BAB I PENDAHULUAN. ketergantungan orang akan media massa semakin tinggi. Munculnya televisitelevisi

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah.

Perkembangan media massa akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ketergantungan orang akan media massa semakin tinggi. Munculnya televisi-televisi swasta dalam jumlah siarannya yang sangat banyak mempengaruhi kehidupan dalam setiap lapisan masyarakat.

Televisi sebagai media massa, mempunyai banyak kelebihan dalam penyampaian pesan-pesannya, dibandingkan dengan media massa yang lain, karena pesan-pesan yang disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan dan dan sangat cepat dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas. Televisi kini semakin mendominasi komunikasi massa dikarenakan sifatnya yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Perkembangan televisi di Indonesia semakin marak dengan kehadiran televisi swasta yang berawal dari peresmian televisi swasta pertama yaitu RCTI oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Agustus 1989. Setelah RCTI, bermunculan Tv Swasta yang lain yakni SCTV, TPI, INDOSIAR, dan ANTEVE. (www.wikipedia.co.id).

Kehadiran kelima stasiun televisi swasta disambut gembira oleh khalayak. Apalagi sebagai media audio-visual, televisi mempunyai daya tarik tersendiri dengan gambar bergeraknya. Karena itu khalayak cenderung menggunakan televisi sebagai sarana hiburan, informasi maupun pengetahuan, sehingga membuat informasi yang disampaikan lebih menarik dan menyenangkan pemirsanya dibanding media lainnya.Masing-masing stasiun

(2)

televisi mempunyai karakteristik tersendiri yang memberikan kekuatan dan daya tarik pada stasiun televisi tersebut.

Setelah munculnya lima stasiun televisi swasta, kini hadir lima stasiun televisi lagi, yakni Trans 7, Global tv, Metro Tv, Lativi dan Trans Tv. TRANS TV (PT Televisi Transformasi Indonesia) adalah sebuah stasiun televisi swasta ke 8 yang memperoleh ijin mengudara secara nasional di Indonesia. Usahanya berada di bawah kepemilikan Para Group (PT Para Inti Investindo).

Memperoleh ijin siaran pada bulan Oktober 1998 setelah dinyatakan lulus dari ujian kelayakan yang dilakukan tim antar departemen pemerintah, maka sejak tanggal 15 Desember 2001, TRANS TV memulai siaran secara resmi. Trans TV terkenal dengan film box office. (www.transtv.co.id)

Diantara sekian banyak acara-acara yang ditayangkan oleh televisi-televisi swasta, salah satunya yang banyak merebut perhatian penonton adalah program acara masakan yang ditayangkan di stasiun TV. Televisi swasta tampaknya berlomba-lomba menyajikan progaram acara yang sejenis. Salah satunya yang menjadi topik dalam penelitian ini adalah tayangan Wisata Kuliner yang ditayangkan oleh Trans TV.

Edisi Perdana tayangan Wisata Kuliner diputar pada pada bulan Juli 2006, ternyata program acara ini banyak digemari khalayak, khususnya ibu rumah tangga. Wisata Kuliner ini banyak digemari penonton, karena pembawa acaranya Bondan Winarno yang sangat mengerti tentang beraneka ragam masakan dan komunikatif berbeda dengan pembawa acara tayangan yang sejenis. (www.google.com)

Yang menonjol dari acara wisata kuliner ini, seorang Bondan Winarno mampu mengapresiasikan cita rasa makanan secara detail. Dia mampu

(3)

menjelaskan kelebihan dan kekurangan hidangan yang disantapnya, seperti bumbu apa saja yang dominan, bumbu yang meresap dilidah, hingga manfaat bumbu untuk kesehatan. Bondan winarno juga dapat menghidupkan suasana semakin semarak, sehingga tidak membuat bosan khalayak yang menonton acara tersebut.

