• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. koleksi pribadi, keluarga bangsawan atau institusi seni. Barang yang dipamerkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. koleksi pribadi, keluarga bangsawan atau institusi seni. Barang yang dipamerkan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Museum tradisional di Eropa pada awalnya merupakan tempat pameran koleksi pribadi, keluarga bangsawan atau institusi seni. Barang yang dipamerkan berupa benda yang dianggap antik, aneh dan unik. Benda-benda tersebut kemudian dipamerkan sesuai keinginan atau selera pemilik dengan nama “wonder rooms” atau “cabinets of curiosities” (Jonker, 2008: 13-14). Pameran ini bertujuan untuk menaikkan citra pemiliknya dan dengan sendirinya museum hanya dinikmati oleh kalangan mereka sendiri. Museum yang awalnya hanya terbuka bagi kalangan tertentu yaitu kalangan pemilik, namun pada perkembangannya museum terbuka untuk umum (Magetsari, 2011: 17).

Museum modern muncul dari kebutuhan masyarakat sebagai warga negara baru akan identitas, dalam hal ini identitas budaya. Museum tradisional hanya berfungsi membuka koleksinya kepada publik, namun museum modern memberi makna baru dalam membangun hubungan dengan publiknya. Hubungan ini muncul dari fungsi museum yang menjadi ikon budaya dengan misi khusus membekali masyarakat dengan identitas, mensejahterakan mereka melalui stabilitas budaya. Misi ini dapat tercapai dari koleksinya yang otentik dan permamen sehingga dapat diinterpretasikan menjadi narasi budaya maupun

(2)

2 sejarah bangsa, yang kemudian disajikan sebagai nilai simbolik (Magetsari, 2011: 19-20).

Museum mengalami perkembangan baik fungsi maupun peranannya. Dilihat dari pengertian museum menurut ICOM (International Council of Museum, 2006: 14).

“A museum is a non-profit making permanent institution in the service of society and of its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, the tangible and intangible evidence of people and their environment.”

Dalam konteks komunikasi, museum memiliki dua fungsi yaitu museum sebagai presentasi dari hasil penelitian koleksi yang dilakukan kurator ke dalam katalog, artikel, konferensi, dan pameran. Museum sebagai penyedia informasi tentang objek dalam koleksi berupa pameran permanen dan informasi yang berhubungan dengan pameran. Penafsiran ini melihat pameran baik sebagai bagian integral dari proses penelitian dan sebagai unsur dalam sistem komunikasi yang lebih umum termasuk misalnya, publikasi ilmiah. Reinwardt Academie di Amsterdam, menyebutkan tiga fungsi museum yaitu: pelestarian (termasuk akuisisi, konservasi dan pengelolaan koleksi), penelitian dan komunikasi. Komunikasi itu sendiri meliputi pendidikan dan pameran (Desvallées, 2010: 20).

Menurut Akbar (2010: 2), pengertian museum adalah sebagai tempat menyimpan koleksi baik alam maupun budaya dan aktivitas yang bertujuan untuk dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat umum. Lebih lanjut Akbar (2010) menjelaskan bahwa museum dapat berupa ruangan, anjungan keraton,

(3)

3 istana, benteng, kompleks makam, rumah adat, rumah pribadi, tempat bersejarah, monument, laboratorium pusat atau unit atau tempat apapun sepanjang pengelolanya menyebutnya sebagai museum. Tempat tempat tersebut dapat saja berbadan hukum ataupun tidak dan dapat saja dikelola oleh pemerintah, ataupun perusahaan, perorangan, organisasi resmi, perkumpulan mandiri, dan lainnya (Akbar, 2010: 2).

Perngertian museum juga dikemukakan oleh Gail dan Bary Lord menyatakan bahwa “museums are means of communication. They communicate the meanings of nature and humanity past and present to their visitors today and tomorrow. Comprised of the three-dimensional objects housed in Lrge buildings, they seem very different from all the other communication media, but in fact they have been and remain very successful participants in the communications revolution” (Lord, 2012: xxvii)

Pengertian di atas menunjukkan bahwa museum merupakan media komunikasi antara kehidupan manusia masa lalu dan masa sekarang untuk pengunjung saat ini dan yang akan datang. Museum terus menerus mengalami perubahan dan koleksi terus bertambah, sehingga perlu renovasi berupa perluasan ruang konstruksi dan fasilitas baru. Museum bukan lagi hanya menjadi peserta dalam revolusi komunikasi tetapi juga harus memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi seperti pameran online dan penggunaan media sosial. Jadi museum sebuah "meta-komunikasi" menengah, mengkomunikasikan warisan alam dan budaya dan seni kontemporer dengan bantuan media komunikasi yang paling maju saat ini. (Lord, 2012: xxvii).

(4)

4 Lord dan Lord (2001 dalam Tanudirjo, 2008), menyatakan bahwa fungsi museum yaitu mengumpulkan benda-benda yang bernilai, melestarikan dan melindunginya, lalu meneliti koleksi tersebut, dan akhirnya menjadi sarana pendidikan. Dari fungsi museum tersebut koleksi yang dikumpulkan dan dilestarikan, bertujuan sebagai sarana pendidikan atau sumber informasi bagi pengunjung museum. Untuk memberikan informasi mengenai koleksi museum maka museum membuat pameran yang bertujuan untuk mengkomunikasikan koleksi museum kepada masyarakat atau pengunjung museum.

Pameran dibuat dan dipersiapkan oleh tim kurator museum. Kurator adalah seorang ahli yang bertanggung jawab mengelola koleksi museum. Tugas seorang kurator adalah membantu lembaga tempatnya bekerja untuk mendapatkan, mengurus, merawat, menjaga, mencatat, mengatalogkan, mensahihkan dan menafsirkan benda-benda koleksi. Dalam melakukan tugasnya, seorang kurator harus mampu menelusuri dan melakukan penelitian yang mendalam atas asal-usul dan otensitas benda-benda yang akan menjadi koleksi. Selain itu, dia juga harus mampu memberikan saran-saran mengenai nilai barang, cara pengepakan dan pengangkutan, cara penyimpanan dan perawatan, serta cara penyajian, penempatan, dan pemajangan benda-benda koleksi tersebut. Seorang kurator harus mampu menyebarluaskan pengetahuan mengenai benda-benda koleksi yang ditanganinya kepada khalayak umum maupun khusus melalui pameran dan penerbitan karya-karya tulis yang relevan dengan bidang yang ditanganinya (Tim Penulis, 1995).

(5)

5 Melalui museum, pesan dan makna yang dikandung oleh koleksi yang dipamerkan dapat disampaikan kepada masyarakat. Karya manusia yang menjadi koleksi museum dapat memberikan pengetahuan dan bayangan tentang berbagai aktivitas yang terkait dengan koleksi yang pada akhirnya dapat memberikan dorongan munculnya kesadaran untuk menghargai karya budaya manusia serta memberi inspirasi yang berguna bagi pengunjung serta memberi dampak yang besar bagi suatu perkembangan masyarakat.

Kajian pengunjung museum terhadap museum asal Belanda penting untuk dilakukan untuk mengetahui bagaimana museum tersebut dalam memberikan informasi mengeani Indonesia (bekas negara jajahan Belanda). Kajian mempunyai makna mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan pengunjung, yang berkenaan dengan motivasi, persepsi, karakteristik, perilaku dan nilai yang dimilikinya. Tujuan dari kajian pengunjung ini adalah untuk mendapat informasi, pesan, kesan, dan pengalaman yang diperoleh pengunjung, setelah mendatangi suatu museum, baik dalam rangka mengisi waktu luang keluarga, rekreasi atau hiburan maupun dalam rangka pendidikan dan penelitian (Nasution, 2011).

Penelitian tentang kajian pengunjung museum berkenaan dengan latar belakang pemilihan koleksi dan pesan yang ingin disampaikan museum kepada pengunjung museum, akan lebih tepat jika dilakukan pada museum di Belanda salah satunya adalah di Tropenmuseum. Pemilihan Tropenmuseum sebagai tempat penelitian, dengan tujuan melihat bagaimana koleksi asal Indonesia yang pada awalnya merupakan negara jajahan Belanda dipamerkan dan disuguhkan kepada

(6)

6 pengunjung museum. Tropenmuseum adalah museum etnografi pertama di Eropa dan merupakan museum Kolonial tertua di Belanda. Tropenmuseum mengangkat tema sejarah penting dalam konteks globalisasi kontemporer dan penajaman perdebatan tentang identitas nasional. Tropenmuseum adalah salah satu museum Eropa yang memiliki koleksi asal Indonesia dalam jumlah yang sangat banyak. Pada awalnya, yaitu pada tahun 1926 terdapat 30.000 objek etnografi, kemudian mengalami perkembangan menjadi 100.000 buah. Koleksi Indonesia masih yang terbesar dan original, masih menempati posisi penting (Van Brakel, 1996: 25). Koleksi Tropenmuseum saat ini berisi lebih dari 254.000 koleksi, terdiri dari 155.000 koleksi budaya material, 89.000 adalah koleksi Fotografi antara lain foto, album, slide, negatif film, dan 10.000 koleksi lainnya berupa citra misalnya gambar, lukisan, dokumen.1

Tropenmuseum mengomunikasikan koleksi mereka dalam bentuk pameran permanen maupun pameran temporer. Dari 254.000 koleksi yang dimiliki Tropenmuseum, ribuan koleksi diantaranya dipamerkan dalam pameran permanen (Schovink, 2005). Salah satu tema pameran permanen tersebut berjudul Southeast Asia: The Spiritual Culture. Dalam tema pemeran ini banyak ditampilkan koleksi yang berasal dari Indonesia.

1

(7)

7 B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang maka timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa yang melatarbelakangi pemilihan koleksi yang dipamerkan di tema pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture?

2. Apa pesan yang ingin disampaikan Tropenmuseum kepada pengunjung melalui koleksi Indonesia yang dipamerkan dengan tema Southeast Asia: The Spiritual Culture?

3. Apakah pesan yang ingin disampaikan Tropenmuseum sampai kepada pengunjung museum?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui latar belakang Tropenmuseum dalam proses memilih koleksi yang mereka tampilkan dalam pameran. Metode dan proses yang dilakukan kurator dalam pemilihan koleksi dapat diketahui dari penelitian ini. Hasil penelitian dapat memberikan pertimbangan bagi museum lain dalam pemilihan koleksi yang akan ditampilkan.

2. Mengetahui metode Tropenmuseum dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada pengunjung. Metode dan cara yang dilakukan Tropenmuseum akan memberikan pandangan baru dalam pemilihan cerita yang terkait pameran, labeling, dan sistem publikasi.

(8)

8 3. Mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh Tropenmuseum sampai kepada pengunjung museum atau tidak. Hasil penelitian akan menujukkan bagaimana kelebihan dan kekurangan metode atau cara penyampaian pesan yang telah dilakukan oleh Tropenmuseum terhadap pengunjung museum.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi kalangan pendidikan dengan minat utama Museologi sebagai pandangan baru dalam kaitannya dengan cara museum mengkomunikasikan pameran museum kepada pengunjung.

2. Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi pihak pengelola museum sebagai bahan masukan dalam melaksanakan pengeloaan dan tatapamer koleksi, berbagai metode komunikasi kepada masyarakat atau pengunjung museum. Hasil penelitian akan memberikan lebih banyak pilihan metode yang terbaik yang bisa diterapkan dalam pengelolaan dan pengkajian koleksi museum.

E. Batasan Penelitian

Tropenmuseum memiliki banyak sekali koleksi yang ditampilkan baik itu pada pameran permanen maupun pameran temporer, banyaknya koleksi yang

(9)

9 ditampilkan maka fokus penelitian yang akan dilakukan berpusat pada koleksi Tropenmuseum pada pameran permanen yaitu bagian Southeast Asia: The Spiritual Culture. Pemilihan tema pameran ini karena pada pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture banyak menampilkan koleksi yang berasal dari Indonesia. Koleksi yang ditampilkan cenderung lebih menampilkan Indonesia dan hanya sebagian kecil koleksi yang berasal dari wilayah negara Asia Tenggara. Koleksi yang diteliti dalam penelitian ini merupakan koleksi pada pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture yang berasal dari Indonesia.

F. Landasan Teori

Maria Piacente dan Barry Lord (2012: 91-99) menyampaikan berbagai tahapan perencanaan pameran yang dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Penelitian; penelitian adalah aktifitas yang sangat mendasar dalam perencanaan sebuah pameran, karena tanpa adanya penelitian tidak akan ada komunikasi pameran yang berarti.

2. Proposal pameran; ide atau gagasan untuk membuat pameran dapat dituangkan ke dalam proposal pameran. Ide proposal pameran dapat muncul dari:

a. mengidentifikasi dari hasil penelitian ke dalam koleksi

b. keinginan lembaga untuk merespon kebutuhan dan kepentingan pemirsa baru dan spesifik

(10)

10 Setelah proposal disetujui maka tahap selanjutnya dalam perencanaan pameran, ada lima tahapan yaitu:

1) Penjelasan ringkas dari kurator untuk mengidentifikasi koleksi yang akan dipamerkan.

2) Perencanaan interpretatif yaitu merencanakan metode komunikasi dengan pengunjung museum. Dalam perencanaan interpretatif ini mendeskripsikan bagaimana pengunjung dapat melihat, mendengar dan mendapatkan pengalaman saat berada di museum. Perencanaan ini juga termasuk:

a) kerangka tematik b) tujuan komunikasi

c) pemilihan koleksi dan sumber daya d) mode penafsiran

e) "wow!" atau pengalaman jangkar

f) gaya belajar pengunjung (visitor learning style) g) ringkasan dari pengalaman pengunjung

3. Perencanaan pameran dan desain 4. Evaluasi

5. Produksi (pembuatan dan instalasi pameran)

6. Operasional pameran (konservasi, program untuk publik, monitoring secara reguler)

(11)

11 Maria Piacente dan Barry Lord (2012: 90) juga menyatakan beberapa kriteria dasar untuk menentukan pameran permanen, temporer, atau virtual. Pameran-pameran tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Pertama, pameran memiliki makna: dalam pameran dibuat dengan maksud tertentu, direncanakan dan dipasang untuk mengekspresikan suatu ide. Kedua, pameran adalah sebuah prinsip dari museum atau institusi untuk berkuminikasi dengan publik. Pengunjung museum selalu mencari tahu tentang misi dan mandat dari museum, jenis penelitian dan pelayanan koleksi museum. Pameran adalah salah satu cara yang paling penting bagi museum untuk membangun hubungan mereka dengan komunitas yang berbeda.

Bary lord (2012: 212) mengemukakan perencanaan pendisplayan koleksi pameran meliputi

1) tujuan apa yang ingin disampaikan oleh museum (communication objective)

2) kepada siapa sasaran yang dituju museum untuk menyampaikan tujuan museum (a target market analysis)

3) cara menyampaikan yang disukai di suatu area (the optimal means of expression).

(12)

12 Joy Bailey (2012: 69) menyampaikan bahwa peran museum ada beberapa

yaitu:

1. mengkomunikasikan misi dan visinya kepada publik 2. meningkatkan visibilitas dari institusi

3. mengelola harapan publik dari institusi 4 menarik jangkauan individu dan kelompok

Secara bersamaan, museum dapat mencari masukan dari komunitas untuk: 1. menemukan kebutuhan masyarakat

2. memahami kesadaran, minat, dan / atau harapan institusi

3. mengukur tingkat minat terhadap alur cerita, tema, dan program 4. mengidentifikasi partnerships, kolaborasi, aktivitas dan program

5. menginformasikan proses perencanaan dengan motivasi pengunjung dan psikografis,

Cara pengumpulan informasi terhadap pengunjung museum adalah: 1. keterlibatan digital, partisipan pengunjung via media elektronik 2. wawancara individual; wawancara individual akan lebih banyak

memberikan informasi tentang harapan pengunjung terhadap museum 3. survei; survei adalah bentuk yang paling umum digunakan untuk mendapat

umpan balik pengujung, survei juga dapat memberikan potensi yang luas pada partisipan dari berbagai tipe pengunjung museum

4. observasi dengan mempertimbangkan persepsi staf museum tentang masyarakat

(13)

13 5. bentuk lain dalam pengumpulan informasi adalah dengan cara percakapan yaitu mencari umpanbalik dari masyarakat tentang hubungan museum dengan masyarakat.

Amy Kaufman (2012: 632) menyatakan informasi penting tentang pengunjung museum

1. motivasi datang ke museum 2. tempat tinggal

3. umur

4. jenis kelamin 5. suku

6. pendapatan

7. datang sendiri, dengan teman atau dengan keluaraga

Falk dan Dierking (2000: 136-140) menyatakan Model Pembelajaran Kontekstual di museum dipengaruhi delapan faktor penting. Kedelapan faktor tersebut dibagi kedalam tiga konteks, yaitu konteks personal, konteks sosiokultural dan konteks fisik.

1. Konteks personal

a. Motivasi dan Ekspektasi; bahwa pengunjung museum telah memiliki motivasi dan ekspektasi tertentu untuk datang ke museum.

(14)

14 b. Pengetahuan awal, minat dan keyakinan; bahwa pengetahuan awal, minat dan keyakinan pengunjung yang menentukan kunjungan ke museum.

c. Pilihan dan kontrol; bahwa pengunjung dapat memperoleh proses belajar yang ideal ketika mereka dapat memilih dan mengontrol apa dan bagaimana mereka belajar di museum.

2. Konteks Sosiokultural

a. Mediasi di dalam kelompok sosiokultural; bahwa sebagian pengunjung datang ke museum sebagai bagian dari kelompok sosial. Setiap kelompok saling membantu dalam menyerap dan mengumpulkan informasi, penciptaan makna, dan menguatkan kepercayaan bersama.

b. Mediasi yang difasilitasi oleh orang lain; bahwa interaksi sosial dengan orang asing di luar kelompok sosial pengunjung juga berpengaruh dalam proses belajar.

3. Konteks fisik

a. Pengaturan dan Orientasi; bahwa pengunjung dapat belajar lebih baik jika mereka merasa nyaman dengan lingkungannya dan mengetahui apa yang mereka harapkan.

b. Desain; bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh desain. Pameran yang memiliki desain yang baik akan menjadi media pembelajaran terbaik dalam proses pemahaman terhadap dunia sekitar.

(15)

15 c. Kegiatan dan pengalaman di luar museum; bahwa pengunjung juga membutuhkan kegiatan pembelajaran di luar museum, sehingga melengkapi kunjungan mereka secara utuh.

G. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai pesan dan latar belakang pemilihan koleksi di Tropenmuseum pada pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture sejauh pengetahuan penulis belum pernah dilakukan. Terdapat banyak tulisan yang membahas mengenai Tropenmuseum, namun belum ada yang terkait langsung dengan pemilihan koleksi dan pesan yang akan disampaikan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

Pada tahun 1987, J.H Van Brakel melakukan pembahasan mengenai peradaban Jawa Kuno berdasarkan koleksi etnografi dari Indonesia yang dipamerkan pada Pameran Budaya Indonesia di Tropenmuseum. Van Brakel membahas tentang pengaruh India yang membentuk peradaban di Jawa Kuno dengan melihat koleksi etnografi dari Indonesia yang terdapat pada pameran Budaya Indonesia. Dengan mendeskripsikan koleksi etnografi yang terpengaruh peradaban India, Van Brakel ingin mendapatkan gambaran mengenai asal-usul peradaban Jawa Kuno (Van Brakel, 1987: 44-55).

Tahun yang sama, Wilhelmina Kal mendeskripsikan koleksi etnografi dari Indonesia yang berakulturasi dengan kebudayaan barat pada pameran Budaya Indonesia. Kal melihat akulturasi yang sudah melekat pada masyarakat

(16)

16 di Indonesia dipaksakan diubah dengan memasukkan kebudayaan barat melalui kekuatan militer. Dengan mendeskripsikan koleksi etnografi pada pameran Budaya Indonesia, Kal mengemukakan akulturasi barat terhadap kerajinan dari Indonesia seperti meja, kursi, perhiasan, gelang, kalung, dan giwang (Kal, 1987: 66-77).

Pada tahun 2008, Pauline Lunsingh Scheurleer melakukan penelitian dengan judul The Well-Known Javanese Statue in the Tropenmuseum, Amsterdam, and Its Place In Javanese Sculpture. Scheurleer meneliti ulang mengenai figur arca yang diidentifikasikan sebagai Raja Anusapati dari Kerajaan Singasari, atau dikenal juga sebagai Anusanãtha (1227-1248), wujudnya didewakan sebagai Dewa Siwa. Arca ini juga diyakini berasal dari Candi Kidal, Jawa Timur. Scheurleer memberikan berbagai bukti mengenai tanggal dan indentifikasi baru terhadap arca tersebut. Hasil penelitian yang diperoleh adalah dalam urutan kronologis, arca tersebut lebih mendekati masa Kerajaan Majapahit awal. Arca ini didentifikasi sebagai pendewaan raja, ratu, atau pengawal Panataran, arca koleksi Tropenmuseum itu kemungkinan dibuat antara tahun 1320 - 1340 (Scheurleer, 2008: 287-332).

Pada tahun 2010, Susan Legene dan Jenneke Van Dijk mengulas representasi pada pameran Hindia Belanda Timur: Masa Lalu Kolonial (Netherland East Indies: a Colonial Past). Berdasarkan objek koleksi yang berupa patung, foto, perabotan, lukisan, dan peralatan perkebunan dari masa kolonial,

(17)

17 mereka membahas aspek kolonialisme Belanda yang tercermin dari koleksi etnografi dalam konteks sejarah, budaya, dan peninggalan kolonialisme (Legene, 2010: 7).

Tahun 2014, Sudarmadi juga membahas koleksi etnogafis etnik Ngadha dan Manggarai yang dimiliki oleh Tropenmuseum. Hasil pembahasannya menunjukkan bahwa cara perolehan dan pemajangan koleksi etnografi dari kedua etnik tersebut yang berasal dari tahun 1900 hingga 1988 sangat dipengaruhi oleh perspektif kolonialisme. Melalui penelitian ini diketahui bahwa dalam perspektif kolonial warisan budaya dari Ngadha dan Manggarai dianggap berasal dari masyarakat yang terbelakang atau primitif (Sudarmadi, 2014: 215-234).

Penelitian pameran Asia Tenggara: Kebudayaan Spiritual, Tropenmuseum sudah pernah dilakukan oleh Sandy Suseno pada tahun 2016. Suseno melakukan penelitian mengenai penyebab perbedaan pemaknaan koleksi dari Indonesia di Pameran Asia Tenggara: Kebudayaan Spiritual, Tropenmuseum, Amsterdam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pemaknaan terhadap koleksi di Tropenmuseum disebabkan oleh tiga hal, yaitu: (1) Proses pengumpulan koleksi yang dilakukan dengan cara melepaskan objek dari konteks sosial budaya objek tersebut berasal, (2) Koleksi yang dipamerkan dimaknai sesuai dengan minat dan keahlian dari kurator, (3) Koleksi yang dimaknai oleh kurator sesuai dengan paradigma keilmuan yang berkembang (Suseno, 2016: 83 - 104).

Fokus pelitian yang dilakukan penulis adalah kajian pengunjung museum terhadap koleksi asal Indonesia yang ditampilkan pada tema pameran Southeast

(18)

18 Asia: The Spiritual Culture. Dalam hal ini penulis ingin mengetahui pesan apa saja yang ingin disampaikan Tropenmuseum dalam pameran tersebut dan apakah pesan yang ingin disampaikan sudah tersampaikan kepada pengunjung museum atau belum.

G. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010: 4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan diarahkan pada latar yang utuh, sehingga tidak mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu kesatuan.

Penggunaan metode penelitian kualitatif pada penelitian ini didasari pertimbangan atas kualitas data yang diperlukan untuk menjawab rumusan masalah. Data yang diperlukan adalah data yang sifatnya mendalam, bukan data yang hanya dilihat pada unsur kuantitas atau jumlahnya saja. Hal demikian dikarenakan penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena secara mendalam, sehingga memerlukan data yang sedalam-dalamnya pula (Krisyantono, 2009: 56). Oleh sebab itu, metode penelitian kualitatif dipilih sebagai metode dalam penelitian ini.

(19)

19 1. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan lebih jelasnya adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi yang dilakukan adalah dengan cara menyusuri alur pameran dan melakukan pengamatan secara langsung dan tiap-tiap penyajian pameran, pengambilan foto koleksi, label dan keseluruhan penyajian pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture. Dari pengamatan ini akan diketahui lebih jelas koleksi asal Indonesia yang dipamerkan, penulisan label dan penempatan koleksi yang dipamerkan.

Observasi juga dilakukan terhadap pengunjung museum, untuk memilih pengunjung yang diberi kusioner. Untuk mengeksplor pengalaman pengunjung digunakan metode spatial tracking study yang menyatakan bahwa pengunjung mengikuti jalur individual tertentu. Spatial tracking study digunakan karena metode ini dapat memberi tahu kita tentang jalur pengunjung yang sesungguhnya dan durasi waktu yang mereka habiskan di museum tersebut (Hein, 1998: 106). Selain itu juga bisa mengetahui pendapat pengunjung mengenai isi pameran dan metode penyampaiannya dalam kaitannya pembelajaran di museum.

b. Angket

Penyebaran angket pada sejumlah pengunjung yang termasuk sebagai subjek penelitian. Pengunjung museum dapat memberikan

(20)

20 gambaran yang jelas mengenai pesan yang mereka dapatkan setelah melihat koleksi yang dipamerkan di Tropenmuseum. Selain itu juga bisa mengetahui pendapat pengunjung mengenai isi pameran dan metode penyampaiannya dalam kaitannya pembelajaran di museum.

Ketentuan pengunjung yang diberikan kuisioner adalah pengunjung remaja dan dewasa yaitu berusia di atas 17 tahun, pengunjung yang melihat koleksi yang ditampilkan di pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture secara seksama yaitu dengan waktu diatas lima belas menit.

Penyebaran angket ini untuk lebih mengetahui keterangan tentang pengunjung museum dan untuk mengetahui karakteristik pembelajaran pengunjung di Tropenmuseum. Hasil kuisioner berperan sebagai data untuk menjawab pesan Tropenmuseum yang sampai kepada pengunjung museum. Pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner dapat dilihat di lampiran.

c. Wawancara

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur kepada kurator Tropenmuseum khususnya dengan kurator Southeast Asia. Kurator dipilih karena kurator yang memiliki pengetahuan penuh atas semua kegiatan tata pamer, menjalankan riset terhadap koleksi museum termasuk penyelenggaraan koleksi yang dipamerkan di Tropenmuseum. Hasil wawancara dapat memberikan data yang akurat mengenai latar belakang pemilihan koleksi yang dipamerkan di

(21)

21 Tropenmuseum dan pesan apa yang akan di sampaikan Tropenmuseum dari pameran tersebut.

d. Dokumen

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2012: 240). Dokumen dalam penelitian ini didapatkan dari buku yang menunjang penelitian dan database komputer, yaitu The Museum System (TMS), TMS merupakan sistem database Tropenmuseum. Di dalam TMS ini terdapat informasi yang berkaitan mengenai koleksi dari Tropenmuseum seperti nama koleksi, asal koleksi, tempat penyimpanan, dan keterangan lainya.

2. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Teknik analisis data kualitatif merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dalam penelitian. Data yang telah diperoleh selanjutnya diorganisasikan dalam kelompok-kelompok data berdasarkan katagori tertentu, dijabarkan, kemudian disusun pada suatu pola tertentu. Data tersebut selanjutnya dipilih mana yang penting dan tidak untuk digunakan sebagai dasar pembuatan kesimpulan. Proses tersebut dilakukan untuk membuat kesimpulan penelitian yang mudah dipahami, baik oleh diri peneliti sendiri maupun bagi orang lain (Sugiyono, 2012: 244).

(22)

22 Kesimpulan pada penelitian kualitatif merupakan temuan baru. Temuan tersebut berbentuk suatu deskripsi atau gambaran objek yang masih belum jelas, sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas (Sugiyono, 2012: 99). Berikut ini adalah tahapan teknik analisis data yang dilakukan penulis untuk menjawab Latar belakang pemilihan koleksi Indonesia pada tema pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture di Tropenmuseum.

Tahap analisis yang dilakukan untuk mengetahui latar belakang pemilihan koleksi adalah sebagai berikut:

a. melakukan analisis dari hasil wawancara dengan hasil observasi, kemudian membandingkan hasilnya dengan keadaan koleksi yang sama dari TMS (The Museum System). Penggunaan TMS ini karena penulis tidak diperkenankan untuk memasuki gudang museum, dan penggunaan TMS dirasa lebih efektif dan informasi tentang koleksi lebih akurat. Hasil analisis ini akan menjawab alasan pemilihan koleksi yang dipamerkan pada tema pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture.

b. untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan Tropenmuseum kepada pengunjung museum adalah dengan membandingkan hasil wawancara dengan kurator mengenai storyline, pesan yang ingin disampaikan tentang Indonesia dengan koleksi yang ditampilkan dalam tema pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture.

c. melakukan analisis pesan yang disampaikan Tropenmuseum kepada pengunjung museum sampai atau tidak dengan cara membagikan kuisioner

(23)

23 kepada pengunjung museum. Hasil kuisioner kemudian di analisis untuk menjawab pertanyaan pesan kepada pengunjung museum sudah sampai kepada pengunjung museum atau belum.

5. Kesimpulan

Pada bagian ini, hasil penelitian berupa latar belakang pemilihan koleksi Indonesia dalam tema pameran Southeast Asia: The Spiritual Culture, pesan yang ingin disampaikan Tropenmuseum dan pesan yang sampai kepada pengunjung museum akan digunakan untuk merumuskan saran.

1 Http://www.Saatchigallery.Com.7M

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

Dengan cara ini otomatis mesin- mesin atau robot pengganti tenaga manusia tadi semakin banyak diciptakan dan digunakan.Pembakaran-pembakaraan yang ditimbulkan dari energi

Di satu sisi produk berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di

a ) How have you identified areas of your company’s operations where specialized training is required to deal with potential hazards? Please itemize and provide details

Franco Modigliani, Michael G Ferry, 2003, Foundations of Financial Market and Institution, New Jersey, Printice Hall Inc, hlm 76.. 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan

Kegiatan penelitian merupakan bagian dari pendidikan pada sebuah institusi pendidikan tinggi. Kegiatan ini pada umumnya merupakan tuntutan dari institusi untuk dilakukan

ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah sebuah rahmat bagi manusia dan alam semesta peristiwa itu bisa dilihat dari pembebasan kota makkah dangan segala kemenangan yang telah

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan