BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kota Depok yang bermula dari sebuah kecamatan yang berada dalam lingkungan wilayah Parung, Kabupaten Bogor yang kemudian banyak dibangun perumahan oleh Perum Perumnas maupun Pengembang lainnya diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas indonesia (UI) di wilayah kecamatan tersebut sehingga meningkatkan arus perdagangan dan jasa serta transportasi yang memerlukan peningkatan pelayanan publik. Maka Pemerintah selanjutnya membentuk Kota Administrasi Depok melalui Peraturan Pemerintah nomor 43 Tahun 1981 yang mencakup 3 (tiga) kecamatan dan 17 (tujuh belas) desa. Selama 17 tahun Kota Administrasi Depok berkembang dengan pesat baik di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Di bidang pemerintahan semua desa berubah menjadi kelurahan dan dengan adanya pemekaran kelurahan Depok memiliki 3 (tga) kecamatan dan 23 (dua puluh tiga) kelurahan. Selanjutnya melalui UU no 15 Tahun 1999 Depok menjadi Kotamadya Dt II. Pasca 2000 Depok berkembang menjadi 6 (enam) kecamatan dan 63 (enam puluh tiga) kelurahan, menunjukkan intensitas perkembangan yang sangat tinggi selain di sektor Pemerintahan, maupun di sektor industri, ekonomi dan perdagangan. Adanya berbagai perguruan tinggi ternama di kota Depok disamping perkembangan di sektor ekonomi, perdagangan dan jasa serta industri meningkatkan arus urbanisasi ke kota ini yang membawa dampak peningkatan pembangunan perumahan dan permukiman. Dengan laju pembangunan yang demikian cepat maka diprediksi kawasan terbangun di wilayah ini sampai tahun 2011 akan meluas mendekati 53% luas kota dan ruang-ruang terbuka hijau akan menyusut sampai tinggal 47% saja.
Pertumbuhan ekonomi kota Depok dipengaruhi oleh 2 (dua) lapang usaha yang dominan yaitu industri pengolahan dan perdagangan. Hal ini membawa kota Depok mejadi daerah memiliki banyak industri berskala besar, menengah dan kecil, sentra-sentra perdagangan yang bertaraf modern dan tradisional serta kawasan industri perdagangan. Kondisi ini disamping memberikan dampak positif namun juga menimbulkan dampak negatif yakni terciptanya kawasan-kawasan
yang rawan gangguan keamanan dan ketertiban, serta meningkatnya resiko bahaya kebakaran yang dapat menyebabkan dampak kerugian cukup besar bagi masyarakat, dunia usaha bahkan pendapatan daerah dari segi perekonomian dan sosial. Mengantisipasi peningkatan bahaya kebakaran ini diperlukan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran baik dari segi pengaturan, organisasi dan tata laksana, sumber daya manusia dan peralatan termasuk infrastruktur pendukungnya yang berbasis pada potensi bahaya baik kebakaran maupun bencana lainnya.
Terkait dengan masalah bahaya kebakaran, kantor pemadam kebakaran kota Depok yang sebelumnya merupakan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) yang berada langsung dibawah Departemen Pekerjaan Umum, maka sejak per tanggal 09 Februari tahun 2004 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2003 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kota Depok, terbentuklah Kantor Pemadam Kebakaran. Perkembangan selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kota Depok nomor 08 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka instansi kantor pemadam kebakaran ini berubah menjadi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok. Perubahan ini tentunya menimbulkan konsekuensi logis terhadap peningkatan kemampuan sarana dan prasarana serta sumberdaya manusia untuk memenuhi tugas pokok fungsi yang diemban selaku salah satu Organisasi Perangkat Daerah.
Sementara itu perkembangan di bidang pengaturan penanganan terhadap bahaya kebakaran oleh Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum telah menerbitkan berbagai Peraturan Menteri (PerMen) di mana salah satunya yang sangat terkait dengan penanganan kebakaran di perkotaan adalah Peraturan Menteri nomor 25/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK). Pedoman Teknis RISPK bertujuan untuk terwujudnya kesiapan, kesiagaan dan keberdayaan masyarakat, pengelola bangunan serta instansi terkait dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bencana lainnya.
Berdasarkan data sensus sementara (2010), jumlah penduduk Depok sebanyak 1,7 juta jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 450 ribu. Jumlah bangunan di Kota Depok berdasarkan klasifikasi bangunan tempat tinggal, campuran dan bukan tempat tinggal adalah sebagai berikut; Bangunan tempat tinggal sebanyak lebih kurang 450.000 bangunan , sedangkan jumlah bangunan campuran sebanyak lebih kurang 40.000, dan jumlah bangunan bukan tempat tinggal sebanyak lebih kurang 38.000. Berdasarkan data empiris tahun 2001 hingga tahun 2008 dari enam kecamatan atau 63 kelurahan di Kota Depok diperkirakan 30 kelurahan (47,5%) merupakan daerah rawan kebakaran. Selanjutnya dampak kejadian kebakaran berdasarkan tahun 2001 hingga 2005 pertumbuhan kejadian menyebabkan terjadinya kerugian material meningkat rata rata 30% per tahun dari hanya Rp 1.673.700.000,- (2001) menjadi Rp 21.496.500.000,- (2005) sebagai akibat peningkatan kepadatan penduduk dan kerapatan bangunan serta nilai ekonomis/aset terbakar yang cukup bernilai. Ditinjau dari rata rata kejadian, kebakaran di Kota Depok periode 2001-2005 rata rata terjadi 76 kali kebakaran dengan mayoritas rumah tinggal 48,8%, lainnya 39,3% dan industri 11,87%. Sedangkan dalam periode 2009-2010 terjadi 95 kejadian, sehingga dapat dikatakan terjadi peningkatan kejadian yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan bahwa kondisi sarana prasarana yang tersedia belum seimbang antara kebutuhan dan pertumbuhan kotanya.
Uraian perkembangan kelembagaan dan kejadian terhadap bahaya kebakaran dan bencana lainnnya, nampaknya yang dibutuhkan bukan hnaya persoalan bagaimana penanggulangan bahaya kebakaran, melainkan juga bagaimana usaha pencegahan agar tidak terjadi tingkat kerugian material yang tinggi dan lebih dari itu adalah perasaan nyaman penduduk atas keamanan kota terhadap bahaya bencana. Kajian yang pernah diungkapkan oleh I Made Sandi (Geografi, UI, 1975) bahwa kota hendaknya memenuhi persyaratan ATLAS, yakni; aman, tertib, lancar, dan seimbang, sehingga menjadikan kota memiliki daya dukung yang baik dan berkelanjutan dengan memperhatikan faktor ekologi kota. Apabila kondisi tersebut tercapai dan salah satunya merupakan kontribusi Dinas Pemadam Kebakaran, maka untuk mampu meyakinkan dan menimbulkan psikologis penduduk dan pelaku ekonomi kota Depok terhadap keamanan kota, diperlukan dukungan personil dan sarana prasarana yang seimbang
berdasarkan peraturan dan standard opersional yang berlaku. Oleh karena itu sudah saatnya posisi Damkar harus menjadi ujung tombak pertumbuhan strategis kota dalam rangka menumbuh kembangkan pertumbuhan kesejahteraan dan ekonomi penduduk kota. Ilustrasi yang dapat dianalogkan adalah, tidak ada satupun investor yang akan menanamkan modalnya jika perasaan akan kemanan kota dipersepsikan rendah.
Dalam rangka peningkatan upaya penanganan terhadap bahaya kebakaran di wilayah Kota Depok dan dengan mengacu kepada PerMen tersebut, Pemerintah Daerah Kota Depok dalam hal ini Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok telah menyusun Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK) Kota Depok sebagai pedoman tehnis pelaksanaan di lapang secara berkelanjutan dan bersinambungan. Oleh karena itu dalam rangka peningkatan upaya penanganan terhadap bahaya kebakaran di wilayah Kota Depok, maka Pemerintah Daerah Kota Depok dalam hal ini Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok bermaksud menyusun Rencana Strategis (Renstra) untuk periode kerja tahun 2011 – 2016, sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai turunan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Depok dan memperhatikan serta sejalan dengan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran sebagai salah satu bahan dasar pemenuhan kebutuhan rencana strategis ini .
