• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

6

2.1 Pengertian Pemasaran

Menurut Hasan (2008, p1) pemasaran adalah sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan, pemegang saham). Sebagai ilmu, marketing merupakan ilmu pengetahuan yang objektif, yang diperoleh dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu untuk mengukur kinerja dari aktivitas bisnis dalam membentuk, mengembangkan, mengarahkan pertukaran yang saling menguntungkan dalam jangka panjang antara produsen dan konsumen atau pemakai.

Menurut Kotler (2005, p10) pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. Untuk definisi manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai “seni menjual produk,” tetapi orang heran mendengar bahwa bagian yang paling penting dari pemasaran adalah bukanlah penjualan. Penjualan itu hanya merupakan ujung gunung es pemasaran.

Berdasarkan American Market Association yang dikutip oleh Kotler (2005, p10) pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi dan penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi. Penanganan proses pertukaran supaya berhasil menuntut banyak pekerjaan dan keterampilan.

(2)

Berdasarkan American Market Association yang dikutip oleh Kasali (2005, p53) mendefinisikan pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan eksekusi , mulai dari tahap konsepsi, penetapan harga, promosi hingga distribusi barang-barang, ide-ide, dan jasa-jasa, untuk melakukan pertukaran yang memuaskan individu dan lembaga-lembaganya.

2.2 Pengertian Manajemen Pemasaran, Falsafah Manajemen Pemasaran, Dan Konsep Inti Pemasaran

2.2.1 Pengertian Manajemen Pemasaran

Berdasarkan pendapat Kotler dan Keller (2007, p6) mendefinisikan bahwa manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

Berdasarkan American Market Association (AMA) yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2007, p6) mendifinisikan pemasaran yaitu satu fungsi oraganisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan mengelola hubungan pelanggan dengan cara menguntungkan organisasi dan para pemilik sahamnya.

Berdasarkan pendapat Kotler (2005, p11) manajemen pemasaran adalah seni dan ilmu untuk memilih pasar sasaran serta mendapatkan, menjaga, dan menambah jumlah pelanggan melalui penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian nilai pelanggan yang unggul. Manajemen pemasaran terjadi ketika sekurang-kurangnya satu pihak calon pelaku pertukaran berpikir tentang sarana-sarana untuk memperoleh tanggapan yang diinginkan oleh pihak lain.

(3)

2.2.2 Falsafah Manajemen Pemasaran

Menurut Kotler dan Keller (2007, pp18-25), ada lima konsep bersaing yang telah digunakan oleh organisasi pada kegiatan pemasaran, yaitu:

1. Konsep produksi

Konsep produksi mengatakan bahwa konsumen akan memilih produk yang tersedia dimana-mana dan murah. Konsep ini akan lebih berkonsentrasi pada mencapai efisiensi produksi yang tinggi, biaya rendah, dan distribusi massal. 2. Konsep Produk

Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan lebih menyukai produk- produk yang menawarkan fitur-fitur paling bermutu, berprestasi, atau inovatif. Dalam konsep produk organisasi akan berfokus pada membuat produk yang superior dan meningkatkannya sepanjang waktu

3. Konsep Penjualan

Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen dan bisnis, jika ditinggalkan sendiri biasanya tidak akan membeli cukup banyak produk-produk oraganisasi.Oleh karena itu, organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.

4. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran menegaskan bahwa kunci untuk mencapai untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan adalah perusahaan tersebut harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang terpilih.

(4)

5. Konsep Pemasaran Holistik

Konsep pemasaran holistik didasarkan pada pengembangan, perancangan, dan implementasi program pemasaran ,dan kegiatan - kegiatan pemasaran yang mengakui keluasan dan interdependensi mereka. Pemasaran holistik mengatakan bahwa ” segala sesuatu bisa terjadi ” pada pemasaran dan bahwa pemasaran holistik adalah pemasaran hubungan, pemasaran terpadu, pemasaran internal, dan pemasarn yang bertanggung jawab sosial.

Dengan demikian pemasaran holistik merupakan suatu pendekatan terhadap pemasaran yang mencoba mengakui dan mendamaikan lingkup dan kompleksitas kegiatan pemasaran

(5)

Manajemen Produk Senior Dan Jasa Departemen Departemen

Pemasaran Lain Komunikasi Saluran

Etika Masyarakat Pelanggan Mitra Lingkungan Hukum Saluran

( sumber : Kotler dan Keller, Manajemen Pemasaran edisi 12, 2007 ) Gambar 2.1 Dimensi Pemasaran Holistik

Pemasaran Holistik Pemasaran Yang Bertanggung Jawab Sosial Pemasaran Relasi Atau Hubungan Pemasaran Terpadu Pemasaran Internal

(6)

2.2.3 Konsep Inti Pemasaran

Agar dapat lebih memahami akan pengertian pemasaran dapat dilihat konsep inti pemasaran yang terdiri dari ( Kotler dan Keller, 2007, pp 29-32 )

Seperangkat konsep menciptakan satu fondasi untuk manajemen pemasaran dan orientasi pemasaran holistik.

1. Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan.

Pemasar harus berupaya memahami kebutuhan, keinginan, dan permintaan pasar sasaran. Kebutuhan merupakan tuntutan dasar manusia, kebutuhan-kebutuhan itu menjadi keinginan bila diarahkan kepada sasaran-sasaran spesifik yang mungkin dapat memenuhi kebutuhan. Keinginan dibentuk oleh lingkungan masyarakat seseorang, permintaan adalah keinginan akan produk-produk spesifik yang dibentuk oleh kemampuan untuk membayar. Ada 5 jenis kebutuhan, yaitu sebagai berikut :

a. Kebutuhan yang dinyatakan ( pelanggan menginginkan sebuah mobil murah )

b. Kebutuhan real ( pelanggan menginginkan sebuah mobil bukan soal harga awalnya, melainkan biaya operasional murah )

c. Kebutuhan yang tidak dinyatakan ( pelanggan mengharapkan layanan yang baik dari dealer )

d. Kebutuhan yang disenangi ( pelanggan akan suka kalau dealer memasukkan sistem navigasi onboard )

e. Kebutuhan rahasia ( pelanggan ingin terlihat oleh para sahabat sebagai konsumen yang cerdas)

(7)

2. Pasar Sasaran

Pasar sasaran adalah mengindetifikasi dan membedakan kelompok-kelompok pembeli yang mungkin lebih menyukai atau memerlukan berbagai produk dan bauran pemasaran.

