• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrak Bank dalam Bisnis Bank Dilihat dari Kitab Undangundang Hukum Perdata (KUPer) dan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) Oleh: Sukiati *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kontrak Bank dalam Bisnis Bank Dilihat dari Kitab Undangundang Hukum Perdata (KUPer) dan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) Oleh: Sukiati *"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Perlindungan Konsumen (UUPK) Oleh: Sukiati *

Abstrak

Tulisan ini menjelaskan kontrak bank dalam bisnis menurut perspektif Kitab Undang-undang Hukum Perdata(KUHPer) dan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK). Kontrak adalah kesepakatan hukum antara dua pihak atau lebih untuk perbuatan tertentu dan memiliki pembayaran yang harus dibayar oleh kedua belah pihak. Kontrak dapat juga didefinisikan sebagai sebuah kesepakatan antara dua pihak atau lebih menciptakan kewajiban yang dapat dipaksakan secara hukum. Kontrak bank dalam kaitannya dengan bisnis akan melihat dua hubungan: (1) kontrak antara bank dan kreditur, (2) kontrak antara bank dan individu atau institusi sebagai debitur. Dari aspek bisnis, kontrak bank dapat berupa deposito, simpanan, layanan pembelanjaan dan sebagainya. Kontrak bank dalam bisnis memakai standar kontrak atau standar klausul yang biasanya tidak memberikan hubungan timbal balik; hanya berdasarkan pada kebutuhan satu pihak. Sebenarnya, Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Undang-undang Perlindungan Konsumen membatasi dan mendefinisikan kontrak berdasarkan kebutuhan dua pihak.

Kata kunci: kontrak bank, perjanjian, perikatan, bisnis bank, KUHPerdata, UU perlindungan konsumen

A. Pendahuluan

Tulisan ini mengandung tiga hal pokok yang akan dibahas. Pertama, kontrak bank dalam bisnis; kedua, kontrak bank menurut KUH Perdata dan ketiga, kontrak bank menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen. Dari tiga hal pokok tersebut, sebenarnya, tulisan ini dapatlah dikatakan bukan tulisan yang sederhana tetapi ia membutuhkan satu pembahasan yang luas dan komprehensif. Dikatakan demikian karena hal ini membutuhkan penjelasan-penjelasan lebih lanjut pada tiap-tiap konsep di masing-masing tiga bagian penting dimaksud.

Ketiga bagian pokok bahasan juga akan menjabarkan bagian-bagian pembahasan yang dianggap mendukung tema pokok dimaksud. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas apa yang dimaksud kontrak dalam kajiannya yang umum, jenis-jenis kontrak bank, kontrak bank sebagai

(2)

suatu perikatan dan kontrak bank menurut KUH Perdata. Kemudian kontrak bank tersebut akan ditinjau berdasarkan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) dengan melihat hubungan nasabah dengan bank dan kedudukan nasabah sebagai konsumen.

B. Kontrak Bank dalam Bisnis 1. Kontrak

Kontrak berasal dari bahasa Inggris ‘contract’ yang berarti “a legal agreement between two or more parties, specifying the actions to be taken and payment

to be made by each party1 (kesepakatan hukum antara dua pihak atau lebih

untuk perbuatan tertentu dan memiliki pembayaran yang harus dibayar oleh kedua belah pihak). Contract juga diartikan sebagai an agreement between two or more parties creating obligations that are enforceable or otherwise recognizable at law (kesepakatan antara dua pihak atau lebih menciptakan kewajiban yang dapat dipaksakan secara hukum).

Di sini kontrak merujuk kepada tiga hal yang berbeda:2

a. The series of operative acts by the parties resulting in new legal relations. (Serangkaian perbuatan tertentu yang menghasilkan hubungan hukum yang baru)

b. The physical document executed by the parties as the lasting evidence of their having

performed the necessary operative acts and also as an operative fact in itself. (Dokumen fisik yang dibuat oleh para pihak sebagai bukti untuk melakukan kesepakatan yang mereka perbuat).

c. The legal relations resulting from the operative acts, consisting of a right or rights in personal and their corresponding duties, accompanied by certain powers, privileges and immunities. (Hubungan hukum yang dihasilkan dari perbuatan hukum yang terdiri dari hak dan kewajiban diiringi kekuatan, hak dan kekebalan tertentu).

Dalam kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kontrak ialah (1) perjanjian tertulis, biasanya di antara dua pihak dalam hal perdagangan, sewa menyewa dan sebagainya. (2) Persetujuan dengan sanksi hukum antara dua pihak atau lebih dalam melakukan atau tidak melakukan

sesuatu.3

Dari defenisi di atas, maka paling tidak kontrak menunjukkan tiga hal; pertama, kontrak yang merujuk kepada perbuatan melakukan kontrak yang dilakukan oleh dua pihak; kedua, kontrak yang menunjuk kepada

1 John Black, Oxford Dictionary of Economics, (USA: Oxford University Press, 1997),

p. 86.

2 Bryan A. Garner, eds., Black’s Law Dictionary, (USA: West Group, 1999), p. 318. 3Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern

(3)

dokumennya yang dibuat oleh para pihak yang membuat kontrak dan ketiga, kontrak yang merujuk kepada hubungan hukum yang dibentuknya di mana hubungan hukum itu dilakukan oleh dua belah pihak yang memunculkan hak dan kewajiban.

Berkaitan dengan kata kontrak diartikan sebagai suatu perjanjian, persetujuan atau perikatan, Subekti menjelaskan: “Suatu perjanjian disebut juga persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Dapat dikatakan bahwa dua perkataan (perjanjian dan pesetujuan) itu

adalah sama artinya.”4

Istilah kontrak pada berbagai tingkat penggunaannya dikenal dengan

istilah ‘persetujuan’, ‘perjanjian’ dan ‘perikatan’.5 Walaupun ketiga istilah

ini dari segi istilah cenderung diartikan maknanya sebagai suatu yang berbeda. Persetujuan diartikan sebagai (1) pernyataan menyetujui; (2) kata

sepakat oleh kedua belah pihak; (3) persesuaian.6 Perjanjian adalah (1)

persetujuan baik secara lisan maupun tertulis yang dilakukan oleh beberapa pihak untuk sama-sama dijalani dengan taat; (2) syarat yang harus ditaati; (3) tenggang waktu, tempo; (4) kesepakatan antara dua negara atau lebih secara resmi mengenai bidang keamanan, perdagangan

dan lain-lain.7 Perikatan memiliki arti (1) pertalian, perhubungan (2)

perserikatan, persekutuan.8

Dalam tulisan ini, istilah kontrak yang dimaksudkan mungkin mewakili ketiga istilah tersebut; persetujuan, perjanjian dan perikatan selama ketiga istilah tersebut dimaksudkan sebagai suatu bentuk hubungan

dua belah pihak yang menimbulkan hubungan hukum.9 Dengan kata lain,

perjanjian merupakan hasil dari sebuah persetujuan yang memiliki hubungan hukum yang akan menimbulkan akibat hukum sebagai suatu

4 Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 1984), p. 1.

