• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di agroforestri Desa Sumberejo yang masuk. dalam Sub DAS Temon, DAS Solo, sedangkan secara administratif masuk ke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penelitian ini dilaksanakan di agroforestri Desa Sumberejo yang masuk. dalam Sub DAS Temon, DAS Solo, sedangkan secara administratif masuk ke"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

V.

DESKRIPSI DAN KONDISI LOKASI PENELITIAN

5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di agroforestri Desa Sumberejo yang masuk dalam Sub DAS Temon, DAS Solo, sedangkan secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah. Jaraknya 3 km dari ibukota kecamatan dan 52 km dari ibukota kabupaten. Luas wilayah Desa 547 ha, terdiri dari 9 dusun.

Posisi Desa ini terletak di antara 110o59’6,19”BT dan 7o

• Sebelah Utara dengan Desa Ranggajati, Kecamatan Batuwarno

59”12,47”LS, dengan ketinggian 293 meter di atas permukaan laut. Desa ini berbatas wilayah:

• Sebelah Selatan dengan Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno • Sebelah Timur dengan Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno • Sebelah Barat dengan Desa Temon, Kecamatan Baturetno

Gambar 14. Peta Posisi Desa Sumberejo K ecamatan Batuwarno dalam Sub Das Temon, DAS Solo

(2)

Topografi desa bergelombang dan berbukit dengan struktur tanah yang didominasi batuan gamping berlapis sebagai ciri khasnya. Sedangkan jenis tanahnya banyak menunjukan jenis tanah litosol mediteran coklat basa. Kondisi geografis dan struktur geologis dengan batuan kapur berlapis-lapis memberikan kesan bahwa daerah ini tampak sebagai kawasan batu bertanah, tanah hanya sedikit terlihat di celah-celah batu.

Desa ini masuk dalam tipe iklim C menurut kategori Schmidt dan Ferguson dan curah hujan tahunan rata-rata 2015 mm, serta banyaknya hari hujan tahunan hanya 75 hari, hal ini menunjukan bahwa Sumberejo merupakan kawasan lahan kering (data klimatologi tahun 1999). Sungai utama Desa adalah Sungai Temon dengan panjang 2 km yang termasuk dalam dalam Sub DAS Temon, DAS Solo. Berdasarkan peta penutupan lahan Sub DAS Temon, Desa ini termasuk lahan agak kritis dan kritis seperti terlihat pada gambar 13.

5.2 Sejarah Pengelolaan Hutan Rakyat Desa Sumberejo

Sekitar lebih dari 100 tahun yang lalu lahan di Desa Sumberejo masih subur. Ini ditandai oleh penuturan para kaum tua desa ini bahwa dulu mereka selalu membajak (mbrujul) tegalan mereka sebelum menanam. Keadaan kritis terjadi antara tahun 1930-an hingga tahun 1960. Ini ditandai oleh sangat sedikit dan tipisnya tanah yang ada di desa, dan munculnya pemandangan bebatuan sejauh mata memandang, yang memberi kesan kuat bahwa desa ini merupakan wilayah batu bertanah, kering dan tandus.

Pemahaman dan kesadaran tentang konservasi tanah dan kelestarian hutan yang belum mantap, diduga sebagai penyebab terjadinya percepatan kerusakan hutan di Sumberejo pada masa lalu. Kerusakan itu begitu parahnya hingga tanah hanya tinggal ada di celah celah batu. Hal

(3)

tersebut diawali dengan budidaya tanaman semusim di lahan-lahan yang derajat kemiringannya tidak memungkinkan sehingga mempercepat erosi. Beberapa mata air yang dulunya bisa bertahan hingga kemarau, kering sebelum kemarau datang, hingga sumber air tinggal di sungai Kali Nekuk. Sedangkan jenis tanaman yang ada lebih banyak tanaman trembesi dan besole, serta gondang.

Upaya penghijauan diawali dengan penanaman kayu oleh Sularjo (Kadus Wates) tahun 1964. Kegiatan yang dilakukan berupa penanaman batas tegal dan pekarangannya dengan kayu jati dan mahoni. Setelah pohon ini menunjukan pertumbuhan yang baik, maka tahun 1967, Sularjo mengajak beberapa warga untuk menanami batas lahannya dengan tanaman jati, mahoni dan akasia. Tetapi masyarakat menanggapi terhadap ajakan ini dengan tiga sikap yang berbeda. Setuju kurang lebih (20%), menolak (60%) dan bimbang (20%). Mereka yang menolak lebih dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa bila lahan mereka ditanami kayu, lantas mau makan dari mana, sedangkan yang setuju dilatarbelakangi oleh baiknya manfaat penghijauan bagi lahan, sedangkan yang bimbang lebih karena keraguan belum adanya contoh hasil nyata yang bisa menjawab kekhawatiran. Konflik ini menjadikan upaya penghijauan tidak bisa menyebar cepat dan menjadikan Sumberejo masih kelihatan tandus dan kering.

