49
A. Aspek-aspek Pengembangan Pendidikan Islam pada Masa Khalifah Al-Ma’mun
1. Aktivitas Menulis Buku
Aktivitas pelajar yang tak kalah menariknya adalah menulis buku sebagai karya yang menjadi bukti penguasaan ilmu yang diperoleh dari syekh. Mereka bukan hanya belajar, namun juga sambil menulis. Walaupun pada awalnya tulisan berupa manuskrip-manuskrip, namun berikutnya menjadi buku yang dicetak dan memiliki bobot kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Aktivitas menulis buku pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa sebelum Khalifah al-Ma’mun, namun yang membedakannya yaitu bagaimana kreativitas dan ide ilmuwan dalam menulis sehingga menghasilkan karya.1
Al-Jahizh (159-255 H/776-869 M) seorang sastrawan terkenal pada masa al-Ma’mun, sejak kecil dia sangat suka membaca dan belajar. Dia juga pernah menginap di toko buku untuk membaca. Ia mulai belajar bahasa, kemudian belajar fikih dari al-Nazhzham, dan belajar filsafat.2
1
Suwito, Fauzan, Op. Cit., h. 68
2 Ibid
Ketika al-Jahizh mulai mengarang, dia mula-mula mengesampingkan gaya bahasa yang dipakai oleh para ahli bahasa. Dia memakai gaya bahasa yang mampu mengungkapkan kenyataan dan hal-hal yang bersifat ilmiah dengan teliti. Karya yang paling penting adalah kitab al-Hayawan terdiri atas tujuh jilid, yang pembahasannya mengenai hewan-hewan.3 Dia merupakan tokoh sastrawan yang terkenal, keluasan ilmu dan kecerdasan akalnya yang membuat al-Jahizh pun memiliki cara tersendiri dan berbeda dengan ahli bahasa lainnya dalam menulis sebuah buku.
Ibn Sa’ad (W. 230 H/845 M) mengarang buku tentang kemenangan umat Islam dalam peperang dengan judul Thabaqat
al-Kubra, sebanyak 8 jilid dan kitab at-Thabaqat al-shagir. Dalam
menulis dan mengumpulkan sanad-sanad dilengkpi dengan riwayat-riwayat. Ia juga mengikuti gurunya al-Waqidi dalam memerhatikan geografis kota-kota.
Abu Nawas (129-199 H/747-815 M), yang lahir di kota al-Hawaz, Persia. Namun kemudian dibesarkan di kota Basrah. Setelah berbaur dengan orang Arab asli, dia mampu berbicara bahasa Arab dengna fasih. Dia menulis qasidah yang sangat elok tentang al-Mahdi.4
Penulis berpandangan bahwa tokoh seperti Ibn Sa’id dan Abu Nawas merupakan salah satu figur yang dapat dicontoh bagi kebanyakan penulis terutama sastra, karena karya-karya tokoh ini
3
Husayn Ahmad Amin, Op. Cit., h. 89
4
sangat terkenal pada masa itu dan masih dijadikan rujukan untuk karya ilmiah pada masa sekarang.
Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (163-270 H/780-884 M) adalah ahli aljabar, astronomi, dan geografi yang hebat. Orang Eropa mengenal al-Khawarizmi sebagai namanya Algorismus. Al-Khawarizmi menulis buku yang berjudul Mukhtasar fi Hisab
al-Jabr wa al-Muqabalah.5
Dalam uraian di atas penulis berpendapat bahwa dia adalah tokoh pertama yang menemukan tentang ilmu hitung menghitung sehingga pandangan kita mengenai Barat yang pertama mengeluarkan teori tentang ilmu matematika itu adalah salah. Dengan bukti bahwa buku ilmu hitung ia yang pertama yaitu menggunakan bilangan puluhan yang sampai sekarang dipakai diseluruh dan dipakai sampai sekarang.
Imam Bukhari selama di Madinah, dia sempat menulis dua buah buku, yaitu Qadlaya shahabah wa tabi’in dan Tarikh
al-Kabir. Begitu juga dengan imam Syafi’i yang berbeda dengan gurunya
dalam menuliskan kitab. Dia menuliskan kitabnya melalui dua cara, yaitu: pertama: dia menulis sendiri kitab al-Umm dan al-Risalah kemudia diriwayatkan oleh murid-muridnya. Kedua: dia mendiktekan kepada muridnya kemudia muridnya yang menuliskan.6
5
Ibid
6
Penulis menambahkan bahwa ke dua tokoh ini merupakan ulama yang sangat terkenal dan bahkan kita umat Islam banyak menggunkan kitabnya untuk rujukan hadis shahih dan mempelajari ilmu-ilmu ushul fikih dan fikih yang mudah dipahami untuk kebanyakan umat Islam.
