• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Film Sang Pencerah

Sang pecerah adalah film drama tahun 2010 yang di sutradarai oleh Hanung Brahmantyo berdasarkan kisah nyata tentang pendiri Muhamadiyah, Ahmad Dahlan. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai Ahmad dahlan, Ihsan Idol Sebagai Ahmad Dahlan muda, dan Zakia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Film ini menjadikan sejarah sebagai pelajaran di masa kini tentang toleransi, koeksistensi (berekrjasama dengan yang berbeda keyakinan), kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang. Sang Pencerah mengungkapkan sosok pahlawan nasional itu dari sisi yang tidak banyak diketahui publik. Selain mendirikan organisasi Islam Muhammdiyah, lelaki tegas pendirian itu juga dimunculkan sebagai pembeharu Islam di Indonesia. Ia memperkenalkan wajah Islam yang Modern, terbuka, serta rasional.

Sepulang dari mekah, Darwis muda (Muhammad Ikhsan Tarore) Mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah ats pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat, syirik dan Bid’ah.

Dengan sebuah kompas, ia menunjukan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menhadap ke Ka’bah

(2)

di Mekah, melainkan me Afrika. Usul ini kontan membuat para Kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamuladiningrat (Slamet Rahardjo), meradang Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di kota mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau.

Walaupun usul perubahan akan kiblat ini di tolak, melalui suaranya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah. Ahmda Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, mengasut dan merusak kewibawaan Keratan dan Masjid Besar.

Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para Kyai naik darah. Dalan Khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman, Yogyakarta. “Dalam berdoa itu Cuma ikhlas dan sabar dibutuhkan, tak perlu kia, ketip, apalagi sesajen, “katanya. Walhasil, Dahlan dimusuhi.

Langgar kidul disamping rumahnya, tempat dia salat berjamaah dan mengajar mengaji, bahkan sempet hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat.

Ahmad Dahlan yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial. Ahamd Dahlan juga dituduh sebagai Kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para Bangsawan di Jetis, Yogyakarta.

(3)

Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai Kyai Kejawen hanya karena dengan lingkungan cendikiawan priyayi Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda kauman itu surut. Dengan ditemani istri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid-murid setianya : Sudja(Giring Ganesha), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adhiswara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat islam agar berpikiran maju sesuai dengan perklembangan zaman.

4.2 Hasil Temuan

film yang berdurasi 120 menit ini bukan semata-mata untuk hiburan melainkan juga dapat merepresentasikan simbol, nilai atau ideology tertentu, baik secara langsung langsung maupun tidak langsung melalui tokoh-tokoh yang terdapat dalam serita ataupun dalam isi cerita film itu sendiri.

Di dalam film ini ada banyak adegan yang bermuatan kepada ajaran atau nilai modernitas, salah satu tokoh utama misalnya Kiai Ahmad Dahlan direpresentasikan sebagai tokoh yang pandai, tegas, berani dan punya visi juga misi pembeharuan dalam islam yang saat itu bercampur dengan ritual-ritual atas dasar nama budaya.

Maka dari itu setelah menonton dan menelaah lebih dalam mengenai film “Sang Pencerah” maka penulis menemukan gambar atau potongan-potongan

(4)

gambar dalam film tersebut yang menunjukan adanya penggambaran nilai-nilai kepahlawanan sebagai berikut :

Gambar 4.1 Sikap Muhammad Darwis memberikan sesaji

Gambar 4.2 Sikap Kiai Ahmad Dahlan membawa Majalah Al-Manar

Gambar 4.3 Sikap Kiai Ahmad Dahlan Terhadap doa dan sesaji

Gambar 4.4 Sikap Kiai Ahmad Dahlan dalam sebuah pengajaran mengaji

Gambar 4.5 Sikap Kiai Ahmad Dahlan dalam menunjukan arah Kiblat

Gambar 4.6 Prilaku Kiai Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo

Gambar 4.7 Sikap Kiai Ahmad Dahlan menasehati Sudja

Gambar 4.8 Prilaku Kiai Ahmad Dahlan membuat sebuah Madrasah

Gambar 4.9 Sikap Kiai Ahmad Dahlan memberikan pendapat soal selamatan

Gambar 4.10 Sikap Kiai Ahmad Dahlan memberikan pengertian

(5)

4.3 Analisis Semiotika Roland Barthes

Film sang pencerah merupakan sebuah film yang syarat akan makna. Dalam film ini juga terdapat simbol nilai-nilai kepahlawanan yang tergambar secara tersirat. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai bagaimana film Sang Pencerah mempresentasikan simbol nilai-nilai kepahlawanan. Berikut penjelasan dibawaah ini:

Tabel 4.1

Sikap Muhammad Darwis memberikan sesaji kepada masyarakat miskin Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

(6)

Denotasi Konotasi

Muhamad Darwis

memberikan sesaji kepada masyarakat tidak mampu, Karena menurut Darwis, untuk meminta permohonan, berkah dan doa itu hanya kepada Allah. Aturan-aturan tersebut tidak sesuai dengan aturan-aturan sunah rassul dan Al-Qur’an. Dalam frame tersebut terdapat beberapa masyarakan miskin yang kelaparan yang sedang mengharapkan ada seseorang yang memberikannya makanan.

Muhamad Darwis memberikan sesaji dari hasil curiannya oleh dua masyarakat jawa yang melakukan penyembahan, Muhamad Darwis lalu memberikan sesaji tersebut kepada masyarakat yang jauh lebih membutuhkanya, karna Muhamad Darwis memandang nilai makanan akan lebih

bermanfaat bagi orang-orang yang

kelaparan karena mereka dinilai lebih membutuhkan, dibanding di sajikan kepada para roh yang sudah tiada, yang tidak

merasa kelaparan dan sudah tidak

membutuhkan makanan.

memberikan sesaji sama saja dengan menyekutukan Allah karena sesaji dipersembahkan kepada dewa-dewa,leluhur atau kepada benda-benda yang dianggap kramat.

(7)

Tabel 4.2

Sikap Ahmad Dahlan membawa Majalah Al-Manar, untuk sebuah perubahan

Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“majalah ini bukanya dilarang darwis?” “maaf kang mas,majalah ini diterbitkan oleh jamaludin Al afghani dan Muhamad Abduh seorang pembeharu islam”

Denotasi Konotasi

Ahmad Dahlan sedang menjelaskan mengapa ia membawa majalah yang dibuat oleh dua orang cendikiawan muslim yang menetap di paris dan pemikiranya sudah di pengaruhi oleh kaum modernis dan juga kaum

Kiai Ahmad dahlan membawa majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syeikh Jamaluddin Al-Afghani dan Syeikh Muhammad Abduh yang di sebut-sebut sebagai tokoh pembeharu karna menurut Kiai Ahmad Dahlan pengetahuan islam di pulau jawa pada saat itu masih sangat rendah mengenai agama, dan masih banyak yang mempercayai nilai-nilai yang dianggap

(8)

yahudi. Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa majalah yang di bawanya diterbitkan oleh Jamaludin Al Afgoni dan Muhamad Abduh seorang pembeharu islam dari Mesir. Pemikiranya mengubah tasawuf sempit menjadi pengalaman islam secara merata, dan membawa islam sejalan dengan perkembangan zaman. Jadi kiai Ahmad Dahlan berfikir tidak ada yang berbahaya pada majalah tersebut.

menyekutukan Allah, maka dari situlah Kiai Ahmad Dahlan membawa majalah Al-Manar yang berisi tentang pemikiran mengubah kecenderungan tasawuf sempit menjadi pengamalan islam secara nyata melalui pendidikan untuk membuat islam lebih mengerti agama, bukan hanya sekedar ikut-ikutan.

menurut Kiai Ahmad Dahlan untuk

mendapatkan ilmu atau mencari ilmu tidak harus memandang latar belakang siapa yang menyebarkan ilmu tersebut. Karna selama menyangkut kepentingan umat dan tidak menyimpang dari agama itu sah-sah saja, karna berdasarkan hadis rosulluloh SAW : “carilah ilmu walau sampai ke negri cina”

(9)

Tabel 4.3

Sikap Kiai Ahmad Dahlan terhadap doa tanpa sesaji Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“jadi dalam berdoa yang dibutuhkan hanya sabar dan ikhlas, bukai kiai, imam, khatib apalagi sesaji tapi langsung kepada Allah”

Denotasi Konotasi

Adegan kiai Ahmad Dahlan melakukan khutbah Jumat pertamanya di masjid gede kauman. Dalam frame tersebut terdapat sebuah mimbar berwarna kuning keemasan yang sangat indah, di dalam masjid gede kauman dan beberapa jama’ah yang mengikuti khutbah jum’at.

Kiai Ahmad Dahlan melakukan khutbah jum’at pertamanya di Masjid Gede Kauman dengan tema doa atau permohonan yang benar di mata Allah. di sebuah mimbar berlapis kuningan yang sangat indah, kiai Ahmad Dahlan berdiri tegak diatas mimbar, suatu kehormatan apabila seseorang berdiri diatas mimbar karena mimbar adalah tempat bagi siapa saja yang sudah dianggap mampu memimpin umatnya untuk kebaikan, kiai Ahmad Dahlan mencoba berusaha untuk menjadi contoh yang

(10)

baik untuk para umat,khususnya para jama’ah yang mengikuti khutbah jum’at, dalam isi khutbah jum’at perkataan demi perkataan harus tersusun yang mengandung nasihat dan informasi. Khutbah harus di sampaikan secara lisan di hadapan banyak orang dan harus menyakinkan dengan argumen-argumen yang kuat serta memberikan pengaruh kepada pendengar, baik itu berupa motivasi ataupun peringatan.

Kiai Ahmad Dahlan berucap bahwa islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi siapa saja yang bernaung dibawahnya, baik muslim maupun bukan muslim. Selain itu merahmati artinya melindungi, mengayomi, membuat damai, tidak mengekang dan membuat takut umat, atau membuat rumit dan berat kehidupan muslim dengan upacara-upacara dan sesaji yang tidak pada tempatnya.

Menurut Kiai Ahmad Dahlan memanjatkan sebuat doa itu hanya kepada Allah dan kanjeng Nabi Muhammad SAW, tidak kepada manusia apalagi sesaji. Ahmad Dahlan ingin

(11)

mengembalikan pemikiran apa yang salah menjadi kembali kepada jalan yang sesuai syariat islam. berdoa adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT, tetap bukan berarti hanya orang yang terkena musibah saja yang layak memanjatkan doa. Sebagai seorang muslim kita layak berdoa walaupun kita dalam keadaan sehat. kiai Ahmad Dahlan melakukan khutbah dengan penuh keyakinan dan satu tekad satu tujuan. Yang membuat sebagian jamaah yang hadir dalam khutbah tersebut terdorong hatinya untuk mengikuti serta mentaati arti islam yang sesungguhnya.

(12)

Tabel 4.4

Sikap Kiai Ahmad Dahlan dalam sebuah pengajaran mengaji Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“Agama itu apa Kyai?” tanya Zazuli salah seorang murid Kyai Ahmad Dahlan.

Denotasi Konotasi

Gambar Kyai Ahmad Dahlan bermain biola di depan murid-muridnya, dan mengajarkan bahwa belajar itu tidak mesti dengan cara verbal, cara non verbal pun bisa dimengerti dan dipahami. Kyai Ahmad Dahlan memainkan Biola untuk menjawab pertanyaan dari

Analisis ini menceritakan bagaimana Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan sebuah pengajian yang berbeda dari biasanya, Kyai Ahmad Dahlan bertanya kepada murid-muridnya siapa yang ingin bertanya, semua murid tersebut saling melirik dan bertatapan satu sama lain, mereka semua merasa bingung karna menurut mereka, seorang kiai lah yang mengajarkan dan mereka mendengarkan, akhirnya salah satu muridnya yaitu Zazuli bertanya mengnai apa itu agama, Kiai Ahmad Dahlan mengambil sebuah biolanya

(13)

salah satu muridnya yaitu Zazuli, Zazuli merupakan salah satu murid yang sangat kritis dalam hal agama karenanya Kyai Ahmad Dahlan tidak ingin menjawab dengan cara yang biasa yang hanya membuat para muridnya harus menghafal jawaban. Dalam frame tersebut terdapat sebuah biola yang di mainkan oleh Kiai Ahmad Dahlan dan keempat murid Kiai.

dan meletakan biola tersebut di pundaknya lalu secara perlahan Kiai menggesekan biola tersebut dan mulai memainkanya, alunan biola yang merdu dan syahdu membuat para murid tersebut terbuai mendengarnya. Memang apabila dikaitkan dengan segi keagamaan bermain musik khusunya bermain biola tidak ada di ajaran islam tetapi lebih banyak di ajarkan di ajaran agama nasrani, tetapi Kiai Ahmad Dahlan ingin murid-muridnya berfikir lebih keras setiap kali mencoba mencari jawaban atas pertanyaan mereka sendiri. menurut Kiai Ahmad Dahlan metode pengajaran dengan cara menggunakan biola bukan mengikuti cara kaum nasrani tetapi hanya agar pengajaran agama lebih menarik bagi kaum muda, membuat mereka lebih aktif bertanya dan mencoba berfikir lebih keras untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di kepala murid-muridnya.

menurut para sesepuh Islam dahulu pada umumnya alat musik dipandang haram karena melunakan jiwa dan pikiran dari mengingat

(14)

Allah. Sedangkan dakwah adalah kewajiban bagi kita sebagai muslim, meski hanya satu ayat. Musik juga pada umumnya dimainkan dalam ibadah kaum nasrani di gereja-geraja. dalam sebuah pengajian yang diadakan Kyai Ahmada Dahlan kepada murdinya tentang definisi agama (islam) bahwa agama itu tentram, damai, mengayomi. Kyai Ahmad Dahlan menyampaikan dengan penuh kedamaian dan keikhalsan. Dan menyampaikan sebuah pengajaran tidak mesti selalu verbal, tetapi dengan cara non verbalpun penyampaian tersebut dapat bisa dipahami, seperti yang dilakukan Kyai Ahmad Dahlan dengan cara simbolik yaitu memainkan sebuah biola.

(15)

Tabel 4.5

Sikap Kiai Ahmad Dahlan dalam menunjukan arah Kiblat Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“mohon maaf Kyai, berdasarkan ilmu falaq, Pulau Jawa dan Mekah tidak lurus ke barat, jadi tidak ada alasan kita mengarahkan kiblat ke arah barat, karena kalau kita mengarah ke barat berarti kita mengarah ke Afrika.” Kyai Ahmad Dahlan menjelaskan kepada para Kyai yang mengikuti rapat.