Melihat situasi dan kerawanan pangan yang muncul di atas, World Food Programe (WFP) pada tahun 1972 menyelenggarakan proyek penanaman kayu-kayuan. Tiga jenis yang dikembangkan adalah eukaliptus (Eucalyptus alba), akasia (Acacia auriculiformis) dan kaliandra (Caliandra calothyrsus) pada lahan-lahan kritis. Proyek ini dilakukan bersama masyarakat dengan cara masyarakat bekerja menanam lahan mereka dengan tiga jenis tanaman tersebut dan dibayar dengan bulgur dan minyak serta susu kering di lahan seluas 50 ha. Rendahnya kesadaran dan keswadayaan masyarakat dalam pengelolaan terhadap tanaman

(4)

tersebut hingga hanya sedikit yang bisa masih tumbuh.

Tahun 1985 menjadi babak baru upaya penghijauan di Sumberejo. Ini ditandai dengan pembentukan Kelompok Tani Hutan Rakyat (KHR) Gondangrejo dengan beranggotakan 46 orang sebagai organisasi petani hutan swadaya. Tiga kegiatan penting yang dilakukan adalah pertama, penataan kelembagaan kelompok tani sebagai wadah penggarapan kesadaran dan pemahaman konservasi di agroforestri; kedua, pembuatan kebun bibit desa sebagai proses penguatan kemampuan dalam penyediaan bibit dan; ketiga,

Kini, wajah desa dengan jumlah kayu yang ada telah berbeda. Pemilikan pohon oleh keluarga dari yang paling sedikit dan banyak berkisar antara 100-5000 batang dengan 2 jenis kayu utama jati dan mahoni.

pembuatan teras secara gotong royong dengan memecah batu-batu besar, sebagai aksi penataan lahan (Cahyono, A. Et al, 2003)

Administrasi ijin tebang di Sumberejo mengalami kemandegan pencatatan sejak Oktober 1998. Berdasar dokumen yang ada kisaran penebangan jati antara 1-30 batang per tiga bulan, mahoni 4-50 batang/tiga bulan pada dimeter 20-40 cm. Berdasar surat ijin yang masuk ke balai desa, dalam 1 tahun desa menerima Rp. 300.000 dari para bakul penebang, dengan sekali ijin Rp 10.000, dengan rata-rata per ijin untuk 1 rit truk (kurang lebih 4 m3). Artinya, perkiraan kapasitas pasok sekitar 30 rit per tahun setara dengan 120 m3

Pedagang kayu lokal untuk Sumberejo selatan ditangani oleh Sukiyo, Suliyo, Sutar (tinggal di Jarak, Selopuro), sedangkan Sumberejo Utara dipegang oleh Saman, Misman, Karmin, Mardi (tinggal di Ngandong, Sumberejo). Kedua kelompok pedagang ini menjual kayunya ke Suyadi (Pagersari, Temon) yang kemudian menjual ke pedagang besar langsung ke Serenan Sukoharjo dan industri (Jepara).

(5)

Data terakhir ketika studi menunjukkan rata-rata perkembangan harga komoditas kayu per meter kubiknya adalah jati Rp 700.000, sedangkan mahoni: Rp 500.000. Harga ini adalah di tingkat petani. Petani biasanya menjual dalam keadaan kebutuhan yang mendesak dan tidak cukup persediaan lain di rumah (untuk sekolah anak, mondok di rumah sakit, membangun rumah). Beberapa petani maupun pedagang menuturkan, bahwa petani tidak pernah mencermati harga pasar, tidak tahu bagaimana menghitung volume kayu, dan serba pasrah pada pedagang. Hal itu menjadikan petani tidak bisa memutusan harga produk hasil hutan, dan seringkali dipermainkan oleh pedagang.

Pembuatan agroforestri di desa Sumberejo yang telah melewati sejarah cukup panjang tersebut, dalam perkembangannya pengelolaannya, ternyata telah menerbitkan sumber atau mata air baru dan memperbesar sumber atau mata air yang lama, sehingga pengelolaan hutan rakyat memungkinkan untuk dikombinasikan dengan tanaman pangan menjadi pengelolaan dengan sistim agroforestri, dan hal tersebut berlangsung sampai dengan sekarang. Dalam perjalanan pengelolaan, hal tersebut telah membuka peluang imbal jasa air dari agroforestri dari pihak pengguna (PDAM, dan Masyarakat) yang dikelola melalui kelompok tani agroforestri dan desa.

Pada tahun 2004, agroforestri desa Sumberejo telah mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari dari PT Mutuagung Lestari. Berdasarkan sertifikasi tersebut, desa Sumberejo telah diakui sebagai desa yang memenuhi standar pengelolaan hutan lestari yang berprinsip pada kelestarian ekonomi, ekologi dan sosial yang mampu menjual kayu bersertifikat ekolabel.

(6)

5.3 Sistem Pengelolaan Agroforestri

Selain dari penghasil tanaman pangan, pengelolaan hutan rakyat sistim agroforestri desa Sumberejo bertitik tolak pada tiga subsistem yang berkaitan, yaitu; sub sistem produksi, subsistem pengolahan hasil dan sub sistem pemasaran.

I. Sub Sistem Produksi

Secara umum sub sistem produksi agroforestri terbagi dalam tiga bagian, yaitu: 1) Penanaman,2) Pemeliharaan dan 3) Pemanenan. Pengelolaan dengan sistem agroforestri (cemplongan dan tumpangsari), menjadikan agroforestri desa Sumberejo menghasilkan beragam produk barang dan jasa, antara lain: Hasil tanaman pangan, hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan berupa jasa air dan jasa penyerapan karbon yang sistem produksinya terintegrasi dalam pembuatan agroforestri.

1. Penanaman agroforestri yang dilakukan secara gotong-royong berperan pula dalam proses sosialisasi anggota masyarakat. Meskipun dalam gotong royong tersebut tokoh masyarakat desa jarang terlibat secara fisik mengerjakan pekerjaan fisik tetapi kehadirannya sangat penting. Selain menjaga solidaritas diantara anggota masyarakat, kehadiran mereka diperlukan untuk memberi arahan. Hal ini dikarenakan peran mereka yang dominan sebagai panutan masyarakat. Meskipun mereka tidak terlibat langsung namun pada umumnya mereka memberikan bantuan berupa makanan atau minuman bagi yang bergotong royong.

Hal ini dilakukan terutama oleh tokoh masyarakat, dan pemilik tanah yang melakukan penghutanan pada lahannya. Kegiatan penanaman diawali dengan persiapan lahan melalui cara pemecahan bebatuan di permukaan, yang selanjutnya bebatuan tersebut digunakan untuk penahan terasering,

(7)

hingga diperoleh area tanah yang dapat ditanami, dan persiapan pembibitan pada kebun bibit swadaya kelompok tani. Pemilihan jenis pohon didasarkan jenis yang sudah ada dan terbukti mampu tumbuh baik di desa tersebut, serta kayunya dapat digunakan untuk bangunan dan bernilai jual tinggi.

Penanaman dilaksanakan dengan jarak tanam 5m X 5 m, namun kondisi batuan yang banyak daripada tanah yang dapat ditanami, sehingga sering dalam pelaksanaan dilakukan sesuai kondisi lapangan. Penanaman kembali setelah penebangan dilakukan oleh responden dengan menggunakan langsung anakan yang diperoleh disekitar tanaman dan atau permudaan alami. Kenyataan pola penanaman tersebut menghasilkan kerapatan tegakan hutan menjadi tinggi.

2. Pemeliharaan tanaman tegakan tidak banyak dilakukan. Tanaman dibiarkan tumbuh secara alami tanpa mendapat perawatan yang intensif. Petani umumnya melakukan pembersihan dan penebangan tanaman pengganggu yang tidak diinginkan dan pemangkasan ranting untuk memberi ruang bagi pertumbuhan tegakan. Hasil kegiatan pemeliharaan digunakan sebagai hijauan untuk pakan ternak, dan pemenuhan kebutuhan kayu bakar. Sedangkan penjarangan dilakukan petani responden sebagaian pemanenan dengan pola tebang butuh. Pada fase pemeliharaan kelompok tani melakukan kegiatan perlindungan/konservasi agroforestri dengan memasang papan-papan peringatan.

3. Kegiatan Pemanenan dilakukan dilakukan sesuai kebutuhan, namun dengan proses pemilihan dengan kesepakatan batas diameter pohon minimal yang boleh ditebang. Penebangan dalam rangka pemanenan dilakukan oleh para pembeli atau tengkulak.

(8)

Sub sistem produksi dapat berjalan baik baik, karena adanya faktor pemungkin (enabling condition), antara lain:

a) Pranata sosial masyarakat yang mengkondisikan pandangan untuk mengikuti keteladanan dan mentaati para pemimpin desa baik formal maupun non formal.

b) Tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap kenyataan fakta empiris, bahwa upaya penanaman lahan kritis telah menghasilkan sumber-sumber air, sehingga lahan menjadi subur dan memungkinkan dilakukannya budidaya tanaman pangan/palawija, sediaan pakan ternak. Sementara kondisi lingkungan desapun menjadi nyaman, tidak lagi tandus.

c) Kebutuhan rasa aman dengan adanya ragam tanaman pangan untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek dengan tanaman kayu yang mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagai tabungan bagi kebutuhan jangka yang akan datang.

d) Telah terbentuknya kelembagaan kelompok tani, lembaga swadaya masyarakat dan dukungan aparat desa yang berperan aktif dalam forum musyawarah dan pendampingan sampai pada sertifikasi pengelolaan.

e) Laju pertumbuhan populasi penduduk yang rendah, adanya budaya “boro” sebagai alternatif mata pencaharian, yang secara langsung mengurangi tekanan terhadap hutan.

