• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... vi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... vi"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Daftar Isi ... i Daftar Tabel ... v Daftar Gambar ... vi

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Maksud dan Tujuan ... I-2 1.3. Lingkup Pekerjaan ... I-3

1.3.1 Komponen Air Minum……… I-3 1.3.2 Komponen Air

Limbah...……… ... I-4 1.3.3 Drainase

………... I-6 1.3.4 Persampahan ………... I-7 1.3.5 Pengumpulan Data, Peta dan Pengukuran ... I-7 1.4. Sistematika Pelaporan ... I-9 2. Gambaran Umum Wilayah Studi

2.1. Umum ... II-1 2.1.1 Kondisi Geografis ... II-1 2.1.2 Kondisi Fisik ... II-2 2.1.3 Jumlah Penduduk ……… ... II-2 3. Skenario Pengembangan Kota

3.1. Kebijaksanaaan Pembangunan ... III-1 3.2. Pembagian Wilayah ... III-1 3.3. Rencana Umum Tata Ruang ... III-2 3.4. Kondisi Fisik ... III-4

3.4.1. Letak Geografis ... III-4 3.4.2. Topografi ... III-4 3.5. Kependudukan ... III-4 3.6. Rencana Penataan Kawasan Permukiman ... III-5 3.6.1. Rencana Penyebaran Dan Kepadatan Penduduk ... III-7 3.6.2. Arahan Pemanfaatan Ruang ... III-7 3.7. Rencana Sarana Kota ... III-8 4. Sistem Penyediaan Air MInum

4.1. Umum ... IV-1 4.1.1. Kecamatan Seunagan , Seunagan Timur (IKK Jeuram ... IV-2 4.1.2. Kecamatan Kuala Makmur (IKK Simpang Peut) ... IV-6 4.2. Kebutuhan Air ... IV-9

4.2.1. Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala ... IV-13 4.3. Rancangan Air Minum ... IV-23 4.3.1 Sistem Penyediaan Air Minum ... IV-27 4.3.2 Rancangan Sistem Air Minum Kecamatan Seuangan,

(2)

Seuangan Timur dan Kuala ... IV-29 5. Persampahan

5.1. Kondisi Eksisting ... V-1 5.1.1. Sebelum Bencana... V-1 5.1.2. Setelah Bencana ... V-8 5.1.3. Sistem Pengelolaan Persampahan Kota... V-8 5.1.4. Sistem Pengelolaan Persampahan Huntara ... V-8 5.2. Kriteria Perencanaan ... V-13

5.2.1. Aspek Organisasi Dan Manajemen ... V-13 5.2.2. Teknis Operasional ... V-14 5.3. Timbulan Sampah Kabupaten Nagan Raya ... V-21

5.3.1 Proyeksi Timbulan Sampah . ... V-21 5.3.2. Kebutuhan Peralatan ... V-23 6. Air Limbah

6.1. Umum ... VI-1 6.2. Kondisi Eksisting... VI-2

6.2.1. Kecamatan Darul Makmur... VI-2 6.2.2. Kecamatan Kuala ... VI-3 6.2.3. Kecamatan Seunagan... VI-4 6.2.3. Kecamatan Seunagan Timur... VI-5 6.3. Kriteria Perencanaan ... VI-6 6.3.1 Perhitungan Rancangan Rinci Bak Anaerob … ... VI-6 6.3.2. Perhitungan Sistem... VI-7 6.3.3. Perhitungan Rancangan Rinci Bak Fakultatif ... VI-7 6.3.4. Perhitungan Sistem... VI-8 6.3.5. Perhitungan Rancangan Rinci Bak Maturasi... VI-9 6.4. Rencana Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah ... VI-11 6.5. Rencana Pengembangan ... VI-13

6.5.1. Kecamatan Darul Makmur... VI-13 6.5.2. Kecamatan Kuala ... VI-15 6.5.3. Kecamatan Seunagan... VI-17 6.5.4. Kecamatan Seunagan Timur ... VI-20 7. Draninase

7.1. Daerah Perencanaan .. ... VI-1 7.2. Gambaran Umum dan Kondisi yang Ada ... VI-1 7.2.1. Pelayanan Sistem Prasarana yang Ada ... VI-1 7.2.2. Sungai ... VI-1 7.2.3. Drainase Primer / Utama... VI-2 7.2.4. Drainase Sekunder / Lokal ... VI-4 7.2.5. Daerah Genangan ... VI-4 7.3. Perhitungan Hidrologi dan Simulasi Curah Hujan ... VI-5

7.3.1 Umum ... VI-6 7.3.2 Periode Ulang Curah Hujan maksimum ... VI-7 7.3.3 Kurva Intensitas Durasi ... VI-7 7.3.4 Perhitungan Debit Rencana ... VI-8 7.4. Daerah Aliran Sungai ... VI-9

(3)

6.4.1 Simulasi Drainase ... VI-9 7.5. Rencana Pengembangan Sistem Drainase ... VI-9 7.5.1 Rencana Sistem Drainase ... VI-9 7.5.1.Jadwal dan Prioritas Penanganan ... VI-9 8. Rencana Anggaran Biaya

8.1. Sistem Penyediaan Air Minum .. ... VIII-1 8.1.1 Harga Satuan ... VIII-1 8.1.2 Biaya Perangkat Lunak ... VIII-1 8.1.3 Sumber Dana ... VIII-1 8.1.4 Kontigensi ... VIII-1 8.2. Prakiraan Biaya Investasi Sistem Penyediaan Air Minum ... VIII-2 8.3. Prakiraan Biaya Investasi Persampahan ... VIII-5 8.4. Prakiraan Biaya Investasi Sistem Air Limbah ... VIII-7 8.5. Prakiraan Biaya Investasi Sistem Drainase ... VIII-9 9. Institusi Kelembagaan

9.1. Air Bersih ... IX-1 9.1.1. Kondisi eksisting Kelembagaan dan Analisa Permasalahan

Pengelola Air Minum Kabupaten Nagan Raya... IX-1 9.2. Air Limbah ... IX-3

9.2.1. Kelembagaan Air Limbah Kabupaten Nagan Raya... IX-3 9.3. Persampahan ... IX-5

9.3.1. Kelembagaan Persampahan Kabupaten Nagan Raya ... IX-5 10. Analisa Keuangan

10.1. Gambaran Umum ... X-1

10.2. Badan Pengelola Air Minum ( BPAM ) ... X-3

10.2.1. Struktur Organisasi dan jumlah karyawan Badan Pengelola Air Minum ... X-3 10.2.2. Produksi dan distribusi air ... X-3 10.2.3. Wilayah pelayanan dan jumlah pelanggan ... X-4 10.2.4. Permasalahan ... X-4 10.2.5. Rencana Investasi ... X-5 10.2.6. Proyeksi Pendapatan dan Biaya ... X-8

10.3. Pengelolaan Kebersihan Kota ... X-9

10.3.1. Organisasi kerja dan daerah pelayanan ... X-9 10.3.2. Prasarana penunjang kebersihan ... X-9

(4)

DAFTAR TABEL

Table 2.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Di Kabupaten Nagan RayaPra Bencana Gempa Tsunami Tahun 2004 ... II-2 Tabel 4.1. Proyeksi Penduduk Kec. Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala IV-13 Table 4.2. Rencana Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non Perpipaan

di Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala tahun 2011 dan 2026 ... IV-15 Tabel 4.3. Proyeksi Kebutuhan Air di Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala ... IV-22 Table 4.4. Komponen Sistem Pelayanan Air Minum Kec Seuangan, Seuangan

Timur dan Kuala

Kabupaten Nagan Raya ... IV-33 Tabel 5.1. Jenis, Jumlah dan lokasi penempatan Peralatan Pengelolaan

Persampahan

Kota Jeuram Pra Bencana ... V-6 Table 5.2. Lokasi dan Jumlah Unit Huntara di Kabupaten Nagan Raya ... V-10 Table 5.3. Proyeksi Timbulan Sampah dan Kebutuhan Peralatan Kec. Seunangan

Timur ... V-26 Table 5.4. Proyeksi Timbulan Sampah dan Kebutuhan Peralatan Kec. Seunangan

... V-27 Table 5.5. Proyeksi Timbulan Sampah dan Kebutuhan Peralatan Kec. Kuala V-28 Table 5.6. Proyeksi Timbulan Sampah dan Kebutuhan Peralatan Kec. Darul

Makmur ... V-29 Table 6.1. Asumsi parameter air limbah pada bak Anaerob ... VI-5 Table 6.2. Asumsi parameter air limbah pada bak fakultatif ... VI-8 Table 6.3. Asumsi parameter air limbah pada bak maturasi ... VI-9 Table 6.4. Proyeksi Timbulan Tinja dan Kebutuhan IPLT Kec. Darul Makmur VI-14 Table 6.5. Proyeksi Timbulan Tinja dan Kebutuhan IPLT Kec. Kuala ... VI-16 Table 6.6. Proyeksi Timbulan Tinja dan Kebutuhan IPLT Kec. Seunagan ... VI-18 Table 6.7. Proyeksi Timbulan Tinja dan Kebutuhan IPLT Kec. Seunangan Timur...

