HAK DAN KEWAJIBAN SERTA TANGGUNG JAWAB P

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Dinamika investasi mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, hal ini mencerminkan marak lesunya pembangunan. Dalam upaya menumbuhkan perekonomian, setiap negara senantiasa berusaha menciptakan iklim yang dapat menggairahkan investasi. Penggairahan iklim investasi di Indonesia di mulai dengan diberlakukannya undang-undang No. 1/Tahun 1967 tentang penanaman modal asing (PMA) dan undang-undang No. 6/Tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri (PMDN). Kemudian kedua undang-undang tersebut dilengkapi dan disempurnakan pada tahun 1970. UU No. 1/tahun 1967 tentang PMA disempurnakan dengan UU No. 11/Tahun 1970. UU No. 6/Tahun 1968 tentang PMDN disempurnakan dengan UU No. 12/Tahun 1970. (Dumairy:1996).

(2)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari masalah diatas adalah: 1. Bagaimana hak-hak PMA dan PMDN? 2. Bagaimana kewajiban PMA dan PMDN? 3. Bagaimana tanggung jawab PMA dan PMDN?

C. Tujuan Pembahasan

(3)

BAB II PEMBAHASAN A. HAK-HAK PMA DAN PMDN

1. Hak Penanaman Modal Asing (PMA)

Hak penanaman modal asing telah ditentukan dalam pasal 10,12,14,19,26 dan pasal 27 Undang-undang No 1 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Asing.1

Adapun Hak penanaman modal asing meliputi:

1) Pemakaian atas tanah, seperti hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai (pasal 14 UU PMA)

2) Hak untuk mendatangkan atau menggunakan tenagatenaga pimpinan dan tenaga kerja ahli warga Negara asing bagi jabatanjabatan yang belum dapat diisi dengan tenaga warga Negara Indonesia (pasal 9 UU PMA)

3) Hak transfer dalam valuasi asli dari modal atas dasar nilai tukar yang berlaku untuk :

a. Keuntungan yang diperoleh modal sesudah dikurangi pajak dan kewajiban pembayaran lain di Indonesia.

b. Biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja yang dipekerjakan di Indonesia.

c. Biaya-biaya lain yang ditentukan lebih lanjut. d. Penyusutan atas alatalat perlengkapan tetap.

e. Kompensansi dalam hal nasionalisasi (pasal 19 UU PMA)2

Hak penanaman modal, khususnya penanaman modal asing telah ditentukan dalam pasal 8, 10, 14, 15 dan 18 Undang-undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Hak Investor asing3, disajikan berikut ini:

1) Mengalihkan asset yang dimilikinya kepada pihak yang diinginkannya. 2) Melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing. Hak transfer merupakan suatu perangsang untuk menarik penanaman modal asing.

1 Undang-Undang Tahun 1968 Tentang Penanaman Modal Asing.

2 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Hak Investor

Asing.

3 Budi Sutrisno, Hukum Investasi Di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo

(4)

Repatriasi (pengiriman) dengan bebas dalam bentuk valuta asing, tanpa ada penundaan yang didasarkan pada perlakuan diskriminasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak-hak transfer dan repatriasi ini meliputi:

a. Modal;

b. Keuntungan, bunga bank, dividen, dan pendapatan lain; c. Danadana yang diperlukan, untuk:

a) Pembelian bahan baku dan penolong barang setengah jadi atau barang jadi; atau

b) Penggantian barang modal dalam rangka untuk melindungi kelangsungan hidup penanaman modal.

d. Tambahan dana yang diperlukan bagi pembayaran penanaman modal;

e. Dana-dana untuk pembayaran kembali pinjaman; f. Royalty atau biaya yang harus dibayar;

g. Pendapatan dari perseorangan warga Negara asing yag bekerja dalam perusahan penanaman modal;

h. Hasil penjualan atau likuidasi penanaman modal; i. Kompensasi atas kerugian;

j. Kompensasi atas pengambilalihan;

k. Pembayaran yang dilakukan dalam rangka; a) Bantuan teknis;

b) Biaya yang harus dibayar untuk jasa teknis dan manajemen; c) Pembayaran yang dilakukan di bawah kontrak proyek dan d) Pembayaran hak atas kekayaan intelektual.

