• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Novel merupakan salah satu karya sastra yang banyak diminati masyarakat. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya judul novel yang dipasarkan di toko buku. Penjualan yang tinggi membuktikan bahwa minat masyarakat terhadap karya sastra terutama novel cukup baik. Novel berisi cerita rekaan dari peristiwa-peristiwa penting dalam hidup tokoh dan lebih kompleks daripada cerpen. Novel adalah gambaran hidup seorang atau lebih tokoh imajinatif dengan segala persoalan dan konflik dalam hidupnya yang dijabarkan melalui tulisan. Novel berbeda dengan cerpen ataupun roman. Ketiganya adalah prosa fiksi yang memiliki karakter sendiri-sendiri. Novel memiliki keluasan dalam mengembangkan ide cerita, sedangkan cerpen cenderung lebih sempit. Novel juga tidak melulu menceritakan kehidupan manusia dari lahir hingga mati seperti halnya roman. Bentuk yang pas membuat novel cenderung diminati oleh masyarakat dibanding prosa fiksi lainnya.

Secara etimologis kata novel berasal dari kata ”novellus” yang berarti baru, jadi dapat dikatakan novel adalah salah satu jenis karya sastra yang paling baru. Larisnya novel dalam kancah literasi disebabkan oleh keistimewaan-keistimewaan yang ia miliki. Novel banyak memikat para pembaca karena dapat dijadikan hiburan di waktu senggang. Tema-tema yang diangkat dalam novel cenderung berwarna dan alur yang beragam membuatnya memiliki keistimewaan tersendiri. Sajian cerita dari sebuah novel membuat pembaca terhibur, senang, sedih, terharu, bahkan seolah-olah menjadi tokoh utama dari novel yang sedang dibaca.

Gambaran hidup yang ditunjukkan tokoh dalam cerita dapat memberikan pengalaman berharga bagi pembaca secara implisit maupun eksplisit. Gagasan tersebut diperkuat oleh Nurgiyantoro (1995: 322) yang menyatakan bahwa karya fiksi (salah satunya novel) senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat luhur kemanusiaan. Sifat tersebut universal atau dimiliki dan diyakini

(2)

kebenarannya oleh manusia sejagad. Pembaca dapat menarik pesan-pesan yang terkandung dalam novel karena novel menyajikan gambaran nilai-nilai beserta pemecahan masalahnya. Pesan moral atau amanat yang tersirat dalam setiap tingkah laku tokoh tersebut akan disampaikan kepada pembaca, sehingga dapat dijadikan pelajaran hidup yang berharga dalam dunia nyata.

Salah satu novel yang memberikan banyak pesan moral adalah novel yang berjudul Bulan Nararya. Novel tersebut diterbitkan oleh penerbit Indiva Media Kreasi pada bulan September 2014 dan terdiri dari 256 halaman. Novel Bulan Nararya menyandang gelar juara III dalam kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Selain memenangkan kejuaran di atas, Bulan Nararya memiliki beberapa keistimewaan lain. Keistimewaan lainnya yaitu ditulis oleh ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP) bernama Sinta Yudisia Wisudanti. Kiprah FLP yang luar biasa membuat banyak sastrawan berdecak kagum. Maman S. Mahayana menyatakan, “Dalam sejarah sastra Indonesia, belum ada satu pun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang pernah dilakukan FLP. FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas!”

Sinta Yudisia bukan hanya seorang penulis, namun juga seorang Magister Psikologi. Debutnya sebagai seorang psikolog diawali dengan menulis novel Bulan Nararya ini. Novel tersebut pun mengangkat tema yang tak umum yaitu mengenai kehidupan orang-orang gangguan jiwa (skizofrenia) dengan segala tingkah lakunya yang diceritakan oleh tokoh utama bernama Nararya.