1.2 Dasar Hukum
Dasar hukum yang mandasari ketentuan mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran meliputi :
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438)
Undang-undang no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG)
Peraturan Pemerintah (PP) no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG RTRW Kota Depok
PerMen PU no 20/PRT/M/2009 tentang Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran di Perkotaan (revisi dari Kepmeneg PU no 11/KPTS/2000)
PerMen PU no 25/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
Permen Dalam Negeri no. 62 tahun 2008, tentang Standard Pelayanan Minimal
Permen Dalam Negeri no.16 tahun 2009 tentang Standard Kualifikasi Aparatur Pemadam Kebakaran di Daerah
PerMen PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan (revisi dari Kepmeneg PU no 10/KPTS/2000)
Perda Kota Depok no.10 tahun 2010 tentang Manajemen Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran.
Permen Dalam Negeri no.54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah no.8 tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
Undang-undang RI no 24 Tahun 2007 mengenai Kebencanaan;
Undang-undang no 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang-undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG;
PERMEN PU no 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
1.3 Maksud dan Tujuan
1.3.1 Maksud
Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok dimaksudkan sebagai upaya untuk menyusun pedoman kerja jangka menengah Proteksi Kebakaran Kota Depok melalui peningkatan efektivitas pencegahan dan penanggulangan kebakaran, pembangunan infrastruktur pendukung termasuk sumber air untuk pemadaman dan estimasi pengadaan peralatan, dan kelengkapannya. Dengan adanya Rencana Strategis maka upaya atau tindakan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran dapat diprogramkan secara sistematis dan berkesinambungan. Alur proses rencana strategis Dinas pemadam Kebakaran mengikuti ketetapan berdasarkan Permen Dalam Negeri no.54/2010 sbb;
1.3.2 Tujuan
Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok disusun untuk membuat pedoman perencanaan yang diacu dalam penyusunan Rencana Kerja selama 5 tahun, dalam rangka mewujudkan system proteksi kebakaran yang efektif, berbasis potensi bahaya sehingga
Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan Strategi dan kebijakan Perumusan rencana kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Pengolahan data dan informasi Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Tujuan Perumusan sasaran Rancangan Renstra-SKPD Pendahuluan Gambaran pelayanan SKPD
isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi
visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan
rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif
indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. Perumusan
indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran
RPJMD SPM Renstra-KL dan Renstra Kabupaten/ Kota Penelaahan RTRW Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan KLHS Renstra-KL dan Renstra Kabupaten/ Kota Renstra-KL dan Renstra SKPD Provinsi
mampu meningkatkan kesiapan, kesiagaan dan keberdayaan masyarakat, pengelola bangunan, serta dinas terkait dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran serta bencana lainnya.
1.4. Sistematika Penulisan
Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok ditulis secara deskriptif dengan mengacu pada Permen Dalam Negeri no.54 tahun 2010. Sedangkan sistematika penulisannya terdiri atas 6 (Enam) Bab dan di setiap Bab terdapat beberapa Sub Bab kecuali bab VI ditambah dengan lampiran-lampiran, yaitu sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. GAMBARAN PELAYANAN OPD BAB III. ISU-ISU STRATEGIS
BAB IV. VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
BAB V. RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF
BAB VI. PENUTUP LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB II
GAMBARAN UMUM PELAYANAN DINAS PEMADAM KEBAKARAN KOTA DEPOK
2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi
Organisasi Dinas Pemadam Kebakaran Depok merupakan penyempurnaan dari yang sebelumnya, dengan perubahan signifikan dari status UPTD meningkat berubah menjadi KANTOR dan dalam waktu relatif singkat meningkat lagi statusnya menjadi DINAS.
Hal ini menandakan satu antisipasi positif Pemerintah Kota Depok dalam menjawab tantangan ke depan di mana Kota Depok dengan sungguh sungguh ingin menyediakan sebuah pelayanan prima bagi warga kotanya, khususnya dibidang layanan keselamatan terhadap bahaya kebakaran yang meliputi Pencegahan,Penanggulangan Kebakaran dan bencana lainnya.
Salah satu pengembangan mutu layanan yangtelah dilakukan melalui studi mengenai Konsep Wilayah Kebakaran (WMK) dan penentuan lokasi Pos Pemadam (fire station). dengan tujuan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dengan cara mendekatkan (mendistribusikan) pusat-pusat layanan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok tersebar lebih merata menjangkau wilayah cakupan kerja Dinas Pemadam Kebakaran ke dalam satuan satuan wilayah imajiner (konseptual) yang lebih kecil yang disebut WMK, dimana batas-batas wilayah WMK ini ditentukan berdasarkan kebutuhan pasokan air untuk memadamkan kebakaran. Dengan kata lain, WMK adalah sebuah wilayah imajiner yang membagi-bagi sebuah wilayah perkotaan/daerah dengan karakteristik besarnya kebutuhan pasokan air pemadam yang sama.
Selanjutnya, WMK-WMK tersebut akan dilayani oleh pos-pos kebakaran yang mampu menghantarkan rantai pasokan air sesuai tingkat resiko WMK-nya ke bangunan yang terbakar untuk memadamkan. Untuk dapat menghantarkan air dalam jumlah yang tepat, dalam waktu yang singkat, dan secara efisien (dengan biaya efektif) diperlukan pendistribusian pos-pos
pemadam kebakaran yang dapat mengcover seluruh wilayah dalam waktu respon yang telah ditentukan (maksimum 15 menit). Dengan demikian satu WMK bisa dilayani satu pos atau lebih dari satu pos.
Lebih lanjut, untuk keperluan administratif rentang komando organisasi Dinas Pemadam Kebakaran, perlu dibentuk sektor-sektor (UPT) DPK, yang dipimpin oleh seorang Kepala Sektor (UPT) setingkat dengan esselon IV/a yang membawahi 2 s/d 3 pos Pemadam Kebakaran (atau membawahi 2 s/d 3 wilayah kecamatan) di kota Depok. Setiap pos pemadam dilengkapi dengan 2 mobil pumper, sementara pos pemadam yang sekaligus berfungsi sebagai kantor sektor berisi 2 (dua) unit mobil pemadam kebakaran,mobil tangga,mobilkomando, dan ambulance sesuai karakteristik daerah/wilayah yang dilayaninya, lengkap dengan sarana prasarana lainnya seperti bangunan, sarana olah raga, tandon air dan sebagainya.
Struktur organisasi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok berdasarkan Peraturan Daerah Kota Depok nomor 08 tahun 2008 adalah sebagai berikut (Gmb.2.1) .
Gmb. 2.1 Skema organisasi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok
KEPALA
DINAS
DINAS SEKRETARIAT BIDANG SARANA DAN PRASARANA PRASARANA KEBAKARAN BIDANG PENGENDALIAN OPERASI KEBAKARAN BIDANG PENCEGAHAN & PENYULUHAN KEBAKARAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL UPT SIE PENYULUHAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT SIE PENCEGAHAN KEBAKARAN SIE PENYELAMAT AN DAN EVAKUASI KEBAKARAN SIE PENANGGUL ANGAN KEBAKARAN SIE PRA-SARANA TEKNIS KEBAKARAN SARANA SIE SARANA TEKNIS KEBAKARANSUBAG UMUM DAN PEP
Berdasarkan Peraturan daerah tersebut di atas, kedudukan Dinas Pemadam Kebakaran merupakan unsur penunjang pemerintah Kota yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas di bawah Sekretaris daerah. Tugas pokok adalah membantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintah dibidang pemadam kebakaran.
Untuk dapat menyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana tersebut di atas, Dinas Pemadaman Kebakaran mempunyai fungsi;
1. Perumusan kebijakan tehnis di bidang pemadam kebakaran. 2. Pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintah kota. 3. Pengelolaan urusan ketata usahaan.
Tugas pokok dan fungsi unsur organisasi perangkat daerah Pemadam Kebakaran sebagai ditetapkan dalam Keputusan Walikota No. 28 Th. 2008 tentang rician Tugas, Pokok dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok, secara rinci dapat dijabarkan di bawah ini.
Kepala Dinas mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan dibidang pencegahan dan Penanggulangan Operasional Pemadaman Kebakaran. Untuk melaksanakan tugas pokok ini, Kepala Dinas mempunyai fungsi :
(1) Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyusunan rencana strategis ( Renstra ) Dinas sesuai dengan rencana strategis ( Renstra ) Kota;
(2) Pelaksanaan perumusan bahan Kebijakan Teknis dibidang manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana ;
(3) Pelaksanaan perumusan bahan kebijakan teknis dibidang pencegahan dan penyuluhan kebakaran, bidang pengendalian operasional kebakaran dan bidang sarana dan prasarana kebakaran;
(4) Pelaksanaan pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian urusan kesekretariatan, kepegawaian dan rumah tangga dinas;
(5) Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan bidang teknis meliputi bidang penyuluhan dan pencegahan kebakaran, bidang penanggulangan kebakaran, bidang sarana dan prasarana kebakaran;
(6) Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian penggunaan anggaran dinas; (7) Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah (AKIP);
(8) Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian produk hukum sesuai dengan bidang tugasnya;
(9) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai dengan bidang tugasnya.