l. Hasil penjualan asset

Hak ini tidak mengurangi kewenangan pemerintah untuk :

a) Memberlakukan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mewajibka pelaporan pelaksanaan transfer dana; dan b) Hak pemerintah untuk mendapatkan pajak dab/atau royalty

(5)

c) Menggunakan tenaga ahli warga Negara asing untuk jabatan dan keahlian tertentu;

d) Mendapatkan kepastian hak, hukum, dan perlindungan.

e) Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya.

f) Hak pelayananan.

g) Berbagai bentuk fasilitas kemudahan4

2. Hak Penanaman Modal Dalam Negeri

Pasal 14 Undang-Undang No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal5

menyebutkan bahwa penanam modal berhak mendapat:

1) Kepastian hak yaitu jaminan pemerintah bagi penanam modal untuk memperoleh hak sepanjang penanam modal telah melaksanakan kewajiban yang ditentukan; kepastian hukum meliputi jaminan pemerintah untuk menempatkan hukum dan ketentuan perundang-undangan sebagai landasan utama dalam setiap tindakan dan kebijakan bagi penanam modal; kepastian perlindungan yaitu jaminan pemerintah bagi penanaman modal untuk memperoleh perlindungan dalam melaksanakan kegiatan penanaman modal.

2) Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankan. 3) Hak pelayanan.

4) Berbagai bentuk fasilitas kemudahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.6

B. KEWAJIBAN PMA DAN PMDN

Berdasarkan pasal 15 bab IX tentang hak,kewajiban dan tanggung jawab penanam modal yang termaktub di dalam UU RI No. 25 Tahun Penanaman modal, dijelaskan bahwa kewajiban penanam modal baik Penanam Modal Asing

4 Budi Sutrisno, Hukum Investasi Di Indonesia, h. 209-210.

5 Undang Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.

(6)

(PMA) ataupun Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) dijelaskan bahwa terdiri atas:

1. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik; 2. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;

3. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 4. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha

penanaman modal;

5. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.7

Jika kita paparkan satu persatu maka dapat kita jelaskan seperti berikut ini :

1. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik

Prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance ( GCG ) yang artinya sebagai tindakan atau tingkah laku yang yang didasarkan pada nilai-nilai, dan bersifat mengarahkan, mengendalikan, memengaruhi masalah publik untuk mewujudkan nilai-nilai di dalam kehidupan sehari-hari, dimana dengan adanya GCG ini diharapkan pemerintah , pelaku usaha dan mayarakat itu sendiri dapat menjalankan fungsi dan perannya sehingga dapat mencapai sasaran yang diinginkan oleh semua pihak. Adapun yang dimaksud prinsip – prinsip

Good Corporate Governance ( GCG ) yaitu:

a. Transparasi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai perusahaan

b. Kemandirian, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan prundanng-undangan yang berlaku dan prinsip korporasi yang sehat

(7)

c. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksaan dan pertanggung jawaban organisasi sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif

d. Pertanggung jawaban. Yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip korporasi yang sehat

e. Kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjajian dan peraturan perundang-undanan yang berlaku

2. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaannya

Mengenai tanggung jawab sosial lingkungan atau yang lebih dikenal dengan CSR ( Corporate Social Responsibility ) merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan. Adapun tujuan dari CSR ini adalah perusahaan dapat berjalan terus, lingkungan tetap ada, dan masyarakat tetap sejahtera.

3. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Dalam melakukan kegiatan penanaman modal, para penanam modal harus tunduk pada segala peraturan yang mengatur tentang hal itu terutama terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM). Para penanam modal wajib membuat sesuatu laporan.

4. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal

(8)

5. Mematuhi segala peraturan perundang-undangan

Para penanam modal dalam melakukan kegiatan penanaman modal terikat dengan peraturan. Dan setiap penanam modal harus tunduk terhadap peraturan perundang-undangan tersebut. Dan apabila penanam modal telah tunduk terhadap peraturan tersebut maka penanam modal akan mendapat kepastian hukum dan ini akan membuat penanam modal akan merasa aman dalam melakukan kegiatannya. Namun sebaliknya, jika penanam modal melanggar segala bentuk peraturan perundang-undangan maka akan memperoleh samksi, baik sanksi pidana maupun sanksi administratif berupa pencabutan izin kegiatan penanaman modal.8

C. TANGGUNG JAWAB PMA DAN PMDN

Semua tanggung jawab penanaman modal baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri semuanya tercakup dalam undang-undang no. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal Pasal 16 yaitu:

Setiap penanam modal bertanggung jawab untuk:

a. menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal lain yang merugikan negara;

d. menjaga kelestarian lingkungan hidup;

e. menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja; dan

f. mematuhi semua ketentuan peraturan perundangundangan.9

8 Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. KEP. 117 / M-

MBU / 2002 Tentang Penerapan Praktik Pada Good Corporate Governance

Pada Badan Usaha Milik Negara, Pasal 3.

(9)

Penjelasan dari tanggung jawab penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri yaitu:

a. Menjamin tersediannya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peratur perundang-undangan

Undang-undang no. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal disebutkan bahwa modal adalah segala asset dalam bentuk uang atau bentuk lain yang bukan uang yang dimiliki oleh penanam modal yang mempunyai nilai ekonomis.10

Adapun sumber dari modal adalah:

(1) Modal dalam Negeri yaitu modal yang dimiliki oleh negara Republik Indonesia, perseorangan warga republik Indonesia, atau badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum.11

Menurut referensi lain modal dalam negeri adalah bagian dari kekayaan masyarakat indonesia termasuk hak-hak dan benda-benda, baik yang dimiliki oleh negara maupun swasta nasional atau swasta asing yang berdomisili di Indonesia, yang disisihkan/ disediakan guna menjalankan sesuatu usaha sepanjang modal tersebut tidak diatur oleh ketentuan pasal 2 Undang-Undang no. 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing (PMA) yang mengatur mengenai pengertian Modal Asing.12

(2) Modal Asing adalah modal yang dimiliki oleh negara asing, badan usaha asing, badan hukum asing, dan/atau badan hukum indonesia yang sebagian atau seluruh modalnya dimiliki oleh pihak asing.13

Pasal 2 UU No. 1/1967 merumuskan bahwa pengertian modal asing adalah:

a) Alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa indonesia yang dengan persetujuan pemerintah digunakan untuk pembiayaan di Indonesia;

10 Hulman Panjaitan, Hukum Penanaman Modal Asing, (Jakarta: Indhill Co,

2003), h. 33.

11 Undang-Undang No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Pasal 1 Ayat

(9).

(10)

b) Alat-alat untuk perusahaan, termasuk penemuan-penemuan baru milik orang asing dan bahan-bahan yang dimasukkan dari luar ke dalam wilayah Indonesia, selama alat-alat tersebut tidak dibiayai, dari kekayaan devisa Indonesia;14

c) Bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan undang-undang no. 1 tahun 1967 diperkenankan ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia.15

Menurut Sunaryati Hartono, yang menjadi ukuran apakah sesuatu termasuk modal asing atau dalam negeri yaitu:16

1. Dalam hal valuta asing: apakah valuta asing itu merupakan bagian dari kekayaan devisa atau tidak.

2. Dalam hal alat-alat atau keahlian: apakah alat, barang atau keahlian tertentu itu merupakan milik asing atau tidak.

b. Menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahannya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penanam modal meninggalkan atau menghentikan atau menelantarkan kegiatan usahanya. Penanam modal harus menyelesaikan kewajibannya seperti membayar segala utang yang timbul selama kegiatan usahanya berjalan, membayar upah/gaji tenaga kerja apabila belum dibayar dan serta memenuhi apa yang menjadi hak tenaga kerja menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Serta mengembalikan segala fasilitas-fasilitas yang diberikan pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal-hal lain yang merugikan negara.

