BAB I PENDAHULUAN. ketergantungan orang akan media semakin tinggi. Dalam masyarakat yang sedang

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan media massa akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ketergantungan orang akan media semakin tinggi. Dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, orang umumnya lebih memilih media audio-visual daripada media cetak. Dari sekian banyak media massa yang ada, diperkirakan pada tahun-tahun mendatang media cetak akan kalah bersaing dengan televisi atau media audio-visual lainnya. Namun dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dapat pula dikatakan bahwa media cetak seperti surat kabar, majalah dan tabloid tidak akan ditinggalkan oleh masyarakat. Alasannya, bahwa orang-orang cenderung membaca kembali berita-berita dalam surat kabar atau majalah yang telah mereka lihat atau dengar di televisi atau radio. Jadi orang tidak cukup mendengar radio atau televisi namun cenderung menambah pengetahuan mereka dengan membaca media cetak seperti surat kabar, majalah atau tabloid.

Surat kabar, majalah, tabloid, buku, televisi, radio adalah jenis-jenis media massa. Setiap media di atas juga memiliki segmen-segmen tersendiri, ada majalah khusus wanita, tabloid olahraga, program televisi khusus balita, dan lain sebagainya.. Ini menunjukkan setiap media sudah lebih khusus lagi dalam menjaring konsumen.

Olahraga merupakan bidang yang banyak diakses oleh khalayak disamping bidang politik, ekonomi dan hiburan. Hampir di setiap media massa

(2)

setiap terbitannya. Bagi sebagian besar orang informasi olahraga yang paling banyak diminati dan diakses adalah informasi mengenai sepak bola. Tidak bisa dipungkiri, saat ini sepak bola merupakan olah raga yang paling populer di dunia. Tidak jarang berita mengenai sepak bola bisa mengalahkan berita mengenai politik atau ekonomi yang sedang hangat-hangatnya.

Banyaknya media massa saat ini yang menyediakan informasi mengenai sepak bola membuat khalayak tidak susah lagi mencari atau mengakses informasi untuk menambah pengetahuannya dalam bidang sepak bola. Namun tidak semua media massa tersebut menyediakannya secara eksklusif. Media massa yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan sesuai dengan motif yang ada pada khalayak tentu akan digemari. Namun jika media tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi kalayaknya, dengan sendirinya media itu akan ditinggalkan khalayaknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa khalayak sesungguhnya aktif dalam menggunakan media untuk meningkatkan pengetahuan sesuai dangan apa yang mereka butuhkan.

Salah satu media massa yang menyediakan informasi mengenai sepak bola adalah tabloid Bola. Meskipun disamping itu masih banyak tabloid lain seperti Tabloid Go, Soccer, Top Score, dan lain sebagainya. Tabloid sebenarnya adalah istilah suatu format surat kabar yang lebih kecil (597 mm × 375 mm) dari ukuran standar koran harian. Istilah ini biasanya dikaitkan dengan penerbitan surat kabar reguler non harian (bisa mingguan, dwimingguan, dll), yang terfokus pada hal-hal yang lebih "tidak serius", terutama masalah selebritas, olah raga, kriminal, dan lain sebagainya. (wikipedia)

(3)

Tabloid Bola merupakan tabloid olahraga Indonesia yang terbit dua kali dalam seminggu, pada hari selasa dan jummat. Tabloid ini merupakan tabloid olahraga yang populer dan bisa dibilang merupakan pelopor dalam penerbitan media massa bertema olahraga di Indonesia. Tabloid Bola awalnya terbit sebagai sisipan harian Kompas pada 3 Maret 1984, namun empat tahun kemudian mulai diterbitkan terpisah. Hingga tahun 1997, Bola hanya diterbitkan sekali seminggu, yaitu pada hari Jumat. Tabloid Bola mempunyai fokus pada berita-berita sepak bola dan sering mengirimkan wartawannya untuk meliput ajang-ajang olahraga di luar negeri, termasuk Piala Dunia FIFA. Namun seiring dengan perkembangan dunia olahraga, saat ini tabloid bola juga mengulas berita dari berbagai bidang olahraga seperti otomotif, tinju, bulutangkis, bola basket, dan lainnya.(wikipedia)

Melihat fakta di atas, penulis sebagai mahasiswa yang menekuni bidang komunikasi, merasa tertarik untuk meneliti masalah yang berhubungan dengan media cetak, tepatnya tabloid. Penulis memilih masalah tentang bagaimana hubungan motivasi konsumsi khalayak terhadap media (dalam hal ini tabloid Bola) dengan peningkatan pengetahuan mereka (pengetahuan sepak bola). Penulis memilih tabloid Bola sebagai bahan penelitian karena berdasarkan pengamatan penulis, tabloid Bola merupakan tabloid olahraga yang paling banyak dibaca oleh khalayak. Disamping itu tabloid Bola juga merupakan tabloid olahraga pertama yang ada di Indonesia, sehingga peneliti merasa informasi yang disajikan oleh tabloid bola sangat lengkap dan akurat.