Sekretariat
(1) Sekretariat mempunyai tugas pokok melaksanakan administrasi umum, Administrasi keuangan, pengkoordinasian perencanaan dan evaluasi bidang – bidang serta penyusunan pelaporan Dinas.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Sekretariat mempunyai fungsi :
a. Penyusunan program kerja sekretariat sesuai dengan Renstra Dinas; b. Penghimpunan dan pengelolaan data, penyusunan Renstra Dinas; c. Penyelenggaraan administrasi umum;
d. Penyusunan evaluasi dan laporan Dinas;
e. Penyelenggaraan upaya pemecahan masalah Sekretariat; f. Pengkoordinasian upaya pemecahan masalah Dinas;
g. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan Sekretariat;
h. Pengkoordinasian perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan Dinas;
i. Penyelenggaraan urusan umum, kepegawaian, kerumah tanggaan dan asset Dinas; j. Pengelolaan keuangan Dinas;
l. Pengkoordinasian analisis dan pengembangan kinerja Dinas;
m. Pelaksanaan tugas-tugas lain sesuai bidang tugasnya yang diberikan oleh Kepala Dinas.
Sekretariat, terdiri dari :
a. Sub Bagian Umum, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan; b. Sub Bagian Keuangan.
Sub Bagian Umum
(1) Sub Bagian Umum mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan administrasi umum, perencanaan, evaluasi dan pelaporan kegiatan Dinas.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut dalam ayat (1) pasal ini, Sub Bagian Umum mempunyai fungsi :
a. Penyusunan program kerja Sub Bagian Umum sesuai dengan program kerja sekretariat; b. Pengumpulan, pengolahan data dan informasi, menginventarisasi
permasalahan-permasalahan serta melaksanakan pemecahan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan tugas-tugas urusan umum dan perencanaan evaluasi serta pelaporan;
c. Perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan Sub Bagian; d. Pelaksanaan administrasi kepegawaian;
e. Pelaksanaan pemberian pelayanan naskah dinas, kearsipan, perpustakaan, komunikasi, pengetikan/penggandaan/pendistribusian serta penerimaan tamu, kehumasan dan protokoler;
f. Pelaksanaan kebutuhan dan perawatan sarana/prasarana serta kebersihan kantor dan lingkungan;
g. Pelaksanaan pemberian infomasi dan komunikasi; h. Pengelolaan perpustakaan dinas;
i. Pengkoordinasian penyusunan bahan-bahan kebijakan dari Bidang;
j. Pelaksanaan pengurusan perjalanan dinas, kendaraan dinas, keamanan kantor serta pelayanan kerumahtanggaan yang lainnya;
k. Penyiapan bahan koordinasi dan petunjuk teknis kebutuhan, pengadaan, inventarisasi, pendistribusian, penyimpanan, perawatan dan penghapusan perlengkapan/sarana kerja Dinas;
l. Penyelenggaraan analisis dan pengembangan kinerja Sub Bagian dan pengkoordinasian analisis dan pengembangan kinerja Dinas;
m.Pelaksanaan penyusunan renstra Dinas;
n. Pelaksanaan penyusunan rencana anggaran Dinas; o. Penyusunan program kerja tahunan Dinas;
p. Penyusunan rancangan produk hukum Dinas;
q. Penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah ( LAKIP ) Dinas; r. Pelaksanaan analisis dan pengembangan kinerja Sub Bagian;
s. Pelaksanaan tugas lain sesuai bidang tugasnya yang diberikan oleh Sekretaris.
Sub Bagian keuangan
(1) Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan keuangan Dinas. (2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut dalam ayat (1) pasal ini, Sub Bagian
Keuangan mempunyai fungsi :
a. Pengumpulan, pengolahan data dan informasi, inventarisasi permasalahan-permasalahan serta melaksanakan pemecahan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan urusan keuangan;
b. Perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan Sub Bagian; c. Penyiapan bahan kebijakan dan petunjuk teknis yang berkaitan dengan urusan
keuangan;
d. Penyimpanan berkas-berkas keuangan dalam rangka pelayanan administrasi keuangan di lingkungan Dinas;
e. Pelaksanaan analisis dan pengembangan kinerja Sub Bagian;
f. Pelaksanaan tugas lain sesuai bidang tugasnya yang diberikan oleh Sekretaris.
(1) Bidang Pencegahan dan Penyuluhan Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan dibidang pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan pencegahan dan penyuluhan kebakaran serta peningkatan peran serta masyarakat.
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Bidang Pencegahan dan Penyuluhan Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja Bidang Pencegahan dan Penyuluhan Kebakaran mengacu pada rencana strategi dinas;
b. Pelaksanaan pengkajian bahan perumusan kebijakan teknis dibidang pencegahan dan penyuluhan kebakaran;
c. Pelaksanaan penyusunan standarisasi dan prosedur tetap dibidang pencegahan dan penyuluhan kebakaran;
d. Pelaksanaan pengumpulan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan penyuluhan dan pencegahan kebakaran;
e. Pelaksanaan pembinaan, pengkoordinasian, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan kegiatan penyuluhan dan pencegahan;
f. pelaksanaan pengembangan, peningkatan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
g. pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan penyelenggaraan bidang penyuluhan dan pencegahan kebakaran;
h. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
Bidang Pencegahan dan Penyuluhan Kebakaran terdiri dari : a. Seksi Pencegahan Kebakaran;
b. Seksi Penyuluhan Kebakaran dan Peran Serta Masyarakat.
Seksi Pencegahan Kebakaran
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Pencegahan Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kegiatan Seksi Pencegahan Kebakaran mengacu pada rencana kerja Bidang Pencegahan dan Penyuluhan Kebakaran;
b. Pelaksanaan penghimpunan data sebagai bahan kajian pelaksanaan penyelenggaraan kegiatan pencegahan kebakaran dan proteksi kebakaran pada bangunan gedung;
c. Pelaksanaan teknis penyelenggaraan pencegahan kebakaran dan proteksi kebakaran pada bangunan gedung;
d. Pelaksanaan kegiatan koordinasi, pengawasan dan pengendalian pencegahan kebakaran dan proteksi kebakaran pada bangunan gedung;
e. Pelaksanaan penyusunan rekomendasi teknis keselamatan bangunan gedung dari bahaya kebakaran;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan Seksi Pencegahan Kebakaran; g. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan bidang
tugasnya.
Seksi Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat
(1) Seksi Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan bidang penyuluhan kebakaran dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan kebakaran.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan rencana kegiatan seksi Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat mengacu pada rencana kerja Bidang pencegahan dan penyuluhan kebakaran;
b. Pelaksanaan penghimpunan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan kegiatan penyuluhan dan peran serta masyarakat;
c. Pelaksanaan teknis penyelenggaraan penyuluhan dan peran serta masyarakat;
d. Pelaksanaan kegiatan pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan penyuluhan dan peran serta masyarakat;
e. Pelaksanaan koordinasi dalam penyelenggaraan penyuluhan dan peran serta masyarakat;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan Seksi Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat;
g. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran
(1) Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan dibidang pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan penanggulangan kebakaran, penyelamatan dan evakuasi kebakaran.
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran mengacu pada rencana strategi dinas;
b. Pelaksanaan kajian bahan perumusan kebijakan teknis, standarisasi dan prosedur tetap dibidang pengendalian operasional kebakaran;
c. Pelaksanaan pengumpulan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan Pengendalian Operasional Kebakaran;
d. Pelaksanaan pembinaan, pengkoordinasian, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan kegiatan Pengendalian Operasional Kebakaran;
e. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian hydrant kebakaran dan sumber air lainnya; f. Pelaksanaan penyusunan sistem komunikasi informasi dan peta wilayah rawan
kebakaran;
g. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan penyelenggaraan bidang Pengendalian Operasional Kebakaran;
h. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
b. Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Kebakaran.
Seksi Penanggulangan Kebakaran
(1) Seksi Penanggulangan Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan penanggulangan kebakaran.
