1
PENGARUH MUSIM TERHADAP CHANOYU
Yunita Chairani1, Irma2, Oslan Amril2 1
Mahasiswa Prodi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta E-mail: [email protected]
2
Dosen Jurusan Sastra Asia Timur, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta
Abstract
In this thesis the author researching on the influence of the season against chanoyu in Japan. The reason the author took this title because the authors wanted to find out how the development of chanoyu in Japan and how to relate the influence of season on chanoyu in Japan. Which aims to describe the development of chanoyu in Japan and related influences a season of chanoyu in Japan. In this study the author uses descriptive method. To analyze the data using the author's theory of culture.
From the results of research that the author find turned out to be the beginning of tea discovered became an attraction and a phenomenon. Tea was first believed to have been found in China. Tea was discovered by Emperor Shennung. From Chinese tea was brought to Japan in the 8th century, Japan new tea thanks to the Buddhist monks who had studied religion in China. In the 12th century, Buddhist monk named Eisai returned from China began to introduce a new tea presentation technique known as tencha with matcha powder. Later, in the 16th century, Sen no Rikyu, a Zen priest who is highly respected. The value contained in the Zen Buddhist doctrine applied in chanoyu ceremony. Of the four seasons in Japan turns out to affect a chanoyu ceremony is divided into two seasons, namely summer ro and the anglo. However, the way the conduct of chanoyu is no different and is not changed every season.
Keywords: the season of chanoyu in Japan.
Pendahuluan
Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Kebudayaan adalah sesuatu yang super-organic, karena kebudayaan
yang turun-temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti dikarenakan kematian dan kelahiran. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Masyarakat di seluruh dunia memiliki masing-masing kebudayaan dan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang sejak zaman dulu kala dan diwariskan ke generasi berikutnya. (http://duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-kebudayaan.html).
2 Salah satu konsep kebudayaan
adalah kebudayaan objektif. (Cultural
Sociology. NY, 1948:144). Budaya objektif
merupakan budaya yang tercipta dari hasil campur tangan manusia, seperti seni, kerajinan tangan, persembahan dan tradisi. Jepang memiliki berbagai macam budaya yang orisinil dan unik, contoh dari kebudayaan objektif seperti dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar), persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki,
noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman
Jepang), serta makanan Jepang. Salah satu kebudayaan Jepang yang menjadi tradisi di kalangan masyarakat Jepang hingga saat ini adalah tradisi upacara minum teh atau yang lebih kita kenal adalah chanoyu, dan menjadi bagian dari kebudayaan bagi masyarakat Jepang hingga saat ini.
Pada abad ke-12 Biksu Budha yang bernama Eisai kembali dari Cina mulai memperkenalkan teknik penyajian teh yang baru bernama tencha. Kemudian abad ke-13 Shogun Kamakura memerintah negara, the adalah salah satu barang mewah yang menunjukkan status seseorang diantara kelas kesatria. Lalu, abad ke-16 Sen no Rikyu seorang pendeta Zen yang sangat dihormati. Ia memperkenalkan dan menyebarkan
chanoyu ke seluruh Jepang pada semua
tingkatan sosial. Abad ke-17 & 18 teh akhirnya mulai populer di kalangan rakyat biasa Jepang.
Teh yang awalnya hanya diselenggarakan dikalangan kaisar-kaisar Jepang saja. Kemudian, seiring berjalannya waktu kesatria dan samurai Jepang mengikuti upacara chanoyu ini. Pada abad ke-17-18 teh popular dikalangan rakyat biasa, siapa saja dan kalangan mana saja boleh ikut serta menyelenggarakan upacara
chanoyu. Di abad 20 ini, wisatawan asing
sangat tertarik dengan budaya Jepang, salah satunya upacara chanoyu. Karena, nilai-nilai ajaran Budha Zen yang terkandung di dalam upacara chanoyu sangat sakral.
