Kajian Teoritis Akreditasi
Kajian Teoritis AkreditasiOleh : Adil Basuki Ahza
Dept ITP Fateta, Institut Pertanian Bogor.
Akreditasi adalah sistem penjaminan mutu eksternal (entitas organisasi). Sistem akreditasi pendidikan tinggi, baik institusi maupun program, secara makro pada tingkatan negara yang berdaulat (sovereign) selalu dipengaruhi oleh sistem nilai, norma, budaya, sosial, ekonomi, politik maupun ketahanan dan pertahanan
nasional. Oleh karena itu, pada umumnya bersifat sangat unik/khas bagi negara yang bersangkutan. Amat sangat langka negara yang memiliki sistem akreditasi yang persis sama, terkecuali jika negara yang bersangkutan telah meratifikasi
suatu kesepakatan bersama (baik berupa mutual arrangement, mutual agreement atau mutual recognition), baik dalam rangka mobilitas publik/orang (people)
maupun penerapan sistem pendidikan antar bangsa (internationalization) , lintas batas negara (cross border education/borderless education), maupun pendidikan lintas kebangsaan (trans-national education). Di tingkatan mikro, institusi maupun program studi, yang diakreditasi pada ha kekatnya adalah sistem penjaminan mutu internal yang dikembangkan oleh entitas/organisasi yang bersangkutan. Akreditasi dalam berbagai definisi, ber-intikan pada proses review (peer review system,
asesmen, evaluasi dan penilaian berbasis expertise), menggunakan instrumen dan acuan standard yang disepakati dalam rangka menjaga mutu dan untuk
mengevaluasi bahwa entitas yang diakreditasi memiliki komitment untuk
senantiasa mencapai mutu yang tinggi, serta senantiasa konsisten berkomitmen menerapkan sistem peningkatan mutu secara berkelanjutan (continuous quality
improvements) . Dalam konteks program studi, pada umumnya sangat
mengandalkan sistem evaluasi secara ketat dg menggunakan
reviewer/asesor/auditor sejawat-seprofesi (peer review system). Esensi sistem penjaminan mutu dalam berbagai konteks selalu mengandung 5 (lima) elemen sistem yang penting, yaitu (1) mutu, (2) standard, (3) sistem manajemen (mutu), (4) sistem penjaminan mutu dan (5) asesmen/audit/review, yang masing-masing
merupakan “sistem yang saling berkaitan” dan dalam berbagai hal saling mempengaruhi/saling tergantung (interdependent) 1), 2).
Mutu adalah elemen terpenting di dalam akreditasi, baik dalam konteks
pemahaman, filosofis atau aliran pemikiran (mazhab/school of thought) maupun praxis. Secara filosofis faham tentang mutu yg ada selalu bersifat dinamis, kondisional, tidak terlepas dengan standard mutu yang diterapkan, yang
kesemuanya harus dikembangkan dan berakar pada sistem nilai, norma, kejujuran, imparsialitas (keobyektifan), dan integritas. Mutu sangat penting jika suatu entitas, termasuk perguruan tinggi, berada dalam persaingan. Namun demikian, perlu disadari bahwa persaingan adalah kondisi alamiah suatu organisme maupun organisasi, apalagi perguruan tinggi yang senantiasa harus memperebutkan lulusan-lulusan SMA yang bermutu agar menghasilkan lulusan dan capaian
pembelajaran (learning outcomes) yg bermutu tinggi. Konotasinya memang berarti bahwa mutu menjadi tidak menjadi hal yang terlalu penting lagi jika suatu
organisasi, entitas, organisasi atau industri tidak harus bersaing baik dalam
memperoleh masukan terkendali (controllable inputs, termasuk mengelola masukan yg tak-terkendali) dan mengelola proses untuk menghasilkan keluaran (outputs) dan outcomes yang sesuai dengan tuntutan mutu para pemangku kepentingan). Bahkan, institusi yang monopolistik sekalipun, jika ia melayani kepentingan publik/masyarakat, terutama pemerintah, entitas/institusi tersebut tetap dituntut memiliki keluaran/produk maupun layanan yang bermutu sesuai kepentingan
masyarakat pemangku kepentingan. Pemahaman tentang mutu, sangat tergantung kepada mashab yang dianut oleh suatu perguruan tinggi/entitas organisasi. Secara teoritis, --dalam konteks pendidikan tinggi--, pengertian mutu pada umumnya dapat dikategorikan kedalam lima kelompok, yaitu: (1) kelompok yg menganut faham bahwa mutu adalah keunggulan bersaing (excellences), (2) kelompok yang
menganut faham bahwa mutu adalah nilai tambah (value added), (3) kelompok yg menganut faham bahwa mutu adalah keseuaian dengan maksud atau tujuan
(fitness for purpose), (4) kelompok yag menganut faham bahwa mutu adalah “nilai”
uang (value for money) dan (5) kelompok yg memahami/meyakini bahwa mutu adalah kepuasan pemangku kepentingan/pelanggan (customer satisfaction)1),2),8),9).