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Penanggulangan Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kegiatan Seksi Penanggulangan Kebakaran mengacu pada rencana kerja Bidang pengendalian operasional Kebakaran;
b. Pelaksanaan penanggulangan kebakaran dan penanganan benda berbahaya yang mudah terbakar ( Hazardous Material )
c. Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi penanggulangan kebakaran skala kota dan penanggulangan kebakaran antar wilayah;
d. Pelaksanaan penghimpunan data sebagai bahan kajian pelaksanaan penanggulangan kebakaran dan penanganan benda berbahaya yang mudah terbakar ( Hazardous Material );
e. Pelaksanaan teknis penyelenggaraan penanggulangan kebakaran dan penanganan benda berbahaya ( Hazardous Material );
f. Pelaksanaan kegiatan pengkoordinasian, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan penanggulangan kebakaran dan penanganan benda berbahaya yang mudah terbakar; g. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan Seksi Penanggulangan
Kebakaran;
h. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Kebakaran
(1) Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan penyelamatan dan evakuasi kebakaran.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan rencana kegiatan Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Kebakaran mengacu pada rencana kerja Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran;
b. Pelaksanaan penghimpunan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan kegiatan penyelamatan dan evakuasi kebakaran;
c. Pelaksanaan teknis penyelenggaraan penyelamatan dan evakuasi kebakaran;
d. Pelaksanaan koordinasi dalam penyelenggaraan penyelamatan dan evakuasi kebakaran; e. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan Seksi Penyelamatan dan
Evakuasi Kebakaran;
f. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya
Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran
(1) Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan dibidang pengendalian dan evaluasi pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran mengacu pada rencana strategis dinas;
b. Pelaksanaan kajian bahan perumusan kebijakan teknis dibidang sarpras kebakaran; c. Pelaksanaan pengumpulan data sebagai bahan kajian penyusunan kebijakan
perencanaan, pengendalian dan evaluasi bidang sarana dan prasarana kebakaran; d. Pelaksanaan penyusunan bahan petunjuk teknis bidang sarana dan prasarana
kebakaran;
e. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian bidang sarana dan prasarana kebakaran;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan penyelenggaraan Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran;
g. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran, terdiri dari : a. Seksi Sarana Teknis Kebakaran;
b. Seksi Prasarana Teknis Kebakaran.
Seksi Sarana Teknis Kebakaran
(1) Seksi Sarana Teknis Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan, pengadaan dan pemeliharaan sarana teknis Kebakaran.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Sarana Teknis Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja Seksi Sarana Teknis Kebakaran mengacu pada rencana strategis Bidang sarana dan prasarana kebakaran;
b. Pelaksanaan pengumpulan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan pengadaan dan pemeliharaan sarana teknis kebakaran;
c. Pelaksanaan bembinaan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan perencanaan, pengadaan dan pemeliharaan sarana teknis kebakaran;
d. Pelaksanaan penyusunan kajian sebagai bahan perumusan kebijakan penyelenggaraan pembinaan, pengawasan pengendalian perencanaan pengadaan dan pemeliharaan sarana teknis Kebakaran;
e. Pelaksanaan pengkoordinasian dalam penyelenggaraan kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pengadaan dan pemeliharaan sarana teknis kebakaran;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan penyelenggaraan Seksi Sarana Teknis Kebakaran;
g. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
(1) Seksi Prasarana Teknis Kebakaran mempunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan, pengadaan dan pemeliharaan prasarana teknis Kebakaran.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Seksi Prasarana Teknis Kebakaran mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan rencana kerja seksi Prasarana Teknis Kebakaran mengacu pada rencana kerja Bidang Sarana dan Prasarana Kebakaran;
b. Pelaksanaan pengumpulan data sebagai bahan kajian penyelenggaraan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan perencanaan pengadaan dan pemeliharaan prasarana teknis Kebakaran;
c. Pelaksanaan pembinaan pengkoordinasian, pengawasan dan pengendalian perencanaan, pengadaan dan pemeliharaan prasarana teknis Kebakaran;
d. Pelaksanaan perumusan bahan kebijakan teknis dibidang prasarana teknis kebakaran; e. Pelaksanaan penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan penyelenggaraan Seksi
Prasarana Teknis Kebakaran;
f. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan pimpinan sesuai dengan bidang tugasnya.
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
(1) Untuk menyelenggarakan sebagian tugas dinas dibidang Pemadam Kebakaran, dibentuk UPTD Pemadam Kebakaran sesuai dengan kebutuhan.
(2) Pembentukkan susunan organisasi, tugas pokok dan fungsi UPTD Pemadam Kebakaran ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kelompok Jabatan Fungsional
(1) Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan dinas secara profesional sesuai dengan kebutuhan.
(2) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, dalam melaksanakan tugas pokok bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.
(3) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada pasal 21 keputusan ini, terdiri atas sejumlah tenaga dalam jenjang fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahlian dan keterampilan.
(4) Setiap kelompok dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk diantara tenaga fungsional yang ada dilingkungan dinas.
(5) Jumlah jabatan fungsional ditentukan berdasarkan sifat, jenis, kebutuhan dan beban kerja.
(6) Jenis dan jenjang jabatan fungsional diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tata Kerja
(1) Hal-hal yang menjadi tugas pokok dinas merupakan satu kesatuan yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan;
(2) Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dinas sebagai Pelaksana Pemerintah Kota dibidang Pemadam Kebakaran, kegiatan operasionalnya diselenggarakan oleh Bidang, Seksi, UPTD dan Kelompok Jabatan Fungsional menurut bidang tugas masing-masing;
(3) Kepala Dinas baik teknis operasional maupun teknis administratif berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah dan dalam melaksanakan tugas pokoknya menyelenggarakan hubungan fungsional dengan instansi yang berkaitan dengan fungsinya;
(4) Setiap pimpinan satuan organisasi dilingkungan dinas, dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi;
(5) Setiap pimpinan satuan organisasi dilingkungan dinas, wajib memimpin dan memberi bimbingan serta petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan.
2.2. Sumberdaya
Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi organisasi, saat ini sumberdaya yang tersedia adalah Armada pemadam kebakaran yang dimiliki berjumlah 10 unit. Jumlah ideal
armada pemadam kebakaran sesuai dengan standar Asia yaitu setiap satu mobil pemadam kebakaran mampu melayani 10.000 penduduk. Jika standard ini yang digunakan, maka diperlukan sekitar 140 unit mobil. Adapun personil petugas Damkar yang disiagakan sebanyak 16 anggota. Saat ini belum memiliki mobil pemadam kebakaran yang difasilitasi dengan tangga untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di gedung bertingkat di Kota Depok yang kian marak tumbuh di Kota Depok. Saat ini, peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki Damkar Kota Depok masih standar, hanya untuk menangani kebakaran dalam skala kecil seperti penanganan kebakaran di pemukiman dan rumah penduduk. Daftar inventaris dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Kode Bidang Barang Uraian Jumlah Satuan / Volume
01 TANAH 3 Bidang 2.682 m²
PERALATAN DAN MESIN
02 a. Alat-alat Besar - unit
03 b. Alat-alat angkutan 21 unit
04 c. Alat-alat Bengkel dan Alat Ukur - unit 05 d. Alat-alat Pertanian/Peternakan - unit
06 e. Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga 466 unit
07 f. Alat-alat Studio dan Komunikasi 38 unit
08 g. Alat-alat Kedokteran - unit
09 h. Alat-alat Laboratorium - unit
10 i. Alat-alat Keamanan - unit
GEDUNG DAN BANGUNAN
11 a. Bangunan Gedung 1 Unit 1.600 m²
12 b. Bangunan Monumen - Unit - m²
JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN
13 a. Jalan dan Jembatan Ruas - m² 14 b. Bangunan Air/Irigasi - Unit - m² 15 c. Instalasi Unit - m² 16 d. Jaringan - Unit - m²
ASET TETAP LAINNYA
17 a. Buku Perpustakaan - Buah
18 b. Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan 1 Buah
19 c. Hewan Ternak dan Tumbuhan - Ekor
Dilain pihak untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran serta kecepatan penanganan kebakaran, sudah tersedia Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar di dua kecamatan yakni UPT Cimanggis dan Cinere.