Sekmen pembaca tabloid Bola sangan beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai pekerja kantoran. Tabloid bola sangat membantu pembacanya

(4)

jadwal pertandingan, hasil-hasil pertandingan, profil atlet, dan informasi-informasi lainnya dari sepak bola saat ini. Mahasiswa sebagai salah satu sekmen terbesar pembaca bola, membuat peneliti tertarik untuk menjadikan mahasiswa FISIP USU sebagai responden dalam penelitian ini.

Dari uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti sejauh mana hubungan antara motivasi konsumsi tabloid bola dangan peningkatan pengetahuan sepak bola di kalangan mahasiswa FISIP USU.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: “Sejauhmanakah hubungan antara motivasi konsumsi tabloid Bola dengan peningkatan pengetahuan sepak bola di kalangan mahasiswa FISIP USU?”

1.3. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari permasalahan yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalah tersebut adalah:

1. Penelitian ini bersifat korelasional, yaitu bersifat mencari atau menjelaskan hubungan atau menguji hipotesis.

2. Penelitian ini menganalisis motivasi konsumsi dan peningkatan pengetahuan mahasiswa FISIP USU terhadap berita sepak bola pada tabloid Bola.

(5)

4. Penelitian dilakukan pada tabloid Bola edisi November sampai dengan Desember 2009

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apa saja motivasi konsumsi di kalangan mahasiswa FISIP USU terhadap tabloid Bola.

2. Untuk mengetahui apakah pengetahuan sepak bolanya terpenuhi

3. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara motivasi konsumsi tabloid Bola dengan peningkatan pengetahuan sepak bola di kalangan mahasiswa FISIP USU.

1.4.2. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini berguna untuk memperkaya khasanah penelitian tentang motivasi khalayak mengkonsumsi media massa.

2. Secara akademis penelitian ini dapat disumbangkan kepada FISIP USU khususnya departemen Ilmu Komunikasi dalam rangka memperkaya bahan penelitian dan sumber bacaan.

(6)

1.5. Kerangka Teori

Dalam memecahkan suatu masalah penelitian, perlu adanya teori-teori yang akan dijadikan fokus untuk menyoroti permasalahan. Teori-teori yang digunakan menjadi pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti. (Nawawi,1991:41).

Kerlinger menyebutkan teori adalah himpunan (konsep), definisi, dan proposi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2004:6)

Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah Dependency Theory dan teori yang dianggap relevan adalah Komunikasi dan Komunikasi massa, motif penggunaan media, berita, tabloid dan tabloid Bola.

1.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa 1.5.1.1. Komunikasi

Secara etimologis yaitu pengertian menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari kata “communication”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna (Effendy, 1999:9). Jika tidak terjadi kesamaan makna antara pihak yang menyampaikan pesan (komunikator) dengan penerima pesan (komunikan), maka komunikasi tidak terjadi secara efektif. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi, yaitu komunikator dengan komunikan.

(7)

Selain pengertian komunikasi diatas, Berelson dan Steiner (1964) mengemukakan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi, ide, emosi, ketrampilan, dan seterusnya, melalui penggunaan simbol, kat, gambar, angka, grafik dan lain-lain (Fisher, 1990:10)

Sedangkan Harold Lasswell dalam karyanya “The Structure and function of Communication in society” mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah sebagai berikut : “Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect?”. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa komunikasi terdiri atas 5 unsur yaitu :

a. Komunikator (Source, Sender, Communicator) b. Pesan (Message)

c. Saluran (Channel)

d. Komunikan (Receiver, Communicant) e. Efek (Effect)

Jadi, berdasarkan paradigma Laswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 1999:10)

Dari beberapa pengertian komunikasi diatas, pada hakikatnya komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Dalam bahasa komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicate).

(8)

1.5.1.2. Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communiaction) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi.

