• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBUTUHAN INFORMASI DAN PERILAKU PENCARIAN INFORMASI : STUDI KASUS TERHADAP IBU MENGANDUNG DAN MENGASUH BAYI DI KABUPATEN JOMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBUTUHAN INFORMASI DAN PERILAKU PENCARIAN INFORMASI : STUDI KASUS TERHADAP IBU MENGANDUNG DAN MENGASUH BAYI DI KABUPATEN JOMBANG"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

KEBUTUHAN INFORMASI DAN PERILAKU PENCARIAN INFORMASI :

STUDI KASUS TERHADAP IBU MENGANDUNG DAN MENGASUH BAYI

DI KABUPATEN JOMBANG

T E S I S

yang diajukan untuk memperoleh gelar Magister Humaniora dalam Program Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

oleh: NOOR ATHIYAH NPM: 670406008Y

(2)
(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, kerena limpahan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat memperoleh kemudahan dalam menyelesaikan tesis ini dengan baik.

Terima kasih tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Prof. Dr. Marsudi W. Kisworo dan Bu Luki Wijayanti M. Lib., yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan dan saran.

Ungakapan terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada:

1. Rektor Universitas Indonesia, atas kesempatan yang diberikan pada penulis untuk meyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di Universitas Indonesia.

2. Prof. Dr. Ida Sundari Husen dan Dr. Rahayu S. Hidayat, Dekan dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

3. Ketua Program Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi , Fuad Gani, M. A.

4. Dosen Pembimbing Akademik Drs. Zulfikar Zen, M. A.

5. Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

6. Bapak dan Ibu Pegawai Perpustakaan Universitas Indonesia 7. Bapak dan Ibu Pegawai Perpustakaan Universiti Malaya

8. Mbak Wiwik dan Mbak Ari, staf Sekretariat Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan Bagian Akademik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

9. Bapak Imam Haromain, Ibu Hamidah, dan Ibu Imronah, orang tua yang senantiasa mendukung baik secara moril maupun materiil 10.Mas Ulin dan Akeelah, suami dan anak penulis,

11.Mas Aik, Afith dan Azah, serta

12.Pak Yani, Pak Ade, Pak Yudi, Pak Jamri, Bu Maryam, dan Mbak Lulu, teman sekelas di angkatan 2004 Program Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Budi baik mereka tak akan terbalas oleh penulis , sehingga penulis hanya dapat berdoa semoga semua itu menjadi amal sholeh yang akan dibalas oleh Allah SWT. Semoga tesis ini bermanfaat. Amin.

Depok, 7 Januari 2008

(4)

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Daftar Tabel

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Perempuan Usia 15 sampai dengan

44 Kabupaten Jombang Tahun 2007 ... 33 Tabel 2.2 Tingkat Pendidikan Perempuan di Kabupaten Jombang

Tahun 2007... 34 Tabel 3.1. Kisi-kisi wawancara ... 43 Tabel 4.1 Daftar Kebutuhan Informasi Kehamilan

dan Pengasuhan Bayi Informan ... 56 Tabel 4.2 Sumber Informasi Kehamilan dan Pengasuhan Bayi

bagi Informan ... 74 Daftar Gambar

Gambar 2.1. Model Konseptual Praktik Informasi Dua Dimensi ... 28 Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian... 41

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Abstrak ... ii

Dedikasi ... iii

Lembar Pengesahan ... iv

Ucapan Terima Kasih ... v

Daftar Tabel dan Gambar ... vi

Daftar Isi ... vii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A Latar Belakang ... 1

1.Perempuan dan Pencarian Informasi... 1

2.Kabupaten Jombang ... 5

B Pertanyaan Penelitian ... 7

C Tujuan Penelitian... 8

D Manfaat Penelitian ... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A Informasi ... 11

B Kebutuhan Informasi ... 11

1.Kebutuhan Informasi Kehamilan... 15

2.Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi ... 18

C Perilaku Pencarian Informasi ... 20

1. Sumber Informasi ... 21

2. Pencarian Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari ... 23

3. Hambatan-hambatan dalam Pencarian Informasi ... 25

4. Model Konseptual Pencarian Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari 20... 27

(6)

2. Karakteristik Perempuan Jombang ... 34

3. Sumber Informasi bagi Ibu Mengandung dan Mengasuh Bayi... 36

E Kerangka Berpikir Penelitian... 39

BAB III. METODE PENELITIAN... 41

A Subjek dan Objek Penelitian... 41

B Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

C Sumber Data ... 41

D Informan Penelitian ... 42

E Teknik Pengumpulan Data ... 43

F Teknik Analisa Data ... 44

BAB IV. PEMBAHASAN ... 46

A Gambaran Karakteristik Informan... 46

1. Gambaran Karakteristik Informan Ana ... 46

2. Gambaran Karakteristik Alus ... 47

3. Gambaran Karakteristik Anis... 48

4. Gambaran Karakteristik Muna ... 48

5. Gambaran Karakteristik Ida... 49

B Pembahasan Hasil Penelitian ... 50

1. Kebutuhan Informasi Informan ... 50

a Kebutuhan Informasi Kehamilan... 52

b Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi ... 64

2. Sumber Informasi Informan ... 76

a Sumber informasi terekam ... 77

b Sumber informasi personal ... 81

3. Pencarian Informasi Informan ... 88

a Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Terekam ... 89

b Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Personal ... 98

4. Hambatan Pencarian Informasi yang Dialami oleh Informan ... 105

(7)

C Keterbatasan Penelitian ... 119

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 121

A. K e s i m p u l a n... 121

B. S a r a n ... 123

DAFTAR PUSTAKA ... 125

LAMPIRAN ... x

Lampiran 1 Panduan Wawancara ... x

Lampiran 2 Verbatim Wawancara ... xii Lampiran 3 Reduksi Data Wawancara... xl Lampiran 4 Tabel model konseptual praktek informasi dua

(8)

ABSTRAK

Dengan tanggung jawab dan perannya yang besar dalam merawat, mengasuh dan mendidik janin dalam kandungan dan bayi, para ibu perlu senantiasa membuat keputusan yang bijaksana. Mereka bisa mengambil keputusan tersebut setelah mendapatkan informasi yang tepat melalui kegiatan pencarian informasi. Jombang merupakan ”kota santri” dengan masyarakat yang religius. Hal ini mempengaruhi perilaku pencarian informasi para ibu mengandung dan mengasuh bayi di Jombang. Penelitian ini adalah tentang perilaku pencarian informasi para ibu tersebut. Pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara semi terstruktur terhadap lima informan. Berbagai diskusi dan dokumentasi kepustakaan menjadi data pendukung. Selanjutnya, diinterpretasikan, hasil temuan penelitian diinterpretasikan dengan model konseptual dua dimensi praktek informasi oleh McKenzie (2005). Model tersebut menunjukkan 8 praktek pencarian informasi, yaitu empat model pencarian informasi yang melalui 2 fase. Hasilnya, para informan memiliki berbagai kebutuhan informasi khas selama kehamilan dan pengasuhan bayi. Mereka melaksanakan model pencarian aktif, pemindaian aktif, pemonitoran tak terarah, dan by proxy pada fase menjalin hubungan dan berinteraksi dengan sumber informasi. Sebagai tambahan, ditemukan bahwa para informan memiliki karakteristik yang berbeda dalam pencarian informasi. Beberapa informan memiliki kecenderungan pelaksanaan model pencarian inforamsi yang berbeda. Pencari yang lebih aktif melaksanakan model pertama dan kedua lebih sering daripada pencari yang lebih pasif.

ABSTRACTS

Since having great role and responsibility in caring their babies or babies to be, mothers or pregnant women are always in situations that take them to make wise decisions. Therefore, mothers have to seek information. Jombang is a “kota santri” with religious society. This condition affect the information seeking behavior of the pregnant mothers and the ones who already with babies. This work is about the information needs and the seeking information behavior of the pregnant mothers and the ones with babies in Jombang. The data collection is done by semi-structured interview and literature documentation. Then, the collected data is interpreted through the two dimensional of information practices model by McKenzie (2005). The result is that the model fit the information seeking behavior of the informants. In addition, it shows the type differences of the characteristics of informants in information seeking. Some informants are more active than the others. The active ones do the different practices more often than the passive ones.

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keefektifan seseorang dalam melaksanakan peran dan fungsinya tergantung dari upayanya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah serta membuat keputusan yang diperlukan. Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan masalah dan membuat keputusan adalah pencarian informasi yang mampu mendukung kedua kegiatan tersebut. Keberhasilan pencarian informasi dipengaruhi pengenalan kebutuhan informasi individu itu sendiri, ketersediaan dan kemudahan akses sumber informasi yang sesuai, dan hambatan yang dialami.

1. Perempuan dan Pencarian Informasi

Pada kegiatan pencarian informasi, sebagian besar upaya manusia berkembang ketika mencari informasi yang tidak berhubungan langsung dengan tujuan pekerjaan, penelitian, ataupun sekolah (Agosto, 2005: 143). Carey (2001: 319) menyatakan bahwa selama 20 tahun terakhir, peneliti di bidang ilmu perpustakaan dan informasi telah mengembangkan pembelajaran dan pembahasan tentang pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari (everyday life information

(10)

dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengadaan beragam elemen informasional (baik kognitif maupun ekspresif) yang dengan elemen tersebut manusia menyesuaikan dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan masalah yang tidak secara langsung berhubungan dengan kinerja dalam tugas-tugas pekerjaan.

Dalam bidang ini, telah banyak penelitian yang difokuskan pada perempuan. Beberapa contoh adalah penelitian yang dilaksanakan terhadap perempuan tentang masalah kesehatannya (mis. Warner & Procaccino (2004), McKenzie (2002), Brown dkk. (2002) dll.). Selain itu juga dilaksanakan penelitian terhadap perempuan dalam situasi tertentu seperti dalam keadaan ekonomi lemah di daerah tertinggal (Mooko, 2005) dan perempuan korban pemukulan (Dunne, 2002).

Terlebih lagi, banyak penelitian tentang pencarian informasi yang dilaksanakan berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran (McKenzie, 2005, Levy, 1998, Davies dan Bath, 2001, dsb.). Kemunculan penelitian-penelitian tersebut dalam jumlah yang signifikan menunjukkan bahwa pencarian informasi yang tidak berkaitan dengan pendidikan atau pekerjaan secara langsung merupakan kegiatan yang banyak dilaksanakan oleh perempuan dalam kehidupannya.

Perempuan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga ketika mengalami hal-hal diluar urusan pekerjaan (kalau dia bekerja), pelajaran (kalau dia sekolah), maupun urusan penelitian (kalau dia ilmuwan/ peneliti). Mereka menjalani peran sebagai manajer rumah tangga

(11)

(domestik), perawat keluarga, penyokong emosi keluarga, pemersatu keluarga, dan berperan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pencapaian anak(-anak)nya (Utomo dan Hatmadji, 2004: 6).

DR. Meutia Hatta Swasono dalam http://www.menegpp.go.id/menegpp.php?cat=detail&id=menegpp&dat

=54 menyatakan strategi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mengenai pemberdayaan perempuan Indonesia sebagai usaha peningkatan kualitas hidup mereka. Strategi pemberdayaan ini dianggap semakin krusial dalam situasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi masa kini. Salah satu dari program tersebut adalah pemberdayaan perempuan dalam rangka peningkatan produktivitas dalam pelaksanaan tugas parenting (tugas pengasuhan anak dalam mendidik anak-anak).

Tugas pengasuhan anak tersebut dimulai sejak kehamilan, kelahiran, dan berlanjut pada masa perawatan tumbuh kembang anaknya. Berlaku secara efektif dan optimal pada masa kehamilan dan kelahiran, dan pengasuhan bayi merupakan hal yang signifikan bagi para ibu tersebut. Pada masa-masa tersebutlah anak 100 persen bergantung pada orang yang lebih tua (terutama ibunya) dalam segala hal. Terjaminnya tumbuh kembang janin dan bayi merupakan tanggung jawab penuh waktu ibunya.

(12)

Informasi tentang kehamilan, kelahiran, dan pengasuhan anak merupakan hal penting yang menuntut untuk dipenuhi. Pengasuhan anak memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan dan kehidupan yang baik bagi anak maupun menghalang perkembangan fisik maupun emosi, menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang signifikan bagi generasi selanjutnya. Meningkatkan pengetahuan keilmuan tentang pengasuhan anak adalah sangat penting sehingga anak, keluarga, dan masyarakat dapat mengambil keuntungan dari pengaruh positif pengasuhan anak (Gage dkk., 2006: 57).

Denham dalam Gage dkk (2006: 58) menyatakan bahwa ibu disosialisasikan sebagai pemegang peran perawatan utama dalam keluarga. Ibu sebagai orang tua membuat keputusan yang tak terhitung banyaknya tentang berbagai macam situasi yang mereka hadapi setiap hari dengan bayi, balita, atau anak remaja mereka (Heath, 2006: 750).

Situasi tersebut mengarahkan para ibu pada kebutuhan informasinya. Pemenuhan kebutuhan informasi tersebut adalah hal yang mendasar, karena dengan dipenuhinya kebutuhan informasi, ibu rumah tangga akan mampu memecahkan masalah atau mengambil keputusan. Mooko (2005: 124) menegaskan bahwa perempuan tidak hanya membutuhkan informasi untuk pemecahan masalah tetapi juga untuk mengambil keputusan mengenai diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

(13)

2. Kabupaten Jombang

Kabupaten Jombang terletak pada bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah 1.159,50 km2 atau sekitar 2,4% luas Propinsi Jawa Timur. Jombang terbagi menjadi 21 kecamatan, 306 desa (302 desa dan 4 kelurahan). Jumlah penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2007 berdasar proyeksi Badan Pusat Statistik Jawa Timur adalah 1.203.717 jiwa, dengan 591.003 diantaranya adalah perempuan.

Pada tahun 2005, tercatat Kabupaten Jombang memiliki 19.499 jumlah kelahiran. Dari jumlah tersebut, 162 diantaranya kasus bayi lahir mati dan 22 ibu meninggal ketika sedang mengandung, bersalin, maupun nifas. Selanjutnya, dalam tahun tersebut, terdapat total 376 kematian bayi. Dengan demikian, angka kematian bayi adalah 9,8 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu adalah 112,83 per 100.000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2006, jumlah kelahiran meningkat menjadi 19.909. Pada tahun ini, 142 bayi terlahir mati (angka kematian adalah 10.15 per 1000 kelahiran hidup). 14 ibu tercatat meninggal ketika hamil, bersalin, maupun nifas (angka kematian adalah 58,64 per 100.000 kelahiran hidup). Hal tersebut menunjukkan bahwa angka kematian ibu mengalami penurunan, namun angka kematian bayi justru mengalami peningkatan.

Dalam semester pertama (dari bulan Januari hingga bulan Juni) tahun 2007, jumlah kelahiran tercatat 9831 dengan 19 bayi terlahir mati

(14)

kematian bayi maupun ibu mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu 19 per 1000 kelahiran hidup dan 91,54 per 100.000 kelahiran hidup.

Hal tersebut tentunya merupakan hal yang ironis. Disebut ironi karena pada awal 2007, Kabupaten Jombang menerima “penghargaan inovasi di bidang pelayanan kesehatan” dari Jawa Pos Institute of Pro Otonomy. Penghargaan tersebut menunjukkan prestasi petugas kesehatan dalam memberikan layanan dan berusaha meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Jombang.

Tentu saja, tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dengan tenaga medis yang terampil sangat mempengaruhi kenaikan maupun penurunan angka kematian ibu dan bayi. Namun demikian, kesediaan masyarakat untuk mengubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang juga berpengaruh terhadap angka kematian tersebut. Keputusan yang diambil oleh individu ibu hamil dan ibu dengan bayi sangat mempengaruhi kondisi ibu hamil, janin, dan bayi mereka.

Bagi para perempuan di Jombang, terdapat berbagai media informasi dan beberapa lembaga ataupun organisasi formal yang bisa dijadikan sumber informasi oleh mereka, seperti media cetak, elektronik, maupun fasilitas kesehatan seperti puskesmas, posyandu, dan rumah bersalin. Meskipun lembaga, organisasi, dan fasilitas umum yang ada tidak memiliki fungsi utama sebagai pusat penyedia informasi bagi

(15)

warga atau pelanggannya, namun pada umumnya mereka bisa dijadikan rujukan para ibu rumah tangga dalam mencari informasi tertentu.

B. Pertanyaan Penelitian

Sebagaimana penjelasan di atas, maka perilaku pencarian informasi oleh para ibu hamil dan perempuan yang sedang mengasuh bayi perlu dipahami. Maka pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah ”bagaimana perilaku pencarian informasi ibu hamil dan mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dirumuskan beberapa anak pertanyaan, yaitu:

1.apa saja kebutuhan informasi ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?

2.apa saja sumber informasi yang dimanfaatkan oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?

3.apa saja upaya pencarian informasi oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang ?

4.apa saja hambatan dalam pencarian informasi oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?

5.bagaimana model pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?

(16)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perilaku pencarian informasi ibu hamil dan mengasuh bayi di Kabupaten Jombang. Untuk mendapatkan pemahaman tersebut, penelitian ini berusaha untuk:

1.mengidentifikasi kebutuhan informasi ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

2.mengidentifikasi sumber informasi yang berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi bagi para ibu ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

3.mengidentifikasi upaya pencarian informasi ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

4.mengidentifikasi hambatan dalam pencarian informasi oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

5.menggambarkan model pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini menggambarkan pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari beberapa perempuan di Kabupaten Jombang. Untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bermacam-macam, mereka bisa saja mengalami banyak rintangan dan batasan seperti biaya, waktu, lokasi, pemanfaatan saluran, media, dan sarana informasi yang tersedia di Jombang.

(17)

Oleh karena itu, penemuan dalam penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai acuan untuk penyusunan kebijakan dan fasilitas sumber informasi bagi para perempuan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dan penyedia sarana kesejahteraan keluarga di Kabupaten Jombang. Penemuan dari penelitian ini juga diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan rujukan untuk pembelajaran lebih lanjut.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka ini tersusun atas beberapa uraian dari beberapa literatur yang relevan dengan penelitian ini. Secara berurutan, bab ini terdiri dari penjelasan tentang informasi, kebutuhan informasi, dan perilaku pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan tentang kebutuhan informasi meliputi kebutuhan informasi dalam beberapa segi, diantaranya kebutuhan informasi kehamilan, kelahiran dan menyusui, kebutuhan informasi pengasuhan bayi dan kebutuhan informasi perempuan.