Adapun personil yang tersedia pada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok per Agustus 2010 adalah sbb;
Kepala Dinas : 1 orang
Sekretaris : 1 orang
Kepala Bidang : 3 orang
Kepala Subbidang : 2 orang Kepala Seksi : 6 orang Kepala UPTD : 2 orang
Kasubag : 2 orang (eselon IVb)
Pelaksana : 23 orang
Anggota : 46 orang
Total personil : 86 orang
Sedangkan sumberdaya aparatur berdasarkan tingkat pendidikan dapat digambarkan sbb; 1. Strata dua : 5 orang
2. Stara satu : 7 orang 3. Diploma 3 : 2 orang
4. SMA : 50 orang
5. SLTP : 9 orang
Selanjutnya sumberdaya aparatur berdasarkan keikut serta pendidikan dan pelatihan Manajemen Keselamatan Kebakaran Bangunan yang terselenggara adalah sebagai berikut;
1. Gedung : 1 orang
2. Gedung Tinggi : 10 orang
3. Diklat dasar Juru Padam : 51 orang
4. Diklat Pemadam 2 : 10 orang
5. Diklat Fire Rescue Program 45 JP: 6 orang
7. Diklat Operator mobil : 10 orang
8. Jumlah : 84 orang
2.3. Kinerja Pelayanan
Ukuran yang digunakan dalam menilai kinerja pelayanan Dinas Pemadam Kebakaran merujuk kepada penjelasan Lampiran.1 Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 54 tahun 2010 per tanggal 21 Oktober 2010, yang tertuang dalam tabel.T.1.A.1. Aspek, Fokus dan Indikator Kinerja Menurut Bidang Urusan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kota. Adapun satuan ukuran kinerja tersebut sbb;
20.1. Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten (Jmlh mobil pemadam kebakaran/10.000 pddk)% = 10% 20.2. Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah
layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) = 19 menit
Berdasarkan rujukan diatas, maka perkembangan kinerja pelayanan Dinas Pemadam Kebakaran dalam tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut;
No Tahun Cakupan pelayanan bencana
kebakaran kota
Potensial
Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran
(WMK) rerata menit
1 2008 9 kecamatan 20 menit
2 2009 10 kecamatan 19 menit
3 2010 10 kecamatan 19 menit
Adapun jumlah kejadian dan rumah tinggal kebakaran di wilayah Kota Depok pada tahun 2010 dapat digambarkan sebagai berikut;
Berdasarkan rincian data diatas, respon time terhadap kejadian dan kebakaran diatas rata-rata 14 menit dan lama pemadaman rata-rata adalah satu jam 12 menit.
Secara umum data based kejadian di Kota Depok dapat diuraikan di bawah ini;
Data kejadian kebakaran
Mencermati data tersebut (Tabel 2.1) maka rata-rata dalam setahun terjadi sekitar 76 kali kebakaran dengan mayoritas rumah tinggal sebesar 48,8% , diikuti lain-lain 39,3% dan industri 11,87%. Disamping terlihat terjadi kecenderungan kenaikan kerugian akibat kebakaran. Selanjutnya dalam menangani kebakaran, antara Kota Depok dengan tetangga baik DKI, Kab. Bogor, Bekasi maupun Tangerang telah terjalin kerjasama penanganan kebakaran (mutual aid).
Tabel 2.1
Kejadian kebakaran di wilayah Kota Depok dan perbatasan
No Tahun
Jenis kejadian kebakaran Kerugian
Industri Rmh tinggal Lain-lain Jumlah Materi (Rp) Jiwa
1 2001 11 29 9 49 1.673.700.000,- 2 2002 `3 32 34 79 5.706.000.000,- 3 2003 8 45 25 78 6.290.000.000,- 4 2004 6 33 37 76 9.629.000.000,- 2 org 5 2005 7 46 44 97 21.496.500.000,- Jumlah 45 185 149 379 44.795.200.000,-
Sumber : Kantor Pemadam Kebakaran Kota Depok
Data kejadian kebakaran selama dua tahun terakhir beserta kelurahan dapat dilihat dalam tabel 2.2 berikut. Dalam tabel berikut Kelurahan dengan frekwensi kebakaran tinggi maupun kelurahan dengan potensi kebakaran tinggi dituliskan dengan warna merah tebal.
Tabel 2.2
Frekuensi Kejadian Kebakaran di kota Depok 2009-2010
No Kecamatan (jml keb thn 2009-10)
Jumlah Kelurahan
Nama Kelurahan Kepadatan penduduk*
Jmlah Kej Kebakarn 2009* 2010**
1 Beji (8) 6 Kel. Beji
Kel. Kukusan Kel. Tanah Baru Kel. Beji Timur Kel. Kemiri Muka Kel. Pondok Cina
180 40 63 106 163 35 1 1 - 1 1 1 2 - - - - 1 2 Bojong Sari (5) 7 Kel. Bojongsari
Kel. Duren Mekar Kel. Duren Seribu Kel. Curug Kel. Pondok Petir Kel. Serua
Kel. Bojongsari Baru 52 54 30 25 44 30 45 - - - - - 1 - - 1 - - 2 1 - 3 Cilodong (7) 5 Kel Sukamaju
Kel. Cilodong Kel. Kalibaru Kel. Kalimulya Kel. Jatimulya 119 60 51 45 32 Data TA 1 3 1 1 1 4 Cimanggis (14) 6 Kel. Cisalak Pasar
Kel. Mekarsari Kel. Tugu Kel. Pasirgunung Sltn Kel. Harjamukti Kel. Curug 118 81 180 89 33 97 - - - 2 1 - - 2 3 - 4 2 5 Cinere (7) 4 Kel. Cinere
Kel. Gandul Kel. Pangkalan Jati
66 73 57 1 - - 6 - -
6 Cipayung (7) 5 Kel. Cipayung Kel Cipayung Jaya Kel. Ratu Jaya Kel. Pondok Terong Kel. Pondok Jaya
24 67 113 165 126 1 1 - 1 - 1 2 - 1 - 7 Limo (1) 4 Kel. Meruyung
Kel. Grogol Kel. Krukut Kel. Limo 41 35 50 34 - - - - 1 - - -
8 Pancoran Mas (16) 6 Kel. Pancoranmas Kel. Depok Kel. Depok Jaya Kel. Rangkapan Jaya Kel. Rangkapan J. Baru Kel Mampang 99 77 224 83 64 81 1 1 1 - 1 - 1 1 7 2 - 1
9 Sawangan (3) 7 Kel. Sawangan Kel. Pengasinan Kel. Bedahan Kel. Pasir Putih Kel. Sawangan Baru Kel. Cinangka Kel. Kedaung 54 35 25 26 41 30 57 - - - - - - - - 1 - - 1 1 - 10 Sukmajaya (10) 6 Kel. Sukmajaya
Kel. Mekarjaya Kel. Baktijaya Kel. Abadijaya Kel. Tirtajaya Kel. Cisalak 73 334 272 319 40 86 Data TA 2 3 3 1 - 1 11 Tapos (17) 7 Kel. Leuwinanggung
Kel. Sukatani
Kel. Sukamaju Baru Kel. Jatijajar Kel. Cilangkap Kel. Cimpaeum Kel. Tapos 24 85 79 82 56 37 16 1 1 1 - - - - 3 2 4 1 2 2 -
Dari tabel 2.2 tersebut, kecamatan-kecamatan yang memerlukan perhatian lebih dalam hal perlindungan bahaya kebakaran (diurutkan dalam frekwensi kejadian 2009-2010) adalah Kecamatan Tapos(17), Pancoran Mas (16), Cimanggis(14), Sukmajaya (10) Beji (8) , dan seterusnya hingga Limo (1 kali kebakaran) (lihat tabel 2.3). Pembangunan pos dapat mempertimbangan penggunaan data statistik kejadian kebakaran ini untuk menentukan lokasi dengan kerawanan kejadian yang tinggi. Sebagai contohadalah pembangunan pos di Kecamatan Pancoran Mas dengan lokasi pos berada di daerah dekat dengan kelurahan Depok Jaya yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk tertinggi (224 orang/km2) dan kejadian kebakaran yang tinggi (7 kali dalam 2009-2010) .