...VI-20 Table 7.1. Daerah Genangan ... VII-5 Table 7.2. Jadwal Penanganan Pekerjaan Drainase ... VII-10 Tabel 8.1. Rekap Rencana Anggaran Biaya Sistem Air Minum Kabupaten Nagan

Raya ... VIII-3 Tabel 8.2. Prakiraan Biaya Sistem Kecamatan Senangan, Suenangan Timur

(Jeuram) dan Kuala Kabupaten Nagan Raya ... VIII-4 Tabel 8.3. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Kabupaten Nagan Raya VIII-6 Tabel 8.4. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Air Limbah Kabupaten Nagan

(5)

Tabel 8.5. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Air Limbah Kabupaten Nagan Raya ... VIII-10 Table 9.1. Personil BPAB Kab.Nagan Raya ... IX-2 Table 9.2. Rencana Peralatan Kantor dan Alat Mobilitas Kerja ... IX-3 Table 9.3. Usulan rencana kegiatan ... IX-10

Table 10.1. Luaswilayah dan jumlah penduduk Kabupaten Nagan Raya ... X-1

Table 10.2. Realisasi APBD Kabupaten Nagan Raya ... X-2 Table 10.3. Prasarana Penunjang Kebersihan ... X-9

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Peta Administrasi Kabupaten Nagan Raya ... II-3 Gambar 3.1. Lokasi Kecamatan di Kabupaten Nagan Raya ... III-2 Gambar 3.2. Zonasi Peruntukan Lahan ………. ... III-3 Gambar 3.3. Skematik Pendekatan Pengembangan Kota ... III-5 Gambar 4.1. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum Kecamatan Seunagan

(IKK Jeuram) ... IV-5

Gambar 4.2. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum Kuala (IKK

Simpang Peut)... IV-8

Gambar 4.3. Proyeksi Pelayanan Air Minum , Jumlah SR , HU Pertahun

Kec. Seunagan Timur Sampai Tahun 2026 ... IV-17 Gambar 4.4. Proyeksi Pelayanan Air Minum , Jumlah SR , HU Pertahun

Kec. Seunagan Sampai Tahun 2026 ... IV-18 Gambar 4.5 Proyeksi Pelayanan Air Minum , Jumlah SR , HU Pertahun

Kec. Kuala Sampai Tahun 2026 .. ... IV-18

Gambar 4.6 Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Seunagan Timur

Sampai Tahun 2026 .. ... IV-19

Gambar 4.7 Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Seunagan Sampai

Tahun 2026 .. ... IV-19 Gambar 4.8 Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Kuala Sampai Tahun

2026 ... IV-20

Gambar 4.9 Proyeksi Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Seunagan

Timur Sampai Tahun 2026 .. ... IV-20 Gambar 4.10 Proyeksi Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Seunagan

Sampai Tahun 2026 .. ... IV-21

Gambar 4.11 Proyeksi Proyeksi Pelanggan Air Minum Kec. Seunagan

Sampai Tahun 2026 .. ... IV-21

Gambar 4.12. Sumur Dangkal ………... IV-28 Gambar 4.13. Rancangan Sistem Penyediaan Air Minum Kec Seuangan,

Seuangan Timur dan Kuala Kabupaten Nagan Raya ... IV-34 Gambar 4.14. Skematik Rancangan Sistem Penyediaan Air Minum Kec

Seuangan, Seuangan Timur dan Kuala Kabupaten Nagan

Raya ... IV-35 Gambar 5.1. Bagan Susunan Organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

Nagan Raya ... V-3

Gambar 5.2. Daerah pelayanan sistem pengelolaan persampahan Kabupaten Nagan Raya ... V-4 Gambar 5.3. Proyeksi Orientasi Letak TPA Muko-Muko Kabupaten Nagan

Raya ... V-6

Gambar 5.4. Lokasi huntara di Kabupaten Nagan Raya ... V-12 Gambar 5.5. Proyeksi Timbulan Sampah Kec. Seunangan Timur ... V-21 Gambar 5.6. Proyeksi Timbulan Sampah Kec. Senangan ... V-22

(7)

Gambar 5.7. Proyeksi Timbulan Sampah Kec. Kuala ... V-22 Gambar 5.8. Proyeksi Timbulan Sampah Kec. Darul Makmur ... V-23 Gambar 5.9. Proyeksi Kebutuhan Peralatan Kec. Seunangan Timur ... V-23 Gambar 5.10. Proyeksi Kebutuhan Peralatan Kec. Senangan ... V-24 Gambar 5.11. Proyeksi Kebutuhan Peralatan Kec. Kuala ... V-24 Gambar 5.12. Proyeksi Kebutuhan Peralatan Kec. Darul Makmur ... V-25 Gambar 5.13. Lokasi TPA Kec. Kabupaten Nagan Raya ... V-30 Gambar 6.1. Alternatif disedot dengan mobil tinja ... VI-11 Gambar 6.2. Septik Tank Komunal ... VI-12 Gambar 6.3. Proyeksi Limbah Kec. Darul Makmur dan Rencana

Penanganannya ... VI-13 Gambar 6.4. Proyeksi Limbah Kec. Kuala dan Rencana Penanganannya .... VI-15 Gambar 6.5. Proyeksi Limbah Kec. Senagan dan Rencana Penanganannya VI-17 Gambar 6.6. Proyeksi Limbah Kec. Senagan Timur dan Rencana

Penanganannya ... VI-19 Gambar 7.1. Peta Administrasi Kabupaten Nagan Raya . ... VII-2 Gambar 7.2. Peta Saluran Drainase Primer, Suka Makmur ... VII-3

Gambar 7.3. Kondisi Eksisting Drainase Kab.Nagan Raya ... VII-3

Gambar 7.4. Daerah Genangan Kab.Nagan Raya... VII-4 Gambar 9.1. Struktur organisasi Kantor Kebersihan, Lingkungan Hidup dan

Pemadam Kebakaran Kabupaten Nagan Raya ... IX-6 Gambar 10.1 Grafik PDRB di Kabupaten Nagan Raya ... IX-2

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Agar dapat memenuhi kebutuhan riil masyarakat, untuk masing-masing Kota/Kabupeten perlu dilakukan terlebih dahulu Outline Plan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan. Penyusunan Outline Plan dan DED ini sifatnya sangat mendesak, sehingga proses penyusunannya diharapkan lebih pendek dari penyusunan studi serupa pada kondisi-kondisi normal. Outline Plan akan menggambarkan bahwa perlu sekali adanya proyek pengembangan sistem sarana dan prasarana perkotaan di Kabupaten Nagan Raya yang dikaitkan dengan kebutuhan masa mendatang. Rencana yang sifatnya strategis ini akan mempelajari, menganalisa dan membandingkan beberapa pilihan sistem yang dapat dilaksanakan. Pilihan sistem akan didasarkan kepada berbagai pertimbangan teknis, sosial dan ekonomis serta aspek lingkungan, yang nantinya akan dilaksanakan oleh PDAM dan Dinas Prasarana Wilayah, Dinas Pekerjaan Umum atau Dinas Kebersihan terkait dengan pekerjaan air minum, air limbah, drainase dan persampahan di wilayah Kabupaten Nagan Raya.

Outline Plan ini akan didasarkan kepada tata guna lahan yang ada serta rencana tata ruang wilayah yang tersedia. Ketersediaan prasarana air minum, air limbah, drainase dan persampahan untuk Kabupaten Nagan Raya diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan baik untuk keperluan domestik dan non-domestik untuk jangka waktu 20 tahun mendatang. Outline Plan akan menyajikan kondisi sistem yang ada dan kebutuhan mendatang yang meliputi komponen air minum, air limbah, drainase dan persampahan.

Tahapan selanjutnya dari Outline Plan ini adalah dengan melakukan perencanaan teknis (DED) dari berbagai program terpilih Outline Plan untuk pemenuhan kebutuhan sampai dengan tahun 2011. Penyusunan DED ini

(9)

diharapkan dapat menjadi pemicu bagi implementasi keseluruhan program sistem air minum, air limbah, drainase dan persampahan di Kabupaten Nagan Raya.

1.2. Maksud Dan Tujuan

Penyusunan Outline Plan & DED ini dimaksudkan untuk menyusun program-program penanganan permasalahan komponen air minum, air limbah, drainase dan persampahan pasca gempa bumi dan tsunami di NAD. Program penanganan 4 komponen tersebut akan meliputi pemenuhan kebutuhan penduduk hingga tahun 2026. Untuk itu beberapa tujuan penyusunan studi Outline Plan & DED yang perlu dicapai adalah sebagai berikut :

• Mengevaluasi kinerja eksisting sistem penyediaan air minum, air limbah, drainase dan persampahan.

• Mengidentifikasi berbagai permasalahan dan kendala untuk ke 4 komponen tersebut.

• Melakukan evaluasi dan analisa tata guna lahan dan rencana pembangunan perkotaan yang ada dalam RTRW Kabupaten Nagan Raya

• Menganalisa kebutuhan air minum untuk kegiatan domestik dan non domestik sampai tahun 2026 berdasarkan antisipasi pertumbuhan dan trend saat ini serta pola konsumsi air minum.

• Menganalisa volume air limbah dan perhitungan saluran air limbah paling tidak untuk 20 tahun mendatang.

• Mengidentifikasi dan mengevaluasi ketersediaan sumber-sumber air baku dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi dan konservasi eksploitasi.

• Mengidentifikasi sistem pengolahan air limbah yang paling tepat

dengan jenis buangan air limbah yang ada.

• Mengevaluasi kinerja eksisting sistem Drainase, dan sistem pengelolaan persampahan yang ada saat ini.

• Mengidentifikasi berbagai permasalahan dan kendala pengelolaan persampahan dan Drainase.

(10)

• Menganalisa curah hujan dan perhitungan dimensi saluran drainase untuk periode ulang 20 tahun.

• Menyusun program rehabilitasi dan rekonstruksi sistem air minum, air limbah, drainase dan sistem pengelolaan persampahan pasca gempa bumi dan tsunami jangka pendek dan jangka panjang.

• Penyusunan DED untuk komponen air minum, a i r limbah, drainase dan pengelolaan persampahan berdasarkan kepada hasil analisa Outline Plan yang ada dan penetapannya berdasarkan hasil evaluasi dengan BRR dan instansi terkait lainnya yang berhubungan dengan kegiatan tersebut diatas.