Muhammad Ibn Umar al-Waqidi (130-207 H/748-823 M) lahir di Madinah dan wafat di Baghdad. Dia sorang ahli hadits, fikih, dan ahli sejarah Arab yang terkenal. Dia senang mengembara. Pengembaraanya berkisar di kota-kota Hijaz (Mekkah, Madinah, Ta’if dan Jeddah), kota Syiria dan Baghdad. Karya yang masih dapat kita baca adalah Kitab al-Maghazi. Sejak masa mudanya dia berusaha keras mengumpulkan informasi tentang al-Maghazi dan al-Sirah. Selama hidupnya dia selalu bertanya pada orang yang dianggap mengetahui tentang sejarah.7
Keunggulan karya yang ditulisnya terletak pada penulisan metodologi sejarah secara secara ilmiah dengan memberikan urutan dan rincian berbagai peristiwa secara logis. Dia mempunya dua anak laki-laki yang membantu siang dan malam untuk menuliskan buku-bukunya. Dia meninggalkan 30 judul buku dalam berbagai bidang ilmu. Sebagian besar bukunya membahas tentang sejarah. Buku-buku yang pernah ditulis yaitu kabilah-kabilah Arab pra Islam, dakwah Nabi, wafatnya Nabi, peristiwa Tsaqifah dan Bay’at Abu Bakar
7
Shiddiq sebagai Khalifah, perang Riddah, Ekspansi Islam ke Suriah dan Irak.8
Dari ungkapan di atas penulis menemukan lagi tokoh yang sangat terkenal pada masa Khalifah al-Ma’mun yang sangat sungguh-sungguh mendedikasikan dirinya terhadap kemajuan Islam terutama di bidang ilmu pengetahuan, yang mana kesungguhannya mencari ilmu pengetahuan dengan mencari banyaknya informasi dengan berkeliling wilayah Arab dan sekitar Arab.
Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad, yang berisi tentang hadits-hadits Nabi sebanyak 40.000 hadits. Diantara sekian banyak, terdapat 10.000 hadits yang berulang-ulang, sedangkan 30.000 yang tidak berulang. Jumlah tersebut merupakan Hadits Shahih dan Hasan yang sudah dihimpun dan dipilih dari apa yang dia terima sebanyak lebih dari 750.000 hadits.9 Dari kutipan di atas penulis berpendapat bahwa ahmad bin Hanbal merupakan tokoh dan ulama yang mendirikan mahzab Hanbali yang sangat hebat. Dikarenakan kecerdasannya dalam menghafal hadits, murid imam Syafi’i ini juga merupakan ahli fikih yang sangat terkenal. Ahmad bin Hanbal juga ulama yang sangat mempertahankan prinsipnya, terbuki dengan disiksanya dia karena tidak sependapat dengan al-Ma’mun karena berbedanya pandangan mengenai al-Qur’an.
8
Badri Yatim, Op. Cit., h85
9
Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mahzab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1955), h. 314
2. Penerjemahan Buku dan Manuskrip
Kehidupan penuntut ilmu yang lain adalah menerjemahkan karya orang lain. Melalui pengalaman tersebut, diperoleh ilmu yang bermanfaat. Aktivitas ini dilakukan murid atau mahasiswa terkait dengan ilmu-ilmu dari luar Arab yang ditulis dalam bahasa selain Arab. Gerakan penerjemahan semakin berkembang pada masa Abbasiyah, jika pada masa Umayyah metode penerjemahan dilakukan kata, maka pada masa Abbasiyah penerjemahan dilakukan per-kalimat. Dari metode ini terjemahan menjadi mudah dipahami.10
Hunayn ibn Ishaq (194-259/809-873 M) seorang Kristen keturunan Nestoria11 akrab dengan ilmu kedokteran dan dia menjadi dokter istana khalifah sekaligus guru kedokteran di Baghdad. Dia keliling wilayah Imperium Byzantium untuk mengumpulkan manuskrip dari karya keilmuan dan filsafat. Setelah memperoleh manuskrip tersebut kemudian menerjemahkan hasil tersebut dengan melibatkan tim termasuk anaknya Ishaq, kemenakannya Hubaish, dan sarjana muda potensial. Demikian pula Jabir ibn Hayyan (721-815 M) dari Tarsus memusatkan diri dalam ilmu kimia dengan cara menerjemahkan buku-buku Persia dan Yunani ke dalam bahasa Arab. Aktivitas penerjemahan ilmu pengetahuan berlangsung diantara penuntut ilmu walaupun berbeda agama. Mereka sepenuhnya
10
Suwito, Fauzan, Op. Cit., h. 67
11
Nestoria adalah cabang iagama Kristen yang memisahkan diri dari induk gereja setelah terjadi persengketaan dewan di Ephesus pada tahun 431 M yang menimpulkan perlawanan Uskup Alexandria, St.Chyril terhadap pandangan Nestorius di Constatinopel
melibatkan diri dalam pembahasan bertema filsafat dan ilmu umum.12Dari uraian di atas penulis berpendapat salah satu kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan ini adalah kebijakan al-Ma’mun akan perlunya paham multikulturalisme, bahwa tidak adanya batasan baik itu agama, golongan ataupun siapapun yang mempermasalahkan perbedaan. Sehingga memberi kebebasan untuk memperoleh ilmu dan membuat karya sehingga menjadi ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.
Dengan munculnya gerakan penerjemahan, keikutsertaan para tokoh sangatlah penting sehingga menghasilkan banyaknya buku yang diterjemahkan dalam bahasa Arab. Tokoh-tokoh dan berbagai buku yang diterjemahkan antara lain:
a. Tokoh-tokoh Penting dalam Gerakan Penerjemahan
Di Baghdad didirikan sekolah tinggi penerjemahan yang pertama di dunia, dilengkapi dengan berbagai taman pustaka. Disinalah orang dapat mengenal Hunayn ibn Ishaq (193-217 H/809-833 M), seorang yang mashur dalam ilmu kedokteran dan filsafat. Bahkan buku-buku kedokteran yang sekarang terdapat diberbagai toko buku dengan nama
Materia Medica adalah berasal dari Hunayn.