Tabel 2.3
No Nama Kecamatan Frekuensi Kebakaran (2009-2010)
Kelurahan dg kebakaran terbanyak dlm kecamatan
1 Tapos 17 Sukamaju Baru (4)
2 Pancoran Mas 16 Depok(1), Depok Jaya (7)
3 Cimanggis 14 Harjamukti (4), Tugu (3)
4 Sukmajaya 10 Baktijaya(3), Mekarjaya (3)
5 Beji 8 Beji (3)
6 Cipayung 7 Cipayung Jaya (3) Pondok Terong (2)
7 Cilodong 7 Cilodong (3)
8 Cinere 7 Cinere (6)
9 Bojong Sari 5 Pondok Petir (2)
10 Sawangan 3 -
11 Limo 1 -
Data bencana lainnya
Selain kebakaran, sejumlah bencana alam terjadi di Kota Depok, oleh karena itu perlu diantisipasi. Data BPS tahun 2005, di kot Depok telah terjadi 2 (dua) kali angin topan (di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Sukmajaya), 2 (dua) kali banjir (Kec. Sawangan dan Cimanggis). Dengan data kerusakan dan jumlah korban tertera pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3. Data sebelumnya, dengan mengacu pada data BPS Kecamatan Depok dalam Angka 2001 – 2001 diperoleh data sebagai berikut :
Kecamatan Sawangan : 2 kali banjir Kecamatan Pancoran Mas : 2 kali angin topan Kecamatan Sukmajaya : 2 kali angin topan Kecamatan Beji dan Limo : tidak ada data
Kecamatan Cimanggis : terdapat data sebagai berikut
Tabel 2.4
Data bencana di Kec. Cimanggis (2005)
Kelurahan kebakaran banjir tanah longsor Angin ribut Lain-lain
Cilangkap 3 kali 2 kali 2 kali 1 kali -
Cimpaen 1 kali 2 kali - - -
Sukamaju baru - 2 kali - - -
Curug - 6 kali 1 kali - -
Sukatani 2 kali - - - -
Harjamukti 1 kali - - - -
Cisalak Pasar 1 kali - - - 2 kali
Tugu 2 kali 10 kali 1 kali - -
Akibat kejadian bencana telah terjadi kerusakan pada bangunan baik berat, sedang maupun ringan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.3. Selanjutnya dalam rangka upaya penanganan kebakaran efektif perlu di-identifikasi mengenai jumlah dan jenis bangunan yang ada di wilayah kota Depok, yang meliputi bangunan perumahan, industri, pariwisata, perkantoran, hotel dsb. Hal ini penting karena masing-masing jenis bangunan memiliki potensi spesifik dikaitkan dengan bahaya kebakaran. Contoh konkrit dampak bencana seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Sawangan (lihat Tabel 2.4). Selanjutnya akibat bencana kerusakan bangunan Kota depok tahun 2005 sebagai salah satu ilustrasi yang mampu menunjukkan fakta bahwa kecamatan merupakan daerah paling rawan bencana, di mana jumlah bangunan rusak berat tertinggi (secara rinci lihat Tabel. 2.5).
Tabel 2.5
Jumlah kerusakan bangunan akibat bencana alam Kota Depok 2005
No code Kecamatan Rusak berat Rusak ringan Hancur Sarana lain Jumlah
010 Sawangan 24 - - - 24 020 Pancoran Mas - 23 - - 23 030 Sukmajaya - 44 - - 44 040 Cimanggis 5 36 - - 41 050 Beji - - - - - 060 Limo - - - - - Kota Depok 29 103 - - 132
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan
Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Derah Tingkat II Bogor, tanggal 16 Mei 1994 Nomor 135/SK.DPRD/03/1994 tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat tanggal 7 Juli 1997 nomor 135/Kep.Dewan 06/DPRD/1997 tentang Persetujuan Atas Pembentukan Kotamadya Dati II Depok dan untuk lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat serta untuk lebih meningkatkan peran aktif masyarakat, maka
pembentukan Kota Depok sebagai wilayah administrative baru di Provinsi Jawa Barat ditetapkan dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 15 Tahun 1999.
Berdasarkan Undang-undang tersebut, dalam rangka pengembangan fungsi kotanya, sesuai dengan potensinya dan guna memenuhi kebutuhan pada masa-masa mendatang, terutama untuk prasarana dan sarana fisik kota, serta untuk kesatuan perencanaan, pembinaan wilayah, dan penduduk yang berbatasan dengan wilayah Kota Depok, maka wilayah Kota Depok tidak hanya terdiri dari wilayah Kota Depok, tetapi pada akhir terjadi perluasan yang sebelumnya merupakan sebagian wilayah Kabupaten Bogor, yaitu Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan sebagian wilayah Kecamatan Bojonggede yang terdiri dari Desa Pondok Terong, Desa Ratujaya, Desa Pondokjaya, Desa Cipayung dan Desa Cipayung Jaya. Sehingga wilayah Kota Depok terdiri dari 6 (enam) Kecamatan, yakni Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Beji dan Limo. Hal ini mengakibatkan ber-tambahnya beban tugas dan volume kerja dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan serta pelayanan masyarakat di Kota Depok. Sampai dengan tahun 2009 Kota Depok mempunyai 63 Kelurahan, 846 Rukun Warga (RW) dan 4675 Rukun Tetangga (RT). Selanjutnya berdasarkan Perda Kota Depok No. 08 Tahun 2007, kota Depok terdiri dari 11 kecamatan dengan 63 kelurahan, masing-masing kecamatan terdiri dari 4 - 7 kelurahan tiap kecamatan.
Perkembangan Kota Depok yang cukup pesat sebagai kota budaya dan pusat perdaganagan merubah paradigma dalam pelayanan pencegahan bencana dan pengendaliannya. Oleh karena itu Sistem layanan yang pada mulanya bertumpu pada pemadaman, berubah dengan masuknya unsur pencegahan dan pembinaan masyarakat. Dengan meningkatnya pemakaian dan transportasi bahan yang mengandung racun dan bahaya lainnya termasuk bahan mudah meledak (eksplosif), bahan radio-aktif dsb, yang bisa membahayakan publik maka perhatian perlu pula dicurahkan kepada penanggulangan benda / bahan berbahaya (dikenal sebagai hazmat atau hazardous materials). Selanjutnya dengan meningkatnya kejadian bencana di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, semakin meningkat tuntutan akan aspek
penyelamatan terhadap bencana perkotaan lainnya, yang sebelumnya masih dianggap sebagai layanan minor biasa, seperti menolong korban jatuh dari ketinggian, kecelakaan akibat keruntuhan jembatan, kejadian banjir, genangan air dsb.
Meningkatnya berbagai tuntutan berkaitan dengan masalah kebakaran dan bencana lainnya dewasa ini maka hal ini kemungkinan berdampak pada perubahan visi dan misi, serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi) OPD dan nama lembaga tersebut di masa mendatang. Secara skematis tuntutan tantangan masa depan instansi pemadam kebakaran dapat dijelaskan pada skema di bawah ini.
Tuntutan Misi Institusi Pemadam Kebakaran Ke depan
Gmb 2.2 Tuntutan misi IPK kedepan
2.5. Realisasi Anggaran
Perkembangan anggaran Dinas Pemadam Kebakaran dari tahun 2006 hingga tahun 2009 meningkat rata-rata 42%, per tahun, di mana besaran angka rencana anggaran tahun 2006 Rp 1.764.003.250,- meningkat menjadi Rp 7.293.346.200,- di tahun 2009. Namun reliasasi
Pemadaman kebakaran Institusi Pemadam Kebakaran Pencegahan kebakaran Pembinaan masyarakat Penyelamatan terhadap bencana lainnya (banjir, gempa,
longsor, jemba-tan / bangunan runtuh, angin ribut, kerusuhan
massa, genangn air dll)
Penanganan benda berbahaya Saat ini kedepan IMPLIKASI 1. Reorientasi keberadaan IPK 2. Peningkatan
peran dan kinerja
3. Pembinaan SDM 4. Pembinaan prasarana dan sarana 5. Peraturan pendukung
penggunaan anggaran hanya berkisar 90% setiap tahunnya, kecuali pada tahun 2007 hanya mampu melaksanakan realisasi anggaran 67%. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman masa lalu, maka realisasi di tahun tahun berikutnya diharapkan mampu menyerap seratus prosen terhadap anggaran. Umumnya keslitan pemanfaatan anggaran terdiri dari persoalan jatuh tempo penarikan anggaran yang mundur waktu pelaksanaannya dari keuangan negara, dan terjadi perubahan spesifik kendala. Secara rinci rencana dan realisasi anggaran Dinas Pemadam Kebakaran dapat di lihat pada tabel berikut ini,
Tabel.2.6
Realisasi Anggaran Dinas Pemadam Kebakaran
Tahun Rencana (rp) Realisasi (rp) % Pencapaian
2006 1.764.003.250 1.728.164.600 97,97
2007 2.672.811.700 1.802.979.697 67,46
2008 8.359.405.900 7.999.671.356 95,62
2009 7.293.346.200 6.759.753.017 92,68
Sumber data: Bappeda Draft Awal RPJMD Kota Depok 2011-2016
Terjadi penurunan anggaran sebesar 15% pada tahun 2009 dibandingkan tahun 2008. Meskipun demikian realisasi penggunaan anggaran di kedua tahun tersebut relatif tetap.
