Sosialisasi Peraturan Menteri Kehutanan P.38/ Menhut- I I / 2009
tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan
Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu
Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan
Departemen Kehutanan
01. Republik I ndonesia c.q Departemen Kehutanan tetap berkomitmen melakukan pemberantasan illegal logging dan perdagangannya (illegal logging and associate trade) melalui kebijakan prioritas Dephut 2004-2009, termasuk kebijakan revitalisasi sektor kehutanan.
02. Kebijakan tersebut di atas dilakukan antara lain melalui MoU dengan pemerintah UK, USA, EU, Jepang, China selain melalui usaha represif yaitu I NPRES No. 4/ 2005 (melibatkan 18 instansi Pemerintah), persuasif (penyuluhan, sosialisasi) dan preventif (perbaikan kebijakan a.l. melalui HTR, HKm, Hutan desa, PUHH online, pelatihan, workshop, studi banding).
03. Untuk melaksanakan Tata Kelola Kehutanan (Forest Governance), penegakkan hukum (law enforcement) dan promosi perdagangan kayu legal (trade) maka dikembangkan Sistem Jaminan Legalitas Kayu (Timber Legality Assurance System (TLAS)) dengan melibatkan para pihak (multistkaholder) baik dalam penyusunan Standar Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)) maupun kelembagaannya dengan prinsip Governance, Credibility dan Representativeness.
07. Adapun penerbitan Sertifikat Legalitas Kayu (LK) atau Sertifikat PHPL adalah LP&VI .
08. Bagan alir Sistem Jaminan Legalitas Kayu (TLAS) adalah sebagai berikut:
8.1. Kerangka Peraturan Menteri P.38/ Menhut- I I / 2009
Badan Akreditasi Independen
(Komite Akreditasi Nasional)
I UPHHK Hutan Alam, Tanaman, HTR dan HKm, I UI PHHK ( I ndustri) dan Hutan Milik
I ndependen Monitoring : LSM atau Masyarakat Sipil
Standar Verifikasi Legalitas Kayu
Keberatan
CAR
Lembaga Verifikasi I ndependen:
LP&VI
Sertitifikat
LK
8.2. Penilaian dan Verifikasi
a. Penilaian SFM dilakukan oleh lembaga independen/ pihak ketiga (LP&VI )
b. Penilaian SFM diberlakukan pada semua jenis pemegang ijin dan pemilik hutan milik
c. Verifikasi SVLK dilakukan oleh lembaga independen/ pihak ketiga (LP&VI )
d. Verifikasi SVLK diberlakukan untuk semua jenis oleh pemegang ijin (hutan alam, hutan tanaman HTR dan HKm) , industri (hulu dan hilir) dan hutan milik
e. Penilaian SFM dan Legalitas Kayu dapat dilaksanakan secara terpisah atau bersamaan terhadap pemegang ijin atau hutan milik.
f. Pada prinsipnya bagi pemegang izin pemanfaatan hutan yang telah memiliki Sertifikat PHPL tidak diperlukan sertifikat LK
g. Pemegang I UI PHHK atau I UI Lanjutan wajib mendapatkan LK. Standard dan pedoman penilaian PHPL dan Legalitas Kayu diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal.
8.3. Akreditasi dan Penetapan LP&VI
a. LP&VI diakreditasi oleh KAN.
b. Untuk mendapatkan akreditasi, LP&VI mengajukan permohonan kepada KAN sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
c. Berdasarkan akreditasi KAN, Direktur Jenderal atas nama Menteri menetapkan LP&VI .
8.4. Penilaian
a. Penilaian PHPL atau verifikasi legalitas kayu periode pertama oleh LP&VI terhadap pemegang izin, dilaksanakan berdasarkan penugasan dari Direktur Jenderal a.n. Menteri. Pembiayaan akan ditanggung oleh Departemen Kehutanan b. Pembiayaan penilaian PHPL atau verifikasi legalitas kayu, untuk periode
berikutnya dibebankan kepada pemegang hak/ izin atau pemilik hak.
c.
Pemegang HTR atau pemegang izin HKm atau pemilik hutan hak, karena8.6. Penerbitan Sertifikat
a. Berdasarkan hasil penilaian atau verifikasi dan hasil perbaikan, LP&VI menerbitkan Sertifikat PHPL dan/ atau Sertifikat LK kepada pemegang izin atau pemilik hutan hak dan melaporkan kepada Direktur Jenderal. Sertifikat tersebut digunakan sebagai bahan pembinaan dan/ atau perpanjangan I UPHHK oleh Direktur Jenderal.
b. Sertifikat PHPL bagi pemegang I UPHHK atau pemilik hutan hak berlaku selama 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan dan dilakukan penilikan (surveillance) setiap 1 (satu) tahun.
c. Penilikan dapat dilakukan pada waktu bersamaan atau terpisah atas biaya pemegang izin.
d. Sertifikat PHPL sekurang-kurangnya berisi nama perusahaan atau nama pemegang izin atau pemilik hutan hak, luas area, lokasi, nomor keputusan hak/ izin/ hak kepemilikan, nama perusahaan LP&VI , tanggal penerbitan, masa berlaku, dan nomor identifikasi sertifikasi, serta nilai dan predikat kinerja. e. Sertifikat PHPL diterbitkan dengan predikat “Baik”.
f. Dalam hal hasil penilaian berpredikat “Buruk” , LP&VI menyampaikan laporan hasil penilaian kepada pemegang izin. Berdasarkan laporan hasil penilaian, pemegang izin diberikan kesempatan memperbaiki kinerja PHPL.
g. Sertifikat LK diterbitkan dengan kategori “Memenuhi” SVLK.
h. Dalam hal hasil Verifikasi “Tidak Memenuhi”, LP&VI menyampaikan laporan hasil Verifikasi kepada pemegang izin. Berdasarkan laporan hasil Verifikasi, pemegang izin diberikan kesempatan memenuhi SVLK.
8.7. Pemantau I ndependen dan Keberatan
a. Dalam hal LSM atau masyarakat madani bidang kehutanan keberatan terhadap hasil penilaian, keberatan dimaksud diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja kepada LP&VI untuk mendapat penyelesaian
b. Jika LP&VI tidak dapat menyelesaikan keberatan, LSM atau masyarakat c. madani di bidang kehutanan dapat mengajukan keberatan kepada KAN dan KAN
akan menyelesaikan permasalahan tersebut berdadasarkan prosedur yang ada di KAN
d. Hasil penyelesain keberatan yang dilakukan oleh LP&VI atau oleh KAN, berupa Corrective Action Request (CAR) disampaikan kepada pemegang izin atau pemilik hutan hak.
e. Dalam hal pemegang izin atau pemilik hutan hak tidak mampu menyelesaikan Corrective Action Request (CAR), maka status Sertifikat PHPL atau Sertifikat LK dibekukan sampai berakhirnya masa berlaku Sertifikat PHPL atau Sertifikat LK
8.8. Penguatan Kapasitas
a. Bantuan keterampilan teknis atau pembiayaan dalam rangka penguatan kapasitas dan kelembagaan LP&VI dapat dilakukan oleh Pemerintah
8.9. Bagi industri (hulu dan hilir) yang telah mendapat sertifikat LK dan pemasok bahan baku terkait mendapat Sertifikat PHPL atau Sertifikat LK dapat menerbitkan self endorsement atas produk yang akan diekspor dan dilampirkan dalam Pemberitahun Ekspor Barang (PEB).
8.10. Ketentuan Peralihan
a. LPI atau LP&VI yang telah mendapat akreditasi dari KAN sebelum berlakunya Peraturan ini, tetap berlaku sampai dengan berakhirnya masa berlakunya akreditasi.
b. Sertifikat PHPL bagi pemegang izin yang telah diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan ini, tetap berlaku sampai dengan berakhirnya masa berlaku sertifikat PHPL
09. SVLK
9.1. SVLK dimaksudkan untuk melakukan lacak balak (tracebility)/ chain of
custody sehingga asal usul kayu dapat dipertanggung jawabkan dari
sumber yang tepat yaitu memenuhi (
complience
) peraturan dan UU di
bidang Kehutanan dengan instansi terkait (Tenaga Kerja, Keuangan dan
lain sebaginya)
9.2. Dalam SVLK tersebut terdapat: prinsip, kriteria, indikator, verififier dan
metoda verifikasi, dalam hal SVLK hanya diterbitkan yang memenuhi
(complience)
9.3 Mengingat prinsip, kriteria, indikator dan verififier secara umum sama, maka
penyusunan P.38/2009 dan Peraturan Dirjen BPK No.06/2009 sekaligus
merevisi Keputusan Menhut:
a.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 4795/ Kpts-I I / 2002 tentang Kriteria dan I ndikator Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari Pada Unit Pengelolaan beserta peraturan pelaksanaannya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)9.4. Ketentuan tentang P.38/ Menhut-I I / 2009 mulai berlaku tanggal 1 September 2009.
9.5 Dengan demikian maka prinsip governance, kredibilitas dan keterwakilan
yang sebelumnya dipertanyakan dalam keputusan Menhut di atas, telah
diperbaiki melalui Permenhut P.38/2009.
10. Dengan terbitnya Permenhut P.38 ini maka Pemerintah berharap bahwa semua kayu dan produk kayu yang diperdagangkan di I ndonesia dan luar negeri benar benar legal baik berasal dari hutan negara atau hutan milik (Hutan Rakyat), maupun industri perkayuan.
11 Dalam kesempatan ini untuk penguatan kapasitas LP&VI , LSM/ CSO, masyarakat setempat, Pemda dan Pemerintah Dephut mengundang negara sahabat untuk ikut bekerja sama baik di Pusat maupun di Daerah.