Penulis-penulis Eropa mengakui bahwa Hunayn merupakan tokoh pemberitahu teori Galen dalam berbagai pengetahuan ke
12
dunia Barat. Dia juga mengarang sendiri buku-buku ke dalam bahasa Arab dan Persia yang banyak dijumpai. Bukunya yang ternama ialah sepuluh soal tentang mata, buku ini disusun secara sistematis untuk pelajar-pelajat ilmu ophtalmology (ilmu mata).13 Dari uraian di atas penulis menambahkan bahwa Hunayn adalah sorang yang beragama Kristen namun di percaya oleh al-Ma’mun untuk menjadi tim penerjemah, terbukti juga dengan banyaknya karangan buku yang dia buat. Salah satunya mengenai ilmu mata. Yang mana mestinya dokter-dokter sekarang patut berterima kasih dan mengetahui bapak dari ilmu kedokteran mengenai mata adalah Hunayn ibn Ishaq.
Nama lain yang cukup penting dalam bidang penerjemahan adalah Tsabit ibn Qurrah (211-288 H/826-901 M). Tsabit menulis karya dalam bidang ilmu medis dan filsafat. Ia menguasai astronomi dan matematika. Dia juga banyak menulis naskah tentang astronomi, dan teori bilangan, fisika dan cabang ilmu matematika lainya, yang amat besar pengaruhnya pada para ilmuan muslim.14 Menurut penulis Tsabit ibn Qurrah merupakan ilmuan yang sangat penting selain di percaya sebagai penerjemah, karena dia merupakan orang yang sangat berpengaruh
13
Didin Saefuddin, Op. Cit., h. 155-156
14
sampai-sampai teorinya dipakai oleh oarng-orang Barat pada masa itu.
Tokoh lain yang berperan penting dalam penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab adalah:
1) Yuhana bin Masuwaih 2) Ishaq bin Hunayn
3) Muhammad bin Musa Khawarizmi 4) Sa’ad bin Harun
5) Umar bin al-Farrakhan15
Penulis berpendapat akibat penerjemahan buku Yunani ke dalam bahasa Arab telah menciptakan suasana yang subur di kalangan kaum muslimin tertentu untuk berkembangnya pemikiran yang rasional. Dengan demikian dengan adanya penerjemahan membantu kaum muslimin untuk mengembangkan pemikirannya dengan menggunakan akal selain untuk memahami agama dan juga ilmu-ilmu umum, sehingga melahirkan intelektual muslim disegala lapangan ilmu antara lain muncul filsof Islam, dokter, ahli kima, ahli matematika, astrinomi, musik, geografi, dan lain-lain.
15
b. Buku-buku yang diterjemahkan
Buku-buku yang diterjemahkan pada masa Khalifah Abbasiyah sebelum al-Ma’mun tidak terlalu banyak, fase pertama pada masa Khalifah al-Mansyur dan Khalifah ar-Rasyid (132-232 H/ 750-847 M) banyak diterjemahkan karya dalam bidang astronomi. Fase kedua masa Khalifah al-Ma’mun 232-334 H/847-945 M) buku yang diterjemahkan tentang filsafat dan kedokteran.16
Gerakan penerjemahan baru mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan yang berasal dari bahasa Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Buku bahasa Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab salah satun`ya yaitu Kitabul Mijisti (sebuah risalah tentang matematika dan astronomi yang dibuat oleh Ptolemeus pada abad ke dua). Diterjemahkan juga buku yang amat terkenal karya Neoplatonik yang diambil dari buku Enneads karya Plotinus. Kemudian pada tahun (300 H/913 M) di terjemahkan juga buku-buku mengenai mathiq, filsafat dan kedokteran. Kemudian juga diterjemahkan buku-buku karya para ilmuan seperti Galen tengtang mata, Aristoteles
16
mengenai ketuhanan, Plato tentang sosial dan kemanusiaan, Hippocrates tentang tanda-tanda kematian.17
Yuhana bin Masuwaih menerjemahkan buku-buku lama yang ada di Ankara, Amuriyah dan di seluruh wilayah Romawi kedalam bahasa Arab. Sehingga banyaknya buku-buku yang diteremahkan ke dalam bahasa Arab mulai dari cabang ilmu pengetahuan seperti Astronomi, filsafat, matematika, kedokteran, mekanik, geografi dan lain-lain.18 Dari penjelasan di atas penulis menambahkan, bahwa dengan diterjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab agar kaum muslimin mudah mempelajarinya sehingga kecintaaan akan ilmu pengetahuan itu menjadi semakin tinggi. Sehingga dapat membuat kaum muslim dapat berbahagia di duni dan di akhirat.
3. Penyusunan Kurikulum
Penyusunan kurikulum pada masa Khalifah al-Ma’mun tidak berbeda jauh dengan masa sebelumnya, yang dimana pada masa rasul dan sahabat dilakukan dengan cara halaqah dan kuttab, demikian juga masa Umayyah dan Khalifah Abbasiyah sebelum al-Ma’mun. Pada masa al-Ma’mun kurikulum diklasifikasikan dan disusun menjadi tiga tingkat yaitu :
17
Mehdi Nakosten, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Deskripsi Analisis
Zaman Keemasan Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), Cet ke 1, h. 15 18
Pertama, pendidikan dasar rendah yang terdiri dari kuttab
rumah, toko, pasar dan istana. Kurikulum yang diajarkan pada tingkat dasar materi pelajarannya meliputi:
a. Membaca al-Qur’an dan menghafalkannya
b. Pokok-pokok agama Islam seperti wudhu, shalat, dan puasa c. Menulis
d. Kisah (riwayat) orang-orang besar e. Membaca dan menghafal syair-syair f. Berhitung
g. Pokok-pokok ilmu nahwu dan ilmu sharaf hanya sekedarnya.
