II. TINJAUAN PUSTAKA. tanam manusia, sehingga manusia berusaha untuk mengatasinya (Matnawy,

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Gulma

Dalam dunia pertanian, istilah yang populer adalah gulma, sedangkan para petani banyak yang menamakan rumput. Di sawah, lading, kebun atau lahan pertanian lainnya, banyak sekali jenis rumput yang mengganggu tanaman pokok. Jadi gulma adalah tanaman liar yang mengganggu pertumbuhan tanaman yang di tanam manusia, sehingga manusia berusaha untuk mengatasinya (Matnawy, 1989).

Berbagai definisi yang diberikan untuk menjelaskan apa yang disebut gulma seperti :

1. Gulma sebagai jenis tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki.

2. Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh sendiri diantara tanaman yang diusahakan.

3. Gulma sebagai tumbuhan yang belum diketahui kegunaannya serta dapat mengganggu kepentingan manusia di dalam mengusahakan pertaniannya. 4. Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai nilai negatif.

Tumbuhan yang lazim menjadi gulma mempunyai beberapa ciri khas yaitu : pertumbuhannya cepat, mempunyai daya bersaing yang kuat dalam perebutan faktor-faktor kebutuhan hidup, mempunyai toleransi yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim, mempunyai daya berkembangbiak yang besar baik secara generatif atau vegetatif ataupun kedua-duanya, alat perkembangbiakannya

(2)

5

mudah tersebar melalui angin, air maupun binatang, dan bijinya mempunyai sifat dormansi yang memungkinkannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan (Nasution, 1986).

B. Kerugian Yang Ditimbulkan Akibat Gulma

Tumbuhan yang berstatus gulma selalu dinilai merugikan manusia. Perlu diingat kembali bahwa batasan gulma yang paling tepat adalah tumbuhan yang merugikan manusia (Sembodo, 2010).

Berbagai kerugian yang disebabkan oleh adanya gulma seperti :

1. Dapat menurunkan hasil pertanian akibat persaingan (kompetisi) dalam hal pengambian unsur hara, air, udara dan persaingan tempat.

2. Gulma mengintensifkan masalah serangga, penyakit dan hama lain dengan peran sebagai inang (J.D. Fryer dan Shooichi Matsunaka, 1988)

3. Dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman pokok akibat dikeluarkannya senyawa beracun dari gulma yang disebut alelopati.

4. Mempersulit pekerjaan pada saat pemupukan.

5. Gulma dapat merusak atau menghambat penggunaan alat mekanik. 6. Keberadaan gulma akan menambah biaya produksi.

7. Gulma mengurangi efisiensi panen dan mesin-mesin (J.D. Fryer dan Shooichi Matsunaka, 1988).

(3)

6 C. Manfaat Gulma

Gulma disamping merugikan juga memberikan manfaat bagi manusia, terutama bila kepentingan manusia terhadap tumbuhan tersebut bersifat subyektif (Sukman dan Yakup, 2002).

Adapun manfaat gulma adalah sebagai berikut :

1. Menambah kesuburan tanah terutama dalam bahan organik. 2. Mencegah atau mengurangi timbulnya erosi.

3. Sebagai bahan makanan ternak.

4. Bahan penutup tanah dalam bentuk mulsa atau serasah. 5. Sebagai bahan makanan atau sayuran.

6. Sebagai tanaman pagar atau hias. 7. Sebagai bahan obat tradisional. 8. Sebagai bahan kerajinan.

D. Klasifikasi Gulma

Klasifikasi atau penggolongan gulma diperlukan untuk mememudahkan dalam mengenali atau mengidentifikasi gulma. Dasar pengelompokan suatu jenis gulma ditentukan menurut kebutuhan tertentu (Sembodo, 2010).

1. Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokkan menjadi : 1). Gulma setahun (annual weeds)

Siklus hidup gulma ini mulai dari berkecambah, berproduksi, sampai akhirnya mati berlangsung selama satu tahun. Pada umumnya gulma ini mudah dikendalikan, tetapi pertumbuhannya sangat cepat karena produksi

(4)

7

bijnya sangat banyak. Oleh karena itu, biaya pengendalian gulma semusim lebih besar. Contoh gulma semusim, antara lain rumput setaria (Setaria sp.).

2). Gulma dua tahun (biannual weeds)

Siklus hidup gulma ini lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama gulma ini menghasilkan roset, sedangkan pada tahun kedua gulma ini berbunga, menghasilkan biji, dan paa akhirnya mati. Pada periode roset, gulma ini umumnya sensitif tehadap herbisida. Contoh gulma dua musim antara lain Verbascum thapsus dan Cirsium vulgare.

3). Gulma tahunan atau musiman (perennial weeds)

Gulma yang menghasilkan organ vegetatif secara terus menerus sehingga memungkinkannya hidup lebih dari dua musim atau dua tahun disebut gulma musiman atau gulma tahunan. Gulma yang memiliki organ perkembangbiakan ganda, yaitu secara generatif dengan biji dan secara vegetatif dengan rizom/ rimpang, umbi, daun, atau stolon, umumnya termasuk dalam gulma musiman. Contoh gulma tahunan antara lain lalang (Imperata cylindrical) dan teki (Cyperus rotundus) (Sembodo, 2010). 2. Berdasarkan sifat morfologinya, gulma dibedakan menjadi lima bagian yaitu :

1). Gulma berdaun sempit (Grasses)

Gulma berdaun sempit memiliki cirri khas, yaitu :  Memiliki daun meyerupai pita

(5)

8  Tumbuh tegak atau menjalar  Memiliki pelepah serta helaian

Contoh gulma berdaun sempit, antara lain lalang (Imperata cylindrical) dan pasapalum (Pasapalum conjugatum).

2). Gulma teki-tekian (Sedges)

Teki mempunyai batang berbentuk segitiga, kadang-kadang bulat dan tidak berongga, daun berasal dari nodia dan warna ungu tua. Gulma ini mempunyai sistem rhizome dan umbi sangat luas. Sifat yang menonjol adalah cepatnya membentuk umbi baru yang dapat bersifat dormansi pada lingkungan tertentu. Contoh gulma teki-tekian antara lain teki (Cyperus rotundus) dan kerisan (Scleria sumantrensis) (Sukman dan Yakup, 2002).

3). Gulma berdaun lebar (Broad leves)

Gulma ini biasanya tumbuh diakhir masa budidaya kelapa sawit. Kompetisi (persingan) terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Pada umumnya gulma ini merupakan tumbuhan berkeping dua, meskipun ada juga yang berkeping satu. Gulma ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

 Memiliki bentuk daunyang melebar  Tumbuh tegak atau menjalar

Contoh gulma berdaun lebar antara lain Mikania micrantha dan senduduk (Melastoma malabathricum).

(6)

9

Gulma ini umumnya berkembang biak dengan spora berbatang tegak atau menjalar. Contoh gulma pakis-pakisan antara lain pakis kresek (Stenochlena palustris) dan pakis kawat (Dicranopteris linearis).

3. Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu : 1). Gulma air (aquatic weeds)

Gulma ini tumbuh di air, baik mengapung, tenggelam, ataupun setengah tenggelam. Gulma air dapat berupa gulma berdaun sempit, berdaun lebar, ataupun teki-tekian. Contoh gulma air yaitu Cyperus iria dan Leptochloa chinensis.

2). Gulma darat (terrestrial weeds)

Gulma ini tumbuh di darat. Jenis gulma daratan yang tumbuh di perkebunan sangat tergantung pada jenis tanaman utama, jenis tanah, iklim, dan pola tanam. Contoh gulma daratan antara lain lalang (Imperata cylindrica) dan Mikania micrantha.

3). Gulma menumpang pada tumbuhan lain (aerial weeds)

Gulma golongan ini bersifat epifit atau parasit dengan cara tumbuh menempel pada tumbuhan lain. Contoh gulma yang tergolong dalam aerial weeds adalah tali putri (Cuscuta sp.), duduwitan (Desmodium sp.), benalu dan sebagainya (Sembodo, 2010).

