• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Nama Tanaman 1. Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliophyta Sub kelas : Hamamelidea Bangsa : Urticales

Suku : Moraceae

Marga : Ficus

Spesies : Ficus septica Burm. f. (Cronquist, 1981)

Gambar 1. Tanaman Awar-awar 2. Deskripsi Tanaman

Pohon atau semak tinggi, tegak 1-5 meter. Batang pokok bengkok-bengkok, lunak, ranting bulat silindris, berongga, gundul, bergetah bening. Daun penumpu tunggal, besar, sangat runcing, panjang 4 -5, daun tunggal, commit to user

(2)

bertangkai, duduk daun berseling atau berhadapan, bertangkai 2,5 - 5 cm. Helaian berbentuk bulat telur atau elips, dengan pangkal membulat, ujung menyempit cukup tumpul, tepi rata, panjang 8 - 30 cm dengan lebar 6 – 20 cm, dari atas hijau tua mengkilat, dengan banyak bintik-bintik yang pucat, dari bawah hijau muda, sisi kiri kanan tulang daun tengah dengan 6-12 tulang daun samping; kedua belah sisi tulang daun menyolok karena warnanya yang pucat. Bunga majemuk susunan periuk berpasangan, bertangkai pendek, pada pangkalnya dengan 3 daun pelindung, hijau muda atau hijau abu-abu, diameter lebih kurang 1,5 cm, pada beberapa tanaman ada bunga jantan dan bunga gal, pada yang lain bunga betina. Buah tipe periuk, berdaging, hijau-hijau abu-abu, diameter 1,5 cm pada bebrapa tanaman ada bunga jantan dan bunga gal, pada yang lain bunga betina. Buah tipe periuk, berdaging, berwarna hijau sampai hijau abu-abu, diameter lebih kurang 1,5 – 2 cm. Waktu berbunga Januari-Desember. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa dan Madura; tumbuh pada daerah dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan laut, banyak ditemukan di tepi jalan, semak belukar dan hutan terbuka (Steenis, 1997)

3. Manfaat Tanaman

Daun digunakan untuk obat penyakit kulit, radang usus buntu, mengatasi bisul, gigitan ular berbisa dan sesak napas. Akar digunakan untuk penawar racun ikan dan penanggulangan asma. Perasan air dari tumbukan akar awar-awar dan adas pulowaras dapat digunakan untuk mengobati keracunan ikan, gadung dan kepiting. Jika ditumbuk dengan segenggam akar

(3)

alang-alang dan airnya diperas merupakan obat penyebab muntah yang sangat manjur. Untuk obat bisul dipakai ± 5 gram daun segar Ficus septica Burm., ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempelkan pada bisul. Getah dimanfaatkan untuk mengatasi bengkak-bengkak dan kepala pusing. Buah untuk pencahar.

4. Kandungan kimia

Daun Ficus septica Burm. mengandung senyawa flavonoid genistin dan kaempferitrin, kumarin, senyawa fenolik, pirimidin dan alkaloid antofin, saponin triterpenoid, sterol, saponin dan tanin. Daun dan batang mengandung alkaloid isotylocrebin dan tylocrebin (Wu et al., 2002)

B. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk (Ansel, 1989).

C. Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah teknik pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang saling bercampur. Pada umumnya zat terlarut yang diekstrak bersifat tidak larut atau larut sedikit dalam suatu pelarut tetapi mudah larut dengan pelarut lain. Metode ekstraksi yang tepat ditemukan oleh tekstur kandungan air bahan-bahan yang akan diekstrak dan senyawa-senyawa yang akan diisolasi (Harborne, 1996).

(4)

Proses pemisahan senyawa dalam simplisia, menggunakan pelarut tertentu sesuai dengan sifat senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan pelarut berdasarkan kaidah “like dissolved like” artinya suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut polar. Ekstraksi dapat dilakukan dengan bermacam-macam metode, tergantung dari tujuan ekstraksi, jenis pelarut yang digunakan dan senyawa yang diinginkan(Pratiwi, 2009).

Maserasi berasal dari kata “macerare” artinya melunakkan. Maserat adalah hasil penarikan simplisia dengan cara maserasi, sedangkan maserasi adalah cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperature kamar, sedangkan remaserasi merupakan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya (Anonim, 2000). Keuntungan dari metode maserasi yaitu prosedur dan peralatannya sederhana (Agoes, 2007).

