i PENGARUH PENAMBAHAN BAHAN ORGANIK PADA DIGESTER
TERHADAP KANDUNGAN ADF (Acid Detergent Fiber) DAN NDF (Neutral Detergent Fiber)SISA BUANGANBIOGAS
SKRIPSI OLEH: NURHUDAYAH 1111 11 326 FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2017
ii PENGARUH PENAMBAHAN BAHAN ORGANIK PADA DIGESTER
TERHADAP KANDUNGAN ADF (Acid Detergent Fiber) DAN NDF (Neutral Detergent Fiber)SISA BUANGANBIOGAS
SKRIPSI
OLEH:
NURHUDAYAH 1111 11 326
SKRIPSI SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA PADA FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2017
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya yang terus menerus diberikan kepada penulis serta salam dan taslim kepada junjungan Rasulullah SAW, kekasih Allah yang merupakan teladan bagi umat manusia.
Skripsi yang berjudul Pengaruh Penambahan Bahan Organik Pada Digester Terhadap Kandungan ADF (Acid Detergent Fiber) dan NDF (Neutral Detergent Fiber) Sisa Buangan Biogas merupakan salah satu persyaratan bagi penulis untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar. Ucapan terima kasih dan cinta kasih penulis persembahkan kepada Ayahanda tercinta Drs. Kamaring dan juga kepada Ibunda tercinta Dra. Syahariah atas limpahan cinta, kasih sayang, curahan perhatian, didikan tulus dan motivasi hidup yang telah diberikan. Kepada suamiku tercinta Agung Abimayu, kepada saudara-saudaraku: Muh. Said Kasri, S.Sos, Akbar Kasri, dan Muhammad Ilham, serta keluarga yang tak pernah lelah menyemangatiku menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dengan segala keikhlasan hati kepada:
1. Ibu Dr. Jamila, S.Pt., M.Si., selaku pembimbing utama dan Bapak Prof. Dr. Ir. Ismartoyo, M.Agr.Sc., selaku pembimbing anggota yang senantiasa meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.
vi 2. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Peternakan beserta seluruh jajarannya yang telah banyak memberikan tuntunan selama proses belajar penulis diperguruan tinggi.
3. Bapak Dr. Ir. Sofyan Nurdin Kasim, M.S selaku penasehat akademik selama penulis menjalani keseharian sebagai mahasiswa, yang mewadahi penulis dalam menyelesaikan studinya.
4. Pengelola Laboratorium Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang telah memberikan arahan dan bantuan sarana dan prasarana laboratorium demi lancarnya penelitian ini.
5. Rekan-rekan sepenelitianku Siti Maghfirah Rezki Lestari, Hamsidar Yuni, dan Try Sukma Utami Taufan atas semangat, bantuan, dan dorongannya kala penulis membutuhkannya.
6. Teman-temanku Fira, Ana, Yuni, Tami, Irma, Jihad, Ide, Lee, Ema, Sukri, terima kasih atas segala cinta, pengorbanan, bantuan, pengertian, candatawa, serta kebersamaannya selama ini.
7. Teman-teman KKN angkatan 87 Desa Pananrang, Kec. Mattirobulu, Kab. Pinrang: Raina, Widya, Mira, Uccang, Rizal, Adi, dan Kak Ari yang menorehkan cerita, warna, dan pengalaman kepada penulis selama menjalani masa-masa Kuliah Kerja Nyata.
8. Rekan-rekan seangkatan SOLANDEVEN 2011, terima kasih atas bantuan dan candatawanya yang menghiasi hari-hari selama perkuliahan, terima kasih atas anugerah persaudaraan yang indah ini, semoga persaudaraan dan kebersamaan kita akan terus berlanjut dihari-hari berikutnya.
vii 9. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu dan mendukung hingga tugas akhir ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu diharapkan kritik dan saran untuk perbaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat membantu dalam melaksanakan tugas-tugas dimasa yang akan datang.
Makassar, Februari 2017
viii ABSTRAK
Nurhudayah (I111 11 326) Pengaruh Penambahan Bahan Organik Pada Digester Terhadap Kandungan ADF (Acid Detergent Fiber) dan NDF (Neutral Detergent Fiber) Sisa Buangan Biogas. Dibawah bimbingan Jamila dan Ismartoyo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan isian digester dari feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok terhadap kandungan ADF dan NDF sludge biogas. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan yaitu P1 (feses sapi + air), P2 (feses sapi + jerami padi + air), P3 (feses sapi + eceng gondok + air), dan P4 (feses sapi + jerami padi + eceng gondok + air). Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Analisis statistik memperlihatkan bahwa sludge biogas dari bahan isian digester feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok (eichornia crassipesi) berpengaruh sangat nyata (P<0,01) tehadap kandungan ADF dan NDF. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penambahan bahan organik jerami padi dan eceng gondok sebagai bahan isian digester biogas mampu menurunkan kandungan ADF dan NDF sludge biogas.
ix ABSTRACT
Nurhudayah (I111 11 326) The Effect of the Addition of Organic Material on the Content of ADF (Acid Detergent Fiber) and NDF (Neutral Detergent Fiber) of Sludge Biogas. Under the Supervision of Jamila and Ismartoyo.
The purpose of this research is to know the effect of the cow feces addition rice straw and water hyacinth on digester to content of ADF and NDF of sludge biogas. This study consisted of four kinds of treatment, that is, P1 (cow feces + water), P2 (cow feces + rice straw + water), P3 (cow feces + water hyacinth + water), and P4 (cow feces + rice straw + water hyacinth + water). The design of this study was group random design (RAK), consisting of 4 treatment and 4 repetitions. The statistical analysis showed that the cow feces on digester that was added with rice straw and water hyacinth significantly affected (P<0.01) the content of ADF and NDF sludge biogas. It was concluded that the addition of rice straw and water hyacinth to the cow feces on digester reduce the content of ADF and NDF of the sludge biogas.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Perumusan Masalah ... 2
Hipotesis ... 2
Tujuan dan Kegunaan ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Gambaran Umum Biogas ... 4
Penggunaan Limbah Ternak Sebagai Biogas... 5
Bahan Isian Digester ... 7
Jerami Padi Sebagai Bahan Isian Digester ... 9
Eceng Gondok Sebagai Bahan Isian Digester... 10
Proses Pembentukan Biogas ... 11
Pemanfaatan Sisa Buangan Biogas ... 12
Kandungan ADF dan NDF Pakan ... 13
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 16
Materi Penelitian ... 16
Metode Penelitian ... 16
xi Parameter yang Diukur ... 18 Analisa Statistik ... 19 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan ADF ... 20 Kandungan NDF ... 22 PENUTUP Kesimpulan ... 25 Saran ... 25 DAFTAR PUSTAKA ... 26 LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Komponen Penyusun Biogas... 5
2. Potensi Produksi Gas dari Berbagai Jenis Kotoran ... 6
3. Kandungan Nutrisi Jerami Padi ... 9
xiii
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Skema Pemisahan Bagian-Bagian Hijauan Segar Pemotongan (Forage)
dengan Menggunakan Detergent ... 15 2. Rataan Kandungan ADF Sludge Biogas ... 20 3. Rataan Kandungan NDF Sludge Biogas ... 22
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Persentasi Perbandingan Feses Sapi, Bahan Organik, dan Air pada
Sludge Biogas Berdasarkan Bahan Kering 12% ... 29
2. Hasil Analisis Statistik Uji Duncan Kandungan ADF Sludge Biogas ... 30
3. Hasil Analisis Statistik Uji Duncan Kandungan NDF Sludge Biogas ... 31
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil menyebabkan cadangan sumber energi makin lama semakin berkurang. Selain itu berdampak pula pada lingkungan seperti polusi udara. Hal ini membuat banyak kalangan sadar bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil harus segera dikurangi. Masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapatkan. Salah satu bahan bakar alternatif tersebut adalah biogas.
Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Menurut Kadir (1982), biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH4) 55%-65% dan karbon dioksida (CO2) 35%-45%,
dan beberapa kandungan yang jumlahnya sekitar 0%-1% diantaranya hidrogen (H2), oksigen (O2), nitrogen (N2) dan Hidrogen Sulfida (H2S).
Biogas merupakan sumber renewal energy yang mampu menyumbangkan andil dalam usaha memenuhi kebutuhan bahan bakar. Bahan bakar yang tidak menghasilkan asap merupakan suatu pengganti yang unggul untuk menggantikan bahan bakar minyak atau gas alam. Biogas dihasilkan oleh proses pemecahan bahan limbah organik yang melibatkan aktivitas bakteri anaerob dalam kondisi anaerobik dalam suatu digester. Pada dasarnya proses pencernaan anaerob berlangsung atas tiga tahap yaitu hidrolisis, pengasaman dan metanogenik .
Permasalahan limbah ternak, khususnya kotoran hewan dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Selain potensi yang besar, pemanfaatan limbah ternak sebagai digester biogas
2 memiliki banyak keuntungan, yaitu mengurangi efek gas rumah kaca, mengurangi bau yang tidak sedap, mencegah penyebaran penyakit, menghasilkan panas dan daya (mekanis/listrik) serta hasil samping berupa pupuk padat dan cair (Wahyuni, 2009).
Limbah dari biogas yang biasa disebut sludge atau slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman yang mempunyai manfaat yang sama dengan pupuk kandang. Selain itu, pemanfaatan lainnya yang masih terus diteliti yaitu penggunaan sludge atau slurry sebagai bahan tambahan pakan ternak. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh penambahan bahan organik pada bahan isian digester dari feses sapi terhadap kandungan serat ADF dan NDF sisa buangan biogas.
Perumusan Masalah
Kualitas slurry biogas sangat dipengaruhi oleh bahan isian digester, diketahui bahan kering yang terbaik adalah 18% (Karki and Dixit, 1984) tapi belum diketahui bahan tambahan organik yang mampu meningkatkan kualitas slurry biogas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan isian digester terhadap kandungan ADF dan NDF sisa buangan biogas.
Hipotesis
Diduga bahwa bahan isian digester dari feses sapi yang ditambahkan dengan jerami padi dan eceng gondok dapat menurunkan kandungan ADF dan NDF sehingga nilai nutrisinya menjadi lebih baik.
3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan isian digester dari feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok terhadap kandungan ADF dan NDF sisa buangan biogas.
Kegunaan dari penelitian ini sebagai bahan infomasi kepada peternak dan masyarakat mengenai penambahan bahan organik yang tepat pada bahan isian digester yang dapat menurunkan kandungan ADF dan NDF sisa buangan biogas.
4 TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Biogas
Energi biogas adalah salah satu dari banyak macam sumber energi terbarukan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, karena energi biogas dapat diperoleh dari air buangan rumah tangga, kotoran cair dari peternakan ayam, sapi, babi, sampah organik dari pasar, industri makanan dan limbah buangan lainnya. Produksi biogas memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan ramah lingkungan (Wahyuni, 2009).
Menurut Teguh dan Asori (2009), karakteristik gas metana (CH4) yaitu
biogas kira-kira memiliki berat 20 % lebih ringan dibandingkan dengan udara dan memiliki suhu pembakaran antara 650°C sampai 750°C, biogas tidak berbau dan berwarna, yang apabila dibakarkan menghasilkan nyala api biru cerah seperti gas LPG, nilai kalori gas metana adalah 20 MJ/m3 dengan efisiensi pembakaran 60%
pada konvensional kompor gas.
Biogas merupakan bahan-bahan yang berguna karena nilai kalorinya cukup tinggi, yaitu berkisar 4800-6700 Kcal/m3. Sementara gas metana murni
(100%) mempunyai nilai kalori 8900 Kcal/m3. Sistem produksi biogas
mempunyai beberapa keuntungan, yaitu (a) mengurangi pengaruh gas rumah kaca, (b) mengurangi polusi bau yang tidak sedap, (c) sebagai pupuk, (d) produksi daya dan panas (Harahap dkk., 1978).
5 Pada dasarnya penggunaan biogas memiliki keuntungan ganda, yaitu gas metan yang dihasilkan bisa berfungsi sebagai bahan bakar, sedangkan limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan bisa digunakan sebagai pupuk organik (Wahyuni, 2009).
Adapun komponen penyusun biogas dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1.Komponen Penyusun Biogas
Jenis Gas Jumlah (%) Methan (CH4) 54 – 74 Karbondioksida (CO2) 27 – 45 Nitrogen (N2) 0,5 – 3 Karbonmonoksida (CO) 0,1 Oksigen 0,1
Hidrogen sulfide (H2S) Sedikit Sekali
Sumber : Setiawan, 2004.
Penggunaan Limbah Ternak Sebagai Biogas
Limbah ternak memiliki potensi sebagai penghasil biogas, sebagai sumber energi yang memiliki sifat sama dengan gas alam yang mudah terbakar. Biogas diperoleh dari proses limbah ternak yang dimasukkan dalam tabung pencernaan (digester), diproses dalam keadaan hampa udara (anaerob) dan menghasilkan gas metan yang popular disebut biogas (Murtidjo, 1998).
Setiawan (2004), mengatakan bahwa gas bio atau sering pula disebut biogas merupakan gas yang timbul dari bahan-bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah yang direndam didalam air dan disimpan
6 dalam tempat tertutup atau anaerob. Potensi produksi gas dari berbagai jenis kotoran dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :
Tabel 2. Potensi Produksi Gas dari Berbagai Jenis Kotoran
Tipe Kotoran Produksi Gas Per-Kg Kotoran (m3) Sapi/Kerbau Babi Unggas Manusia 0,023 - 0,40 0,040 - 0,059 0,065 - 0,116 0,020 - 0,028 Sumber : Teguh dan Asori, 2009.
Dengan teknologi biogas, kandungan zat-zat alami yang terdapat pada kotoran ternak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Gas yang dihasilkan dapat digunakan memasak, lampu penerangan, transportasi dan keperluan lain yang memerlukan energi (Setiawan, 2008).
Pada umumya peternak menangani limbah secara sederhana, seperti membuat kotoran ternak menjadi kompos maupun menyebarkan secara langsung dilahan pertanian. Oleh karena itu pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas diharapkan dapat memberi nilai tambah pada usaha peternakan (Wahyuni, 2009).
Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktifitas bakteri anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik (Yulistiawati, 2008).
Biogas atau gas bio merupakan salah satu jenis energi yang dapat dibuat dari banyak bahan buangan dan bahan sisa, semacam sampah, kotoran ternak, jerami, enceng gondok serta banyak bahan-bahan lainnya lagi. Segala jenis bahan
7 yang dalam istilah kimia termasuk senyawa organik, entah berasal dari sisa dan kotoran hewan ataupun sisa tanaman, dapat dijadikan bahan biogas (Suriawiria dan Unus, 2002).
Bahan Isian Digester
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Namun di sisi lain perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan seperti menumpuknya limbah peternakan termasuk didalamnya limbah peternakan sapi. Limbah ini menjadi polutan karena dekomposisi kotoran ternak berupa BOD dan COD (Biological/Chemical Oxygen Demand), bakteri patogen sehinggan menyebabkan polusi air (air bawah tanah, air permukaan terkontaminasi), polusi udara dari debu dan bau yang ditimbulkannya. Biogas dapat menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam (Haryati, 2014).
Kotoran sapi memiliki kandungan bahan organik yang cukup tinggi, teknologi pembuatan biogas dari kotoran sapi merupakan teknologi yang sudah banyak dikenal di masyarakat. Kotoran sapi dapat digunakan sebagai bahan baku biogas karena mengandung unsur N 26,2 kg/ton, P 4,5kg/ton, dan K 13,0 kg/ton (Foot et al., 1976).
Kotoran sapi merupakan substrat yang cocok umtuk pemanfaatan biogas, karena di dalam substrat kotoran sapi mengandung bakteri penghasil gas metan. Biogas dihasilkan melalui proses anaerobic digestion, dimana bahan-bahan organik diubah menjadi biogas yang memiliki kandungan utama metan (CH4) dan
8 karbondioksida (CO2). Mikroba penghasil gas metan banyak terdapat dalam tubuh
hewan ruminansia. Feses sapi sebagai limbah peternakan digunakan sebagai sumber C dan N dalam pembentukan gas metan (Sutarno dan Firdaus, 2007).
Biogas yang telah dikenal tersebut diolah dari kotoran ternak dalam keadaan kedap udara. Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar. Gas ini dihasilkan dari fermentasi bahan – bahan organik oleh bakteri anaerob. Umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik baik padat maupun cair yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Bila sampah – sampah organik tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH4) dan Karbondioksida
(CO2). Biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH4) dan
karbondiokasida (CO2). Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari
konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar
kandungan energi pada biogas (Sikanna dan Rismawaty, 2013).
Limbah pertanian merupakan sumber bahan organik yang tersedia dalam jumlah banyak dan terus-menerus diproduksi, tetapi belum termanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut dihasilkan selama proses produksi dilapangan, panen, dan pascapanen. Beberapa limbah pertanian mengandung bahan organik berupa karbohidrat, protein, lemak, dan bahan penyusun lainnya. Pada dinding selnya terkandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin sehingga dapat dimanfaatkan melalui proses fermentasi anaerob yang akan menghasilkan biogas dan limbah (sludge) (Sutarno dan Firdaus, 2007).
9 Jerami Padi Sebagai Bahan Isian Digester
Jerami adalah sisa-sisa hijauan dari sebangsa padi dan leguminosa, setelah biji-bijinya dipetik untuk dimanfaatkan oleh manusia. Jerami mengandung protein, pati dan lemak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hijauan, sedangkan kadar serat kasarnya jauh lebih tinggi. Jerami yang biasa digunakan untuk bahan pakan adalah jerami padi, jerami jagung, gandum (Lubis, 1992).
Rendahnya kandungan nutrisi serta sulitnya jerami padi dicerna maka pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia perlu diefektifkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara penambahan suplemen atau bahan tambahan lain agar kelengkapan nilai nutrisinya dapat memenuhi kebutuhan hidup ternak secara lengkap sekaligus meningkatkan daya cerna pakan (Muis, 2008). Kandungan nutrisi jerami padi dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Jerami Padi
Komposisi Nutrisi Jumlah (%)
Bahan kering Protein kasar Serat kasar Lemak kasar Abu ADF NDF Selulosa Lignin Ca P 91,9 5,36 32,5 0,91 21,51 68,50 74,86 33 7,21 0,26 0,02 Sumber : Sarwono dan Arianto, 2003.