Segmen pasar dapat diidentifikasi dengan memeriksa perbedaan-perbedaan demografis, psikografis, dan perilaku dikalangan para pembeli. Selanjutnya, perusahaan memutuskan segmen mana yang menyajikan peluang paling besar yang merupakan pasar sasaran.

3. Tawaran Dan Merek

Perusahaan mengajukan kebutuhan-kebutuhan dengan mencetuskan suatu usulan/proposal nilai, suatu perangkat manfaat yang mereka tawarkan kepada pelanggan guna memuaskan kebutuhan mereka. Proposisi nilai yang tak berwujud (intangible) dibuat menjadi sesuatu yang bersifat fisik melalui suatu tawaran, yang dapat menjadi gabungan produk, jasa, informasi, dan pengalaman.

Merek adalah tawaran dari suatu sumber yang sudah dikenal. Semua perusahaan berusaha keras untuk membangun kekuatan merek yakni, citra merek yang kuat, menyenangkan, dan unik.

4. Nilai Dan Kepuasan

Nilai mencerminkan manfaat dan biaya berwujud dan tidak berwujud bagi pelanggan. Nilai dapat dilihat terutama sebagai kombinasi, mutu, jasa, dan harga (gsp-quality,servis,price) yang disebut juga ” Tiga Serangkai Nilai Pelanggan ”. Nilai merupakan konsep sentral pemasaran, pemasar dapat dilihat sebagai identifikasi, kreasi, komunikasi, pengiriman, dan pemantauan nilai pelanggan.

(8)

Kepuasan mencerminkan penilaian komparatif seseorang yang merupakan hasil dari kinerja ( hasil ) yang dirasakan dari produk dalam hubungan dengan harapannya.

5. Saluran Pemasaran

Untuk mencapai pasar sasaran, pemasar menggunakan tiga jenis saluran pemasaran. Saluran komunikasi digunakan untuk menyerahkan dan menerima pesan dari pembeli sasaran, saluran komunikasi ini meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, pos, telepon, papan iklan,dll. Pemasar menggunakan saluran distribusi untuk memamerkan atau menyerahkan prouk fisik atau jasa kepada pembeli atau pengguna. Pemasar juga menggunakan saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan pembeli potensial. Saluran jasa mencakup pergudangan, perusahaan angkutan, bank, dan perusahaan asuransi yang memudahkan transaksi.

6. Rantai Pasokan

Rantai pasokan ( supply chain ) menggambarkan suatu saluran yang lebih panjang terentang dari bahan mentah, komponen-komponen, hingga produk final yang disampaikan kepada pembeli final. Bila perusahaan mengambil alih perusahaan pesaing atau menambah usaha ke arah sumber daya atau ke arah pelanggan, tujuannya adalah merebut persentase yang lebih tinggi dari nilai rantai pasokan.

7. Pesaing

Persaingan mencakup semua tawaran dari pesaing serta barang pengganti yang aktual dan potensial yang mungkin dipertimbangkan oleh pembeli.

(9)

8. Lingkungan Pemasaran

Persaingan menggambarkan hanya salah satu kekuatan dilingkungan tempat pemasar beroperasi. Lingkungan pemasaran itu terdiri dari lingkungan tugas dan lingkungan luas, yaitu sebagai berikut.

a. Lingkungan Tugas

Lingkungan tugas mencakup faktor-faktor dekat yang terlibat dalam memproduksi, menyalurkan, dan mempromosikan tawaran. Yang termasuk aktor-aktor utamanya adalah distributor, supplier, dealer, dan pelanggan sasaran.

b. Lingkungan Luas

Lingkungan luas terdiri dari enam komponen : lingkungan demografis, lingkungan ekonomi, lingkungan alam, lingkungan teknologi, lingkungan hukum - politik, dan lingkungan sosial budaya.

9. Perencanaan Pemasaran

Dalam praktik, ada proses logis yang diikuti pemasaran. Proses perencanaan terdiri dari menganalisis peluang pemasaran, menyeleksi pasar sasaran, merancang strategi pemasaran, mengembangkan proses pemasaran, dan mengelola usaha pemasaran.

(10)

2.2.4 Konsep Pemasaran

Menurut Kotler & Armstrong (2008, p 11-13) ada lima konsep alternatif yang mendasari langkah-langkah organisasi dalam merancang dan melaksanakan strategi pemasaran mereka: konsep produksi, produk, penjualan, pemasaran, dan pemasaran berwawasan sosial.

1. Konsep Produksi

Konsep produksi (production concept) menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dan harganya terjangkau. Karena itu, manajemen harus berfokus pada peningkatan efisiensi produksi dan distribusi. Konsep ini merupakan salahsatu orientasi tertua yang memandu penjual.

2. Konsep Produk

Konsep produk (product concept) menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja, dan fitur inovatif yang terbaik. Berdasarkan konsep ini, strategi pemasaran berfokus pada perbaikan produk yang berkelanjutan.

3. Konsep Penjualan

Banyak perusahaan mengikuti konsep penjualan (selling concept), yang menyatakan bahwa konsumen tidak akan membeli produk perusahaan kecuali jika produk itu dijual dalam skala penjualan dan usaha promosi yang besar. Konsep ini biasanya dipraktekkan pada barang yang tidak dicari, barang-barang yang tidak terpikir akan dibeli oleh konsumen dalam keadaan normal, seperti asuransi atau donor darah, industri-industri ini harus melacak prospek dan menjual produk berdasarkan manfaat produk.

Meskipun demikian, penjualan agresif seperti itu mengandung risiko tinggi. Konsep ini menitikberatkan penciptaan transaksi penjualan dan bukan pembangunan hubungan pelanggan jangka panjang yang menguntungkan. Tujuannya sering berkisar pada cara menjual produk yang dihasilkan perusahaan dan bukan membuat produk yang diinginkan pasar. Konsep ini mengasumsikan bahwa pelanggan yang terbujuk untuk membeli produk itu akan menyukainya. Atau, jika pelanggan tidak menyukai produk itu, mereka akan melupakan kekecewaan mereka dan membelinya lagi nanti. Asumsi ini adalah asumsi yang buruk.