Di Jepang saat ini upacara teh tersebut disebut denagan chanoyu. Chanoyu, atau kata lain nya Chado [ 茶 道 ] adalah upacara minum teh atau dalam kata yang lebih indahnya adalah ‘The Way of Tea’ yang sudah menjadi budaya pada masyarakat Jepang. Upacara ini bukan cuma upacara biasa, upacara ini termasuk kedalam sebuah penampilan atau Otemae 「 お 手 前 」 layaknya teater, namun penampilan yang ditunjukan adalah tentang tata cara penyajian teh yang baik.
Dunia alam Jepang yang selalu menyediakan bunga-bunga indah di setiap
3 musimnya, keindahan bunga ini dari dulu
hingga sekarang tidak pernah berubah menghiasi kehidupan sehari-hari yang sederhana. Keindahan yang memiliki arti spiritual dalam hal-hal tertentu dalam kehidupan orang Jepang. Jadi, kaitan dengan musim di Jepang bahwa ruangan chanoyu (chaitsu) dihias dengan rangkaian bunga-bunga dimaksudkan untuk memberi dampak keindahan anggun di tiap musimnya. Sesungguhnya tidak demikian melainkan harus mampu mengungkapkan kemurnian kesederhanaan dalam usaha menghayati keadaan alam Jepang.
Para ahli chanoyu membagi empat musim di Jepang musim dingin [ 冬 fuyu], musim semi [春 haru], musim panas [夏 natsu] dan musim gugur [秋 aki] menjadi 2 musim. Dalam Chanoyu yang pertama adalah musim perapian[ 路 ro] yaitu dari sepanjang bulan november sampai bulan april/ dari musim dingin fuyu [冬] sampai musim semi [春 haru] yang biasanya di dominasi oleh udara yang dingin dan sejuk seperti pada musim dingin dan musim semi. Yang kedua adalah musim anglo [風路] yaitu dari sepanjang bulan mei sampai bulan oktober, dimana udara panas mendominasi seperti pada musim panas [ 夏 natsu] sampai musim gugur [秋 aki].
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk membahas pelaksanaan
perkembangan chanoyu di Jepang dan kaitan chanoyu dengan musim di Jepang. Karena chanoyu sendiri dianggap sebagai pencerminan kepribadian, ketenangan, meditasi untuk mendapatkan pencerahan dan .untuk pengetahuan seni-seni tradisional Jepang lainnya.
Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bahwa pengetahuan tentang perkembangan chanoyu dari awal masuk teh ke Jepang dan pengaruh musim terhadap
chanoyu.
Penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini adalah skripsi Amalia (2005) dalam skripsinya yang berjudul Upacara Minum Teh dan Ajaran Budha Zen menuliskan bahwa upacara minum teh memiliki peranan di dalam penerapan ajaran Budha Zen. Hal ini dapat dibuktikan dari ajaran-ajaran Budha Zen tentang moral, yang tergambar pada peralatan dan aktifitas di dalam upacara minum teh. Ajaran-ajaran tersebut adalah keindahan terdapat dalam kesederhanaan dan ketenangan, sikap mental dan pikiran yang positif dalam menghadapi seseorang, pencapaian pencerahan dengan melalui tiga unsur (konsentrasi, meditasi, kontemplasi), kesamaan hubungan antar sesama manusia.
4 Penelitian ini adalah metode
peneltian deskriptif. Metode merupakan cara untuk mengungkapkan kebenaran yang objektif. Kebenaran tersebut merupakan tujuan, sementara metode dimaksudkan agar kebenaran yang diungkapkan benar - benar berdasarkan bukti ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, metode dapat diartikan pula sebagai prosedur atau rangkaian cara yang secara sistematis dalam menggali kebenaran ilmiah. Sedangkan penelitian dapat diartikan sebagai pekerjaan ilmiah yang harus dilakukan secara sistematis, teratur dan tertib, baik mengenai prosedurnya maupun dalam proses berfikir tentang materinya ( Nawawi dan Martini dalam Prastowo, 2011).
Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono ( 2011 ) peneltian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan dan menjabarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah aktual.