10 Pemanfaatan jerami padi masih terbatas sebagai pakan ternak dan kompos. Jerami padi diketahui mengandung kurang lebih 39% selulosa dan 27,5% hemiselulosa, sehingga jerami padi pada dasarnya merupakan limbah yang berpotensi sebagai bahan dasar pembuatan biogas (Prajayana dkk., 2011).
Eceng Gondok Sebagai Bahan Isian Digester
Eceng gondok (Eicchornia crassipes) merupakan jenis gulma yang pertumbuhannya sangat cepat dan memiliki nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan. Eceng gondok dapat dimanfaatkan dalam produksi biogas karena mempunyai kandungan hemiselulosa yang cukup besar dibandingkan komponen organik tunggal lainnya. Hemiselulosa adalah polisakarida kompleks yang merupakan campuran polimer yang jika dihidrolisis menghasilkan produk campuran turunan yang dapat diolah dengan metode anaerobic digestion untuk menghasilkan dua senyawa campuran sederhana berupa metan dan karbondioksida yang biasa disebut biogas (Ghosh et al., 1984).
Pemanfaatan eceng gondok masih belum optimal, pada umumnya diolah sebagai kompos, sementara jika ditinjau dari komposisi kimianya eceng gondok merupakan tanaman yang memiliki kandungan kimia yang terdiri dari 60% selulosa, 8% hemiselulosa, dan 17% lignin, sehingga pada dasarnya eceng gondok sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan dasar pembuatan biogas (Rizky dkk, 2012).
Eceng gondok memiliki nutrisi yang tinggi sebagai sumber serat untuk pakan ternak ruminansia dan memiliki selulosa tinggi yang membuat produksi biogas semakin tinggi. Komposisi nutrisi eceng gondok dapat dilihat pada tabel 4.
11 Tabel 4. Komposisi Nutrisi Eceng Gondok
Macam Analisis Kadar Berat Kering (%)
Kadar air Kadar abu
Kadar lemak kasar Kadar serat kasar Kadar protein kasar NDF ADF Lignin 14,6737 14,4741 3,0330 29,1376 12,5475 54,5456 24,4633 9,3378 Sumber : Astuti dkk, 2013.
Proses Pembentukan Biogas
Teknologi biogas memanfaatkan mikroorganisme yang tersedia dialam untuk merombak dan mengolah berbagai limbah organik yang ditempatkan pada ruang kedap udara (anaerob). Selanjutnya hasil pengolahan limbah tersebut dengan konsep hasil akhir menjadi produk berdaya guna sebagai bahan bakar gas (biogas) dan pupuk organik padat/cair bermutu baik (limbah keluaran dari digester) (Wahyuni, 2009).
Pembentukan biogas meliputi tiga tahap proses yaitu: (a) Hidrolisis, terjadi penguraian bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer; (b) Pengasaman, komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari perombakan gula-gula sederhana ini yaitu asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbon dioksida, hidrogen dan amonia; serta (c) Metanogenik, terjadi proses pembentukan gas
12 metan. Bakteri pereduksi sulfat pada proses ini, yaitu mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hidrogen sulfida (Nurtjahya dkk., 2003).
Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan suatu gas yang sebagian berupa metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida. Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh sejumlah mikroorganisme, terutama bakteri pembentuk metan. Suhu yang baik untuk proses fermentasi adalah 30-550C. Pada suhu tersebut mikroorganisme dapat bekerja secara optimal merombak
bahan-bahan organik (Simamora, dkk., 2006). Pemanfaatan Sisa Buangan Biogas
Sludge biogas adalah sisa hasil pengolahan kotoran ternak pada biogas yang telah hilang gasnya. Bahan dari sisa proses pembuatan biogas bentuknya berupa cairan kental yang telah mengalami fermentasi anaerob sehingga dapat dijadikan pupuk organik dan secara langsung digunakan untuk memupuk tanaman (Hessami et al., 1996).
Sludge biogas dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman yang bermanfaat sama dengan pupuk kandang yang terdiri dari pupuk padat dan pupuk cair namun sebelum penggunaan sebagai pupuk harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Jika dipergunakan sebagai pupuk padat sebaiknya slurry biogas melalui proses pengeringan terlebih dahulu selama ±14 hari tanpa terkena sinar matahari langsung. Penggunaannya bisa juga dikombinasikan dengan pupuk lain misalnya urea (Setiawan, 2004).
13 Menurut Williams dan Sandra (2011), slurry biogas memiliki karakteristik yaitu bervariasi sesuai dengan bahan masukan dan kondisi tindakan, bahan kering rendah (biasanya antara 1-8% padatan), kadar air yang tinggi (92-99% cairan), materi tercerna misalnya lignin dan puing-puing sel, dan memiliki nutrisi anorganik (ammonium N dan P).
Kandungan ADF dan NDF Pakan 1. Acid Detergent Fiber (ADF)
Acid Detergent Fiber (ADF) merupakan metode yang digunakan sebagai langkah persiapan untuk mendeterminasi lignin, sehingga hemiselulosa dapat diestimasi dari perbedaan struktur dinding sel dengan ADF itu sendiri (Haris, 1970). ADF dapat digunakan untuk mengestimasi kecernaan bahan kering dan energi makanan ternak. ADF ditentukan dengan larutan Detergent Acid, dimana residunya terdiri atas selulosa dan lignin (Ensminger dan Olentine, 1980).
Perenggangan ikatan lignoselulosa dan ikatan lignohemiselulosa menyebabkan ADF yang terikat bersama hemisellulosa akan lepas, sehingga kandungan ADF hijauan proses ensilase (Chuzaeni, 1994). Arora (1989) menyatakan bahwa ADF mengandung 15% pentose yang disebut micellar pentose yang lebih sulit dicerna dibandingkan dengan jenis kaborhidrat lainnya.
ADF merupakan zat makanan yang tidak larut dalam detergent asam yang terdiri dari selulosa, lignin dan silika (Van Soest, 1982). Komponen ADF yang mudah dicerna adalah selulosa, sedangkan lignin sulit dicerna karena memiliki ikatan rangkap, jika kandungan lignin dalam bahan pakan tinggi maka koefisien cerna pakan tersebut menjadi rendah (Sutardi dkk., 1980).
14 2. Neutral Detergent Fiber (NDF)
Neutral Detergent Fiber (NDF) merupakan metode yang cepat untuk mengetahui total serat dari dinding sel yang terdapat dalam serat tanaman. NDF digunakan untuk mengestimasi bahan kering hijauan makanan ternak, NDF mempunyai kolerasi yang tinggi dengan jumlah konsumsi hijauan makanan ternak. Semakin tinggi NDF, maka kualitas daya cerna hijauan makanan ternak semakin rendah (Crampton dan Harris,1969).
NDF merupakan zat makanan yang tidak larut dalam detergent netral dan NDF bagian terbesar dari dinding sel tanaman. Bahan ini terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin dan silika serta protein fibrosa (Van Soest, 1982). Degradasi NDF lebih tinggi dibanding degradasi ADF didalam rumen, karena NDF mengandung fraksi yang mudah larut yaitu hemiselulosa (Church dan Pond, 1986).
Komponen penyusun makanan terdiri dari isi sel dan dinding sel menjadi serat-serat ini lebih dikenal dengan “Analisis Serat Van Soest”. Van Soest (1982) membagi komponen hijauan menjadi dua bagian berdasarkan kelarutannya dalam larutan detergent yaitu isi sel atau NDS (Neutral Detergent Soluble) yang bersifat mudah larut dalam detergent neutral yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang mudah larut. Bagian lainnya yaitu dinding sel atau NDF (Neutral Detergent Fiber) terdiri dari dua fraksi yaitu ADS (Acid Detergent Souble) yang terdiri dari hemiselulosa dan protein dinding sel yang larut dalam detergent asam dan ADF (Acid Detergent Fiber) lignoselulosa yang tidak larut dalam detergent asam. ADF ini terdiri dari selulosa dan lignin. Skema pemisahana
15
bagian-bagian hijauan segar pemotongan (forage) dengan menggunakan detergent dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut.
Gambar 1. Skema pemisahana bagian-bagian hijauan segar pemotongan (forage) dengan menggunakan detergent (Van Soest, 1982)
Bahan Makanan
Dicerna dengan detergent neutral
NDS (Isi sel)
NDF
(Komponen dinding sel)
Dicerna dengan detergent asam
ADS (Acid Detergent Solubles) Isi hemiselulosa, dinding sel yang
mengandung nitrogen
ADF (Acid Detergent Fiber) Isi ligoselulosa Dicerna dengan H2SO4 72% Soluble (Isi selulosa) Acid Insoluble (Isi lignin)
Lignin hilang dengan pembakaran sampai menjadi abu
16 METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2016. Dengan melalui dua tahap, pada tahap pertama pembuatan biogas skala laboratorium di Laboratorium Valorisasi Pakan dan Limbah dan tahap kedua menganalisis kandungan ADF dan NDF slurry biogas di Laboratorium Pengolahan Limbah dan Laboratorium Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.
Materi Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi botol Reagen 1000 ml sebagai digester, jeregen, shaker, corong, timbangan analitik, selang, gelas ukur, dan alat-alat yang digunakan dalam analisis kandungan ADF dan NDF.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu feses sapi, air, eceng gondok, jerami padi, dan bahan-bahan kimia yang digunakan dalam analisis kandungan ADF dan NDF.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan sebagai berikut :
P1 = Bahan Isian Digester Feses Sapi + Air (1 : 1)
17 P3 = Bahan Isian Digester Feses + Eceng Gondok + Air (1 : 1 : 2)
P4 = Bahan Isian Digester Feses + Jerami Padi + Eceng Gondok + Air (1 : 1 : 1 : 3)
Prosedur Pembuatan Sisa Buangan Biogas
Proses pembuatan biogas pada penelitian ini menggunakan botol Reagen (1000 ml) sebagai digester. Feses sapi, jerami padi, eceng gondok, dan air dicampur sesuai perlakuan dengan perbandingan yang telah ditentukan (lampiran 1) lalu dimasukkan kedalam digester sesuai dengan perbandingan pada setiap perlakuan dan diaduk sampai homogen, setelah itu dimasukkan kedalam shaker dengan suhu 37oC, kemudian selang yang berada pada botol digester disambung
ke jergen yang berisi air untuk menentukan volume gas biogas yang dihasilkan. Setelah tidak ada produksi gas, selanjutnya digester dibuka dan bahan isian tersebut diambil untuk dianalisis kandungan ADF dan NDF.
Penentuan perbandingan feses sapi, bahan organik dan air dalam digester dihitung dengan menggunakan rumus menurut Saubolle (1978), sebagai berikut :
ukuran digester x A = a 100 % a x 100% = b BK sampel Ukuran digester - b = c Keterangan :
A : Persentase campuran yang diinginkan a : Hasil perhitungan awal
b : Jumlah banyaknya bahan (feses) dalam gram
18 Parameter yang Diukur
Parameter yang diukur pada pengaruh bahan isian digester dari feses sapi terhadap kandungan ADF dan NDF sisa buangan biogas adalah :
a. Acid Detergent Fiber (ADF) (Arif, 2001)
Sampel sebanyak 0,3 gram (a gram) dimasukkan kedalam gelas piala kemudian ditambahkan 30 ml larutan ADS. Dipanaskan selama 1 jam diatas penangas air. Penyaringan dilakukan dengan bantuan pompa vakum, juga dengan menggunakan penyaring kaca masir yang sudah ditimbang sebagai b gram. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air panas dan aceton. Dilakukan pengeringan dengan memasukkan hasil penyaringan tersebut dalam oven, setelah itu dimasukkan lagi didalam desikator untuk melakukan pendinginan dan ditimbang sebagai c gram.