5 Misalnya dalam buku Badrulzaman, sekalipun termuat sub bab yang

masing-masing menerangkan tentang perikatan dan perjanjian (kontrak) namun dalam penjelasannya tetap tidak melepaskan ketiga istilah ‘persetujuan, perjanjian dan perikatan sebagai sama dengan istilah kontrak di tempat yang berbeda-beda. Lihat Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung: Alumni, 1994).

6 Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, pp. 1645. 7 Ibid., p. 601.

8 Ibid., p. 553.

9 “Hubungan hukum adalah hubungan yang menimbulkan akibat hukum yaitu

hak (right) dan kewajiban (duty/obligation). Hubungan hukum yang berdasarkan perjanjian adalah hubungan hukum yang terjadi karena persetujuan atau kesepakatan para pihaknya. Sedangkan hubungan hukum yang terjadi karena hukum adalah hubungan hukum yang terjadi karena undang-undang atau hukum adat menentukannya demikian tanpa perlu ada persetujuan/ kesepakatan terlebih dahulu. Mariam Darus Badrulzaman, dkk., Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), p. 1. Lihat juga Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), p. 28.

(4)

perikatan. Hal ini berarti bahwa persetujuan yang sifatnya sepihak hanya sebagai agree ataupun perjanjian sebagai promise yang tidak memenuhi syarat sah suatu perjanjian yang tidak memiliki consideration, maka tidak dimaksudkan sebagai kontrak dalam makalah ini. Namun untuk konsistensi penggunaan istilah, secara umum dalam makalah ini akan digunakan istilah perjanjian dan kontrak, walaupun istilah persetujuan dan perikatan mungkin kadang masih digunakan.

Pada umumnya, kontrak atau perjanjian tidak terikat merujuk kepada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan atau secara tulisan. Apabila dibuat secara tulisan maka perjanjian ini sebagai alat pembuktian ketika terjadi perselisihan atau persengketaan. Namun ciri khas suatu perjanjian menjadi seperangkat kekuasaan terhadap peraturan yang memungkinkan para pihak masuk kepada perjanjian atau persetujuan

menurut pilihan dan istilah mereka sendiri.10

Asas asas atau prinsip dasar yang melandasi suatu kontrak. Pertama, prinsip atau asas konsensualitas di mana persetujuan-persetujuan dapat terjadi karena persesuaian kehendak (konsensus) para pihak. Pada umumnya persetujuan itu dibuat secara bebas bentuk dan tidak dibuat secara formal melainkan konsensual. Kedua, prinsip atau asas “kekuatan mengikat persetujuan” menegaskan para pihak harus memenuhi apa yang telah merupakan ikatan mereka satu sama lain dalam persetujuan yang mereka adakan. Ketiga, prinsip atau asas kebebasan berkontrak, di mana para pihak diperkenankan membuat suatu persetujuan dengan pembatasan bahwa persetujuan tersebut tidak boleh bertentangan dengan sebuah ketentuan undang-undang yang bersifat memaksa, ketertiban umum dan

kesusilaan.11

Perjanjian ini akan berakhir dengan beberapa sebab (pasal 1381 KUH Perdata) yaitu; karena pembayaran, karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan, atau karena pembaharuan hutang, atau karena perjumpaan utang, atau karena perjumpaan utang dengan kompensasi, atau karena percampuran utang, karena pembebasan utang, atau karena musnahnya barang yang terutang, atau karena berlakunya suatu syarat batal atau karena lewatnya waktu.

10Ewan McKendrick, Contract Law, (London: McMillan Press, 1990), p. 3.

11 J Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, (Bandung: Citra

Aditya Bakti, 1995), p. 74. Lihat penjelasan lebih lanjut tentang asas-asas kontrak ini dengan perbandingan kepada kontrak atau perjanjian dalam sistem Common Law oleh Johannes Ibrahim dan Lindawaty Sewu, Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia Modern, (Jakarta: Refika Aditama, 1999), pp. 53-110.

(5)

2. Usaha-usaha Bank

Bank adalah badan usaha di bidang keuangan yang menarik uang dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke masyarakat, terutama dengan cara memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Dengan fungsi ini, bank disebut juga sebagai intermediary secara luas bagi masyarakat pemilik kelebihan dana dan masyarakat yang kekurangan dana.

Fungsi bank ini juga berlaku pada semua jenis bank termasuk bank syari’ah yang juga berfungsi sebagai suatu lembaga intermediasi (intermediary institution) mengerahkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk

fasilitas pembiayaan.12

Usaha bank pada dasarnya merupakan penghimpun dan penyalur dana atau uang. Bank menerima simpanan dan memberikan kredit. Usaha

ini sebenarnya menjadi karakteristik usaha sebuah bank.13 Usaha bank

didasarkan atas empat hal pokok:14

1. Denomination divisibility

Bank menghimpun dana yang masing-masing nilainya relatif kecil, tetapi secara keseluruhan jumlahnya akan sangat besar.

2. Maturity Flexibility

Bank dalam menghimpun dana menyelenggarakan bentuk-bentuk simpanan yang bervariasi jangka waktu dan penarikannya seperti tabungan, giro, deposito berjangka dan lain-lain.

3. Liquidity Transformation

Dana yang disimpan oleh para penabung kepada bank, umumnya bersifat likuid karena itu mudah dicairkan sesuai dengan bentuk tabungannya.

4. Risk Diversification

Bank dalam menyalurkan kredit kepada banyak pihak atau debitor dan sektor-sektor ekonomi yang beraneka macam, sehingga resiko yang dihadapi bank dengan menyebarkan kredit semakin kecil.

Dalam Undang-undang Perbankan Undang-undang No. 7 tahun

1992 pasal 6 dan 7 dijelaskan usaha-usaha bank yang meliputi 14 usaha.15

12 Sutan Remy Sjahdeni, Perbankan Islam dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum

Perbankan Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2005), p. 1.

13 Zulkarnain Sitompul, Probematika Perbankan, (Bandung: BooksTerrace &

Library, 2005), p. 3.

14 Malayu S.P. Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), pp.

4-5.

15 1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,

(6)

Selain kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, dijelaskan pada pasal 7 bahwa bank dapat pula memiliki usaha:

a. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan

yang ditetapkan oleh bank Indonesia

b. Melakukan kegiatan penyertaan modal atau perusahaan lain di bidang

keuangan seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia

c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi

akibat kegagalan kredit, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia

d. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun

sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku

Sebuah bank harus mencari dana dari pihak ketiga, yaitu masyarakat umum yang mempunyai kelebihan dana lalu meminjamkannya kepada pihak lain yang membutuhkan dan mampu membayar bunga atau bagi

hasil bila dalam perbankan syari’ah.16 Contoh usaha bank untuk

menghimpun dana dari pihak ketiga yang disebut dalam pasal 6 UU No. 7/ 1992 adalah sebagai berikut: (1) Simpanan Giro, (2) Pinjam Meminjam (Call money), (3) Tabungan dan deposito, (4) Pinjaman yang diterima dari

dipersamakan dengan itu 2) Memberikan kredit 3) Menerbitkan surat pengakuan hutang 4) membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya 5) Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah 6) Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya 7) menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga atau melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga 8) menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga 9) melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak 10) melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek 11) membeli melalui pelanggan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya 12) melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat 14) menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah 15) melakukan kegitan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lihat, Tim Redaksi Nuansa Aulia, Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Perbankan dan Lembaga Penjamin Simpanan, (Bandung: Nuansa Aulia, 2005), pp. 16-19.

(7)

bank, (5) Bantuan likuiditas dari Bank Indonesia, (6) Pinjaman pihak lain dan (7) Rekening Pasiva lainnya.

Usaha bank sisi aktiva ini adalah usaha bank yang menunjukkan pos-pos di mana bank pada umumnya memperoleh pendapatan dari usaha pengumpulan dana pada sisi pasiva. Sisi ini adalah sisi aktif di mana setiap dana yang ada pada bank dipergunakan untuk memperoleh pendapatan semaksimal mungkin. Fungsi lain dari sisi aktiva ini adalah bank sebagai perantara atau penyalur kelebihan dana kepada yang membutuhkan

dengan imbalan memperoleh pendapatan bunga, fee, atau komisi.17

Usaha bank sisi aktiva khusus bidang pengkreditan merupakan operasi bank dibidang pemberian fasilitas kredit. Usaha ini merupakan fungsi utama dari bisnis bank, yakni fungsi menyalurkan dana kepada mereka yang memerlukannya setelah menerima pengumpulan dan dari para deposan penyimpan dana. Fungsi ini memberikan return atau penghasilan yang paling besar sebanding dengan resiko yang dihadapi bank.

Dalam menjalankan usaha kredit bank telah berperanan memberikan fasilitas kredit. Bank juga menciptakan uang yang sangat diperlukan untuk produksi dan perdagangan yang dihasilkan dari fasilitas

kredit tersebut.18 Sekalipun kredit adalah bisnis bank yang sarat dengan

bunga, untung dan rugi namun kredit mempunyai fungsi yang unik. Fungsi tersebut antara lain; (1) meningkatkan daya guna dari uang (2) Meningkatkan daya guna dari barang (3) Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang (4) sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi (5) Menimbulkan kegairahan berusaha masyarakat (6) Sebagai jembatan untuk mempercepat dan meningkatkan pendapatan nasional, dan (7) sebagai alat untuk

meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan internasional.19

Jenis-jenis kredit yang biasanya diberikan oleh pihak bank kepada

nasabah antara lain meliputi:20 Jenis kredit berdasarkan waktu; kredit

jangka pendek (1) tahun; kredit jangka menegah (3-5 tahun) dan kredit jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Jenis kredit dari segi dokumentasi; kredit dengan perjanjian tertulis; kredit dengan catatan janji, obligasi, kartu kredit dan kredit cerukan/overdraft.

17 Suhardi, Usaha Perbankan, p. 67.

18 Marcia L. Stigum, Managing Bank Assets dan Liabilities, (Illinois: Homewood,

1983), p. 20.

19 Muchdarsyah Sinungan, Strategi Manajemen Bank Menghadapi Tahun 2000,

(Jakarta: Rineka Cipta, 1994), p. 173.

20 Rachmadi Usman, Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia, (Jakarta: Gramedia

(8)

Kredit berdasarkan tujuan penggunaan; kredit konsumtif, produktif, investasi, kredit modal kerja dan kredit likuiditas. Kredit berdasarkan waktu pencairan, kredit tunai (cash credit) dan kredit tidak tunai (non cash credit). Dan lain-lain.

Dari penjelasan di atas tampaknya usaha bank dalam bisnis yang merupakan inti kegiatan bagi hidupnya sebuah bank adalah menghimpun dana dari berbagai sumber, menyalurkan dana untuk mencari keuntungan atau pendapatan dengan beberapa cara di mana cara yang paling populer adalah dengan pemberian fasilitas kredit kepada nasabah.

3. Kontrak Bank dalam Bisnis

Dalam kaitannya dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh bank yang dijelaskan, maka kontrak bank dalam bisnis dari aspek pelaku kontraknya terdapat dua jenis kontrak:

1. Kontrak yang dilakukan antar bank dengan kreditur.

2. Kontrak yang dilakukan bank dengan individu atau badan usaha

sebagai debitur.

Kontrak bank dari sisi bisnis ini kemudian dirinci kepada jenis-jenis transaksinya, misalnya kontrak deposito, kontrak tabungan, kontrak pinjam meminjam, kontrak kredit dan lain-lain.

Dengan merujuk kepada konsep hubungan bank dan nasabahnya

Sutan Remi Sjahdeni,21 maka kontrak bank dapat dilihat dari aspek:

(1) Kontrak bank dengan nasabah penyimpan dana; dan

(2) Kontrak bank dengan nasabah debitur atau perjanjian kredit bank Nasabah penyimpan dana dapat menyimpan dananya pada bank dalam berbagai bentuk simpanan seperti dalam bentuk giro, deposito berjangka dan tabungan. Kontrak bank dan nasabah penyimpan dana dituangkan dalam bentuk peraturan bank yang bersangkutan yang berisikan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat umum yang harus disetujui oleh penyimpan dana. Bila dana disimpan dalam bentuk giro, maka ketentuan dan syarat-syarat umum yang berlaku adalah rekening koran. Bila dalam bentuk deposito atau tabungan, ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat umum kontraknya adalah rekening deposito atau rekening tabungan.

21 Sjahdeni menyatakan kedua kontrak ini sebagai gubungan hukum antara bank

dengan nasabahnya. Disebabkan kontrak adalah sebuah hubungan hukum antara dua pihak maka penulis menyatakan kedua hubungan hukum konsep syahdeni sebagai kontrak bank dnegan dengan nasabahnya. Sutan Remi Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993), p. 127.

(9)

Sebaliknya, kontrak bank dengan nasabah debitur dituangkan dalam bentuk kontrak atau perjanjian kredit bank, yang pada praktiknya berbentuk suatu perjanjian baku atau perjanjian standar atau standard contract. Pada dasarnya, kontrak bank tidak hanya dalam hubungan hukum semata, sebagai contoh lain kita lihat kontrak bank berdasarkan aspek kepastian hasil.

