RANCANGAN RUMAH TUMBUH TIPE KPR BTN DI KOTA DENPASAR
Ni Ketut Agusinta DewiNi Made Swanendri
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80361
Email: [email protected] Email: [email protected]
ABSTRAK
Harga tanah yang semakin melambung menyebabkan rumah-rumah dengan luas lahan kecil (kurang dari 200 m2) sangat diminati oleh masyarakat Kota Denpasar. Luas lahan demikian akan membutuhkan strategi khusus dalam penataan ruang, sehingga rumah tersebut dapat memenuhi fungsinya sebagai rumah bagi aktivitas penghuninya. Masyarakat kota ini, 65% di antaranya memeluk agama Hindu, tentunya memiliki kebutuhan tersendiri dalam melakukan aktivitas harian. Mereka membutuhkan tempat suci dan ruang-ruang khusus untuk melaksanakan aktivitas keagamaannya. Berpijak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan memaparkan konsep pemikiran terhadap rancangan rumah tumbuh yang berasal dari pengembangan Tipe 36 sebagai denah dasar, sehingga rancangan ini mampu mewadahi kebutuhan masyarakat Kota Denpasar yang beragama Hindu yang memiliki lahan terbatas dalam perencanaan lingkungan oleh pengembang swasta maupun pemerintah. Untuk mengetahui pola tumbuh, penelitian ini mengambil beberapa sampel rumah Tipe 36 dari beberapa kapling pengembang secara acak. Sampel diambil berdasarkan kriteria tingkat ekonomi pemilik, jumlah anggota keluarga, serta pengadaan ruang, terutama ruang tidur dan ruang servis. Setiap tahap pertumbuhan rumah dibuat berdasarkan analisa pola tumbuh yang dilakukan oleh penghuni. Hierarki kebutuhan ruang merujuk pada teori Abraham Maslow yang disesuaikan dengan kebutuhan orang Bali yang beragama Hindu. Pertumbuhan rumah dapat dipetakan menjadi rancangan rumah tumbuh berdasarkan teori tersebut. Rancangan rumah tumbuh yang dihasilkan merupakan rancangan rumah tinggal yang berkembang secara bertahap dengan denah dasar Tipe 36 menjadi rumah yang lebih kompleks dan lebih memenuhi kebutuhan penghuninya. Pola pengembangan/pola tumbuh merujuk pada pola masyarakat yang tinggal di rumah sederhana tersebut, dan dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi dan kebutuhan akan fungsi akibat pertambahan jumlah anggota keluarga, serta dipengaruhi oleh muatan lokal, yaitu penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Rancangan ini diharapkan dapat diterapkan di wilayah Kota Denpasar, sehingga dapat mendukung upaya Kota Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya.
Kata kunci: rumah tumbuh, rancangan rumah tumbuh, rumah tipe KPR BTN PENDAHULUAN
Kota Denpasar sebagai salah satu wilayah tingkat II di Bali dengan luas wilayah 12.398 ha atau 2% dari luas Pulau Bali keseluruhan, memiliki konsentrasi permukiman terpadat di Bali yaitu 39,86%. Kota Denpasar juga menghadapi masalah yang sama dengan daerah lainnya yang berpenduduk padat dibidang penyediaan perumahan. Harga tanah yang sangat tinggi, membuat masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, mengalami kesulitan untuk mendapatkan harga tanah yang layak dan ideal untuk rumah. Kredit kepemilikan rumah pun menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan papan bagi mereka.