Rumus yang digunakan : c – b
% ADF = x 100% a
Keterangan :
a : berat sampel (gram)
b : berat cawan kosong (gram) c : berat setelah oven (gram) b. Neutral Detergent Fiber (NDF) (Arif, 2001)
Sampel sebanyak 0,3 gram (a gram) dimasukkan kedalam gelas piala kemudian ditambahkan dengan 30 ml larutan NDS. Dipanaskan selama 1 jam
diatas penangas air. Menimbang kaca masir sebagai b gram. Melakukan penyaringan dengan bantuan pompa vakum dibilas dengan air panas dan aceton.
19 Hasil penyaringan tersebut dikeringkan dalam oven 105oC, setelah itu dimasukkan
lagi dalam desikator selama 1 jam, kemudian dilakukan penimbangan akhir sebagai c gram.
Rumus yang digunakan : c – b
% NDF = x 100% a
Keterangan :
a : berat sampel (gram)
b : berat cawan kosong (gram) c : berat setelah oven (gram) Analisis Statistik
Data yang diperoleh adalah dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang berpengaruh nyata, dilanjutkan dengan Uji Duncan (Gasperz, 1991). Dengan rumus matematika sebagai berikut :
Yij = µ + τi + βj + ɛij
Keterangan :
Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke – i dan kelompok ke - j µ = Rata-rata umum (nilai tengah pengamatan)
τi = Pengaruh perlakuan ke – i (i = 1, 2, 3, 4) βj = Pengaruh dari kelompok ke – j
20 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa sisa buangan biogas dari bahan isian digester feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok (eichornia crassipesi) berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) tehadap kandungan ADF dan NDF.
Kandungan ADF
ADF dapat digunakan untuk mengestimasi kecernaan bahan kering dan energi makanan ternak. ADF ditentukan dengan larutan Detergent Acid, dimana residunya terdiri atas selulosa dan lignin (Ensminger dan Olentine, 1980). Kandungan ADF sisa buangan biogas bahan isian digester feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Rataan Kandungan ADF pada P1 (Feses Sapi + Air), P2 (Feses Sapi + Jerami Padi + Air), P3 (Feses Sapi + Eceng Gondok + Air), P4 (Feses Sapi + Jerami Padi + Eceng Gondok + Air)
58,65 51,66 52,25 44,97 0 10 20 30 40 50 60 70 P1 P2 P3 P4
ADF
PERLAKUAN K A D A R A D F (% )21 Berdasarkan hasil sidik ragam (lampiran 2) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan ADF. Pada perlakuan P4 (feses sapi + jerami padi + eceng gondok + air) memiliki kandungan ADF paling rendah (44,97%). Hal ini disebabkan karena jerami padi merupakan bahan organik yang mudah dicerna, begitu juga dengan eceng gondok mengandung kadar air sekitar 90%, ini merupakan keuntungan dalam memanfaatkan sebagai sumber biogas melalui proses fermentasi karena bahan yang memiliki kadar air tinggi lebih mudah untuk dicerna. Hal ini sesuai dengan pendapat Indra (2008), yang menyatakan bahwa bahan yang mudah dicerna banyak mengandung selulosa seperti jerami padi atau gandum, dan sebagainya.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa kandungan ADF pada perlakuan P1, P2, dan P4 berbeda tetapi P2 dan P3 tidak berbeda nyata, dapat dilihat pada uji Duncan (lampiran 2). Kandungan ADF yang rendah pada perlakuan P4 (feses sapi + jerami padi + eceng gondok + air) menunjukkan bahwa bahan isian digester biogas jika tidak ditambahkan bahan organik kualitas sludgenya rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Gunawan (2013) bahwa biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan anaerob. Hal ini mengindikasikan terjadi perombakan dinding sel menjadi komponen yang lebih sederhana yaitu hemiselulosa dan glukosa selama proses fermentasi. Kadar ADF menurun disebabkan oleh terlarutnya sebagian protein dinding sel dan hemiselulosa dalam larutan detergent asam sehingga meningkatkan porsi ADS dan menurunkan kadar ADF. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1980) yang menyatakan bahwa fraksi yang larut dalam
22 pemasakan detergent asam sebagian besar terdiri atas hemiselulosa dan sedikit protein dinding sel.
Kandungan NDF
Neutral Detergent Fiber (NDF) merupakan metode yang cepat untuk mengetahui total serat dari dinding sel yang terdapat dalam serat tanaman. NDF mempunyai kolerasi yang tinggi dengan jumlah konsumsi hijauan makanan ternak. Semakin tinggi NDF, maka kualitas daya cerna hijauan makanan ternak semakin rendah (Crampton dan Harris,1969). Kandungan NDF sisa buangan biogas bahan isian digester feses sapi yang ditambahkan jerami padi dan eceng gondok dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Rataan Kandungan NDF pada P1 (Feses Sapi + Air), P2 (Feses Sapi + Jerami Padi + Air), P3 (Feses Sapi + Eceng Gondok + Air), P4 (Feses Sapi + Jerami Padi + Eceng Gondok + Air)
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap kandungan NDF. Pada perlakuan P3 (feses sapi + eceng gondok + air) memiliki
61,77 64,18 60,43 61,91 58 59 60 61 62 63 64 65 P1 P2 P3 P4
NDF
PERLAKUAN K A D A R ND F (% )23 kandungan NDF yang lebih rendah dibanding dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bahan organik pada digester biogas berpengaruh terhadap kualitas sludge biogas. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1994) yang menyatakan bahwa nilai kecernaan NDF dan ADF dapat disebabkan oleh kandungan nutrisi pakan, komposisi ransum (tingkat protein), jumlah pakan, penyiapan pakan, dan faktor ternak. Hal ini juga sesuai pendapat Fredriksz dkk, (2001) bahwa setiap bahan pakan mempunyai variasi degradasi dan sangat tergantung pada bagian dari tanaman, umur, tingkat lignifikasi yang merupakan karakteristik spesifik bahan pakan.