Denotasi Konotasi

Kyai Ahmad Dahlan sedang mencoba menjelaskan kepada para Kyai yang mengikuti rapat tentang kebenaran arah kiblat yang benar dengan acuan peta dunia. Kyai Ahmad Dahlan menjelaskan

Pada analisis ini, adegan ketika Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan arah kiblat yang benar kepada seluruh tamu undangan rapat yang telah di undang oleh Kiai Ahmad Dahlan. Keadaan pada malam itu benar-benar sangat menegangkan, dikarenakan para tamu yang diundang bukanlah tamu dari kalangan biasa,

(16)

berdasarkan ilmu falaq, pulau jawa dan mekah tidak lurus ke barat jadi menurutnya tidak ada alasan mengarahkan kiblat ke arah barat. Karena jika mengarah ke barat berarti mengarah ke afrika. Dan tidak perlu membongkar Masjid Gede untuk mengganti arah kiblat, tetapi kita hanya merubah posisi sholat kita ke arah 23 derajat dari posisi semula, seperti yang dikisahkan oleh Rasulullah SAW memindahkan arah kiblat dari masjid Al-Aqso ke Al-Haram beliau berputas 180 derajat dari posisi semula.

melainkan para Kiai terpandang dan dinilai paham akan agama, para kiai bersih keras, bahwa apa yang telah disampaikan oleh Kiai Ahmad Dahlan mengenai arah kiblat tidaklah benar, termasuk kakak kandung Kiai sendiri, para Kiai saling mengeluarkan pendapatnya, dan saling menguatkan argumen bahwa ungkapan Kiai Ahmad Dahlan tidaklah benar mengenai arah kiblat, akhirnya untuk lebih mempercayai para tamu undangan, Kiai Ahmad Dahlan memanggil muridnya Zazuli untuk membawakan selembar peta beserta kompas yang telah di siapkan oleh Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Dahlan menjelaskan dengan penuh ketelitian bagaimana arah kiblat yang sebenarnya, para tamu undangan pada saat itu para Kiai sangat antusias melihat Kiai Dahlan menjelaskan menggunakan peta dunia dan juga kompas, keadaan sangat hening, hanya ada suara Kiai Dahlan saja yang terdengar, setelah selesai menjelaskan, banyak sekali tentangan-tentangan yang di lontarkan dari tamu

(17)

undangan kepada Kiai Dahlan, menurut salah satu Kiai, peta dan kompas yang digunakan oleh Kiai Dahlan adalah buatan orang-orang kafir, dan apabila kita mengarahkan kiblat berdasarkan gambar tersebut, sama saja kita kafir. Kiai Ahmad Dahlan hanya

menyampaikan sesuatu yang telah

dianggapnya benar sesuai ajaran islam. Salah satu yang di pelajarinya pada saat di tanah suci adalah ilmu falaq dan hisab (ilmu yang mempelajari tentang lintasan

benda langit dengan tujuan untuk

mengetahui posisi dan waktu-waktu di permukaan bumi) di tambah dengan penggunaan kompas yang lebih teliti, penetapan posisi atau lokasi tertentu seharusnya bukan menjadi hal yang sullit. Setelah diteliti dengan ilmu falaq yang dibantu dengan kompas dan peta dunia, didapati kiblat masjid kauman melenceng 26 derajat dari arah saat itu.

Kiblat dalam islam adalah arah menghadapkan wajah ketika mengerjakan

(18)

solat. Kiblat terkandung makna penegasan dan pengajara tata cara dan tata kramah (etika) suatu dinamika kelompok. Kiai Ahmad Dahlan menggunakan kompas dan juga peta dunia hanya semata-mata ingin menunjukan arah kiblat umat islam yang benar, seperti yang ditirukan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu mengarahkan kiblat solat kea rah ka’bah, bukan kea rah barat daya, utara, atau sebagainya.

Tabel 4.6

Prilaku Kiai Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo untuk perubahan Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“satu hal yang penting, bukan siapa kita tapi bagaimana kita untuk umat” pidato Kyai Ahmad Dahlan saat bergabung dengan Budi Utomo.

(19)

Denotasi Konotasi Kyai Ahmad Dahlan sedang

melakukan rapat bersama dengan para anggota Budi Utomo. Kyai berucap bahwasanya tidak perduli siapa kita, walaupun bukan terlahir dari golongan terpelajar yang terpenting kita mempunyai cita-cita dan bagaimana peran kita untuk umat.

Dihadapan para anggota budi oetomo, Kiai Ahmad Dahlan melakukan pidato kecil, pidato tersebut berisi menyakinkan para umatnya bahwa bagaimana peran kita untuk umat, seluruh anggota budi oetomo merasa bangga pada Kiai Ahmad Dahlan, karna Kiai Ahmad Dahlan sangat bertekad untuk merubah tatanan islam pada zaman itu menjadi islam yang mengenal akan sebuah pendidikan dan pengetahuan. keadaan ruangan budi oetomo pada saat itu sudah menggunakan sebuah meja dan beberapa kursi yang bernilai modrn, Kiai Ahmad Dahlan pun berpakaian seperti anggota budi oetomo menggunakan sandal dan pakaian modern.

(20)

Tabel 4.7

Sikap Kiai Ahmad Dahlan menasehati Sudja Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“aku sedang belajar lagi ja, aku sedang belajar cara mengatur sebuah perkumpulan,cara membuat sekolah, cara mengajar. Itu semua untuk mewujdkan cita-citaku mendidik umat islam.” Kyai Ahmad Dahlan menjawab pertanyaan, muridnya sudja.