1.3. Lingkup Pekerjaan 1.3.1. Komponen Air Minum

A. Outline Plan s/d 2026 :

1. Mengevaluasi kinerja ekisting sistem baik unit produksi, jaringan perpipaan, transimsi dan distribusi serta sambungan rumah yang dikelola oleh PDAM.

2. Melakukan review berbagai literatur dan studi terkait yang mempelajari perhitungan kebutuhan air minum serta teknik pendekatannya.

3. Mengevaluasi kebutuhan air minum 2026 berdasarkan penyebaran populasi dan kegiatan perkotaan.

4. Memperkiraan jumlah populasi penduduk hingga tahun 2026 untuk menghitung kebutuhan air domestik dan non-domestik

5. Mencari potensi sumber air baku untuk pasokan penyediaan air minum di Kabupaten Nagan Raya serta mencari kemungkinan pengembangan sumber air baku tersebut secara regional

6. Mengevaluasi kebutuhan SDM, baik ratio personil, kualifikasi, serta program pelatihan dan training.

7. Estimasi kebutuhan anggaran untuk investasi, serta operasi dan pemeliharaan.

8. Membuat rencana investasi yang didasarkan atas prioritas pekerjaan dan sumber dana investasi.

(11)

9. Mengembangkan sistim kemitraan dengan masyarakat dimulai dari perencanaan sesuai dengan tahap operasional.

10. Penetapan sumber air baku

11. Penetapan Jenis pengolahan air yang diperlukan 12. Penetapan jalur pipa transmisi

13. Penetapan jaringan distribusi

14. Penetapan lokasi dan dimensi Reservoir.

B. Detail Engineering Design atau Perencanaan Rinci s/d 2011:

1. DED untuk unit sistem air minum terpilih bisa berupa Intake, IPA, Transmisi, Distribusi, Reservoir, standard sambungan baru dan

thrust blok dll yang diperlukan

2. Design Notes untuk sistem terpilih

3. Pengukuran topografi, sondir dan lainnya untuk seluruh komponen 4. Penyusun gambar perancang untuk seluruh unit sistem air minum 5. Rencana anggaran biaya

6. Penyusun Dokumen Tender.

Ada 14 (empat belas) tahap lingkup pekerjaan outline plan air minum yang akan dilakukan sesuai KAK agar tercapai penyusunan outline plan yang dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan di lokasi proyek air minum. Kegiatan 1 dan 2 untuk mengidentifikasi kondisi eksisting, kegiatan 3 s/d 14 untuk mengidentifikasi secara tepat kebutuhan untuk komponen air minum melalui perhitungan, analisa dan pengamatan lapangan baik berupa data-data primer baik data teknik, keuangan dan SDM untuk menghasil perencanaan SPAM yang baik.

Dari program outline plan ini, maka dilakukan perencanaan rinci untuk sampai tahun 2011 sehingga siap diimplementasikan / di tenderkan.

1.3.2. Komponen Air Limbah A. Outline Plan s/d 2026 :

1. Menganalisa sistem penanganan air limbah eksisting baik sistem on site

(12)

2. Analisa terhadap volume air limbah dari masing-masing rumah tangga dan menetapkan besarnya volume air limbah untuk perhitungan perencanaan saluran air limbah.

3. Membuat alternatif penanganan air limbah berupa tahapan pelaksanaan

pembangunan saluran baik untuk off site maupun on site dengan

mempertimbangkan suistanalbility operasional jangka panjang.

4. Penetapan jalur saluran air limbah dan jenis / lokasi pengolahan air limbah.

B. Detail Engineering Design atau Perencanaan Rinci s/d 2011 : 1. Perhitungan dimensi saluran air limbah dan penetapan bentuk saluran. 2. Perhitungan jenis dan dimensi pengolahan air limbah .

3. Penyusunan gambar perencanaan saluran air limbah, instalasi

pengolahan air limbah, sambungan rumah, bak control dan interkoneksi dengan saluran drainase untuk penggelontoran air limbah, baik untuk

bangunan / saluran yang bersifat rehabilitasi maupun

pembangunan saluran / istalasi baru.

4. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya pembangunan untuk seluruh unit penanganan air limbah.

5. Penyusunan dokumen lelang untuk seluruh pekerjaan komponen penanganan air limbah.

Pada tahap awal konsultan melakukan kegiatan pendataan dan permasalahan serta menganalisa informasi tentang sistem penanganan air limbah eksisting baik

sistem on site maupun off site, sehingga dapat disusun daftar dan rekomendasi

Prasarana dan Sarana Air Limbah sistem Perkotaan atau Perdesaan di lokasi yang harus diperbaiki atau dibangun.

Selanjutnya, dilakukan penyusunan Detail Engineering Design sebagai Dokumen Tender Pembangunan / Perbaikan Prasarana dan Sarana Air Limbah Perkotaan

(13)

1.3.3. Drainase

A. Outline Plan s/d 2026 :

1. Menganalisa sistem Drainase eksisting berupa dimensi saluran drainase, tingkat kerusakan dan saluran drainase yang tersumbat.

2. Analisa curah hujan

3. Menetapkan besarnya daerah tangkapan air hujan, run off area dan

4. Menetapkan dimensi saluran drainase untuk perioda ulang 10 tahun.

5. Penetapan alternatif saluran primer dan sekunder dengan

mempertimbangkan integrasi dengan perencanaan saluran air limbah. Saluran drainase primer dan sekunder terpilih mempertimbangkan kedalaman saluran induk penerima limpasan air hujan.

B. Detail Engineering Design atau Perencanaan Rinci s/d 2011 : 1. Perhitungan dirnensi saluran baik primer maupun sekunder 2. Penetapan bentuk saluran primer dan sekunder

3. Penyusunan gambar perencanaan ( gambar tender ) saluran drainase

berupa saluran primer, sekunder, street inlet, gorong -gorong dan

lainnya sesuai kebutuhan .

4. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya untuk rehabilitasi dan pembangunan saluran drainase.

5. Penyiapan dokumen tender untuk pekerjaan rehabilitasi dan perencanaan saluran drainase.

Pada tahap penyusunan outline plan, secara umum permasalahan pasca bencana adalah bertambahnya luasan wilayah kota yang masih tergenang air khususnya di dataran rendah, saluran-saluran drainase kota hampir seluruhnya tidak berfungsi akibat tertutup pasir, lumpur, dan puing-puing bangunan. Selain itu, ada kemungkinan struktur jaringan drainase kota tidak dapat difungsikan kembali. Langkah yang akan dilakukan adalah sebagaimana tertera dalam item 1 s/d 5 pada KAK tersebut diatas, dengan mengutamakan keterpaduan pembangunan sarana drainase kota dengan prasarana pengendali banjir lainnya. Selanjutnya dilakukan langkah 1 s/d 5 sebagaimana tersebut dalam sub penyusunan DED drainase di atas.

(14)

1.3.4. Persampahan

1. Review kondisi eksisting sistem persampahan di masing-masing wilayah proyek sebelum dan sesudah bencana Tsunami. Identifikasi permasalahan dan kebutuhan di subsektor persampahan Menyiapkan alternatif penyelesaian permasalahan persampahan. Koordinasi dengan berbagai instansi terkait.

2. Evaluasi terhadap TPA eksisting dan atau melakukan pemilihan lokasi TPA baru, dan kemungkinan pemanfaatan TPA regional.

3. Menyusun UKL dan UPL TPA eksisting dan atau lokasi TPA baru.

4. Menyusun rencana strategis penanganan sampah yang dituangkan dalam Outline Plan untuk 15 tahun kedepan.

5. Melakukan perencanaan teknis tahap-1 (mendesak) untuk sistem pengumpulan, pengangkutan, pemindahan, dan Tempat Pembuangan Akhir (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu termasuk penanganan 3R dan pembuatan kompos, serta menyusun standar prosedur operasinya (SOP).

6. Menyusun Rencana Anggaran Biaya dan Dokumen Tender.

7. Menyusun Rencana Kegiatan dan Rencana Tindak (Action Plan) program pengembangan pengelolaan persampahan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Tersusunnya outline plan program pengelolaan sampah untuk jangka pendek / mendesak dan jangka menengah sesuai kemampuan teknis dan ekonomi dari pengelolaan dan masyarakat penghasil sampah. Langkah-langkah pembuatan outline plan dalam KAK sudah jelas dan tersistematis.

1.3.5. Pengumpulan Data, Peta dan Pengukuran A. Pengumpulan Data dan Peta

1. Data kependudukan, sosial dan ekonomi terutama di daerah studi dan sekitarnya yang berpengaruh terhadap dampak pada keempat komponen.

2. Data dan Peta Tata Ruang Kota dan Tata Guna Lahan.

3. Inventory data-data perencanaan terdahulu yaitu jaringan pipa air minum dan air limbah kota pada daerah studi dan termasuk daerah

(15)

pelayanan, sistem saluran drainase yang ada serta sistem pengelolaan persampahan.

B. Metode Pengukuran

1. Secara garis besar, pengukuran dan pemetaan situasi meliputi

pemasangan patok beton BM & CP, kontrol horizontal dan vertikal,

pengukuran situasi detail dan pengukuran/pengamatan pasang surut. 2. Semua data penting yang digunakan untuk menentukan koordinat

Bench Mark diperoleh dengan cara pengukuran langsung di lapangan.

3. Semua alat ukur (Theodolit, Waterpass) yang digunakan dalam

keadaan baik dan memenuhi syarat ketelitian yang diminta (dikalibrasi).

4. Sebelum pekerjaan dimulai, konsultan menyerahkan program kerja yang berisi jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan, daftar personil, daftar peralatan dan rencana keberangkatan untuk dibahas bersama dengan Direksi.

5. Pelaksanaan pekerjaan disesuaikan dengan program kerja dan waktu pelaksanaan sesuai dengan jangka waktu yang telah direncanakan.

C. Pengukuran Situasi

1. Situasi diukur berdasarkan jaringan kerangka horizontal dan vertikal yang telah dipasang dengan melakukan pengukuran keliling serta pengukuran didalam daerah survey. Bila perlu jalur poligon dapat ditarik lagi dari kerangka utama dan cabang untuk mengisi detail planimetris. Karena pekerjaan ini lebih dominan berada dalam wilayah perkotaan dan pemukiman penduduk, pengambilan titik - titik

situasi (spot height) juga perlu disesuaikan dengan kondisi

lapangan dan kebutuhan untuk kelengkapan data perencanaan. 2. Semua legenda lapangan ditampilkan, terutama :

3. Seluruh jalur jaringan pipa distribusi, saluran drainase. 4. Seluruh jalan yang melingkupi areal studi.

5. Batas kampung, rumah - rumah, jembatan,tower telepon, tower listrik.

(16)

6. Batas tata guna lahan (misalnya pemukiman penduduk, areal perkantoran, pusat kota, daerah resapan, belukar berupa rerumputan dan alang-alang, sawah, rawa, ladang, kampung, kebun, dan Iain-Iain).

7. Tiap detail topografi setempat (seperti misalnya tanggul curam, bukit kecil dan Iain-Iain).

8. Batas pemerintahan ( Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa dan Iain-lain). Nama kampung, kecamatan, nama jalan dan lain-lain yang dianggap diperlukan.

9. Untuk pengumpulan data dan peta, perlu ditambahkan lagi dengan data kualitatif tentang kondisi air tanah baik dari survei lapangan maupun data geologi. Data lainnya yang disebutkan dalan KAK sudah standar untuk pembuatan outline plan dan DED.

10. Di dalam metode pengukuran disebutkan bahwa sebelum pekerjaan dimulai, konsultan menyerahkan program kerja yang berisi jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan, daftar personil, daftar peralatan dan rencana keberangkatan untuk dibahas bersama dengan Direksi. Mengingat waktu pelaksanaan relatif singkat, maka perlu ditetapkan bahwa yang dimaksud direksi dalam hal ini adalah wakil pemberi tugas yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Dalam penulisan tata guna lahan, mengingat studi ini bukan studi tata ruang maka kami usulkan agar pembuatan peta tidak terfokus pada tata guna lahan, daerah resapan, belukar berupa rerumputan dan alang-alang, sawah, rawa, ladang, kampung, kebun, dan lain-Iain.

1.4. Sistematika Pelaporan

Laporan Draft Final ini disusun untuk memenuhi salah satu kewajiban Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut di atas.

(17)

Bab I : Pendahuluan

Uraian pada Bab ini mencakup latar belakang, maksud tujuan, sasaran, lingkup kegiatan dan sistematika usulan penulisan laporan.

Bab II : Skenario Pembangunan Kota

Bab ini menguraikan mengenai skenario pembangunan di Kabupaten Nagan Raya.

Bab III : Sistem Penyediaan Air Minum

Pada bab ini akan dideskripsikan kondisi eksisting, kriteria dan rekomendasi perencanaan, rancangan teknik maupun institusi, rencana anggaran biaya dan jadual pelaksanaan pekerjaan sektor air minum.

Bab IV : Sanitasi dan Limbah

Uraian bab ini akan berisikan kondisi eksisting, kriteria dan rekomendasi perencanaan, rancangan teknik maupun institusi, rencana anggaran biaya dan jadual pelaksanaan pekerjaan sektor sanitasi dan limbah.

Bab V : Persampahan

Pada bab ini akan dideskripsikan kondisi eksisting, kriteria dan rekomendasi perencanaan, rancangan teknik maupun institusi, rencana anggaran biaya dan jadual pelaksanaan pekerjaan sektor persampahan.

Bab VI : Drainase

Uraian bab ini akan mendeskripsikan kondisi eksisting, kriteria dan rekomendasi perencanaan, rancangan teknik maupun institusi, rencana anggaran biaya dan jadual pelaksanaan pekerjaan sektor drainase.

Bab VII : Rencana Anggaran Biaya

Uraian bab ini akan diuraiakan biaya investasi dari masing-masing sektor yaitu air minum, air limbah, persapahan dan drainase.

Bab VIII : Analisa Keuangan

Uraian bab ini akan diuraiakan analisa keuangan dari biaya investasi dari masing-maisng sektor.

(18)

Bab IX : Institusi/Kelembagaan

Uraian bab ini akan diuraiakan reomendasi kelembagaan dari masing-masing sektor.

(19)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

2.1. UMUM

Dalam penyusunan Outline Plan Sistem Penyediaan Air Minum ini, daerah atau wilayah studi merupakan kesatuan wilayah yang mencakup seluruh aspek sistem penyediaan air minum dan pengembangannya. Wilayah ini meliputi wilayah pelayanan dan wilayah proyek, baik yang bersifat eksisting maupun rencana pengembangannya

2.1.1. Kondisi Geografis

Kabupaten Nagan Raya merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Aceh Barat, yang dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) Kabupaten berdasarkan UU.No.4 tahun 2002, tanggal 2 Juli 2002.

Secara geografis kabupaten nagan raya terletak pada lokasi 3o40’ – 4o38’ LU dan

96o11’ – 96o48; BT dengan luas wilayah 3.363,72 km2 ( 336.372 Ha ) Kabupaten

Beutong mempunyai luas wilayah terbesar dari lima kecamatan yang ada di kabupaten Nagan Raya, yaitu 1.323,06 Km2 atau sebesar 39,33 persen dari total luas wilayah kabupaten. Kemudian diikuti kecamatan Darul makmur dengan luas 1.050,26 km2 atau sebesar 31,22 persen dan kecamatan kuala 559,09 km2 atau sebesar 16,62 persen. Seangkan dua kecamatan lagi yaitu seunagan dan Seunagan Timur mempunyai Luas masing – masing kurang dari 10 persen luas kabupaten Nagan Raya.

Wilayah administrasi Kabupaten Nagan Raya terbagi menjadi 5 Kecamatan dan 222 desa ( tahun 2002 ). Kabupaten Nagan Raya dengan Ibu kota Suka Makmur memiliki luas wilayah 3.363,72 km2 terdiri dari 5 kecamatan yaitu :

1. Kec. Seunangan dengan luas wilayah 172,53 km2 (5,13%)

2. Kec.Seunagan Timur dengan luas wilayah 258,79 km2 (7,7%) 3. Kec.Beutong dengan luas wilayah 1323,06 km2 (16,62 %)

(20)

4. Kec.Kuala makmur dengan luas wilayah 1.050,2 km2 (31,32 %) 5. Kec.Suka Makmur dengan luas wilayah 1.050,2 km2 (31,32 %)

2.1.2. Kondisi Fisik A. Topografi

Pada umumnya kabupaten Nagan Raya merupakan tanah datar dan sebagian kecil merupakan lahan berbukit.

B. Hidrologi

Ada tiga sungai yang mengalir melalui Kabupaen Nagan Raya yaitu : Kruen Seunagan, Krueng Tadu dan Krueng Tripa dan beberapa sungai kecil diantaranya Krueng Pulkan, Krueng Lamie dan beberapa anak sungai. C. Geologi

Jenis tanah di kabupaten Nagan Raya umunya merupakan lempung engan sisipan pasir.

2.1.3. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Nagan Raya sebanyak 116.936 jiwa (Satkorlak Maret 2005) dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Darul Makmur sebesar 43.423 jiwa.

Tabel 2.1. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah

Kabupaten Nagan Raya Pra Bencana Gempa Tsunami Tahun 2004

No Kecmatan Jumlah Penduduk ( Jiwa ) Luas Wilayah ( Ha ) Keterangan 1 Kuala 31.303 55.908 2 Darul Makmur 43.423 105.026 3 Seunangan Timur 11.309 25.879

4 Seunagan 19.104 17.253 Termasuk Kota

Jeram

5 Beutong 11.797 132.306

Jumlah 116.936 336.372

(21)
(22)

BAB III

SKENARIO PENGEMBANGAN KOTA

3.1. Kebijaksanaan Pembangunan

Kebijaksanaan pembangunan terkait erat dengan rancangan infrastruktur yang pada dasarnya merupakan suatu rencana yang dibuat secara berkesinambungan dimana satu rancangan merupakan suatu dasar untuk rancangan yang lain sehingga :

• Ada suatu evaluasi dan perbaikan terhadap rancangan yang

sudah ada.

• Rancangan tidak tumpang tindih atau mengalami duplikasi.

• Arah pengembangan konsisten dengan hal hal yang sudah ada.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang no. 22 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang no 25. tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Daerah dan Pusat yang kesemuanya merupakan pelaksanaan dari Otonomi Daerah, maka basis kebijakan pembangunan terletak pada daerah otonomi. Beberapa urusan yang semula ditangani oleh pemerintah pusat, dengan diberlakukannya Undang-undang ini harus diserahkan kepada daerah. Khusus untuk bidang air minum, kebijaksanaannya penting untuk dikaitkan dengan PP 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Air Minum di Indonesia yang direncanakan akan diberlakukan sejak 1 Januari 2008.

3.2. Pembagian Wilayah

Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Nagan Raya dengan Ibu kota Suka Makmur memiliki luas wilayah 3.363,72 km2 terdiri dari 5 kecamatan yaitu :

1. Kec. Seunangan dengan luas wilayah 172,53 km2 ( 5,13% )

2. Kec.Seunagan Timur dengan luas wilayah 258,79 km2 ( 7,7% )

3. Kec.Beutong dengan luas wilayah 1323,06 km2 ( 16,62 % )

4. Kec.Kuala makmur dengan luas wilayah 1.050,2 km2 ( 31,32 % )

(23)

Untuk lebih jelasnya kecamatan-kecamatan tersebut dapat dilihat pada gambar

berikut:

Gambar 3.1. Lokasi Kecamatan di Kabupaten Nagan Raya

Kabupaten Nagan Raya merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Aceh Barat, yang dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) Kabupaten berdasarkan UU.No.4 tahun 2002, tanggal 2 Juli 2002.

3.3. Rencana Umum Tata Ruang

Pola pemanfaatan ruang kawasan sepanjang pantai Kabupaten Nagan Raya disesuaikan dengan karakteristik wilayah yang rawan bencana, meliputi zona zona sebagai berikut:

a. Zona A1 :

Zona ditepi muka air pasang berjarak minimal 100 meter dari pasang laut tertinggi dimanfaatkan untuk membangun fasilitas perlindungan (Buffer Zone) dengan hutan tanaman manggrove, waru laut dan tanaman penyangga lainnya sesuai karakteristik pantai.

(24)

b. Zona A2 :

Zona yang dicapai oleh gelombang tsunami dengan ketinggian > 1 meter DPL, dengan pemanfaatan ruang sebagai lahan budidaya perkebunan atau taman kota dengan tanaman penyangga yang dapat difungsikan sebagai Buffer Zone dengan bangunan terbatas dan kepadatan wilayah terbangun rendah (TPI, permukiman nelayan, dll) yang dilengkapi dengan disaster mitigation plan.

c. Zona B1 :

Zona transisi (zona antara) yang dicapai gelombang Tsunami < 1 meter DPL dengan zona aman, dengan pemanfaatan ruang untuk kegiatan jasa dan perdagangan serta permukiman kepadatan rendah sampai sedang.

d. Zona B2 :

Zona yang aman dari terpaan gelombang tsunami dengan pemanfaatan ruang sebagai pusat kegiatan bisnis (CBD), pelayanan sosial dan permukiman perkotaan dengan kepadatan tinggi, disesuaikan dengan kondisi daya dukung lahan setempat dan pemanfaatan ruang yang ada.

Untuk lebih jelasnya, zonasi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3.2. Zonasi Peruntukan Lahan

Sumber : Buku Rinci Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, Bappenas 2004

(25)

3.4. Kondisi Fisik 3.4.1. Letak Geografis

Secara geografis kabupaten Nagan Raya terletak pada lokasi 3o40’ – 4o38’ LU

dan 96o11’ – 96o48; BT dengan luas wilayah 3.363,72 km2 ( 336.372 Ha )

Kabupaten Beutong mempunyai luas wilayah terbesar dari lima kecamatan yang ada di kabupaten Nagan Raya, yaitu 1.323,06 Km2 atau sebesar 39,33 persen dari total luas wilayah kabupaten. Kemudian diikuti Kecamatan Darul Makmur dengan luas 1.050,26 km2 atau sebesar 31,22 persen dan kecamatan kuala 559,09 km2 atau sebesar 16,62 persen. Seadngkan dua kecamatan lagi yaitu Seunagan dan Seunagan Timur mempunyai luas masing – masing kurang dari 10 persen luas Kabupaten Nagan Raya.

3.4.2. Topografi

Pada umumnya kabupaten Nagan Raya merupakan tanah datar dan sebagian kecil merupakan lahan berbukit.

a. Kondisi Hidrologi

Ada tiga sungai yang mengalir melalui kabupaen Nagan Raya yaitu : Krueng Seunagan, Krueng Tadu dan Krueng Tripa dan beberapa sungai kecil diantaranya Krueng Pulkan, Krueng Lamie dan beberapa anak sungai.

b. Geologi

Jenis tanah di kabupaten Nagan Raya umunya merupakan lempung dengan sisipan pasir.

3.5. Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Nagan Raya sebanyak 116.936 jiwa ( Satkorlak Maret 2005 ) dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Darul Makmur sebesar 43.423 jiwa.

(26)

3.6. Rencana Penataan Kawasan Permukiman

Salah satu yang menjadi acuan di dalam skenario pengembangan kota dalam rangka Rehabilitasi / Rekonstruksi kawasan permukiman adalah perencanaan

partisipatif yang dimulai dari penataan skala lingkungan (area based) yang

mengacu kepada rencana tata ruang sebelum bencana, rencana rekonstruksi struktur kota, dan upaya-upaya peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman melalui penataan kembali (revitalisasi). Secara skematik pendekatan tersebut digambarkan seperti dibawah ini :

Gambar 3.3 : Skematik Pendekatan Pengembangan Kota

GRAND SKENARIO

Konsep Struktur (Conceptual Structure) Rekonstruksi Kota

Rekonstruksi Rencana Umum Tata Ruang Kota

Semua Tingkatan

Tingkat Kota

Skala Kota Skala Kawasan

(27)

3.6.1. Rencana Penyebaran Dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan berkaitan dengan rencana proyeksi perkembangan penduduk Kabupaten Nagan Raya tahun 2010, maka dengan menggunakan analisa regresi untuk perhitungan proyeksi dan penyebaran penduduk diperkirakan masih memiliki kecenderungan yang sama dengan kondisi penyebaran sebelum bencana tsunami. Arah penyebaran penduduk yang terjadi saat ini cenderung ke arah jalur utama yang menghubungkan Kota Meulaboh dengan Banda Aceh.

3.6.2. Arahan Pemanfaatan Ruang

Secara umum arahan pemanfaatan ruang yang dipilih untuk menjabarkan konsep penanganan penataan ruang pasca bencana di wilayah pesisir Kabupaten Nagan Raya adalah sebagai berikut:

9 Pusat-pusat pelayanan sosial dan ekonomi perlu dikembangkan

dengan memperhatikan wilayah rawan bencana, daya dukung lingkungan dan efisiensi pengembangan.

9 Pembangunan kembali pelabuhan nelayan (Tempat Pelelangan

Ikan/TPI) di Kuala Tuha dan Kuala Tadu.

9 Penataan kembali kawasan permukiman dengan konstruksi

bangunan tahan gempa dan tsunami, serta dilengkapi sarana prasarana untuk kepentingan mitigasi bencana.

9 Mengembangkan kawasan penyangga atau kawasan hijau berupa

hutan pantai di sepanjang pesisir pantai dengan ditanami tanaman kelapa dan cemara (disesuaikan dengan karakteristik tanahnya) dengan ketebalan 400 - 600 m, kerapatan 30 pohon per 100 m2, diameter pohon 15 cm, yang diperkirakan dapat meredam 50 % energi gelombang tsunami.

9 Lapangan Udara Cut Nya Dien tetap seperti yang ada dengan

membangun tanggul pengaman sepanjang lapangan udara, sehingga keamanan lapangan udara tetap terjaga dari bencana. Penataan kembali pusat-pusat kegiatan/permukiman lama di sepanjang pesisir.

(28)

9 Diperlukan system peringatan dini (Early Warning System) dan Disaster Management berbasis Rencana Tata Ruang.

Selanjutnya, arahan pemanfaatan ruang tersebut diterjemahkan pada rencana zonasi pemanfaatan ruang Kabupaten Nagan Raya dengan memeprtimbangkan wilayah rawan bencana. Zonasi pemanfaatan ruang Kabupaten Nagan Raya meliput :

1. Zona Pesisir (terdiri dari: Buffer Zone, Pertanian, dan Permukiman 2. Zona Hutan Lindung

3. Zona Hutan Produksi Tetap 4. Zona Permukiman

5. Zona Lahan Usaha, terdiri atas :

9 Perkebunan Besar

9 Perkebunan Rakyat

9 Lahan Basah

9 Tanaman Tahunan

3.7. Rencana Sarana Kota

Seluruh aktivitas kota termasuk sarananya diusahakan berlokasi dikawasan budidaya. Semua peruntukan merupakan konsekuensi logis dari kebutuhan ruang sampai dengan tahun 2026 dan merupakan perwujudan dari kecenderungan perkembangan kota dengan tetap berdasar pada kepentingan dan pemberdayaan masyarakat.

Konsep peruntukan lahan yang diterapkan adalah Flexible zoning, artinya dalam

bentuk ruang (spatial). Peruntukan yang dimaksud tidak bermaksud mutlak, dalam kondisi tertentu, pemasukan aktifitas lain terhadap kawasan yang telah ditetapkan masih diperbolehkan, terutama demi mencapai perwujudan penggunaan lahan yang intensif dan tingkat efisiensi yang tinggi dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan.

Peruntukan lahan kota direncanakan sedemikian rupa dalam suatu kesatuan sistem yang saling terkait, tapi dinamis untuk dikembangkan lebih lanjut atau diintegrasikan dengan lingkungan sekitarnya. Khusus untuk perumahan ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mengakomodasikan pertumbuhan yang

(29)

melompat-lompat (discontinue). Artinya akomodatif terhadap tahapan pelaksanaan dan perlu dicadangkan jauh melebihi rencana yang dibutuhkan.

(30)

BAB IV

SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

4.1. UMUM

Sebelum terjadi pemekaran wilayah menjadi Kab. Nagan Raya, sistem air bersih berada di bawah pengelolaan PDAM Kab. Aceh Barat. Namun sejak tahun 2002 pengelolaan air bersih telah diserahterimakan ke pihak Pemerintahan Kab. Nagan Raya. Saat ini Sistem Penyediaan Air Bersih masih dikelola oleh Dinas PU Kab. Nagan Raya. Badan Pengelola Air Minum/PDAM sebagai instansi yang berkompeten mengelola air bersih belum terbentuk.

Sistem instalasi yang ada di Kab. Nagan Raya sebanyak 3 (tiga) unit instalasi, yaitu : IKK Jeuram, IKK Simpang Peut dan IKK Alue Bili. Adapun kapasitas terpasang masing-masing unit instalasi adalah sebagai berikut :

− IKK Jeuram : 5 l/dt

− IKK Simpang Peut : 5 l/dt

− IKK Alue Bili : 5 l/dt

IKK Jeuram memiliki daerah pelayanan di Kota Jeuram sebagai ibukota kabupaten lama, yang terletak di Kec. Seunagan. IKK Simpang Peut dibangun untuk melayani kebutuhan air bersih di daerah Simpang Peut (Simpang 4) dan sekitarnya yang berada di Kec. Kuala. Sedangkan IKK Alue Bili dibangun guna melayani kebutuhan air bersih di Alue Bili yang berada di Kec. Darul Makmur. Ketika berada di bawah pengelolaan Pemerintahan Kab. Nagan Raya, semua instalasi tidak ada yang beroperasi. Penduduk memenuhi kebutuhan airnya secara mandiri melalui sumur dangkal ataupun dari sungai. IKK Jeuram tidak

(31)

beroperasi sejak tahun 2002 saat serah terima pemerintahan dari Kab. Aceh Barat. IKK Simpang Peut yang dibangun tahun 1996 hanya sempat beroperasi sampai tahun 1998 karena adanya gangguan keamanan dari GAM. Sedangkan IKK Alue Bili sama sekali tidak pernah dioperasikan mulai saat dibangun. Lokasinya kurang bagus karena sumber air tidak ada, hanya mengandalkan cekungan, tidak ada sungai, penempatan IPA jauh dari permukiman, tidak punya prospek. Sumur dangkal penduduk airnya jernih dan baik, penduduk menggunakannya untuk masak.

Ketiga sistem air bersih di Kab. Nagan Raya sama sekali tidak terkena dampak gempa dan tsunami, hanya saja dengan munculnya barak pengungsi akibat adanya daerah yang terkena bencana, maka IKK Jeuram difungsikan kembali agar dapat menyuplai kebutuhan air bersih di barak tersebut.

4.1.1. Kecamatan Seunagan, Seunagan Timur (IKK Jeuram) A. Kondisi Sumber Air Minum

Sumber air untuk penduduk di kecamatan tersebut tidak dibedakan untuk pemenuhan kebutuhan bagi air minum dan kebutuhan MCK ( mandi, cuci dan kakus ). Kondisi eksisting sumber air untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperoleh dari beberapa cara umumnya dilakukan sebagai berikut :

• Untuk air minum : umumnya penduduk mempunyai sumur dan sebagian

melalui perpipaan/selang air dari air gunung.

• Untuk MCK sebagian besar penduduk mendapatkan sumber air dari :

sumur.

Semua lokasi kecamatan berada didaerah datar yang melandai kearah bukit, Sehingga untuk mendapatkan air dari gunung bukan hal yang sulit. Sedangkan air tanah yang ada di lokasi tersebut bervariasi dari yang,baik untuk di konsumsi langsung keruh dan mempunyai kadar Fe yang tinggi. Dari data menunjukkan bahwa hampir semua penduduk menggunakan sumur dangkal. Dari hasil penelitian lapangan , didapatkan data sumber air sebagai berikut : Dari pengamatan beberapa sumur penduduk, maka air

(32)

sumur cukup baik kualitasnya, pH berkisar antara 7,0 – 8,1, air nya jernih.. Kedalaman sumur antara : 6 sampai 18 meter, dan menurut keterangan beberapa pemilik sumur : mengalami fluktuasi ( tidak sampai kering ) pada saat musim kemarau.

B. Sistem Air Minum Perpipaan

1). Sebelum bencana

Instalasi ini berada di Desa Jeuram, Kec. Seunagan, dengan kapasitas produksi sebesar 5 l/dt, yang dibangun pada tahun 1996. Instalasi ini memanfaatkan sumber air bakunya dari Sungai Jeuram dengan membangun intake yang berjarak 300 m dari lokasi instalasi. Pengolahan dilakukan dengan sistem pengolahan lengkap melalui IPA Paket plat baja Kap. 5 l/dt. IKK Jeuram memiliki potensi pelayanan sebanyak 1.500 jiwa penduduk melalui pelayanan 300 SR. Jumlah penduduk di area pelayanan sebanyak 11.378 jiwa, sehingga potensi pelayanannya mencapai 13,2 %. Namun sejak serah terima pemerintahan ke Kab. Nagan Raya, tahun 2002, Instalasi ini sudah tidak dioperasikan lagi.

a). Sumber air baku dan sistem produksi

Air baku bagi sistem penyediaan air minum Kecamatan Seunagan

dari Air permukaan (Sungai Jeuram) di Desa Jeuram, Kec.

Seunagan.

b.) Pengolahan

Sistem Pengolahan lengkap (koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi) Plat baja, dengan 5 l/dt, (sistem tidak difungsikan sejak serah terima pengelolaan ke Pemerintah Kab. Nagan Raya). c). Sistem transmisi

Sistem transmisi dilakukan secara pompanisasi.

Pompa Intake : Q = 5l/dt ; H = 25 m, type : submersibel

d). Reservoir distribusi

(33)

e). Sistem distribusi

Sistem distribusi dilakukan dengan pompanisasi, pipa distribusi yang terpasang adalah PVC Diameter :

- Primer dia. 100 mm

- Sekunder dia. 75 mm dan 50 mm

Pompa Distribusi : Q = 5l/dt ; H = 40 m, sentrifugal pump

f). Sambungan dan pelanggan

Jumlah penduduk yang dilayani adalah sebanyak 11.378 jiwa (2.275

KK) melalui 300 unit sambungan rumah.

2). Setelah bencana

Tidak terjadi dampak gempa & tsunami terhadap sistem instalasi air bersih di IKK Jeuram. Namun, guna memenuhi kebutuhan air bersih untuk penduduk di lokasi barak pengungsi, maka sistem ini mulai difungsikan kembali. Distribusi air bersihnya sementara dilakukan dengan 2 (dua) buah mobil tangki, bantuan dari Kab. Aceh Barat.

(34)

Sungai Jeuram PVC φ 75 mm Reservoir 75 m3 Reservoir 75 m3 PVC φ 100 mm IPA 5 L/dt Pompa Submersible 1 unit Q = 5 l/dt ; H = 25 m

Gambar 4. 1. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum Kecamatan Seunagan (IKK Jeuram)

Pompa Sentifugal 1 unit

Q = 5 l/dt ; H = 40 m

Kec Seunagan

(35)

4.1.2. Kecamatan Kuala Makmur (IKK Simpang Peut)

Instalasi ini berada di Desa Simpang Peut, Kec. Kuala, dengan kapasitas produksi sebesar 5 l/dt. Instalasi ini memanfaatkan sumber air bakunya dari Sungai Kuala Baru dengan membangun intake sumuran di lokasi instalasi. Pengolahan dilakukan dengan sistem pengolahan lengkap melalui IPA Paket plat baja Kap. 5 l/dt. IKK Simpang Peut memiliki potensi pelayanan sebanyak 1.350 jiwa penduduk melalui pelayanan 270 SR. Jumlah penduduk di area pelayanan sebanyak 22.030 jiwa, sehingga potensi pelayanannya mencapai 6,13 %. Namun sejak tahun 1998 (sempat beroperasi selama 2 tahun, dari 1996 – 1998), Instalasi ini sudah tidak dioperasikan lagi karena adanya gangguan keamanan dari GAM.

1). Sebelum bencana

a). Sumber air baku dan sistem produksi

Air baku bagi sistem penyediaan air minum Kecamatan Seunagan

dari Air permukaan (Sungai Kuala Baru) di Desa Simpang Peut, Kec.

Kuala.

b.) Pengolahan

Sistem Pengolahan lengkap (koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi) Plat baja, dengan 5 l/dt, (sistem tidak difungsikan sejak tahun 1998 karena adanya gangguan keamanan GAM)

c). Sistem transmisi

Sistem transmisi dilakukan secara pompanisasi.

Pompa Intake : Q = 5l/dt ; H = 25 m, type : submersibel

d). Reservoir distribusi

Reservoir kapasitas 150 m3 ( R1 = 100 m3, R2 = 50 m3 )

e). Sistem distribusi

Sistem distribusi dilakukan dengan pompanisasi, pipa distribusi yang terpasang adalah PVC Diameter :

- Primer dia. 100 mm

- Sekunder dia. 75 mm dan 50 mm

(36)

f). Sambungan dan pelanggan

Jumlah penduduk yang dilayani adalah sebanyak 22.030 jiwa (4.406

KK) melalui 270 unit sambungan rumah.

2). Setelah bencana

Seperti juga IKK Jeuram, IKK Simpang Peut juga tidak terkena dampak bencana. Sehingga kondisinya saat ini praktis masih seperti saat sebelum bencana.

(37)

Sungai Kuala Baru Reservoir 100 m3 PVC φ 75 mm PVC φ 100 mm IPA 5 L/dt Pompa Submersible 1 unit Q = 5l/dt ; H = 25 m

Gambar 4. 2. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum Kecamatan Kuala (IKK Simpang Peut)

Reservoir 50 m3

Pompa Sentifugal 1 unit

Q = 5 l/dt ; H =460 m

Kec Kuala

(38)

4.2. KEBUTUHAN AIR MINUM

Kebutuhan air bersih suatu wilayah berinteraksi dengan kegiatan wilayah tersebut, lazimnya semakin tinggi tingkat kegiatan semakin besar kebutuhan akan air. Variabel yang menentukan besaran kebutuhan akan air antara lain adalah sebagai berikut:

a. Jumlah penduduk

b. Jenis kegiatan

c. Standar konsumsi air untuk individu dan kegiatan.

d. Jumlah sambungan

Kebutuhan akan meningkatnya air minum sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk atau kegiatannya, untuk mengantisipasi kebutuhan ini dilakukan perencanaan dengan melakukan prediksi laju pertambahan penduduk dan sarana-saran pendukung kehidupannya. Perencanaan dapat dilakukan untuk jangka panjang ,menengah dan jangka pendek. Dalam melakukan pembuatan studi kelayakan selayaknya dilakukan berdasarkan akurasi yang diperlukan.

Jumlah penduduk masa datang diramalkan dengan proyeksi, kemudian ditentukan kebutuhan perkapitanya. Kedua faktor ini merupakan parameter penentu kebutuhan air untuk rumah tangga (domestik), selain kebutuhan air untuk non rumah tangga (non domestik). Proyeksi kebutuhan air total kota, merupakan penjumlahan dari kebutuhan air rumah tangga, non rumah tangga, ditambah sejumlah air untuk kehilangan air yang tidak dapat ditanggulangi baik secara teknis maupun ekonomis.

Kebutuhan air disini diproyeksikan dalam kondisi sedang yaitu :

⇒ Pertumbuhan kawasan perumahan dan pemukiman pada masa yang

akan datang pada masing-masing kabupaten dianggap mengalami pertumbuhan yang sedang.

⇒ Pengembangan pergudangan/industri diasumsikan akan berkembang

sedang pada masing-masing kabupaten.

⇒ Pengembangan pariwisata diasumsikan berkembang tidak banyak hal ini

(39)

⇒ Pertumbuhan penduduk dianggap sedang akibat dari asumsi perkembangan di atas.

A. Proyeksi Penduduk

Dari data statistik penduduk (BPS) yang diperoleh dapat diketahui jumlah pertumbuhan penduduk wilayah perencanaan yang di gunakan sebagai dasar perhitungan proyeksi pertambahan penduduk sampai 20 tahun kedepan, sehingga dapat diproyeksikan perkembangan kebutuhan air minum di wilayah perencanaan. Pertambahan penduduk dimasa yang akan datang (proyeksi) pada dasarnya sudah dilakukan dalam perencanaan Induk kota atau RUTRK, RBWK dan rencana induk jangka panjang lainnya pada skala kota.

Selanjutnya untuk melacak perkembangan penduduk dimasa yang akan datang, dengan kemungkinan-kemungkinan yang mendekati kenyataan adalah sebagai berikut:

⇒ Pertumbuhan penduduk terjadi yang mendekati rata-rata berkisar 2-5%

pertahun selama minimal 5 tahun terakhir. B. Proyeksi Tingkat Pelayanan Air Minum

Daerah pelayanan yang akan dijangkau oleh sistim penyediaan air minum dirancang dan disesuaikan berdasarkan :

a. Urgensi kebutuhan air b. Kepadatan hunian

c. Kemudahan atas penjangkauan sistim daerah pelayanan

d. Efisiensi

Yang dimaksud dengan tingkat pelayanan air minum adalah pelayanan melalui perpipaan dan non perpipaan. Mengingat bahwa sebagian besar dari pelayanan air minum perpipaan belum ada pengelolanya, maka tinjauan khusus terhadap pembentukan unit pengelola ini sangat diperlukan. Sedangkan untuk non perpipaan, dicirikan sebagai sistem perdesaan karena umumnya tidak memerlukan input teknologi tinggi, sebagai contoh:

(40)

• sumur pompa tangan

• perlindungan mata air

• penampungan air hujan

Air minum perdesaan ada juga yang memakai perpipaan, dengan sistem yang sederhana, antara lain sumur bor dan mata air gravitasi. Sistem penyediaan air minum perdesaan pada umumnya dikelola secara swadaya oleh masyarakat atau individual. Layanan tingkat pelayanan dengan sistem non perpipaan/individu, di perkotaan dan perdesaan diasumsikan cenderung menurun sampai tahun 2015 dan penurunannya di dasarkan pada selisih tingkat pelayanan total dengan tingkat pelayanan dengan sistem perpipaan

C. Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan sambungan pelanggan air bersih didaerah pelayanan meliputi: a. Domestik

ƒ Sambungan Rumah

ƒ Hidran Umum

b. Non Domestik Kecil c. Non Domestik Khusus D. Proyeksi Jumlah Sambungan

Berdasarkan proyeksi penduduk dan cakupan pelayanan sistim penyediaan air minum di perkotaan maka potensi pasar sambungan perpipan akan meningkat dimasa yang akan datang. Tingkat pelayanan sambungan di suatu wilayah tergantung dari Sambungan Domestik :

ƒ Kebutuhan air untuk keperluan sehari hari seperti mandi,cuci, masak dan

minum.

ƒ Ketersediaan sumber air alternatif seperti sumur dangkal,

ƒ Kemampuan membeli air.

Berdasarkan tingkat pelayanan yang ada sekarang dan faktor-faktor tersebut di atas maka dapat diperkirakan proyeksi prosentase pelayanan sampai 20 tahun kedepan. Berdasarkan proyeksi penduduk dan prosentase pelayanan tersebut dapat dihitung proyeksi jumlah sambungan sesuai dengan klasifikasi pelanggan yang ada, hal ini dituangkan dalam tabel perhitungan kebutuhan air.

(41)

E. Satuan Kebutuhan Air

1). Satuan Kebutuhan Air Domestik

Perkiraan satuan kebutuhan air untuk keperluan domestik didapat berdasarkan hasil survey penelitian pemakaian air rumah tangga yang diambil secara random disuatu daerah pelayanan. Angka ini kemudian dapat dijadikan patokan satuan kebutuhan air domestik. Tingkat pemakian air sambungan rumah (SR) : 100 Lt/Org/Hari dan tingkat pemakaian air hidran umum (HU) : 40 Lt/Org/Hari.

2). Satuan Kebutuhan Air Bersih Non Domestik

Kebutuhan air non domestik adalah kebutuhan air untuk mememnuhi sarana-sarana kota, seperti sarana sosial, industri dan niaga. Perkiraan satuan kebutuhan air tersebut tergantung dari jenis kegiatan non domestik tersebut. Hal ini dapat dilihat dari rekening pembayaran PDAM untuk non

domestik. Tingkat pemakian air non domestik kecil : 1 m3/Hari dan tingkat

pemakaian air non domestik besar : 3 m3/Hari.

F. Kehilangan Air

Dalam suatu sistim penyediaan air minum, biasanya tidak seluruhnya air yang diproduksi instalasi sampai kepada konsumen. Terdapat kebocoran disana sini yang disebut kehilangan air. Kebocoran/kehilangan air berasal dari instalasi itu sendiri, pada pipa distribusi dan sekunder, pada alat meter air kesalahan administrasi dan juga untuk pemadam kebakaran/penyiraman tanah. Kehilangan air pada sistim ini diusahakan sekecil mungkin, di antaranya dilakukan dengan mengoperasikan instalasi yang benar, pemasangan sambungan pipa transmisi dan distribusi dengan baik, penggunaan peralatan meter air yang baik dan ketelitian dalam laporan administrasi. Untuk perencanaan ini kehilangan air dibatasi sebesar lebih kurang 20% dari kebutuhan air.

G. Kebutuhan Hari Maksimum

Yaitu dalam periode satu minggu, bulan atau tahun terdapat hari-hari tertentu dimana pemakaian airnya maksimum. Keadaan ini dicapai karena adanya pengaruh musim. Pada saat pemakaian demikian disebut pemakaian hari

(42)

maksimum. Besarnya faktor hari maksimum adalah berdasarkan pengamatan karakteristik daerah tersebut adalah sekitar 110 %. Kebutuhan air produksi direncanakan sama dengan kebutuhan maksimum.

4.2.1. Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala A. Proyeksi Penduduk

Berdasarkan beberapa justifikasi di atas, maka proyeksi penduduk Kecamaan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala pada tahun 2011 sebanyak 76.536 jiwa dan pada tahun 2026 sebanyak 221.220 jiwa, data

lengkap dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Proyeksi Penduduk Kec. Seunagan Timur, Seunagan, dan Kuala

No Kecamatan 2003 2005 KK 2011 2016 2021 2026 131,068 (295) 133,048 34,535 154,239 174,507 192,670 212,724 76,536 86,594 95,607 105,558 3.0% 2.5% 2.0% 2.0% 32,250 2,960 35,210 9,237 40,818 46,182 50,989 020 KUALA 56,295 001 COT MU 298 298 96 345 391 432 476 002 KUALA TADU 614 -154 460 151 533 603 666 735 003 COT RAMBONG 381 -149 232 85 269 304 336 371 004 KUALA TRANG 1709 0 1709 486 1,981 2,242 2,475 2,732 005 PADANG PANYANG 1018 228 1246 331 1,444 1,634 1,804 1,992 006 COT ME 720 9 729 179 845 956 1,056 1,166 007 ALUE SIRON 483 -345 138 60 160 181 200 221 008 ALUE LABU 150 -21 129 37 150 169 187 206 009 KRUENG ITAM 712 192 904 267 1,048 1,186 1,309 1,445 010 GAPA GARU 219 -73 146 39 169 191 211 233 011 ALUE GAJAH 110 7 117 30 136 153 169 187 012 PASI LUAH 210 -91 119 36 138 156 172 190 013 RANTAU SELAMAT 352 250 602 182 698 790 872 963 014 SARAH MANTOK 91 48 139 32 161 182 201 222 015 GUNONG SAPEK 227 -65 162 37 188 212 235 259 016 BABAH DUA 675 36 711 215 824 933 1,030 1,137 017 UJONG FATIHAH 2099 1094 3193 796 3,702 4,188 4,624 5,105 018 BLANG TEUNGOH 550 107 657 165 762 862 951 1,050 019 COT KUMBANG 337 50 387 100 449 508 560 619 020 BLANG BINTANG 503 61 564 160 654 740 817 902 021 UJONG PADANG 769 63 832 192 965 1,091 1,205 1,330 022 JOKJA 615 82 697 160 808 914 1,009 1,114 023 LAWA BATU 691 5 696 167 807 913 1,008 1,113 024 JATIREJO 796 -296 500 160 580 656 724 799 025 PURWOSARI 894 108 1002 250 1,162 1,314 1,451 1,602 026 PURWOREJO 654 76 730 205 846 957 1,057 1,167 027 PURWODADI 1440 -285 1155 314 1,339 1,515 1,673 1,847 028 ARONGAN 793 -146 647 196 750 849 937 1,034 029 KUBANG GAJAH 724 34 758 208 879 994 1,098 1,212 030 KUALA TUHA 384 -294 90 44 104 118 130 144 031 LANGKAK 969 78 1047 266 1,214 1,373 1,516 1,674 032 PULO 263 -20 243 66 282 319 352 389 033 GAMPONG LHOK 250 -28 222 54 257 291 321 355 034 SUAK PUNTONG 535 184 719 198 834 943 1,041 1,150 035 KUALA BARO 337 103 440 106 510 577 637 703 036 PADANG RUBEK 771 285 1056 265 1,224 1,385 1,529 1,688 037 LUENG T BEN 335 117 452 113 524 593 655 723 038 PULO IE 606 11 617 164 715 809 893 986 039 UJONG SIKUNENG 700 -240 460 116 533 603 666 735 040 BLANG BARO 490 71 561 116 650 736 812 897 041 BLANG MUKO 642 146 788 177 914 1,034 1,141 1,260 042 SIMPANG PEUT 2460 557 3017 673 3,498 3,957 4,369 4,824 043 KUTA MAKMUR 521 253 774 168 897 1,015 1,121 1,238 044 GUNONG REUBO 238 -30 208 62 241 273 301 333 045 UJONG PASI 779 100 879 279 1,019 1,153 1,273 1,405 046 ALUE IE MAMEH 463 70 533 131 618 699 772 852 047 BATU RAJA 316 -128 188 47 218 247 272 301 048 SIMPANG JAYA 248 275 523 149 606 686 757 836 049 SUMBER DAYA 240 -26 214 68 248 281 310 342 050 GUNONG GEULUGO 236 17 253 71 293 332 366 405 051 GUNONG KUPOK 300 37 337 60 391 442 488 539 052 ALUE BATA 500 167 667 150 773 875 966 1,066 053 GUNONG PUNGKIE 500 242 742 225 860 973 1,075 1,186 054 ALUE SEPENG 430 -168 262 79 304 344 379 419 055 BABAH ROT 201 58 259 54 300 340 375 414 Total 3 Kecamatan

(43)

Lanjutan Tabel 4.1. Proyeksi Penduduk Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala No Kecamatan 2003 2005 KK 2011 2016 2021 2026 131,068 (295) 133,048 34,535 154,239 174,507 192,670 212,724 76,536 86,594 95,607 105,558 3.0% 2.5% 2.0% 2.0% 3.0% 2.5% 2.0% 2.0% 23,929 (4,173) 19,756 5,102 22,903 25,912 28,609 040 SEUNAGAN 31,587 001 MACAH 279 -6 273 68 316 358 395 436 002 ALUE KAMBUEK 432 -52 380 100 441 498 550 608 003 KUTA PADANG 423 28 451 105 523 592 653 721 004 COT KUTA 669 -43 626 174 726 821 907 1,001 005 SUAK BILI 779 91 870 302 1,009 1,141 1,260 1,391 006 LUENG BARO 1036 -524 512 117 594 672 741 819 007 SEUMAMBEK 139 -52 87 35 101 114 126 139

008 KABU BLANG SAPEK 371 141 512 117 594 672 741 819

009 BLANG SAPEK 371 80 451 121 523 592 653 721 010 COT PERADI 2600 -2046 554 130 642 727 802 886 011 LHOK BEUTONG 350 -261 89 26 103 117 129 142 012 KAMPONG TEUNGOH 221 31 252 64 292 331 365 403 013 LHOK RAMEUN 1600 -1420 180 85 209 236 261 288 014 BLANG MURONG 681 -183 498 140 577 653 721 796 015 LHOK PADANG 133 -76 57 17 66 75 83 91 016 PAYA UNDAN 402 -21 381 105 442 500 552 609 017 MEUREUBO 263 15 278 72 322 365 403 444 018 ALUE GAJAH 74 31 105 24 122 138 152 168 019 KUTA BARO BM 142 7 149 42 173 195 216 238 020 BLANG MULIENG 284 11 295 77 342 387 427 472

021 BLANG PUUK KULU 350 180 530 106 614 695 768 847

022 KULU 437 45 482 128 559 632 698 771 023 KUTA ACEH 392 -72 320 90 371 420 463 512 024 KRUENG CEUKOU 410 -45 365 101 423 479 529 584 025 PAYA UDEUNG 333 -36 297 75 344 390 430 475 026 KUTA PAYA 344 -47 297 83 344 390 430 475 027 RAMBONG CUT 333 -115 218 60 253 286 316 349 028 RAMBONG RAYEUK 208 9 217 46 252 285 314 347 029 KRAK TAMPAI 229 197 426 116 494 559 617 681 030 ALUE PEUSAJA 163 1 164 45 190 215 237 262 031 BANTAN 100 -20 80 22 93 105 116 128

032 BLANG PUUK NIGAN 368 -42 326 78 378 428 472 521

033 KRUENG CEH 324 38 362 97 420 475 524 579

034 NIGAN 951 -9 942 296 1,092 1,236 1,364 1,506

035 GAMPONG COT 285 69 354 88 410 464 513 566

036 COT LHE LHE 290 -88 202 51 234 265 293 323

037 KUTA BARO JEURAM 775 205 980 228 1,136 1,285 1,419 1,567

859 -128 731 175 847 959 1,059 1,169 039 LATONG 1009 98 1107 165 1,283 1,452 1,603 1,770 040 ALUE BULOH 227 -28 199 50 231 261 288 318 041 KRUENG MANGKOM 156 -131 25 8 29 33 36 40 042 PANTE CERMIN 286 70 356 87 413 467 516 569 043 PADANG 550 -65 485 116 562 636 702 775 044 LHOK PAROM 195 -13 182 45 211 239 264 291 045 BLANG PATEUK 239 -39 200 57 232 262 290 320 046 COT KUMBANG 173 -23 150 40 174 197 217 240 047 KUTA KUMBANG 238 92 330 83 383 433 478 528 048 SAPEK 412 5 417 119 483 547 604 667 049 KUTA SAYEH 184 -15 169 47 196 222 245 270 050 PAROM 615 -157 458 117 531 601 663 732 051 BLANG BARO 481 -46 435 93 504 571 630 695 052 PEUREULAK 139 6 145 40 168 190 210 232 059 ALUE THO 495 160 655 189 759 859 949 1,047 060 ALUE DODOK 130 20 150 40 174 197 217 240 3.0% 2.5% 2.0% 2.0% 050 11,723 (668) 11,055 3,030 12,81 038 JEURAM SEUNAGAN TIMUR 6 14,500 16,009 17,675 001 BLANG LANGO 147 -50 97 21 112 127 140 155 002 TUWI MEULEUSONG 152 -93 59 15 68 77 85 94 003 BLANG GEUDONG 290 -96 194 68 225 254 281 310 004 SAWANG MANE 399 -38 361 87 418 473 523 577 005 LHOK PANGE 479 -104 375 94 435 492 543 600 006 KEUDE NEULOP 303 1 304 89 352 399 440 486 007 MON BATEUNG 487 31 518 138 601 679 750 828 008 IE BEUDOH 611 -54 557 157 646 731 807 891 009 SUAK PERBONG 325 6 331 83 384 434 479 529 010 BLANG ARA KMP. 418 -36 382 99 443 501 553 611 011 KRUENG KULU 355 -146 209 55 242 274 303 334 012 COT PUNTI 196 44 240 56 278 315 348 384 Total 3 Kecamatan

Gambar

Tabel 2.1. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah
Tabel 4.2. Rencana Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non Perpipaan di  Kecamatan Seunagan Timur, Seunagan dan Kuala tahun 2011 dan 2026
Gambar  4.3. Proyeksi Pelayanan Air Minum , Jumlah SR , HU Pertahun  Kec. Seunagan Timur Sampai Tahun 2026
Gambar  4.5. Proyeksi Pelayanan Air Minum , Jumlah SR , HU Pertahun  Kec. Kuala Sampai Tahun 2026
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani cabai merah, struktur biaya usahatani cabai merah, harga pokok produksi cabai merah, dan sensitivitas

Oleh peraturan pelaksana mengenai konversi, pemohon pendaftaran tanah-tanah adat obyek konversi cukup menunjukan tanda bukti hak, surat keterangan Kepala Desa/Lurah

Rendahnya nilai kesamaan komunitas ini dikarenakan kecilnya nilai kelimpahan jenis krustasea yang berada pada Stasiun D, dibandingkan dengan stasiun lainnya dan juga kandungan

Menyusun teks prosedur, lisan dan tulis, dalam bentuk manual terkait penggunaan teknologi dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara

Pembangunan bidang lingkungan hidup diprioritaskan pada pemantapan Kota Pasuruan sebagai eco-residence , yang dicapai melalui pemantapan pengendalian pencemaran dan

Persentase Peningkatan Kapasitas Sarana dan Prasarana pendukung penanggulangan

Dari tanggapan sebagian besar responden mengatakan bahwa kualitas dipakai sebagai pertimbangan dalam keputusan membeli sembako di pasar modern, karena kualitasnya lebih baik

Kemajuan teknologi tersebut, khususnya pada sistem informasi Geografis dapat kita terapkan dalam masalah kandang peternakan sapi, yaitu pemetaan lokasi kandang