Kurikulum ini tidak seragam disetiap daerah dikarenakan situasi dan kondisi. Lama belajar juga tidaklah sama tergantung pada kecerdasan anak dan kemampuan masing-masing anak.19
Kedua, pendidikan menengah yang mencakup masjid. sanggar
seni dan ilmu pengetahuan. Kurikulum tingkat menengah yang di ajarkan meliputi:
a. Al-Qur’an
b. Bahasa dan sastra Arab c. Fikih
d. Tafsir e. Hadits
19
f. Nahwu dan Sharaf g. Ilmu-ilmu eksakta h. Mantiq i. Thariq j. Falaq k. Ilmu alam l. Kedokteran m. Musik
Ketiga, pendidikan tinggi yang meliputi masjid, madrasah, dan
perpustakaan seperti Baitul Hikmah. Kurikulum pendidikan tinggi lebih memperhatikan keberagamaan. Namun secara umum lembaga pendidkan tinggi memiliki dua fakultas. Pertama, ilmu agama dan sastra. Fakultas ini mempelajari : hadits, fikih dan ushul fikih, nahwu dan sharaf, balaghah, sastra dan sastra Arab. Kedua, fakultas ilmu hikmah (filsafat). Fakultas ini mempelajari: mantiq, ilmu alam dan kimia, musik, ilmu eksakta, ilmu ukur, falaq, teologi, hewan, nabati, kedokteran.20 Dari uraian di atas penulis berpendapat kurikulum masa Khalifah al-ma’mun tidak jauh beda dengan masa sebelumnya, sudah tersusun secara bertingkat dan terpisah, yang terlihat jelas bahwa masih dapat diperdebatkan dikarenakan fungsi lembaga mesjid kadang-kadang dipakai untuk memberi pelajaran tingkat menengah dan kadang-kadang dipakai untuk memberi pelajaran tingkat tinggi.
20
Armei Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
4. Pembentukan Tradisi Ilmiah
a. Aktivitas langsung belajar dengan Syekh
Pada masa Nabi dan Khulafa’urrasyidin pembelajaran langsung kepada Nabi, begitu juga pada masa Khulafa’urrasyidin pembelajaran langsung dari khalifah dan sahabat-sahabat terdekat Nabi.21 Sampai pada masa Umayyah dan Abbasiyah tidaklah jauh berbeda dengan masa kepemimpinan al-Ma’mun, akitivas belajar pada masa al-Ma’mun, pengajaran diberikan langsung kepada murid-murid, seorang demi seorang. Pelajaran diberikan dengan cara dibacakan oleh syekh dan diulang-ulang membacanya oleh murid, atau didiktekan oleh syekh dan ditulis oleh murid, atau murid disuruh menyalin dari buku yang telah ditulis oleh gurunya dengan tangan. Kehidupan demikian, berlangsung dalam
halaqah-halaqah yang diselenggarakan oleh ulama.22
Murid duduk berkeliling, berhadapan dengan seorang syekh (guru). Syekh memberikan pelajaran kepada semua murid yang hadir. Syekh memulai dengan membaca bismillah dengan memuji Allah SWT serta bershalawat kepada Rasul Allah, baru kemudian memulai pelajaran. Jika syekh menghafal pelajaran atau dituliskannya secara diktat, maka dibacakan pelajaran itu dengan perlahan-lahan, lalu murid menulis apa yang dibacakan guru. Setelah selesai dibacakan, lalu guru menerangkan hal-hal yang sulit
21
Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Preneda Media, 2008), h. 45
22
dalam pelajaran yang didiktekan tersebut. Diakhir pelajaran syekh mengulang pelajaran dan menyuruh salah seorang murid membacakannya untuk membetulkan kalau ada murid lain yang salah menuliskannya.23 Dari diktat-diktat yang dituliskan itu, penulis menambahkan bahwa lahirlah kitab-kitab tulisan tangan yang kemudian dicetak beribu-ribu naskah, sehingga menjadi kitab yang termahsyur dan dijadikan rujukan sampai sekarang.
Jika telah tamat ilmu yang diajarkan syekh, lalu syekh menanda tangani salah satu naskah atau beberapa naskah yang ditulis oleh murid-murid itu, serta memberitahukan bahwa syekh telah membacakan naskah itu kepada murid yang menuliskannya. Kemudian syekh memberika ijazah kepada murid bahwa dia berhak untuk mengajarkann atau meriwayatkannya kepada murid yang lain.24 Jadi, dalam halaqah ijazah tidak diberikan oleh sekolah melainkan oleh syekh sendiri. Seorang murid yang tamat dari pelajarannya mendapat hak untuk mempelajari ilmunya kepada murid yang lain. Sehingga ilmu itu berkembang dan tidak habis sampai disitu saja.
Murid tidak memilih sekolah yang baik melainkan memilih syekh yang termahsyur keilmuannya dan kesalehannya. Murid
23
Suwito, Fauzan, Op. Cit., h. 60
24
bebas memilih syekh. Kalau pengajaran guru tidak memuaskan baginya, boleh pindah ke halaqah syekh yang lain.25
Dari kegiatan ini, dapat dilihat bagaimana nikmatnya menuntut ilmu pada masa itu, dimana seorang murid diberi kebebasan untuk memilih syekh dan pelajaran yang ingin diambil tanpa harus dipaksa sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih optimal.
Murid pada masa itu bisa menyalurkan minat dan bakatnya kepada suatu ilmu kepad syekh yang sesuai dengan keinginannya sehingga murid itu akan bersungguh-sungguh dan senang hati dalam meneladani suatu ilmu pelajaran.26 Dari uarain di atas penulis berpandangan bahwa sungguh berbeda pendidikan masa klasik dengan masa sekarang yang seakan menuntut seorang murid untuk mengikuti pola pendidikan yang sudah diatur dengan berbagai mata pelajaran dengan guru yang sudah ditentukan dan harus diterima dan diikuti oleh setiap murid.