Ketika peneliti mengadakan pengamatan pada ibu rumah tangga yang menetap di Komplek Rispa kelurahan Gedung johor Medan, dari hasil pengamatan peneliti melihat ibu rumah tangga lebih sering menghabiskan waktunya untuk menonton acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi dan salah satunya adalah program acara Wisata Kuliner yang ditayangkan oleh Trans Tv pada hari Senin- Jum’at pukul 14.30 Wib dan hari sabtu jam 07.30 wib yang telah ditayangkan dari tanggal 3 Juli 2006.

Wisata Kuliner ini dibuat oleh pihak penyelenggara dengan menyuguhkan kepada pemirsa tentang beraneka ragam makanan khususnya yang disajikan oleh warung-warung pinggir jalan yang berharga murah serta dipenuhi oleh pelanggan. Istimewanya tempat-tempat yang dikunjungi tersebut tersebar di seluruh pojok kota Kabupaten, kota Provinsi dan Ibu kota. Program acara Wisata Kuliner dipandu oleh Bondan Winarno yang terkenal dengan sebutan Mak nyuss. Bondan Winarno didalam mencoba setiap masakan tidak selalu menggunakan kata Mak nyuss saja, tergantung dari masakan dari suatu daerah. Hanya masakan yang enak saja yang memakai kata Mak nyuss. Kekuatan acara ini, ada pada Bondan Winarno dengan kepiawaiannya soal kuliner, pemirsa seolah-olah diajak menjadi pencicip aneka panganan yang sangat menggugah selera penonotonnya serta ikut berjalan-jalan. Sehingga penonton seperti ikut menikmati masakan yang

(4)

disantap Bondan.

Apalagi pengetahuan kuliner bapak 3 anak ini yang segudang, membuat dia terlihat cerdas berbeda dengan pembawa acara program acara yang sejenis. Uniknya program acara ini, pemirsa diajak berkeliling tempat-tempat menarik diseluruh nusantara sambil mencicipi kelezatan masakan daerah tersebut.. Selain itu, program acara ini juga menceritakan keunikan sebuah kota, mulai dari sejarah, arsitektur hingga budayanya. Tidak hanya itu, Wisata Kuliner akan mengajak pemirsa mencari warung / restoran yang khas di kota yang dikunjungi untuk sarapan pagi, makan siang, atau makan malam. Juga dilampirkan harga makanan dan lokasi restoran atau kedai yang disajikan di acara tersebut, sehingga memberikan gambaran kepada khalayak berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk menikmati makanan tersebut dan juga khalayak akan dapat mengetahui lokasi rumah makan / restoran yang akan dikunjungi, karena dilampirkan dalam tayangan acara tersebut sehingga memudahkan khalayak untuk mengunjungi lokasi restoran / kedai yang akan dikunjungi. Tidak lupa pada akhir acara program ini, juga akan berkeliling ke berbagai toko atau kedai untuk mencari makanan kecil khas kota tersebut seperti kue kering, kerupuk, dodol, madu dan lain-lain, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Menurut bapak 3 orang anak ini, Medan adalah salah satu kota Indonesia yang paling lengkap kekayaan kulinernya. Karena Medan mempunyai keunikan lebih dibanding kota-kota lain, karena adanya pengaruh dari kultur kuliner india dan Tionghoa terhadap kuliner Melayu yang kaya dan unik. Medan selain terkenal dengan bolu gulung Meranti, Bika Ambon dan Sirup Markisa juga mempunyai masakan yang sangat dasyat yaitu Soto Udang

(5)

yang ada di Jalan Kesawan yang tiada duanya.( www.Aplaus.co.id)

Bertitik tolak dari hal-hal yang disebutkan diatas peneliti berminat mengadakan penelitian tentang tayangan Wisata Kuliner di Televisi dan tindaka menonton pada kalangan ibu rumah tangga di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor Medan.

I.2 Perumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut :

“Sejauhmanakah pengaruh tayangan Wisata Kuliner yang ditayangkan di Trans TV terhadap minat menonton pada kalangan Ibu rumah tangga di Komplek Rispa ?”

I.3 Pembatasan Masalah.