Mutu selalu dilahirkan oleh/dibangun atas/dilahirkan dari suatu budaya mutu, yang mengandung 3 (tiga) elemen pokok yaitu artifak (quality artifacts), nilai-nilai dan norma-norma (values and norms) dan asumsi dasar perilaku (underlying
assumptions). Faham yang ada tersebut akan mewarnai perilaku mutu orang
maupun organisasi yang bersangkutan dalam mengembangkan sistem
manajemennya. Karena mutu selalu dikaitkan dengan persaingan, dalam konteks pendidikan tinggi, mutu seringkali sukar untuk dapat diseragamkam diseluruh dunia. Secara teoritetis dan faktual, yang sering terjadi adalah adanya saling pengakuan atau penyetaraan sistem.
Standar adalah suatu dokumen memberikan acuan persyaratan-persyaratan, spesifikasi teknis, panduan atau karakteristik yg dapat digunakan secara konsisten untuk menjamin masukan (inputs), proses, keluaran (outputs) berupa produk atau layanan (services) sesuai yang di maksudkan (fit for purpose). Standar pada
umumnya memiliki karakteristik berupa acuan spesifikasi teknis (seringkali dituntut agar terukur), berupa dokumen formal, hasil konsensus (concensus), kesepakatan
(agreement) seluruh pemangku kepentingan, berbasis pada (akumulasi)
pengalaman (experiences) dan, dikeluarkan oleh otoritas/lembaga resmi 1), 2), 3), 8), 9), 10), 11), 13), 14). Dalam konteks standar pendidikan tinggi, setiap negara memilik
standard yang khas, berbeda-beda antara satu negara dengan negara yang lain, karena masing-masing negara berdaulat dan mutu selalu mencerminkan "budaya" yg secara intrinsik terkandung norma, nilai dan asumsi-asumsi perilaku yg
mendasar. Meskipun demikian, seiring dengan maraknya ratifikasi kesepakatan global, selama satu dekade belakangan ini banyak upaya-upaya untuk mencapai kesetaraan standard mutu antar berbagai negara yang memiliki kepentingan ekonomi, sosial maupun politik regional maupun yg disepakati bersama. Kata kuncinya adalah kesepakatan bersama. Sebagai contoh, antara negara-negara yg tergabung dalam kesepakatan “Bologna process”, yang anggotanya terdiri atas negara-negara eropa sekitarnya yang sepakat untuk memperlancar mobilitas orang.