Sedangkan faktor penghambat sub sistem produksi:

a) Optimalisasi pengelolaan hutan, karena keterbatasan lahan olahan, diakibatkan kondisi lahan yang berbatu, dan

(9)

khususnya cara valuasi dan pemasaran produk jasa hutan yang dalam perkembangannya telah mulai diperhitungkan nilai ekonominya. II. Sub Sistem Pengolahan Hasil

Kegiatan pengolahan hasil diartikan sebagai proses sampai setiap ragam tanaman menghasilkan bentuk produk akhir yang dikonsumsi sendiri dan dijual. Wawancara dengan responden menunjukan secara rasional produk akhir diutamakan untuk subsisten dan kelebihannya (surplus) yang dijual.

Pengolahan nilai tambah dari agroforestri berupa jasa lingkungan khususnya jasa air telah dimulai dengan adanya identifikasi jumlah dan debit sumber mata air, dam tampungan, serta pendataan jumlah kebutuhan pengguna air. Walaupun dalam jumlah terbatas salah satu sumber mata air, yaitu Semawur telah dimanfaatkan secara komersil sebagai bahan baku PDAM Baturetno.

III. Sub Sistem Pemasaran

Sistem pemasaran hasil agroforestri beragam sesuai dengan masing-masing produk, hasil pertanian, hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu (bibit), ternak, dan untuk jasa lingkungan yang telah ada valuasi dan pasarnya adalah jasa air, sedangkan jasa penyerapan karbon belum berkembang.

Rantai pemasaran yang ada selama ini sangat sederhana, yaitu:

Gambar 15. Rantai Pemasaran Hasil Pertanian dan Hutan dari Agroforestri Desa Sumberejo

Transaksi pembelian kayu dilakukan pada pohon berdiri, penebangan atau pemanen dilakukan pembeli, sedangkan harga kayu ditingkat petani adalah 50 (lima puluh) persen dari harga pasar. Semakin jauh atau sulit lokasi pohon yang dijual, maka harga pohon akan semakin menurun.

(10)

5.4 Aspek Kelembagaan

Selain ketiga sub sistem di atas pengelolaan agroforestri didukung oleh aspek sosial budaya yang menjadi faktor pemungkin terbentuknya kelembagaan pengelolaan agroforestri. Meskipun tokoh panutan dominan dalam pengambilan keputusan tetapi dibatasi oleh norma-norma yang ada di masyarakat. Norma yang berlaku tersebut disepakati oleh masyarakat desa dalam rembug desa. Beberapa norma dan aturan yang harus ditaati oleh anggota masyarakat dalam kaitannya untuk menjaga kelestarian hutan antara lain; (1) dilarang menebang tanaman sebelum waktu tebang, jika melanggar kesepakatan maka petani akan terkena sanksi, (2) mencabut atau merusak tanaman harus menanam dan memelihara sampai hidup, (3) menggembala ternak di lokasi penghijauan, akan terkena sanksi menanam 10 batang sampai hidup, dan (4) bagi anggota yang tidak mengikuti kegiatan agroforestri, maka lahannya dikelola oleh kelompok dan hasilnya dibagi dua antara pemilik lahan dan kelompok.

Walaupun aturan mengenai penggembalaan liar, penebangan sebelum waktunya dan merusak agroforestri dan harus mengganti sampai hidup secara tertulis belum ada, namun telah disepakati bersama. Kebiasaan menegur dan berdialog antar warga dalam setiap pertemuan merupakan kebiasaan yang sudah melembaga. Melalui aturan kearifan lokal ini diharapkan agroforestri akan terus dapat dilestarikan, meskipun aturan tersebut secara formal tidak tertulis.

Koordinasi dan kerjasama merupakan sarana bagi tercapainya tujuan dimana koordinasi dimaksudkan untuk mensinkronisasikan dan mengintegrasikan agar lebih terarah kepada sasaran yang akan dicapai. Tipe koordinasi yang dilaksanakan meliputi koordinasi yang bersifat horizontal dan vertikal. Koordinasi vertikal yang dilakukan oleh kelompok tani masih terbatas kepada pemerintahan desa, pemerintahan tingkat kecamatan, dan dinas terkait

(11)

tingkat kabupaten. Secara horizontal koordinasi dilakukan oleh lembaga tingkat desa. Koordinasi dan kerjasama ini diharapkan dapat membantu penguatan pengelolaan agroforestri, namun kegiatan tersebut masih sangat terbatas. Aset organisasi yang dimiliki oleh kelompok tani agroforestri sampai saat ini masih terbatas, karena ketidaktersediaan modal. Meskipun demikian peran kelompok cukup besar dalam pengelolaan agroforestri.