Pola tersebut bukan berarti tidak baik, hanya banyak fakta yang menunjukan setiap anak tidak dapat menguasai secara penuh seluruh mata pelajaran yang diajarkan, hanya beberapa mata pelajaran yang mungkin dapat dikuasai dengan baik bahkan tidak sedikt yang hanya mengikuti tanpa dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik.
25
Ibid., h. 61
26
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), h. 135
b. Aktivitas berdebat sebagai latihan Intelektual
Tokoh-tokoh yang muncul dalam sejarah adalah mereka yang kritis, berani, dan tegas dalam ilmu yang diyakini benar. Mereka yang belajar di pendidikan tinggi formal melakukan hal tersebut karena kecintaanya terhadap kehidupan intelektual. Kehidupan para ilmuwan yang benar-benar tekun dan telah berhasil menguasai ilmunya, terbuka peluang untuk maju menjadi
mufti, menjadi penasihat.27
Murid yang paling cerdas membantu syekh sebagai mu’id dan memperoleh bayaran untuk melanjutkan studinya. Pada sore hari mu’id mengulangi materi yang disampaikan oleh syekh dan di pagi hari membantu mahasiswa yang mendapat kesulitan belajar dengan berbagai penjelasan. Kegiatan ini berlangsung secara nonformal sepanjang sore sampai malam hari. Mahasiswa banyak menggunakan waktu untuk menghafal sepanjang sore dan malam hari.28 Dalam hal ini terbukti bahwa kesungguhan para murid untuk menimba ilmu sangat tinggi, sangat berbeda dengan zaman sekarang yang kebanyakan waktu kosong dipakai untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat dan merugikan diri sendiri.
Umumnya mahasiswa diberi waktu tiga hari yaitu hari selasa, jum’at dan sabtu untuk belajar sendiri dan melakukan aktivitas pribadi. Hari jum’at dan hari besar Islam sering kali diisi
27
Moenawar Chalil, Op. Cit., h. 254
28
dengan debat khusus antara staf pengajar dengan mahasiswa, ditambah dengan ceramah-ceramah ilmiah.29
Penulis berpendapat bahwa kegiatan ini sangat menunjang optimalisasi pengembangan ilmu pengetahuan. Disamping seorang murid menerima ilmu pengetahuan yang diberikan oleh syekh, murid tersebut diberi kesempatan untuk dapat mengeluarkan pendapat dan pandangan yang berbeda mengenai suatu ilmu pengetahuan sehingga tidak jarang muncul ilmu pengetahuan yang baru.
Seorang murid pada masa ini pun mempunyai kesempatan untuk dapat berbagi ilmu pengetahuan dan membantu teman-teman yang lain jika dirasa telah mempunyai kemampuan yang cukup. Sehingga ilmu yang didapatkan akan menjadi berkembang menjadi lebih baik dan hal tersebut pun didukung dengan kondisi seorang syekh yang mau menerima kritik, saran dan pandangan mengenai suatu ilmu yang mungkin berbeda dengan apa yang telah dimiliki syekh.
c. Aktivitas Rihlah Ilmiah
Tradisi rihlah ilmiah tampaknya berjalan sudah sejak lama. Menurut Hasan, tradisi ini sudah berjalan sejak Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya murid muslim mengadakan perjalanan sejauh India, Srilangka, Semenanjung Malaysia dan Cina, bahkan sejauh
29
Korea melalui jalur laut. Pelajar banyak melakukan rihlah sampai keluar negeri untuk menuntut ilmu pengetahuan. Mereka merantau meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya meskipun harus berjalan kaki.30
Para pelajar melakukan rihlah keluar negeri bukan hanya mendengarkan ilmu pengetahuan dari syekh-syekh, melainkan ada juga yang ingin melakukan penyelidikan sendiri. Mereka mengumpulkan bahan-bahan ilmu dari hasil penyelidikan. Mereka mencatat dari apa yang sudah mereka selidiki, dan kemudian buku itu menjadi sumber asli yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam kegiatan ini tak jarang mereka yang melakukan rihlah dibantu dan dibiayai oleh para dermawan yang merasa kegiatan ini sangat penting.31
Menurut penulis kegiatan rihlah32 pada masa ini dilakukan
benar-benar dimanfaatkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tidak jarang diantara mereka mampu menghasilkan karya dan berhasil melakukan penyelidikan terhadap suatu ilmu pengetahuan. Dan pada masa ini juga dirasa dermawan seakan tahu betul akan pentingnya kegiatan ini sehingga banyak diantara mereka dengan tulus ikhlas menyisihkan harta mereka untuk para penuntut ilmu.