14 Soedjono Dirdjosisworo, Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1999), h. 191-192.

15 Rai Widjaya, Penanaman Modal, h. 25.

16 Hulman Panjaitan, Hukum Penanaman Modal Asing, (Jakarta: Indhill Co,

(11)

Setiap penanam modal harus memciptakan persaingan usaha yang sehat artinya setiap penanam modal/ atau pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa harus dilakukan dengan jujur atau tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta penanam modal harus mencegah terjadinya praktek monopoli yaitu kegiatan pemusatan oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainnya produksi atau pemasaran atas barang dan jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat yang merugikan kepentingan umum.17 Dan setiap penanam

modal dilarang melakukan hal-hal yang merugikan negara seperti: tindakan-tindakan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, melakukan kejahatan korporasi berupa tindak pidana perpajakan, penggelembungan biaya pemulihan, dan penggelembungan biaya lainnya untuk memperkecil keuntungan sehingga mengakibatkan kerugian negara.

d. Menjaga kelestarian lingkungan hidup

Dalam melaksanakan kegiatan usahanya, setiap penanam modal harus memperhatikan keadaan lingkungan disekitar lokasi kegiatan usaha tersebut.18 Setiap dalam hal pembuangan limbah/sisa-sisa barang

diproduksi. Apakah limbah tersebut mencemari lingkungan terutama kehidupan ikan dan biota di sungai, dan mengenai cerobong asap dari perusahaan tersebut. Disini perusahaan harus berusaha mencegah terjadinya polusi udara sehingga tidak menimbulkan berbagai kerugian bagi perusahaan. Karena asap dari perusahaan sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan manusia dan makhluk hidup lain yang hidup disekitarnya.

e. Menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja.

Dalam hal menjalankan kegiatan usahannya, penanam modal membutuhkan tenaga kerja terlatih dan terdidik. Maka perusahaan harus

17 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 1 Ayat 2.

(12)

menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kesejahteraan pekerja.19 Untuk menjamin keselamatan kerja, kesehatan, kenyamanan,

dan kesejahteraan pekerja pihak perusahaan penanaman modal.20 Menurut

undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan undang-undang No. 21 Tahun 2003 tentang pengesahan ILO Convention no. 81 tentang pengawasan ketenagakerjaan dalam industri dan perdagangan memberikan keringanan-keringanan bagi tenaga kerja berupa:

1) Hari libur nasional; 2) Cuti hamil bagi wanita;

3) Syarat-syarat kerja bagi wanita dan anak dibawah umur; 4) Syarat-syarat keselamatan kerja;

5) Asuransi tenaga kerja; 6) Biaya kesehatan; 7) Tunjangan pensiun.

f. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan

Dalam melakukan kegiatan usahannya, penanam modal harus memperhatikan segala peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penanaman modal. Setiap penanam modal harus mengetahui tindakan-tindakan apa saja yang diizinkan dan yang dilarang dalam peraturan tersebut. Karena apabila penanam modal dalam melakukan kegiatan usahannya melanggar atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan maka mereka akan memperoleh sanksi yang tegas sesuai yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan tersebut.