Nararya adalah seorang terapis di klinik kesehatan mental (Mental Health Center). Semangat dan dedikasinya untuk menyembuhkan pasien (klien) skizofrenia ditunjukkan dengan hasrat untuk menerapkan metode penyembuhan baru yaitu transpersonal. Sayangnya, keinginan itu ditolak oleh Bu Sausan selaku pimpinan klinik. Bu Sausan menolak metode transpersonal karena dianggap belum matang dan belum siap untuk digunakan. Penolakan itu membuat Nararya sangat kecewa dan

(3)

sedih. Padahal ia sudah mati-matian meneliti metode baru tersebut untuk menyembuhkan klien-klien di klinik. Ia tak lantas putus asa. Hari-harinya diisi dengan mencari ide-ide besar untuk mengembangkan metode transpersonal. Kesedihan Nararya dapat terobati bila ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang aneh. Sahabat-sahabatnya adalah Sania, Pak Bulan dan Yudhistira. Ketiganya adalah klien skizofrenia di klinik kesehatan mental.

Sania adalah seorang anak kecil yang memiliki gangguan kejiwaan karena kekerasan dalam keluarga. Ia dilahirkan di keluarga miskin dan suka dihadiahi pukulan oleh ibu pemarah dan ayah pemabuk. Pertama kali ditemukan petugas Dinas Sosial dengan luka lebam di badan, duduk memojok dengan napas tersenggal menggigit bonekanya. Kedua adalah Pak Bulan, laki-laki berumur yang dalam kata- kata nglanturnya terdapat makna yang dalam. Pertama kali tinggal di Lembaga Pemasyarakatan karena tuduhan mencuri. Tersisih, terisolasi, tercerabut dari ikatan kasih sayang membuatnya mengalami penurunan akal. Terakhir adalah Yudhistira, seorang klien yang hampir sembuh dan memiliki hobi melukis.

Metodenya yang ditolak Bu Sausan, persahabatannya yang aneh, ternyata hanya beberapa dari sekian permasalahan dalam hidupnya. Nararya yang mencoba membantu Yudhis menemukan tempat kembali harus menelan kenyataan bahwa keluarga Yudhis belum sepenuhnya siap menerima Yudhis kembali. Pergolakan keluarga yang rumit membuat Nararya tidak bisa menyerahkan Yudhis begitu saja. Ayah Sania yang seorang pemabuk juga berniat membawa Sania pergi hingga Nararya hampir mati karena dicekik lehernya.

Saat waktu dan tenaga ia curahkan untuk menyembuhkan para klien gangguan jiwa, masalah pribadi datang menghampiri. Konflik rumah tangga yang ia coba selesaikan bersama Moza, sahabat yang sama- sama terapis ternyata tidak berhasil. Perceraiannya dengan Angga membuat hatinya terluka. Nararya tidak menduga bahwa belum genap setahun bercerai, Angga menikahi Moza. Moza yang dianggap dapat membantu meredamkan api rumah tangganya bersama Angga malah membuat Nararya terluka untuk kedua kalinya.

(4)

Banyaknya masalah yang menghimpit Nararya membuat terapis tersebut menunjukkan gejala-gejala aneh, seperti ketakutan yang luar biasa, berteriak-terik, hingga halusinasi yang tak ia sadari. Gejala-gejala tersebut ditangkap oleh beberapa orang sebagai gejala kejiwaan yang tidak normal. Bu Sausan pun menyatakan bahwa Nararya kemungkinan juga mengalami skizofrenia.

Banyaknya fenomena psikologi yang ada dalam novel Bulan Nararya membuat peneliti ingin mengkaji novel tersebut dengan pendekatan psikologi sastra. Seperti yang dijelaskan oleh Minderop (2010: 53) bahwa karya sastra baik novel, drama maupun puisi di zaman modern ini sarat dengan unsur-unsur psikologis sebagai manifestasi: kejiwaan pengarang, para tokoh fiksional dalam kisahan pembaca. Psikologi sastra akan mempermudah pembaca untuk menangkap gejala-gejala kejiwaan yang ada dalam cerita. Dalam hal ini jiwa atau keadaan jiwa hanya bisa diamati melalui gejala-gejala seperti orang yang sedih akan berlaku murung, dan orang yang gembira terlihat dari gerak-geriknya yang riang. Melalui psikologi sastra, peneliti akan lebih mudah menganalisis kondisi kejiwaan yang dialami oleh tokoh utama tersebut.