30
Hasan Ibrahim Hasan, Op. Cit., h. 135
31
Suwito, Fauzan, Op. Cit., h. 64
32
Rihlah adalah berpergian untuk tujuan keagamaan seperti menuntut ilmu, menunaikan ibadah haji, jihad di jalan Allah, berziarah ketempat-tempat mulia, mengunjungi kerabat atau saudara karena Allah, dan berpergian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, lihat dalam buku
B. Faktor yang mendukung pengembangan pendidikan Islam pada masa Khalifah al-Ma’mun
Ilmu pengetahuan itu berkembang disebabkan oleh beberapa faktor pendorong. Faktor yang mendukung pengembangan pendidikan Islam pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun yaitu:
1. Perhatian pemerintah yang besar tehadap kemajuan ilmu pengetahuan. Seperti yang telah dikemukakan di atas, banyak diantara khalifah-khalifah Bani Abbas memberi perhatian besar termasuk Khalifah al-Ma’mun. Bukti perhatiannya yang besar tersebut yaitu dengan didirikanya Baitul Hikmah. Lembaga ini disamping berfungsi sebagai perpustakaan, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas lain, seperti observatorium, penerjemahan dan ruang diskusi para ilmuan. Khalifah al-Ma’mun, sebagai seorang khalifah yang amat menaruh perhatian terhadap lembaga ini, telah mempekerjakan orang-orang yang ahli dalam berbagai bahasa untuk dapat menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab, antara lain Hunayn bin Ishaq (193-217 H/809-833 M).33
Para ilmuwan yang berhasil menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab diberi imbalan yang amat tinggi dan berharga, sehingga dengan demikian kedudukan dan status ilmuwan dan ulama sangatlah baik pada masa itu.34 Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa pemerintahan Daulah Abbasiyah sudah
33
Maidir Harun, Firdaus, Sejarah Peradaban Islam I-II, (Padang: IAIN IB Press, 2001), Cet ke 1, h. 33
34
sejak dahulu sangat memperhatikan pengembangan ilmu pengethuan sampai pada puncaknya yaitu masa Khalifah al-Ma’mun, yang mana al-Ma’mun sangat mencintai ilmu pengetahuan tersebut. Penulis juga memberikan masukan bahwa hendaknya di negara Indonesia perhatian pemerintah lebih maksimal lagi, walaupun perhatian tersebut sudah ada namun belum menyeluruh dikarenakan wilayah yang sangat luas dan pembagian yang belum merata.
2. Strategi Kebudayaan Rasionalitas (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam.
Pada masa kemajuan ilmu pengetahuan di zaman Daulah Abbasiyah umumnya umat Islam hanya terikat dengan al-Quran dan Hadits, sebagai patokan benar atau tidaknya suatu pemikiran. Disamping itu umat Islam yang khususnya para ulama memiliki keberanian untuk menafsirkan atau memahami ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang memiliki kebenaran absolut dan mutlak sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat. Dengan demikian, umat Islam pada masa kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan tersebut tidak bertaklid, bahkan berani berijtihad dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan Hadits. Pada masa ini terutama pada saat al-Ma’mun menjadi khalifah, pemikiran rasional berkembang dan paham Mu’tazilah yang rasioanal inilah yang dijadikan sebagai mahzab resmi negara.35
35
Hal di atas sesuai dengan pendapat Harun Nasution yang mengatakan bahwa umat Islam pada masa itu maju dan mampu membangun peradaban manusia karena menerapkan dan mengembangkan metode berpikir klasik yang tak terikat itu.36
Artinya, penulis berpandangan bahwa ketertarikan berpikir umat Islam pada masa itu hanya pada nash-nash yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits, dan tidak terikat oleh pendapat sahabat, tetapi mereka mempergunakan akal secara luas terutama pada masa Khalifah al-Ma’mun yang sangat memperhatikan akal dalam memecahkan suatu masalah sehingga adanya kebijakan mihnah di pemerintahannya.
Digunakanya metode berpikir ini menyebabkan umat Islam bisa mengemukakan pendapatnya dan menanggapi apa yang dirasa adanya pengetahuan baru. Sehingga ilmu pengetahuan itu tidak monoton dan berkembang secara terus menerus.
3. Kemakmuran dan Ekonomi yang baik
Pada masa Daulah Abbasiyah, umat Islam sudah mencapai tingkat kemakmuran dan ekonomi yang baik. Dengan demikian, para ilmuwan bisa mencurahkan perhatian dan usahanya semaksimal mungkin untuk kemajuan ilmu pengetahuan.37
Tingkat kemakmuran dan ekonomi yang baik ini didukung oleh pengembangan perdagangan, industri rumah tangga dan pertanian
36
Ibid., h. 35
37
yang maju. Sehingga kesungguhan umat Islam memperhatkan anaknya untuk belajar Islam dan ilmu umum menjadi sangat tinggi.38 Dari ungkapan di atas penulis berpendapat kemajuan dan kemakmuran pemerintahan ini merupakan salah satu faktor yang membuat kemajuan pendidikan pada masa itu. Mulai dari keseungguhan syekh untuk mengajar dan membuat karya-karyanya sehingga dijadikan rujukan umat Islam, dan kesungguhan murid untuk belajar pun yang membuat kemajuan ilmu pengetahuan itu semakin berkembang.
Tokoh-tokoh ilmuwan, dan ulama yang telah berhasil membuat sebuah karya juga diberikan upah yang setara dengan berat beban timbangan karyanya dengan diberikan emas oleh pemerintah, inilah salah satu kemajuan pendidikan itu didukung dengan kemakmuran dan ekonomi yang baik.
4. Stabilitas Politik
Perhatian ulama dan ilmuwan bisa penuh pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi apabila mereka merasa aman dan tentram. Untuk menciptakan rasa aman dan tentram, perlu stabilitas politik dan kehidupan masyarakat yang mantap.39
Tentramnya masyarakat terutama para ilmuwan dikarenakan sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dengan pengajaran secara reguler. Selain mereka ada pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan
38
Ibid., h. 133
39
dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah). Unit pasukan lainya disebut muta-thawwi’ah
(sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang badui, petani, dan orang kota.40
Penulis memahami bahwa keamanan merupakan segala-galanya dalam kehidupan. Umat Islam dan para ilmuwan sangat merasa aman dengan adanya kekuatan militer yang sangat hebat. Dengan demikian, para ilmuwan merasa terlindungi untuk tinggal di wilayah itu. Para pasukan juga diberi bayaran yang sangat tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam, sehingga kesungguhan pasukan untuk melindungi pemerintahan sebagai rasa tanggung jawab juga sangat tinggi.