Teknik pengumpulan data adalah menggunakan teknik catat, dimana data yang telah dibaca /dapat diberi tanda dan kemudian di pindahkan ke kartu data untuk dijadikan sebagai informasi atau data yang mendukung penelitian. Untuk melengkapi data yang diperlukan, penulis juga
menggunakan metode wawancara dimana penulis membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara.
Metode dan teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah library
research atau teknik kepustakaan, yaitu
penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau ruang kepustakaan, Semi (1993:8).
Teknik analisa data yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu, mengumpulkan data dan mempelajari tentang pelaksanaan chanoyu, peralatan
chanoyu permusimnya di Jepang dan
hubungan antara chanoyu dengan seni-seni di Jepang., menganalisis data tentang pelaksanaan chanoyu, peralatan chanoyu permusimnya di Jepang dan hubungan antara chanoyu dengan seni-seni di Jepang, menyimpulkan data mengenai bagaimana pelaksanaan chanoyu, peralatan chanoyu permusimnya di Jepang dan hubungan antara chanoyu dengan seni-seni di Jepang.
Hasil dan Pembahasan
1. Perkembangan Chanoyu
Dari Cina, teh dibawa juga ke Jepang. Tepatnya pada abad ke-8, Jepang baru mengenal teh berkat para pendeta Buddha yang belajar agama di Cina. Pada masa itu, teh hanya dikonsumsi dalam
upacara-5 upacara keagamaan di kul-kuil. Semua teh
yang diminum di Jepang masih dibawa langsung dari Cina, belum ada teh yang ditanam di Jepang. 400 tahun kemudian, Eisai adalah seorang pendeta Buddha yang membawa bibit teh dari Cina dan menanamkannya di daerah Uji, Kyoto. Eisai juga membawa cara memproduksi teh dari Cina saat itu (Dinasti Song), yaitu menghaluskan teh menjadi serbuk . Kemudian, teh diseduh dalam mangkuk dan dikocok menggunakan kocok bambu. Tradisi menyajikan teh seperti ini yang terus dipertahankan di Jepang. Penyajian teh yang dikenal dengan matcha dalam upacara minum teh Jepang atau yang biasa disebut
chanoyu. Sementara di Cina penyajian
seperti ini tidak ada lagi.
Lalu pada abad ke-12 seorang Biksu Buddha bernama Eisai, yang kembali dari China mulai memperkenalkan tekhnik penyajian teh yang baru bernama Tencha (点茶), dimana bubuk teh hijau halus yang kita kenal bernama Matcha 「 抹 茶 」 diletakan di mangkuk lalu diseduh dengan air panas. Tidak hanya itu sang Biksu juga membawa benih teh hijau tersebut ke Jepang, dan menjadi teh yang kualitasnya paling tinggi seantero Jepang. Bubuk teh hijau ini pertama kali digunakan pada upacara keagamaan yang biasa dilakukan di Biara
Buddha. Pada abad ke-13 saat Shogun Kamakura memerintah negara, teh adalah salah satu barang mewah yang menunjukan status seseorang diantara kelas ksatria.
Lalu pada abad ke-16, Sen no Rikyu seorang pendeta Zen yang sangat dihormati. Ia memperkenalkan dan menyebarkan
chanoyu ke seluruh Jepang pada semua
tingkatan sosial. Pada masa itu, teh menjadi bagian penting dalam budaya Jepang, terutama di kalangan kerajaan dan para samurai. Hingga saat ini chanoyu terus dipertahankan di Jepang.
Sen no Rikyu adalah tea master yang bekerja untuk Oda Nobunaga dan penerusnya, Hideyoshi Toyotomi. Oda Nobunaga adalah orang pertama yang memulai penyatuan Jepang, yang kemudian dilanjutkan oleh Hideyoshi Toyotomi. Keduanya merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Jepang, dan keduanya sangat mencintai teh.
Pada abad ke 17 dan 18, teh akhirnya mulai populer di kalangan rakyat biasa Jepang. Sencha adalah teh yang paling populer di Jepang saat ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Nagatani Soen. Sejak itu, perkembangan teh di Jepang dan Cina menjadi sangat berbeda. Teh Jepang saat ini sangatlah berbeda dengan teh Cina saat ini.
6 Selama berabad-abad, teh hanya
dikenal di Cina dan negara-negara sekitarnya. Pada abad ke-17 barulah teh mulai dibawa ke Eropa. Upacara minum teh (chanoyu) dalam The Great Japanese dictionary (1995:1384) adalah : 茶の湯 茶を飲んで楽しむ遊芸。古くは茶 湯、-五世紀中葉から「茶の湯」 と言う呼称が普戊。近世以降は茶 道を言う語となった。 茶娄攵寄。茶道。
Artinya : Minum teh merupakan suatu kepandaian dalam bidang kesenian yang menyenangkan. Dahulu minum teh kira-kira dari pertengahan abad ke -15 disebut chanoyu. Pada zaman modern sekarang ini dinamakan dengan chado. Teh dengan seni yang halus. ( dalam skripsi Amalia 2005 : 14-15).
Dengan berkembangnya zaman dari hari ke hari wisatawan asing juga dibolehkan mengikuti upacara ini, dengan kata lain untuk memperkenalkan budaya Jepang. Namun, pada dasarnya nilai-nilai Buddha Zen yang terkandung dalam ritual ini tidak berubah dan tidak berkurang. Saat ini upacara minum teh (chanoyu) semakin berkembang, karena dilaksanakan diluar ruangan yang dikenal dengan nama Nodate [野
点 ]. Upacara minum teh (chanoyu) ini pada awalnya adalah tradisi dalam menyajikan teh untuk tamu yang bersifat ritual atau religius. Namun dalam perkembangannya kemudian menjadi tradisi di kalangan bangsawan, sampai saat ini masih tetap dipertahankan menjadi budaya Jepang yang sangat dijunjung tinggi dan juga dijadikan daya tarik wisatawan budaya untuk orang-orang asing yang ingin mengetahui budaya Jepang, salah satunya upacara chanoyu. Saat ini upacara minum teh (chanoyu) dapat dilakukan oleh siapapun. Semua lapisan masyarakat boleh melakukan upacara ini, setelah mengikuti pelatihan-pelatihan yang dapat diikuti ketika berkunjung ke Jepang.
2. Pengaruh Musim Terhadap Chanoyu
a. Musim Ro 「炉」
Musim perapian [路 ro] yaitu yang dimulai dari bulan November sampai bulan April atau dari musim dingin [冬] sampai musim semi [春] yang biasa didominasi oleh udara yang dingin dan sejuk. Di musim ini upacara chanoyu tetap diselenggarakan namun ada beberapa peralatan,
perlengakapan dan hidangan yang sedikit berbeda yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana musim. Namun, tata cara penyelenggaraan chanoyu dilakukan tetap seperti biasa dan tidak ada perubahan.
7 Peralatan chanoyu di musim ro yang
berberda dari peralatan pada umumnya yaitu
chawan dan ro. Chawan di musim ro ini
memiliki dasar yang dalam supaya kehangatan teh tetap hangat ketika diminum.
Ro merupakan lubang api yang tertanam di
ruangan chasitsu, fungsinya untuk menghangatkan ruangan. Untuk menghasilan pembakarannya menggunakan arang atau abu. Hiasan di musim ro ini terlihat berbeda kakekuji atau kaligrafi di
tokonoma. Pada kakemono di tokonoma
musim ro, terdapat kanji “ ” yang dibaca dengan ”しゅうがつあいひとをて ら す “ 、 yang artinya “menerangi orang bertemu pada akhir bulan di musim gugur”. Hal ini dapat menggambarkan akan berakhirnya suasana musim gugur dan datangnya musim dingin, yang bahwasanya orang-orang yang mengikuti upacara
chanoyu pada musim ro ini akan dapat
merasakan suasana alam yang sesungguhnya karena di dalam ruangan terdapat kaligrafi dan dekorasi yang menggambarkan keadaan alam di Jepang pada saat musim ro, harapan dan doa’a dari para peserta yang mengikuti upacara chanoyu memiliki sesuai dengan harapan dari arti kaligrafi tersebut.
(Wawancara : Uehara Baikei, 3 Februari 2015).
Begitu juga dengan ikebana yang terpajang di altar tokonoma juga berbeda. Contohnya ikebana kurisumasu, ikebana
tsubaki, ikebana ume dan ikebana sakura.
Tujuannya untuk menyamakan kondisi alam Jepang yang terdapat diluar ruangan
chasitsu. Untuk pakaian yang digunakan
saat musim ro ini, kimono yang berbahan dasar tebal, berlapis sutera, wool, atau bahan sintesis. Karena musim yang berlangsung pada saat itu memiliki suhu yang sangat dingin, dan di musim ro ini motif kimono yang digunakan motif salju, bunga kurimasu, dan lain-lain. Bertujuan untuk menyamakan dengan musim yang sedang berlangsung. Setelah melakukan upacara minum teh atau
chanoyu, untuk menetralisir rasa pahit
setelah minum teh, shado master menghidangkan kue-kue yang manis dan bentuknya yang cantik tergantung musim yang sedang berlangsung, yaitu musim dingin dan musim semi.
b. Musim Anglo
Musim anglo 「風炉 」 yaitu dari sepanjang bulan Mei sampai bulan Oktober dimana udara panas mendominasi seperti pada musim panas [夏] sampai musim gugur [秋].
8 Di musim anglo upacara chanoyu
tetap dilaksanakan, sekalipun suhu musim panas di Jepang yang tinggi dapat dirasakan lewat hembusan angin yang mewakili musim panas. Seperti kutipan berikut ini :
Menurut salah seorang yang mengerti tentang chanoyu yang penulis wawancarai mengatakan : 7月― せきざちょうまつかぜ ,関座聴松風。 意味は静かな、簡単とした空間に座って、 待つのほが風にゆらされ、ザワザワと言 う音に耳をすほせる。
Artinya : Duduk di ruangan sederhana yang tenang, ayunan angin yang membawa, bunyi gesekan yang terdengar membuat berisik di telinga. (Wawancara : Mrs. Kobayashii Sachiko 3 Februari 2015).
Berdasarkan hasil kutipan dari wawancara diatas, bahwasanya di musim panas diakhir bulan tujuh, ketika mengikuti penyelenggaraan upacara chanoyu bunyi yang sangat jelas terdengar saat itu, bunyi angin dan bunyi gesekkan dedaunan alam yang terkena angin dikala musim panas sedang berlangsung.
Upacara chanoyu di musim anglo masih tetap dilaksanakan. Ada beberapa peralatan, perlengakapan dan hidangan yang
sedikit berbeda, pada penyelenggaraan upacara chanoyu musim anglo dengan musim ro. Akan tetapi tata cara chanoyu tetap dilaksanakan seperti biasa dan tidak ada perubahan aturan dari dasarnya. Beberapa perbedaan bisa kita lihat dari peralatan, ruangan dan pakaian yang dipakai ketika upacara diselenggarakan.
Peralatan chanoyu di musim anglo yang berbeda dari peralatan pada umumnya yaitu chawan dan furo. Chawan di musim anglo ini memiliki dasar yang rendah supaya cepat dingin ketika diminum. Furo
merupakan kompor atau tungku yang digunakan untuk bulan-bulan hangat terletak di ruangan chasitsu, fungsinya untuk memanaskan tungku air. Hiasan di musim anglo ini terlihat berbeda kakekuji atau kaligrafi di tokonoma. Pada kanji kakemono yang tergantung di tokonoma pada musim anglo, bacaannya ” な が れ る “ 、 yang artinya “mengalir”. Hal ini dapat menggambarkan musim panas Jepang yang memiliki panas yang terik, membuat orang-orang yang ketika mengikuti upacara
chanoyu pada musim anglo ini dapat
mengalirkan kesabaran, ketenangan ke dalam dirinya karena tujuan mengikuti upacara chanoyu untuk mendapatkan ketenangan dalam jiwanya, dan para peserta
9 kaligrafi tersebut. (Wawancara : Uehara
Baike 3 Februari 2015).
Dapat diketahui bahwasanya kata yang tertulis pada kaligrafi adalah kata-kata bijak, do’a dan harapan yang biasa diucapkan dan berasal dari ajaran Buddha, puisi, deskripsi tentang suatu tempat yang terkenal, atau kata-kata yang berhubungan dengan Chanoyu itu sendiri.
Begitu juga dengan ikebana yang terpajang di altar tokonoma juga berbeda. Contohnya ikebana ajisai, ikebana himawari, ikebana shuumeigiku dan ikebana tsuuwabuki. Tujuannya untuk menyamakan
kondisi dan suasana alam Jepang yang terdapat diluar ruangan chasitsu. Begitu juga dengan kimono di musim anglo, musim yang bersuhu dan cuaca panas yang digunakan berbahan katun tipis dan bermotif bunga-bunga, kembang api, bebek, burung dan lain-lain. Okashii atau kue yang dihidangkan ketika musim anglo, berbentuk seperti daun berwarna hijau, angin, awan biru dan manisan permen yang yang berisi
matcha manis. Musim panas yang terik
tetapi berangin, seperti itulah hidangan yang menggambarkan keadaan musimnya. Sama halnya ketika musim ro berlangsung, musim anglo juga dihidangkan kue-kue manis yang bertujuan menghilangkan rasa teh yang pahit.
Kesimpulan
Upacara chanoyu saat ini sudah banyak dikenal dan diketahui oleh banyak khalayak pencinta kebudayaan Jepang, terutama wisatawan asing. Wisatawan asing sangat tertarik dengan budaya-budaya Jepang yang unik. Salah satunya budaya Jepang yaitu ritual chanoyu. Chanoyu dulunya hanya dilaksanakan oleh kalangan pendeta Buddha dan hanya di konsumsi dalam upacara-upacara keagamaan di kuil-kuil. Untuk mempelajarinya dibutuhkan waktu yang cukup lama. Hanya orang-orang yang sudah mendapatkan mengakuan sebagai Chado Master yang bisa mengadakan upacara chanoyu. Chanoyu adalah upacara minum teh yang disajikan untuk tamu. Dalam kata yang lebih indahnya ‘The Way of Tea’ yang sudah menjadi budaya pada masyarakat Jepang. Upacara
chanoyu bukan cuma upacara biasa, upacara
ini termasuk ke dalam sebuah penampilan atau otemae layaknya seperti teater.
Saat ini siapa saja dan dari kalangan mana saja boleh mengikuti upacara
chanoyu, karena chanoyu meupakan wisata
budaya yang sangat diminati oleh wisatawan asing.
Penyelenggaraan chanoyu
berpengaruh dengan musim di Jepang. Seperti yang diketahui Jepang yang
10 memiliki empat musim yaitu dingin [ 冬
fuyu], musim semi [春 haru], musim panas [ 夏 natsu], dan musim gugur [ 秋 aki] menjadi dua musim dalam kegiatan upacara
chanoyu. Dalam upacara chanoyu yang
pertama adalah musim perapian [路 ro] yaitu dari bulan November sampai bulan April atau dari musim dingin [冬] sampai musim semi [春] yang biasa didominasi oleh udara yang dingin dan sejuk. Yang kedua adalah musim anglo [ 風 路 kazeru] yaitu dari sepanjang bulan Mei sampai bulan Oktober dimana udara panas mendominasi seperti pada musim panas [夏] sampai musim gugur [ 秋 ]. Musim adalah sesuatu yang penting karena sangat berpengaruh pada waktu pelaksanaan upacara chanoyu. Dengan berpengaruhnya musim di Jepang, ada beberapa perbedaan yang sedikit berbeda dari musim ro dan musim anglo.
