Judul : “mubeng beteng” khasanah budaya dan pariwisata DIY Tempat : yogyakarta
Rep : akj
Tanggal : oktober 2008
Hening adalah bentuk refleksi manusia atas eksistensi dirinya. // Eksistensi diri manusia yang mengada karena adanya sang pencipta. Bentuk refleksi atas permulaan kemanusiaan itu diejawantahkan oleh masyarakat Yogyakarta dalam bentuk tradisi tapa bisu mubeng beteng yang dilaksanakan pada pertengahan malah 1 Suro. //
Laku mengelilingi tembok benteng Kraton dalam keheningan total itu merupakan simbol keprihatinan serta kesiapan masyarakat Yogyakarta khususnya penganut kejawen untuk menghadapi tahun yang akan datang. Diharapkan dengan sikap prihatin, mereka lebih mawas diri dan tidak berpuas diri terhadap segala sesuatu yang telah diraih pada tahun-tahun sebelumnya.
Mubeng beteng atau berjalan mengelilingi benteng Kraton adalah tradisi yang terbuka untuk masyarakat umum. Selama menjalankan lelaku tapa bisu mubeng beteng itu, tidak boleh berkata-kata serta harus berjalan kaki mengelilingi beteng sejauh kurang lebih empat km. Tradisi mubeng atau memutar itu sebenarnya tidak hanya berada di seputaran benteng Kraton Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga terdapat tradisi mubeng kuthagara, dan mubeng manca negara karena sebagai pusat negara, Kraton dikelilingi oleh kutha negara dan kutha negara dikelilingi oleh manca negara.
Manca negara yang dimaksud di sini adalah daerah-daerah di luar wilayah kesunanan dan kesultanan tetapi masih wilayah Kerajaan Yogyakarta. Karena tradisi mubeng beteng lebih mudah diikuti oleh masyarakat secara luas, maka tradisi itulah yang kemudian paling terkenal.
Pada mulanya, mubeng beteng adalah tradisi asli Jawa / yang disebut muser atau munjer (memusat) yang artinya mengelilingi pusat, dalam hal ini pusat wilayah desa. Ketika pedesaan kemudian pada akhirnya berkembang menjadi kerajaan, maka muser pun menjadi sebuah tradisi mengelilingi pusat wilayah kerajaan.
Sejarah lainnya mengatakan, mubeng beteng merupakan tradisi Jawa-Islam yang dimulai ketika Kerajaan Mataram (Kotagede) membangun benteng mengelilingi Kraton // Para prajurit Kraton ketika itu rutin mengelilingi (mubeng) benteng untuk menjaga Kraton dari ancaman musuh. Setelah kerajaan membangun parit di sekeliling benteng, tugas keliling dialihkan kepada abdi dalem Kraton. Agar tidak terkesan seperti militer, para abdi dalem itu menjalankan tugasnya dengan membisu sambil membaca doa-doa di dalam hati agar mereka diberi keselamatan.
Dari sisi peristiwa budaya, ritual yang telah berlangsung ratusan tahun ini, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Yogyakarta saja, tetapi juga orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Bisa jadi, sebagian dari mereka tak paham makna spiritual dan supranatural yang mengemuka.
Tapi, nilai kebersamaan diantara merekalah yang penuh makna dan tampak indah.// berjalan bersama dalam jumlah ribuan orang pastilah ada makna dan nilainya. //
Sebagian orang percaya, dengan melakukan ritual mubeng beteng itu, maka seseorang akan menemukan ketentraman, sikap waspada, dan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. //
Tim melaporkan untuk akj rbtv ///
News reader : “mubeng beteng” khasanah budaya dan pariwisata DIY
Tradisi tapa bisu Mubeng beteng yang digelar setahun sekali / ternyata menjadi suguhan yang menarik bagi masyarakat dan sekitarnya // tradisi mubeng beteng yang digelar dalam rangka MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIYAH 1 MUHARRAM / ATAU