Denotasi Konotasi

Gambar Kyai Ahmad

Dahlan menjawab

pertanyaan salah satu muridnya sudja yang kesal melihat Kyai Ahmad Dahlan mengajar di tempat orang-orang kafir, dan bergabung di perkumpulan

Adegan tersebut menceritakan protes salah satu murid Kyai Ahmad Dahlan, mengapa Kyai Ahmad Dahlan bergabung dan belajar di tempat orang-orang kafir dan perkumpulan kejawen, sedangkan mereka bisanya hanya menghina agama islam, keadaan pada saat itu hanya ada sudja dan Kiai Ahmad Dahlan saja, atmosfir disekeliling langgar kidul sangat

(21)

kejawen. hening sekali,raut wajah sudja yang terlihat benar-benar sangat kecewa dengan Kiai Ahmad Dahlan yang bergabung dengan Budi Oetomo dan Sekolah Belanda. menurut Ahmad Dahlan kalau ingin belajar kita mesti berprasangka baik sama orang siapapun, tidak mesti melihat latar belakang orang tersebut, dan Kyai Ahmad Dahlan ingin bergabung disitu untuk mewujudkan cita-citanya mendidik umat islam.

Kyai Ahmad Dahlan bergabung dan belajar di Budi Utomo dan sekolah belanda ingn mempelajari bagaimana cara membangun sekolah, cara mengatur sebuh perkumpulan yang baik untuk umatnya. Dan Kyai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada muridnya sudja, bahwa apabila kita ingin belajar, kita harus bersikap baik dengan semua orang. Cara menyampaikan Kyai kepada Sudjapun dengan santai tetapi menyakinkan.

(22)

Tabel 4.8

Prilaku Kiai Ahmad Dahlan membuat sebuah Madrasah Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long song

“mau membuat sekolah Kyai? Kok pakai meja dan kursi Kyai?” tanya Fahrudin dan Hisyam.

Denotasi Konotasi

Gambar Kyai Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah yang kemudian dipertanyakan murid-muridnya bahwa mengapa mendirikan madrasah mesti menggunakan meja dan kursi. Kyai Ahmad Dahlan ingin mendirikan sebuah

madrasah yang

Analisis berikutnya menceritakan tentang Kiai Ahmad Dahlan yang ingin membuat sebuah Madrasah Ibtidaiyah diniyah, tetapi konsep yang di hadirkan dalam adegan tersebut tidak seperti Madrasah-madrasah biasanya yang tidak memakai meja dan tidak memakai kursi, yang tampak di sekeliling tersebut malah adanya meja dan juga kursi seperti yang ada di sekolah-sekolah belanda, seluruh murid terlihat bingung dan bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan raut wajah mereka sangat terlihat

(23)

modern,mengapa

menggunakan kursi dan meja, itu bukan semata-mata mengikuti kaum kafir, melainkan hanya ingin melakukan pembaharuan dan perubahan.

seperti halnya manusia yang merasa bingung dengan apa yang dia kerjakan. Cara pandang yang ditunjukan oleh Kiai Ahmad Dahlan dengan cara menggunakan meja dan kursi untuk madrasahnya itu semata-mata hanya ingin menciptakan madrasah yang modern dan berbedan dengan langgar untuk mengaji, karna madrasah adalah tempat belajar layaknya sekolah.

madrasah di khususkan sebagai sekolah yang berorientasi pada pesantren yang tidak menggunakan meja dan kursi untuk belajar, karena pada saat itu penggunan meja dan kursi sama seperti sekolah-sekolah belanda yang di anggap sekolah orang kafir.

(24)

Tabel 4.9

Sikap Kiai Ahmad Dahlan memberikan pendapat soal selamatan

Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“saya mau menikahkan anak saya pak Kyai, tapi saya tidak punya uang untuk selamatan, saya harus bagaimana Kyai?” (tanya seorang warga desa)

Denotasi Konotasi

Kyai Ahmad Dahlan dimintai pendapat perihal wajib tidaknya acara selamatan dalam pernikahan. Menurut Kyai Ahmad Dahlan selamatan itu tidaklah diwajibkan, yang wajib itu mesti adanya wali, saksi dan mahar. Setelah itu

Pada analisis ini ada tiga masyarakat jawa yang menanyakan kepada Kiai Ahmad Dahlan mengenai selamatan menjelang pernikahan putrinya, kedua orang tua tersebut sangat membutuhkan nasihat kepada Kiai Ahmad Dahlan, karna mereka merasa takut apabila tidak melaksanakan selamatan pernikahan putrinyamasyarakat akan menilai bahwa pernikahan tersebut tidaklah sah. Kiai Ahmad

(25)

dikabarkan kepada para tetangga agar mereka mengetahui siapa yang menikah dengan siapa, supaya tidak menimbulkan fitnah. Menurut Ahmad Dahlan sifat memaksa dan menghambur-hamburkan uang tidak ada di islam dan Al-Qur’an.