Selanjutnya, penjelasan tentang pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari diawali dengan penjelasan mengenai pencarian informasi, pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari, sumber informasi yang dimanfaatkan dalam pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan hambatan dalam pencarian informasi. Bab ini dilengkapi dengan sekilas pandang profil Kabupaten Jombang sebagai lokasi penelitian. Akhirnya, terdapat kesimpulan yang menggambarkan suatu model kerangka konseptual pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari.

(19)

A. Informasi

Istilah informasi digunakan dalam banyak konsep yang berbeda (Case, 2002: 43). Dalam kajian ilmu perpustakaan dan informasi, definisi informasi telah banyak ditunjukkan dan mengalami perkembangan dan perbedaan dari masa ke masa. Dalam bidang ini saja, istilah informasi digunakan dalam berbagai disiplin untuk merefleksikan berbagai hal, seperti rangsangan sensori, representasi mental, pemecahan masalah, pembuatan keputusan, aspek dari pemikiran dan pembelajaran manusia, dsb.

Definisi umum telah diberikan oleh Buckland dalam Shenton (2004: 367): "jika sesuatu hal adalah, atau bisa jadi, informatif, maka semua hal adalah, atau bisa jadi, informasi….” Bagaimanapun juga, Lester dan Kohler dalam Shenton (2004: 368) menunjukkan bahwa konsep informasi bersifat context-specific. Dalam konteks penelitian ini, informasi merupakan segala hal yang bersifat informatif dan menambah pengetahuan ibu rumah tangga dalam hal menjalani kehamilan, kelahiran, menyusui, maupun pengasuhan bayi.

B. Kebutuhan Informasi

Kebutuhan informasi dapat didefinisikan melalui asosiasi definisi dari dua kata: “kebutuhan dan “informasi” (Wilson, 1994). Kebutuhan (need) dalam Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary didefinisikan

(20)

Selanjutnya, kata “informasi” dalam kamus yang sama didefinisikan sebagai komunikasi atau penerimaan pengetahuan atau intelijensi maupun pengetahuan yang didapatkan dari investigasi, penelitian, atau instruksi (1990: 620). Maka, kebutuhan informasi adalah merupakan kebutuhan yang muncul karena kurangnya pengetahuan yang didapatkan tentang sesuatu hal yang sesuai atau berguna.

Dalam ilmu informasi, telah banyak dikembangkan konsep kebutuhan informasi. Case (2002: 68 – 73) menyebutkan beberapa konsep kebutuhan informasi yang ditawarkan oleh empat ilmuwan yang banyak dirujuk dalam penelitian di bidang kebutuhan dan pencarian informasi. Secara kronologis, konsep-konsep tersebut adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Robert Taylor (1962), Charles Atkin (1973) dan Nicholas Belkin (1978), serta Brenda Dervin (1982, 1992).

Case menyebutkan bahwa Taylor menawarkan konsep kebutuhan informasi dengan menyatakan empat tahap kebutuhan yang mendasari kenapa individu mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada pustakawan rujukan. Secara berurutan, tahap yang paling rendah adalah ketika individu memiliki kebutuhan tidak terekspresikan (visceral need). Tahap berikutnya adalah ketika kemampuan individu untuk menyampaikan kebutuhannya masih ambigu dan tidak jelas. Tahap ketiga adalah ketika individu memiliki kemampuan untuk menyatakan kebutuhannya, dan yang terakhir adalah ketika sudah muncul perhatian dari individu tentang bagaimana pengiriman hasil pencarian dari

(21)

kebutuhan yang dia ungkapkan tersebut. Keempat tahap tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan informasi berkaitan erat dengan pencarian jawaban.

Menurut Case, Atkin dan Belkin menyatakan konsep kebutuhan informasi dengan meyakini informasi sebagai pengurangan ketidakpastian. Atkin memberikan definisi kebutuhan informasi sebagai “sebuah fungsi ketidakpastian yang dihasilkan oleh penerimaan ketidaksesuaian antara tingkatan kepastian yang sekarang dimiliki individu tentang objek lingkungan dan pernyataan kriteria bahwa dia mencari untuk mencapai sesuatu. Senada dengan definisi Atkin dan Taylor, Belkin menyatakan bahwa adanya kebutuhan informasi diindikasikan dengan adanya upaya mencari informasi, dan motivator dasar pencarian informasi adalah karena adanya kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi atau topik tertentu.

Pada masa berikutnya, Dervin menyatakan bahwa kebutuhan informasi adalah kebutuhan akan make sense (memahami, memaknai) situasi yang sedang berlangsung. Kebutuhan informasi individu merupakan kebutuhan akan terjawabnya berbagai macam pertanyaan yang hadir di pikiran individu tersebut. Beragam pertanyaan tersebut muncul ketika individu merasa perlu memberikan penjelasan yang masuk akal pada dirinya dalam dimensi ruang dan waktunya sendiri.

(22)

Selain Case, Wilson juga melaksanakan pembelajaran tentang perkembangan konsep kebutuhan informasi. Wilson mengawali penyimpulan dan pembahasan penelaahannya dengan konsep kebutuhan manusia. Wilson menyatakan bahwa konsep kebutuhan manusia menurut ahli psikologi dapat dibagi dalam 3 kategori:

a) kebutuhan fisiologis, seperti kebutuhan akan makanan, air, tempat tinggal, dsb.;

b) kebutuhan afektif (terkadang disebut sebagai kebutuhan psikologis atau emosional) seperti kebutuhan akan dominasi, pencapaian, dsb.; c) kebutuhan kognitif, seperti kebutuhan untuk merencanakan, untuk

mempelajari ketrampilan, dsb.

Ketiga kategori kebutuhan tersebut merupakan pemicu dasar munculnya kebutuhan informasi. Wilson menyatakan bahwa untuk memenuhinya, individu harus memiliki pengetahuan yang berkaitan. Untuk memperoleh pengetahuan tersebut, individu harus terlibat dalam proses pencarian informasi. Oleh karena itu, Wilson menganggap istilah kebutuhan informasi lebih tepat jika digantikan dengan pencarian informasi untuk mendapatkan kepuasan kebutuhan. Kebutuhan yang diharapkan akan terpuaskan utamanya adalah kebutuhan kognitif yang mendukung pemenuhan terpuaskannya kebutuhan fisiologis dan afektif.

Kemunculan kebutuhan informasi seseorang tergantung pada beberapa faktor. Beberapa faktor yang dinyatakan oleh Crawford dalam Wilson (1994) adalah kegiatan kerja, posisi dan peran individu,

(23)

ketersediaan fasilitas, kebutuhan untuk membuat keputusan, faktor motivasi akan kebutuhan informasi, dsb. Mempertimbangkan hal tersebut, berikut adalah beberapa macam kebutuhan informasi yang pada umumnya dimiliki oleh para perempuan, khususnya ibu yang sedang hamil, menyusui, maupun mengasuh bayi.

Informasi tentang kehamilan, kelahiran dan perawatan tumbuh kembang anak merupakan informasi yang signifikan dalam pengasuhan anak. Anak dalam tahun pertama kehidupannya merupakan anak dalam usia emas, dimana perkembangan otak dan perilaku sangat pesat. Perkembangan tersebut menentukan perkembangan dan masa depannya di kemudian hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah perkembangan fisik, kesehatan, dan perilaku sosial anak.

1. Kebutuhan Informasi Kehamilan

Bagi kebanyakan pasangan, menjadi orang tua berawal dari kehamilan dan kelahiran anak (Duvall dan Brent, 1980: 158). Sebagai ibu, orang tua perempuan mengawasi, mengasuh, merawat, dan mencintai anaknya (Apter, 1986: 11). Kemampuan perempuan untuk hamil dan menyusui merupakan hal istimewa yang tak dapat dilaksanakan oleh orang tua laki-laki. Dalam menjalankan peran tersebut, perempuan memiliki kebutuhan informasi tertentu.

(24)

(2001) menunjukkan bahwa perempuan hamil menyadari dan secara aktif berusaha memenuhi kebutuhan informasi tentang kehamilannya. Levy menyatakan bahwa perempuan memiliki perhatian terhadap informasi yang berkenaan dengan bagaimana untuk melindungi dan menjaga kepentingan janinnya, diri sendiri, pasangan dan individu lain dalam lingkungannya di masa kehamilannya.

Mendapatkan informasi adalah salah satu dari tanggung jawab utama perempuan hamil (Browner dan Press dalam McKenzie, 2006: 1). Bagaimanapun juga, sebagai orang tua, perhatian utama perempuan hamil adalah tentang bagaimana mempersiapkan kelahiran bayi yang sehat dan selamat (Duvall dan Brent, 1980: 159). Pada umumnya, perempuan menginginkan sebanyak mungkin informasi tentang peristiwa kelahiran bayi dan potensi risiko yang mereka dan bayi mereka hadapi (Green dalam Davies dan Bath, 2002: 302).

Setelah menjalani masa kehamilan yang diakhiri dengan persalinan, perempuan mulai menjalani kegiatan merawat bayi. Kepada ibu lah bayi bergantung sepenuhnya (Apter, 1985: 53). Salah satu indikator ketergantungan tersebut adalah kemampuan ibu untuk menyusui bayinya. McKenzie (2006: 7) menyatakan bahwa perempuan menginginkan informasi tentang bagaimana pemberian makanan kepada bayinya (terutama tentang memberikan/ tidak memberikan ASI) semenjak mereka mengalami kehamilan. Bagi kebanyakan perempuan,

(25)

menyusui merupakan komponen penting dalam ‘menjadi ibu yang baik’ (Wall dalam McKenzie, 2006: 9).