Sistem manajemen mutu adalah sistem tatakelola masukan (inputs) dan proses, yang digunakan oleh suatu entitas/perguruan tinggi untuk menghasilkan keluaran (
outputs), capaian (outcomes) dan dampak kepada masyarakat (impacts on society),
termasuk subsistem umpan-balik ataupun umpan-kedepan dalam kendala (
constraints) lingkungan eksternal terutama kebijakan suatu negara 1), 2).. Suatu
sistem manejemen mutu pendidikan tinggi selalu menggunakan sistem umpan-balik (feedback) atau umpan-kedepan (feedforward) dalam rangka pengendalian dan peningkatan mutu, dan selalu memperhitungkan pengaruh (dalam constraints) kondisi dan dinamika lingkungan eksternal terkait kebijakan nasional di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya dan ketahanan/pertahanan, serta tergantung pada tingkat kecanggihan (sophistication) instrumen sistem mutu yang diterapkan. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam sistem manajemen mutu,
peranan data dan informasi yang sahih dan andal sangat penting. Sehingga, sistem perekaman, dokumentasi (manual, guidelines, standard operating procedures, work
instructions dan sistem pelaporan), tingkat kebaruan dan pembaruan (up-dated),
serta kemampu-telusuran (traceability) data dan informasi sangat penting,
terutama guna membangun sistem penjaminan mutu yang baik dan peningkatan mutu secara berkelanjutan (continuous quality improvements/CQI). Elemen utama dari sistem manajemen mutu secara prinsip dapat dikelompokkan kedalam 2 (dua) elemen penting organisasi, yaitu: (1) elemen pemampu organisasi “entitas” yg terdiri atas lima subsistem, yaitu kepemimpinan (leadership dan followership), orang (SDM/people), kebijakan, sumberdaya, tatakelola dan, (2) elemen hasil kunci (key results areas, yg terdiri atas empat subsistem, yaitu kepuasan SDM (people’s
satisfaction), hasil “bisnis”(business results), kepuasan pemangku
pelanggan/pengguna hasil (customers satisfaction) dan dampak kepada
masyarakat (impacts on society). Banyak varian model sistem manajemen mutu yg diterapkan oleh berbagai perguruan tinggi di seluruh dunia. Khusus untuk benua Eropa, sistem menajemen mutu yg dikeluarkan oleh European Foundation for
Quality Management (EFQM) banyak dianut dan dijadikan standard penjaminan
mutu internal maupun eksternal, maupun asesmen/audit/review badan-badan akreditasi pergruan tinggi. Meskipun demikian, banyak perguruan tinggi di Eropa maupun bagian benua lain yang menganut/mengembangkan model sistem
manajemen mutunya berbasis ISO- series, atau model-model sistem manajemen mut ynnyau lain yang mereka anggap paling cocok untuk institusi mereka. Sistem manajemen perguruan tinggi di USA banyak yang tidak menganut ISO-series, melainkan sangat bervariasi, mungkin karena budaya negara liberal dan otonomi manajemen perguruan tinggi sangat kuat. Ada satu model sistem manajemen mutu yang populer di USA, --yang dikembangkan untuk meraih keunggulan kinerja suatu institusi di USA--, yaitu yang dikembangkan dengan basis kerangka Malcolm
Baldrige criteria for performance excellences oleh National Institute of Science and Technology (NIST), dan sudah diuji pada lebih dari 45000 institusi termasuk
perguran tinggi, dan dijadikan acuan model sistem manajemen mutu di berbagai perguruan tinggi6). Secara azasi, baik-tidaknya sistem manajemen mutu sangat
ditentukan oleh baik-tidaknya sistem pengendalian mutu (quality control system) di sisi pemampu mutu (enabler) organisasi dalam rangka peningkatan mutu