5. Motivasi ajaran Agama Islam
Sangat banyak ayat al-Qur’an dan Hadits yang mendorong penganut agama Islam untuk aktif dalam bidang ilmu pengetahuan dan menempatkan orang-orang yang bergerak dalam ilmu pengetahuan pada posisi yang terbaik dan terhormat. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
40
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan
kepadamu,"Berilah kelapangan di dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat". (Q.S Al-Mujadalah: 11)
Kewajiban menuntut ilmu juga ada pada hadis nabi Muhammad Saw, yang mana Rasulullah Saw bersabda:
"Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari
ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas." (HR. Ibnu Majah)
Ketertarikan umat Islam untuk memperoleh pindidikan tertutama pendidikan Islam yaitu dikarenan ajaran Islam yang mewajibkan setiap umat untuk memperoleh pendidikan sehingga diangkat derajatnya setinggi-tingginya. Ajaran Islam juga yang memberikan motivasi untuk para ilmuan dan umat Isalam untuk memperoleh ilmu pengetahuan agar ilmunya bermanfaat untuk generasi seterusnya.41
Penulis berpandangan bahwa banyak ayat al-Qur’an dan Hadits yang menerangkan kewajiban menuntut ilmu. Dan banyak juga ayat yang berisi ilmu pengetahuan sehingga memotivasi umat Islam untuk mencari tahu dan berpikir. Dengan contoh adanya ayat
41
mengenai penciptaan langit dan bumi, maka dari itu salah satu ilmuwan ingin mencari bagaimana teori terciptanya alam semesta ini. Sehingga rasa ingin tahu dan anjuran agama Islam yang menuntut kewajiban untuk mencari ilmu pengetahuan inilah yang membuat para ilmuwan menjadi semangat dan termotivasi.
6. Pandangan yang tepat terhadap ilmu pengetahuan
Umat Islam dan khalifah-khalifah Abbasiyah terutama al-Ma’mun sangat memandang ilmu pengetahuan dan teknologi yang tumbuh dengan bermacam-macam cabang pada waktu itu dengan baik dan tepat. Tidak adanya dikotomi yang membelah antara ilmu pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan yang lainya, serta memandang yang satu lebih dari yang lainya. Akibatnya semua cabang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang dengan baik dan pesat.42 Dari pendapat di atas dapat dipastikan penghargaan khalifah untuk memperhatikan ilmu pengetahuan ini. Karena itu khalifah tidak membedakan dan tidak menomor satukan setiap cabang-cabang ilmu pengetahuan, karena setiap cabang ilmu pengetahuan itu berkedudukan sama dan sama-sama memberi manfaat yang sangat besar bagi generasi selanjutnya.
C. Dampak Pengembangan Pendidikan Islam pada Masa Khalifah al-Ma’mun terhadap Kemajuan Pendidikan Islam
42
1. Islam mencapai Puncak Kejayaan
Qasim A. Ibrahim, Muhammad A. Saleh berpendapat bahwa puncak kejayaan masa Khalifah al-Ma’mun terletak pada bidang intelektual pada masa itu. Kemajuan intelektual ini sebagian besar disebabkan oleh pengaruh dari luar Arab seperti masuknya pengaruh Persia, Suriah dan yang paling dominan yaitu pengaruh dari Yunani. Kemajuan intelektual ditandai oleh gerakan penerjemahan karya-karya yang berbahasa Persia, Sansekerta, Suriah, dan Yunani ke bahasa Arab. Gerakan penerjemahan semakin berkembang pada masa Abbasiyah, jika pada masa Umayyah metode penerjemahan dilakukan kata, maka pada masa Abbasiyah penerjemahan dilakukan per-kalimat. Dari metode ini terjemahan menjadi mudah dipahami. Dengan semakin gencarnya gerakan penerjemahan. Semakin memperkaya literatur-literatur ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra dalam bahasa Arab. 43
Penulis berpendapat bahwa kemajuan Abbasiyah terletak pada kemajuan intelektual. Terbukti dengan adanya gerakan penerjemahan yang bisa dikatakan lebih berkembang dan lebih maju pada masa Dinasti Umayyah, sehingga layak zaman keemasan Islam itu terletak pada masa Dinasty Abbasiyah. Dari kegiatan ini membuat umat Islam yang sebelumnya tidak terlalu mempunyai keingin tahuan
43
yang tinggi, menjelma menjadi penerima dan pewaris peradaban-peradaban bangsa yang terdahulu.
Titik tertinggi pengaruh Yunani terjadi pada masa al-Ma’mun. Kecenderungan rasionalistik khalifah dan para pendukungnya dari kelompok Mu’tazilah, yang menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia, mendorongnya untuk mencari pembenaran bagi pendapatnya itu dari karya-karya filsafat Yunani. Pada masa pemerintahan al-Ma’mun, dia mengembangkan Bayt al-Hikmah (rumah kebijaksanaan), yang dalam hal ini merupakan lembaga pendidikan paling penting pada masanya. pada masa ar-Rasyid Baitul Hikmah hanya sebagai lembaga penerjemah dan studi ilmu, sedangkan pada masa al-Ma’mun Baitul Hikmah sebagai lembaga yang menggabungkan perpustakaan, sanggar sastra, lingkaran studi dan observasi. Baitul Hikmah juga dipergunakan sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari berbagai penjuru dunia, dari Bizantium hingga India.44
Penulis memberikan pemahaman bahwa puncak kejayaan pada masa al-Ma’mun terlihat jelas dari majunya ilmu pengetahuan. Pada masa al-Ma’mun Baitul Hikmah selain dijadikan sebagai perpustakaan, berkembang menjadi pusat kegiatan studi, dan penelitian. Dengan dilakukan pengembangan Baitul Hikmah menjadi berbagai pusat pengkajian ilmu pengetahuan, menjadikan Khalifah
44
Ma’mun sebagai khalifah yang sangat memperhatikan pendidikan. Sehingga tidak dapat dipungkiri, bahwa Baitul Hikmah memberikan kontribusi luar biasa bagi perkembangan keilmuwan muslim pada masanya.
Menurut Maidir Harun puncak kejayaan Islam dibidang Politk dan militer yaitu Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik, maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut Diwanul Jundi45. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaitan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pembentukan lembaga ini didasari atas kenyataan politik militer bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, banyak terjadi pemberontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasti Abbasiyah.46
Sedangkan dilihat dari bidang ekonomi Maidir Harun memaparkan bahwa kemajuan perekonomian terletak pada perkembangan perdagangan dan indutri, dan pertanian. Dilihat dari segi perdagangan dan industri Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di mesir, sutra dari syiria dan irak, kertas dari samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari mesir
45
Diwanul Jundi adalah sekertariat negara pada masa Abbasiyah yang dibuat untuk melatih prajurit-prajurit dan masyarakat yang ingin menjadi prajurit perang. Lihat di buku Sejarah
Peradaban Islam II, Maidir Harun, Firdaus, h. 11 46
dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke wilayah kekuasaan Abbasiyah dan negara lain. Sedangkan dilihat dari sektor pertanian, berbagai tanaman yang di tanam seperti gandung, padi, kurma, kapas, wijen, rami, kacang, terong, jeruk tumbuh dikarenakan pemerintahanya berada di daerah yang sangat subur.47 Dari penjelasan ahli di atas penulis berpandangan bahwa tempat yang strategis membantu memperkuat pemerintahan untuk menjadi lebih maju terutama pada bidang politik dan ekonomi. 2. Terjalinnya Komunikasi dengan Bangsa di luar Arab
Badri Yatim mengatkan bahwa terjalinnya komunikasi dengan bangsa di luar Arab ketika Dinasti Abbasiyah sudah mencapai puncak kejayaan dan sudah menjadi pusat pemerintahan yang kokoh. Adanya komunikasi dengan bangsa di luar Arab yaitu dengan terjadinya asimilasi dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Adanya hubungan diplomatik dari segi pemerintahan dengan bangsa lain dalam bentuk kerja sama. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.48
Terlihat jelas bahwa dengan terjalinnya komunikasi menggunakan kegiatan asimilasi ini berdampak pada terjalinnya hubungan diplomatik dengan bangsa lain. Selain hubungan diplomatik,
47
Ibid, h. 35
48
yang paling utama yaitu kemajuan ilmu pengetahuan. Karena dengan diadakannya asimilasi Dinasti Abbasiyah dapat memperoleh banyak karya-karya ilmu pengetahuan yang memiliki manfaat dan daya guna untuk generasi penerusnya.
3. Pengaruh Pendidikan berbasis Multikulturalisme terhadap Kemajuan Bangsa
Kebudayaan, kondisi sosial-politik, ekonomi, dan pendidikan yang berbasis multikulturalisme pada masa Khalifah al-Ma’mun membawa pengaruh yang luar biasa terhadap kemajuan peradaban bangsa. Konsep multikultural ini membuat masyarakat bebas memilih pendidikan dan memiliki hak untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang mereka dapat. Sebagaimana dipaparkan dibawah ini:
a. Terjalinnya kerja sama dengan bangsa lain yang lebih dahulu maju dibidang ilmu pengetahuan.
b. Gerakan penerjemahan yang dikelola dalam suasana keberagaman, kesederajatan, perbedaan-perbedaan kebudayaan, toleransi terhadap semua kelompok dan agama khususnya agama Kristen yang membawa pengaruh pada kemajuan ilmu pengetahuan dan juga ilmu pengetahuan agama.
c. Kebebasan dalam memilih materi dan guru bagi murid dalam proses belajar mengajar dan hubungan yang harmonis antara guru dan murid dan nilai-nilai toleransi antara keduanya mempercepat
berkembangkanya ilmu pengetahuan dan lahirnya imam-imam mahzab, seperti imam mahzab ketiga yaitu Muhammad ibn Idris as- Syafi’i (767-820 M), dan lahirnya imam mahzab keempat yaitu Ahmad Ibn Hanbal (780-855 M). Kemudian memberikan beasiswa kepada murid yang tidak mampu dan yatim piatu dari para dermawan, ulama, pemerintah yang berdampak positif terhadap pesatnya perkembangan ilmu dan peradaban.49 Dari penjelasan di atas penulis berpandangan bahwa Khalifah al-Ma’mun memakai prinsip multikulturalisme bertujuan untuk menyetarakan umat manusia, yang mana tidak bolehnya saling merendahkan budaya, dan bahkan agama. Sehingga rasa saling menghormati tumbuh dalam diri mereka. Terbukti dengan salingnya toleransi beragama, maka membuat maju ilmu pengetahuan berkat tokoh gerakan penerjemahan Hunayn bin Ishaq yang beragama Kristen Nestoria.
Terjadinya proses rekrutmen terhadap murid dilakukan dengan kebebasan, keterbukaan, kesetaraan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk bebas memilih guru dan mata pelajaran yang dirasa mampu oleh murid tersebut. Dan memberikan beasiswa kepada murid yang tidak mampu dan yatim piatu dari para dermawan, ulama, pemerintah yang berdampak positif terhadap pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
49