Undang-undang no. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal. Hak, kewajiban dan tangung jawab diatur secara khusus guna memberikan kepastian hukum, mempertegas kewajiban penanaman modal terhadap prinsip tata kelola perusahaan yang sehat, memberikan penghormatan terhadap tradisi budaya masyarakat dan melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Dan pengaturan tanggung jawab penanam modal

19 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

20 Undang-Undang No. 21 Tahun 2003 Tentang Pengesahan Ilo Convention No.

(13)

diperlukan untuk mendorong iklim persaingan usaha yang sehat memperbesar tanggung jawab lingkungan, pemenuhan hak dan kewajiban tenaga kerja, serta upaya mendorong ketaatan penanam modal terhadap peraturan perundang-undangan.

Penanam modal tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana yang tertulis dalam pasal 15 dan 16 UUPM, maka penanam modal mendapatkan sanksi seperti yang tertulis dalam pasal 34 UUPM yaitu dikenai sanksi administratif berupa:

1. Peringatan tertulis;

2. Pembatasan kegiatan usaha; 3. Pembekuan kegiatan usaha;

4. Pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

Selain sanksi administratif, terhadap penanam modal juga dapat dikenakan sanksi pidana, namun dalam undang-undang No. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal tidak diatur secara tegas, namun secara penafsiran dapat diperoleh suatu kondisi dimana sanksi pidana dijatuhkan. Pada hal suatu peraturan dalam bentuk undang-undang harus menyebutkan dengan jelas kriteria dan sanksi yang dijatuhkan dan tidak menggantungkan kepada peraturan perundang-undangan yang lain, apalagi peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya.

(14)

BAB III PENUTUP A. Simpulan

Hak penanaman modal asing telah ditentukan dalam pasal 10,12,14,19,26 dan pasal 27 Undang-undang No 1 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Asing. Adapun Hak penanaman modal asing meliputi: Pemakaian atas tanah, seperti hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai (pasal 14 UU PMA), Hak untuk mendatangkan atau menggunakan tenagatenaga pimpinan dan tenaga kerja ahli warga Negara asing bagi jabatan-jabatan yang belum dapat diisi dengan tenaga warga Negara Indonesia (pasal 9 UU PMA), Hak transfer dalam valuasi asli dari modal atas dasar nilai tukar.

Hak penanaman modal, khususnya penanaman modal asing telah ditentukan dalam pasal 8, 10, 14, 15 dan 18 Undang-undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Hak Investor asing, disajikan berikut ini: Mengalihkan asset yang dimilikinya kepada pihak yang diinginkannya, Melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing.

(15)

sebagai landasan utama dalam setiap tindakan dan kebijakan bagi penanam modal; kepastian perlindungan yaitu jaminan pemerintah bagi penanaman modal untuk memperoleh perlindungan dalam melaksanakan kegiatan penanaman modal.

Berdasarkan pasal 15 bab IX tentang hak,kewajiban dan tanggung jawab penanam modal yang termaktub di dalam UU RI No. 25 Tahun Penanaman modal, dijelaskan bahwa kewajiban penanam modal baik Penanam Modal Asing (PMA) ataupun Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) dijelaskan bahwa terdiri atas: Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik; Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan; Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal, Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Semua tanggung jawab penanaman modal baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri semuanya tercakup dalam undang-undang no. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal Pasal 16 yaitu:

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Dirdjosisworo, Soedjono. Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal di Indonesia. Bandung: Mandar Maju. 1999.

Panjaitan, Hulman. Hukum Penanaman Modal Asing. Jakarta: Indhill Co. 2003. Sutrisno, Budi. Hukum Investasi Di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

2012.

Widjaya, Rai. Penanaman Modal. Jakarta: Pradnya Paramita. 2005.

Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. KEP. 117 / M- MBU / 2002 Tentang Penerapan Praktik Pada Good Corporate Governance Pada Badan Usaha Milik Negara, Pasal 3.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 1 Ayat 2. Republik Indonesia, Undang Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman

Modal.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Hak Investor Asing.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Pasal 1 Ayat (8) dan (9).

Republik Indonesia, Undang-Undang Tahun 1968 Tentang Penanaman Modal Asing.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...