5.5 Data Sosial Ekonomi

Penduduk desa Sumberejo hingga akhir Desember 1996 adalah sebanyak 2215 jiwa dengan kepadatan penduduk 405 jiwa per km2, sedangkan pada akhir Desember 2002 berjumlah 2.219 jiwa, terdiri 1.140 (51,3%) perempuan dan 1.079 (48,7%) laki-laki dengan jumlah sebanyak 631 KK jodohan (pasangan keluarga) yang bermukim pada 540 rumah. Dengan demikian terdapat 91 pasangan keluarga yang bertempat tinggal satu rumah dengan keluarga lain. Perkembangan populasi penduduk pada akhir Desember tahun 2008 menjadi 2.284 jiwa, dan tahun 2009 menurun menjadi 2.269 jiwa yang terdiri dari 1.0754 laki-laki dan 1.1505 perempuan. Pertumbuhan penduduk dalam dua tahun terakhir tersebut menjadi -0,44%, dan kepadatan penduduk 415 jiwa per km2

Perkembangan kependudukan desa Sumberejo menunjukkan kondisi, bahwa penduduk yang sebagian besar Petani yang menetap di desa jumlahnya dari tahun ke tahun relatif tetap, karena setiap penambahan penduduk selalu diimbangi dengan urbanisasi penduduk ke kota.

.

Data perkembangan penduduk dalam desa Sumberejo berdasarkan data Kecamatan Batuwarno dalam angka dan Potensi desa Sumberejo tahun 2010, menunjukkan kepadatan 104 kepala keluarga (KK), rata-rata jumlah jiwa per KK 4 jiwa, populasi 2269 jiwa (laki-laki 1043;perempuan 1126 jiwa) pada tahun 2009.

(12)

Mahalnya akses ke pendidikan digambarkan dari sebaran tingkat pendidikan penduduk desa Sumberejo menunjukkan dari total jumlah penduduk 2219 jiwa, yang tidak tamat SD 437 orang, tamat SD 776 orang, tamat SMP 303 orang, tamat SMA 282 orang, dan tamat Perguruan Tinggi 31 orang. Sarana pendidikan dalam desa hanya ada 2 TK dan 2 SD.

Akses pelayanan kesehatan sebagai ukuran kesejahteraan desa, bahwa dari sediaan sarana prasarana kesehatan di dalam desa Sumberejo masih sangat terbatas, yaitu hanya ada 1 unit puskesmas dan 8 unit posyandu, serta 1 paramedis (bidan) untuk 9 dusun.

Pola penggunaan lahan desa Sumberejo sebagaimana data tabel 18 dan gambar 17, untuk selama 5 tahun terakhir relatif tetap. Penggunaan lahan Pekarangan dan Tegalan terbesar didominasi untuk pertanian secara luas (Pertanian semusim, dan agroforestri).

Gambar 16. Pola Penggunaan Lahan Des a Sumberejo Tahun 2004 -2009

Terjadi peningkatan luas sawah sekitar 224% dari 9 ha (2004) menjadi 22 ha (2009), sebagai akibat meningkatnya kesuburan lahan dan sediaan sumber air dari keberadaan hutan atau secara ekonomis dengan rata-rata produksi gabah 4 ton perhektar, terjadi kenaikan ketahanan pangan desa sebesar 48 ton

(13)

gabah per satu kali panen atau 96 ton per tahun yang berarti dengan faktor konversi gabah ke beras 0,7, terdapat sediaan beras di dalam desa sebanyak 672 kg per tahun.

Kontradiktif dengan pola penggunaan yang relatif tetap (gambar 17), dalam selang waktu 5 tahun terjadi perubahan komposisi mata pencaharian masyarakat di desa Sumberejo (gambar 18), terutama dari mata pencaharian pertanian petani cukup besar yang beralih mata pencaharian menjadi buruh tani, buruh bangunan, dan pedagang atau dari berbasis lahan (on farm) ke sumber-sumber lain yang tidak berbasis lahan (off farm). Hal tersebut disebabkan faktor lain di luar basis lahan,seperti perubahan pola kepemilikan lahan, dimana data saat penelitian penduduk yang memiliki lahan tegalan, pekarangan dan sawah hanya meliputi 130 KK, namun untuk rincian lebih lanjut diperlukan penelitian tersendiri.

Gambar 17.Perubahan Pola Mat a Pencaharian Penduduk Desa Sumberejo Tahun 2004 – 2009

(14)

mata pencaharian penduduk desa Sumberejo tahun 2004 dan tahun 2009, menunjukkan, bahwa pola penggunaan lahan dan jumlah populasi penduduk relatif tetap, namun komposisi mata pencaharian berubah, terjadi pergeseran jumlah penduduk yang berprofesi petani menjadi buruh tani dan profesi lainnya.