Sejak beberapa tahun terakhir, penyediaan rumah di Kota Denpasar sepenuhnya disediakan oleh pengembang swasta yang menyediakan berbagai alternatif tipe rumah untuk mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, mulai dari tipe 15 sampai tipe 70 m2 dengan luas lahan 60-200 m2, dikenal
dengan Kapling Siap Bangun (KSB). Dari tipe-tipe rumah tersebut, beberapa tipe-tipe yang dipilih oleh warga Kota Denpasar adalah tipe 21, 36, 45, dan 70. Namun sejak 1998, pembangunan tipe 21 dihentikan karena selain dikhawatirkan tipe kecil tersebut akan menjurus kepada terciptanya rumah kumuh, juga karena harga jual tipe 21 tidak lagi menguntungkan karena harga tanah yang semakin mahal. Maka, penelitian ini mengambil dua sampel rumah yang akan dipelajari pola rumah tumbuhnya yaitu tipe 36 dan 45. Untuk luas kapling diambil berdasarkan keadaan di lapangan, dimana rata-rata di pasaran tipe 36 dijual dengan luas tanah sebesar 80-125 m2, sehingga untuk tipe 36 adalah dengan luas lahan 125 m2.
Tipe rumah tersebut pada umumnya akan mengalami pengembangan karena peningkatan ekonomi atau pertambahan jumlah anggota keluarga, sehingga membutuhkan tambahan ruang. Dalam pengembangannya, perlu diperhatikan peraturan daerah yang membatasi pengembangan tersebut, di antaranya, KDB (koefisien dasar bangunan),
sempadan bangunan, penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali, ketinggian bangunan, tanpa mengabaikan kebutuhan penghuni itu sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar rumah-rumah tersebut tidak menjelma menjadi permukiman kumuh, karena sering masyarakat melakukan pengembangan tanpa memperhatikan peraturan-peraturan ataupun penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali, sehingga hasilnya kurang memuaskan, baik secara fisik maupun filosofis. Luas lahan yang terbatas akan membutuhkan strategi khusus dalam penataan ruang, sehingga rumah tersebut dapat memenuhi fungsinya sebagai rumah bagi aktivitas penghuninya. Masyarakat Kota Denpasar, 65% di antaranya memeluk agama Hindu, tentunya memiliki kebutuhan tersendiri dalam melakukan aktivitas harian. Mereka membutuhkan tempat suci dan ruang-ruang khusus untuk melaksanakan aktivitas keagamaannya.
Berpijak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan memaparkan konsep pemikiran terhadap rancangan rumah tumbuh yang berasal dari pengembangan Tipe 36 sebagai denah dasar menjadi rumah yang lebih kompleks dan lebih memenuhi kebutuhan penghuninya, sehingga rancangan ini mampu mewadahi kebutuhan masyarakat Kota Denpasar yang beragama Hindu. Pola pengembangan/pola tumbuh merujuk pada pola masyarakat yang tinggal di rumah sederhana tersebut, dan dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi dan kebutuhan akan fungsi akibat pertambahan jumlah anggota keluarga, serta dipengaruhi oleh muatan lokal, yaitu penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Rancangan ini diharapkan dapat diterapkan di wilayah Kota Denpasar, sehingga dapat mendukung upaya Kota Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya.
TINJAUAN PUSTAKA Rumah dan Rumah Tumbuh
Rumah memiliki arti lebih dari hanya sekedar bangunan. Dalam rumah dan lingkungannya, penghuni dibentuk dan dikembangkan menjadi manusia yang berkepribadian. Dari segi sosial, manusia memandang fungsi rumah dalam lingkup pemenuhan kebutuhan kehidupan sosial budayanya dalam bermasyarakat. Meganada (1990:35) mengemukakan konsep rumah, di antaranya: 1) Rumah sebagai pengejawantahan jati diri: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera pribadi penghuninya; 2) Rumah sebagai wadah keakraban: rasa memiliki,
kebersamaan, kehangatan, kasih, dan rasa aman; 3) Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi: tempat melepaskan diri dari dunia luar dan rutinitas; dan 4) Rumah sebagai akar dan kesinambungan: rumah atau kampung halaman dilihat sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan.
Studi tentang perilaku manusia menyebutkan bahwa kebutuhan seorang individu adalah untuk merasakan keamanan dalam teritorial tempat tinggalnya (Untermann & Small, 1983:35). Kenyamanan rumah akan dikaitkan dengan rumah dan kesesuaian. Kebutuhan penghuni menjadi penentu kualitas rumah tersebut.
Selain berharga murah, masyarakat cenderung memilih tipe rumah kecil karena ada pendapat bahwa mereka lebih baik memiliki rumah kecil sendiri daripada menyewa, walaupun kondisinya tidak terlalu baik, dengan harapan suatu saat nanti dapat diperbaiki menjadi rumah yang lebih layak bila keadaan ekonomi sudah bertambah baik. Disinilah sangat disadari pentingnya penerapan rumah tumbuh tersebut. Rumah tumbuh adalah suatu cara yang tepat dan ringan bagi mereka yang berpenghasilan kecil dan berminat untuk membangun rumahnya sendiri secara berangsur-angsur atau bertahap (Zainal, 1981:16).
Rumah apapun bentuknya sangat terikat dengan letak dan ruang. Dilihat dari sudut kejiwaan (psikologis) rumah merupakan basis bagi terbentuknya kepribadian manusia, rumah merupakan ekspresi dari eksistensi manusia hidup, di rumah pulalah perilaku manusia dibentuk. Karena itu, membangun rumah berarti harus mengantisipasi kehidupan manusia di masa depan, sehingga membangun rumah tumbuh hendaknya mulai dipikirkan pada saat awal pembuatan rumah.
Rumah KPR BTN dan Pola Tata Ruangnya Rumah KPR BTN dapat diartikan sebagai rumah yang dimiliki oleh seseorang dengan mendapat fasilitas kredit pemilikan rumah dari pemerintah yang disalurkan melalui BTN (Bank Tabungan Negara). BTN memulai pemberian kredit pemilikan rumah sejak tahun 1976 dengan sasaran kelompok menengah ke bawah. Untuk pembangunan rumahnya harus memenuhi standar bangunan yang ditetapkan oleh BTN dan pedoman harga dari Direktorat Jenderal Cipta Karya (Yudohusodo, 1991:176).
Secara umum, dilihat dari rancangan rumah KPR BTN yang ditawarkan tidak menunjukkan suatu pola ruang yang khas. Yang membedakannya adalah dimana bangunan tersebut diletakkan di dalam kapling. Apakah terletak dibagian tengah kapling dengan menyisakan ruang kiri kanannya, atau lebih menjorok ke belakang, ataukah mepet ke depan dengan mentaati peraturan sempadan depan. Peletakan ruang-ruangnya juga tidak memiliki aturan yang spesifik. Pada umumnya ruang tamu berada di tengah-tengah dan ruang tidur berada di depan, dan dapur berada di belakang bersama-sama dengan kamar mandi.
Hunian Tradisional Bali
Konteks kehidupan pribadi yang terdapat dalam hunian tradisional Bali antara lain: 1) Penentuan ukuran pada dimensi pekarangan dan proporsi bangunan diambil dari ukuran bagian-bagian tubuh penghuni/pemilik bangunan yang tertua di keluarga tersebut, sehingga secara psikologis, keakraban antara pemilik rumah dengan rumahnya tentu akan terjalin erat; 2) Aspek kepercayaan yang dianut: penyelarasan antara makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos
(tubuh manusia) yang menumbuhkan sikap menghormati semua ciptaan Tuhan, termasuk bangunan rumah, karena rumah dianggap tidak ubahnya seperti suatu kehidupan sebagaimana halnya manusia; 3) Keleluasaan pribadi dan rasa aman, diwujudkan dengan tembok pekarangan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah melihat keluar, namun dari luar tidak mudah melihat ke dalam; 4) Status dan peran penghuni dalam suatu kelompok atau dalam hubungannya dengan kelompok lain (Gelebet, 1986:35; Horton & Hunt, 1990:65).
Unsur-unsur hunian tradisional Bali meliputi: 1) Penyengker, merupakan batas kepemilikan sebidang tanah dimana berkumpul unsur-unsur fisik pembentuk hunian beserta penghuninya; 2) Pekarangan/tapak hunian, sebidang tanah kosong tempat diletakkannya gugus massa dalam pola tertentu; 3) Bale, merupakan gugus bangunan dalam pekarangan, meliputi bale daja (meten) untuk tempat tidur, bale sumanggen untuk tempat upacara, pawon untuk kegiatan memasak, lumbung/jineng untuk menyimpan hasil bumi, serta sanggah/pemerajan untuk tempat suci/sembahyang (Gomudha, 1999:I-24; Surata, 2002:82).