Karim mencatat bahwa kontrak, berdasarkan dari aspek tingkat kepastian hasil yang diperoleh bank dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.22

1. Natural Certainty Contracts; dan

2. Natural Uncertainty Contracts

Kontrak pertama, natural certainty contracts adalah kontrak dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Cashflow-nya bisa diprediksi dengan relatif pasti, karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi di awal kontrak. Kontrak ini secara alami (by their nature) menawarkan return yang tetap dan pasti. Sifatnya fixed and predetermined. Objek pertukarannya (baik barang atau jasa) harus ditetapkan di awal kontrak dengan pasti, baik jumlahnya (quantity), mutunya (quality), harganya (price) dan waktu penyerahannya (time of delivery). Usaha bank yang berkaitan dengan kontrak ini termsuk di dalamnya jual beli, sewa menyewa, upah mengupah dan lain-lain. Dalam kontrak jenis ini pihak-pihak yang bertransaksi saling mempertukar assetnya (baik real asset atau financial asset) sehingga tidak ada pertanggungan resiko bersama.

Natural uncertainty contract adalah kontrak bank dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan baik dari segi jumlah maupun waktu. Tingkat returnnya bisa positif atau negatif atau nol. Yang termasuk dalam konrak ini adalah kontrak-kontrak investasi. Kontrak jenis ini secara alami (by their nature) tidak menawarkan hasil yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya tidak fixed dan predetermined. Dalam kontrak jenis ini pihak-pihak yang bertransaksi saling mencampurkan assetnya bai real asset ataupun financial asset menjadi kesatuan dan menanggung resiko bersama untuk mendapatkan keuntungan.

4. Kontrak Bank dan Klausula/Perjanjian Baku

Salah satu asas dalam perjanjian sebagaimana telah dihantarkan di awal adalah asas kebebasan berkontrak. Kebebasan berkontrak ialah adalah kebebasan para pihak yang terlibat dalam suatu kontrak/perjanjian

22 Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Grafindo

(10)

untuk dapat menyusun peraturan-peraturan dari perjanjian itu di mana dalam perjanjian tersebut masing-masing pihak memenuhi kepentingan dan kebutuhannya.

Kebebasan berkontrak ini dilakukan oleh para pihak dengan posisi yang seimbang yang memiliki yang masing-masing memiliki bargaining power. Namun kenyataannya, asas kebebasan berkontrak ini sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang lebih kuat posisinya dengan cara membuat perjanjian/kontrak sepihak, sementara pihak lain hanya menerima apa isi perjanjian tersebut tanpa memiliki alternatif untuk mengubah atau menghilang peraturan yang tertera di dalamnya.

Sebagai pelaku usaha bank cenderung menggunakan kontraknya secara sepihak dimana nasabah datang ke bank untuk melakukan suatu transaksi kredit atau lainnya telah disodori seperangkat peraturan yang siap ditandatangani. Secara umum, peraturan ini telah dibuat secara sepihak yang telah berbentuk perjanjian yang telah jadi (one-sided standard form contract). Nasabah yang setuju akan menanda-tangani perjanjian yang telah diberikan oleh pihak bank sementara nasabah yang tidak setuju dipersilahkan untuk tidak bertransaksi dengan bank tersebut atau ia dipersilahkan mencari bank lain yang juga biasanya memiliki jenis kontrak yang sama.

Perjanjian ini yang telah dipersiapkan secara sepihak ini disebut

dengan perjanjian baku atau perjanjian standar.23 Hondius, sebagaimana

dikutip Badrulzaman, merumuskan perjanjian baku adalah “konsep perjanjian tertulis yang disusun tanpa membicarakan isinya dan lazimnya dituangkan ke dalam sejumlah perjanjian tidak terbatas yang sifatnya tertentu” Drooglever Fortuijn merumuskan dengan “perjanjian yang

bagian pentingnya dituangkan dalam suasana perjanjian.”24

Badrulzaman mendefinisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Syahdeni mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian debitur pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan adapun yang belum dibakukan hanya beberapa hal misalnya yang menyangkut jenis, harga, jumlah, warna, tempat, waktu dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. Syahdeni menekankan yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut melainkan

klausul-klausulnya.25

Sebenarnya, perjanjian standar itu tidak selalu harus dituangkan dalam bentuk formulir, walaupun memang lazim dibuat tertulis,

23 Lihat Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak , p. 65. 24 Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, p. 47. 25 Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak, p. 182.

(11)

contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan di tempat penjual menjalankan usahanya. Bentuk perjanjian baku dalam

pengertian luas mencakup dua jenis:26

1. Dalam bentuk dokumen, seperti terdapat dalam bentuk bentuk

tetrtentu yang mengandung syarat khusus yang termuat dalam berbagai kuitansi, tanda terima atau tanda penjualan, kartu-kartu tertetnu, pada papan-papan pengumuman, atau secarik kertas tertentu yang termuat dalam wadah produk atau kemasan. Contoh kalimatnya seperti; “barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan, ganti rugi maksimum 5 x ongkos” dan lain-lain. Biasanya huruf yang digunakan untuk menulis ini kecil-kecil sehingga sulit dikatehui.

2. Dalam bentuk perjanjian. Konsep dan draft perjanjian telah disiapkan

oleh salah satu pihak biasanya penjual atau produsen. Perjanjian disamping memuat aturan-aturan yang umumnya biasanya tercantum dalam suatu perjanjian, ia memuat pula persyaratan khusus, misalnya berkenaan dengan pelaksanaan perjanjian, ganti rugi atau berakhirnya perjanjian. Bentuknya biasanya adalah formulir yang sudah diperbanyak. Maka kontrak bank adalah salah satu contoh dari perjanjian baku kategori ini.

Suatu perjanjian baku mempunyai ciri-ciri meniadakan atau membatasi kewajiban salah satu pihak (kreditur) untuk membayar ganti

rugi kepada debitur. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:27 (1) Isinya

ditetapkan secara sepihak oleh kreditur ynag posisinya relatif kuat dari debitur, (2) debitur sama sekali tidak turut menentukan isi perjanjian itu itu, (3) terdorong oleh kebutuhannya debitur terpaksa menerima perjanjian itu; (3) bentuknya tertulis (4) dipersiapkan terlebih dahulu secara massal atau individual.

Dengan demikian, kontrak bank itu tampak sebagai sebuah perjanjian baku yang dipersiapkan secara massal. Perjanjian ini diperuntukkan bagi setiap debitur yang melibatkan diri dalam perjanjian tersebut, tanpa memperhatikan perbedaan kondisi antara debitur yang satu dengan debitur yang lain.

26 A.Z. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, (Jakarta: Diadit

Meida, 2002), pp. 95-96.

27 Sudartyatmo, Hukum dan Advokasi Konsumen, (Bandung: Citra Aditya Bakti,

(12)

C. Kontrak Bank Dalam Bisnis Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)

Kontrak atau perikatan di dalam KUH Perdata terdapat dalam Buku III yang memuat 18 Bab. Bab I sampai dengan Bab IV dapat dikatakan memuat ketentuan-ketentuan umum. Ketentuan-ketentuan umum ini pada dasarnya berlaku terhadap semua perjanjian. Hal ini sesuai dengan bunyi pasal 1319 KUH Perdata; “Semua persetujuan baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak terkenal dengan suatu namam tertentu tunduk pada ketentuan umum yang diatur dalam bab ini dan bab yang lalu.”