Hal ini dapat diakibatkan oleh banyak hal, seperti adanya peralihan milik lahan masyarakat desa pada penduduk kota, pertanian di lahan kurang subur tidak mampu menutup kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat, sementara pengaruh pola konsumerisme telah masuk ke desa, dan lain sebagainya. Dampak yang nyata adalah terjadinya kelangkaan tenaga kerja yang mengakibatkan kenaikan harga upah hingga 2,5 kali lipat dari tahun 2004 ke tahun 2009.

5.6 Data Responden Penelitian dalam 3 (tiga) Strata Agroforestri

Dari hasil pengukuran sampel plot pada lahan responden di dapatkan hasil sebagaimana tabel 16, didapatkan kecenderungan makin luas lahan, makin banyak pohon yang ditanam dan ini mengindikasikan adanya trend petani mengelola usaha agroforestri bukan hanya sekedar untuk tabungan, namun juga telah memandangnya sebagai usaha yang menguntungkan. Jumlah ketersediaan pohon jati dan mahoni dengan diameter di atas 20 cm dan ketinggian antara 9 – 10 meter (35%), serta kelas umur yang sangat beragam, mengkondisikan agroforestri analog dengan kondisi hutan alam yang dikelola HPH, dimana pemanenan dimungkinkan dilakukan setiap saat.

Komposisi tanaman saat pengukuran didominasi jenis tanaman Jati dan Mahoni yang ditanam berseling, tidak dalam blok khusus per jenis. Jenis Acasia dan Sengon jumlahnya sedikit dan sangat tersebar, sehingga tidak menjadi andalan petani sebagai penghasil kayu. Jarak tanaman tidak teratur dan sangat

(15)

rapat sehingga tegakan setiap strata didominasi oleh komposisi kelas diameter < 20 cm (+/- 65%). Hal tersebut menunjukkan walaupun jarak tanam tidak teratur, namun sebaran umur tanaman mendekati kurva produksi normal (kurva S).

Semakin luas lahan yang dimiliki, maka semakin rendah kerapatan pohon per hektar, serta semakin tersegmen antar jenis tanaman pohon dengan tanaman pertanian. Hal ini mengindikasikan, bahwa usaha agroforestri di atas 1 ha dan di atas 2 ha, telah memulai upaya tindak penjarangan untuk perbaikan tegakannya, sedangkan usaha agroforestri di bawah 1 ha lebih menyerahkan pemeliharaan tegakannya secara alami.

tabel 13. Rata-rata Kerapatan dan Volume Pohon Kekayuan per Strata (Total Luas Populasi 293,46 ha, Luas Sampel 106,25 ha atau 36,25%)

Jenis Strata 1 Strata 2 Strata 3

Tanaman hutan Jumlah pohon (batang) Volume (m3) Jumlah pohon (batang) Volume (m3) Jumlah pohon (batang) Volume (m3) Jati Ф < 20 cm 361 18,21 708 35,4 959 47,95 Ф > 20 cm 194 59,04 382 114,6 516 154,8 Mahoni Ф < 20 cm 213 14,30 642 44,94 985 68,95 Ф > 20 cm 115 34,10 346 24,22 530 37,1 Jumlah Ф < 20 cm 574 32,51 1351 9,75 1943 2,93 Ф > 20 cm 309 93,13 727 138,82 1047 191,90 Keterangan : Ф = diameter

Berdasarkan dasar harga kayu berdiri di tingkat petani, yaitu kayu Mahoni diameter ≥ 20 cm tinggi 6 meter Rp.550.000,- per batang dan kayu Jati dengan ukuran yang sama Rp.750.000 per batang, didapatkan nilai tegakan masing-masing strata sebagaimana tabel 17 berikut :

Tabel 14. Rata-rata Nilai Tegakan Masing-masing Strata Usaha Agroforestri Desa Sumberejo (juta Rp.)

Jenis Pohon\ Nilai Tegakan Strata 1 Strata 2 Strata 3

Jati 145,5 286,5 387,0

Mahoni 63,25 190,3 291,5

Jumlah 208,75 476,8 678,5

(16)

Informasi nilai tegakan merupakan besaran biaya opportunity bagi pertimbangan Petani agroforestri atau agroforestri dalam mempertimbangkan perubahan atau konversi lahannya pada usaha lain. Nilai tegakan agroforestri menjadi lebih besar lagi, bila ditambah valuasi ekonomi multi manfaat fungsi DAS yang dimiliki, seperti peningkatan kesuburan, jasa tata air, jasa serap karbon.