Dahlan hanya menjelaskan bahwa upacara selamatan itu tidaklah penting untuk dilaksanakan, yang terpenting dalam sebuah perkawinan hanyalah saksi,mahar dan tidak lupa memberi tau kepada tetangga sekitar agar tidak timbul adanya fitnah. Menurut hukum islam definisi pernikahan adalah suatu perjanjian untuk mensahkan hubungan kelamin dan untuk melanjutkan keturunan. Memang dalam sebuah pernikahan khususnya di daerah jawa ini dikenal adanya selamatan dan ritual kebudayaan. Selamatan menurut budaya jawa terdiri atas sesajen, makanan simbolik, sambutan resmi dan doa, tetapi tradisi ini bisa jadi di nilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaranya. Jadi demikian apa yang di sampaikan Kiai Ahmad Dahlan selamatan tidaklah penting dan wajib, yang terpenting tidak ada unsur pemaksaan antar pengantin yang akan dinikahkan.

(26)

Tabel 4.10

Sikap Kiai Ahmad Dahlan memberika pengertian ajaran yang bener kepada para Kiai

Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“Kamu tahu, dampak dari ajaran kamu terhadap umat? Mereka akan menggampangkan agama.” Agama itu bukan rangkaian aturan-aturan yang bisa di permudah atau di persulit, kang mas. Agama itu sebuah proses.” Jawah Kiai Ahmad Dahlan terhadap pertannya dari kang mas Noor.

Denotasi Konotasi

Adegan tersebut menceritakan tentang pertannyaan-pertannyan para Kiai Kauman mengenai ajaran-ajaran islam yang di

Kiai Ahmad Dahlan menghadiri undangan Kiai Penghulu Kamuladiningrat, bukan hanya Kiai Ahmad Dahlan saja yang di undang dalam pertemuan tersebut tetapi

(27)

diajarkan oleh Kiai Ahmad Dahlan, Pada Rapat kecil tersebut terdapat beberapa Kiai dan juga murid-murid Kiai Ahmad Dahlan.

beberapa Kiai di Kaumanpun turut hadir termasuk kakak Kiai Ahmad Dahlan. Para Kiai menanyakan kepada Kiai Ahmad Dahlan mengapa Kiai Ahmad Dahlan merubah ajaran dan pemahaman islam pada saat itu, seperti halnya melarang masyarakat untuk bertahlil, membaca yasin dan lain-lain, suasana pada saat itu sangat hening dan sedikit bersih tegang, raut wajah para Kiai yang hadir terlihat sangat emosi sekali, karena menurut mereka Kiai Ahmad Dahlan telah mengajarkan ajaran yang di nilai salah kepada masyarakat. Kemudian Kiai Ahmad Dahlan menjawab semua pertanyaan para kiai dengan dalil-dalil yang dia pelajari dan menurutnya itulah ajaran islam yang benar menurut nabi Muhammad SAW. Seperti salah satu contohnya mengenai masalah yasinan, apabila terus menerus membaca yasin, di khawatirkan akan mengecilkan makna surat yang lain. Kiai Ahhamd

dahlan hanya takut apabila kita

(28)

akan menyebabkan para umat lari dan menjauh dari agama. Para kiai yang hadir seperti tidak terima dengan penjelasan Kiai Ahmad Dahlan tetapi Kiai Ahmad Dahlan hanya mencoba untuk sabar dan bersikap tenang dalam menyikapi permasalahan ini semua.

Tabel 4.11

Sikap Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk Suatu perubahan dan pembeharuan

Tabel Analisis

Shot Dialog/Suara/Teks Visual

Long shot

“jadi apa nama perkumpulan kita Kiai?” “kemarin sangidu memberikan usulan nama Muhammadiyah, buat perkumpulan kita. Saya sudah melakukan sholat

(29)

istiqharah dan saya sepakat dengan nama itu”

Denotasi Konotasi

Kiai Ahmad Dahlan beserta para muridnya sepakat untuk mendirikan muhammadiyah. Dalam frame tersebut terdapat beberapa murid Kiai Ahmad Dahlan dan sedikit diterangi oleh lampu petromak untuk menerangi ruangan tersebut.

Dalam analsis ini menceritakan tentang Kiai Ahmad Dahlan yang ingin membuat sebuah perkupulan atau organisasi untuk aktifitas sosial. Kiai Ahmad Dahlan membuat rapat kecil bersama ke lima muridnya untuk membicarakan keinginannya tersebut, dalam rapat tersebut terdapat sebuah meja dan lapu petromak kecil sebagai simbol untuk menerangkan dan membuat suasana lebih terlihat serius. Para murid bertanya mengapa mesti membuat sebuah organisasi apakah kurang sebuah langgar milik Kiai Ahmad Dahlan, menurut Kiai Ahmad Dahlan langgar hanyalah wadah atau tempat untuk beribadah,untuk mengaji tetapi kalau sebuah perkumpulan atau organisasi untuk menyalurkan aktifitas sosial kita. Kiai Ahmad Dahlan memberikan perkumpulan tersebut dengan nama Muhammadiyah yang mempunyai arti

(30)

pengikut kanjeng nabi Muhammad. Kiai Ahmad dahlan berharap Muhammadiyah

benar-benar bertujuan untuk

masyarakat,bukan untuk kepentingan pribadi. Dan Kiai Ahmad Dahlan berubahwa “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” seluruh murid-murid Kiai aAhmad Dahlan setuju dengan pembentukan perkumpulan tersebut, dan berharap perkumpulan tersebut dapat di terima di masyarakat, khususnya Masyarakat Kauman Yogyakarta.

(31)

4.4 Makna Lama dan Makna Baru

Sesaji

Makna Lama Makna Baru

Berbagai macam makanan yang di sajikan kepada para Roh dan leluhur

Diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan

Selametan

Makna Lama Makna Baru

Untuk menghormati para leluhur yang telah kembali ke Rahmattullah

Mendoakan orang-orang yang telah lebih dulu meninggal atau berdoa agar selalu diberikan keberkahan

Berdoa

Makna Lama Makna Baru

Melalui ritual- ritual yang bersifat mistik dengan sesaji, bunga- bungaan dan kemenyan.

Berdoa langsung meminta kepada Tuhan.

(32)

Madrasah Ibtidaiyah

Makna Lama Makna Baru

Hanya sebagai tempat mengaji Pendidikan paling mendasar, yang di lakukan selama enam tahun

4.5 Pembahasan

Muhammadiyah merupakan organisasi islam dengan ideology pembeharuan yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan muncul sebagai salah satu orang yang perduli terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat Pribumi secara umum maupun masyarakat muslim secara khusus.

Ahmad Dahlan lahir di kampung Yogyakarta tanggal 1 Agustus 1862 dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya K.H Abu bakar adalah imam dan khatib Masjid besar kauman Yogyakarta., sementara ibunya Siti Aminah adalah anak K.H Ibrahim Penghulu besar kauman Yogyakarta, menurut salah satu silsilah keluarga Muhammad Darwis dapat di hubungkan dengan Maulan Malik Ibrahim, salah seorang wali penyebar Agama islam yang di kenal di pulau Jawa.

Sejak kecil Muhammad Darwis sudah menunjukan beberapa kelebihan dalam penguasaan ilmu, sikap, dan pergaulan sehari-hari dibandingkan teman-temanya yang sebaya. Ia tumbuh menjadi anak yang berfikiran kritis terutama dalam masalah tradisi-tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat yang mengatasnamakan agama bukan hanya membuat umat terasa terbebani dengan

(33)

berbagai ritual tetapi juga hal tersebut sudah dianggap wajib. Dan karena itu sudah membudya maka Kiai-kiai yang ada saat itu malah menganjurkanya.

Banyak sekali nilai kepahlawanan dalam diri Kiai Ahmad Dahlan yang terkandung dalam film Sang Pencerah ini, dan hingga sekarang nilai-nilai perubahan tersebut diikuti oleh masyarakat, khususnya masyarakat Muhammadiyah.

Satu ketika Muhammad Darwis melihat sepasang suami instri menaruh sesajen berikut kemenyan dibawah pohon beringin besar disertai panjatan doa. sikap Muhammad Darwis sangat tidak setuju dengan hal-hal semacam itu yang dinilainya musrik dan mubazir maka, sesaat setelah suami istri itu pergi, Muhammad darwis mengambil sesajen tadi dan membagi-bagikannya kepada masyarakat yang dinilai jauh lebih membutuhkan. Seperti yang terdapat pada gambar 4.1.

Kiai Ahmad Dahlan sepulang menunaikan ibadah haji pertamanya di usia yang ke 15,membawa majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syeikh Jamaluddin Al-Afghani dan Syeikh Muhammad Abduh, karena menurut Kiai Ahmad Dahlan majalah tersebut bersisi tentang perubahan-perubahan agama islam, dan berharap perubahan tersebut dapat di terapkan di pulau jawa. Seperti yang terdapat pada gambar 4.2.

Kiai Ahmad Dahlan melakukan ceramah pertamanya saat menjadi Khatib shalat jum’at di Masjid Gedhe kauman seperti terdapat pada gambar 4.3, saat itu Kiai Ahmad Dahlan ceramah dengan tema berdoa yang benar di mata Allah. Isi

(34)

ceramahnya saat itu cukup membuat gempar jamaah shalat jum’at termasuk Kiai Penghulu Kamuladiningrat yang menjabat sebagai ketua Masjid Gedhe kauman. Kiai Ahmad Dahlan menyatakan bahwa dalam berdoa yang dibutuhkan hanya sabar, ikhlas dan keyakinan bahwa doa kita akan dikabulakn Allah SWT, bukan meminta pada Kiai, Imam, Khatib, apalagi sampai meminta-minta sesajen. Konsep berdoa yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan merupakan simbol Modernitas dan merubah pola fikir masyarakat yang saat itu masih melakukan ritual-ritual atas nama agama.