Sebagian atau sejumlah besar alat mekanik itu dikenal sebagai alat-alat komunikasi massa atau lebih populer dengan media massa, yang meliputi semua alat-alat saluran, ketika narasumber (komunikator) mampu mencapai jumlah penerima (komunikan, audience) yang luas serta serentak dengan kecepatan yang relatif tinggi.

Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komuniaksi media massa). Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komuniaksi yang mass mediated. Berlo (1960) mengemukakan bahwa massa diartikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran” (Wiryanto, 2000:2)

Pool (1973) mendefinisikan komunikasi massa sebagai komunikasi yang berlangsung dalam situasi interposed ketika antara sumber dan penerima tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir kepada penerima melalui saluran-saluran media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, film tau televisi (Wiryanto, 2003:3)

Pengertian komunikasi massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar (McQuail, 1994:31). Selain itu, komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar,

(9)

heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sebagai pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat, 1993:189).

1.5.2. Motif Penggunaan Media

Motif manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam dirinya, untuk melakukan sesuatu. Motif – motif itu memberikan tujuan dan arah kepada tingkah laku kita (Gerungan, 1986 : 141). Menurut teori behaviorisme “ low of effects “ prilaku yang tidak mendatangkan kesenangan tidak akan diulangi, artinya kita tidak akan menggunakan media massa bila media massa tersebut tidak memberikan pemuasan pada kebutuhan kita. Jadi jelaslah kita menggunakan media massa karena didorong oleh motif – motif tertentu (Rakhmat, 2001 : 207).

Sehubungan dengan kebutuhan manusia, Katz, Guveritch dan Haas merumuskan tipologi kebutuhan yang berhubungan dengan media, yang meliputi (Liliweri, 1991 : 137 – 138):

1. Kebutuhan Kognitif 2. Kebutuhan Afektif

3. Kebutuhan Integratif Personal 4. Kebutuhan Integratif Sosial 5. Kebutuhan akan Pelarian

Dalam penelitian ini kebutuhan yang dimaksudkan adalah kebutuhan kognitif, karena kubutuhan ini berkaitan dengan usaha-usaha untuk menambah informasi dan meningkatkan pengetahuan khususnya di bidang sepak bola. Hal ini

(10)

berkaitan dengan keadaan mahasiswa yang dianggap paling aktif dan tertarik untuk mengikuti perkembangan sepak bola.

1.5.3 Pengetahuan

Pengetahuan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dipahami, dimengerti, dan diketahui berkenaan dengan suatu hal. Menurut Albert Bandura, media massa dianggap sebagai agen sosialisasi pengetahuan dan kebudayaan yang utama disamping keluarga, guru di sekolah, dan sahabat karib.

Berdasarkan wacana tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa media massa, dalam hal ini tabloid mempunyai pengaruh yang besar untuk meningkatkan pengetahuan pembacanya.

Pengetahuan akan sepak bola dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dipahami, dimengerti, dan diketahui oleh komunikan, dalam hal ini mahasiswa FISIP USU, mengenai berbagai hal tentang sepak bola.

Ada beberapa komponen yang dijadikan acuan untuk melihat sejauh mana pengetahuan mahasiswa bertambah dalam bidang sepak bola, yaitu:

 Preview dan rewiew pertandingan sepak bola  Jadwal pertandingan sepak bola

 Hasil-hasil pertandingan sepak bola  Profil atlet

1.5.4 Tabloid dan Tabloid BOLA 1.5.4.1. Tabloid

Tabloid adalah kumpulan berita-olahan atau berita investigatif, artikel, berita atau iklan yang terbit berkala (biasanya tiap minggu), dan dicetak dalam kertas yang ukurannya lebih kecil daripada plano (broadsheet). Penerbitan tabloid

(11)

di Barat (tempat asal lahirnya) dilandasi semangat sensasional (disebut juga jurnalisme got), karena pemberitaannya yang sensasional, transparan, mengerahkan narasumber, dan menggemparkan khalayak pembaca. (Wahyu Wibowo, 2006:24)

Tabloid awalnya diterbitkan sebagai bagian dari penerbitan surat kabar non reguler, yaitu surat kabar yang tidak terbit setiap hari sebagaimana surat kabar pada umumnya. Tabloid dijadikan wadah untuk memuat berita-berita yang dianggap kurang penting, seperti berita olahraga, selebritas, kesehatan, dan lain sebagainya.