Tabel 15. Rata-rata Kepemilikan Ternak Responden pada Strata Agroforestri Desa Sumberejo Tahun 2010

Jenis Ternak Strata 1 Strata 2 Strata 3

Sapi 1 2 4

Kambing 2 4 6

Ayam 10 25 30

Sumber: Data primer 2010

Dari hasil wawancara didapatkan tujuan pemilikan ternak adalah sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat digunakan. Sebagaimana hasil penelitian Jariyah et al 2003, ditemukan kecenderungan makin luas lahan, semakin banyak sediaan pakan ternak, maka semakin banyak ternak yang dimiliki.

5.7 Keragaan Ekonomi Strata Agroforestri tanpa Internalisasi

Berdasarkan pengolahan hasil data pendapatan on farm dan off farm dari masing-masing responden dalam strata, didapatkan keragaan agroforestri tanpa internalisasi di tahun 2010 (kondisi business as usual), sebagaimana dalam tabel 16 berikut.

tabel 16. Aliran Kas Agroforestri Desa Sumberejo Tanpa Internalisasi Tahun 2010

Strata

Pendapatan Rata-rata Pengeluaran Rata-rata Net Income (NI) Perta nian Peter Nakan Off farm Kehu Tanan Total Tenaga kerja Sa prodi Off farm Total 1 8,40 3,00 7,26 5,54 24,20 5,02 3,58 5,73 14,3 9,90 2 15,62 6,91 8,98 12,58 44,09 10,04 7,17 11,48 28,7 15,39 3 30,23 9,83 14,48 20,08 74,62 12,635 9,02 14,44 36,1 38,52 Sumber: data primer tahun 2010 diolah

(17)

menunjukkan kecenderungan makin luas lahan berbanding lurus dengan pendapatan rata-rata dan pengeluaran rata-rata. Kontribusi pendapatan dalam jangka pendek didominasi oleh pendapatan dari pertanian dan pendapatan off farm.

Dari nilai rata-rata pendapatan, kondisi keragaan ekonomi usaha tani di masing-masing strata, sejalan dengan hasil tinjauan pustaka, yaitu adanya kecenderungan semakin sempit lahan olah, maka agroforestri didominasi oleh tanaman pangan dan tanaman tahunan berfungsi sebagai tabungan yang bernilai tinggi sebagai jaminan penghasilan keluarga petani di masa depan.

Kecenderungan kondisi yang sama ditunjukkan pada semakin luas lahan agroforestri semakin kecil nilai ketergantungan rumah tangga petani pada pendapatan off farm. Kondisi tersebut menjelaskan selain dari motif keuntungan petani agroforestri tetap konsisten pada motif subsisten dan konservasi.

Secara umum agroforestri desa Sumberejo telah mulai mengarah pada pola komersil sebagaimana ciri-ciri agroforestri modern, namun dengan tetap mempertahankan keterkaitan sosial budaya. Khususnya pada strata 3 petani telah mulai memperbaiki jarak tanam untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Analisa hasil pengolahan data keragaan kontribusi pendapatan agroforestri desa Sumberejo dan komparasi net income nya dengan garis kemiskinan, menunjukkan kondisi sebagaiberikut.

Tabel 17. Komparasi Keragaan Ekonomi Agroforestri Desa Sumberejo tanpa Internalisasi Tahun 2010 dengan GK (BPS, 2010)

Strata NI ICB GK (P1) Kontribusi Pendapatan (%) (K) (P2 Off farm Penerimaan Total Pengeluaran Total

S1 9,9 0,206 0,193 34,71 22,89 12,40 30,00 24,2 14,3

S2 15,4 0,321 0,193 35,42 28,53 15,67 20,37 44,09 28,7 S3 38,5 0,802 0,193 40,52 26,91 13,18 19,412 74,62 36,1 Sumber: hasil pengolahan data primer

Keterangan: P1 = Pertanian; K =Kehutanan; P2 = Peternakan; R=Penerimaan; dan C = Pengeluaran; NI = Net Income; ICB = Income per capita per bulan (4 orang per KK); GK= Garis kemiskinan.

(18)

Pada tabel 20 ditunjukkan perbandingan pendapatan dengan pengeluaran tahun 2010 semua strata menunjukkan nilai > 1, hal ini menunjukkan, bahwa usaha agroforestri menguntungkan. Namun apabila dicermati lebih mendalam, keragaan ekonomi strata 1 dekat dengan garis kemiskinan, yaitu income per capita per bulan (ICB) yang didapat dari pendapatan bersih (NI) dibagi 12 bulan dan 4 jiwa per KK, yaitu hanya Rp.13.250 (6,7%) di atas garis kemiskinan (GK). Tanpa hasil peternakan dan pendapatan off farm, pendapatan usaha agroforestri tidak mampu menutup kebutuhan/pengeluaran rumah tangga.

