• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAMBATAN SOSIOLOGIS PENYELENGGARAAN PESTA PERNIKAHAN DI GEDUNG PADA MASYARAKAT KELURAHAN LUBUK BEGALUNG NAN XX KECAMATAN LUBUK BEGALUNG KOTA PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HAMBATAN SOSIOLOGIS PENYELENGGARAAN PESTA PERNIKAHAN DI GEDUNG PADA MASYARAKAT KELURAHAN LUBUK BEGALUNG NAN XX KECAMATAN LUBUK BEGALUNG KOTA PADANG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

HAMBATAN SOSIOLOGIS PENYELENGGARAAN PESTA PERNIKAHAN

DI GEDUNG PADA MASYARAKAT KELURAHAN LUBUK BEGALUNG

NAN XX KECAMATAN LUBUK BEGALUNG

KOTA PADANG

ARTIKEL

DWI PERTIWI

NPM. 11070098

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2015

(2)
(3)

Sociological barniers wedding ceremony in building at society in Lubuk Begalung Nan XX district. “thesis”. Sociology Department, STKIP PGRI West Sumatera Padang, 2015

Oleh :

Dwi Pertiwi1, Ardi Abbas2, Ikhsan M. Putra3 * The Sosiology education student of STKIP PGRI Sumatera west. ** The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI Sumatera west

ABSTRACT

The building is one of the high, walled buildings and a big house. The building is a palace that has been provided to carry and various events such as seminars, graduation, parting and wedding ceremony. The implementation of wedding ceremony in the building, will reduce the disrupton of public facilities for the people, who hold the wedding ceremony in the home. Especially for borjuis, however, in a wedding ceremony in the building is still many barriers, for the ploretar. The purpose of this research is to describe sociological barriers wedding ceremony in building at society in Lubuk Begalung Nan XX district.

The design of this research was descriptive research with qualitative approach. The techniques of data collection in this research werk observation and depth interview in determining the informant the researcher used pursposive sampling. In analysis of data the researcher used descriptive method that the data obtained systematically in the field. The theory was phenomenology proposed by Schutz that divided two basics people or individual acts namely because motive and in order motive.

The results of this research werk the sociological barriers for society who hold the wedding ceremony in the building it caused by limiting the involvement of certain the socioeconomies groups, making the family distance with certain groups, relieve of agelater or equality, and the need to show the bridal room.

Key Words: sociological barriers wedding

1

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

2

Pembimbing I, staf pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

3

(4)

ABSTRAK

DWI PERTIWI. (11070098). “Hambatan Sosiologis Penyelenggaraan Pesta Pernikahan di Gedung Pada Masyarakat Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) Kecamatan Lubuk

Begalung”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi, STKIP PGRI Sumatera Barat. Padang. 2015.

Gedung merupakan salah satu bangunan tinggi yang berdinding batu, dan rumah yang besar. Gedung merupakan tempat yang telah disediakan untuk melaksanakan berbagai acara seperti seminar, wisuda, perpisahan, bahkan acara pesta pernikahan. Dalam pelaksanaan acara pesta pernikahan di gedung, akan mengurangi terganggunya fasilitas umum bagi masyarakat yang mengadakan acara pesta pernikahan di rumah terutama pada masyarakat kalangan ekonomi atas. Namun, dalam mengadakan acara pesta pernikahan di gedung masih banyak juga hambatan sosiologis bagi masyarakat kalangan ekonomi bawah. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan hambatan sosiologis masyarakat Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) untuk melaksanakan pesta pernikahan di gedung.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan wawancara mendalam, studi dokumen dengan menggunakan purposive sampling dalam menentukan informan. Analisis data menggunakan metode deskriptif yaitu data yang diperoleh di lapangan yang disusun secara sistematis dan disajikan secara deskriptif. Teori yang digunakan adalah fenomenologi menurut Schutz yang membagi dua motif yaitu Because motive dan In Order to motive.

Hasil penelitian ini adalah hambatan sosiologis bagi masyarakat yang mengadakan pesta pernikahan di gedung, disebabkan karena membatasi keterlibatan golongan sosial ekonomi tertentu, membuat jarak keluarga dengan kelompok tertentu, mengurangi rasa agelater atau kesetaraan, dan kebutuhan menampilkan kamar pengantin.