Selain menyusui dan memperhatikan asupan makanan bayi, Duvall dan Brent (1980: 160-161) menyebutkan bahwa orang tua juga harus tetap menjaga kebersihan dan keselamatan bayinya. Beberapa informasi yang diperlukan dalam menjalankan peran ini adalah tentang bagaimana memfasilitasi kebersihan anak seperti memandikan, menyediakan pakaian yang pantas dan terlebih lagi memperhatikan kebutuhan popok bayinya. Selain itu, usaha meminimalkan kemungkinan kecelakaan yang dapat dialami bayi dan memberikan pertolongan pertama yang tepat ketika bayi mengalami kecelakaan merupakan hal yang harus diketahui dan dijalankan oleh orang tua.

Selama menjalani kehamilan, persalinan dan menyusui, kesehatan merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan oleh perempuan. Kesehatan adalah ketiadaan sakit, penyakit, atau luka (Hahn dan Payne, 2003: 5). Dilihat dari segi pencegahan, kesehatan dapat didefinisikan sebagai ketiadaan risiko tinggi bagi penyakit di masa datang (Hahn dan Payne, 2003: 5). Kondisi sehat diyakini sebagai kondisi yang dibutuhkan manusia untuk dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal.

Mooko (2005: 119) mendapati lebih dari 30% respondennya menyatakan bahwa informasi kesehatan merupakan kebutuhan informasi

(26)

informasi kesehatan baik tentang melahirkan sampai dengan menopause, maupun tentang penyakit yang sedang diderita (2002: 225). Warner dan Procaccino (2004: 714) menyebutkan beberapa kebutuhan informasi kesehatan perempuan, yakni informasi tentang gejala penyakit tertentu, diagnosa dan tindakan yang bisa diambil dalam penyembuhan penyakit tertentu, nutrisi, perawatan medis, pencegahan penyakit, dan kebugaran.

Selain kesehatan, adalah suatu hal yang alamiah jika perempuan sangat memperhatikan kondisi kecantikannya. Perubahan fsik yang dialami semasa kehamilan merupakan hal yang diperhatikan oleh perempuan Keinginan untuk tampil menarik di mata orang lain menimbulkan kebutuhan informasi tertentu bagi perempuan.

2. Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi

Semenjak kehadiran anak tersebut, orang tua mengemban peran dan tugas dalam pengasuhannya. Gage dkk. (2006: 58) menunjukkan bahwa dalam banyak penelitian mengenai pengasuhan anak, definisi pengasuhan anak itu sendiri tidak diungkapkan secara eksplisit, namun secara umum implisit dalam domain instrumen atau melalui deskripsi tanggung jawab, tugas dan peran yang diharapkan dilaksanakan oleh orang tua.

Duvall dan Brent (1980: 192) menjelaskan bahwa orang tua bertanggung jawab untuk menjaga dan menstimulasi perkembangan dan

(27)

sosialisasi anak. Mereka adalah pengasuh yang merawat sekaligus mendidik serta mengembangkan potensi-potensi anak. Dengan demikian, orang tua memiliki peranan penting dalam mengantarkan anak menjadi manusia yang berkualitas bukan saja dari segi fisik namun juga kecerdasan dan kepribadiannya. Orang tua diharapkan memiliki kemampuan behavorial yang meliputi kemampuan untuk mengobservasi, memonitor, berkomunikasi, berinteraksi dalam rangka membangun dan memelihara hubungan, serta memetakan hubungan antar anggota keluarga (Heath, 2006: 759).

Bagi orang tua dengan bayi dalam keluarganya, Duval dan Brent (1980: 194) telah menunjukkan beberapa peran dan tugas yang seharusnya dilaksanakan terhadap bayinya, yaitu:

a.memperhatikan rutinitas kegiatan harian dan istirahat yang sehat, b.mengembangkan ketrampilan fisik yang sesuai dengan perkembangan

motoriknya,

c.mengembangkan ekspresi emosi yang positif akan beragam pengalaman, dan

d.berkomunikasi secara efektif.

Heath (2006: 757) mengungkapkan bahwa seiring dengan jalinan yang aktif dengan anaknya, orang tua bersandar pada dua tipe pengetahuan yang saling bertindihan: pengetahuan umum tentang manusia dan perkembangannya dan pengetahuan khusus tentang individu

(28)

orang tua ide tentang apa dan kapan yang bisa mereka harapkan pada anak mereka. Hal tersebut mendorong keperluan terpenuhinya kebutuhan informasi yang mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang berkaitan.

Kebutuhan informasi perempuan sebagai orang tua terus berkembang setiap hari seiring berkembangnya kebutuhan dan peran serta tugas anaknya. Hall dalam Gage dkk. (2006: 59) menyatakan bahwa, setelah kelahiran anaknya, perempuan memiliki multi peran dan mengalami beban ketika dia tidak dapat memenuhi harapan akan peran dan tanggung jawab barunya. Oleh karenanya, untuk menjalankan perannya secara efektif, perempuan perlu secara berkesinambungan menyadari dan berusaha memenuhi perkembangan kebutuhan informasinya.

C. Perilaku Pencarian Informasi

Pemenuhan kebutuhan informasi dilaksanakan melalui pencarian informasi. Pencarian informasi adalah kegiatan individual yang dijalankan untuk mengidentifikasi dan memilih informasi untuk memuaskan kebutuhan informasi yang telah terdeteksi, kepuasan yang memungkinkan individu untuk memecahkan masalah atau membuat keputusan (Correia dan Wilson, 2001). Brown dkk. menunjukkan bahwa pencarian informasi mencerminkan kebutuhan perempuan untuk mencari

(29)

informasi yang akurat dan handal yang dengannya perempuan bisa membuat keputusan yang masuk akal (2002: 226).

1. Sumber Informasi

Sumber informasi merupakan hal, barang atau manusia yang bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan oleh pencari informasi. Sumber informasi bisa berupa sumber informasi terekam maupun sumber informasi manusia. Sumber informasi terekam memiliki bentuk berbeda-beda; tertulis/ tercetak, dalam bentuk rekaman suara, maupun sumber informasi elektronik. Di sisi lain, sumber informasi manusia (personal) bisa diakses secara formal maupun informal.

Beberapa contoh dari sumber informasi tertulis/tercetak adalah catatan, koran, buku, jurnal, dsb. Sumber informasi elektronik bisa berupa cakra padat, kaset, situs internet, dll. Jenis sumber infomasi terekam tersebut biasanya melibatkan penyedia informasi untuk bisa diakses oleh pencari maupun pengguna informasi. Sebagai ibu rumah tangga yang sebagian besar waktu dalam kesehariannya dihabiskan di rumah, televisi, radio, tabloid, dan semacamnya merupakan sumber informasi yang biasa dimanfaatkan oleh para perempuan Jombang.

Di sisi lain, sumber informasi personal adalah ketika manusia berperan sebagai penyampai informasi yang dibutuhkan oleh pencari

(30)

komunikasi interpersonal antara pencari dan sumber informasi. Salah satu contoh komunikasi formal antara pencari dan sumber informasi adalah komunikasi antara pasien dan dokter. Dalam keadaan ini, pasien merupakan individu pencari informasi yang berusaha memenuhi kebutuhan informasi melalui penjelasan yang dinyatakan oleh dokter tersebut.

Dalam pencarian informasi mengenai kehamilan, kelahiran, menyusui, dan pengasuhan anak, pusat layanan kesehatan merupakan pilihan sumber informasi formal yang tersedia. Dalam kondisi jauh dari keluarga (orang tua, saudara yang sudah berpengalaman) sebagai sumber informasi personal, profesional kesehatan adalah pilihan sebagai sumber informasi personal yang bisa dimanfaatkan oleh para perempuan di Jombang.

Dalam keadaan informal, teman, keluarga, atau tetangga bisa menjadi sumber informasi bagi pencari informasi. Informasi bisa berasal dari pengalaman lampau, baik pengalaman pribadi maupun kumpulan dari pengalaman teman dan orang lain, namun kebanyakan informasi baru didapatkan dari bidan dan sumber-sumber profesional kesehatan lain (Levy, 1998: 112). Menurut sejarah, perempuan belajar teknik menyusui yang sesuai dari ibu, nenek, saudara, dan tetangganya (Corky Harvey dalam Levy, 1998: 112). Perempuan mengajari perempuan masih merupakan cara terbaik yang dilaksanakan.

(31)

Dalam pencarian informasi, individu memiliki beberapa pertimbangan dalam memilih sumber informasi. Durrance dalam Varjels (1986: 74) menyebutkan bahwa individu cenderung mencari informasi yang paling mungkin diakses. Selanjutnya, Durrance menyatakan bahwa tipe individu yang berbeda menggunakan sumber informasi yang berbeda. Meskipun demikian, Durrance juga menyatakan bahwa individu pada umumnya lebih menyukai komunikasi secara berhadapan sebagai cara mengakses informasi dari sumber informasi.

2. Pencarian Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Pencarian informasi dapat dianalisis dalam dua konteks besar: yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Pencarian informasi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan disebut juga pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari (everyday life information seeking). Pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan upaya pengadaan berbagai elemen informasional (baik kognitif maupun ekspresif) yang dipergunakan individu untuk mengorientasikan diri mereka dalam kehidupan sehari-hari atau memecahkan masalah yang tidak secara langsung berhubungan dengan kinerja dan tugas-tugas pekerjaan (Savolainen, 1995: 266-267).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ada dua dimensi yang bisa diperhatikan dalam pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari

(32)

informasi yang mengorientasikan. Dimensi ini berkaitan dengan kejadian di masa kini. Selanjutnya adalah pencarian informasi praktis, yaitu pencarian informasi yang menyajikan solusi untuk masalah-masalah tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pencarian informasi yang mengorientasikan, informasi dilihat sebagai instrumen untuk meraih hasil yang berbeda-beda. Individu dalam kegiatan sehari-harinya memiliki semangat untuk mempelajari hal baru dan berusaha untuk meraih tujuan pribadi. Kegiatan pencarian informasi dalam dimensi ini terjadi seiring dengan kegiatan individu mengkonsumsi publikasi ilmiah dan budaya, membaca koran, melihat program televisi ataupun mendengarkan radio. Informasi yang dikonsumsi khususnya adalah yang berkenaan dengan kepemimpinan, ilmu, politik dan budaya, isu terkini, dan perkembangan sosial budaya.

Pencarian informasi praktis merupakan pencarian informasi yang sengaja dilaksanakan. Informasi yang diinginkan dalam dimensi ini adalah informasi yang akurat, yang bisa diaplikasikan untuk penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Oleh karenanya, dalam pencarian informasi ini, sumber informasi personal lebih disukai. Karena pencarian informasi ini timbul ketika ada hal yang harus dihadapi dengan segera, maka komunikasi sebagai kegiatan pencarian informasi dilaksanakan.

Beberapa penelitian tentang pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari telah dilaksanakan. Penelitian dalam bidang ini dilaksanakan terhadap pelajar, mahasiswa dan pemuda, sebagaimana

(33)

yang dilaksanakan oleh Agosto dan Hugjes Hassell (2005), Jeong (2004), dan Given (2002). Penelitian di bidang ini juga banyak dilaksanakan sehubungan dengan pencarian informasi kesehatan: Brown dkk. (2002), Warner dan Procaccino (2004), Cypowyj dkk. (2003), Davies dan Bath (2002), dan sebagainya. Lebih dekat kaitannya dengan penelitian ini, penelitian yang pernah dilaksanakan terhadap ibu rumah tangga diantaranya adalah McKenzie (2002, 2003, dan 2004), Mooko (2005), Levy (1999), dan sebagainya.

3. Hambatan-hambatan dalam Pencarian Informasi

Ketika individu melaksanakan pencarian informasi, dia bisa mengalami hambatan yang menghalanginya mendapatkan informasi yang dia butuhkan atau inginkan. Hambatan tersebut muncul karena beberapa komponen. Hambatan bisa timbul dari pencari informasi, sumber informasi, maupun dari pencari dan sumber informasi sekaligus.

Pencari informasi menimbulkan beberapa hambatan dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Harry dan Dewdney dalam Julien (1999: 45) menyimpulkan bahwa hambatan tersebut meliputi: tidak mengetahui kebutuhan informasinya; tidak mengetahui dimana mendapatkan informasi yang dibutuhkannya; tidak mengetahui keberadaan sumber informasi yang dibutuhkannya; tidak menemukan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasinya; dan

(34)

Bagaimanapun juga, hambatan dari pencari informasi banyak disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan terhadap sumber informasi yang tersedia (Chen dan Hernon, 1982: 18-19). Hal ini menyebabkan pencari informasi tidak mengetahui bagaimana dan kapan dia bisa memenuhi kebutuhan informasinya.

Dari komponen sumber informasi, hambatan dapat dialami pencari informasi karena beberapa hal seperti ketidaktersediaan maupun keterbatasan akses terhadap sumber informasi itu sendiri, masalah teknis yang timbul dalam penyediaan sumber informasi terekam, maupun komunikasi yang kurang lancar dengan sumber informasi personal. Ketidaktersediaan maupun keterbatasan akses bisa disebabkan oleh aturan yang mengikat yang menimbulkan larangan, pembatasan akses terhadap sumber informasi yang diterapkan oleh penyedia sumber informasi (Chen dan Hernon, 1982: 18).

Salah satu hambatan yang dihadapi pencari informasi pada kegiatan komunikasi interpersonal dengan sumber informasi manusia adalah hambatan penyingkapan (disclosure barrier). McKenzie (2002: 35-36) menyatakan bentuk hambatan ini sebagai hambatan yang berasal dari penyedia/sumber informasi ketika dia tidak berkenan untuk menjawab atau menyajikan jawaban atau informasi atas pertanyaan yang diajukan oleh pencari informasi. Dalam penelitiannya, McKenzie menemukan bahwa perempuan seringkali menggambarkan hambatan yang berhubungan dengan pengelakan, penundaan, atau kepura-puraan

(35)

serta pembelit-belitan. Hal ini seringkali terjadi terutama dalam komunikasi formal antara pencari dan penyedia informasi.

Hambatan lain adalah hambatan yang didorong oleh kedua belah pihak, pencari dan penyedia informasi. McKenzie (2002: 36) menyatakan bahwa hambatan ini biasanya terjadi ketika pencari informasi enggan mengajukan pertanyaan kepada penyedia informasi meskipun sedang berhadapan atau berinteraksi dengan penyedia informasinya. Sebagai contoh, keengganan tersebut terjadi ketika pencari informasi berasumsi bahwa penyedia informasi telah mengakhiri percakapan yang sedang mereka jalankan.

4. Model Konseptual Pencarian Informasi dalam Kebutuhan Sehari-hari Bagaimanapun juga, untuk analisis yang mendalam dan kontekstual, model atau pola pencarian informasi yang lebih umum adalah lebih sesuai (McKenzie, 2003: 25). Sebagaimana yang telah disinggung pada 2.3.2, Salvolainen menyatakan dua dimensi pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pencarian informasi yang mengorientasikan dan pencarian informasi praktis. Senada dengan apa yang dikemukakannya, McKenzie (2003: 25–36) mengajukan suatu model dua-dimensi praktik informasi.

(36)

Gambar 2.1. Model Konseptual Praktik Informasi Dua Dimensi

Kolom pertama dari gambar diatas menyatakan model pencarian informasi yang terjadi. Empat model tersebut adalah:

a.Pencarian aktif (active seeking) yaitu praktik informasi yang paling terarah. Dalam tipe pencarian ini, informasi yang dicari sudah teridentifikasi, ditentukan, dan pencarian dilaksanakan secara terencana dan sistematis.

b.Pemindaian aktif (active scanning) yaitu mengidentifikasi sumber informasi yang sesuai, melaksanakan pencarian secara aktif, namun tidak terencana secara mendetail.

c.Pengawasan yang tidak terarah (non-directive monitoring) terjadi ketika seseorang secara kebetulan mengenali dan memanfaatkan sumber informasi, seperti ketika membaca koran dan kebetulan

(37)

menemukan artikel yang bisa memenuhi kebutuhan informasinya. Model ini sesuai dengan pernyataan Salvolainen (1995) tentang monitoring the context.

d.By proxy yaitu ketika seseorang berinteraksi dengan sumber informasi melalui perantara. Dalam hal ini, perantara menyampaikan pertanyaan atau permintaan atas informasi sesuai dengan kebutuhan asli individu yang memiliki kebutuhan tersebut.

Baris pertama dalam gambar menunjukkan fase tingkatan proses informasi, yaitu membina hubungan (connecting) dan berinteraksi – dengan sumber informasi- (interacting). Kedua kegiatan tersebut melibatkan usaha dan hambatan. Dalam fase yang pertama, usaha dan hambatan terjadi dalam rangka mengidentifikasi sumber informasi dan menghubungi sumber informasi tersebut. Dalam fase yang kedua, gambaran tentang usaha dan hambatan terjadi selama individu berhadapan langsung dengan sumber informasi.

Kombinasi antara model dan fase tersebut menghasilkan model dua dimensi yang tertuangkan dalam gambar 3.1 di atas. McKenzie menyatakan hasil kombinasi tersebut sebagai praktik informasi. Uraian tentang kombinasi tersebut disusun secara berurutan dari atas ke bawah dimulai dari kolom fase menjalin hubungan dengan sumber informasi. a. Praktik informasi dalam rangka menjalin hubungan dengan sumber

(38)

a.1.Menjalin hubungan melalui pencarian secara aktif terhadap sumber informasi. Praktik ini memiliki beberapa karakteristik tertentu. Pertama, pencarian aktif terjadi sebagai tanggapan terhadap keberadaan tujuan atau pertanyaan tertentu. Selanjutnya, pencarian secara aktif berarti individu memberikan perhatian yang sistematis terhadap proses menjalin hubungan. Ciri utama adalah adanya kesadaran individu terhadap ketersediaan sumber yang bisa membantunya, seperti dokter, pustakawan, buku tertentu, teman, dll.

a.2.Menjalin hubungan melalui pemindaian aktif. Pemindaian aktif meliputi mencari dan mengenali sumber informasi yang sesuai, tidak secara aktif, namun tetap mengingat kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Praktik ini merupakan pemindaian secara aktif terhadap sumber informasi secara umum. Selain itu, pemindaian aktif ini juga terjadi ketika individu mengenali atau menyadari sumber informasi yang sesuai yang berhubungan dengan kebutuhan informasi namun tidak harus dihubungi saat itu juga.

a.3.Menjalin hubungan melalui pemonitoran tak terarah. Praktik ini ditandai dengan tidak adanya tujuan khusus pencarian informasi. Individu tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan suatu informasi sampai mereka mendapati infomasi atau sumber informasinya. Jadi, praktik ini biasa terjadi secara spontan dalam kegiatan keseharian.

(39)

a.4.Menjalin hubungan melalui perantara. Praktik ini terjadi ketika ada pihak ketiga yang memberikan informasi tentang sumber informasi yang sesuai dengan yang dia duga dibutuhkan oleh seorang individu. Selain itu, praktik ini juga terjadi ketika sumber informasi itu sendiri mengenali orang yang membutuhkan informasi darinya dan dia menyampaikannya kepada individu tersebut.

b. Praktik informasi dalam rangka berinteraksi dengan sumber informasi. Pencarian aktif dalam pemerolehan informasi. Dalam praktik ini, individu biasanya membuat daftar pertanyaan, perencanaan dan strategi berinteraksi dengan sumber informasi.

b.1.Pemindaian aktif dalam pemerolehan informasi. Praktik ini terjadi ketika individu menyadari kebutuhan informasinya dan mendapatkan informasi yang diperolehnya dari hasil interaksinya dengan sumber informasi yang tidak dia cari secara sengaja. Selanjutnya, individu akan mengalami information encountering, yaitu pengalaman yang bisa diingat dari penemuan secara tidak sengaja tentang informasi yang menarik atau berguna (Erdelez, 1999).

b.2.Pemonitoran tak terarah dalam pemerolehan informasi. Praktik ini terjadi ketika secara kebetulan seorang individu pencari informasi berinteraksi dengan individu lain yang kemudian berperan sebagai sumber informasinya karena memberikan informasi yang dibutuhkannya. Praktik tersebut bisa terjadi di jalan, ketika

(40)

bertemu teman, atau dalam kondisi lain di tengah-tengah kegiatan keseharian individu tersebut.

b.3.Interaksi by proxy: diberitahu. Informasi diperoleh dari sumber informasi yang memberitahunya tanpa diminta oleh individu pencari informasi.

D. Profil Kabupaten Jombang

Jombang adalah kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur. Luas wilayahnya 1.159,50 km², dan jumlah penduduknya 1.165.720 jiwa (2005). Pusat kota Jombang terletak di tengah-tengah wilayah Kabupaten, memiliki ketinggian 44 meter di atas permukaan laut, dan berjarak 79 km (1,5 jam perjalanan) dari barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Jombang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas selatan Pulau Jawa (Madiun-Jogjakarta), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.

Jombang juga dikenal dengan sebutan "kota santri", karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya. Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum (Rejoso).

(41)

1. Demografi Penduduk

Penduduk Jombang pada umumnya adalah etnis Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa yang dituturkan banyak memiliki pengaruh dialek Surabaya yang terkenal egaliter dan blak-blakan.

Jumlah penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2007 adalah 1.165.720 jiwa, dan 604.810 di antaranya adalah perempuan.

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Perempuan Usia 15 sampai dengan 44 Kabupaten Jombang Tahun 2007

No Kelompok Usia (Tahun) Jumlah Penduduk Perempuan 1 15 - 19 64.654 2 20 - 24 52.614 3 25 - 29 51.390 4 30 - 34 50.475 5 35 - 39 47.195 6 40 - 44 39.343 JUMLAH 305.771 Jumlah perempuan yang potensial menjadi ibu mengandung dan

mengasuh bayi adalah sebanyak 305.771 jiwa.

Mereka memiliki tingkat pendidikan tertentu. 64.654 orang di antara mereka berada di usia SLTA. Statistik menunjukkan, dikurangi usia aktif SLTA tersebut, maka tingkat pendidikan terbanyak yang dimiliki oleh perempuan Jombang dengan usia potensial utuk mengandung dan mengasuh bayi adalah SLTA. SLTP menunjukkan terbanyak kedua, disusul dengan universitas dan diploma.

(42)

Tabel 2.2 Tingkat Pendidikan Perempuan Kabupaten Jombang Tahun 2007

Jumlah Penduduk Tingkat Pendidikan No 90.722 SLTP 1 64.594 SLTA 2 3.508 AK/ DIPLOMA 3 7.742 UNIVERSITAS 4 305.771 JUMLAH

2. Karakteristik Perempuan Jombang

Perempuan warga Jombang pada umumnya adalah perempuan yang aktif dan terbuka. Tentu saja, setiap individu berbeda watak dan sifat. Perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku sehari-harinya. Namun, sebagaimana umumnya orang Jawa Timur, perempuan Jombang memiliki karakteristik terbuka dalam berpikir maupun berbicara. Dan dengan tradisi yang terjadi di Jombang, perempuan memiliki kesempatan untuk menjadi aktif, terbuka dan menjadi pemimpin.

Keterbukaan berpikir dan andil signifikan perempuan dalam kepemimpinan di Jombang dapat dilihat melalui fenomena keorganisasian dan Saat ini, banyak perempuan Jombang yang berkiprah mendirikan atau aktif dalam organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, baik yang berfokus pada masalah keperempuanan maupun tidak. Diantara lembaga yang berperspektif perempuan dan dikelola oleh perempuan adalah Jombang Care Center, yang fokus pada kesejahteraan keluarga, Jombang Women Center, yang menengani kekerasan terhadap

(43)

perempuan, maupun kelompok anti diskriminasi dan prostitusi Jombang yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang terkait, dan sebagainya.

Isu tentang kesetaraan untuk perempuan Jombang baik dalam hal pendidikan, kesejahteraan keluarga, maupun politik senantiasa menjadi wacana dalam berbagai diskusi dan proses pengambilan keputusan di berbagai organisasi. Salah satu contoh adalah Lakspedam NU Jombang yang selalu mengangkat dan mendiskusikan kondisi riil yang sedang dihadapi perempuan Jombang dalam berbagi sektor melalu acara radio di Surga FM.

Di Kabupaten Jombang, tersebar banyak pesantren untuk santri anak-anak sampai dengan santri lanjut usia. Yang paling menonjol adalah empat pesantren besar yang telah berdiri sejak lama. Pendiri empat pesantren tersebut adalah para ulama yang kemudian dengan teman-temannya mendirikan Nahdlatul Ulama.

Empat pesantren tersebut tersebar di empat penjuru kecamatan yang bersebelahan dengan Kota Jombang. Di sebelah utara, ada Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras yang berada di Kecamatan Tembelang. Pesantren di sebelah timur Kota Jombang adalah Pesantren Darul Ulum, Peterongan. Pesantren Tebuireng terletak di Kecamatan Seblak, di sebelah selatan. Di sebelah barat, masih di Kecamatan Jombang, terdapat Pesantren Mambaul Maarif Denanyar.

(44)

Hasbullah, istri Kyai Bisri Syansuri dan adik dari Kyai Wahab Hasbullah. Kedua Kyai tersebut merupakan pendiri nahdlatul Ulama. Sejarah ini menunjukkan bahwa perempuan di jombang telah menunjukkan tajinya, terutama dalam pengembangan sumber daya perempuan lain.

Sampai sekarang, pesantren mempengaruhi hajat hidup warga Jombang di berbagai aspek. Aspek pendidikan, sosial, ekonomi, sampai dengan politik sangat tergantung pada pesantren. Karena jumlah pesantren yang banyak, hampir semua warga Jombang adalah warga yang hidup di sekitar pesantren.

Bagaimanapun, sifat berjuang dan terbuka pada individu perempuan Jombang sangat tergantung pada sifat, watak dan pengetahuannya. Perilaku perempuan akan berbeda satu sama lain. Jika pada dasarnya seorang perempuan adalah pesimis, tertutup dan pasif, maka dia akan melaksanakan pencarian informasi dengan cara yang sangat berbeda dengan perempuan yang optimis, terbuka, dan aktif.

3. Sumber Informasi untuk Ibu Mengandung dan Mengasuh Bayi

Untuk kepentingan pencarian informasi, perempuan termasuk ibu mengandung dan mengasuh bayi di Jombang bisa memanfaatkan banyak sumber informasi. Fasilitas-fasilitas maupun sumber informasi yang siap dan sesuai untuk diakses telah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten, Organisasi-organisasi Masyarakat, maupun Pengusaha Usaha Kecil Menengah di lingkungan Kabupaten Jombang.

(45)

Bagi warganya, Pemerintah Kabupaten Jombang menyediakan fasilitas hotspot untuk mengakses internet secara gratis. Fasilitas tersebut disediakan sejak Juli 2007. Fasilitas tersebut diposisikan di tempat-tempat strategis; alun-alun, kebun rojo (tempat rekreasi keluarga di Jombang), kantor-kantor pemerintahan, dan beberapa sekolah.

Agar warganya bisa mendapatkan informasi terbaru seputar kegiatan pemerintah dan situasi yang terjadi di Kabupaten Jombang, Pemerintah Kabupaten menyajikan situs Jombangkab.go.id. Situs tersebut merupakan sumber informasi mengenai kegiatan Pemerintah Kabupaten Jombang beserta semua dinas maupun badan lain di bawah naungan Pemerintah Kabupaten. Situs ini juga menyediakan fasilitas tanya-jawab untuk ibu mengandung dan mengasuh bayi, yaitu tentang masalah kesehatan anak dan kesehatan reproduksi.

Salah satu dinas yang erat kaitannya dengan informasi yang umum dibutuhkan oleh perempuan hamil dan mengasuh bayi adalah Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan secara kontinyu memperbaharui isi situs sesuai dengan program yang mereka jalankan. Banyak sekali informasi tentang kesehatan ibu dan bayi dan program-program kesehatan yang dicanangkan untuk kepentingan ibu dan bayi.

Selain aktif menyediakan informasi melalui internet, Dinas Kesehatan juga aktif dalam menyebarkan layanan informasi kesehatan.

(46)

dan mengasuh bayi adalah layanan informasi kesehatan dan layanan kesehatan yang disediakan melalui puskesmas. Para ibu mengandung dan mengasuh bayi di Jombang bisa mengakses ahli gizi, bidan, dokter kandungan sampai dengan dokter anak di puskesmas.

Lembaga penyedia informasi lain adalah Perpustakaan Mastrip. Perpustakaan ini terletak di Kota Jombang. Perpustakaan Mastrip menyediakan banyak sumber informasi berupa buku yang berhubungan dengan keperluan keluarga. Perpustakaan ini membuka peluang selebar-lebarnya bagi ibu mengandung dan mengasuh bayi di Jombang untuk memperkaya informasi dalam menjalani peran dan tanggung jawab mereka sehari-hari di Jombang.

Taman bacaan yang berorientasikan keuntungan banyak tersebar di penjuru Kabupaten Jombang. Kebanyakan dari taman-taman bacaan tersebut menyewakan komik dan novel. Namun, ada juga taman bacaan yang menyediakan buku-buku psikologi populer, sosial populer, dan majalah-majalah berbagai genre yang bisa dimanfaatkan oleh para ibu mengandung dan mengasuh bayi. Keberadaan taman bacaan tersebut merupakan salah satu sebab sedikitnya toko buku, dimana untuk mengakses informasi, sesorang harus mengeluarkan biaya lebih dengan membeli buku daripada menyewa.

(47)

E. Kerangka Berpikir Penelitian

Asumsi dasar dari penelitian ini adalah bahwa perempuan memiliki suatu dorongan untuk berusaha memberi yang terbaik untuk anak atau calon anaknya. Usaha tersebut menimbulkan kebutuhan informasi. Kebutuhan tersebut memicu kegiatan pencarian informasi yang berkaitan secara aktif maupun tidak. Pencarian informasi tersebut dilaksanakan dari berbagai sumber. Dalam pencarian informasi tersebut, para perempuan akan mengalami berbagai hambatan.

Informasi merupakan objek yang dibutuhkan oleh perempuan hamil atau sedang mengasuh bayi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam perannya sebagai perempuan hamil maupun mengasuh bayi. Kebutuhan informasi merupakan informasi yang ingin ataupun seharusnya didapatkan berkenaan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi oleh perempuan objek penelitian.

Sumber informasi adalah media terekam (baik cetak maupun elektronik), lembaga, individu, maupun lembaga yang bisa menyajikan atau menyampaikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi para perempuan objek penelitian. Pencarian informasi merupakan upaya yang dilaksanakan oleh para perempuan untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Sedangkan, hambatan dalam pencarian informasi adalah hal-hal yang dianggap mengganggu maupun menghalangi kelancaran dan kesuksesan pencarian informasi dan pemanfaatan informasi yang telah

(48)

Dalam penelitian ini, keempat hal tersebut (kebutuhan informasi, sumber informasi, pencarian informasi, dan hambatan dalam pencarian informasi) merupakan faktor-faktor yang mengindikasikan perilaku pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan karakeristik unik Kabupaten Jombang, maka Berpedoman pada konsep tersebut, para ibu hamil dan mengasuh bayi pun memiliki perilaku yang unik dalam pencarian informasi. Dengan demikian, penulis bermaksud meneliti kebutuhan informasi yang berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi dan perilaku pencarian informasi oleh perempuan yang sedang mengalaminya, yaitu perempuan hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini meghasilkan data deskriptif yang berasal dari perkataan dan tingkah laku informan. Selanjutnya, data tersebut diteliti untuk memperoleh gambaran yang sesuai dan komperhensif tentang kebutuhan dan perilaku pencarian informasi informan.

A. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah perempuan hamil atau mengasuh bayi yang berdomisili di Kabupaten Jombang. Objek penelitian adalah kebutuhan dan perilaku pencarian informasi para perempuan tersebut tentang kehamilan dan pengasuhan bayi.

B. Lokasi dan waktu Penelitian

Lokasi Penelitian adalah Kabupaten Jombang. Waktu pelaksanaan penelitian adalah Mei sampai dengan Desember 2007.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini berkaitan erat dengan 2 jenis data yang diambil, yaitu:

(50)

1. Data primer

Data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Dalam penelitian ini data dapat diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian dengan cara wawancara kepada informan serta hasil wawancara dengan staf dinas kesehatan dan individu-individu yang dinilai kompeten dalam memberikan informasi yang sesuai.

2. Data sekunder

Data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Data tersebut berupa dokumen, jurnal, arsip, maupun profil kesehatan Kabupaten Jombang yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

D. Informan Penelitian

Lima informan merupakan sumber data primer dalam penelitian ini. Pemilihan informan adalah berdasarkan pemilihan sampel bertujuan. Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah perempuan yang dianggap bisa menyampaikan informasi yang mantap dan terpercaya untuk penelitian ini. Selain itu, informan juga harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu:

1. mengalami masa kehamilan pada tahun 2007.

2. berdomisili dan melaksanakan kegiatan sehari-hari di Kabupaten Jombang.

(51)

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

1. Wawancara

Dalam penelitian ini, wawancara yang dilaksankan adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara dilaksanakan berdasarkan panduan yang telah disusun (lampiran 1). Pelaksanaan wawancara adalah terhadap satu informan pada satu waktu. Wawancara dilaksanakan secara bertatap muka. Lokasi wawancara di tempat tinggal informan atau di rumah orang tua informan. Durasi rata-rata per wawancara dengan informan adalah 40 menit.

Tabel 3.1. Kisi-kisi wawancara

No Variabel Sub variabel Keterangan 1 Kebutuhan

informasi Kebutuhan informasi kehamilan

Ditanyakan pada

pertanyaan no 1 & 5, dan dikonfirmasi pada A.1 pada panduan wawancara Kebutuhan

informasi pegasuhan bayi

Ditanyakan pada pertanyaan 2 & 5, dan dikonfirmasi pada A.2 pada panduan wawancara 2 Sumber

informasi Sumber informasi terekam

Ditanyakan pada

pertanyaan no 2 & 4 dan dikonfirmasi pada B.1 & B.2 pada panduan wawancara Sumber informasi formal Ditanyakan pada

pertanyaan no. 2 & 4, dan dikonfirmasi pada B.3 & B. 4 pada panduan

wawancara

(52)

B.9 pada panduan wawancara

3 Pencarian

informasi Ditanyakan pertanyaan no. 2 & 4 pada pada panduan wawancara 4 Hambatan pencarian informasi Hambatan ketika sedang melaksanakan pencarian informasi Ditanyakan pada pertanyaan 6 pada panduan wawancara dan dikonfirmasi pada C

2. Dokumentasi kepustakaan

Peneliti mempelajari dokumen-dokumen untuk memperkaya data dan informasi untuk penelitian ini. Dokumen tersebut meliputi profil kesehatan Kabupaten Jombang, laporan pelayanan informasi kesehatan Kabupaten Jombang, dan berbagai artikel dari situs, koran, maupun jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Peneliti menggunakan dokumen-dokumen tersebut sebagai data sekunder yang mendukung pembahasan atas interpretasi hasil wawancara.

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tahapan analisis data kualitatif sebagaimana yang dinyatakan oleh McDrury dalam Moleong (2007: 248). Tahapan analisis yang peneliti lakukan adalah:

1. membaca/ mempelajari data hasil wawancara dan pengamatan, menandai kata-kata kunci yang berkaitan menunjukkan perilaku pencarian informasi.

(53)

3. menggambarkan model perilaku pencarian informasi yang dilaksanakan oleh informan.

(54)

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Karakteristik Informan

Lima perempuan telah menjadi informan dalam penelitian ini. Berikut ini adalah gambaran profil kelima informan tersebut. Dengan persetujuan informan, nama yang digunakan untuk mewakili informan adalah nama panggilan yang tidak biasa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Urutan penyebutan informan di bawah ini adalah sesuai dengan urutan wawancara.

1. Gambaran Karakteristik Informan Ana

Informan pertama ini adalah seorang ibu rumah tangga. Informan ini merupakan lulusan SLTP. Meskipun demikian, informan juga merupakan guru mengaji di sebuah pesantren di daerah pinggir Kota Jombang.

Informan Ana berasal dari Blora, Jawa Tengah. Sejak sebelum menikah, informan ini telah berdomisili di Kabupaten Jombang. Informan ini telah berdomisili di Kabupaten Jombang selama 14 tahun.

Informan Ana telah menikah selama 9 tahun. Dia dan suaminya memiliki dua orang anak, berusia 8 tahun dan 4,5 tahun. Tahun 2007, pada usianya yang ke 32, informan ini sedang mengandung anak ketiganya. Usia kehamilannya pada awal Desember 2007 adalah 3,5

(55)

bulan. Ana dipilih sebagai informan dalam penelitian ini karena pengalamannya dalam menjalani tiga kali kehamilan dan satu kali kelahiran di Kabupaten Jombang.

2. Gambaran Karakteristik Informan Alus

Informan Alus juga seorang ibu rumah tangga. Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga diambil sejak awal kehamilan anak pertama. Kini, informan Alus telah melahirkan dua anak pertamanya, yang keduanya adalah perempuan. Usia keduanya di awal Desember 2007 telah mencapai tujuh bulan.

Informan Alus berusia 28 tahun. Suaminya bekerja sebagai pegawai sebuah Bank di Kabupaten Jombang. Informan Alus lahir di Jombang dan sampai saat ini masih tinggal di Jombang. Informan ini pernah untuk sementara berdomisili di luar Kabupaten Jombang, yaitu selama empat tahun ketika dia menyelesaikan pendidikan S-1nya di Jember, Jawa Timur.

Alasan peneliti untuk melibatkan Alus sebagai informan dalam penelitian ini adalah:

1. lingkungan informan yang mendukung tergalinya berbagai informasi tentang kehamilan dan pengasuhan bayi bagi informan. Informan saat ini tinggal bersama ibunya yang seorang bidan dan membuka praktik di rumah.

(56)

2. Alus telah lama berdomisili di Jombang, sehingga peneliti berasumsi bahwa Alus mengenal dan terbiasa dengan kondisi serta situasi Jombang.

3. Gambaran Karakteristik Informan Anis

Informan Anis juga seorang ibu rumah tangga. Informan ini berusia 32 tahun. Informan lulusan SLTA ini memiliki suami yang berprofesi sebagai satpam. Mereka telah berumah tangga selama lebih dari 15 tahun.

Hingga kini, pasangan tersebut telah dikaruniai 3 orang anak. Jarak usia antara satu anak dan lainnya cukup jauh. Anak pertama berusia 14 tahun. Anak kedua berusia 8 tahun dan anak ketiganya berusia 6 bulan.

Anis adalah seorang ibu yang dekat dengan anak-anaknya. Informan sangat memperhatikan anak-anaknya. Peneliti memandang informan tersebut memperhatikan informasi yang bisa mendukung perkembangan anaknya dari berbagai segi. Oleh karenanya, Anis dipilih sebagai informan dalam penelitian ini.

4. Gambaran Karakteristik Informan Muna

Informan ke empat adalah Muna. Usia informan ini adalah 31 tahun. Informan Muna bersuamikan seorang guru Sekolah Menengah Atas.

(57)

Mereka memiliki 2 orang anak. Seorang putri berusia 19 bulan, dan seorang putra berusia 4 bulan.

Sebagai seorang dokter umum yang pegawai negeri, sehari-hari informan Muna praktik di Puskesmas di sebelah timur Kota Jombang. Selain itu, pada sore atau malam hari dan akhir pekan, informan ini juga bertugas di beberapa rumah sakit swasta di Kabupaten Jombang.

Muna dipilih menjadi informan karena memiliki latar belakang medis. Dengan demikian, peneliti melihat informan sebagai seorang yang kompeten dalam memberikan informasi tentang pencarian informasi kehamilan dan kelahiran, berdasarkan pengalaman informan sebagai pencari informasi kehamilan dan pengasuhan bayi maupun pengalaman informan dalam mengamati dan mengahdapi perilaku pencarian informasi ibu hamil dan mengasuh bayi di lingkungan tempat kerjanya.

5. Gambaran Karakteristik Informan Ida

Informan terakhir adalah informan Ida. Informan Ida berusia 36 tahun. Informan Ida merupakan seorang guru Sekolah Dasar. Sampai saat ini, pendidikan terakhir informan ini adalah strata satu.

Informan Ida memiliki dua anak. Anak pertama telah berusia hampir 5 tahun dan anak yang kedua baru lahir pada akhir Agustus 2007. Sebelum mengandung anak pertama, informan Ida mengalami keguguran.

(58)

memiliki pengalaman yang membuatnya lebih menjaga dan memperhatikan kehamilan, sehingga memacu perilaku pencarian informasi untuk membuat keputusan-keputusan yang diperlukan.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini, peneliti menguraikan interpretasi dari hasil temuan penelitian. Interpretasi didasarkan pada tinjauan literatur yang telah dibahas pada bab II. Selain dari hasil wawancara dengan informan, pembahasan ini juga didukung oleh data-data primer dan sekunder lain yang terkumpul ketika penelitian dilaksanakan. Bagian-bagian dari sub bab ini merupakan jawaban dari anak pertanyaan penelitian dan pada akhirnya merupakan jawaban pertanyaan penelitian.

1. Kebutuhan Informasi

Sub sub bab ini merupakan uraian jawaban dari anak pertanyaan penelitian nomor satu. Secara berurutan, sub sub bab ini tersusun atas kebutuhan informasi kehamilan dan kebutuhan informasi pengasuhan bayi.

Tabel 4.1 Daftar Kebutuhan Informasi Kehamilan dan Pengasuhan Bayi Informan

No Jenis kebutuhan informasi Detail kebutuhan informasi Persiapan kehamilan

Cara hamil bayi dengan jenis kelamin tertentu

Jenis kelamin janin Kesehatan ibu dan janin

1 Kebutuhan informasi

kehamilan

(59)

Makanan yang harus dikonsumsi ibu hamil

Mempersiapkan bayi cerdas

Stimulasi ibu hamil agar janin tumbuh jadi bayi yang cerdas

Penyakit dalam kehamilan Kehamilan risiko tinggi

persiapan persalinan, tempat, waktu dan biaya persalinan

Tumbuh kembang janin Doa

Cara meringankan rasa tidak nyaman pada masa kehamilan

Senam hamil: kelas, waktu dan biayanya

Selulit

Pemulihan kesehatan dan stamina pasca persalinan

Perawatan bayi baru: memandikan, memakaikan popok, bedong

Sterilitas dalam perawatan bayi Orang yang membantu merawat bayi Imunisasi: jenis dan kegunaan Imunisasi: waktu, tempat dan biaya Tumbuh kembang bayi

Perkembangan berat badan dan tinggi bayi

Pertumbuhan gigi

Perkembangan motorik dan bahasa bayi

Perkembangan kecerdasan bayi Gizi bayi

Pola makan dan makanan yang harus diberikan

Cara mendidik anak

Pengalaman ibu lain dalam pengasuhan bayi dan kabar bayi lain Doa

2 Pengasuhan Bayi

Informasi khusus, tergantung situasi dan kondisi yang sedang dialami pencari informasi

(60)

a. Kebutuhan informasi Kehamilan

Sesuai dengan hasil penelitian Levy (1998) tentang pencarian informasi kehamilan, perempuan yang menjadi informan dalam penelitian ini juga menunjukkan perhatian terhadap informasi yang berhubungan dengan cara melindungi kepentingan janin dan diri sendiri. Kebutuhan informasi informan muncul karena mereka menginginkan yang terbaik bagi janin yang dikandungnya. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan informan Ana:

“…seng jenenge meteng pertama yo mbak yo seng terbaik gawe aku ambek bayiku yo pengen ero (yang namanya anak pertama ya mbak, yang terbaik untukku dan bayiku ya aku ingin tahu)” (Ana).

Informan menemukan kebutuhan informasi tentang kehamilan bahkan sebelum mereka mengalami kehamilan. Informan membutuhkan informasi tentang persiapan kehamilan. Sebelum mengalami kehamilan, informan perlu mengetahui hal-hal yang akan dihadapi dalam kehamilan. Terkadang, mereka juga menginginkan informasi mengenai trik mendapatkan bayi dengan jenis kelamin tertentu.

”sejak sebelum kehamilan juga sudah berpikir tentang itu.. tentang gimana caranya dapatkan anak laki-laki atau perempuan.. gitu...”(Muna).

Informan yang menyadari kebutuhan informasinya sejak sebelum kehamilan adalah mereka yang telah merencanakan kehamilan. Kehamilan adalah hal yang mereka inginkan, dan mereka menantikan saat mereka mengalaminya. Oleh karenanya, mereka menyadari bahwa

Gambar

Gambar 2.1. Model Konseptual Praktik Informasi Dua Dimensi
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Perempuan Usia 15 sampai dengan 44  Kabupaten Jombang Tahun 2007
Tabel 2.2 Tingkat Pendidikan Perempuan   Kabupaten Jombang Tahun 2007
Tabel 3.1. Kisi-kisi wawancara
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berikut ini yang bukan merupakan cara pembuatan sistem koloid dari larutan adalah …B.

Untuk memperoleh laba yang lebih besar, maka perusahaan haruslah membuat rencana yang baik dalam menentukan pemilihan metode apa yang tepat dalam melakukan penilaian persediaan.

Analisis pemberian kredit oleh pihak bank, dilakukan dengan seoptimal mungkin untuk menghindari kemungkinan kredit yang diberikan tersebut mengalami kemacetan Tujuan dari penulisan

: (3490042) Pekerjaan Konstruksi Pembangunan / Rehabilitasi Kamar Mandi dan Doorlop Balatkop dan UMKM Provinsi Jawa Tengah..

Salah satu perbedaan antara usaha Patin Air Batu dengan jenis usaha lainnya adalah pola penjualan yang tidak hanya dilakukan kepada pengepul (pembeli pertama) dan

There are prescriptive law to maintain the existence of traditional markets in Indonesia, which optimizes the concept of ownership as a form of common ownership and optimize

Setelah mempelajari karakteristik perusahaan AMDK, penelitian ini mengembangkan pengukuran sumberdaya fisik yang lebih sepesifik sesuai dengan karakteristik perusahaan AMDK

Dengan menjadi tauladan yang baik bagi peserta didiknya, maka. peserta didik akan mulai meniru perilaku