Berdasarkan alasan untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang luas, maka diperlukan adanya pembatasan masalah, yakni sebagai berikut :

1. Masalah yang diteliti adalah Tayangan Wisata Kuliner di Televisi dan Tindakan menonton di kalangan ibu rumah tangga di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor.

2. Khalayak/ pemirsa yang dijadikan sampel adalah Ibu rumah tangga yang menetap di komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor.

3. Objek penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang berumur 30- 55 tahun yang pernah menyaksikan tayangan Wisata Kuliner.

4. Penelitian ini bersifat korelasional yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmanakah Tayangan Wisata kuliner berpengaruh terhadap tindakan menonton Tv dikalangan ibu rumah tangga di Komplek Rispa.

(6)

5. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Desember 2007

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian. I.4.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui bagaimanakah tayangan Wisata Kuliner di televisi di kalangan ibu rumah tangga.

b. Untuk mengetahui tindakan menonton tayangan wisata kuliner di Televisi pada kalangan Ibu rumah tangga di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor. c. Untuk mengetahui pengaruh Tayangan Wisata Kuliner di Televisi terhadap

tindakan menonton ibu-ibu rumah tangga di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor.

I.4.2 Manfaat Penelitian.

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa serta dapat menambah jenis permasalahan yang dibahas dalam penelitian di kalangan Ibu rumah tangga.

b. Secara akademis, Bagi Departemen Ilmu Komunikasi, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan perbandingan bagi penelitian yang akan datang tentang masalah media massa televisi, khususnya tentang masakan.

(7)

c. Secara praktis, hasil dari penulisan penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran dan motivasi kepada mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan khususnya dalam bidang masakan.

I. 5. Kerangka Teori.

Sebagai pedoman dasar berpikir untuk mengembangkan penelitian diperlukan adanya kerangkan teori. Kerangka teori ini dapat berfungsi sebagai pendukung guna menganalisa variabel-variabel yang akan diteliti. Sesuai dengan pernyataan dari Nawawi (1990 : 63) bahwa kerangka teori disusun sebagai landasan berfikir yang menunjukkan dari sudut mana masalah yang diteliti akan diamati.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan Teori Agenda setting, teori AIDDA, dan Pengertian Tindakan

I.5.1 Agenda setting

Model Agenda setting adalah model yang mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan itu. Media memberikan agenda-agenda lewat pemberitaannya, sedangkan masyarakat akan mengikutinya. Media punya kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu.

Model Agenda Setting

Variabel Media Massa =>Variabel Antara => Variabel Efek => Variabel efek lanjutan - Panjang - Sifat stimulus - Pengenalan - Persepsi

(8)

- Penonjolan - sifat khalayak - prioritas - aksi - Konflik

Efek media massa diukur dengan membandingkan dua pengukuran. Pertama peneliti mengukur agenda media dengan analisis isi yang kuantitatif, atau peneliti menentukan batas waktu tertentu, berbagai isi media dan menyusun isi itu berdasarkan panjang (waktu dan ruang). Sifat-sifat stimulus menunjukkan karakteristik issues, termasuk jarak issue (apakah issue itu langsung atau tidak langsung dialami oleh individu), lama terpaan (apakah issue itu baru muncul atau mulai pudar).

Agenda masyarakat dapat diteliti dari segi apa yang dipikirkan orang (intrapersonal), dan apa yang dibicarakan orang itu dengan orang lain (interpersonal), dan apa yang mereka anggap sedang menjadi pembicaraan orang ramai ( community salience). Efek terdiri dari efek langsung dan efek lanjutan. Efek langsung berkaitan dengan issue, apakah issue itu ada atau tidak dalam agenda khalayak (pengenalan), dari semua issue mana yang dianggap paling penting menurut khalayak (salience), bagaimana issue itu mendapat respon oleh responden. Efek lanjutan berupa tindakan.

Menurut Stephen W Littlejohn (1992), agenda setting beroperasi dalam 3 bagian yaitu :

1. Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada waktu pertama kali.

2. Agenda media dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik.

(9)

3. Agenda publik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adalah pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting bagi individu.

Dengan demikian, agenda setting ini memprediksi bahwa agenda media mempengaruhi agenda publik, sementara agenda publik itu sendiri akhirnya mempengaruhi agenda kebijakan.

Dalam teori agenda setting ini ada beberapa dimensi yang berkaitan seperti yang dikemukakan oleh Mannheim (Severin dan Tankard,Jr : 1992) sebagai berikut :

1. Untuk agenda Media, dimensinya adalah :

a. Visibility (visibilitas), yakni jumlah dan tingkatan menonjolnya berita

b. Audience salience (tingkat menonjol bagi khalayak) adalah relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak

c. Valence (valensi), yakni menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.

2. Untuk Agenda Khalayak, dimensinya adalah :

a. Familiarity (Keakraban), yakni derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu.

b. Personal salience (penonjolan pribadi), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.

c. Favorability (kesenangan), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.

(10)

a. Support (dukungan), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.

b. Likehood of action (kemungkinan kegiatan), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.

c. Freedom of action (kebebasan bertindak), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.

1.5.2 Model AIDDA

Teori AIDDA sering juga disebut A-A Procedure atau from Attention to Action Procedure. AIDDA merupakan akronim dari :

A Attention (Perhatian) I Interest (Minat)

D Desire (Hasrat / Keinginan) D Decision (Keputusan)

A Action (Tindakan) ( Effendy, 2003 : 304)

Tahapan di atas mengandung pengertian proses komunikasi (baik komunikasi tatap muka maupun komunikasi massa) hendaknya dimulai dengan membangkitkan perhatian. Dimulainya proses komunikasi dengan membangkitkan perhatian (attention) komunikan merupakan awal suksesnya komunikasi tersebut. Perhatian adalah sesuatu yang menimbulkan ketertarikan seseorang terhadap objek tertentu. Apabila perhatian komunikan telah terbangkitkan, hendaknya disusul dengan upaya menumbuhkan minat

(11)

(interest). Minat adalah kecenderungan hati untuk menentukan sesuatu yang disenangi. Minat merupakan derajat yang lebih tinggi dari perhatian yang merupakan titik tolak bagi timbulnya hasrat / keinginan (desire) untuk melakukan suatu kegiatan yang diharapkan komunikator.

Keinginan adalah dorongan yang timbul dalam diri seseorang yang tertuju pada sesuatu. Hanya hasrat / keinginan saja pada diri komunikan tidaklah cukup bagi komunikator, sebab harus dilanjutkan dengan datangnya keputusan. Keputusan adalah perihal yang berkaitan dengan segala sesuatu yang telah difikirkan dan dipertimbangkan. Keputusan (decision), yakni keputusan untuk melakukan tindakan (action) seperti yang diharapkan komunikator. Tindakan adalah Suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu.

Dalam hal ini, komunikatornya adalah tayangan Wisata Kuliner, yang menjadi komunikan adalah ibu rumah tangga yang menjadi pemirsa televisi. Sebuah program acara harus mampu membangkitkan perhatian pemirsanya, dalam hal ini tayangan Wisata Kuliner harus mampu membangkitkan perhatian pemirsa televisi sehingga akan muncul minat dalam diri khalayak untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang program acara tersebut. Selanjutnya minat akan melahirkan keinginan untuk menonton program acara tersebut.

1.5.3 Tindakan

Tindakan adalah suatu dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. (Effendy, 2003 : 304)

(12)

Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dapat mengantar penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 1991 : 40).

Konsep merupakan istilah dan defenisi yang akan digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena yang hendak diteliti (Singarimbun, 1989 : 33).

Jadi kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasikan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

- Variabel Bebas (X)

Variabel bebas merupakan variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variabel yang lain (Rakhmat, 1991 : 12). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tayangan Wisata Kuliner.

- Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat adalah variabel yang diduga sebagai akibat yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Rakhmat, 1991 : 12). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Tindakan menonton tayangan Wisata Kuliner di kalangan Ibu rumah tangga.

(13)

Variabel antara adalah sejumlah gejala yang tidak dapat dikontrol, akan tetapi dapat diperhitungkan pengaruhnya terhadap variabel bebas ( Nawawi, 2001 : 58). Variabel antara pada penelitian ini adalah karakteristik Ibu rumah tangga di komplek Rispa.

I.7 Model Teoritis.

Keterangan :

Variabel Bebas (X) : Tayangan Wisata Kuliner Variabel Terikat (Y) : Tindakan menonton televisi

1.8 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep di atas maka dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu sebagai berikut :

Variabel Teoritis Operasional Variabel Bebas (X)

- Tayangan Wisata Kuliner di Trans Tv

1) Frekuensi penayangan 2) Waktu penayangan 3) Durasi penayangan

4) Pembawa acara terdiri dari; - Komunikator, sebagai berikut :

a) Kredibilitas - Keahlian Tayangan Wisata Kuliner Tindakan Menonton Televisi

(14)

- Kejujuran - Berperasaan - Tingkah laku - Ekspresi b) Daya tarik - Penyesuaian diri - Tampilan fisik 5) Pesan terdiri dari;

- Isi Pesan

- Tehnik Penyampaian pesan 6) Format tayangan Wisata Kuliner terdiri dari; - Beraneka ragam makanan - Sejarah kota Variabel Terikat Tindakan Menonton a) Perhatian b) Minat / Ketertarikan c) Keinginan d) Keputusan e) Tindakan 1.9 Defenisi Operasional

Menurut Singarimbun (1995 : 46), Defenisi operasional merupakan unsur penelitian yang memberitahukan bagaiman caranya untuk mengukur suatu penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya untuk mengukur

(15)

suatu variabel. Dengan kata lain, defenisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama. Dalam penelitian ini, variabel-variabel dapat didefinisikan sebagai berikut:

Variabel Bebas (X) tentang tayangan Wisata Kuliner yang terdiri dari :

1) Frekuensi Penayangan : Seberapa sering program acara tersebut ditayangkan. dalam satu minggu.

2) Waktu penayangan : Jadwal penayangan suatu program acara tersebut ditayangkan.

3) Durasi Tayangan : berapa lama durasi program acara tersebut. Wisata Kuliner berdurasi selama 30 menit.

4) Pembawa acara :

- Komunikator, yang terdiri dari : a. Kredibilitas, indikatornya adalah :

- keahlian, yaitu faktor dimana seorang pembawa acara harus menguasai topik yang akan disampaikan sehingga acara tersebut akan menyatu dengan pembawa acaranya.

- Kejujuran, yaitu faktor dimana pembawa acara harus mempunyai kemampuan untuk bertindak dengan bijaksana dengan mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.

- Berperasaan, yaitu faktor dimana seorang pembawa acara harus dapat merasakan perasaan seseorang agar nantinya dapat berbicara sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pemirsanya.

- Tingkah laku, yaitu faktor dimana pembawa acara harus mampu berperilaku baik terutama saat memandu suatu acara.

(16)

- ekspresi, yaitu faktor dimana seorang pembawa acara harus dapat berbicara sambil menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan apa yang sedang dibicarakannya.

b. Daya tarik, indikatornya adalah :

- Penyesuaian diri, yaitu faktor dimana seorang pembawa acara dapat langsung beradaptasi dengan penonton yang menyaksikan acaranya. - Tampilan fisik, yaitu faktor yang dimiliki oleh seorang pembawa suatu

acara, dimana bentuk tampilan fisik tersebut dapat menarik perhatian penonton. Dalam hal ini, Bondan Winarno mampu memberikan tampilan yang menarik dengan berpakaian yang sesuai dengan kepribadiannya.

5) Pesan, yang terdiri dari :

a) isi pesan yaitu kata-kata yang diucapkan seorang pembawa acara yang merupakan faktor kunci dari suksesnya suatu acara. Dalam hal ini, Bondan Winarno mengapresiasikan cita rasa makanan sedemikian detail, seperti menjelaskan kelebihan dan kekurangan bumbu dan rasa hidangan yang disantapnya serta bumbu masakan yang bermanfaat buat kesehatan.

b) Tehnik Penyampaian Pesan, yaitu faktor dimana dalam menyampaikan pesan, seorang pembawa acara harus dapat menyesuaikan antara gerak tubuh dengan ekspresi wajahnya sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih dimengerti oleh pemirsanya, dalam hal ini Bondan Winarno menciptakan ciri khas yang berbeda dengan pembawa acara sejenis dengan sebutan, maknyuss, cakep, dan cantik, dalam menilai rasa makanan yang santapnya.

6) Format Tayangan Wisata Kuliner : adalah tentang format didalam menampilkan suatu program acara. Dalam hal ini Wisata Kuliner

(17)

Menyuguhkan kepada pemirsa tentang beraneka ragam makanan yang khas dari suatu kota yang dikunjungi. Serta juga menceritakan tentang sejarah kota yang dikunjunginya.

Variabel terikat (Y) Minat menonton terdiri dari :

1) Perhatian : Sesuatu yang menimbulkan ketertarikan seseorang terhadap objek tertentu.

2) Minat : Kecenderungan hati untuk menentukan sesuatu yang disenangi.

3) Keinginan : Dorongan yang timbul dalam diri seseorang yang tertuju kepada sesuatu.

4) Keputusan : Perihal yang berkaitan dengan segala sesuatu yang telah difikirkan dan dipertimbangkan.

5) Tindakan : Suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Karakteristik Responden terdiri dari :

1. Usia adalah Lamanya hidup seseorang dari mulai lahir sampai pada saat penelitian dilakukan.

2. Pendidikan adalah Tingkatan seseorang dalam menyelesaikan studi dari mulai tingkatan terendah sampai tingkatan studi terakhir pada saat responden mengisi kuesioner.

3. Penghasilan adalah Pendapatan responden yang diperoleh seseorang setelah ia bekerja selama sebulan.

1. 10 Hipotesa

Hipotesa adalah pernyataan yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya yang

(18)

mungkin benar dan mungkin salah. Hipotesa yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Ha : Terdapat Pengaruh antara tayangan Wisata Kuliner di Trans TV terhadap Tindakan menonton Ibu rumah tangga

1.11 Metodologi Penelitian

Metode penelitian ini menggambarkan tentang cara-cara pengumpulan data yang diperlukan guna menjawab permasalahan yang ada dalam kegiatan ilmiah. Metodologi merupakan hal yang penting untuk menentukan secara tehnik operasional yang dipakai sebagai pegangan dalam mengambil langkah-langkah sehingga dapat diketahui tentang :

1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasional yang berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau gejala yang lebih khusus dalam

(19)

penjelasan antara dua objek. Metode penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, seberapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan tersebut.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor, Medan.

3. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, hewan, benda, tumbuh-tumbuhan, gejala atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu peristiwa (Nawawi, 1991 : 141)

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah menonton tayangan Wisata Kuliner yang berusia 30-55 tahun di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor. Adapun yang menjadi alasan bagi peneliti dalam memilih populasi tersebut karena berdasarkan pengamatan peneliti masyarakat di Komplek Rispa kelurahan Gedung Johor adalah masyarakat yang penduduknya lebih banyak ibu rumah tangga, sehingga sangat mendukung penelitian. Sedangkan batas usia dilakukan karena usia 30-55 tahun merupakan kelompok usia yang produktif dan dianggap relevan untuk mengambil keputusan. Kriteria ini dipilih karena ibu rumah tangga pada usia ini memiliki pendidikan dan kemampuan yang cukup untuk mencerna dan menyeleksi isi pesan yang disampaikan dalam tayangan Wisata Kuliner di Trans TV. Berdasarkan data yang di peroleh saat pra penelitian jumlah Ibu rumah tangga dari Kelurahan Gedung Johor adalah 1992 jiwa.

(20)

b. Sampel

Sampel adalah sebagian populasi yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Nawawi, 1995 : 144). Tehnik penarikan sampel yang representatif dilakukan dengan menggunakan rumus Taroyamane dengan presisi 10 % dan tingkat kepercayaan 90 %, sebagai berikut :

n = 1 ) (d 2  N N n = 1 ) 1 , 0 ( 1992 1992 2  n = 1 ) 01 , 0 ( 1992 1992  n = 1 92 . 19 1992  n = 92 . 20 1992 = 95 orang Keterangan : N = Populasi n = Sampel

d = Presisi (yang digunakan adalah 10 % atau 0,1)

Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 95 orang. Sedangkan untuk menentukan publik yang akan menjadi sampel digunakan tehnik proporsional random sampling, dengan rumus :

n =

N nlxn

(21)

Keterangan : n = Jumlah Sampel nl = Jumlah Populasi N = Populasi

Berdasarkan rumus diatas , maka dapat dihitung sampel yang dipilih di setiap lingkungan adalah :

Tabel

Simpel Random Sampling

Lingkungan Populasi Penarikan Sampel Sampel Lingkungan I ( Komplek Rispa 3) 642 1992 95 642x 31 Lingkungan II (Komplek Rispa 5) 700 1992 95 700x 33 Lingkungan III (Komplek Rispa 1) 650 1992 95 650x 31 Jumlah 95

4. Tehnik Penarikan Sampel 1. Probability Sampling

Tehnik Sampling probabilitas ini termasuk tehnik random sebagai cara penentuan sampel yang objektif, karena memperhitungkan besarnya variasi populasi yang dapat menjadi sumber kekeliruan dalam penarikan sampel. Dengan kata lain penentuan sampel dengan cara ini dilakukan dengan memperhitungkan jumlah atau ukuran sampel untuk memperoleh elemen-elemen yang benar-benar yang mewakili populasi. Pengambilan sampel dengan tehnik ini disesuaikan dengan tujuan penelitian, dimana sampel yang

(22)

digunakan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria sampelnya adalah ibu rumah tangga di Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor yang berusia 30-55 tahun.

2. Random Sampling

Dalam tehnik ini random untuk mendapatkan sampel langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terkecil, memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Dengan menyusun daftar nama-nama ibu rumah tangga yang populasinya 1992 jiwa. Selanjutnya memberikan nomor pada setiap populasi, setelah itu mengundi setiap nomor populasi tersebut dengan sistem lotre, sehingga didapat jumlah sampelnya 95 orang.

5. Tehnik Pengumpulan Data

Adapun tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1) Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian Kepustakaan ( Library Research) adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan menghimpun dan mempelajari data dari buku-buku serta sumber bacaan lain yang relevan dan mendukung penelitian.

(23)

Penelitian Lapangan (Field Research) adalah penelitian dengan cara mengumpulkan data di lapangan yang meliputi kegiatan survei di lokasi penelitian melalui :

a) Kuesioner : Alat pengumpul data dalam bentuk sejumlah pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis pula oleh responden (Nawawi, 1991 : 117). Dalam hal ini peneliti akan menyebarkan kuesioner kepada Ibu rumah tangga Komplek Rispa Kelurahan Gedung Johor yang terpilih menjadi sampel.

b) Observasi : Yaitu pengamatan dan perencanaan secara sistematik terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian (Nawawi, 1995 : 100). Observasi terhadap media televisi dilakukan dalam rangka mengamati gejala-gejala yang akan diteliti dari tayangan Wisata Kuliner. Sesuai dengan pra survey yang telah dilakukan peneliti.