Hal tersebut mengindikasikan agroforestri desa Sumberejo dengan luas < 1 ha, tidak memiliki modal untuk mengembangkan usaha agroforestrinya. Ketiadaan penerimaan off farm dan hasil peternakan dapat mengancam kesinambungan usaha agroforestri 1, karena untuk menutup peningkatan kebutuhan ekonomi keluarga, petani tidak punya pilihan selain meningkatkan jumlah tebangan tanaman tahunan.

Hal tersebut diperkuat dengan dampak simulasi kenaikan harga input dan penurunan harga kayu serta penurunan pendapatan off farm pada keragaan ekonomi agroforestri Desa Sumberejo di awal penelitian, yang menunjukkan bahwa usaha agroforestri pada semua strata, sensitif terhadap simulasi.

tabel 18.Dampak Skenario Simulasi Guncangan Kenaikan Harga Saprodi, Penurunan Harga Kayu dan Pendapatan Off Farm 20% (Juta Rupiah)

Strata

Bila harga kayu turun 20 %

Bila harga saprodi naik 20%

Bila pendapatan off

farm turun 20% GK

NI ICB NI ICB NI ICB

1 8,792 0,183 9,18 0,191 8,45 0,176 0,193

2 11,11 0,231 13,96 0,290 13,59 0,283 0,193

3 33,94 0,707 36,72 0,765 35,62 0,742 0,193

Sumber: pengolahan dat a primer tahun 2010

Strata 1 mengalami penurunan NI hingga di bawah GK pada semua skenario simulasi. Kondisi tersebut menguatkan indikasi, bahwa sekedar

(19)

mengukur indikator kelayakan usaha agroforestri pada skala luas < 1 ha, tidak otomatis menjamin kesinambungannya. Simulasi berdampak pada penurunan NI pada strata 2 dan 3, namun tidak sampai mengakibatkan NI rumah tangga petani jatuh di bawah GK, bahkan hasil agroforestri masih mampu menutup pengeluaran rumah tangga. Hasil pada tabel 20 tersebut mengindikasikan batas pendapatan yang aman adalah ≥ 25 % di atas garis kemiskinan.

Secara rasional semakin besar kontribusi suatu usaha pada pendapatan rumah tangga petani, akan menjadi insentif bagi rumah tangga untuk mempertahankan kesinambungannya (Supangat, 2007). Oleh karena itu bila kesinambungan keberadaan agroforestri sebagai solusi demand pengurangan lahan kritis menjadi suatu keharusan pengembangan ekonomi berbasis pedesaan, sementara kenyataan menunjukkan kondisi kemiskinan dan keterbatasan pemilikan lahan yang dimiliki petani, maka mutlak harus ada upaya dukungan peningkatan tambahan pendapatan rumah tangga agar petani dapat memenuhi kebutuhan biaya investasi. Peningkatan kelayakan usaha agroforestri tersebut harus sekaligus mengentaskan rumah tangga petani dari kemiskinan, sehingga dapat menjadi insentif yang nyata bagi petani untuk memutuskan tetap mempertahankan kesinambungan agroforestri.

Gambar

Gambar 14. Peta Posisi Desa Sumberejo K ecamatan Batuwarno dalam Sub Das Temon,  DAS Solo
Gambar 16.  Pola Penggunaan Lahan Des a Sumberejo Tahun 2004 -2009
Gambar 17.Perubahan  Pola  Mat a  Pencaharian  Penduduk Desa Sumberejo Tahun                     2004 – 2009
Tabel  15.  Rata-rata Kepemilikan Ternak Responden pada  Strata  Agroforestri  Desa Sumberejo  Tahun 2010

Referensi

Dokumen terkait

Hojodoushi –tearu pada contoh kalimat di atas mempunyai makna hasil aktivitas yang sudah selesai dan ada pelaku yang melakukan hal

Proses ini berguna untuk mengolah data ke dalam proses sistem inferensi dan akan menghasilkan kesimpulan hasil diagnosis berupa masalah penyebab low SHOSR pada

relevan dari setiap laporan kepatuhan atau penilaian yang disampaikan kepada FTC (Federal Trade Commission). Kerangka kerja Privacy Shield bertujuan agar program dapat

Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Neraca Air DAS Temon Sub DAS Bengawan Solo Hulu 3” ini penulis susun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli

Masyarakat di desa dan dusun Ring 1 yang diwakili oleh Kepala Desa (KD), Tokoh Agama (TA), Tokoh Masyarakat (TM) dapat berhubungan langsung secara non formal ke

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa persentase penduduk miskin dari tahun 2014-2018 yang paling tinggi terdapat di Kabupaten Sampang dengan nilai rata-rata

Namun, jika melihat definisi waktu lebih spesifik, akan banyak definisi tentang waktu, tergantung dengan apa yang menjadi acuan untuk mendefinisikan waktu tersebut

Sisi Pandang: Visi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Dev.) Nilai tambah tidak hanya bersifat komersial atau ekonomis, tapi juga bisa dari nilai sosial kemanusiaan, dan