Pada Gambar 3 terlihat bahwa kandungan NDF pada setiap perlakuan berbeda antara P1, P2, dan P3, sedangkan antara P1 dan P4 tidak berbeda, terlihat pada uji Duncan (lampiran 3). Pada perlakuan P2 (feses sapi + jerami padi + air) memiliki kandungan NDF tertinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktivitas mikrobia selulolitik memanfaatkan isi sel (NDS) didalam subtrat terlebih dahulu sehingga secara proporsional dinding sel (NDF) meningkat. Peningkatan kadar NDF menunjukkan bahwa aktivitas mikrobia selulolitik tidak cukup dalam merombak senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan nutrisi dalam substrat sedikit dan makin bertambahnya jumlah serat akibat penambahan jerami padi sehingga laju pertumbuhan mikrobia selulolitik menurun dan tidak optimal dalam mensekresikan enzim. Hal ini sesuai dengan pendapat Judoamidjojo dkk (1989) yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan mikrobia menurun akibat persediaan nutrisi berkurang dan terjadi akumulasi zat-zat matabolik yang menghambat
24 pertumbuhan. Mikrobia selulolitik yang tidak optimal menyebabkan kerja enzim selulase dalam merombak dinding sel (NDF) yang sebagian besar mengandung selulosa dan lignin menjadi senyawa yang lebih sederhana tidak cukup sehingga porsi dinding sel (NDF) meningkat. Judoamidjojo dkk (1989) menyatakan bahwa enzim selulase yang diproduksi oleh mikrobia selulolitik digunakan untuk menghodrolisis selulosa.
Kandungan NDF yang rendah pada perlakuan P3 (feses sapi + eceng gondok + air) menunjukkan bahwa bahan isian digester feses yang ditambahkan eceng gondok mampu menurunkan kadar NDF sludge biogas. Hal ini sesuai dengan pendapat Bell (1997) bahwa nilai NDF dapat digunakan sebagai penduga kecernaan bahan pakan. Semakin rendah nilai NDF maka semakin mudah dicerna suatu bahan pakan.
25 PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penambahan bahan organik jerami padi dan eceng gondok sebagai bahan isian digester biogas mampu menurunkan kandungan ADF sisa buangan biogas.
2. Penambahan bahan organik jerami padi dan eceng gondok sebagai bahan isian digester biogas mampu menurunkan kandungan NDF sisa buangan biogas.
Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian slurry biogas sebagai pakan pada ternak.
26 DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan V. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Arif, R. 2001. Pengaruh Penggunaan Jerami Pada Amoniasi Terhadap Daya Cerna NDF, ADF, dan ADS Dalam Ransum Domba Lokal. Jurnal Agroland Vol.8 (2) : 208 - 215.
Arora, 1989. Pencernaan Mikroba Rumen. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Astuti, N, Soeprobowati, T.R, Budiyono. 2013. Potensi Eceng Gondok (Eicchorniacrassipes (Mart.) Solms) Rawapening Untuk Biogas dengan Variasi Campuran Kotoran Sapi. Workshop Penyelamatan Ekosistem Danau Rawapening. KLH dan UNDIP. Semarang.
Bell, B. 1997. Forage and Feed Analysis. Agriculture and Rural Representative. Ontario. Ministry of Agriculture Food and Rural Affairs. www.ag.Info.Omafra.com
Church, D. C and W. G. Pond. 1986. Digestive Animal Physiologi and Nutrition. 2nd. Prentice Hell a Devision of Simon and Schuster Englewood Clief, New York.
Chuzaeni, S. 1994. Pengaruh Urea Amoniasi Terhadap Komposisi Kimia dan Nilai Gizi Jerami Padi Untuk Sapi Potong. Tesis Pasca Sarjana UFM, Yogyakarta.
Crampton, E. W. Dan L. E. Harris. 1969. Applied Animal Nutrition E, d. 1” The Engsminger Publishing Company, California, U. S. A.
Ensminger, M, E. and C, G. Olentine. 1980. Feeds and Nutrition. The Ensminger Publising Company, USA.
Foot, A.S.,S.Banes, Ja.C.G. Oge, J.C. Howkins, V.C. Nielsen, And Jr.O. Callaghan. 1976. Studies on Farm Livestock Waste. I” ed. Agriculture Research Council, England.
Fredriksz, S., M. Soejono, S. P. S. Budhi. 2001. Pengaruh Ukuran Partikel Dan Pencucian Terhadap Degradasi In Sacco Beberapa Bahan Pakan Pada Sapi Peranakan Friesian Holstein. Program Studi Ilmu Perernakan Pascasarjana. Jurnal Sains & Teknologi. 11 : 163-169.
Gasperz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Penerbit CV. Armico, Bandung.
27 Ghosh, S., M.P. Henry dan R.W. Christopher. 1984. “Hemicellulose Conversion by Anaerobic Digestion”. Institute of Gas Technology and United Gas Pipe Line Company. Biomassa Vol. 6 257-258. USA.
Gunawan, D. 2013. Produksi Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif dari Kotoran Sapi. Jurusan Teknik Kimia, Universitas Surabaya.
Harahap, F.M., Apandi dan S. Ginting . 1978. Teknologi Gasbio . Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Harris, L. E. 1970. Nutrition Research Technique for Domestic and Wild Animals. Animal Science Department Utah State University.
Haryati, T. 2014. “Biogas: Limbah Peternakan Yang Menjadi Sumber Energi Alternatif” Balai Penelitian Ternak, PO Bax 221, Bogor 16002. Hal. 160-161.
Hessami M.A., Christensen S. and Gani R. 1996. Anaerobic Digestion of Household Organic Waste to Produce Biogas. Renewable Energy (9) : 1-4, 954-957.
Indra, L. 2008. Rancang Bangun Alat Penghasil Biogas Model Terapung. Skripsi. Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Hal. 7.
Judoamidjojo, R.M., E. G. Sa’id dan L. Hartoto. 1989. Biokonversi. PAU. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kadir, A. 1982. Energi. UI-PRESS. Jakarta.
Karki, A. B. and Dixit, K. 1984. Biogas Fieldbook. Sahayogi Press. Nepal, 42. Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Muis, A. 2008. Petunjuk Teknis Teknologi Pendukung Pengembangan Agribisnis di Desa P4MI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah. Murtidjo, B. A. 1998. Energi Gas Bio, Ayam dan Telur, No.34 Desember. Prinity
Press. Jakarta.