berkelanjutan (continuous quality improvements/CQI) pada area-area hasil kunci (
key result areas) yang dikembangkan oleh suatu entitas, organisasi dan perguruan
tinggi yang bersangkutan, dalam berbagai sisi maupun konteks pendidikan tinggi, selalu berasal dan tidak dapat lepas dari sistem manajemen mutu yg
dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Sistem penjaminan mutu pada umumnya menjadi fokus dan sangat penting ketika perguruan tinggi atau program studi berhadapan dengan pemangku kepentingan eksternal. Harus disadari bahwa letak permasalahan atau terjadinya masalah organisasi,
kebanyakan terjadi pada saat maupun sisi-sisi dimana organisasi berhadapan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) eksternal. Faktor penentu baik-tidaknya sistem penjaminan mutu jelas sangat tergantung kepada sistem manajemen mutu, dan khususnya ditentukan oleh baik-tidaknya sistem
pengendalian mutu (quality control system) yang ada. Sistem pengendalian mutu yang baik menjadi faktor penting yang menentukan sehat-tidaknya organisasi perguruan tinggi maupun sistem penjaminan mutu internal yang dikembangkan. Semakin baik sistem pengendalian mutu yang ada, terutama jika secara sistematis dan sistemik diintegrasikan kedalam sistem evaluasi dalam sistem peningkatan mutu secara berkelanjutan (proses CQI), akan semakin mantap dan baiklah sistem penjaminan mutu yg dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Sehingga, secara sistemik pengendalian mutu baik di sisi mutu masukan (yg terkendali maupun tak-terkendali), proses, keluaran (outputs: lulusan, produk, layanan yg diinginkan maupun yg tak-diinginkan), capaian (outcomes), maupun dampak (impacts) sangat penting dalam rangka membangun sistem penjaminan mutu. Secara hakiki memang,--dalam proses akreditasi--, yang diakreditasi
sebenarnya adalah sistem penjaminan mutu internal perguruan tinggi. Pada
umumnya, perguruan tinggi yang memiliki sistem penjaminan mutu yang baik dan mantap, akan mudah memperoleh status akreditasi, baik di tingkat nasional,
regional maupun internasional. Di dalam konteks peningkatan mutu secara berkelanjutan, sistem penjaminan mutu (internal maupun eksternal) sangat bertumpu pada baik-tidaknya sistem pengelolaan pengetahuan (knowledge
management system), [--dari mulai bangunan sistem akuisisi knowledge,
perekaman data dan informasi yang sahih dan andal, akumulasi, penambahan nilai dan mengolahnya menjadi pengetahuan dan mendukung sistem pengambilan keputusan, mendistribusikan kepada semua pemangku kepentingan (internal dan eksternal) sampai pada difusi pengetahuan kepada masyarakat--], terutama sebagai landasan pengembangan sistem pengendalian mutu (quality control
system), sistem evaluasi dan peningkatan mutu secara berkelanjutan. Setiap badan
akreditasi bermutu, selalu menjadi anggota jejaring badan-badan akreditasi, baik yang bersifat nasional, regional maupun internasional. Keanggotaan dalam jejaring tersebut adalah dalam menjaga kredibilitas badan akreditasi yang bersangkutan, selain ditujukan untuk memperoleh pengakuan (recognition) maupun meningkatkan mutu secara berkelanjutan. Terdapat rambu-rambu penting bagi badan akreditasi perguruan tinggi yang tidak boleh dilanggar, yaitu melakukan akreditasi palsu (
bogus accreditation). Jika suatu badan akreditasi melakukan akreditasi palsu, maka
keanggotaannya di dalam organisasi jejaring internasional dibatalkan/dicabut, dan hasil akreditasinya tidak akan mendapat pengakuan internasional (international
recognition).
Asesmen (assessment)/audit/review adalah sistem evaluasi dan penilaian dalam rangka penjaminan mutu internal maupun eksternal (akreditasi). Secara intrinsik, setiap organisasi/institusi yang bertanggungjawab dan memandang mutu produk dan layanan sebagai hal yang utama, selalu memiliki satuan pengawas internal (internal audit unit). Adanya satuan pengawas internal sangat bermanfaat untuk meningkatkan akuntabilitas organisasi/lembaga, dan mempersiapkan diri dalam proses akreditasi. Penamaan proses tersebut sangat bervariasi antara badan-badan akreditasi, maupun negara. Dengan demikian, penyebutan aktor pelakunya pada umumnya mengikuti penyebutan sistem evaluasi dan penilaian yang diterapkan. Kinerja mutu yang dihasilkan dari proses akreditasi sangat dipengaruhi oleh mutu: 1) instrumen yang dipergunakan, 2)
asesor/auditor/reviewers , 3) sistem manajemen yang diterapkan oleh institusi maupun badan akreditasi. Selain itu, kebijakan, aturan, peraturan, norma dan etika yang berlaku secara internasonal wajib dipatuhi olehsemua fihak, baik institusi yang diakreditasi maupun yang mengakreditasi. Setiap badan akreditasi wajib memiliki aturan, peraturan, dan kode etik asesmen/audit/review bagi para asesornya
terutama untuk menjaga integritas, keobjektifan (impartiality), kredibilitas dan mutu proses dan hasil asesmen.
KAJIAN Legal ...
Evolusi peraturan Perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terkait dengan sistem pendidikan tinggi, terus berjalan sesuai dengan tuntutan dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Perkembanga di tingkatan
Konstitusi, UUD 1945 telah mengalami amandemen ke empat pada tahun 2002, a.l., pada pasal 31 (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Seiring dengan dinamika sosial dan ekonomi, perubahan konstitusi NKRI ini terus berlangsung membawa dan menuntut pengubahan sistem perundang-undangan dibawahnya, antara lain yaitu berubahnya UU no 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Evolusi dari UU no 2 tahun 1989 menghasilkan UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dijiwai dengan sistem nilai yang penting, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perkembangan sistem legal perundang-undangan tentang pendidikan tinggi di Indonesia belakangan ini sangat cepat, bahkan selama tahun 2012 muncul dua tonggak acuan (milestone) penting yaitu berupa Perpress no 8 tahun 2012 tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI) dan telah disahkannya UU no 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Perkembangan terakhir ini menambahkan paradigma dan sistem nilai dan menanamkan pentingnya sistem pendidikan
nasional untuk membangun karakter bangsa Indonesia. Cepatnya evolusi kebijakan tertinggi di tingkat kehidupan bernegara (NKRI) membawa konsekuensi perlunya perubahan-perubahan paradigma sistem manajemen mutu, tatapamong dan tatakelola di tingkat perguruan tinggi. Evolusi peraturan perundangan ini secara pasti menuntut perlunya segera ditindak lanjuti dengan peraturan
turunan/dibawahnya guna memfasilitasi operasionalisasi kebijakan tertinggi untuk semua jenjang dan tingkatan organisasi penyelenggara jasa layanan pendidikan tinggi.
2012, perlu diperhatikan adanya pergeseran paradigma sistem pendidikan nasional yg ada, antara lain: (1) terjadinya perubahan “single accountable unit” dalam
masalah pendidikan tinggi, yaitu hanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (2) sistem perijinan diintegrasikan dengan akreditasi, (3) terdapat perintah
pergeseran peran, fungsi dan tugas serta pengembangan jenis lembaga akreditasi, (4) terdapat perintah pengembangan sistem akreditasi pendidikan tinggi kepada BAN-PT, dan fokus tugas BAN-PT hanya mengakreditasi istitusi perguruan tinggi, (5) akan muncul badan mengurusi standard nasional Pendidikan tinggi (6) seiring
dengan disahkannya Perpress no 8 tahun 2012 tentang KKNI, maka sistem akreditasi sudah sepantasnya segera dikembangkan/ditingkatkan menuju pada fokus capaian pembelajaran (learning outcomes) terutama terkait dengan standar kurikulum, lulusan, riset dan pengabdian kepada masyarakat, (7) seiring dengan pengintegrasian ijin dengan akreditasi, konsekuensi yang dapat dikembangkan adalah pada seluruh sistem akreditasi terutama terkait dengan persyaratan minimal akreditasi perguruan tinggi dan program studi.
Dilanjutkan lain kali...
Kajian Azas dan Prinsip Akreditasi