Gambar 1. Hunian tradisional Bali dengan pola massa yang khas
(Sumber: http://www..pu.go.id/publik/bencana/SIATI/simtradisional.html, download 12 Pebruari 2003) METODE PENELITIAN
Pengumpulan Data Primer dan Sekunder Penentuan sampel rumah Tipe 36/120: a) perumahan berada di perempatan jalan karena mewakili semua orientasi rumah; b) penghuninya beragama Hindu; c) rumah awal dirancang untuk keluarga baru atau keluarga kecil dengan 2 anak maksimal umur 12 tahun;
dan d) rumah tidak digunakan untuk tempat usaha.
Data primer diperoleh dengan cara: a) pengamatan/observasi rumah yang memenuhi kriteria sampel; dan b) melakukan interview dengan pihak-pihak yang terkait dengan pembangunan perumahan. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur ataupun dari situs yang berkaitan dengan penelitian ini.
Pengolahan Data
Dilakukan dengan pengolahan data statistik sederhana dan analisa-sintesa data untuk memperoleh pendekatan program perencanaan dan konsep perancangan rumah tumbuh yang dipaparkan dengan metode deskriptif.
Batasan Nonarsitektural
1. Pengembangan rumah dipersiapkan untuk menampung keluarga dengan orang tua (bapak-ibu), 4 orang anak ditambah 1 pembantu rumah tangga. Empat orang anak karena mengikuti tradisi keluarga Bali yang memiliki 4 orang anak (putu/wayan, kadek/made, nyoman, dan ketut).
2. Pendekatan pola pengembangan/tumbuh yang digunakan berdasarkan evaluasi terhadap kebiasaan-kebiasaan, kebutuhan, proses adaptasi yang dilakukan masyarakat beragama Hindu, persyaratan arsitektur, dan dalam pengembangan tersebut menerapkan tata nilai rumah arsitektur tradisional Bali daerah dataran (Bali Arya) yang terdiri atas angkul-angkul, pawon, bale dauh, bale sumanggen, bale meten, jineng, dan sanggah, agar dihasilkan rancangan pola rumah tumbuh yang mampu mewadahi aktivitas penghuninya yang beragama
Hindu, memiliki identitas wilayah, dan memenuhi syarat rumah sehat.
3. Kriteria penilaian terhadap perubahan rumah yang dilakukan oleh responden:
0 - 25% (baik): menunjukkan bahwa bagian-bagian rumah tersebut tidak mengalami banyak perubahan, dirasakan cocok oleh penghuninya;
25 – 50% (cukup): menunjukkan bahwa bangunan tersebut masih dapat ditolerir oleh penghuni dengan melakukan perubahan yang tidak terlalu banyak;
50 100% (gagal): menunjukkan bahwa bagian dari bangunan tersebut perlu untuk dikaji ulang karena banyaknya perubahan yang dilakukan oleh penghuni.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Pengembangan Rumah
Dari hasil kuesioner, pengamatan lapangan dan wawancara dengan pemilik rumah, didapatkan kesimpulan umum bahwa seluruh responden melakukan perubahan pada rumah yang dimilikinya, baik dari tata ruang, tampak, dan juga penambahan pada tempat suci.
Tabel 1.
Perubahan Perubahan yang Dilakukan oleh Responden
No. Perubahan % Keterangan
1. Tempat suci 100 Belum disediakan oleh pengembang
2. Perubahan tata ruang
Penambahan ruang tidur 41,5
Penambahan ruang makan 60
Penambahan garasi 100 Belum disediakan oleh pengembang
Alih fungsi ruang 17
Perubahan tata letak pintu masuk pekarangan 50
Perubahan pintu ruangan 60
3. Perubahan tampak bangunan dan bahan 60 Sumber: Hasil kuesioner (2007)
Rata-rata perubahan bernilai 45,7%, sehingga dapat diklasifikasikan pada kategori cukup, berarti bahwa penghuni rumah yang distudi masih dapat menerima bangunan yang telah ada dan mengadakan penyesuaian. Perubahan dan keinginan para responden untuk rumah mereka adalah:
1. Tempat suci: a) harus tersedia ruang yang memadai untuk pembuatan tempat suci dan ruang di depan tempat suci, sehingga memungkinkan untuk melakukan persembahyangan; b) Pelinggih yang ada di
sanggah tidak mutlak harus lengkap, asalkan tetap mengacu pada rumah asal. 2. Tata ruang: a) seluruh responden
melakukan perubahan pada rumah; b) letak kamar mandi dan dapur tidak diletakkan di dekat sanggah; c) pintu kamar tidak berhadapan; d) letak pintu pekarangan tidak berhadapan langsung dengan pintu pekarangan tetangga; e) pengembangan yang dilakukan adalah penambahan ruang tidur, perluasan ruang makan, ruang keluarga, kamar mandi, dan garasi; dan f) pengembangan tahap kedua umumnya
penambahan ruang tidur, ruang tidur pembantu, ruang cuci, dan ruang setrika.
Pengembangan Tahap 1 Pengembangan Tahap 2
Denah Awal
Ruang tamu Ruang keluarga Ruang tidur utama
Ruang tidur anak Dapur Kamar mandi/WC Penambahan Ruang Ruang makan Garasi Kamar mandi/WC pembantu Ruang tidur pembantu Perluasan ruang keluarga
Sanggah permanen Penambahan Ruang Ruang tidur Ruang setrika Ruang cuci Gudang Ruang jemur Kamar mandi/WC Diagram 1.
Pola Pengembangan Rumah Tipe 36 3. Bahan dan tampak bangunan: a) tampak
bangunan tetap mempertahankan langgam Bali; dan b) tetap menggunakan bahan-bahan lokal.
Pola Tumbuh
Pola tumbuh Tipe 36 untuk kelompok ekonomi sedang memiliki beberapa tahapan untuk mencapai tahap sempurna. Tipe 36 memiliki 5
tahapan (tanpa denah awal) yang disusun berdasarkan analisa pola tumbuh yang dilakukan oleh penghuni rumah. Hierarki kebutuhan ruang disusun berdasarkan teori Hierarki Kebutuhan akan Ruang menurut Abraham Maslow yang diadaptasikan ke dalam kondisi sebagai etnis Bali yang beragama Hindu. Dari 5 hierarki kebutuhan akan ruang menurut Abraham Maslow, ditransformasikan menjadi 3 hierarki.
Tabel 2.
Pola Tumbuh Tahap Sempurna Kelompok Ekonomi Sedang Tipe 36 Denah Pengembangan Denah Awal 1 2 3 4 5 1-2 ruang tidur Sanggah (tempat suci) 1 ruang tidur tambahan
1 ruang tidur 1 ruang setrika
Pagar dan angkul-angkul Ruang tamu Garasi 1 Kamar
mandi 1 ruang makan 1 ruang jemur Ruang keluarga Alih fungsi perluasan Sanggah permanen 1 ruang cuci Kamar mandi dan WC
Dapur Gudang alat
upacara
Gudang
Teras Dapur
Hierarki Kebutuhan akan Ruang (Abraham Maslow) Kebutuhan fisiologis: rasa
aman, kehormatan, harga diri, ego Kebutuhan fisiologis: rasa aman, kehormatan, harga diri, ego
Kebutuhan fisiologis: rasa aman, kehormatan, harga diri,
ego, kebutuhan sosial Kebutuhan fisiologis: rasa aman, kehormatan, harga diri, ego, kebutuhan sosial, aktualisasi diri Sumber: Hasil analisa data (2007)
Pendekatan Rancangan
Beberapa pendekatan yang perlu dipertimbangkan agar nilai-nilai arsitektur tradisional Bali tersebut dapat tertransformasi ke dalam rancangan rumah tipe sederhana yang dapat mewadahi aktivitas penghuninya adalah:
1. Pendekatan fungsi ruang dalam arsitektur tradisional Bali dan ruang dalam rumah tipe sederhana yang dilakukan dengan pendekatan perilaku penghuni rumah, sehingga didapatkan pola perilaku masyarakat yang akan diwadahi.
