• Tidak ada hasil yang ditemukan

Morfologi Umum Serangga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Morfologi Umum Serangga"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MORFOLOGI UMUM SERANGGA MORFOLOGI UMUM SERANGGA

Oleh: Oleh: Nama

Nama : : Henta Henta Ria Ria AnisaAnisa NIM NIM : : B1J014136B1J014136 Rombongan Rombongan : : II Kelompok Kelompok : : 44 Asisten

Asisten : : Karnia Karnia RosmiatiRosmiati

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIA

KEMENTERIAN RISET, N RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGITEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO PURWOKERTO 2017 2017

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia dimata dunia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian  besar mata pencaharian dari sekitar ±260 Juta jiwa penduduk Indonesia adalah  bertani. Namun dalam tiap kegiatan bertani, seringkali berhadapan dengan berbagai kendala, diantaranya adalah gangguan hama. Hama adalah organisme yang menyerang tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu, yang berdampak turunnya kualitas dan kuantitas serta kerugian ekonomis bagi manusia (Borror, 1992).

Serangga (disebut pula  Insecta, dibaca "insekta") adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut pula  Hexapoda  (dari bahasa Yunani, berarti "berkaki enam"). Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan Hewan ini juga merupakan contoh klasik metamorfosis. Hama terdapat dalam berbagai jenis, salah satunya yaitu hama serangga. Setiap serangga mengalami proses perubahan  bentuk dari telur hingga ke bentuk dewasa yang siap melakukan reproduksi. Pergantian tahap bentuk tubuh ini seringkali sangat dramatis, di dalam tiap tahap  juga terjadi proses "pergantian kulit" yang biasa disebut proses  pelungsungan. Tahap-tahap ini disebut instar. Ordo-ordo serangga seringkali

dicirikan oleh tipe metamorfosisnya (Borror, 1992).

Serangga adalah invertebrata beruas yang memiliki rangka luar (eksoskeleton). Eksoskeleton selain berfungsi sebagai kulit serangga juga berfungsi sebagai  penyangga tubuh, alat proteksi diri, dan tempat melekatnya otot. Kulit serangga disebut integumen yang terdiri dari kutikula dan lapisan epidermis. Kutikula merupakan lapisan tipis yang strukturnya sangat kompleks yang terdiri dari epikutikula dan prokutikula. Epikutikula merupakan lapisan terluar integumen dan merupakan lapisan yang tipis, sedangkan prokutikula merupakan lapisan tebal yang terdiri atas eksokutikula dan endokutikula (Ananda, 1978).

B. Tujuan

Menjelaskan pembagian tubuh serangga secara umum, menjelaskan dan menunjukan alat-alat yang terdapat di daerah kaput, menjelaskan dan menunjukan

(3)

alat-alat yang terdapat di daerah toraks, menjelaskan dan menunjukan alat-alat yang terdapat di daerah abdomen dan membedakan serangga jantan dan betina.

(4)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Serangga adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang  bertungkai enam (tiga pasang) karena itulah mereka disebut pula Hexapoda. Serangga termasuk kedalam kelas Insekta yang dibagi lagi menjadi 29 Ordo, antara lain Diptera (lalat), Coleoptera (kumbang), Hymenoptera (Semut, lebah, dan tabuhan). Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi, ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi di bumi (Pracaya, 2004). Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan kelimpahan yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga  bereproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan pada beberapa jenis spesies  bahkan mampu menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun. Kemampuan serangga lainnya yang dipercaya telah mampu menjaga eksistensi serangga hingga kini adalah kemampuan terbangnya. Hewan yang dapat terbang dapat menghindari  banyak predator, menemukan makanan dan pasangan kawindan menyebarke habitat  baru jauh lebih cepat dibandingkan hewan lain yang harus bergerak di atas  permukaan tanah (Subyanto, 1997).

Ordo Orthoptera (bangsa belalang) Sebagian anggotanya dikenal sebagai  pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai  predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua  pasang. Sayap depan lebih sempit dari pada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di  bawah sayap depan. Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah

(sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua  pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas)  pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen). Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya (Jumar, 2000).