Pada umumnya maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkaan dalam bejana bermulut lebar, kemudian dituang dengan 75 bagian cairan penyari. Metode ini memiliki keuntungan yaitu cara pengerjaan yang mudah, alat yang digunakan sederhana, cocok untuk bahan yang tidak tahan pemanasan namun pelarut yang digunakan dalam jumlah banyak. Sedangan kerugiannya yaitu diperlukan waktu pengerjaan yang lama dan hasil penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986). Serbuk ditempatkan lalu ditambah pelarut dan ditutup rapat, isinya

(5)

dikocok berulang-ulang kemudian disaring. Proses ini dilakukan pada temperatur kamar selama tiga hari (Ansel, 1989).

D. Bakteri

Bakteri adalah organisme uniseluler yang tidak memiliki klorofil, sel bakteri mirip dengan sel tumbuhan atau hewan terdiri atas sitoplasma dan dinding sel. Bakteri berkembang biak dengan cara pembelahan diri, dan karena ukuran yang renik ini bakteri hanya akan tampak dengan mikroskop (Dwijoseputro, 1994). Bentuk dan ukuran bakteri bervariasi ukuran berkisar 0,4 – 2 µm (Pelczar dan Chan, 1998). Bakteri dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi, biokimia dan perwarnaan (bakeri Gram positif dan bakteri Gram negatif).

Bakteri dapat didefinisikan secara morfologi yaitu dengan mempelajari bentuk, ukuran dan susunan sel. Perubahan lingkungan mungkin dapat sedikit mempengaruhi bentuk dan ukuran sel, misalnya bakteri berbentuk batang dapat menjadi lebih panjang atau lebih pendek, namun hampir tidak pernah terjadi perubahan dari bentuk batang menjadi bulat atau sebaliknya. Bentuk dasar bakteri, yaitu bulat (tunggal: coccus, jamak: cocci), batang atau silinder tunggal: bacillus, jamak: bacilli), dan spiral yaitu berbentuk melingkar-lingkar atau batang melengkung) (Pratiwi , 2008).

Kurva pertumbuhan bakteri dapat dipisahkan menjadi empat fase utama : fase lag (fase lamban atau lag phase), fase pertumbuhan eksponensial (fase pertumbuhan cepat atau log phase), fase stationer (fase statis atau stationary phase) dan fase penurunan populasi (decline).

(6)

Fase lag adalah fase dimana setelah inokulasi, terjadi peningkatan ukuran sel, mulai pada waktu sel tidak atau sedikit mengalami pembelahan. Fase ini, ditandai dengan peningkatan komponen makromolekul, aktivitas metabolik, dan kerentanan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Fase log/pertumbuhan eksponensial adalah sel berada dalam keadaan pertumbuhan yang seimbang. Sel membelah dengan kecepatan konstan yang ditentukan oleh sifat intrinsik bakteri dan kondisi lingkungan. Fase stasioner ini, jumlah sel yang hidup tetap konstan untuk periode yang berbeda, dimana jumlah bakteri yang berbiak sama dengan jumlah bakteri yang mati. Fase penurunan populasi atau fase kematian terjadi saat medium kehabisan nutrien maka populasi bakteri akan menurun jumlahnya, Pada saat ini jumlah sel yang mati lebih banyak daripada sel yang hidup (Irianto, 2007)

Berdasarkan pewarnaan Gram, bakteri dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan Gram negatif.

Keterangan: 1= fase lag;

2=fase eksponensial 3=fase stasioner

4=fase penurunan populasi (Irianto, 2007)

Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Bakteri

(7)

1. Bakteri Gram Negatif

Bakteri Gram negatif terdiri dari dinding sel yang mengandung satu atau beberapa lapis peptidoglikan tipis dan membran luar, membran dalam dan membran sitoplasma. sel bakteri Gram negatif mungkin berbentuk bulat, lonjong, batang lurus atau lengkung, helix, dan filamen (seperti tali). Anggota dari kategori ini adalah bakteri fototrof atau non fototrof dan termasuk spesies aerobik, anaerobik, anaerobik fakultatif dan mikroaerofilik ( Jawetz et al ., 2005).

2. Bakteri Gram Positif

Bakteri Gram positif terdiri dinding sel yang mengandung banyak lapisan peptidoglikan dengan membentuk struktur tebal dan kaku, membran dalam, membran sitoplasma (Pratiwi, 2008).

E. Bakteri Staphylococcus epidermidis

Sistematika bakteri (Tjitrosoepomo, 1994) : Divisio : Eukariota

Kelas : Schizomycetes Bangsa : Eubacteriales Suku : Micrococcaceae Marga : Staphylococcus

Jenis : Staphylococcus epidermidis

Gambar 3. Bakteri Staphylococcus

epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram positif, aerob

(8)

diameter 0,8-1,0 μm tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna putih bakteri ini tumbuh cepat pada suhu 37°C. Koloni pada pembenihan padat berbentuk bulat halus, menonjol, berkilau, tidak meghasilkan pigmen, berwarna putih porselin sehingga staphylococcus

epidemidis disebut staphylococcus albus, koagulasi-negatif dan tidak meragi

manitol (Jawetz et al, 2001).