Tabel 3.
Fungsi dan Makna Ruang
Ruang dalam Arst. Trad. Bali Ruang dalam Rumah Sederhana
Ruang Fungsi Ruang Fungsi Tempat suci
(sanggah)
Sarana untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan untuk memuja leluhur dalam segala tingkatannya
Bale daja Ruang tidur anak
perempuan
Ruang tidur
Ruang tidur
utama
Umumnya digunakan untuk ruang tidur orang tua
Ruang tidur
anak
Digunakan oleh anak. Bisa dipergunakan untuk 1-2 anak
Bale sumanggen
Tempat upacara ritual, tempat tidur anak laki-laki, tempat belajar, dan tempat menerima tamu yang dihormati
Ruang tamu Untuk menerima tamu, agar tidak terkesan sempit, ruang tamu dan ruang keluarga biasanya tidak disekat. Jika
menggunakan pembatas, biasanya menggunakan pembatas tidak permanen Bale dauh Tempat tidur orang tua,
tempat menerima tamu, tempat bekerja di siang hari Ruang keluarga Digunakan untuk berkumpul bersama keluarga (multifungsi), seperti ruang nonton TV, ruang berkumpul bersama keluarga, ruang makan, ruang belajar, ruang persiapan untuk upacara (metanding)
Pawon Tempat memasak, berfungsi sebagai tempat peleburan berbagai macam kemalangan
Dapur Tempat memasak dan menyimpan bahan makanan
Jineng Tempat melakukan aktivitas sosial dan tempat menyimpan padi (hasil bumi)
Kamar mandi dan WC
Tempat melakukan kegiatan mandi, cuci, dan buang hajat
Teras Tempat melakukan kegiatan santai,
merupakan ruang transisi antara ruang luar dengan ruang dalam
Walaupun memiliki perbedaan jenis dan fungsi ruang, rumah modern dan hunian tradisional Bali memiliki hakikat yang sama yaitu sebagai tempat berlindung, membina keluarga, identitas, mengembangkan hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan hubungan jasmani dan rohani.
2. Pendekatan terhadap tata nilai ruang berdasarkan aspek kultur pada konsep teritori bahwa masyarakat yang masih terikat pada kulturnya akan tetap mempertahankan ruang suci (sakral) dan profan (umum) (Haryadi, 1996:38). Timur laut sebagai orientasi tertinggi masih dipertahankan oleh penghuni dan dijadikan pedoman dalam membangun rumah. Acuan lainnya adalah letak kamar mandi dan dapur tidak berdekatan dengan tempat suci. 3. Pendekatan terhadap tata nilai natah (ruang
orientasi) dan bale (massa bangunan), dimana natah sanggah dipertahankan karena masyarakat masih memegang konsep tempat suci, walaupun dalam rumah sederhana.
4. Pendekatan terhadap tata nilai pintu masuk pekarangan (angkul-angkul) yang diletakkan di posisi zone nista agar tidak bertentangan dengan zone utama yang difungsikan untuk tempat suci.
5. Pendekatan terhadap tampak bangunan dan bahan bangunan yang mencirikan citra tradisional yang kuat dengan menerapkan prinsip: a) Tri Angga (kepala/atap, badan/dinding, dan kaki/pondasi); b) bentuk dan patahan atap; c) penggunaan saka (pilar/kolom); d) penggunaan ragam hias/ornamen yang disederhanakan; dan e) penggunaan bahan bangunan lokal, seperti kayu, batu alam.
Rancangan Rumah Tumbuh
Rumah tumbuh Tipe 36 yang dirancang menggunakan konsep homely, yaitu bagaimana mewujudkan rumah tinggal yang berasal dari pengembangan rumah sederhana sebagai rumah yang benar-benar dirasakan sebagai rumah yang dapat memberikan rasa aman, hangat, dan nyaman dalam membina kehidupan berkeluarga, sehingga dapat membentuk dan mengembangkan diri menjadi manusia yang berkepribadian. Denah awal dan rancangan rumah tumbuh Tipe 36 dapat dilihat pada Gambar 2.