(11)

4. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran (marketing concept) menyatakan bahwa pencapaian tujuan organisasi tergantung pada pengetahuan akan kebutuhan dan keinginan target pasar dan memberikan kepuasan yang diingikan dengan lebih baik daripada pesaing. Berdasarkan konsep ini, fokus dan nilai pelanggan adalah jalan menuju penjualan dan keuntungan. Alih-alih filosofi “membuat dan menjual” yang berpusat pada produk, konsep pemasaran adalah filosofi “merasakan dan merespons” yang berpusat pada pelanggan. Konsep ini memandang pemasaran bukan sebagai “kegiatan berburu” tetapi sebagai “kegiatan berkebun.” Pekerjaan yang harus dilakukan bukanlah menemukan pelanggan yang tepat bagi produk anda, tetapi menemukan produk yang tepat bagi pelanggan anda. 5. Konsep Pemasaran Berwawasan Sosial (societal marketing concept)

Prinsip pemasaran yang menyatakan bahwa perusahaan harus mengambil keputusan pemasaran yang baik dengan memperhatikan keinginan konsumen, persyaratan perusahaan, kepentingan jangka panjang konsumen, dan kepentingan jangka panjang masyarakat.

Titik Awal Fokus Sarana Akhir

Konsep Penjualan

Titik Awal Fokus Sarana Akhir

Konsep Pemasaran

(sumber : Kotler dan Armstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran, 2008, p13)

Gambar 2.2 Perbedaan Konsep Penjualan Dan Konsep Pemasaran

Pabrik Produk Yang Penjualan Keuntungan Sudah Ada Dan Melalui Volume

Promosi Penjualan

Pasar Kebutuhan Pemasaran Keuntungan Konsumen Yang Melalui Kepuasan Terintegrasi Pelanggan

(12)

2.3 Strategi Pemasaran

2.3.1 Pengertian Strategi Pemasaran

Menurut Bennett didalam Tjiptono (2006, p6) strategi pemasaran merupakan pernyataan (baik secara implisit maupun eksplisit) mengenai bagaimana suatu merek atau lini produk mencapai tujuannya.

Menurut Tull dan Kahle didalam Tjiptono (2006, p6) mendefinisikan strategi pemasaran sebagai alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut.

2.3.2 Elemen-Elemen Strategi Pemasaran

Menurut Corey didalam Tjiptono (2006, p6), strategi pemasaran terdiri atas lima elemen yang saling berkait, kelima elemen tersebut adalah:

1. Pemilihan Pasar, yaitu memilih pasar yang akan dilayani. Keputusan ini didasarkan pada faktor-faktor:

a. Persepsi terhadap fungsi produk dan pengelompokkan teknologi yang dapat diproteksi dan didominasi.

b. Keterbatasan sumber daya internal yang mendorong perlunya pemusatan (fokus) yang lebih sempit.

c. Pengalaman kumulatif yang didasarkan pada trial-and-error didalam menanggapi peluang dan tantangan.

d. Kemampuan khusus yang berasal dari akses terhadap sumber daya langkat atau pasar yang terproteksi.

(13)

2. Perencanaan Produk, meliputi produk spesifik yang dijual, pembentukan lini produk, dan desain penawaran individual pada masing-masing lini. Produk itu sendiri menawarkan manfaat total yang dapat diperoleh pelanggan dengan melakukan pembelian. Manfaat tersebut meliputi produk itu sendiri, nama merek produk, ketersediaan produk, jaminan atau garansi, jasa reparasi, dan bantuan teknis yang disediakan penjual, serta hubungan personal yang mungkin terbentuk diantara pembeli dan penjual.

3. Penetapan harga, yaitu menentukan harga yang dapat mencerminkan nilai kuantitatif dari produk kepada pelanggan.

4. Sistem distribusi, yaitu saluran perdagangan grosir dan eceran yang dilalui produk hingga mencapai konsumen akhir yang membeli dan menggunakannya. 5. Komunikasi pemasaran (promosi), yang meliputi periklanan, personal selling,

promosi penjualan, direct marketing, dan public relations.

2.4 Bauran Pemasaran

Menurut Kotler (2005, p17) bauran pemasan (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya dipasar sasaran. Variabel-variabel pemasaran dari masing-masing P itu antara lain:

1. Produk (product) terdiri dari keragaman produk, kualitas, desain, ciri, nama merek, kemasan, ukuran, pelayanan, garansi, imbalan.

2. Harga (price) terdiri dari daftar harga, diskon, potongan harga khusus, periode pembayaran, syarat kredit.

(14)

3. Promosi (promotion) terdiri dari promosi penjualan, periklanan, tenaga penjualan, kehumasan (public relation), pemasaran langsung (direct marketing).

4. Tempat (place) terdiri dari saluran pemasaran, cakupan pasar, pengelompokkan, lokasi, persediaan, transportasi.

Empat P menggambarkan pandangan penjual tentang alat-alat pemasaran yang digunakan untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang pembeli, masing-masing alat pemasaran harus dirancang supaya dapat memberikan manfaat kepada pelanggan. Robert Lauternborn mengemukakan bahwa 4 P penjual berpasangan dengan 4C pelanggan (kotler2005, p9). Yang menjadi pemenang adalah perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan hemat dan nyaman serta dengan komunikasi yang efektif.

Tabel 2.1 Bauran Pemasaran

Sumber: Kotler, Philips(2005). Manajemen Pemasaran, jilid 1. PT.Indeks Kelompok Gramedia. P19.

Empat P Empat C

Product (Produk) Customer Solution (Solusi Pelanggan) Price (Harga) Customer Cost (Biaya atau Harga Pelanggan)

Promotion (Promosi) Convenience (Kenyamanan)

(15)

2.5 Pasar

2.5.1 Pengertian Pasar

Menurut Tjiptono (p59, 2006) pengertian pasar adalah bahwa pasar terdiri atas semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin bersedia dan sanggup untuk melibatkan diri dalam proses pertukaran guna memuaskan kebutuhan atau keinginan tersebut. Dengan demikian besarnya pasar tergantung pada jumlah orang yang memiliki kebutuhan, mempunyai sumber daya yang diminati orang/pihak lain, dan bersedia menawarkan sumber daya tersebut untuk ditukar supaya dapat memenuhi keinginan mereka.

2.5.2 Langkah-langkah memasuki Pasar

Beberapa langkah yang harus diperhatikan bagi perusahaan untuk memasuki pasar (Mursid,2003,p39) :

a. Menetapkan pelengkap (atribut) yang dianggap penting dan mengidentifikasi segmen pasar yang berbeda.

b. Menentukan luas dari segmen pasar yang ada. c. Menentukan merek-merek yang ada di pasar

d. Mencari peluang segmen-segmen pasar yang belum dilayani, dan mencari kesukaan yang sama atau tidak.