Nurtjahya, E ., S.D . Rumentor, J .F . Salamena, E .Hernawan, S . Darwati dan S. M. Soenarmo . 2003 . Pemanfaatan Limbah Ternak Ruminansia untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan . Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Prajayana, F. I., Romli, M dan Suprihatin. 2011. Kajian Konversi Limbah Padat Jerami Padi Manjadi Biogas. Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
28 Rizky. Panggih. W., Yulinah Trihadiningrum, Soeprijanto. 2012. Produksi Biogas
dari Eceng Gondok. Jurusan Teknik Lingkungan. Semarang.
Sarwono, B dan H. B. Arianto. 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Saubolle, S. J. 1978. Fuel Gas from Cowdung. Sahayogi Press. Kathmandu, Nepal.
Setiawan. A. I. 2004. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
. 2008. Memanfaatkan Kotoran Ternak Solusi Masalah Lingkungan dan Pemanfaatan Energi Alternatif. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sikanna dan Rismawaty. 2013, “Kajian teknologi Produksi Biogas Dari Sampah Basah Rumah Tangga” Jurusan Kimia Fakultas, MIPA, Universitas Tadulako. Hal. 3.
Simamora, S. Salundi, Wahyuni, S dan Sirajuddin. 2006. Membuat Bio Gas, Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Suriawiria dan Unus, H. 2002. Menuai Biogas dari Limbah. Departemen Teknologi Pertanian Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.
Sutardi, T., S. H Pratiwi, A. Adnan dan Nuraini, S. 1980. Peningkatan Pemanfaatan Jerami Padi Melalui Hodrolisa Basa, Suplementasi Urea dan Beleran. Bull. Makanan Ternak. Bogor.
Sutarno dan Firdaus, S. (2007). Analisis Prestasi Produksi Biogas (CH4) dari Polyethilene Biodigester Berbahan Baku Ternak Sapi. FTI-UII.
Teguh, WW dan Asori, A. 2009. Pembuatan Biogas. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Departemen Pertanian. Serpong.
Van Soest P. J. 1982. Nutritional Ecology of the Ruminant. Commstock Publishing Associates. A devision of Cornell University Press. Ithaca and London.
Wahyuni, S. 2009. Biogas. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Williams, J dan E. Sandra. 2011. Digestates: Characteristics, Inaugural Processing and Utilisation. Bio-Methane Regions Event Training The Trainers. University of Glamorgan. South Wale. Vol. 1–33.
Yulistiawati, E. 2008. Pengaruh Suhu Dan C/N Rasio Terhadap Produksi Biogas Berbahan Baku Sampah Organik Sayuran. Skripsi. Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hal. 8-9.
29 Lampiran 1. Persentasi Perbandingan Feses Sapi, Bahan Organik, dan Air pada
Sludge Biogas Berdasarkan Bahan Kering 12% 1000 X BK Perlakuan = ...(a)
100
(a) X 100 = Jumlah Bahan Isian BK Bahan Isian
1000 – Jumlah Bahan Isian = Jumlah Air a. Feses Sapi 1000 X 12% = 120 100 120 X 100 = 152 78,95 1000 – 152 = 848 b. Jerami Padi 1000 X 12% = 120 100 120 X 100 = 171,02 70,17 1000 – 171,02 = 828,98 b. Eceng Gondok 1000 X 12% = 120 100 120 X 100 = 133,58 89,93 1000 – 133,58 = 866,42
30 Lampiran 2. Hasil Analisis Statistik Uji Duncan Kandungan ADF Sludge Biogas Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Value Label N perlakuan 1 P1 4 2 P2 4 3 P3 4 4 P4 4 kelompok 1 K1 4 2 K2 4 3 K3 4 4 K4 4
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:ADF
Source
Type III Sum
of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model 377.262a 6 62.877 154.705 .000 Intercept 43066.626 1 43066.626 1.060E5 .000 perlakuan 374.673 3 124.891 307.287 .000 kelompok 2.589 3 .863 2.123 .167 Error 3.658 9 .406 Total 43447.545 16 Corrected Total 380.920 15
a. R Squared = ,990 (Adjusted R Squared = ,984) Homogeneous Subsets ADF perlakuan N Subset 1 2 3 Duncana P4 4 44.9725 P2 4 51.6550 P3 4 52.2525 P1 4 58.6450 Sig. 1.000 .218 1.000
31 Lampiran 3. Hasil Analisis Statistik Uji Duncan Kandungan NDF Sludge Biogas Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Value Label N perlakuan 1 P1 4 2 P2 4 3 P3 4 4 P4 4 kelompok 1 K1 4 2 K2 4 3 K3 4 4 K4 4
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:NDF
Source
Type III Sum
of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model 30.395a 6 5.066 10.969 .001 Intercept 61644.200 1 61644.200 1.335E5 .000 perlakuan 29.101 3 9.700 21.003 .000 kelompok 1.295 3 .432 .934 .463 Error 4.157 9 .462 Total 61678.752 16 Corrected Total 34.552 15 a. R Squared = ,880 (Adjusted R Squared = ,799) Homogeneous Subsets NDF perlaku an N Subset 1 2 3 Duncana P3 4 60.4250 P1 4 61.7675 P4 4 61.9100 P2 4 64.1800 Sig. 1.000 .774 1.000
32 Lampiran 4. Dokumentasi
Keterangan : Pengambilan Bahan Isian Digester
33 Keterangan : Pengambilan Sisa Buangan Biogas
34
RIWAYAT HIDUP
Nurhudayah lahir di Pinrang pada tanggal 23 Oktober 1993, anak ketiga dari empat bersaudara. Dibesarkan oleh orang tua Drs. Kamaring (Ayah) dan Dra. Syahariah (Ibu). Tingkat pendidikan dimulai dari TK DEPAG Dharma Wanita pada tahun 1998, kemudian melanjutkan di SDN 16 Pinrang pada tahun 1999. Setelah lulus SD, melanjutkan di SMP Negeri 2 Pinrang pada tahun 2005, kemudian melanjutkan di SMA Negeri 1 Pinrang pada tahun 2008. Setelah menyelesaikan SMA, penulis kemudian diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Hingga akhirnya lulus Pendidikan Sarjana (S1) Program studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin Makassar pada Tahun 2017.