Kata Kunci: hambatan sosiologis pesta pernikahan

PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam. Manusia mengalami proses kehidupan yang sama yaitu kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, dan mati. Pada proses tersebut manusia berinteraksi dengan alam dan lingkungan dalam sebuah hubungan timbal balik baik itu positif maupun negatif. Lingkungan adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari penghidupan, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya (Setiadi, 2006:177). Pertambahan penduduk selalu disertai dengan pertambahan kebutuhan lahan untuk berbagai keperluannya, seperti: pemukiman, pertanian, dan fasilitas umum. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering terjadinya hambatan-hambatan seperti sempitnya lahan karena terbatasnya lahan yang telah tersedia, sementara lahan itu sendiri tidak bertambah luas.

Laju pertumbuhan penduduk yang cukup besar disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi sehingga menimbulkan beberapa masalah. Misalnya kekurangan perumahan bagi

masyarakat, lapangan pekerjaan, dan berbagai kegiatan lainnya (Bakarudin, 1986:8). Hal ini sesuai dengan pendapat (Bintaro, 1984:34) bahwa problem kekurangan ruang atau tempat ditimbulkan oleh pertambahan penduduk.

Disadari bahwa laju pertumbuhan penduduk tidak pernah berhenti bahkan senantiasa menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan penduduk yang selalu meningkat dengan sendirinya diikuti oleh pengembangan ruang. Salah satu contoh yang terjadi di kota Padang khususnya di Lubuk Begalung adalah jalan digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai lokasi pesta. Ironisnya dapat dialami oleh masyarakat setempat, apabila mengadakan pesta terkadang ada dalam satu bulan bahkan tiga bulan atau enam bulan dijumpai pesta di jalan seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu di Kota Padang tepatnya di Jalan Raya Lubuk Begalung (Lubeg). Jalan ini merupakan jalan dua arah, dengan adanya pesta di jalan ini menjadi satu arah, sehingga kemacetan yang tidak bisa dihindari. Kemacetan dapat berdampak pada bahaya seperti kecelakaan. Kecelakaan dapat terjadi antara pengendara sepeda motor dan mobil yang berlawanan arah. Dengan adanya kata-kata “maaf ada pesta atau

(5)

maaf ada keramaian” yang sengaja dibuat penyelenggara pesta yang termasuk melanggar nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Seolah-olah jalan umum tersebut menjadi milik pribadi atau keluarga. Ini merupakan salah satu fakta yang terjadi didalam masyarakat kita yang belum bisa menghargai kepentingan umum dan suatu keadaan bangsa yang menghambat pembangunan.

Karena terjadinya kemacetan yang dialami pada saat pesta pernikahan, apalagi yang melakukan pernikahan tersebut yang bertempat tinggal di Lubeg pasti akan bertambah macet. Keluarga yang melakukan pesta dengan menggunakan jalan raya sebagai lokasi pesta berasal dari berbagai macam tingkatan mulai dari tingkat ekonomi bawah, menengah sampai atas. Menarik disini yang akan diteliti adalah masyarakat ekonomi tingkat atas yang melaksanakan pesta pernikahan di gedung dan di rumah. Keadaan demikian dapat kita lihat dengan sudah tersedianya fasilitas untuk menyelenggarakan pesta pernikahan di kota Padang. Tetapi pada kenyataannya saat ini tetap saja banyak warga yang masih menggunakan jalan raya sebagai tempat pesta terutama yang bertempat tinggal di pinggir jalan.. Dimana ketika masyarakat menyelenggarakan pesta di gedung, adat istiadat pernikahan yang biasa dilaksanakan di rumah, seperti bako yang datang membawa bingkisan yang diberikan kepada mempelai, baik itu mempelai laki-laki maupun perempuan sulit dilakukan dan tidak adanya acara arak-arakan maanta atau babako. Pada saat diadakan di gedung ada keterbatasan ruang dan waktu untuk pelaksanaan tradisi-tradisi tersebut. Di gedung hanya dijadikan untuk resepsi saja, tetapi pada saat pesta pernikahan dilaksanakan di rumah adat istiadat atau tradisi bisa dijalankan dengan baik seperti adanya acara pemberian gelar terhadap mempelai laki-laki dari niniak mamak mempelai itu sendiri. Ketika pesta pernikahan dilaksanakan di rumah cara makan pun juga dilakukan dengan sopan menurut adat Minangkabau. Masyarakat yang datang bisa makan duduk secara bersila bagi laki-laki dan perempuan duduk secara bersimpuh. Ini juga termasuk adat istiadat yang harus dilakukan bagi masyarakat Minangkabau, sedangkan di gedung para tamu makan secara berdiri ini juga hal yang tidak dibolehkan oleh masyarakat khususnya orang Minangkabau turun temurun. Tradisi adat istiadat tetap harus dipakai bagi masyarakat Minangkabau tersebut dan tidak terjadinya sifat tolong menolong dengan masyarakat kalangan bawah ketika melaksankan acara resepsi pernikahan. Tujuan untuk mendeskripsikan hambatan sosiologis masyarakat kelurahan

Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) untuk melaksanakan pesta pernikahan di gedung. METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena dianggap mampu menggambarkan suatu kenyataan atau fenomena yang ada dilapangan dan bisa menjelaskan masalah yang akan diteliti secara mendalam. Tipe penelitian adalah studi kasus. Tipe ini mempelajari secara intensif sekelompok masyarakat yang dipandang mengalami kasus tertentu. Informan penelitian dtentukan dengan menggunakan teknik Purposive sampling, maksud sampling dalam hal ini informan ditetapkan secara sengaja oleh peneliti sendiri. Dalam upaya mendapatkan keterangan dan data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti (Bungin, 2001:111). Orang yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah: 1) Keluarga yang sudah pernah mengadakan pesta pernikahan dari pembatasan tahun 2013 sampai sekarang (2015) di Gedung UPI Sport Center dan Convention Center, Gedung Pusako Bundo PT. KAI, dan lainnya 2) Keluarga yang sudah pernah mengadakan pesta pernikahan yang menggunakan arus jalan umum.

Analisis Data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilakukan di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX Kota Padang. Alasan penulis memilih lokasi ini karena ketersediaan fasilitas gedung yang sebagian besar digunakan masyarakat umum sebagai penyelenggaraan pesta pernikahan (wawancara dengan Ibu Weri tanggal 28 Mei 2015)

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Kecamatan Lubuk Begalung memiliki luas wilayah 30,91 Km2 ini setara dengan 4.62 persen dari luas daratan wilayah kota Padang. Secara administratif, Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX merupakan bagian dari Kecamatan Lubuk Begalung, bersama dengan 15 Kelurahan lainnya. Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX memiliki luas wilayah 1,55 Ha, dan didiami oleh 5312 jiwa penduduk yang tersebar di 10 RW di Keluruhan Lubuk Begalung. Di Kelurahan Lubuk Begalung memiliki ketinggian tanah dari permukaan laut seluas 24 Mdpl (meter di atas permukaan laut), curah hujan 384,88 mm/bulan dan suhu udara rata-rata 22OC–32,7OC.

(6)

Jumlah penduduk di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX adalah 5.312 jiwa. Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin terdapat 2.680 jiwa laki-laki dan 2.632 jiwa perempuan. Sedangkan untuk penduduk yang melaksanakan pernikahan ada sebanyak 2.082 pasang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Proses Pernikahan Gambaran umum proses pernikahan yang terjadi di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX, merupakan proses pernikahan adat Minangkabau yaitu menurut garis keturunan ibu atau matrilineal. Garis keturunan ibu atau matrilineal, yang pada hakikatnya didasarkan atas pertalian darah menurut garis ibu. Pernikahan merupakan suatu perjanjian yang suci antara seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, makruf, sakinah, mawaddah, dan rahmah. Adapun proses pernikahan yang ideal bagi masyarakat di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX ini adalah sebagai berikut:

1. Mencari jalan

Proses mencari jalan ini yaitu datangnya beberapa orang dari keluarga mempelai wanita seperti kedua orang tua atau famili, ke rumah calon mempelai pria dengan membawa paragiahan berbentuk kue atau pisang. 2. Peminangan

Proses peminangan ini datangnya

keluarga calon mempelai wanita

beserta niniak mamak ke rumah

calon mempelai pria

3. Sidang

Proses sidang ini dilakukan oleh kedua pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, dimana akan diadakan penyidangan oleh anggota badan pegawai penasehat pencatat pernikahan. 4. Ijab Kabul/Nikah

Proses ijab kabul sering dilakukan di rumah mempelai wanita dan ada juga dilangsungkan di Masjid atau Musholla. Dalam proses ijab kabul ini mempelai laki-laki mengucapkan kalimat ijab kabul di depan saksi dan penghulu ataupun di depan orang banyak (keluarga).

5. Pemberian Mahar dan Cincin

Proses pemberian mahar dan pemasangan cincin setelah ijab kabul berlangsung, yang mana mempelai pria memberikan mahar biasanya seperangkat alat sholat dan dilanjutkan pemasangan cincin antara kedua mempelai.

6. Resepsi Pernikahan

Dalam proses ini dilakukan setelah ijab kabul, dimana adanya acara adat kedua mempelai seperti diarak keliling kampung, dari rumah bako, ke rumah acara pesta pernikahan, adanya acara makan-makan, dan lain-lainnya. B.Gambaran Umum Proses Pesta

Pernikahan

Jalan Raya Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) merupakan jalan milik Negara, salah satu jalan alternatif menuju kampus Universitas Putra Indonesia dan pemukiman warga. Masyarakat yang tinggal di jalan tersebut merupakan masyarakat pribumi asli yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal disana. Sedangkan masyarakat pendatang yang tinggal disana ada yang sudah menetap karena telah membeli tanah dan mereka membangun rumah. Namun ada pula yang bersifat sementara yaitu para mahasiswa dan mahasiswi yang mengontrak atau kost selama masa perkuliahan berlanjut.

Ada dua jenis tempat yang sering dijadikan sebagai tempat acara pesta pernikahan, yaitu gedung dan rumah. Namun, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan

.

B1.Penyelenggaraan Pesta di Gedung

Gedung merupakan bangunan yang tinggi dan berdinding batu memiliki wujud fisik dari hasil pekerjaan kontruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya. Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX ini terdapat Kampus Universitas Putra Indonesia juga menyediakan fasilitas gedung sebagai tempat acara pesta pernikahan, seminar, wisuda, acara lomba-lomba, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Lubuk Begalung (Lubeg) memilih gedung sebagai tempat pesta pernikahan yang dikarenakan lokasi rumah mereka tidak memiliki pekarangan yang luas, sehingga solusinya memilih gedung sebagai lokasi untuk melakukan resepsi pernikahan.

B2.Penyelenggaraan Pesta di Rumah

Rumah adalah tempat tinggal, tempat untuk berlindung atau bernaung dari pengaruh keadaan alam disekitarnya, misalnya hujan,

(7)

matahari, dan lain sebagainya serta merupakan tempat beristirahat setelah bertugas atau beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada warga masyarakat di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) yang berasal dari kalangan ekonomi atas yang memiliki rumah mewah, mobil, tanah yang luas juga melaksanakan kegiatan pesta pernikahan di rumah, walaupun sebenarnya mereka mampu menyewa gedung.

C. Hambatan Sosiologis Pesta Pernikahan di Gedung

Hambatan sosiologis merupakan kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, akibat kurangnya kontak dengan masyarakat lain yang berkaitan dengan status sosial, agama, idiologi, tingkat pendidikan, dan tingkat kekayaan.

1.Membatasi Keterlibatan Golongan Sosial Ekonomi Tertentu

Seorang sosiolog didalam menelaah masyarakat akan berhubungan dengan kelompok sosial, baik yang kecil seperti kelompok keluarga ataupun kelompok besar seperti masyarakat desa, masyarakat kota, bangsa dan lain-lain. Golongan sosial ekonomi di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) memiliki kelompok yang berbeda-beda ada dari kalangan bawah, menengah, dan atas. Dengan adanya tingkatan ekonomi yang berbeda-beda akan membuat hubungan seseorang menjadi keterbatasan.