Berkenaan dengan kontrak bank dan nasabah penyimpan dana. Di dalam KUH Perdata tidak terdapat ketentuan yang khusus ataupun petunjuk yang spesifik mengenai simpanan pada bank yang dinamakan giro, deposito, dan tabungan. Oleh karena itu, penetapan mengenai kontrak dari giro, deposito dan tabungan harus digali dari sumber-sumber

di luar KUH Perdata.28

Perjanjian baku sering mendapat justifikasi berdasarkan KUH Perdata yaitu mengenai asas kebebasan berkontrak yang dijelaskan pada pasal 1320 KUH Perdata. Kemudian adanya unsur pilihan nasabah untuk setuju atau tidak setuju dengan perjanjian yang ditawarkan bank dianggap bahwa perjanjian standar tidaklah melanggar asas kebebasan berkontrak (pasal 1320 jo pasal 1338 KUH Perdata) artinya bagaimanapun pihak nasabah masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). Itulah sebabnya perjanjian standar ini dinamakan juga take it or leave it contract.

Dalam keadaan ini, pihak yang lebih kuat kedudukannya menggunakan kedudukannya itu untuk membebankan kewajiban yang berat kepada pihak yang lainnya. Ia sendiri sedapat mungkin membatasi atau mengenyampingkan tanggung-jawabnya, termasuk juga dalam hal adanya cacat tersembunyi (hidden defects) pada objek perjanjian.

Padahal dalam Undang-undang pasal 1493 KUH Perdata memang memungkinkan untuk mengurangi kewajiban salah satu atau kedua belah pihak. Pasal 1493 KUH Perdata menentukan sebagai berikut: bahwa “Kedua belah pihak diperbolehkan, dengan persetujuan-persetujuan istimewa, memperluas, atau mengurangi kewajiban yang ditetapkan oleh undang-undang ini, bahkan mereka itu diperbolehkan mengadakan persetujuan bahwa si penjual tidak akan menanggung suatu apapun.”

Ketentuan ini sering digunakan untuk memojokkan nasabah secara hukum, padahal pasal selanjutnya (pasal 1494 KUH Perdata) menegaskan

(13)

bahwa: “Meskipun telah diperjanjikan bahwa si penjual tidak akan menanggung suatu apapun, namun ia tetap tidak bertanggungjawab tentang apa yang berupa akibat dari suatu perbuatan yang dilakukan olehnya; segala persetujuan yang bertentangan dengan ini adalah batal.”

Kita melihat bahwa perbedaan posisi para pihak ketika perjanjian baku diadakan tidak memberikan kesempatan kepada debitur untuk mengadakan “real bargaining” dengan pelaku usaha (kreditur, bank). Debitur tidak mempunyai kekuatan untuk mengutarakan kehendak atau kebebasan dalam mengutarakan isi perjanjian baku ini sebenarnya tidak

memenuhi elemen yang dikehendaki pasal 1320 jo 1338 KUH Perdata.29

Ketentuan hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian antara pihak bank sebagai pelaku usaha yang merupakan badan hukum dengan nasabah bank berdasarkan ketentuan perjanjian dalam KUH Perdata pada umumnya adalah tidak sesuai dengan atau tidak relevan dengan asas kebebasan berkontrak.

Syahdeni menyatakannya bahwa dalam kenyataannya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan-pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Misalnya, terdapat ketentuan yang mengatakan suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang-undang. KUH Perdata juga menyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian; yaitu; paksaan (dwang), kekhilafan (dwaling)

dan penipuan (bedrog).30

Sebagai contoh, kasus kontrak bank dalam perjanjian kredit dengan analisa yang disampaikan Sjahdeni dapat dilihat ketidak seimbangan hubungan kontrak bank dengan nasabah debiturnya.

1. Kewenangan bank untuk sewaktu-waktu tanpa alasan apapun dan

tanpa pemberitahuan sebelumnya secara pihak menghentikan izin tarik kredit.

2. Bank berwenang secara sepihak menentukan harga jual dari barang

agunan dalam hal penjualan barang agunan karena kredit nasabah debitur macet.

3. Kewajiban nasabah debitur untuk tunduk kepada segala petunjuk dan

peraturan bank yang telah ada dan yang masih akan ditetapkan kemudian oleh bank.

Klausul ini bertentangan dengan pasal 1320 ayat (3), pasal 1333, dan pasal 1338. Pasal 1320 ayat (3), yang menyatakan bahwa ada suatu hal tertaetbntu yang harus disepakati para pihak tidak sesuai dengan

29 Sidharta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2000), pp.

120-121.

(14)

ketentuan di atas. pasal 1333 yang menyatakan bahwa perjanjian adalah mengikat, akan terjadi bila hal itu diperjanjikan, dan pasal 1338 yang memberlakukan asas konsesualisme tidak membuat kalusul bank yang berbunyi demikian bersifat mengikat.

4. Keharusan nasabah debitur untuk tunduk kepada syarat-syarat dan

ketentuan-ketentuan umum hubungan rekening koran dari bank yang bersangkutan namun tanpa sebelumnya nasabah debitur diberi kesempatan untuk mengetahui dan memahami syarat dan ketentuan-ketentuan umum hubungan rekening koran tersebut.

Ketentuan ini juga bertentangan dengan pasal 1320 KUH Perdata yang sifatnya menjelaskan adanya suatu hal tertentu yang para pihak sepakat. Dengan demikian, klausul ini tidak berlaku dan mengikat.

5. Kuasa nasabah debitur yang tidak dapat dicabut kembali kepada bank

untuk dapat melakukan segala tindakan yang dipandang perlu oleh bank.

Pasal 1796 menyatakan bahwa pemberian kuasa yang dirumuskan dalam kata-kata umum, hanya meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan. Perumusan klausul di atas sangat umum, oleh karena itu sesuai dengan pasal 1796 KUH Perdata pemberian kuasa tersebut hanya meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan

1. Kuasa nasabah debitur kepada bank untuk mewakili dan melaksanakan

hak-hak nasabah debitur dalam setiap rapat umum pemegang saham. Pada ketentuan ini juga berlaku pasal 1796 KUH Perdata di mana kuasa tersebut hanya berlaku terbatas pada perbuatan-perbuatan pengurusan.

2. Pencatuman klausul-klausul eksemsi yang membebaskan bank dari

tuntutan ganti kerugian melalui nasabah debitur atas terjadinya kerugian yang diderita oleh sebagai akibat tindakan hak.

3. pencantuman klausul eksemsi mengenai tidak adanya ha nasabah

debitur untuk dapat menyatakan keberatan atas pembebanan hak atas rekeningnya. Pembuktian kelalaian nasabah debitur secarasepihak oleh pihak bank semata

4. Penetapan dan perhitungan bunga bank secara merugikan nasabah

debitur

5. Denda keterlambatan merupakan bunga terselubung

6. Perhitungan bunga berganda menurut praktik perbankan bertentangan

dengan pasal 1251 KUH Perdata

7. Pengabaian pasal 1266 dan 1267 KUH Perdata berkenaan dengan

(15)

8. Kewajiban pelunasan bunga terlebih dahulu adalah sesuai dengan UU pasal 1397 KUH Perdata tetapi sangat memberatkan nasabah.

Sjahdeni melanjutkan bahwa agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat, maka diperlukan campur tangan melalui undang-undang dan pengadilan. Campur tangan pemerintah dapat dijumpai dalam alasan penyebab putusnya perjanjian, yang dikenal dengan istilah penyalahgunaan kehendak (misbruik van omstandigheden). Dalam KUH Perdata baru negeri Belanda, penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu alasan dari cacat

kehendak.31

Badrulzaman menyimpulkan bahwa perjanjian standar itu bertentangan dengan asas kebebasan berkontrak yang bertanggungjawab, terlebih ditinjau dai asas-asas hukum nasional, yang seharusnya kepentingan masyarakatlah yang didahulukan. Dalam perjanjian standar kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seimbang. Posisi yang yang didominasi pelaku usaha, membuka peluang luas baginya untuk menyalahgunakan kedudukannya. Pelaku usaha hanya mengatur hak-haknya tidak kewajibannya. Menurutnya, perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dan karena itu perlu ditertibkan. Ia menegaskan dalam hal ini “Hak asasi dengan kewajiban asasi". Dengan perkataan lain, bahwa dalam kebebasan terkandung “tanggungjawab”. Di dalam hukum Perjanjian Nasional, asas kebebasan berkontrak yang bertanggungjawab, yang mampu memelihara keseimbangan perlu dipelihara sebagai modal ‘pengembangan kepribadian’ untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir dan batin yang serasi, selaras dan seimbang dengan kepentingan masyarakat.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa asas kebebasan berkontrak tidak mempunyai arti tidak terbatas; akan tetapi terbatas oleh tanggungjawab para pihak, sehingga kebebasan sebagai asas dioberi sifat sebagai berikut: asas kebebasan berkontrak yang bertanggungjawab. Asas ini mendukung kedudukan yang seimbang di antara para pihak, sehingga sebuah kontrak akan stabil dan memberikan keuntungan bagi kedua pihak.32

31 Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak, p. 64. 32 Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, p. 45.

(16)

D.Kontrak Bank dalam Bisnis Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK)

1. Hubungan Bank dengan Nasabah

Dari aspek hukum, hubungan antara nasabah dengan bank dilihat dari dua bentuk. Kedua hubungan tersebut yaitu; (1) hubungan

kontraktual dan (2) hubungan non-kontraktual.33 Hubungan kontraktual,

yaitu hubungan yang paling utama dan paling lazim antara bank dengan nasabahnya. Hal ini berlaku hampir terhadap semua nasabah, baik nasabah debitur, nasabah deposan ataupun nasabah debitur dan non-deposan.

Terhadap nasabah debitur hubungan kontraktual tersebut berdasarkan atas suatu kontrak yang dibuat antara bank sebagai kreditur dengan pihak debitur. Hubungan kontraktual biasanya tertulis dalam perjanjian baku sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Hukum kontrak yang menjadi dasar terhadap hubungan dan nasabah debitur bersumber dari ketentuan-ketentuan KUH Perdata tentang kontrak (Buku III). Sebab, menurut pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berkekuatan sama dengan undang-undang bagi kedua belah pihak.

Berbeda dengan nasabah debitur, maka untuk nasabah deposan atau nasabah non-debitur-non deposan tidak terdapat ketentuan yang khusus mengatur untuk kontrak jenis ini dalam KUH Perdata. Karena itu, kontrak-kontrak untuk nasabah seperti itu hanya tunduk pada ketentuan-ketentuan umum dari KUH Perdata, mengenai kontrak di samping itu berbeda dengan kontrak untuk nasabah debitur. Kontrak kredit yang seringkali diatur cukup komprehensif, maka untuk kontrak antara bank dengan nasabah deposan atau antara nasabah non debitur-non deposan lazimnya hanya diatur dalam bentuk kontrak yang sanagt simpel itupun sama seperti untuk kontrak kredit diberlakukan kontrak dalam bentuk kontrak standard atau perjanjian baku tadi. Biasanya di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan yang berat sebelah di mana pihak bank seringkali diuntungkan.

Akan tetapi walaupun dianut prinsip bahwa hubungan nasabah penyimpan dana dengan bank adalah hubungan kontraktual, dalam hal ini hubungan kreditur, debitur di mana pihak bank berfungsi sebagai debitur sedangkan pihak nasabah berfungsi sebagai kreditur, prinsip hubungan seperti ini juga dapat diperlakukan secara mutlak.

33 Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999),

(17)

Karena itu, sebenarnya ada tiga tingkatan dari pemberlakuan hubungan kontraktual kepada hubungan antara nasabah penyimpan dana dengan pihak bank yaitu sebagai berikut; 1) sebagai hubungan debitur (bank) dan kreditur (nasabah), 2) sebagai hubungan kontraktual lainnya yang lebih luas dari hanya sekedar hubungan kreditur debitur 3) sebagai hubungan implied contract, yaitu hubungan kontrak yang tersirat.

Hubungan implied contract yaitu hubungan kontrak yang tersirat. Misalnya, jika pihak nasabah dapat kapan saja menutup dan mengakhiri hubungannya dengan bank bahkan tanpa pemberitahuan sama sekali, bahkan tanpa pengetahuan bank seperti penarikan uang seluruhnya lewat mesin ATM. Tetapi pihak bank tidak dapat begitu saja memutuskan hubungan kontrak dengan nasabahnya. Karena pada prinsipnya hubungan antara nasabah penyimpan dana dengan bank adalah hubungan kontraktual tersebut (hubungan kreditur debitur), maka tidak mengherankan jika dalam praktik, pihak nasabah terutama nasabah penyimpan dana tidak mendapat perlindungan sewajarnya dari sektor hukum.

Ada enam jenis hubungan hukum yang lain antara bank dengan nasabah selain dari hubungan kontraktual sebagaimana disebutkan di atas, yaitu: (1) hubungan fidusia (fiduciary relation), (2) hubungan confidensial, (3) hubungan bailor-bailee, (4) hubungan principal agent, (5) hubungan

mortgagor-mortgagee (6) hubungan trustee-benfeciary. 34

Selanjutnya dalam hal bank bertindak sebagai custodian, maka bank akan memposisikan diri sebagai penerima kuasa atau sebagai trust dari nasabahnya. Di samping itu, adanya kewajiban bank untuk menyimpan rahasia bank yang sebenarnya hal tersebut tidak pernah diperjanjikan sama sekali mengindikasikan bahwa hubungan antara nasabah dengan bank tidak sekedar hubungan kontraktual semata-mata. Dalam hal ini ada semacam ‘amanah’ yang diemban oleh pihak perbankan untuk kepentingan nasabahnya.

Dengan demikian, sebagai hubungan bisnis, nasabah memiliki kedudukan sebagai pelanggan atau konsumen di hadapan bank yang sebagai pelaku usaha dengan dua hubungan jelas; sebagai hubungan kontraktial dan sebagai hubungan non kontraktual tang diharapkan munculnya hubungan kepercayaan dan hubungan amanah. Dari kedua hubungan tersebut nasabah sebagai konsumen atau pelanggan bank tetap memiliki perlindungan hak-haknya sebagai konsumen atau pelanggan oleh pihak bank sebagai pelaku usaha.

34 Mengenai bagaimana hubungan fidusia dan jaminan fidusia dapat di baca lebih

lanjut misalnya, Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia: Suatu Kebutuhan yang Didambakan, (Bandung: Alumni, 2004).

(18)

2. Nasabah sebagai Konsumen Bank

Sebagai konsumen, nasabah bank mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan memiliki hak-hak untuk dilindungi oleh produsen atau pelaku usahanya dalam hal ini bank. Hal yang sering menjadi masalah adalah masalah perlindungan hak nasabah sebagai konsumen sering diabaikan. Ketika nasabah berada pada hubungannya dengan baik sebagai hubungan kontraktual yang menunjukkan hubungan debitur dam kreditur, Hak-hak nasabah sering tidak mendapat perlindungan.

Istilah ‘perlindungan konsumen’ berkaitan dengan perlindungan hukum. Oleh karena itu, perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekedar fisik melainkan terlebih-lebih hak-hak yang bersifat abstrak. Dengan kata lain, perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan yang diberikan hukum terhadap konsumen.

Dalam hubungannya sebagai konsumen, nasabah bank berhak mendapat perlindungan hak-haknya paling tidak pada hak dasarnya sebagai konsumen yaitu; (1) Hak untuk mendapatkan kemanan (the right to safety); (2) hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed), (3) Hak untuk memilih (the right to choose), (4) Hak untuk di dengar (the right to be heard).

Empat hak dasar ini kemudian di Indonesia ditambahkan menjadi Panca dasar hak konsumen: (1) hak untuk mendapatkan kemanan (the right to safety), (2) hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed), (3) hak untuk memilih (the right to choose); (4) hak untuk di dengar (the right to be

heard) (5) hak untuk mendapat lingkugan hidup yang baik.35 Jika perjanjian

baku yang mengandung eksonerasi klausula itu diuji dengan hak-hak dasar ini, maka terlihat bahwa perjanjian baku itu melanggar hak konsumen.

Empat hak dasar ini kemudian dijabarkan lebih terperinci dan eksplisit.36

35 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, pp. 16-17.

36 (1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi

barang dan/atau jasa; (2) hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; (3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/jasa (4) Hak untuk di dengar pendapat dan keluhannya atas barang dan atau jasa yang digunakan; (5) hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut (6) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen (7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara jujur serta tidak diskriminatif; (8) Hak untuk mendapatkan dispensasi, ganti rugi dan atau pergantian, jika barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya, (9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang lain.

(19)

3. Kontrak Bank dalam Tinjauan UUPK

Kontrak bank tidak bisa melepaskan diri dari asas kebebasan berkontrak dengan perjanjian bakunya di mana secara hukum dapat saja menyudutkan konsumen secara tidak adil (fair). Asas ini sering memberi kesempatan penyalahgunaan kemampuan berlebih, keunggulan ekonomi yang menjurus menjadi kebiasaan umum yang sah.

Perjanjian dengan syarat-syarat baku sepihak (one-sided standard contracts), termasuk syarat-syarat yang menekan, unconsciousnable conditions, sampai-sampai menghilangkan hak-hak esensial (exclusion of essential rights) dari perorangan (konsumen) adalah salah satu contoh dari penyalahgunaan asas kebebasan berkontrak.

Bank menurut UUPK adalah pelaku usaha yang menawarkan jasa. Pelaku usaha dalam UU ini adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi (pasal 1 ayat 3). Jasa dalam UU ini adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen (pasal 1 ayat 5).

Perjanjian baku yang sering digunakan oleh bank digunakan istilah klausul baku dalam UU ini. Klausul baku dalam UU ini adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen (pasal 1 ayat 10).

Kontrak bank dengan perjanjian bakunya dalam tinjauan UUPK lebih mengena kepada aturan tentang ketentuan pencantuman klausula baku yang terdapat pada bab V pasal 18 UUPK. Ketentuan-ketentuan pasal 18 UUPK menjelaskan hubungan kontrak antara pelaku usaha dan

konsumen.37

37 Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk

diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila: a. menyatakan pengalihan tanggungjawab pelaku usaha; b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen, c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen, d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli untuk konsumen secara angsuran, e. Mengatur perihal pembuktian atau hilangnya kegunaan barang atau pemanfaat jasa yang dibeli oleh konsumen, f.

(20)

Dalam pasal 18 ayat 1 (g) dikatakan pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya.

Pasal ini melarang pencantuman klausul yang menyatakan tunduknya nasabah terhadap ketentuan yang masih mungkin ditetapkan kemudian oleh bank. Kenyataannya, pada perjanjian kredit misalnya, bank masih memberlakukan pencantuman klusul ini dan masih memberlakukan kepada nasabahnya. Dengan demikian, kontrak bank di maksud tidak sesuai dengan UUPK Pasal 18 ayat 1 (g) ini.

Dalam pasal 18 ayat 1 (h) dikatakan pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

Pada pasal ini ditunjukkan adanya larangan bagi bank untuk menyatakan adanya jaminan terhadap barang dibeli oleh nasabah melalui bank. Seringkali kontrak bank tidak menyatakan klausul seperti demikian tetapi faktanya aturan tambahan membuat hak tanggungan ini menjadi muncul belakangan.

Dalam pasal 18 ayat 2 dikatakan pelaku usaha dilarang mencantumkan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. Pasal ini juga tampaknya tidak dihiraukan oleh bank dalam

Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa, g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya, h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran, i. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang pengungkapannya sulit dimengerti, j. setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 dinyatakan batal demi hukum, k. pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang ini.

(21)

kontraknya di mana bank menggunakan bahasa kontrak yang teknis yang biasanya tidak bisa difahami atau dimengerti oleh nasabah biasa.

Beberapa pasal ini menujukkan bahwa kontrak bank masih mengabaikan aturan-aturan yang ditetapkan oleh UUPK. Sebenarnya bila UUPK diterapkan secara konsisten dan jujur, maka dapat dikatakan bahwa berdasarkan pasal 18 ayat 3 statusnya adalah batal demi hukum. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kontrak bank yang telah ditetapkan oleh bank pada perjanjiannya memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 pasal 18 UUPK dinyatakan batal demi hukum.

Pelanggaran terhadap pasal-pasal yang mengemukakan hal-hal klausul; baku sebagai perlindungan untuk nasabah dalam UUPK ini tampaknya sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Badrulzaman, bahwa di dalam perjanjian baku kedudukan kreditur dan debitur tidak seimbang. Posisi monopoli pihak kreditur membuka peluang luas baginya untuk menyalahgunakan kedudukannya, pengusaha hanya mengatur hak-haknya

saja tidak kewajibannya.38

Lebih lanjut mengenai hal ini, Subekti menyatakan bahwa kemampuan berlebih pada satu pihak (pengusaha) dan kelemahan pihak lainnya (konsumen), memungkinkan dicapainya kata sepakat untuk tidak memberlakukan ketentuan perundang-undangan tertentu, apalagi ketentua-ketentuan hukum (perjanjian) tidak bersifat memaksa tetapi

hanya pelengkap saja (aanvullend recht).39

Asas kebebasan berkontrak ini hendaknya diiringi dengan i’tikad baik dari pelaku usaha dalam hal ini pihak yang bank. Hal ini karena biasanya sulit sekali untuk mengupayakan penyelesaian secara hukum bila terjadi perselisihan atau sengketa. Sebagaimana dikemukakan Setiawan: bahwa pada civil law (yang menganut sistem kodifikasi), campur tangan dalam bentuk peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen tidak begitu banyak, sebaliknya memberi kesempatan melalui keputusan-keputusan hakim dengan menerapkan ‘asas i’tikad baik sebagai tolok ukur untuk melindungi konsumen dari praktek-praktek kalusula baku (standard clause) dan klausula pengecualian (exoneration clause). Pengertian itikad baik di sini: 1) reasonable, sesuai akal sehat (berhubungan dengan penalaran); 2) just, patut serta adil (berhubungan dengan perasaan).

38Mariam darus Badrulzaman, “Perjanjian Baku (Standar): Perkembangan di

Indonesia” dalam Miharza, ed. Pelangi Perdata II, (Medan: Fakultas Hukum USU, 1980), p. 34.

(22)

KUH Perdata menentukan: “Persetujuan-persetujuan harus dilakukan

dengan iktikad baik.40

E. Penutup

Dari paparan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, kontrak menunjukkan tiga hal; pertama, kontrak yang merujuk kepada perbuatan melakukan kontrak yang dilakukan oleh dua pihak; kedua, kontrak yang menunjuk kepada dokumennya yang dibuat oleh para pihak yang membuat kontrak dan ketiga, kontrak yang merujuk kepada hubungan hukum yang dibentuknya di mana hubungan hukum itu dilakukan oleh dua belah pihak yang memunculkan hak dan kewajiban.

Kedua, usaha-usaha bank meliputi usaha bank sebagai debitur (penyimpan, penghimpun dana) dan usaha bank sebagai kreditur pemberian fasilitas kredit. Ketiga, kontrak bank dapat dilihat dari aspek a) kontrak bank dengan nasabah penyimpan dana; dan b. kontrak bank dengan nasabah debitur atau perjanjian kredit bank. Keempat, kontrak bank menurut KUHP Perdata memiliki ketidaksesuaian dalam beberapa pasalnya dengan arti klausul-klauasul dalam kontrak bank masih bertentangan dengan pasal-pasal dalam KUH Perdata.

Kelima, kontrak bank menurut UUPK masih memperhatikan unsur keseimbangan dan keadilan bagi konsumennya namun kontrak bank yang telah ditetapkan oleh bank pada perjanjiannya masih bertentangan dengan beberapa bagian dalam pasal itu. Demi keseimbangan hubungan bank dan konsumen hal-hal masih memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 pasal 18 UUPK maka kontrak itu sebenarnya dinyatakan batal demi hukum.

40 Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-instrumen Hukumnya,

(23)

Daftar Pustaka

Badrulzaman, Maryam Darus, “Perjanjian Baku (Standar): Perkembangan di Indonesia” dalam Miharza, ed. Pelangi Perdata II, Medan: Fakultas Hukum USU, 1980.

_______, Aneka Hukum Bisnis, Bandung: Alumni, 1994.

_______, Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001. Black, Jhon., Oxford Dictionary of Economics, USA: Oxford University Press,

1997.

Fuady, Munir, Hukum Kontrak dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Bandung: Citra Aditya Bakti.

_______, Hukum Perbankan Modern, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999. Garner, Bryan A. eds., Black’s Law Dictionary, USA: West Group, 1999. Hasibuan, Malayu S.P., Dasar-dasar Perbankan, Jakarta: Bumi Aksara, 2001. Kamelo, Tan, Hukum Jaminan Fidusia: Suatu Kebutuhan yang Didambakan,

Bandung: Alumni, 2004.

Karim, Adiwarman, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta: Grafindo Persada, 2004.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata

McKendrick, Ewan, Contract Law, London: McMillan Press, 1990.

Nasution, A.Z., Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, Jakarta: Diadit Meida, 2002.

Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.

Salim, Peter dan Yenni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English Press, 1995.

Satrio, J., Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995.

Shofie, Yusuf, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-instrumen Hukumnya, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Sidharta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2000. Sitompul, Zulkarnain, Probematika Perbankan, Bandung: BooksTerrace &

(24)

Sjahdeni, Sutan Remy, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993.

_______, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2005.

Stigum, Marcia L., Managing Bank Assets dan Liabilities, Illinois: Homewood, 1983.

Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 1984.

_______, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa, 1987.

Sudartyatmo, Hukum dan Advokasi Konsumen, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.

Tim Redaksi Nuansa Aulia, Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Perbankan dan Lembaga Penjamin Simpanan, Bandung: Nuansa Aulia, 2005.

Undang-undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Staf broker online dapat menyediakan informasi yang saya butuhkan dengan segera.. Layanan online trading mengeksekusi order saya

Rancangan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kesepian lansia yang berada di Unit Rehabilitasi Sosial Panti Wening Wardoyo Ungaran dan lansia yang tinggal

Pelaksanaan pembelajaran Akidah Akhlak kelas VIII di MTs Nurul Ikhlas Pintu Gobang Kari dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru mata

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dukungan keluarga yang diterima oleh responden di TK ABA Mlangi, Gamping, Sleman, Yogyakarta dari

Dari hasil pengamatan rata-rata suhu terendah dan angka kejadian hipotermi kami dapatkan bahwa suhu tubuh pasien akan. semakin turun seiring dengan per.ialanan

Memperhatikan identifikasi masalah yang ada, maka permasalahan yang diteliti dibatasi pada pengaruh penerapan metode pembelajaran Improve terhadap hasil belajar

Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis teks bacaan pada buku pelajaran “Mahir Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII” berdasarkan Kurikulum 2013