1.5.4.2. Tabloid Bola

Tabloid Bola adalah tabloid olahraga Indonesia yang terbit dua kali dalam seminggu, pada hari Selasa dan Jumat. Tabloid ini merupakan tabloid olahraga yang populer dan bisa dibilang merupakan pelopor dalam penerbitan media massa bertema olahraga di Indonesia.

Bola awalnya terbit sebagai sisipan harian Kompas pada 3 Maret 1984 namun empat tahun kemudian mulai diterbitkan terpisah. Hingga tahun 1997, Bola hanya diterbitkan sekali seminggu, yaitu pada hari Jumat. Tabloid Bola mempunyai fokus pada berita-berita sepak bola dan sering mengirimkan wartawannya untuk meliput ajang-ajang olahraga di luar negeri, termasuk Piala Dunia FIFA.

Masthead tabloid Bola dan rancangan halaman depannya telah banyak dikopi tabloid-tabloid olahraga sejenis di Indonesia. Selain tabloid Bola, tabloid

(12)

tentang sepak bola namun lebih terfokus pada artikel-artikel non-berita, dan Bola Sports, yang mempunyai fokus pada cabang olahraga lainnya.

1.5.5. Teori Taksonomi Bloom

Kata Taksonomi diambil dari bahasa Yunani, yakni “tassein” berarti untuk mengklasifikasikan dan “nomos” yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Hampir semua – benda bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian – dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi).

Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan. Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi tiga kawasan menurut jenis kemampuan yang tercantum di dalamnya yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotor.

Menurut Taksonomi Bloom, tahapan seseorang hingga ia memiliki skill terhadap pengetahuan tertentu dimulai dari tahapan kognitif, di mana pada tahapan ini seseorang berproses untuk memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya. Lalu, akan naik ke tahap afektif, yaitu seseorang akan tertarik untuk melakukan adopsi-inovasi. Terakhir, seseorang sampai pada tahap psikomotor, di mana ia benar-benar mempraktikkan pengetahuan yang baru itu, sehingga ia memiliki skill yang baik. Inilah tahapan-tahapan yang akan dilalui seseorang dari tahapan-tahapan unskill sampai ke tahapan-tahapan skill terhadap suatu pengetahuan tertentu yang dikemukakan oleh Bloom.

(13)

1.5.6. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)

Teori ketergantungan (Dependency Theory) adalah teori tentang komunikasi massa yang menyatakan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media untuk memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang itu (Saverin and Tankard, 1992: 264). Teori ini diperkenalkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Mereka memperkenalkan model yang menunjukan hubungan integral tak terpisahkan antara pemirsa, media dan sistem sosial yang besar.

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratification, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Besarnya ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal:

 Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit.  Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu.

Dalam teori dependensi efek komunikasi massa yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur (Sendjaja, 2002: 26) memfokuskan perhatiannya pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecendrungan terjadinya suatu efek media massa. Di sini media massa dianggap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam pemeliharaan,

(14)

aktivitas sosial. Pemikiran dalam teori ini adalah bahwa di dakam masyarakat modern, audience menjadi tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan, dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakat. Dalam teori ini menjelaskan bahwa tingkat ketergantungan ini dipengaruhi oleh jumlah kondisi struktural dan apa yang dilakukan oleh media massa sebagai pelayanan berbagai fungsi informasi. Ada tiga komponen yang saling berhubungan dalam teori ini, yaitu audience, sistem media dan sistem sosial. Menurut Sendjaja (2002: 27), dari hubungan ketiga komponen tersebut kita dapat melihat efek tersebut dalam rumusan:

1. Efek kognitif, berhubungan dengan pikiran atau penalaran, sehingga khalayak yang semula tidak tahu, yang tadinya tidak mengerti, yang tadinya bingung menjadi merasa jelas.

2. Efek afektif, berkaitan dengan perasaan. Akibat dari membaca tabloid atau majalah, mendengar radio, menonton televisi, timbul perasaan tertentu pada khalayak.

3. Efek behafiorial, bersangkutan dengan niat, upaya, tekad, usaha yang cenderung menjadi suatu kegiatan atau tindakan. Efek behavioral tidak langsung timbul sebagai akibat terpaan media massa, melainkan didahului oleh efek kognitif dan afektif.

1.6. Kerangka Konsep

Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dan dapat mengantarkan penelitian pada rumusan hipotesis (Nawawi, 1995 : 40).

(15)

Konsep adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti yakni istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu, yang menjadi pusat perhatian ilmu pengetahuan sosial (Singarimbun, 1995 : 57).

Jadi, kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis, yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diujikebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas adalah sejumlah gejala, faktor atau unsur yang menentukan atau mempengaruhi munculnya gejala, faktor atau unsur yang lain (Nawawi, 1991:56).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi konsumsi tabloid Bola, yang terdiri dari komponen-komponen seperti: motif membca tabloid Bola Intensitas membaca tabloid Bola, dan frekwensi membaca tabloid Bola.

2. Variabel terikat (Y)

Variabel terikat adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan oleh adanya variable bebas (Nawawi, 1991: 57).

(16)

review pertandingan sepak bola, jadwal pertandingan sepak bola, hasil-hasil pertandingan sepak bola, profil pemain sepak bola.

1.7. Model Teoritis

Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut:

Gambar 1 Model Teoritis

1.8. Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dapat dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yakni sebagai berikut:

Tabel 1

Operasional Variabel

No Variabel Teoritis Variabel Operasional 1 Variabel Bebas (X)

Motivasi konsumsi tabloid Bola

1. Motif membaca tabloid Bola a. Kognitif

2. Intensitas membaca tabloid Bola VARIABEL BEBAS(X) MOTIVASI KONSUMSI TABLOID Bola VARIABEL TERIKAT(Y) TINGKAT PENGETAHUAN SEPAK BOLA

(17)

3. Frekuensi membaca tabloid Bola 2 Variabel Terikat (Y)

Tingkat pengetahuan sepak bola mahasiswa

Pengetahuan tentang:

1. Preview dan rewiew pertandingan sepak bola 2. Jadwal pertandingan sepak bola

3. Hasil-hasil pertandingan sepak bola 4. Profil pemain sepak bola

1.9. Defenisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan suatu petunjuk pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel-variabel. Definisi operasional merupakan suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang akan menggunakan variabel yang sama. Definisi operasional dari variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas (Motivasi konsumsi berita olahraga)

a) Motif membaca tabloid Bola, yaitu dorongan atau alasan yang menggerakkan mahasiswa untuk mengkonsumsi berita olahraga. Dalam hal ini motif yang mendorong mahasiswa adalah:

 Kognitif, yaitu kebutuhan informasi yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap berita olahraga.

- Pengetahuan, yaitu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa setelah membaca berita sepak bola di tabloid Bola.

b) Intensitas membaca tabloid Bola, yaitu rata-rata waktu yang dihabiskan olaeh mahasiswa saat membaca tabloid Bola.

(18)

c) Frekwensi membaca tabloid Bola, yaitu seberapa sering mahasiswa membaca tabloid Bola.

2. Variabel Terikat (pemenuhan kebutuhan informasi olahraga)

Mengetahui perkembangan dunia olahraga, yaitu segala hal mengenai perkembangan yang terjadi di dalam dunia olahraga.

a) Preview dan review pertandingan sepak bola, yaitu ulasan mengenai pertandingan sepak bola, baik sebelum maupun sesudah pertandingan dilakukan.

b) Jadwal pertandingan sepak bola, yaitu informasi mengenai waktu pertandingan dilaksanakan.

c) Hasil pertandingan sepak bola, yaitu informasi mengenai hasil dari pertandingan sepak bola yang telah dilaksanakan.

d) Profil pemain, yaitu informasi mengenai kehidupan seorang atlet sepak bola.

1.10. Hipotesis

Hipotesis adalah pemecahan masalah yang bersifat sementara, mungkin benar dan mungkin salah. Untuk menguji hipotesis diperlukan data/fakta diperoleh dari hasil pengumpulan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah hipotesis harus diuji kebenaran atau ketidakbenarannya.

Dalam penelitian ini hipotesis yang akan diuji benar atau tidaknya adalah sebagai berikut :

(19)

Ha : Terdapat hubungan antara motivasi konsumsi terhadap berita sepak bola di tabloid Bola dan peningkatan pengetahuan sepak bola di kalangan mahasiswa FISIP USU.

Ho : Tidak terdapat hubungan antara motivasi konsumsi terhadap berita sepak bola di tabloid Bola dan peningkatan pengetahuan sepak bola di kalangan mahasiswa FISIP USU.

Figur

Gambar 1  Model Teoritis

Gambar 1

Model Teoritis p.16
Related subjects :