(5)

Pada umumnya antena serangga terbagi menjadi 3 ruas utama yaitu : a. Scape yang melekat pada kepala

 b. Pedisel c. Flagellum

Bentuk dan ukuran antena pada setiap jenis serangga berbeda beda. Beberapa  bentuk antena tersebut adalah : filiform yaitu bentuknya menyerupai benang dan  pada setiap ruas mempunyai ukuran bentuk silindris yang sama (Jumar, 2000).

Fungsi antena pada setiap jenis serangga sangat beragam, namun pada umumnya fungsi utama dari antena tersebut adalah sebagai alat peraba dan pencium (Jumar, 2000).

Bagian-bagian mulut serangga diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu : a. Mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap).

 b. Tipe alat mulut pengunyah.

(6)

III. MATERI DAN METODE

A. Materi 3.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak preparat, pinset,  botol, dan kapas.

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah belalang ( Valanga nigricornis) jantan dan betina, jangkrik (Gryllus sp.), kloroform, dan alkohol 70%.

B. Metode

2.1 Belalang (

Valanga nigricornis

)

1. Botol pembunuh serangga serta alat dan bahan yang lain disiapkan.

2. Kapas ditetesi kloroform, lalu kapas dimasukkan ke dalam botol  pembunuh serangga dengan menggunakan pinset.

3. Belalang dimasukkan ke dalam botol pembunuh dengan menggunakan  pinset, lalu botol ditutup, belalang ditunggu sampai mati.

4. Belalang yang telah mati diambil dengan menggunakan pinset, kemudian  belalang dicelupkan ke dalam alkohol 70%, lalu belalang diangkat

5. Morfologi belalang diamati, segmen pada tubuh belalang dihitung.

6. Bagian-bagian yang tampak diperhatikan dengan menggunakan mikroskop stereo.

7. Perbedaan antara belalang jantan dengan belalang betina diamati. 2.2 Jangkrik (

Gryllus

 sp.)

1. Botol pembunuh serangga serta alat dan bahan yang lain disiapkan.

2. Kapas ditetesi kloroform, lalu kapas dimasukkan ke dalam botol  pembunuh serangga dengan menggunakan pinset.

3. Belalang dimasukkan ke dalam botol pembunuh dengan menggunakan  pinset, lalu botol ditutup, belalang ditunggu sampai mati.

(7)

4. Belalang yang telah mati diambil dengan menggunakan pinset, kemudian  belalang dicelupkan ke dalam alkohol 70%, lalu belalang diangkat

5. Morfologi belalang diamati, segmen pada tubuh belalang dihitung.

6. Bagian-bagian yang tampak diperhatikan dengan menggunakan mikroskop stereo.

(8)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 4.1. Belalang Kayu (

Valanga nigricornis

)

(9)

B. Pembahasan

Secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (caput ) yang terdapat antena, dada (toraks) terdapat enam kaki dan sayap dan perut (abdomen)  beruas. Caput   meliputi antena dan mata majemuk, pada toraks meliputi protoraks, mesotoraks, dan metatoraks, bagian yang lebih posterior dimana tidak terdapat kaki maupun sayap disebut abdomen. Tipe alat mulut pada belalang merupakan bagian yang beruas-ruas yang terdiri dari tergum atau strenum, yang mana setiap strenum terdapat sigma, serta terdapat pula ovipositor yang berfungsi sebagai alat peletakkan telur (Sunarjo, 1991).