2.Membuat Jarak Keluarga Dengan Kelompok Tertentu

Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok (Soekanto, 2007:55). Manusia sebagai makhluk individu artinya manusia berhak atas milik pribadinya sendiri dan bisa disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi.

Dengan mengadakan pesta pernikahan di gedung oleh masyarakat kalangan atas dapat membuat hubungan jarak keluarga dengan masyarakat setempat tidak terjalin dengan baik.

3.Mengurangi Rasa Egaliter atau Kesetaraan Kesetaraan atau kesederajatan adalah sikap mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan persamaan kewajiban sebagai manusia. Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia

sebagai makhluk Tuhan memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama itu bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama, yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain yang membedakan nantinya adalah tingkatan ketaqwaan manusia terhadap Tuhan. Masyarakat Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) yang melaksanakan pesta pernikahan di gedung, jika dibandingkan dengan masyarakat yang melaksanakan pesta pernikahan di rumah sungguh jelas terlihat bahwa sangat mengurangi rasa egaliter atau kesetaraan.

4.Kebutuhan Menampilkan Kamar Pengantin

Dalam Islam, pernikahan diatur sedemikian rupa mulai dari cara memilih calon pasangan, prosesi pernikahan hingga memperlakukan suami dan istri didalam rumah tangga. Pernikahan lazimnya selalu diikuti dengan resepsi pernikahan. Acara resepsi pernikahan memang sangat penting dan menjadi sebuah acara paling ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai. Makna merupakan sesuatu yang memiliki arti atau pemahaman penilaian seseorang terhadap kegiatannya sehari-hari atau pandangan tentang tingkah laku apa yang pantas dan layak dalam situasi-situasi sosial tertentu. Makna dari kamar pengantin bagi masyarakat adalah suatu kebanggaan pada seorang mempelai wanita yang akan diperlihatkan kepada banyak orang, baik dikalangan masyarakat Minangkabau, Jawa, dan lainnya.

Tabel

Perbandingan Pelaksanaan Pesta PernikahanI N o Kriteria Pelaksanaan Acara Pesta Gedung Rumah 1 Ciri-Ciri Bangunan Luas, besar, tinggi, tidak menggang gu aktivitas jalan, dan parkiran luas. Luas, besar, sederhana, menggang gu aktivitas jalan, dan parkiran terbatas 2 Pelaksana an Waktu terbatas Waktu tidak terbatas 3 Undangan Pakaian Lebih

(8)

dan tampilan lebih mewah atau necis sederhana

4 Makan Berdiri Duduk 5 Adat Istiadat Tidak adanya acara Babako dan kamar pengantin Adanya acara Babako, adanya kamar pengantin 6 Hiburan Tari, Band KIM,

Rabab, Saluang, dan Gamad. 7 Tanda Pesta Tertutup, karangan bunga di depan gedung, dan tidak ada tenda. Terbuka, karangan bunga sepanjang jalan, ada tenda, dan pentas. 8 Kehadira n Kelompok atau golongan bawah canggung atau enggan untuk hadir Tidak ada kendala bagi masyaraka t kalangan bawah 9 Alasan Sosiologi s Tidak nampak kemewaha n rumah, tidak adanya kamar pengantin Nampak kemewaha n rumah, dan adanya kamar pengantin 10 Amplop atau Kado Keluarga golongan bawah bimbang berapa akan diisi amplop Dapat membawa kado atau amplop yang isinya diduga lebih sedikit. Berdasarkan tabel diatas jelas terlihat perbandingan hambatan sosiologis pesta pernikahan yang terjadi dalam mengadakan acara pesta di gedung maupun di rumah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari hasil penelitian dengan judul Hambatan Sosiologis Pernikahan di Gedung. Tujuan mendeskripsikan hambatan sosiologis masyarakat Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg) untuk melaksanakan pesta pernikahan di gedung., maka dapat disimpulkan adalah :

1. Penyelenggaraan pesta di gedung

Mengadakan acara pesta pernikahan di gedung memiliki fasilitas yang baik seperti bangunan luas, tempat parkir yang luas, tidak mengganggu fasilitas umum dan tidak bikin repot.