6. Tehnik Analisis data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis dengan menggunakan Analisis Tabel Tunggal yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian kedalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi Tabel Tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang terdiri dari kolom, yaitu sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori (Singarimbun, 1995 : 237). Data yangg diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis dalam 3 tahap analisa yaitu :

a) Analisa Tabel Tunggal

Merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian kedalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar

(24)

frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa data yang terdiri dari kolom yaitu sejumlah frekuensi dan persentasi untuk setiap kategori ( Singarimbun, 1995 : 266)

b) Analisa Tabel Silang

Tehnik yang digunakan untuk menganalisa dan mengetahui variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel lainnya, sehingga dapat diketahui apakah variabel bernilai positif atau negatif. (Singarimbun, 1995:273).

c) Uji Hipotesa

Uji hipotesa adalah pengujian data statistik untuk mengetahui data hipotesa yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Untuk menguji tingkat hubungan diantara kedua variabel yang dikorelasikan, maka peneliti menggunakan rumus Rank Spearman (Singarimbun, 1997 :148)

rs = 1-) 1 ( 6 2 2 

n n di Keterangan :

rs : Koefisien korelasi Product Moment

di : Menunjukkan perbedaan setiap pasang rank n : Jumlah Responden

(25)

Jika rs> 0, maka Ha ditolak dan Ha diterima

. Untuk menguji signifikansi korelasi untuk N > 50 digunakan rumus sebagai berikut : Z hitung = 1- 1 / 1 nrs Keterangan : Z : Nilai hitung

rs : Nilai Koefisien korelasi

n : Jumlah Sampel

Selanjutnya untuk melihat tinggi rendahnya korelasi digunakan skala Guilford (Rakhmat, 2004 : 27).

< 0,20 : Hubungan rendah sekali, lemah sekali 0,20-0,40 : Hubungan rendah tapi pasti

0,41-0,70 : Hubungan yang cukup berarti 0,71-0,90 : Hubungan yang tinggi, kuat > 0,91 : Hubungan sangat tinggi

1.12 Sistematika Penulisan. BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Pembatasan Masalah

(26)

1.5 Kerangka Teori 1.6 Kerangka Konsep 1.7 Model Teoritis 1.8 Operasional Variabel 1.9 Defenisi Operasional 1.10 H i p o t e s a 1.11 Metodologi Penelitian 1.12 Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI II.1 Teori Agenda setting

II.2 Model AIDDA

II.3 Tindakan Menonton

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian III.2 Populasi dan Sampel III.3 Tehnik Penarikan Sampel III.4 Metode Penelitian

III.5 Tehnik Pengumpulan Data III.6 Tehnik Analisis Data

BAB IV ANALISIS TABEL TUNGGAL DAN PEMBAHASAN IV.1 Analisis Tabel Tunggal

(27)

IV.3 Uji Hipotesa

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan

V.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Kuswandi, Wawan, 1996, Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta, Rineka Cipta

Effendy, Onong Uchjana, 2000, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya

(28)

Wiryanto, 2000, Teori Komunikasi Massa, Edisi Pertama, PT. Grasindo, Jakarta. Singarimbun, Masri, 1995, Metode Penelitian Survey, Jakarta, LP3ES.

Effendy, Onong Uchjana, 2004, Dinamika Komunikasi,Bandung, Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Djalaluddin, 2004 Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya

,1989, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya Ardianto, Elvinaro, 2004 Komunikasi Massa : Suatu Pengantar, Bandung, Simbiosa Rekatama

Wahyudi, J.B, Drs, 1986, Media Komunikasi Massa Televisi, Alumni, Bandung

Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Peneitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta

Nurudin, 2003, Komunikasi Massa, Cespur, Yogyakarta.

Mc.Quail, Dennis, 1994, Teori Komunikasi Massa, Erlangga Jakarta

Cangara, Hafied, 2000, Pengantar Ilmu Komunikasi, Cetakan Kedua, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sobur, Alex, 2004, Semiotika Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya

SUMBER LAIN www.Aplaus.co.id www.wikipedia.com www.Wikipedia.org/wiki/Bondan_Winarno www.transtv.co.id www.Jalansutra.or.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :