Analisis hukum acara Pidana Islam dan hukum acara pidana di Indonesia terhadap kekuatan pembuktian saksi testimonium de auditu: studi direktori putusan nomor 08/pid.b/2013/pn-gs.
Teks penuh
Dokumen terkait
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kesaksian yang diberikan oleh penyandang disabilitas dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah apabila ditinjau dari
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan, bahwa bukti elektronik dalam hukum acara pidana berstatus sebagai alat bukti yang berdiri sendiri dan alat bukti yang tidak berdiri sendiri
Dalam Rancangan Undang-Undang Tentang Hukum Acara Pidana (atau biasa disebut RUU KUHAP) pasal 175 ayat (1) huruf c disebutkan bahwa bukti elektronik merupakan alat bukti yang
Dalam hukum pembuktian, suatu alat bukti dikatakan sebagai alat bukti yang sah adalah tidak hanya alat bukti tersebut diatur dalam suatu undang- undang
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa peranan alat bukti dalam hubungannya dengan aturan pembuktian dalam Hukum Acara Pidana sebagai alat bukti sah
Bukti perzinaan dalam hukum pidana Islam masih menggunakan alat bukti yang dirumuskan oleh jumhur ulama klasik yaitu pengakuan, persaksian minimal empat orang laki-laki, dan qarinah kehamilan, akan tetapi alat bukti tersebut tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti utama melainkan hanya alat bukti pendukung terhadap alat bukti pengakuan dan
Salah satu hal penting dalam sidang pengadilan diperlukannya alat bukti, menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut “KUHAP” “alat bukti yang
Keterangan terdakwa; Berdasarkan teori pembuktian dalam hukum acara pidana, keterangan yang diberikan oleh saksi di persidangan dipandang sebagai alat bukti yang penting dan utama.2