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD
Pasca 2000 Depok berkembang menjadi 6 (enam) kecamatan dan 63 (enam puluh tiga) kelurahan, menunjukkan intensitas perkembangan yang sangat tinggi selain di sektor Pemerintahan, maupun di sektor industri, ekonomi dan perdagangan. Adanya berbagai perguruan tinggi ternama di kota Depok disamping perkembangan di sektor ekonomi, perdagangan dan jasa serta industri meningkatkan arus urbanisasi ke kota ini yang membawa dampak peningkatan pembangunan perumahan dan permukiman. Dengan laju pembangunan yang demikian cepat maka diprediksi kawasan terbangun di wilayah ini sampai tahun 2011 akan meluas mendekati 53% luas kota dan ruang-ruang terbuka hijau akan menyusut sampai tinggal 47% saja. Mencermati data Tabel 2.1 dan tabel.2.2 pada bab sebelumnya, rata-rata dalam setahun terjadi sekitar 76 kali kebakaran dengan mayoritas rumah tinggal sebesar 48,8% , diikuti lain-lain 39,3% dan industri 11,87%. Disamping terlihat terjadi kecenderungan kenaikan kerugian akibat kebakaran. Pada tahun 2009 terjadi 21 kejadian kebakaran, dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 75 kejadian, sungguh suatu perkembangan yang mengkuatirkan bagi pencegahan kerugian material maupun kelancaran roda ekonomi Kota Depok. Meskipun sebenarnya dalam menangani kebakaran, antara Kota Depok dengan tetangga baik ibukota DKI Jakarta maupun Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi serta Kota Tangerang telah terjalin kerjasama penanganan kebakaran (mutual aid), namun belum dapat dikatakan memadai penanganannya akibat minimnya sarana prasarana dan personil yang ada dan ketersediaan lintas kerjasama kota, sehingga permasalahan yang timbul adalah bagaimana mengadakan kesesuaian jumlah dan kualitas sarana prasarana dan personil sesuai dengan kebutuhan.
Melihat perkembangan pemanfaatan ruang, dalam draft RTRW Kota Depok 2010-2030 (sumber: halaman II-6 Rancangan Awal RPJMD Kota Depok 2011-2016) kawasan terbangun mencapai 69,57% luas wilayah Kota Depok (13.934 Ha). Proporsi kawasan terbangunan didominasi 4 sektor jenis pemanfaatan lahan, yakni; perumahan formal dan swadaya (51,07%),
kemudian sarana pelayan umum (6,22%), Industri dan perdagangan (4,13%) dan perdagangan, niaga dan jasa (3,63%). Dari sisi pengunaan lahan, RTRW Kota Depok 2010-2030 mencatat proporsi lahan terbangun meningkat pesat dalam lima tahun terakhir, sekitar 9.299 Ha atau 46,49% pada tahun 2005 menjadi sebesar 10.461,99 Ha (52,30%) pada tahun 2030, atau rata rata pertumbuhan lahan terbangun mencapai 3,14% per tahun. Jika pengembangan Kota dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk Kota Depok berdasarkan proyeksi tahun 2010 sebagaimana tabel 3.1. di bawah ini, nampak
Tabel.3.1
Proyeksi Penduduk Kota Depok Tahun Proyeksi (jiwa)
2011 1.742.075 2012 1.785.191 2013 1.829.375 2014 1.874.652 2015 1.921.049 2016 1.968.595 2017 2.017.318 2018 2.067.247 2019 2.118.411 2020 2.170.842
Sumber data: RPJMD Kota Depok 2011-2016
bahwa disamping dominasi penggunaan lahan yang semakin tinggi terhadap kawasan terbangun, juga dibarengi dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi mencapai 2,46%, sehingga dalam konteks keamanan terhadap bencana kebakaran perlu antisipasi pencegahan yang lebih kearah preventif ketimbang penanggulangan.
Ditinjau dari pola guna lahan Kota Depok, terjadi perubahan penggunaan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun selama kurun waktu tujuh tahun (2002-2009) meningkat sebesar 22,03% atau sekitar 3,67% pertahun atau dari 6.055 Ha pada tahun 2002 menjadi 10.098,6 Ha pada tahun 2010, sehingga komposisi lahan pada tahun 2010 menjadi 52,23% lahan terbangun dan 47,64% lahan non terbangun di dalamnya termasuk lahan untuk jalan sebesar 2.009 Ha atau 10,03% dari total luas wilayah Kota Depok sebesar 20.029 Ha (sumber data: Data Pokok Pembangunan Berbasis Peta Tematik Kota Depok 2010, halaman 28-29).
Selanjutnya jika ditinjau dari intensitas pemanfaatan ruang yang diklasifikasikan dari tingkatan sangat tinggi hingga rendah, satu kecamatan (Cinere) masuk kategori tinggi dan enam kecamatan berada pada kategori tinggi, selebihnya sedang hingga rendah. Bila dikaitkan dengan frekuensi kebakaran per kecamatan, maka nampak bahwa intensitas pemanfaatan ruang tinggi dengan frekuensi kebakaran tidak secara signifikan berkorelasi, hal lain yang menyebabkan adalah kesadaran akan keamanan penggunaan peralatan yang dapat memicu kebakaran dan kondisi bangunan yang kurang memperhatikan persyaratan bahaya kebakaran menjadi pemicu kejadian, kesulitan penganangan dalam mengatasi kejadian dipicu pula dari luas jalan yang kurang menunjang percepatan waktu tanggap dan pemulihan kondisi. Secara rinci dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.2
Kejadian kebakaran tiap kecamatan.
No Nama Kecamatan Frekuensi Kebakaran (2009-2010) Kelurahan dengan kebakaran terbanyak dalam kecamatan Intensintas pemanfaatan ruanag
1 Tapos 17 Sukamaju Baru (4) Rendah
2 Pancoran Mas 16 Depok(1), Depok Jaya (7) Tinggi
3 Cimanggis 14 Harjamukti (4), Tugu (3) Tinggi
4 Sukmajaya 10 Baktijaya(3), Mekarjaya (3) Tinggi
5 Beji 8 Beji (3) Tinggi
6 Cipayung 7 Cipayung Jaya (3) Pondok
Terong (2)
Rendah
7 Cilodong 7 Cilodong (3) Tinggi
8 Cinere 7 Cinere (6) Sangat tinggi
9 Bojong Sari 5 Pondok Petir (2) Sedang
10 Sawangan 3 - Sedang
11 Limo 1 - Tinggi
Sejalan dengan perkembangan kawasan bangunan dan jumlah penduduk, Kota diharapkan mampu memberikan fungsi aman, tertib, lancar dan seimbang dalam menyediakan sarana dan prasarana baik infrastruktur maupun sosial ekonomi. Kenyataannya daya dukung transportasi hasil evaluasi kinerja jalan antara periode tahun 2006-2009 melalui perhitungan V/A, diperoleh ruas jalan dengan nilai V/C rasio > 0,8 yang berarti pada beban puncak terjadi kemacetan dan ketidak nyamanan penggunaan jalan, dalam empat tahun terakhir ke tahun 2009 telah terjadi peningkatan jumlah ruas jalan mengalami kemacetan pada saat beban puncak, makna dalam
kaitan bencana kebakaran adalah apabila kejadian terjadi saat beban puncak jalan, maka upaya penanganan akan menjadi sangat beresiko.
Persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah penyebaran UPTD dan personil lapangan serta peralatan yang sesuai dengan kebutuhan jaman, khususnya menantisipasi semakin bertumbuhnya bangunan berlantai tinggi pada lokasi strategis maupun di wilayah pelosok.
Selanjutnya mengacu kepada pengertian bahwa Wilayah Manajemen kebakaran dibentuk oleh pengelompokan hunian yang memiliki kesamaan kebutuhan proteksi kebakaran dalam batas wilayah yang ditentukan secara alamiah maupun buatan. Hal tersebut berpedoman berdasarkan Kepmeneg PU no 11/KPTS/2000 (direvisi menjadi Permen PU no 20/PRT/M/2009) ada beberapa hal yang menjadi batasan antara lain mengenai waktu tanggap (response time), radius daerah layanan, jarak-jarak perlindungan dari lokasi sektor pemadam dan hal-hal lain yang memberikan kontribusi terhadap wilayah jangkauan layanan. Hal hal tersebut adalah menyangkut analisis risiko kebakaran yang meliputi kebutuhan sumber air dan klasifikasi risiko bahaya kebakaran. Dari sini dapat dikatakan bahwa unsure utama yang penting dalam perencanaan WMK adalah penentuan penyediaan air untuk pemadaman kebakaran. Jika mengacu kepada uraian di atas, maka persoalan potensial yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah tersedianya kecukupan sumberdaya air sebagai faktor pendukung utama dalam penangan kejadian di lapang.