Staphylococcus epidermidis terdapat pada kulit, selaput lender, bisul

dan luka. Dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya berkembang biak menyebar luas dalam jaringan (Jawetz et al, 2001).

Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri dari

genus Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa karakteristik bakteri ini adalah fakultatif, koagulase negatif, katalase positif, Gram positif, berbentuk kokus, dan berdiameter 0,5 – 1,5 µm. Bakteri ini secara alami hidup pada kulit dan membran mukosa manusia. Infeksi S.

epidermidis dapat terjadi karena bakteri ini membentuk biofilm pada alat-alat

medis di rumah sakit dan menulari orang-orang di lingkungan rumah sakit tersebut (infeksi nosokomial) (Jawets et al, 2001).

Bakteri S. epidermidis menghasilkan protease ekstraseluler jenis metaloprotease yang bersifat toksik (Hase dan Finklesin). Menurut Baehaki et

al (2005) bahwa aktivitas tertinggi protease ini terdapat setelah inkubasi

selama 16 jam. Protease diproduksi seiring dengan pertumbuhan sel dan mencapai aktivitas tertinggi pada fase menjelang stasioner.

(9)

F. Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa atau zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibakteri ada yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh bakteri dikenal sebagai aktivitas bakterisida. Ada 5 macam mekanisme kerja antibakteri, yaitu dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri, mengganggu metabolisme sel bakteri, merusak membran sel bakteri, menghambat sintesis protein sel bakteri, menghambat sintesis asam nukleat sel bakteri (Santoso, 2007).

Berdasarkan sifat toksisitas selektif, antibakteri terbagi menjadi 2, yaitu bakteriostatik (menghambat prtumbuhan bakteri) dan bekterisidal (membunuh bakteri). Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM), sedangkan kadar minimal yang diperlukan untuk membunuh mikroba disebut dengan Kadar Bunuh Minimal (KBM) (Jawetz et al., 2007).

Kriteria zat aktif yang dapat digunakan sebagai antibakteri adalah toksisitas zat aktif bersifat selektif, artinya zat tersebut harus dapat menghambat atau mematikan bakteri seraya menyebabkan kerusakan kecil saja terhadap sel inang atau sama sekali tidak merusak. Kriteria lainnya adalah zat tersebut harus mampu menembus sel dan jaringan inang serta tidak mengubah mekanisme pertahanan alami sel inang tersebut, inang tidak menjadi alergi (sangat peka) terhadap zat aktif, organisme tidak mudah resisten terhadap zat aktif yang digunakan dan zat aktif itu harus mencapai tempat infeksi (Pelczar

(10)

& Chan, 1988). Senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan seperti flavonoid, saponin dan tanin berdasarkan beberapa hasil penelitian diduga mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Ummah, 2010).

Uji aktivitas antimikroba antara lain: 1. Metode Difusi

Metode difusi adalah mengukur diameter daya hambat pertumbuhan bakteri yang terjadi akibat difusi zat yang bersifat sebagai antibakteri di dalam media padat. Metode ini dapat dilakukan 3 cara yaitu metode silinder, lubang dan cakram kertas. Metode silinder yaitu meletakkan beberapa silinder yang terbuat dari gelas atau besi tahan karat di atas media agar yang telah diinokulasi dengan bakteri. Tiap silinder ditempatkan sedemikian rupa hingga berdiri di atas media agar, diisi dengan larutan yang akan diuji dan diinkubasi. Setelah diinkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling silinder. Metode lubang yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri. Jumlah dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diisi dengan larutan yang akan diuji. Metode cakram kertas yaitu meletakkan cakram kertas yang telah direndam larutan uji di atas media padat yang telah diinokulasi dengan bakteri (Kusmiyati, 2007).

Pengujian aktivitas antimiroba dilakukan dengan mengukur zona hambat yang berwarna bening. Makin besar zona hambatan, makin peka isolate tersebut. Zona hambatan tersebut dibandingkan dengan acuan zona

(11)

hambatan organisme, kepekaan tes isolate digambarkan dengan susceptible (S), intermediate (I), atau resistant (R) (Jawetz et al, 2007).

Davis dan Stout (1971) menyimpulkan bahwa apabila diameter daerah hambatan 5 mm atau kurang maka aktifitas penghambatannya dikategorikan lemah, 5-10 mm dikategorikan sedang, 10-19 mm dikategorikan kuat dan 20 mm atau lebih dikategorikan sangat kuat.

2. Metode Dilusi a. Metode dilusi cair

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory Concentration) atau Kadar Hambat Minimum (KMH) dan MBC (Minimum Bactericidal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM). Cara yang

digunakan adalah membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji (Pratiwi, 2008). b. Metode Dilusi Padat

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair, namun menggunakan media padat. Keuntungan dari metode ini adalah satu konsentrasi agen antimikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji (Pratiwi, 2008).

G. Mc Farland 0,5

Mc Farland 0,5 merupakan formula yang terdiri dari asam belerang 1% dan Barium klorida 1%, dengan perbandingan 99,5: 0,5. Mc Farland 0,5 disetarakan dengan 1,5x108 cfu/mL. Mc Farland dimaksudkan untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk memperkirakan

(12)

kepadatan sel yang digunakan pada prosedur pengujian antimikroba. Untuk menilai kekeruhannya dapat digunakan spectrofotometer atau nephelometer (Anonim, 2009).

Mc Farland 0,5 merupakan standart yang digunakan sebagai patokan jumlah bakteri pada metode agar dilusi, broth makro-mikrodilusi, metode disk difusi dan anaerobik tes selain itu Mc Farland 0,5 merupakan salah satu cara yang dapat diaplikasikan untuk menyiapkan bakteri yang akan digunakan untuk uji kemampuan antimikroba (May et al, 2000).

H. Kerangka pemikiran

Awar-awar merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh diseluruh Indonesia, tanaman ini digunakan sebagai peneduh jalan ataupun tumbuh liar. Daun awar-awar dalam pengobatan tradisional digunakan sebagai obat bisul dan penyakit kulit sehingga diduga daun awar-awar mempunyai aktivitas terhadap bakteri penyebab infeksi kulit.

Bakteri Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram positif yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit. Bakteri ini flora alami kulit manusia yang dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan infeksi. Bakteri ini telah mengalami resistensi terhadap beberapa antibiotik sehingga perlu alternatif lain terutama bahan alam.

Penelitian terdahulu menyatakan bahwa daun awar-awar mengandung senyawa golongan tanin, flavonoid, alkaloid dan saponin yang merupakan senyawa yang mempunyai efektivitas menghambat pertumbuhan bakteri. Kandungan senyawa aktif dalam ekstrak etanol daun awar-awar akan

(13)

meningkat berbanding lurus dengan kenaikan seri konsentrasi ekstrak etanol daun awar-awar yang diujikan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun awar-awar maka zona bening yang dihasilkan dapat semakin besar sehingga daya hambatnya semakin besar. Senyawa aktif tersebut diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Dari hasil ekstraksi kemudian dibuat beberapa seri konsentrasi dan diujikan terhadap bakteri S. epidermidis. Adanya aktivitas antibakteri ditunjukan dengan adanya zona bening yang terbentuk yang kemudian diukur diameternya.

I. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori yang ada maka dapat disusun suatu hipotesis bahwa:

1. Ekstrak etanol daun awar-awar diduga mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin.

2. Perbedaan konsentrassi diduga mempengaruhi diameter daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanolik daun awar-awar terhadap

Staphylococcus epidermidis.

Gambar

Gambar 1. Tanaman Awar-awar  2.  Deskripsi Tanaman
Gambar 2.  Kurva Pertumbuhan Bakteri
Gambar  3.  Bakteri  Staphylococcus  epidermidis

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda dengan penelitian Habbe dan Hartono (2001) yang menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan penjualan dan laba perusahaan prospector lebih besar dibanding

DAK Fisik adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus fisik yang merupakan urusan daerah dan sesuai

Bahwa sehubungan dengan pelaksanaan Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal & Plumbing dan Pekerjaan lnstalasi Tata Udara & Ventilasi di Proyek Gudang Sunter Jakarta

Dalam perencanaan yang dilakukan kepala madrasah tidak lepas dari visi dan misi madrasah yang menjadi tujuan keberhasilan madrasah oleh karena itu kepala MAN 1 Probolinggo

Možno jo je uporabiti za določevanje mutacije BRAF pri bolnikih z melanomom, za pomoč pri odločitvi o uporabi zdravila vemurafenib (25) ali določevanju statusa KRAS, kot pomoč pri

Tepat waktu diartikan bahwa informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk

 Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer  Tujuan: mengetahui kepekatan urine.  Alat

Berdasarkan pengujian fraud triangle yang terdiri dari tekanan yang diproksikan dengan dengan financial stability pressure , external pressure, financial target,