Perbedaan yang terletak di peralatan, kaligrafi, ikebana, kimono dan hidangan kue-kue manis. Dengan adanya perbedaan tersebut, dapat menggambarkan keadaan pada musim ro dan musim anglo. Perbedaan ini juga dapat menjadi daya tarik bagi oara wisatawan asing yang datang ke Jepang. Namun, untuk tata cara penyelenggaraannya upacara chanoyu nya sampai saat ini tidak ada yang berubah.
DAFTAR PUSTAKA
- Sumber Buku
Bakker, J. W. M.. 1984. Filsafat Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Danadjaja, James. 1995. The Great Japanese Dictionary.
Haryanti, Pitri. 2013. All About Japan. Yogyakarta : Penerbit Andi
Kementrian Luar Negeri Jepang. 1987.
Sejarah Kebudayaan Jepang – Sebuah Perspektif. tanpa Kota Penerbit :
Kementrian Luar Negeri Jepang.
Koentjaraningrat. 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia.
Nobo, Yuki. 2013. Chanoyu Nyuumon. Tokyo: Toppan Isatsu Kabushiki Gaisha. Nusantara, Yayat. 2004. Kesenian SMA
untuk kelas X. Jakarta.
Semi, M. Atar. 1993. Metodologi Penelitian
Sastra. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Somantri, Ratna. 2014. The Story in A Cup
of Tea. Jakarta: Transmedia Pustaka.
Tanaka, Sen’o. 1973. The Tea Ceremony. Tokyo: Kodansha International, Ltd.
11 - Sumber Koran
Diah Triarsari. 2014. “Diplomasi Elegan dengan Secawa Teh Hijau”. Dalam Halo Japan!. Hlm. 20. Juni 2014. Jakarta
- Sumber Srkipsi
Amalia. 2005. Upacara Minum Teh dan Ajaran Budha Zen. Skripsi. Padang: Universitas Bung Hatta.
- Sumber Internet http://duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-kebudayaan.html http://heheoye.wordpress.com/2011/05/31/m asyarakat-dan-kebudayaan/ http://jakarta.kompasiana.com/sosial- budaya/2013/06/21/chanoyu-for-life-570961.html http://oase.kompas.com/read/2013/03/27/06 414370/Minum.Teh.pada.Upacara.Tradision al.Jepang http://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_minum _teh_(Jepang) http://fatwarohman.blogspot.com/2012/06/u pacara-minum-teh-jepang-sadou.html http://mengenalbahasa.blogspot.com/2012/0 8/upacara-minum-teh-jepang-chanoyu.html http://japanese-tea-ceremony.net/history.html http://zenbunippon.wordpress.com/2013/10/ 28/chanoyu-%E8%8C%B6%E3%81%AE%E6%B9%AF -part-1/ http://ulasanpika.blogspot.com/2013/06/cha noyu-upacara-minum-teh-jepang.html http://www.jpf.or.id/id/discovery-kimono- dan-cha-no-yu-mengenal-lebih-jauh-kimono-dan-cha-no-yu http://perempuan.com/read/tatami-hangat-luas-dan-lega/ http://www.scribd.com/doc/75978807/CHA NOYU http://property.okezone.com/read/2012/01/0 4/472/551319/inspirasi-tata-ruang-ala-negeri-sakura http://yoesroesliana.blogdetik.com/latar-belakang-budaya-jepang/ http://www.tempo.co/read/news/2013/04/08/ 110472040/Ini-Bedanya-Kimono-Dan-Yukata http://www.tempo.co/read/news/2013/04/08/ 110472040/Ini-Bedanya-Kimono-Dan-Yukata http://www.yamatoku.jp/classic/topic.asp
12 http://www.tea- journey.com/2012/08/chanoyu-and-okashi.html?utm_source=twitterfeed&utm_ medium=twitter http://elfcamomile.blogspot.com/2011/11/ch anoyu-upacara-minum-teh.html