Perkembangan struktur kota juga diimbangi dengan pertambahan jalan dari dan menuju pelosok bangunan dan sarana kota, semakin rendah kualitas jangkuan dan aksesisbilitas menuju lokasi sasaran kejadian, maka semakin sulit pencapaian segera penanggulangan bencana yang dikenal sebagai waktu tanggap. Waktu tanggap terhadap pemberitahuan kebakaran adalah total waktu dari saat menerima berita – pengiriman pasukan dan sarana pemadaman kebakaran ke lokasi kebakaran sampai dengan kondisi siap untuk melaksanakan pemadaman kebakaran. Waktu tanggap terdiri atas waktu pengiriman pasukan dan sarana pemadam kebakaran (dispatch time), waktu perjalanan menuju lokasi kebakaran, dan waktu menggelar
no 11/KPTS/2000 sebagai referensi). Untuk kondisi di Indonesia, waktu tanggap tidak lebih dari 15 (lima belas) menit. Oleh karena itu persoalan penanganan kebakaran sangat berkaitan dengan pelayanan yang dilakukan oleh sektor lainnya, semakin holistik dan sistimatik koordinasi kerja lintas sektoral, maka semakin diharapkan pelayanan dasar sektor kebakaran dan bencana dapat dilaksanakan dengan baik.
Kerangka kerja penangan bencana kebakaran dibagi berdasarkan satuan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) yakni, wilayah hunian yang memiliki kebutuhan air pemadam kebakaran yang relatif homogen. Hal ini dapat diartikan bahwa daerah itu relatif homogen dilihat dari ukuran bangunan, jenis bahan bangunan dan tingkat Angka Resiko Kebakarannya. Kondisi ideal perencanaan WMK adalah bila setiap unit hunian dalam wilayah itu merupakan satuan “unit terbakar (fire cell)” yang terpisah satu sama lain. Dengan cara demikian diperoleh Jumlah Pasokan Air Kebakaran yang terdefinisi dengan baik. Sebagaimana yang terjadi pada kondisi pemukiman di Indonesia pada umumnya dan, khususnya kota-kota besar, biasanya wilayah permukiman belum tertata dengan baik akibat pertumbuhan yang cepat, terutama yang dilakukan masyarakat secara swadaya, seperti misalnya suatu kawasan padat hunian dengan permukiman rumah tinggal yang padat, berimpitan, dengan jarak pemisahan api (fire separation) relatif dekat. Kondisi seperti tidak ideal seperti ini memerlukan pendekatan (asumsi) khusus untuk penentuan Perkiraan Laju Kebutuhan Air Kebakaran dan penentuan WMK. Untuk itu digunakan asumsi beberapa rumah tinggal di kawasan padat penduduk dapat diperhitungan sebagai satu fire cell. Berdasarkan statistik, pada saat kebakaran kampung padat penduduk, kendaraan pumper datang pada saat kebakaran misalnya mencapai 10 rumah, maka jumlah 10 rumah itu dianggap sebagai satu fire cell, dengan ukuran (luas, dan volume), serta jenis bahan bangunan, dan angka resiko kebakaran (ARK) sama. Untukm itu, persoalan penanganan apabila terjadi bencana kebakaran menjadi semakin kompleks. Pentingnya menyadarkan masyarakat pada hunian padat mengatasi gawat darurat apabila terjadi kebakaran dapat menjadi salah satu jalan keluar yang bersifat preventif terhadap dampak yang lebih luas.
Penangan bencana kebakaran tidak terlepas dengan unsur penunjang lainnnya, antara lain ketersedian air sebagai bahan baku utama mengatasi pemadaman. Selain faktor Pasokan Air Kebakaran, penentuan WMK juga dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah. Kendala-kendala yang disebabkan kondisi geografis seperti misalnya sungai, danau (situ), rel kereta api, jalan tol, dan sebagainya menjadi penentu apakah satu permukiman dapat digabungkan dengan permukiman lainnya ke dalam satu WMK.
Wilayah pemukiman penduduk di kota Depok dibelah dua oleh jalan Tol Jagorawi. Sebagian kecil ada di timur jalan tol (5%). Sementara sisanya (95%) ada di sebelah barat jalan Tol Jagorawi. Ketidak merataan penyebaran pemukiman penduduk juga menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam menempatkan satuan pemadam kebakaran kota, disamping pertimbangan arah pengembangan pemukiman penduduk kota yang telah diuraikan di atas.
Kondisi jalan di Kota Depok berdasarkan data Dinas Bina Marga tahun 2009, panjang jalan mencapai 503,24 km dengan rincian 14,31 km (2,8%) merupakan jalan negara, 19,16 km (3,8%) jalan provinsi dan 467,77 km jalan kota (93,4%). Kondisi status jalan kota terdiri dari jalan utama, jalan penghubung dan jalan lingkungan, di mana status jalan lingkungan mendominasi panjang jalan di Kota Depok. Saat ini Dinas Pemadam Kebakaran memiliki 10 unit kendaraan besar untuk kapasitas jalan lebar enam meter (minimal jalan penghubung), hal ini akan menyulitkan operasional penanggulangan bencana kebakaran jika terjadi pada wilayah bangunan yang hanya memiliki lebar jalan empat meter ke bawah, oleh karena itu kebutuhan kendaraan pemadam kebakaran ukuran kecil diperlukan untuk mengatasi penanganan pada daerah tersebut. Disamping itu, tumbuh suburnya bangunan bertingkat lebih dari tiga lantai juga sudah mulai bertebaran di Kota Depok, ada dua persoalan yang dihadapi pada kondisi bangunan seperti ini, yakni, diperlukan kendaraan operasional yang dilengkapi tangga tinggi dan kesiapan bangunan memenuhi persyaratan ijin bangunan dengan ketersediaan alat pemadam kebakaran ukuran gedung, untuk itu perlu dilakukan koordinasi kerja antara dinas terkait yang membawahi perijinan bangunan maupun lainnya dengan Dinas Pemadam Kebakaran, dalam rangka melakukan tindakan preventif terhadap bahaya laten kebakaran.
3.2 Telaahan Visi, Misi, Pemerintah Kota Depok
Langkah awal pelaksanaan tugas Dinas Pemadam Kebakaran kota Depok tidak terlepas dari statuta Visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Depok Tahun 2011 – 2016 yang mengacu kepada arahan Rencana pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP) Kota Depok Tahun 2006 – 2025 untuk pembangunan daerah tahap kedua. Perumusan visi dan misi Kota Depok ini dilakukan untuk menjawab permasalahan umum daerah yang berlaku saat ini, dan prediksi kondisi umum daerah yang diperkirakan akan berlaku.
Visi
Dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, permasalahan, tantangan dan peluang yang ada di Kota Depok serta mempertimbangkan budaya yang hidup dalam masyarakat, maka visi Pemerintah Kota Depok tahun 2011 – 2016 yng hendak dicapai dalam tahapan kedua Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Depok adalah : Terwujudnya Kota Depok yang maju dan sejahtera.
Misi
Sebagai penjabaran visi Pemerintah Kota Depok diatas disusunlah misi pembangunan Kota Depok 2011 – 2016 dalam rangka mewujudkan visi Terwujudnya Kota Depok yang maju dan sejahtera, dengan rincian sebagai berikut:
1. Mewujudkan pelayanan publik yang professional, berbasis teknologi informasi; 2. Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi local;
3. Mewujudkan infrastruktur dan lingkungan yang nyaman; 4. Mewujudkan SDM unggul, kreatif dan religius.
Memperhatikan Visi dan Misi Kota Depok, maka peran dan fungsi Dinas Pemadam kebakaran menduduki posisi yang strategis dalam pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam melindungi dan mencegah terjadi bencana kebakaran yang dapat menimbulkan dampak kerugian material dan non material yang besar. Makna maju dan sejahtera dalam ungkapan visi Kota Depok di atas dalam konteks penugasan kerja bencana, berarti usaha preventif lebih