. Pada kenyatannya seperti kita lihat dari Gambar 9-13, u(v) dv →0 ketika v → ꚙ.
Penyimpangan antara teori dan pengamatan segera diketahui menyangkut hal yang sangat pokok, dan dikenal sebagai “ bencana ultra-ungu”. Kegagalan fisika klasik ini
menggugah Max Planck dalam tahun 1900 untuk mengajukan hipotesis bahwa pemacaran cahaya merupakan gejala kuantum dan atas dasar ini beliau memperoleh rumus yang
HUKUM RADIASI
PLANK
Rumus Rayleight dan Jeans menyimpang karena teoreni ekuipartisi hanya berlaku untuk distribusi energi
yang malar. Sedangkan energi gelombang
Hargaα dalam persamaan 9.26 bergantung dari
banyaknya partikel dalam sistem yang sedang ditinjau.
Akan tetapi banyaknya foton dalam rongga tidak perlu
tetap : berlainan dengan molekul gas atau elektron, proton terciptakan dan termusnahkan setiap waktu.
Walaupun energi radiasi total dalam rongga harus tetap
konstan, banyaknya foton yang mengambil energi ini bisa berubah. Karena karena cara α didefinisikan dalam
penurunan persamaan 9.26, ketakekalan foton berarti bahwa α=0. Jadi, fungsi distribusi Bose-Einstein untuk foton ialah
9.37 f(v) = (rumus distribusi foton)
Persamaan 9.35 yang menyatakan banyaknya
gelombang berdiri berfrekuensi v per satuan volume dalam rongga berlaku juga untuk banyaknya keadaan kuantum berfrekuensi v, karena foton juga mempunyai dua arah polarisasi yang bersesuain dengan orientasi spin relatif tethadap arah geraknya. Jadi, rumus kerapatan dalam rongga ialah
9.38 U(v) dv = hvG(v)f(v)dv
=
dua hasil yang menarik dapat diambil dari rumus radiasi
Planck. Untuk mendapatkan panjang-gelombang yang kerapatan energinya terbesar, dinyatakan dengan persamaan 9.38 dalam panjang gelombang dan pecahkan du(λ)dλ = 0 untuk λ=λmax. Kita peroleh
= 4,965
atau dinyatakan dalam bentuk
9.39 λmax T =
= 2,898 x 10-3 m . K
persamaan 9.39 dikenal sebagai Hukum Pergeseran
Wen. Persamaan itu secara kuantitatif menyatakan fakta empiris bahwa puncak spektrum benda hitam bergeser terus ke arah panjang gelombang lebih kecil (frekuensi lebih tinggi) ketika temperaturnya bertambah.
Hasil lain yang didapat dari persamaan 9.38 ialah
kerapatan energi total u di dalam rongga merupakan integral kerapatan energi terhadap semua frekuensi,
U = T4 = αT4
Dengan α menyatakan konstan universal. Kerapatan
energi total berbanding lurus dengan pangkat empat dari temperatur mutlak dari dinding rongga. Jadi kita mengharapkan energi R yang diradiasikan oleh benda tiap detik per satuan luas berbanding lurus dengan T4,
suatu kesimpulan dalam Hukum Stefan-Boltzman :
Harga konstan Stefan ialah
σ= = 5,670 X 10-8 W/m2 . K4
Emisivitas e bergantung pada sifat permukaan radiasi
dan berkisar antara 0, untuk pemantulan sempurna yang tidak meradiasi hingga 1 untuk benda hitam.
KALOR JENIS ZAT
PADAT
Radiasi benda hitam bukanlah satu-satunya gejala yang
dikenal yang penjelasannya memerlukan mekanika-statistik kuantum. Hal lainnya ialah cara perubahan energi internal zat padat, terhadap temperatur.
Kalor jenis molar zat padat pada volume konstan Cv,
Energi internal zat padat tertampung dalam vibrasi partikel
pembentuknya yang dapat bebentuk atom, ion, atau molekul. Vibrasi ini dapat diuraikan menjadi komponen sepanjang tiga sumbu yang saling tegak lurus. Seperti telah dibahas dahulu, berdasarkan fisika klasik sebuah osilator harmonik dalam sistemnya dalam kesetimbangan termal pada temperatur T mempunyai energi rata-rata kT yang berarti bahwa masing-masing atom dalam zat padat, berdasarkan hal itu, memiliki energi 3kT. Satu kmol zat padat berisi bilangan avogadro NO
atom, dan energi inyernal totalnya pada temperatur T menjadi
9.40 E = 3NO kT = 3RT
Dengan
R = NOk = 8,31 x 103J/Kmol . K= 1,99 kcal/kmol . K
Kalor jenis pada volume konstan dinyatakan dalam E sebagai berikut
Cv =
Sehingga di sini
9.41 Cv = 3R = 5,97 kcal/kmol . K (Hukum Duloug-Petit)
Hukum Duloug-Petit gagal untuk unsur ringan seperti
boron, berilium dan karbon, untuk zat tersebut. Cv = 3,34 ; 3,85 ; dan 1,46 kkal/kmol. K, berurutan pada 20o C.
Lebih parahnya, kalor jenis setiap zat padat turun secara tajam pada temperatur rendah dan mendekati 0 ketika T
untuk beberapa unsur.
Pada tahun 1907 Einstein mendapatkan bahwa cacat
dasar dalam persamaan 9.41 terletak dalam besaran kT
9.42
έ= hvf(v) =
(
Energi rata-rata per osilator)Dan bukan έ= kT. Energi internal total satu kilo mol zat padat menjadi
9.43 E= 3NOέ =
Dan kalor jenis molarnya adalah
9.44 Cv = = 3R()2
Segera kita dapat melihat bahwa pendekatan seperti ini berada pada jejak yang benar. Pada temperatur tinggi, hv<kT, dan
ehv/kT≈1+
Karena
ex=1+ x + + + . . . .
ELEKTRON BEBAS DALAM LOGAM
Dalam logam biasanya masing – masing atom member kontribusi satu electron kepada “gas electron” bersama, sehingga 1 kmol logam mengandung N0 elektron
bebas. Jika electron ini kelakuannya seperti molekul gas ideal, masing – masing akan memiliki energi rata – rata dan logam itu akan mempunyai energi internal
Ee = N0kT =
Per kilomole karena kehadiran electron tersebut. Kalor jenis yang timbul dari elektron itu ialah
( )
Dan kalor jenis total logam harus sama dengan
Fungsi distribusi yang menghasilkan pengisian
rata – rata keadaan kuantum berenergi dalam
ԑ
sistim fermion ialah
=
Banyaknya gelombang berdiri dalam rongga
berbentuk kubus berisi L ialah
g(j) dj =
j = 2L/λ
Elektron dalam logam memiliki kecepatan non relativistik, sehingga dan
Dengan memasukkan rumus untuk j dan dj kita dapatkan
Seperti dalam kasus gelombang berdiri dalam rongga bentuk tepat dari sampel logam itu tidak mempengaruhi, sehingga kita dapat mensubtitusikan V untuk L3
MENGHITUNG ENERGI FERMI
Kita dapat mengisi keadaan energi dalam sampel logam
dengan N elektron dalam urutan pertambahan energi dimulai dari = 0.ԑ
Energi tertinggi yang terisi menurut definisi ialah energi
Femi = ԑ ԑf.
Banyaknya elektron yang dapat memiliki energi yang sama
sama dengan banyaknya keadaan pada energi itu,
ԑ
karena masing – masing terbatasi isinya dengan satu elektron saja.
Jadi ;
Dan
DISTRIBUSI ENERGI ELEKTRON
Banyakanya elektron dalam gas elektron yang berenergi antara
ialah
KARENA PADA T = 0 K SEMUA ELEKTRON MEMILIKI ENERGI KURANG DARI ATOM SAMA DENGAN ENERGY FERMI , KITA AMBIL
DAN
Beberapa Energi Fermi
Kegagalan elektron bebas dalam logam untuk memberi
kontribusi yang cukup kepada kalor jenis adalah akibat langsung dari sifat distribusi energi elektron.