2.5.3 Konsep Segmentasi, Penentuan Pasar, dan Penempatan Posisi

Menurut Kotler(2001,p285), saat ini sebagaian besar perusahaan bergerak menjauh dari pemasaran massal. Sebaliknya banyak yang melakukan pemasaran target yang mengidentifikasi segmen pasar, memilih salah satu atau lebih dari segmen yang ada, dan mengembangkan produk serta bauran pemasaran yang

(16)

disesuaikan dengan masing-masing target yang dipilih. Dengan cara ini, penjual dapat mengembangkan produknya yang tepat untuk setiap pasar sasaran dan menyediakan harga, saluran distribusi, dan iklan untuk meliputi pasar sasaran secara efisien.

2.6 Segmentasi

2.6.1 Pengertian Segmentasi

Menurut Hasan (2008, p171) segmentasi pasar adalah proses estimasi luar pasar khusus yang memiliki respon yang sama, yang diperkirakan akan menjadi calon pembeli yang menguntungkan dengan cara :

• Mendefinisikan pasar produk yang dilayani.

• Menganalisis industri untuk mengetahui peluang dan daya tarik pasar.

• Menganalisis pesaing kunci untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing.

• Mengembangkan profile konsumen untuk mengetahui segmen pasar yang diprofitable.

Menurut Kasali (2005, p48) segmetasi pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memahami struktur pasar.

2.6.2 Pendekatan Segmentasi

Menurut Kasali (2005, p348-350) terdapat dua pendekatan dalam melakukan segmentasi,yaitu:

1.Pendekatan Segmentasi a-priori

Segmentasi yang dilakukan sebelum suatu produk/jasa/ide/kampanye diluncurkan kepada pasar. Dengan cara a-priori para profesional menunjukkan siapa sasaran pasarnya, beberapa usianya, berapa penghasilannya per bulan, dimana kelas sosialnya, dimana mereka dapat dijangkau, dan tentu saja begaimana perilaku mereka.

(17)

2.Pendekatan Segmentasi post-hoc

Segmentasi yang dilakukan setelah suatu produk/jasa/ide/kampanye dijalankan. Setelah konsumen datang, data dikumpulkan, diolah dan Anda meminta agar data itu berbicara siapa mereka, siapa konsumen anda.

Tabel 2.2 Pendekatan Segmentasi

1. Segmentasi A-Priori: “I already know the segment”. Dasar : Demografi, Geografi, Psikografi

2. Segmentasi Post-hoc: “I’m going to let the costumer data show me the segment “.

Dasar: 1.Demografi atau perilaku

2.Survei-survei tentang sikap,kebutuhan-kebutuhan, psikografis ,atau Manfaat.

3.Preferensi/pilihan

Sumber: Diolah dari William D.Neal & Jacquilline M. Dawney,Phd. Presentasi tentang Segmentasi dalam Applied research method-American Marketing Association Conference, Oak Brook, 1997 dalam Kasali (2005, p350)

2.6.3 Dasar - Dasar Segmentasi

Menurut Kotler dan Keller (2007, p301-315) variabel segmentasi utama terdiri dari segmentasi geografis, demografis, psikografis, dan perilaku. Dimana variabel-variabel tersebut dapat dilihat dalam tabel 2.2

(18)

1. Segmentasi Geografis

Segmentasi geografis mengharuskan pembagian pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda, seperti negara, negera bagian, wilayah, propinsi, kota, atau lingkungan rumah tangga.

2. Segmentasi Demografis

Dalam segmentasi demografis pasar dibagi kedalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel seperti usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial. Variabel - variabel demografis paling populer untuk membedakan kelompok - kelompok pelanggan, salah satu alasannya adalah keinginan, preferensi (kesukaan), dan tingkat pemakaian konsumen yang sangat berhubungan dengan variabel - variabel demografis.

3. Segmentasi Psikografis

Psikografis adalah ilmu yang menggunakan psikologis dan demografik untuk lebih memahami konsumen. Dalam segmentasi psikografis, para pembeli dibagi berdasarkan kelompok yang berbeda berdasarkan gaya hidup atau kepribadian atau nilai. Orang-orang dalam kelompok demografis yang sama dapat menunjukkan gambaran psikografis yang sangat berbeda.

4. Segmentasi Perilaku

Dalam segmentasi perilaku, pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian, atau tanggapan mereka terhadap produk tertentu

(19)

Tabel 2.3 Variabel Segmentasi Utama Untuk Pasar Konsumen Variabel Segmentasi Utama Pada Pasar Konsumen

Geografis Wilayah

Ukuran Kota atau Kota Besar

Kepadatan Iklim

Demografis Usia Ukuran Keluarga Siklus Hidup Keluarga

Jenis Kelamin Penghasilan

Pekerjaan

Pasific, Mountain, West North Central, West South Central, East

Noth Central, East South Central, South Atlantic, Middle Atlantic,New England

Dibawah5.000;5.000-20.000;20.000-50.000;50.000-100.000;100.000-250.000;250.000-500.000;

500.000-1.000.000; 1.000.000-4.000.000; 4.000.000 km2 atau ke atas

Perkotaan, pinggiran kota, perdesaan Utara, Selatan

Dibawah 6, 6-11, 12-19, 20-34, 35-49, 50-64, 65 + 1-2, 3-4, 5+

Muda, Lajang; Muda, Menikah,Tidak Punya Anak; Muda, Menikah, Anak Termuda Dibawah 6 Tahun; Muda, Menikah, Anak Termuda 6 Tahun Atau Lebih; Tua, Menikah, Punya Anak; tua, Menikah, Tidak Punya Anak Dibawah 18 Tahun; Tua, Lajang; Lain-Lain

Pria, Wanita

Dibawah $10.000; $10.000-$15.000; $15.000-$20.000; $20.000-$30.000; $30.000-$50.000; $50.000-$100.000; $100.000 ke atas

Profesional dan Teknikal; Manajer, Pejabat, dan Pemilik Perusahaan; Pegawai, Pramuniaga;

Pengrajin, Mandor; Pengoperasi; Petani; Pensiunan; Pelajar; Ibu Rumah Tangga; Pengangguran

(20)

Pendidikan Agama Ras Generasi Kewarganegaraan Kelas Sosial

Psikografis Gaya Hidup

Kepribadian Perilaku Kejadian Manfaat Status Pemakai Tingkat Pemakaian Status Kesetiaan

Tahap Kesiapan Pembeli Sikap Terhadap Produk

Sekolah Dasar Atau Kurang; Pernah Mengikuti Sekolah Menengah; Lulus Sekolah Menengah; Pernah Kuliah; Lulus Perguruan Tinggi

Katolik, Protestan, Yahudi, Islam, Hindu, Dan Lain-Lain

Putih, Hitam, Asia, Hispanik

Baby Boomers (lahir di A.S sesudah PD II, tingkat kelahiran pada waktu itu sangat tinggi), Generasi X (lahir di A.S 1960-an – 1970-an, sering dianggap apatis, materialistis, dan tidak bertanggung jawab) Amerika Utara, Amerika Selatan, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Jepang

Bawah Bawah, Bawah Atas, Kelas Pekerja, Kelas Menengah, Menengah Atas, Atas Bawah, Atas Atas Lurus/Konvensional perilakunya, Santai, Rambut Panjang

Kompulsif (dorongan bertindak yang kurang rasional, berulang, dan kurang bisa bertahan), Suka Berteman, Patuh Pada Penguasa, Ambisius

Kejadian Biasa, Kejadian Khusus

Kualitas, Pelayanan, Ekonomis, Kecepatan

Bukan Pemakai, Bekas Pemakai, Pemakai Potensial, Pemakai Pertama Kali, Pemakai Teratur

Pemakai Ringan, Pemakai Sedang, Pemakai Berat Tidak Ada, Sedang, Kuat, Mutlak

Tidak Sadar, Sadar, Mengetahui, Tertarik, Menginginkan, Bermaksud Membeli

Antusias, Positif, Tidak Acuh, Negatif, Membenci Sumber: Kotler Dan Keller, Manajemen Pemasaran, (2007, p302)

(21)

2.6.4 Prosedur Segmentasi

Menurut Tjiptono (p69, 2006) pada dasarnya segmentasi adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk atau jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, dimana masing-masing segmennya cenderung bersifat homogeny dalam segala aspek. Pemasar memandang suatu pasar tertentu terdiri dari banyak bagian yang lebih kecil yang dimasing-masing bagian memiliki karakteristik tertentu yang sama (dalam bagian tersebut). Berdasarkan segmentasi tersebut, kemudian perusahaan berusaha mengembangkan program-program pemasaran yang terpisah (umumnya dengan produk yang berbeda) untuk memenuhi kebutuhan khas masing-masing segmen.

Menurut Kasali (2005,p148) , segmentasi harus didasarkan oleh pengetahuan yang mendalam tentang pasar, yaitu melalui riset. Tetapi riset mebutuhkan waktu,ketrampilan dan biaya . Prosedur yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

1. Kumpulkan informasi tentang produk, persaingan dan konsumen

2. Pelajari konsumenyang ingin dilayani dan tentukan basis segmentasi yang akan digunakan.

3. Aplikasikan metodelogi untuk mengidentifikasikan sejumlah segmen. 4. Setelah data terkumpul, buatlah profil konsumen pada masing-masing

segmen.

5. Pilih target segmen yang paling potensial, baik dari segi besar, daya beli maupun kemampuan perusahaan untuk melayani.

6. Kembangkan program-program pemasaran yang konsisten dengan segmen yang dipilih melalui program bauran pemasaran.

(22)

7. Lakukanlah evaluasi dan perbaiki program-program yang belum sejalan dengan kebutuhan segmen.

(sumber: Diolah dari Payne, A (1993), The Essence of Services Marketing. New York: Prentice Hall, Didalam Tjiptono, Strategi Pemasaran, 2006, p70)

Gambar 2.3 Proses Segmentasi

Identifikasi alternatif-alternatif basis untuk segmentasi Penentuan pasar

Memilih basis terbaik untuk segmentasi

Mengidentifikasi dan memilih segmen pasar

Mengembalikan positioning bagi pasar sasaran

Menyusun bauran pemasaran untuk setiap pasar sasaran

Proses Segmentasi Pasar Positioning Penyusunan Bauran Pemasaran

(23)

Menurut Hasan (2008, p175-176), analisis segmentasi pasar merupakan upaya mengelompokkan konsumen potensial ke dalam kelompok-kelompok pasar khusus yang memiliki kesamaan respon terhadap variabel pemasaran. Langkah-langkah segmentasi produk pasar dimulai dari :

1. Mendefinisikan Segmen Pasar

a. Lakukan survei konsumen, untuk mengindentifikasi:

i. Karakteristik konsumen, misalnya usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, lifestyle dan personality.

ii. Respon terhadap pemasaran, misalnya motivasi, persepsi, sikap, dan preferensi.

b. Analisis kelompok segmen

Untuk menguji ada tidaknya perbedaan respon konsumen berdasarkan perbedaan karakteristiknya.

c. Membuat profile

Menerangkan ciri demografis, psikografis, persepsi, sikap, dan kebutuhan dari kelompok segmen yang akan dibidik.

2. Memilih Basis Segmen

Kebutuhan segmentasi dengan kriteria penilaian atas dasar manfaat segmentasi:

a. Ada perbedaan respon terhadap variabel marketing mix yang ditawarkan.

b. Dapat diidentifikasi.

c. Dapat dijalankan (tanpa merusak segmen lain milik sendiri). d. Menguntungkan (cost<benefit).

(24)

e. Stabil dalam jangka panjang (kebutuhan segmen tidak cepat berubah).

3. Segmen Produk – Pasar

a. Karakteristik konsumen : demografis (usia, income, pendidikan, pekerjaan) geografis (lokasi) dan psikologi (lifestyle, personality). b. Situasi pengunaan, untuk makanan, desain furnitur, motor, mobil.

Misalnya kursi untuk apartemen, kantor, pantai, kebun, dan sebagainya.

c. Kebutuhan konsumen, misalnya sikat gigi lembut bagi gusi mudah berdarah, makan siap santap, kemasan untuk keluarga kecil/bujangan.

d. Perilaku beli, sering dipakai pada pasar industri: jumlah dan frekuensi pembelian.

4. Metode Segmentasi a. Break Out Method

i. Pasar produk yang telah didefinisikan, dipisah menjadi beberapa variabel segmentasi, misal geografik, demografik, psikografik, dan perilaku.

ii. Pemilihan dapat berdasarkan kombinasi informasi yang tersedia / data riset pemasaran dan dianalisis dengan bantuan software statistik (analisis korelasi-mulltiple regression, automatic intraction ditection, chi quadrat, anakovarian, multivariate analisis, amos, part anaysis, dan sebagainya).

(25)

b. Aggregations Method

i. Mengindentifikasi dan mengumpulkan para pembeli yang memiliki kesamaan respon kedalam kelompok, yang masing-masing kelompok dijadikan sebagai segmen potensial. ii. Menggambarkan pembentukan segmen berdasarkan lifestyle

(gaya hidup) dan benefit (manfaat utama).

iii. Membuat perceptual map (peta persepsi) berdasarkan produk atau merek.

(Sumber: Hasan, Marketing , 2008, p175 ) Gambar 2.4 Proses Segmentasi Pasar

Proses Segmentasi pasar Mendefinisik an Segmen Pasar Seleksi Basis Segmen Analisis Segmen Bentuk Segmen

(26)

2.6.5 Segmentasi Yang Efektif

Agar dapat berguna, segmen-segmen pasar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Kotler dan Keller, 2007, pp 318 - 319) :

1. Dapat diukur ( ukuran, daya beli dan profit segmen )

2. Besar, segmen cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani. Suatu segmen harus merupakan kelompok homogen yang paling mungkin, yang berharga untuk diraih dengan program pemasaran yang dirancang khusus.

3. Dapat diakses, segmen dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.

4. Dapat dibedakan, segmen-segmen secara konseptual dapat dipisah-pisahkan dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap elemen dan program bauran pemasaran yang berbeda.

5. Dapat dilaksanakan, program-program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen - segmen tersebut.

2.6.6 Mengevaluasi Dan Memilih Segmen Pasar

Dalam mengevaluasi segmen pasar yang berbeda perusahaan harus memerhatikan dua faktor, yakni daya tarik segmen secara keseluruhan serta tujuan dan sumber daya perusahaan. Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang berbeda, perusahaan dapat mempertimbangkan lima pola pemilihan pasar sasaran, yaitu sebagai berikut ( Kotler dan Keller, 2007, pp320-321 )

1. Konsentrasi Segmen Tunggal

Dengan adanya konsentrasi pada segmen tunggal, perusahaan akan mendapatkan pengetahuan yang kuat tentang kebutuhan segmen dan meraih posisi pasar yang kuat disegmen tersebut.

(27)

Konsentrasi Segmen- Tunggal

M1 M2 M3 P1

P2 P3

Sumber: Disadur dari Derek F.Abell, Defining The Business: The Starting Point Of Strategic Planning (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1980), Bab 8, Hlm.192-96, didalam Kotler Dan Keller(2007,p320)

Gambar 2.5 Pola Pemilihan Pasar Sasaran Konsentrasi Segmen Tunggal

2. Spesialisasi Selektif

Perusahaann memilih sejumlah segmen secara objektif, masing-masing segmen menarik dan memadai.Mungkin terdapat sedikit atau tidak sinergi diantara segmen-segmen tersebut, tapi masing-masing segmen berpotensi sebagai penghasil uang. Strategi cakupan segmen ganda itu memiliki keunggulan berupa pendiversifikasian resiko perusahaan.

Spesialisasi Selektif

M1 M2 M3 P1

P2 P3

Sumber: Disadur dari Derek F.Abell, Defining The Business: The Starting Point Of Strategic Planning (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1980), Bab 8, Hlm.192-96, didalam Kotler Dan Keller(2007,p320)

(28)

3. Spesialisasi Produk

Perusahaan menghasilkan produk tertentu yang dijualnya ke beberapa segmen sehingga perusahaan membuat produk yang berbeda bagi beberapa kelompok pelanggan yang berbeda-beda dan membangun reputasi yang kuat dibidang tertentu. Resiko yang tidak menguntunkan yaitu produk membutuhkan teknologi yang benar- benar baru.

Spesialisasi Produk

M1 M2 M3 P1

P2 P3

Sumber: Disadur dari Derek F.Abell, Defining The Business: The Starting Point Of Strategic Planning (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1980), Bab 8, Hlm.192-96, didalam Kotler Dan Keller(2007,p320)

Gambar 2.7 Pola Pemilihan Pasar Sasaran Spesialisasi Produk

4. Spesialisasi Pasar

Perusahaan berkonsetrasi untuk melayani berbagai kebutuhan kelompok pelanggan tertentu. Perusahaan menjual berbagai macam produk sehingga perusahaan mendapatkan reputasi yang kuat dengan melayani kelompok pelanggan itu dan saluran bagi semua produk tambahan yang dapat digunakan kelompok pelanggan itu. Resiko yang tidak menguntungkan adalah kelompok pelanggan itu mungkin harus mengalami pemotongan anggaran atau menyusutkan ukuran mereka.

(29)

Spesialisasi Pasar

M1 M2 M3 P1

P2 P3

Sumber: Disadur dari Derek F.Abell, Defining The Business: The Starting Point Of Strategic Planning (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1980), Bab 8, Hlm.192-96, didalam Kotler Dan Keller(2007,p320)

Gambar 2.8 Pola Pemilihan Pasar Sasaran Spesialisasi Pasar

5. Cakupan Ke Seluruh Pasar

Perusahaan berusaha melayani seluruh kelompok pelanggan dengan menyediakan semua produk yang mungkin dibutuhkan oleh pelanggan. Perusahaan yang besar dapat mencakup seluruh pasar dengan dua cara umum, yaitu melalui pemasaran yang terdiferensiasi atau pemasaran yang tidak terdiferensiasi.

o Pemasaran yang terdiferensiasi

Dalam pemasaran yang terdiferensiasi, perusahaan bergerak di beberapa segmen pasar dan merancang program yang berbeda bagi masing-masing segmen.

o Pemasaran yang tidak terdiferensiasi

Dalam pemasaran yang tidak terdiferensiasi, perusahaan mengabaikan perbedaan segmen dan meraih seluruh dunia dengan satu tawaran pasar. Perusahaan memusatkan perhatian pada kebutuhan pembeli yang bersifat dasar, bukan pada perbedaan diantara pembeli. Perusahaan merancang produk dan program pemasaran tertentu yang akan menarik jumlah pembeli

(30)

terbesar dimana perusahaan mengantungkan pada distribusi dan periklanan massal.

Cakupan Seluruh Pasar

M1 M2 M3 P1

P2 P3

Sumber: Disadur dari Derek F.Abell, Defining The Business: The Starting Point Of Strategic Planning (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1980), Bab 8, Hlm.192-96, didalam Kotler Dan Keller(2007,p320)

Gambar 2.9 Pola Pemilihan Pasar Sasaran Cakupan Seluruh Pasar 2.7 Targeting

2.7.1 Pengertian Targeting

Menurut Hasan (2008, p 191) mendefinisikan targeting sebagai kegiatan pasar sasaran, yaitu tindakan memilih satu atau lebih segmen untuk dilayani.

Menurut Kasali (2005, p371) mendefinisikan ” Targeting atau menerapkan target pasar adalah tahap selanjutnya dari analisis segmentasi. Produk dari targeting adalah target market, yaitu satu atau beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus kegiatan-kegiatan pemasaran ”.

(31)

2.7.2 Kriteria Targeting Yang Optimal

Menurut Kasali (2005, p375-377) ada empat kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pasar sasaran yang optimal. Keempat kriteria itu adalah sebagai berikut :

1. Responsif

Pasar sasaran harus responsif terhadap produk dan program-program pemasaran yang dikembangkan.

2. Potensi Penjualan

Potensi penjualan harus cukup luas. Semakin besar pasar sasaran, semakin besar nilainya. Besarnya bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi tetapi juga daya beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut.

3. Pertumbuhan Memadai

Pasar tumbuh pelahan-lahan sampai akhirnya meluncur dengan pesat dan mencapai titik pendewasaannya. Kalau pertumbuhan lambat, tentu dipikirkan langkah-langkah agar produk ini berhasil dipasar.

4. Jangkauan Media

Pasar sasaran dapat dicapai dengan optimal kalau marketer dapat memilih media untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya.

(32)

2.7.3 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Targeting

Menurut Proctor dalam Kasali ( 2005 , p391-393 ) berpendapat bahwa

beberapa faktor yang perlu mempengaruhi pemilihan strategi pasar sasaran, antara lain :

1. Tahap Dalam Product Life-Cycle

Pasar sasaran umumnya harus ditinjau kembali begitu produk memasuki tahap pendewasaan. Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan produk mulai terhenti dan ada kalanya menurun.

2. Kegiatan Konsumen Dalam Keseluruhan Pasar

Pasar yang terdiri dari konsumen yang besarnya terbatas relatif dapat didekati tanpa memerlukan strategi diferensiasi pasar. Semakin kompleks struktur pasar, maka semakin mungkin melakukan diferensiasi pasar. 3. Potensi Dalam Pasar

Ketika suatu pasar dikerubuti oleh demikian banyak peminat, maka pemasar harus memilih pasar sasarannya secara efektif.

4. Struktur Dan Intensitas Kompetisi

ketika suatu pasar dikerubuti oleh demikian banyak peminat, maka pemasar harus memilih pasar sasarannya secara efektif.

5. Sumber Daya

Sumber daya dimiliki menentukan pemilihan pasar sasaran. 6. Skala Ekonomis

Skala Ekonomis produksi menentukan perusahaan untuk memilih pasar sasaran.

(33)

2.8 Positioning

2.8.1 Pengertian Positioning

Menurut Gain didalam Hasan (2008, p 200) menjelaskan bahwa positioning merupakan penempatan sebuah merek dibagian pasar dimana merek tersebut akan mendapatkan sembutan positif dibanding produk-produk saingan. Dengan demikian, istilah positioning dapat dimaknai sebagai:

1. Pernyataan tentang apa arti produk, dan bagaimana pelanggan dapat mengevaluasinya.

2. Upaya menempatkan produk atau merek dipasar tertentu ke dalam persepsi pembeli.

3. Usaha mencitrakan merek dipasar tertentu, dengan cara membangun persepsi konsumen tentang keunikan atribut produk yang ditawarkan melalui program komunikasi dan marketing mix lainnya.

4. Upaya untuk menjelaskan bahwa produk tampak lebih unggul dari merek-merek saingannya dan membuat produk lebih menarik bagi pembeli dengan melakukan perubahan penting pada barang itu sendiri, misalnya desain, bungkus, harga, merek, dan komunikasi pemasarannya.

Menurut Kasali (2005, p527) berpendapat bahwa ” Positioning adalah strategi komunikasi untuk memasuki jendela otak konsumen, agar produk/merek/nama anda mengandung arti tertentu dalam beberapa segi mencerminkan keunggulan terhadap produk/merek/nama lain dalam bentuk hubungan asosiatif ”.

(34)

2.8.2 Cara Penentuan Positioning

Menurut Kasali (2005, p538-542) berpendapat bahwa ada berbagai strategi positioning yang dapat dimplementasikan, antara lain:

1. Positioning Berdasarkan Perbedaan Produk

Perusahaan dapat menunjukkan kepada pasarnya dimana letak perbedaan produknya terhadap pesaing (unique product feature).

2. Positioning Berdasarkan Manfaat Produk

Manfaat produk dapat pula ditonjolkan sebagai positioning sepanjang dianggap penting oleh konsumen.

3. Positioning Berdasarkan Pemakaian

Memosisikan produk sebagai yang terbaik dari segi pemakaian produk. 4. Positioning Berdasarkan kategori produk

Positioning ini biasanya dilakukan pada produk-produk yang muncul dari suatu kategori produk.

5. Positioning kepada Pesaing

Memosisikan produk dengan membanding diri sebagai yang terbaik dari pesaing yang disebutkan namanya atau yang tersirat.

6. Positioning Melalui Imajinasi

Memosisikan produk dengan menggunakan imajinasi seperti tempat, orang, atau benda-benda dan lain sebagainya.

7. Positioning Berdasarkan Masalah

Positioning yang digunakan produk-produk atau jasa baru yang belum begitu dikenal. Produk baru biasanya diciptakan untuk memberi solusi terhadap masalah yang dirasakan konsumennya.

(35)

2.8.3 Kesalahan-Kesalahan Positioning

Menurut Kasali (2005, p543) Secara umum, perusahaan harus menghindari empat kesalahan dalam positioning, yaitu:

1. Underpositioning

Produk mengalami underpositioning jika gregetnya tidak dirasakan konsumen. Ia tidak memiliki posisi yang jelas sehingga dianggap sama saja dengan kerumunan produk lainnya dipasar.

2. Overpositioning

Marketer terlalu sempit memposisikan produknya sehingga mengurangi minat konsumen yang masuk kedalam pasarnya.

3. Confused Positioning

Konsumen mengalami keraguan, karena marketer menekankan terlalu banyak atribut.

4. Doubtful Positioning

Positioning ini ragukan kebenarannya karena tidak didukung bukti yang memadai.

(36)

2.9 Analisis persaingan model lima kekuatan porter

Menurut David (2004, p144) analisis model persaingan lima kekuatan polter merupakan pendekatan yang banyak dipakai untuk mengembangkan strategi oleh banyak industri. Intensitas persaingan antar perusahaan sangat beragam diberbagai industri. Menurut Polter, sifat persaingan dalam satu industri dapat dilihat sebagai gabungan dari lima kekuatan ini:

1. Perseteruan Antar Perusahaan Yang Saling Bersaing

Kekuatan ini adalah kekuatan yang paling berpengaruh dibandingkan dengan empat kekuatan lainnya. Strategi yang dijalankan oleh satu perusahaan dapat berhasil hanya jika strategi tersebut memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan dengan strategi yang dijalankan oleh perusahaan pesaing. Perubahan strategi disebuh perusahaan dapat diimbangi dengan serangan balik, seperti menurunkan harga, meningkatkan mutu, menambah fitur, menyediakan pelayanan, memperpanjang garansi, dan meningkatkan iklan.

2. Potensi masuknya pesaing baru

Ketika perusahaan baru dapat dengan mudah masuk keindustri tertentu, sudah pasti intensitas persaingan diantara perusahaan meningkat. Hambatan-hambatan terhadap masuknya pesaing baru, bisa berupa pentingnya memperoleh skala ekonomi dengan cepat, pentingnya memperoleh teknologi dan pengetahuan khusus, kurangnya pengalaman, kuatnya loyalitas pelanggan, fanatisme terhadap merek tertentu, persyaratan modal yang besar, kurangnya saluran distribusi yang memadai, kebijakan peraturan pemerintah, tarif, kurangnya akses bahan baku, kepemilikan paten, lokasi yang tidak menguntungkan, serangan balik oleh perusahaan yang bertahan, dan potensi kecenderungan pasar. Walaupun banyak hambatan perusahaan baru

(37)

kadang-kadang masuk ke dalam industri dengan produk yang lebih tingi mutunya, harga yang lebih rendah, dan tenaga pemasaran yang lebih banyak. Oleh karena itu, tugas perencana strategi adalah mengidentifikasi perusahaan baru yang potensial masuk pasar, memonitor strategi perusahaan baru yang menjadi pesaing, melakukan serangan balasan jika diperlukan, dan memanfaatkan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

3. Potensi Pengembangan Produk Substitusi

Dalam berbagai industri, perusahaan bersaing ketat dengan produsen produk pengganti. Tekanan persaingan akibat adanya produk pengganti semakin bertambah ketika harga produk pengganti relatif lebih rendah dan biaya konsumen untuk beralik ke produk lain pun rendah. Kekuatan kompetitif produk pengganti paling mudah diukur dari seberapa besar pangsa pasar yang direbutnya dan rencana perusahaan produk pengganti tersebut untuk meningkatkan kapasitas serta penetrasi pasar.

4. Kekuatan Tawar Pemasok

kekuatan tawar pemasok mampu mempengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industri, terutama ketika jumlah pemasok banyak, ketika hanya ada sedikit bahan baku pengganti yang baik, atau ketika biaya mengganti bahan baku amat tinggi. Sering kali demi kepentingan bersama, pemasok dan produsen saling membantu dengan memberikan harga yang terjangkau, dan mutu yang lebih baik, pengembangan pelayanan baru, penyerahan bahan tepat waktu, dan mengurangi biaya investasi, sehingga meningkatkan kekuatan meraih laba jangka panjang bagi semua pihak yang terkait.

(38)

5. Kekuatan Tawar Konsumen

Kekuatan tawar-menawar merupakan kekuatan utama dalam mempengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industri. Dengan memperhitungkan kekuatan tawar-menawar konsumen, perusahaan dapat memperhitungkan berapa jumlah produk yang harus diproduksi atau di sediakan dan berapa pula tingkat penjualan serta bagaimana perusahaan dapat meningkatkan keuntungan dari penjualan dengan tawar-menawar dari konsumen.

Sumber : David, Freg.(2004), Manajemen Strategi, edisis ke-7. PT.Prenhallindo.

Gambar 2.10

Lima Kekuatan Persaingan

Potensi Pengembangan Produk Pengganti Potensi Masuknya Pesaing Baru Kekuatan Tawar Konsumen Perseteruan Antara Perusahaan Yang Saling Bersaing Kekuatan Tawar Pemasok

(39)

2.10 Kerangka Pemikiran

Evaluasi

Evaluasi

Evaluasi

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2008. Gambar 2.11 Kerangka Pemikiran

Mengetahui Hasil Segmentasi, Targeting,

dan Positioning Strategi Pemasaran

Analisis Data PT Inter Natur Sinergi

Segmentasi Targeting Positioning

Kuesioner

Mengolah Kuesioner Dengan Teknik Pengolahan Data

Gambar

Gambar 2.1  Dimensi Pemasaran Holistik Pemasaran Holistik Pemasaran Yang Bertanggung Jawab Sosial Pemasaran Relasi Atau Hubungan Pemasaran Terpadu Pemasaran Internal
Gambar 2.2  Perbedaan Konsep Penjualan Dan Konsep Pemasaran  Pabrik      Produk Yang        Penjualan              Keuntungan                     Sudah Ada              Dan                Melalui Volume
Tabel 2.1 Bauran Pemasaran
Tabel 2.2 Pendekatan Segmentasi  1.  Segmentasi A-Priori: “I already know the segment”
+5

Referensi

Dokumen terkait

Nilai rata-rata rasio Deposit Risk bank umum konvensional dan bank syariah menunjukkan bahwa bank umum konvensional mempunyai tingkat risiko kegagalan yang lebih tinggi

Dari hasil penelitian pengaruh minuman berkarbonasi terhadap kekasaran permukaan Glass Ionomer Cement (GIC) konvensional dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kekasaran

Kaitannya dengan hal di atas, beberapa waktu lalu, sebuah kasus juga cukup menyita sorotan publik yakni majelis hakim Pengadilan Agama menolak gugatan cerai seorang istri pejabat

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Adjusted R 2 sebesar 0.233 atau 23.3% sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel profitabilitas, risiko bisnis,

[r]

1) Menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat lain. Ini sesuai dengan kesadaran Sayyid Qutb untuk selalu berada dalam alur Al-Qur’an. 2) Menggunakan hadits-hadits

penuh dalam diri manusia maka bersaman dengan itu hidup yang tentram penuh syukur akan manusia dapatkan dalam dirinya, oleh sebab itulah mengapa ilmu agama dalam hal ini (aqidah)

Bila tanah pondasi pada kedalaman normal p p tidak mampu mendukung beban, sedangkan tanah keras terletak pada kedalaman yang p y g sangat dalam.. Bila pondasi terletak pada