Teknologi yang semakin maju memberikan keuntungan, sekaligus batu sandungan untuk beberapa pihak. Nilai-nilai kehidupan seperti toleransi, peduli sosial, peduli lingkungan, tanggung jawab, sedikit demi sedikit dirasa luntur dari karakter masyarakat Indonesia. Tentunya semua pihak baik pendidik maupun nonpendidik menginginkan generasi muda tidak terkena imbas negatifnya.

Selain mengungkap kondisi kejiwaan tokoh, peneliti juga akan menggali nilai- nilai pendidikan karakter yang ada dalam novel Bulan Nararya. Peneliti merasa nilai pendidikan karakter dalam sebuah novel itu sangat penting karena seorang pengarang (melalui novel yang ditulisnya) dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Seperti yang diungkapkan Wellek & Austin (1990: 30) bahwa the novelist can teach you more about human nature than the psychologist. Oleh karena itu, melalui sifat dan nilai yang dicerminkan dalam novel akan terpupuk kepribadian atau karakter yang baik pada genarasi-generasi bangsa.

(5)

Berbicara mengenai kejiwaan tokoh dan nilai pendidikan karakter, tentunya tak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan. Kejiwaan tokoh adalah salah satu aspek dari unsur intrinsik novel yaitu penokohan di pelajaran bahasa Indonesia, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan, sedangkan nilai pendidikan karakter adalah bahasan utama dalam pendidikan saat ini. Salah satu lini yang membutuhkan perhatian lebih adalah pembelajaran sastra atau apresiasi sastra. Terbatasnya porsi waktu dan kualitas guru sastra yang masih rendah menjadi penghambat utama untuk pembelajaran ini. Banyak peserta didik yang kurang berkenan mempelajarinya. Mereka mengganggap sastra itu membosankan karena bahan yang mereka baca hanya itu-itu saja. Buku- buku teks pelajaran siswa dari tahun ke tahun selalu diisi novel para penulis lama dan itu-itu saja yang diangkat sebagai materi pembelajaran.

Peserta didik membutuhkan materi yang segar untuk membangkitkan minat mereka ketika belajar. Selain itu, para pelajar sudah sepantasnya up to date dengan perkembangan sastra (novel) di zamannya. Bukan berarti karya penulis lama tidak lagi relevan, namun alangkah baiknya jika diseimbangkan dengan perkembangan saat ini. Peserta didik perlu tahu sampai mana perkembangan sastra di eranya. Untuk itu diperlukan materi ajar yang bersifat “baru”, hangat diperbincangkan, memiliki kualitas yang baik dan pastinya memenuhi syarat. Siswa akan memiliki pengetahuan sastra terdahulu sekaligus paham dengan perkembangan sastra saat ini. Adanya pembaharuan materi ajar apresiasi sastra ini harapannya mampu menjadi modal awal meningkatkan minat, produktivitas, serta perkembangan sastra ke depan.

Apresiasi sastra tidak boleh hanya bersifat teoretis, tetapi juga mampu mencapai penghayatan nilai estetis, dunia rasa dan imajinasi. Lebih-lebih menjadi tergugah untuk produktif dan kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra (Mujiyanto dan Fuady, 2011: 10). Hal ini sejalan dengan adanya kompetensi dasar apresiasi sastra di kelas XI Sekolah Menegah Atas (SMA). Dalam pembelajaran di kelas, novel dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa siswa. KTSP yang memiliki Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) menyebutkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XI SMA semester I terdapat

(6)

SK yang berbunyi “Memahami berbagai hikayat, novel indonesia/ terjemahan” yang kemudian dijabarkan menjadi KD poin 7. 2 yaitu menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel indonesia/ terjemahan. Pada pembelajaran semester II SMA kelas XI, SK 15 berbunyi “Memahami buku biografi, novel dan hikayat” yang dijabarkan pada KD poin 15. 1 yaitu mengungkapkan hal-hal menarik dan dapat diteladani dari tokoh.

Adanya peralihan kurikulum KTSP ke Kurikulum 2013 yang belum maksimal, menyebabkan tidak seragamnya kurikulum yang digunakan dalam pendidikan Indonesia. Mau tidak mau, peneliti harus merelevansikan hasil penelitian dalam dua kurikulum sekaligus. Meskipun baru 6% atau sekitar 16.991 sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dari total pupulasi sekolah di Indonesia per Agustus 2015 (Bisnis.com, 2015), pembelajaran apresiasi sastra ternyata juga menjadi bagian penting dari Kurikulum 2013. Pembelajaran apresiasi sastra yang berhubungan dengan novel ada pada kelas XII. Adanya pembaharuan materi ajar ini, harapannya menjadi jawaban atas kurangnya perhatian terhadap pembelajaran apresiasi sastra selama ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil kesimpulan untuk rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana unsur instrinsik dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia? b. Bagaimana aspek kejiwaan tokoh dalam novel Bulan Nararya karya Sinta

Yudisia?

c. Bagaimana nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia?

d. Bagaimana relevansi novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia dengan materi ajar dalam pembelajaran apresiasi sastra di SMA

(7)

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan di atas, penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan:

a. Unsur intrinsik dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia

b. Aspek kejiwaan tokoh dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia

c. Nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia

d. Relevansi novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia dengan materi ajar dalam pembelajaran apresiasi sastra di SMA

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Secara Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama mengenai analisis novel yang memanfaatkan pendekatan psikologi sastra, sehingga dapat memberi manfaat pada perkembangan karya sastra di Indonesia. 2. Secara Praktis

a) Bagi Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan dosen Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai salah satu referensi pembelajaran bagi mahasiswa.

b) Bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai salah satu referensi materi ajar pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA), baik guru di sekolah dengan KTSP maupun Kurikulum 2013.

c) Bagi Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai salah satu objek untuk mengembangkan pemahaman apresiasi sastra terutama karya sastra yang berbentuk novel dan memberikan gambaran mengenai studi tentang psikologi sastra dalam karya sastra Indonesia

(8)

d) Bagi Siswa

Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman apresiasi sastra, menambah kecintaan siswa pada karya sastra terutama yang berbentuk novel, dan dapat dijadikan gambaran berperilaku seraya meningkatkan kualitas nilai-nilai atau karakter dalam diri mereka

e) Bagi Peneliti Lain

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan perbandingan bagi peneliti lain yang mengkaji sastra dengan fokus masalah yang sejenis dan meningkatkan minat penelitian psikologi sastra yang saat ini masih lambat perkembangannya

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini

Berdasarkan Keputusan Kemendiknas tanggal 30 Mei 2014 nomor : 0014.0310/D5.6/TP/T/2014 Tentang Penetapan Guru yang diangkat dalam jabatan fungsional penerima tunjangan

UNIT LAYANAN PENGADAAN MAHKAMAH AGUNG RI KORWIL SULSELBAR PADA EMPAT LINGKUNGAN

Pada hari ini, Sabtu tanggal Lima Belas bulan Juli tahun Dua Ribu Tujuh Belas (15-07-2017), Kelompok Kerja Pengadaan Renovasi dan Perluasan Gedung Kantor

Pada buku tematik terpadu untuk siswa kelas enam, tema kesembilan adalah dengan tema “Benda-benda di sekitar kita” Pada tema kesembilan ini terdapat beberapa cerita

Asisten Lab Riset Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya terutama Ko Dicky, Ko Yoseph, Rosa, Michelle, Stanley, Fico yang telah membantu,

Tingkat pencapaian payout ratio ADHI telah sesuai dengan yang direncanakan yaitu sebesar 20%, sehingga target pencapaian 100% dengan skor 6..

Disebut juga familial hyperkilomikronemia , merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi dan ditemukan pada saat lahir dimana tubuh penderita tidak mampu