KESIMPULAN DAN SARAN
Rancangan rumah tumbuh tipe KPR-BTN merupakan rancangan rumah tinggal yang berkembang secara bertahap dari Tipe 36 sebagai denah awal menjadi rumah yang lebih
kompleks/sempurna. Pola pengembangan/pertumbuhannya diadopsi dari
pola kegiatan penghuni rumah dengan luas lahan terbatas. Pola ini dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi dan kebutuhan akan fungsi, pertambahan jumlah anggota keluarga, dan budaya setempat, yaitu penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Rumah sederhana ini diperoleh melalui kredit pemilikan rumah (KPR) oleh Bank Tabungan Negara (BTN) dan direncanakan dan dibangun oleh pengembang swasta.
Pengembangan rancangan rumah tumbuh ini dapat memberikan alternatif pengembangan rumah kepada masyarakat, baik untuk rumah yang sudah dibangun ataupun rumah yang belum dibangun, dimana pengembangannya tetap mengacu pada peraturan dan muatan lokal setempat, sehingga rancangan rumah ini bersifat fleksibel dan memungkinkan pemberian indentitas kepada pemilik.
Dari hasil obervasi, beberapa pengembang sesungguhnya telah mempertimbangkan penyediaan ruang untuk mewadahi aktivitas ritual penghuni rumah, namun luas lahan sangat terbatas, sehingga tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan penghuninya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pengembang adalah: a) Penentuan letak pintu masuk pekarangan berdasarkan muatan lokal, pengembang perlu memperhatikan agar peletakan pintu masuk tidak mengganggu bila penghuni akan membuat sanggah (tempat suci). Beberapa rumah tidak memungkinkan membuat sanggah karena pada zona kaja kangin (timur laut) telah ditempatkan pintu masuk pekarangan; b) Karena pola pertumbuhan rumah tersebut umumnya ke arah lahan kosong, maka pengembang perlu mempertimbangkan pengembangan denah asal yang mampu mewadahi aktivitas penghuni sesuai dengan standar kenyamanan ruang. DAFTAR PUSTAKA
Bidja, I Made. 2000. Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi. Bali Post, Singaraja.
Departemen Pekerjaan Umum. 1984. Standar Arsitektur di bidang Perumahan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Bandung.
---. 1986. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota.
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia. 2002. Pedoman Umum Rumah Sederhana. Jakarta.
Gelebet, I Nyoman. 1978. Pokok Pokok Pengarahan Arsitektur Tradisional Bali dalam Rangka Pengembangan Pariwisata. Direktorat Jenderal Pariwisata, Denpasar.
Gelebet, I Nyoman (Ed.). 1986. Arsitektur Tradisional Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Denpasar. Gomudha, I Wayan. 1999. Identifikasi Nilai-Nilai Arsitektur Tradisional Bali dan Arsitektur Kontemporer, Tesis Bidang Keahlian Perancangan dan Kritik Arsitektur. Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Haryadi, dkk. 1996. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. PP-PSL, Yogyakarta.
Kardinal, Diah Ambarwati. 2003. Pola Rumah Tumbuh KPR-BTN di Denpasar, Landasan Konseptual Perancangan Tugas Akhir. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar.
Meganada, I Wayan. 1990. Pola Tata Ruang Arsitektur Tradisional Bali dalam Perumahan KPR-BTN di Bali, Tesis Riset. Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Surata, I Nyoman. 2002. Pemahaman Ruang dalam Arsitektur Rumah Bali, Tesis Bidang Keahlian Perancangan dan Kritik Arsitektur. Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Untermann, Richard dan Robert Small. 1986. Perencanaan Tapak untuk Perumahan, Terj. Vincent M. Intermatra, Jakarta. Yudohusodo, Siswono, dkk. 1991. Rumah untuk
Seluruh Rakyat. Inkoppol Bharakerta, Jakarta.