Kaput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala serangga dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous,  prognathous, dan epistorhynchous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah belalang Acrididae;  prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang Carabidae (kumbang tanah); dan epistorhynchous  apabila alat mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera. Antena serangga berjumlah dua atau sepasang, berupa alat tambahan yang beruas-ruas dan berpori yang berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena adalah antenifer, soket,  scape,  pedicel , meriston, dan flagelum. Bentuk antena serangga sangat bervariasi berdasarkan jenis dan stadiumnya. Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 µm. Serangga makan dengan menggunakan mulutnya. Ada beberapa tipe alat mulut serangga, yaitu: penggigit- pengunyah, penggigit-pengisap, penusuk-pengisap, penjilat-pengisap, dan pengisap. Leher serangga merupakan daerah bermembran yang disebut cervix. Terdapat sepasang cervical s klerit pada bagian cervix . Sepasang cervical sklerit ini berfungsi sebagai engsel yang menghubungkan antara caput dengan toraks. Cervix sklerit ini menyatu dengan pleura pada protoraks pada beberapa serangga (Sunarjo, 1991).

(10)

Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput   dan abdomen. Toraks serangga terdiri dari tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Toraks juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada toraks terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura tidak bersayap). Toraks bagian dorsal disebut notum. Kaki serangga dewasa  berjumlah tiga pasang, sedangkan pada fase pradewasa jumlah kakinya sangat  bervariasi tergantung spesiesnya. Secara umum kaki serangga terdiri dari beberapa ruas yaitu coxa, trochanter , femur , tibia, tarsus,  pretarsus, dan claw. Bentuk kaki serangga dewasa juga sangat bervariasi berdasarkan pada fungsinya. Kaki yang digunakan untuk meloncat disebut saltatorial, menggali disebut fosorial, berlari disebut kursorial, berjalan disebut ambulatorial, menangkap mangsa disebut raptorial, dan berenang disebut natatorial. Sayap serangga terdiri dari dua atau satu  pasang. Serangga bersayap pada fase dewasa dan pradewasa khusus pada Ephemeroptera yang biasa disebut fase subimago/preimago. Sayap serangga secara umum berupa lembaran yang bervena berfungsi untuk terbang. Venasi sayap ini  penting untuk diketahui sebagai dasar untuk menentukan spesies serangga tertentu,

khususnya bangsa lalat dan tawon. Sayap serangga bentuknya sangat bervariasi, oleh karena itu entomologist memilahkan bentuk-bentuk sayap ini sebagai dasar untuk menentukan ordo. Sayap depan kumbang sangat tebal dan kuat yang digunakan sebagai pelindung tubuhnya disebut elytra; sayap depan kepik yang separuh bagian  basal tebal disebut corium  dan selebihnya membran, sayap depan kepik ini disebut hemelytra; sayap depan kecoa disebut tegmina; dan sayap belakang lalat yang disebut halter   berukuran sangat kecil berujung membulat berfungsi sebagai alat  penyeimbang ketika terbang (Sunarjo, 1991).

Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut tergit , bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran disebut pleura (Subyanto, 1993).

Klasifikasi Valanga nigricornis menurut Pedigo (1989) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda Class : Insecta

(11)

Order : Orthoptera Family : Acridoidea Genus : Valanga

Spesies : Valanga nigricornis

Valanga nigricornis sering dianggap hama oleh petani. Serangga ini merupakan Ordo Orthoptera meliputi belalang (subordo Caelifera), jangkrik, dan tonggeret (subordo Ensifera), merupakan komponen penting dari habitat terestrial  baik sebagai konsumen primer dan sebagai mangsa predator terestrial (Tan et al., 2015). Hasil yang didapat setelah dilakukan pengamatan terhadap preparat Valanga nigricornis  adalah Valanga nigricornis memiliki 6 pasang kaki yang terdapat pada  bagian toraks. Toraks terbagi menjadi tiga segmen utama yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Bagian-bagian kakinya antara lain adalah, coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus, dan claw. Kaki belakang pada Valanga nigricornis  berperan ketika Valanga nigricornis akan meloncat. Terdapat dua pasang sayap pada toraks. Sayap paling anterior adalah sayap penutup, dan sayap posterior adalah sayap sebenarnya (yang digunakan untuk terbang). Pasang sayap pertama berada di segmen  bagian dorsal dari mesotoraks, dan pasang sayap kedua berada di segmen bagian

dorsal dari metatoraks.

Bagian caput   terdapat mata  facet , mata ocelli, antena, mandibula, maksila, labium, dan labial palps. Mata  facet terdapat ovipositor pada preparat Valanga nigricornis  betina. Mata facet adalah mata majemuk yang berperan dalam proses  pengelihatan. Mata ocelli berfungsi sebagai fotoreseptor. Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai  pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal  berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 µm (Sunarjo, 1991). Tipe kepala berdasarkan posisi letak mulut Valanga nigricornis adalah tipe hypognathus  artinya menghadap kebawah. Berdasarkan posisinya kepala serangga dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous,  prognathous, dan epistorhynchous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah belalang;  prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang; dan epistorhynchous apabila alat

(12)

mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera (Sunarjo, 1991).

Bagian abdomen dapat diamati dengan jelas, terdapat delapan pasang spirakel  pada bagian abdomen, spirakel digunakan untuk respirasi serangga. Ujung dari abdomen terdapat sepasang cercus. Terdapat segemen yang termodifikasi di bagian  posterior yaitu epiprox pada bagian yang lebih superior, dan  paraprox  pada bagian yang lebih inferior. Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat  pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas,

rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan  bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran disebut  pleura (Subyanto, 1993). Valanga nigricornis  betina memiliki ovipositor pada pangkal abdomen. Ovipositor berfungsi untuk mengeluarkan telur-telur. Tidak terdapat ovipositor pada Valanga nigricornis jantan.

Klasifikasi Gryllus sp. menurut Pedigo (1989) adalah sebagai berikut Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Insecta Order : Orthoptera Family : Grylludae Genus : Gryllus Species : Gryllus sp.

Di alam, jangkrik banyak dijumpai pada musim hujan, dan jarang ditemukan  pada musim kemarau. Di Indonesia, jangkrik umumnya hidup baik di daerah yang  bersuhu antara 20°C-32°C dengan kelembaban sekitar 65%-80% (Pracaya, 2004). Pada saat akan bertelur, jangkrik betina akan mencari tanah atau tempat-tempat yang lembab untuk meletakkan telurnya dengan cara menusukkan ujung ovipositor ke dalam tanah. Riordi (2009) mengatakan bahwa untuk menetas, telur jangkrik membutuhkan suhu lingkungan sekitar 26°C.

Morfologi tubuh jangkrik terdiri atas tiga bagian utama yaitu kepala, toraks, dan abdomen serta setiap spesies jangkrik memiliki ukuran dan warna yang beragam. Jangkrik memiliki kulit dan sayap luar berwarna hitam atau agak kemerahan dan  pada bagian punggung (pangkal sayap luar) terdapat garis kuning sehingga menyerupai kalung. Jangkrik jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dari ada atau

(13)

tidaknya ovipositor pada ujung abdomen yang mencirikan jangkrik betina. Meskipun secara umum ukuran-ukuran tubuh jangkrik jantan lebih besar, jangkrik betina memiliki bobot badan lebih tinggi daripada jantan (Riordi, 2009).

Jangkrik termasuk serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Siklus hidupnya dimulai dari telur kemudian menjadi jangkrik muda (nimfa) dan melewati beberapa kali stadium instar terlebih dahulu sebelum menjadi jangkrik dewasa(imago) yang ditandai dengan terbentuknya dua pasang sayap (Pracaya, 2004). Jangkrik dapat ditemui hampir disemua tempat, terutama pada daerah dengan dikisaran suhu 20

 – 

320C. Menurut Jumar (2000),sistem reproduksi serangga betina terdiri atas sepasang ovarium yang berwarna krem dan sepasang ovarial, terletak di  punggung bagian tengan diatas saluran pencernaan. Jangkrik betina memiliki ovipositor sebagai C dengan kelembaban 65

 – 

 85%, bertanah gembur atau berpasir serta memiliki banyak tumbuhan semak belukar. Jankrik dewasa siap kawin pada usia ± 45 hari yang ditandai dengan telah lenyapnya sayap. Jangkrik jantan akan ngengkrik dengan suara nyaring yang merupakan isyarat bahwa jangkrik tersebut siap untuk membuahi betina, sedangkan jangkrik betina yang siap untuk dibuahi dan mengetahui isyarat tersebut akan mencari sumber suara dan mendekatinya. Dalam melakukan perkawinan, jangkrik jantan akan mengambil posisi dibawah dan jangkrik  betina diatas. Setelah terjadi pembuahan, tujuh hari kemudian telur

 – 

  telur didalam  perut jangkrik betina telah tua dan jangkrik telah siap bertelur.

(14)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu, Valanga nigricornis  memiliki dua pasang sayap dan tiga pasang kaki pada toraks. Valanga nigricornis memiliki tipe kepala hypognathus  karena mulutnya menghadap kebawah. Terdapat ovipositor pada Valanga nigricornis betina, namun tidak pada Valanga nigricornis  jantan, sedangkan Gryllus sp. memiliki kulit dan sayap luar berwarna hitam atau agak kemerahan dan pada bagian punggung (pangkal sayap luar) terdapat garis kuning sehingga menyerupai kalung. Jangkrik  jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dari ada atau tidaknya ovipositor pada

ujung abdomen yang mencirikan jangkrik betina. C. Saran

Tambahkan variasi spesies serangga dari koleksi laboratorium agar praktikan mengenal lebih banyak spesies.

(15)

DAFTAR REFERENSI

Ananda, K. 1987. Taksonomi Serangga. Yayasan Pembina Fakutas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Borror, D.J., C. A, Triplehom, N. F. Johnson. 1992.  An Introduction to the Study of  Insect . Harcourt Brace Collage Publishers.

Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Pracaya. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pedigo, L. P. 1989.  Entomology and Pest Management . Macmillan Publishing Company. New York.

Riordi, 2009. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Tri ganda karya, Bandung. Subyanto. 1997. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Subyanto, A., dan S. S. Siwi Sulthoni. 1993.  Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sunarjo, P. I. 1991.  Biologi dan Ekologi Serangga. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB. Bandung.

Tan, M. K., Huiqing Y., dan John X. Q. L. 2015. Diversity of Entomofauna (Orthoptera, Reduviidae and Acuelata) in The Mandai Lake Road Area, Singapore. Nature in Singapore. 8 (1). pp. 37

 – 

51.

Gambar

Gambar 4.1. Belalang Kayu ( Valanga nigricornis )

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Tabel 7 diatas yaitu hasil penilaian kuisioner mengenai faktor keturunan pada wanita usia 15 – 44 tahun di Desa Gondosari menunjukkan bahwa faktor

Kebijakan otonomi daerah yang berimplikasi pada munculnya konsep desentralisasi di bidang pendidikan sejak beberapa tahun terakhir semakin memberikan legitimasi kuat

(1) Subbagrenmin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 huruf a bertugas menyusun perencanaan program kerja dan anggaran, manajemen Sarpras, personel, dan kinerja,

Pada penelitian ini, metode Progressive Cache dioptimasi dengan merubah strategi cache replacement yang digunakan untuk lebih meningkatkan performa jaringan CCN yang

Penulis akan membuat sebuah pembangkit listrik yang bersifat mengubah gerakan menjadi tenaga listrik, seperti kincir air tetapi akan memakai gaya gravitasi sebagai

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN RISET DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI TENTANG PERINGKAT AKREDITASI

11th Floor, Wisma Bank Islam, Jalan Dungun, Bukit Damansara, 50490 Kuala Lumpur.. BORANG SENARAI SYARIKAT UNTUK PERMOHONAN PENAJAAN 42 Oxford Fajar Sdn.. BORANG SENARAI

Benda uji 1 model 1, mengalami kehilangan daya secara linear sampai pada pemberian beban 500 kg, saat pemberian beban diatas 500 kg – 600 kg, terjadi lonjakan hilang daya yang