2. Penyelenggaraan pesta di rumah

Mengadakan acara pesta di rumah, dapat mengganggu fasilitas umum, parkiran terbatas.

3. Hambatan sosiologis

a. Membatasi keterlibatan golongan sosial ekonomi tertentu

Membatasi keterlibatan golongan sosial ekonomi terhadap masyarakat golongan ekonomi atas dengan golongan ekonomi bawah.

b. Membuat jarak keluarga dengan kelompok tertentu

Tidak adanya sifat tolong menolong dalam acara pesta pernikahan c. Mengurangi rasa egaliter atau

kesetaraan

Hilangnya adat istiadat dalam pelaksanaan pesta pernikahan di gedung

d. Kebutuhan menampilkan kamar pengantin

Bagi masyarakat merupakan suatu kebanggaan yang akan diperlihatkan kepada para undangan

Saran

Setelah melihat permasalahan yang terjadi di lapangan, maka peneliti menyarankan: 1. Pihak pengelola gedung agar dapat menurunkan biaya sewa, sehingga masyarakat dapat mengadakan acara pesta di gedung lebih mewah dan tidak mengganggu fasilitas umum.

2. Apabila mengadakan acara pesta pernikahan di rumah yang menggunakan fasilitas umum, ditutup sesingkat mungkin agar tidak terganggunya masyarakat yang menggunakan fasilitas tersebut.

3. Bagi masyarakat golongan ekonomi atas dalam mengadakan acara pesta

(9)

pernikahan di gedung harus ada keterlibatan dengan masyarakat golongan ekonomi bawah, agar tidak terjadinya jarak hubungan dengan masyarakat lainnya.

4. Ketika mengadakan acara pesta pernikahan di gedung, sebaiknya adat istiadat tetap dilaksanakan.

5. Penelitian ini hanya dilakukan di Kelurahan Lubuk Begalung Nan XX (Lubeg), demi melengkapi keterbatasan peneliti ini disarankan bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian secara keseluruhan di kota Padang.

DAFTAR PUSTAKA

Bakarudin. 1986. Geografi Prilaku : Suatu Pengantar Studi Persepsi Lingkungan. Jakarta.

Bintaro Tjokroamidjojo. 1984. Pengantar Administrasi Pembangunan. LP3ES. Jakarta

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial: Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga. Setiadi, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya

Dasar. Jakarta. Kencana

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Grafindo Persada

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini berarti bahwa pengaruh pendekatan blended learning terhadap hasil belajar IPA Terpadu berbeda pada siswa yang mempunyai gaya belajar visual tinggi dengan gaya belajar

Hasil penelitian me- nunjukkan bahwa desa dengan partisipasi masyarakat tinggi lebih banyak yang melampaui target CDR ≥ 70% daripada desa dengan partisipasi masyarakat rendah..

hasil perlakuan pemberian pupuk Organik Cair Buatan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman pada semua umur pengamatan, parameter jumlah daun pada semua

Secar akesel ur uhandapatdi amat i bahwa ada t i ga el emen ut ama dar i pel acur an yang di kenal l uas yai t u ekonomi ,seksual ,danpsi kol ogi .Kar ena semua el emen i ni t er

Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan alternatif material tambal gigi dengan bahan baku chitosan, calcium carbonate, carbonate-hydroxyapatite, dan MMA yang kemudian

Program yang akan dibuat pada pengkajian ini adalah program sistem seleksi sales terbaik adalah Blackbox Testing , di mana pengujian bertujuan melihat program

Berdasarkan RINBU, kriteria cakupan pelayanan bandara udara khususnya wilayah Pulau Jawa dan Sumatera yaitu meliputi cakupan pelayanan 100 km atau jarak 2 (dua)

Dan dari pengamatan tersebut penulis melihat bahwa ada siswa yang lebih suka apabila pembelajaran dengan ditunjukkan gambar-gambar, dan ada pula siswa yang