4. Berdasarkan pengaruhnya terhadap tanaman kelapa sawit, gulma dibedakan menjadi 5 tingkatan sebagai berikut :

(7)

10 1). Gulma kelas A

Gulma yang digolongkan kelas A yaitu jenis-jenis gulma yang sangat berbahaya bagi tanaman perkebunan sehingga harus diberantas secara tuntas. Contoh jenis gulma kelas A yaitu lalang (Imperata cylindrica) dan Mikania micrantha (Nasution, 1986).

2). Gulma kelas B

Gulma yang digolongkan kelas B yaitu jenis-jenis gulma yang merugikan tanaman sehingga perlu dilakukan tindakan pemberantasan atau pengendalian. Contoh jenis gulma kelas B antara lain senduduk (Melastoma malabathricum) dan kerisan (Scleria sumantrensis).

3). Gulma kelas C

Gulma yang digolongkan kelas C yaitu jenis-jenis gulma yang merugikan anaman perkebunan. Gulma tersebut memerlukan tindakan pengendalian, tetapi tindakan pengendalian tersebut tergantung pada keaadaan, misalnya ketersediaan biaya atau mempertimbangkan segi estetika (kebersihan kebun). Contoh jenis gulma kelas C yaitu pakis (Paspalum conjugatum). 4). Gulma kelas D

Gulma yang digolongkan kelas D yaitu jenis-jenis gulma yang tidak begitu merugikan tanaman perkebunan, tetapi tetap memerlukan tindakan pengendalian. Contoh jenis-jenis gulma kelas D yaitu Ageratum conyzoides dan Digitaria sp.

(8)

11 5). Gulma kelas E

Gulma yang digolongkan kelas E merupakan jenis-jenis gulma yang pada umumnya bermanfaat bagi tanaman perkebunan karena dapat berfungsi sebagai pupuk hijau. Gulma ini dibiarkan tumbuh menutupi gawangan tanaman. Akan tetapi tetap perlu tindakan pengendalian jika pertumbuhannya sudah menutupi piringan atau jalur tanaman. Contoh gulma kelas E ini yaitu Colopogonium caeruleum, Pureria javanica, dan Centrosema pubersens.

5. Berdasarkan Keberadaannya di perkebunan, gulma ini dibedakan menjadi dua, yaitu :

1). Gulma lunak, yaitu gulma yang keberadaanya dalam budidaya tanaman kelapa sawit dapat bertoleransi. Hal ini karena jenis gulma ini dapat menahan erosi tanah. Walaupun demikian, pertumbuhannya harus tetap dikendalikan. Contohnya babandotan, wedusan dan paitan.

2). Gulma berbahaya yaitu gulma yang memiliki daya saing yang tinggi terhadap tanaman pokok. Contohnya lalang, sembung rambat, dan teki-tekian.

Beberapa jenis gulma yang mengandung toxin atau zat alleopati yang mengganggu tanaman pokok antara lain :

(9)

12 Gambar 1 : Imperata cylindrical

2. Sembung rambat (Mikania micranta)

(10)

13 E. Pengendalian Gulma

Pengertian dari pengendalian gulma (control) harus dibedakan dengan pemberatantasan (eradiction). Pengendalian gulma (weed control) dapat didefinisikan sebagai proses membatasi infestasi gulma sedemikian rupa sehingga tanamn dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien. Dalam pengendalian gulma tidak ada keharusan untuk membunuh seluruh gulma, melainkan cukup menekan pertumbuhan atau mengurangi populasinya sampai pada tingkat dimana penurunan produksi yang terjadi tidak berarti atau keuntungan yang diperoleh dari penekanan gulma sedapat mungkin seimbang dengan usaha ataupun biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain pengendalian bertujuan hanya menekan populasi yang tidak merugikan secara ekonomik atau tidak melampaui ambang ekonomi, sehingga sama sekali tidak bertujuan menekan populasi gulma sampai nol (Sukman dan Yakup, 2002).

Sedangkan pemberantasan merupakan usaha mematikan seluruh gulma yang ada baik yang sedang tumbuh maupun alat-alat reproduksinya, sehingga populasi gulma sedapat mungkin ditekan sampai nol. Pemberantasan gulma mungkin baik bila dilakukan pada areal yang sempit dan tidak miring, sebab pada areal yang luas ini merupakan sesuatu yang mahal dan pada tanah miring kemungkinan besar menimbulkan erosi. Eridikasi pada umumnya hanya dilakukan terhadap gulma-gulma yang sangat merugikan dan pada tempat-tempat tertentu (Sukman dan Yakup, 2002).

(11)

14

Berikut ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan :

1. Jenis gulma yang dominan. 2. Tumbuhan budidaya utama

3. Alternatif pengendalian yang tersedia 4. Dampak ekonomis dan ekologi

F. Pengendalian Gulma Secara Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Herbisida merupakan senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Penggunaan herbisida bisa dilakukan saat pratanam, pratumbuh dan pascatumbuh (Moenandir, 1988).

Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi :

1. Pekerjaan lebih cepat dan menggunakan tenaga kerja yang lebih sedikt. 2. Kerusakan pada akar tanaman terutama “feeding roots” yang sering terjadi

dengan cara manual dapat dihindari.

3. Erosi tanah terjadi lebih kecil terutama pada tanah yang miring.

4. Pembentukan cekungan-cekungan (depresi) pada piringan kelapa sawit menjadi terkumpulnya air hujan dapat dihindari (Ditjenbun, 1984).

Kerugian pengendalian gulma secara kimiawi : 1. Efek samping

2. Species gulma yang resisten 3. Populasi gulma

(12)

15

4. Residu dapat meracuni tanaman pada pola pergiliran tanaman (Sukman dan Yakup, 2002).

Cara kerja yang selektif ini merupakan faktor yang paling penting bagi keberhasilan suatu herbisida. Adapun faktor yang mempengaruhi keberhasilannya yaitu :

a) Faktor tanaman

Umur dan kecepatan pertumbuhan. Struktur luar seperti bentuk daun (ukuran dan permukaan), kedalaman akar, lokasi titik tumbuh dan lain-lain.

b) Faktor herbisida

Struktur, konsentrasi dan formula (cair atau granular). c) Faktor lingkungan

Temperatur, cahaya, hujan dan faktor-faktor tanah. d) Cara pemakaian

Tipe herbisida (digunakan ke tanah, ke tanaman) harus sesuai volume penyemprotan, ukuran butiran penyemprotan, dan waktu penyemprotan. Waktu aplikasi herbisida biasanya ditentukan oleh stadia pertumbuhan dari tanaman maupun gulma. Berdasarkan hal tersebut, maka waktu aplikasi herbisida terdiri dari :

a) Pre plant, maksudnya herbisida diaplikasikan pada saat tanaman (crop) belum ditanam, tetapi tanah sudah diolah.

(13)

16

b) Pre emergence, maksudnya herbisida diaplikasikan sebelum benih tanaman (crop) atau biji gulma berkecambah. Pada perlakuan ini benih dari tanaman sudah ditanam, sedangkan gulma belum tumbuh.

c) Post emergence, maksudnya herbisida diaplikasikan pada saat gulma dan tanaman sudah lewat stadia perkecambahan. Aplikasi herbisida bisa dilakukan pada waktu tanaman masih muda maupun pada waktu tanaman sudah tua (Sukman dan Yakup, 2002).

Berdasarkan Cara kerjanya : a) Herbisida kontak

Herbisida yang mempunyai daya mematikan setiap gulma yang terkena larutan.

Contohnya : herbisida paraquat. b) Herbida Sistemik

Herbisida yang bekerja sistemik (larutan masuk ke dalam jaringan tumbuhan atau tanaman).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :