2 TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi dan Deskripsi Scorodocarpus borneensis Becc.
Taksonomi dari Scorodocarpus borneensis Becc. menurut Lawrence (1951) yaitu termasuk Kingdom Tumbuhan, Divisio Spermatophyta, Sub divisio Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Santalales, Famili Olacaceae, Genus Scorodocarpus, Spesies Scorodocarpus borneensis Becc.
Famili Olacaceae umumnya berupa pohon atau semak, jarang, dan bisa dipanjat. Daun tunggal, biasanya selang seling, seluruhnya exstipulate. Bunga berukuran kecil berwarna hijau/putih, biasanya biseksual, dalam racemes atau
cymes. Mahkota terdiri dari 4 – 6, terpisah atau connate, valvate. Benang sari
sama atau dua kali lebih banyak dari daun mahkota (membelakangi petal ketika jumlahnya banyak). Memiliki ruang sari 4 – 6 ruang dan kadang-kadang satu ruang, satu ovule dalam setiap ruang dalam axile placenta, jenisnya satu. Buah berbiji atau seperti kacang-kacangan dengan satu biji/benih (Keng 1969).
Nama daerah S.borneensis Becc. antara lain kayu bawang, kulim, rengon, ansam, bawang utan, merca, madudu, sedau, selaru, terdu (Martawijaya et al. 1989). Heyne (1987) menyebutkan nama daerah kulim yaitu hulim, kulim, kayu bawang utan. Menurut Giorn (1877) nama umum S.borneensis antara lain di Brunai disebut bawang hutan; di Sumatera dan Kalimantan disebut kayu bawang; di Kalimantan disebut kayu bawang utan, selaru; di Sabah dan Serawak disebut bawang hutan, sagan berauh, ungsunah; di Thailand (Semenanjung Thailand) disebut krathiam ton, kuleng, kulim.
Umumnya tinggi pohon kulim ± 20 meter dengan diameter 50-60 cm namun tingginya dapat mencapai 36 meter dengan diameter lebih dari 80 cm. Batang pada umumnya tegak, bulat torak, di bagian kaki batang sedikit berjalur atau bersiku, mahkota daun tinggi, tinggi bebas cabang batang pada umumnya ± 15 meter dan kadang-kadang lebih dari 20 meter (Heyne 1987). Kayu teras kulim berwarna merah tua atau coklat-kelabu semu-semu lembayung. Kayu gubal berwarna kekuning-kuningan atau kemerah-merahan, agak jelas dapat dibedakan dengan kayu teras, lebarnya 3-5 cm. Tekstur kayu halus dan merata dengan arah serat lurus atau berpadu. Permukaan kayu licin dan agak mengkilap. Kayu yang masih basah berbau bawang sedangkan kayu yang sudah kering dan baru dikerjakan berbau lada yang lama kelamaan hilang (Martawijaya et al. 1989).
Pohon kulim diketahui mengeluarkan bau bawang putih yang menyengat ketika batangnya terluka. Bau ini dihasilkan dari turunan asam amino dari S-methylthiomethyl cysteine-4-oxide and S-S-methylthiomethyl cysteine di isolasi dari buahnya dengan level yang setara seperti isolasi MCSO pada Brassica sp. (Kubota et al. 1998 dalam Jones et al. 2004). Senyawa tersebut dapat dipisahkan
menggunakan broccoli cysteine sulphoxide lyase (C-S lyase) yang kemudian akan menghasilkan senyawa piruvat dan sulfur yang mudah menguap dan beraroma bawang putih (Gmelin et al. 1976 dalam Jones et al. 2004).
Pohon kulim biasanya berbunga pada bulan Januari - Juli dan berbuah hampir sepanjang tahun, di Semenanjung Malaysia dan di Borneo biasanya berbuah antara Juni - September. Buah kulim berbentuk bulat, besar dan berdaging, berbiji satu dengan ukuran diameter ± 5 cm diliputi oleh lapisan daging tipis yang berwarna hijau yang segera menjadi busuk. Bila buah jatuh di atas tanah akan terlihat bagian buah yang keras dan keriput/berurat. Sebelum disimpan biji harus dijemur selama 10 hari. Biji mempunyai daya kecambah kira-kira 80% dengan persen tumbuh sekitar 80% (Martawijaya et al. 1989). Heyne (1987) mengatakan bahwa S.borneensis mudah dikenali karena memberikan bau yang khas seperti bawang putih dari kulit dan buahnya.
Sifat kayu
Kayu kulim termasuk ke dalam kelas awet I – II dan kelas kuat I dengan berat jenis rata-rata 0,94 (0,73-1,08). Kayunya keras dengan nilai penyusutan dari keadaan basah sampai kering tanur sebesar 4,8% (radial) dan 5,7% (tangensial). Kayu kulim termasuk mudah dikerjakan dan tidak cepat menumpulkan gigi gergaji. Hasil serutan bervariasi tergantung kepada tingkat perpaduan serat, kayu yang mempunyai arah serat lurus dapat diserut sampai licin. Kayu kulim dapat dibor dengan halus. Kayunya agak mudah dikeringkan tetapi cenderung untuk pecah dalam arah radial. Kayu teras agak sulit diawetkan tetapi kayu gubal lebih mudah dimasuki bahan pengawet (Martawijaya 1977). Kulim menghasilkan kayu teras berbobot menengah sampai berat dengan kerapatan 645-1080 kg/m3 pada kadar air 15%, kayunya agak keras sampai keras dan bersifat agak tahan lama sampai tahan lama dan rata-rata pemakaiannya 4 tahun (Sosef et al. 1998).
Kayu teras kulim berwarna merah tua atau coklat kelabu, semu-semu lembayung, kayu gubal berwarna kekuning-kuningan atau kemerah-merahan, agak jelas dapat dibedakan dengan kayu teras. Tekstur kayu halus dan merata dengan arah serat lurus atau berpadu dan permukaan kayu licin (Martawijaya 1989). Kayu kulim mudah dikenali karena memberikan bau yang khas seperti bawang putih dari kulit dan buahnya. Pohon ini mempunyai kekhasan yaitu kulit yang lepas dari irisannya berwarna ungu, tebal, dari luar berwarna merah kecoklat-coklatan dan dapat lepas menjadi bagian yang kecil berbentuk lempeng segi empat (Heyne 1987).
Bahan pembentuk kayu kulim terdiri dari Selulosa (48.4%), Lignin (33.1%), Pentosan (16.4%), Abu (0.8%), dan Silika (0.1%). Kelarutan Alkohol-Benzena (1.5%), air dingin (1.8%), air panas (2.5%), dan NaOH 1% (11.5%) (Martawijaya 1989).
Permudaan
Permudaan alam cukup banyak terdapat secara tersebar. Permudaan anakan menghendaki tempat agak terbuka. Permudaan buatan dapat dilakukan baik dengan anakan dari permudaan alam maupun dari persemaian. Biji ditanam di bawah naungan, langsung di lapangan atau disemaikan dahulu di persemaian sedalam kira-kira satu sentimeter di bawah permukaan tanah tanpa melakukan perlakuan pendahuluan (Martawijaya et al. 1989). Stum dapat dicabut dengan mudah (Bertham 2006).
Habitat dan Penyebaran
Heyne (1987) menyatakan bahwa kulim tumbuh di hutan tropis primer dan tersebar di bagian barat nusantara, tumbuh di dataran rendah dan bukit sampai ketinggian 300 mdpl, terutama pada daerah kering atau berpasir, tidak pernah hidup di rawa-rawa, tidak membentuk hutan murni, tetapi di hutan rimba tumbuh secara berkelompok. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rachmawati (1998) dan Ismail (2000) di daerah Riau, jenis tanah yang ditumbuhi kulim yaitu jenis tanah padzolik merah kuning yang terbagi dalam tiga struktur tanah yaitu lempung, lempung berpasir, dan lempung liat. Daerah penyebaran kulim meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Palembang, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Kegunaan
Kayu kulim digunakan sebagai tiang jembatan, umpak dalam tanah, balok tiang, dan papan pada bangunan perumahan, serta bagian untuk lunas perahu. Kayu kulim kurang baik digunakan sebagai bantalan rel karena jika terkena pengaruh matahari kayu akan sobek tetapi sifat ini dapat dihindari dengan membiarkannya terlebih dahulu sebelum dipakai (Heyne 1987). Menurut Martawijaya et al. (1989), kayu kulim banyak digunakan untuk tiang jembatan, bantalan rel, tiang listrik dan telepon, lunas perahu, dan bagian perumahan balok, tiang, papan, dan lantai. Kayu kulim juga digunakan sebagai tiang rumah pada masyarakat suku Sakai (Medi 1998).
Buah kulim dapat digunakan sebagai pengganti bawang putih pada masakan karena dapat memberikan aroma (bau) khas seperti bawang putih. Buah dan daun kulim digunakan sebagai bahan rempah-rempah pada masyarakat suku Sakai (Medi 1998). Bijinya setelah dipanggang dapat digunakan sebagai obat cacing (Heyne 1987). Daun mudanya dimakan sebagai sayuran di Sarawak. Ekstrak buahnya memperlihatkan aktivitas anti mikroba (Sosef et al. 1998). Buah dan kulit kayunya digunakan untuk penangkal racun antiaris (Antiaris toxicaria Leech). Burkil (1935) menyatakan buah kulim dapat dijadikan sebagai obat penangkal racun berbisa dan tempurung pada buah kulim dapat dijadikan sebagai kotak tembakau pada masyarakat tradisional.
Hasil skrening fitokimia terhadap 84 jenis tumbuhan di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa kayu kulim merupakan salah satu tumbuhan prospektif sebagai sumber saponin alami (Sudrajat et al. 1995). Senyawa bioaktif saponin ini telah dikenal sebagai salah satu bahan pestisida alami (Tjokronegoro et al. 1995). Berdasarkan hasil isolasi bahan bioaktif kulit batang kayu kulim sebagai larvasida
nyamuk, diketahui bahwa kandungan senyawa aktif ekstrak kulit batang kayu kulim terdiri dari saponin, steroid dan flavonoid.
Potensi
Berdasarkan penelitian Ismail (2000) diketahui terdapat 83 pohon, 29 tiang, 16 pancang dan 34 semai yang dapat ditemui di HPH PT. Rokan Permai Timber. Berdasarkan hasil ini dapat diperkirakan populasi kulim di Riau mulai dari diameter 20 cm ke atas yang ada di alam tinggal 195816 pohon. Untuk kelompok hutan Gelawan Kabupaten Kampar, potensi kayu kulim yang berdiameter 20 cm ke atas diperkirakan 189045 pohon (Heriyanto et al. 2001). Di Taman Nasional Tesso Nilo diketahui terdapat 9 pohon, 11 tiang, 10 pancang, dan 9 semai yang masih dapat dijumpai di hutan ini (Handayani 2010). Berdasarkan perkiraan jumlah populasi kulim ini dan masih berlangsungnya pemanfaatan kulim oleh masyarakat Riau dapat dipastikan bahwa populasi kulim akan semakin menurun.
Kriteria Kelangkaan
Saat ini banyak jenis tumbuhan yang belum menjadi prioritas pengelolaan padahal keberadaan beberapa jenis tumbuhan di alam sudah mencapai kondisi populasi yang mengkhawatirkan. Menentukan kriteria kelangkaan suatu jenis tumbuhan dapat mengacu pada kategori yang ditetapkan oleh suatu instansi terkait. Kategori Status konservasi IUCN Red List merupakan kategori yang digunakan oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature and
Natural Resources) dalam melakukan klasifikasi terhadap spesies-spesies
berbagai makhluk hidup yang terancam kepunahan. Berdasarkan kriteria IUCN tahun 2008 spesies diklasifikasikan ke dalam kelompok yang diatur berdasarkan kriteria-kriteria seperti jumlah populasi, penyebaran geografi dan risiko dari kepunahan (IUCN 2011).
Suatu jenis dikatakan punah jika diketahui bahwa individu terakhir dari jenis tersebut sudah mati. Jika beberapa individu suatu jenis diketahui masih berada di tempat penangkaran atau di luar habitat mereka maka dikatakan bahwa jenis tersebut punah di alam. Kulim diketahui masih terdapat di alam namun belum diketahui status konservasinya. Menurut IUCN status konservasi kulim adalah “not evaluated”, berdasarkan penelitian Ismail (2000) status kulim di Riau adalah kritis, menurut Mogea et al. (2001) kulim termasuk jenis tumbuhan langka Indonesia.