Alat musik biola pada saat itu dianggap alat musik orang kafir karena dibuat oleh orang kafir, tetapi Kiai Ahmad Dahlan memainkan alat musik biola saat mengajar di depan murid-muridnya seeperti terdapat pada gambar 4.4 muda. Membuat mereka lebih aktif bertanya, dan mencoba berfikir lebih ke. Kiai Ahmad Dahlan melakukan itu agar pengajaran agama lebih menarik bagi kaum ras untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dikepala murid-muridnya. Selain metode pembeharuan dalam hal mengajar, alat musik biola juga dimiliki simbol pembeharuan dalam hal teknologi. Dan perbuatan tersebut menjadi salah satu unsur tindak kepahlawanan yang dimiliki oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Selain mempelajari ilmu agama Kiai Ahmad Dahlan juga mempelajari ilmu falaq dan hisab. Setelah diteliti dengan ilmu falaq yang dibantu dengan kompas dan peta dunia, didapati kiblat Masjid Gedhe kauman melenceng 24 derajat dari arah saat itu. Atas dasar itu ia menyampaikan gagasanya kepada Kiai

(35)

Penghulu Kamuladiningrat sampai pada akhirnya dilakukanlah musyawarah yang dihadiri banyak Kiai-kiai di kauman. Hasil pertemuan itu menolak gagasan Kiai Ahmad Dahlan karena alat yang digunakan Kiai Ahmad Dahlan untuk membantu perhitunganya seperti kompas dan peta dunia dianggap buatan orang-orang kafir seperti terdapat pada gambar 4.5. kompas dan peta dunia saat itu dianggap simbol pembeharuan dalam bidang teknologi.

Kiai Ahmad Dahlan memutuskan bergabung dengan perkumpualan budi utomo seperti terlihat pada gambar 4.6. tujuanya adalah untuk belajar berorganisasi, belajar membentuk organisasi dan belajar mengurus organisasi, karena pada saat itu sulit rasanya melakukan perubahan besar dalam hal keagamaan tanpa adanya organisasi. Organisasi yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan saat itu menjadi simbol pengakuan keberadaan kelompok tertentu dimata penjajah Belanda.

Kiai Ahmad Dahlan di tegur oleh salah satu muridnya yaitu Sudja, mengenai keikut sertaannya dengan Budi Utomo Dan juga sekolah Belanda seperti terdapat pada Gambar 4.7. Kiai Ahmad Dahlan hanyalah ingin membuat suatu perubahan bagi Agamanya, agar berfikir lebih modern, dan menjadi islam yang yang mengenal pendidikan, Kiai Ahmad Dahlan mengatakan kepada Sudja, bahawa apabila kita ingin berlajar, maka mencoba selalu berprasangka baik kepada orang lain.

Kepedulian terhadap masalah pendidikan saat itu membuat Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah seperti terdapat pada Gambar

(36)

4.8. metode pengajaran yang dilakukan sama seperti sekolah Belanda, bahkan sampai penggunan bangku dan meja sebagai alat pelengkap di kelas. Bangku dan meja sebagai kelengkapan Madrasah merupakan simbol Modernitas karena saat itu Madrasah tidak menggunakan itu semua.

Kiai Ahmad Dahlan diminta untuk memberikan pendapatnya oleh seorang warga seperti pada gambar 4.9. tentang kenduru atau selamatan yang biasa dilakukan sebelum acara pernikahan. Kiai Ahmad Dahlan hanya menjelaskan bahwa ritual semacam itu tidak wajib dilakukan karena memang tidak disyareatkan dalam islam dan biasanya sangat memberatkan dalam hal finansial.

Pada akhirnya Kiai Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah seperti terdapat pada Gambar 4.11. Muhammadiyah memiliki arti pengikut Nabi Muhammadiyah SAW, dan diharapkan siapapun yang menjadi anggota Muhammdiyah harus mencontoh pribadi Rosululloh.

Referensi

Dokumen terkait

KESAN PENGAJARAN BERASASKAN ISU SOSIOSAINTIFIK (PBISS) KE ATAS KEMAHIRAN PEMIKIRAN KRITIS, KESEDARAN METAKOGNISI DAN PENAAKULAN SOSIOSAINTIFIK GURU..

Ini kerana gandingan kemahiran unsur sejarah adalah melibatkan aktiviti manipulatif, ilustrasi dan applikasi yang releven ( Kailani et al., 2010). Oleh yang demikian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek probiotik ditambahkan dalam air minum pada konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan rasio konversi ransum

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis rasio likuiditas, analisis rasio aktivitas, analisis rasio solvabilitas, analisis rasio

Bahwa dalam menghidupkan dan mengembangkan demokrasi yang sehat di Indonesia, tidak akan pernah bisa dilakukan dengan mengandalkan kekuatan kekuasaan politik dan ekonomi,

DiskripsiSingkat MK Pembelajaran mata kuliah ini dimaksudkan untuk memberi kemampuan mahasiswa mempelajari dan memahami ilmu kepemimpinan dan kewirausahaan yang mencakup

Selain itu sebagai pelayan kita juga diingatkan bahwa dalam memenuhi panggilan pelayanan tidak perlu mempermasalahkan siapakah yang terdahulu, siapa yang paling unggul,

Saya pernah mencoba untuk melakukan pencarian kembali udang Cirolana marosina di Gua Saripa, di kawasan karst Maros, tempat yang sama saat Louis Dehaveng menunjukkan hewan itu