• Tidak ada hasil yang ditemukan

: RULITA MAURIN FEBRIANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan ": RULITA MAURIN FEBRIANI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN PERSEPSI SISWA KELAS AKSELERASI DAN NON AKSELERASI

TERHADAP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI

SMA NEGERI 3 JOMBANG

JURNAL

Oleh :

RULITA MAURIN FEBRIANI

(086474032)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

JURUSAN PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA PRODI S-1 PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA

(2)

PERBANDINGAN PERSEPSI SISWA KELAS AKSELERASI DAN NON AKSELERASI

TERHADAP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI

SMA NEGERI 3 JOMBANG

RULITA MAURIN FEBRIANI (086474032)

S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNESA

Dr. Agus Hariyanto M.Kes

Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNESA

ABSTRACT

Perception is the process of understanding and pass judgement in accordance with the experience and the vision also carries with it a parser-milahan to make a conclusion or opinion. Accelerated classes are educational service program that is given to students who have the potential and talent of exceptional intelligence to complete his studies ahead of the other students (regular).

The non-accelerated class is a program of educational services provided to students with normal only or have the potential of a child has been registered and attend school, unchanged isn't as accelerated classes to complete his studies with a time that is already in the set.

This research using methods descriptive quantitative namely granting poll that later in analysis using quantitative analysis which aims to know and describe perception students in a common the teaching in public sma 3 jombang that than 20 graders the acceleration and 29 class non acceleration. Based on the research comparison perception graders the acceleration and class non acceleration against learning education corporeal sport is as follows: that average value of the acceleration of 7.5, class while average value of a class of non acceleration of 7,27.

It will assumed that comparison perception students between the class acceleration preferred by learning corporeal olaharaga education and the health of on class non acceleration.

Keyword: comparison, perception, acceleration, non acceleration, penjasorkes. ABSTRAK

Persepsi adalah proses memahami dan memberikan penilaian sesuai dengan pengalaman dan juga penglihatan yang disertai dengan pemilah-milahan untuk membuat suatu kesimpulan atau pendapat. Kelas akselerasi adalah program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa yang lain (reguler).

Kelas non akselerasi adalah program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa dengan memiliki potensi biasa saja atau seorang anak telah terdaftar dan mengikuti pelajaran sebagimana mestinya di sekolah, tidak seperti kelas akselerasi untuk menyelesaikan masa belajarnya dengan menempuh waktu yang sudah di tentukan.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu pemberian angket yang kemudian di analisis menggunakan analisis kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan persepsi siswa dala pelaksanaan pengajaran di SMA Negeri 3 Jombang yang terdiri dari 20 siswa kelas akselerasi dan 29 kelas non akselerasi. Berdasarkan hasil penelitian perbandingan persepsi siswa kelas akselerasi dan kelas non akselerasi terhadap pembelajaran pendidikan jasmani olahraga adalah sebagai berikut: bahwa nilai rata-rata kelas akselerasi sebesar 7,5, sedangkan nilai rata-rata kelas non akselerasi sebesar 7,27.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa perbandingan persepsi siswa antara kelas akselerasi lebih menyukai dengan pembelajaran pendidikan jasmani olaharaga dan kesehatan dari pada kelas non akselerasi.

(3)

A. PENDAHULUAN

Pembelajaran dilakukan dan dilaksanakan atas dasar tujuan pendidikan Negara yang termuat dalam Permendiknas no 22 tentang Standart isi dan no 23 tentang standart kompetensi dan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standart nasional Pendidikan. Saat ini pendidikan mengalami berbagai pergantian kurikulum. Pergantian itu dilakukan karena untuk mencari cara mana yang lebih mudah untuk diterima oleh para siswa. Banyak metode yang dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran. Dengan melalui metode-metode yang dit

diharapkan materi yang telah disampaikan dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

Menurut Zais (dalam Dimyati dan Mudjiono, 1976:6), Sebelum kita melakukan pembelajaran, maka kita harus mengetahui makna kurikulum dan kurikulum yang saat ini

Kata “kurikulum” berasal dari satu kata bahasa latin yang berarti “jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang. Lebih lanjut beliau mengemukakan berbagai pengertian kurikulum, yakni: (i) kurikulum sebagai program pelajaran, (ii) kurikulum sebagai isi pelajaran, (iii) kurikulum sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, (iv) kurikulum sebagai pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah, dan (v) kurikulum sebagai suatu rencana (tertulis) untuk dilaksanakan.

Kurikulum merupakan perangkat utama dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan formal di sesuatu lembaga pendidikan. Selain itu, dengan kurikulum yang adapun

perangkat-seperti: gedung sekolah, ruang perpusta laboratorium dan lapangan serta alat

berperan sebagai penunjang, sedangkan guru sendiri yang memegang peran kunci baik sebagai pengelola proses keterlaksanaan kurikulum, juga berperan membentuk pribadi anak. Bukan saja menyampaikan materi pelajaran, member kemudahan, memotivasi dan menunjukkan jalan menuju keberhasilan belajar tetapi juga menanamkan nilai dan sikap terpuji. Pembelajaran Penjasorkes di SMAN 3 Jombang menggunakan kurikulum KTSP.

B. BAHAN DAN METODE

Sesuai dengan penelitian yang di uraikan ini, penulis menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif. Deskriptif Kuantitatif bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan persepsi siswa dalam pelaksanaan pengajaran, dalam hal ini adalah Pendidikan Jasmani Kesehatan. Bentuk sederha

Pembelajaran dilakukan dan dilaksanakan atas dasar tujuan pendidikan Negara yang termuat dalam Permendiknas no 22 tentang Standart isi dan no 23 tentang standart kompetensi dan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standart nasional pendidikan mengalami berbagai pergantian kurikulum. Pergantian itu dilakukan karena untuk mencari cara mana yang lebih mudah untuk diterima oleh para siswa. Banyak metode yang dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran. metode yang diterapkan diharapkan materi yang telah disampaikan dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

Menurut Zais (dalam Dimyati dan Mudjiono, 1976:6), Sebelum kita melakukan pembelajaran, maka kita harus mengetahui makna kurikulum dan kurikulum yang saat ini digunakan. Kata “kurikulum” berasal dari satu kata bahasa latin yang berarti “jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang. Lebih lanjut beliau mengemukakan berbagai pengertian kurikulum, yakni: (i) kurikulum sebagai program pelajaran, (ii) kurikulum sebagai isi pelajaran, (iii) kurikulum sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, (iv) kurikulum sebagai pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah, dan (v) kurikulum sebagai suatu

(tertulis) untuk dilaksanakan.

Kurikulum merupakan perangkat utama dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan formal di sesuatu lembaga pendidikan. Selain itu, dengan -perangkat lainnya seperti: gedung sekolah, ruang perpustakaan, laboratorium dan lapangan serta alat-alat olahraga, berperan sebagai penunjang, sedangkan guru sendiri yang memegang peran kunci baik sebagai pengelola proses keterlaksanaan kurikulum, juga berperan membentuk pribadi anak. Bukan saja menyampaikan teri pelajaran, member kemudahan, memotivasi dan menunjukkan jalan menuju keberhasilan belajar tetapi juga menanamkan nilai dan sikap terpuji. Pembelajaran Penjasorkes di SMAN 3 Jombang

itian yang di uraikan ini, penulis menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif. Deskriptif Kuantitatif bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan persepsi siswa dalam pelaksanaan pengajaran, dalam hal ini adalah Pendidikan Jasmani Kesehatan. Bentuk sederhana

dari penelitian deskriptif adalah penelitian dengan satu variable. (Maksum, 2006 : 14). Proses pengambilan data dengan menggunakan angket.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas akselerasi dan non akselerasi SMA Negeri 3 Jombang yang te

akselerasi, sedangkan jumlah siswa kelas non akselerasi terdiri dari 29 siswa (XI IPS 3). Di SMA Negeri 3 Jombang kelas akselerasi memang hanya 1 kelas saja yang memiliki karateristik nilai yang tinggi dan hanya di tempuh dengan 2

Sesuai dengan penelitian yang di uraikan ini, penulis menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif. Analisis data Deskriptif yang digunakan adalah memberikan angket, setelah itu angket tersebut dianalisis menggunakan analisis kuantitat selanjutnya menggunakan prosentase. yaitu dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan : M : Mean (rata-rata) ∑ x : Jumlah nilai X N : Jumlah sampel (Maksum, Ali. 2007) P = N n x100% Keterangan:

P : Persentase (nilai akhir)

n : Jumlah nilai realita yang diperoleh N : Jumlah harapan yang diperoleh

(Suharsimi, Arikunto. 2002 : 250)

C. PEMBAHASAN

1. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 1 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes adakah hal yang membuat anda terkesan?’ Bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata

kelas non akselerasi lebih besar dengan nilai rata-rata 0,86 dari hasil tersebut sedikit terlihat bahwa pelajaran penjasorkes sangat di terima dan mena

akselerasi di banding kelas akselerasi karena kelas akselerasi merasa bahwa pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan hanya itu-itu saja yang dilakukan tanpa ada hal menarik.

2. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 2 yang menjelaskan ”dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda belajar gerak dari penelitian deskriptif adalah penelitian dengan satu variable. (Maksum, 2006 : 14). Proses pengambilan data dengan menggunakan angket.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas akselerasi dan non akselerasi SMA Negeri 3 Jombang yang terdiri dari 20 siswa kelas akselerasi, sedangkan jumlah siswa kelas non akselerasi terdiri dari 29 siswa (XI IPS 3). Di SMA Negeri 3 Jombang kelas akselerasi memang hanya 1 kelas saja yang memiliki karateristik nilai yang tinggi dan hanya di tempuh dengan 2 tahun masa ajarannya.

Sesuai dengan penelitian yang di uraikan ini, penulis menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif. Analisis data Deskriptif yang digunakan adalah memberikan angket, setelah itu angket tersebut dianalisis menggunakan analisis kuantitatif dan selanjutnya menggunakan prosentase. yaitu dengan

rata) (Maksum, Ali. 2007)

(nilai akhir)

n : Jumlah nilai realita yang diperoleh N : Jumlah harapan yang diperoleh

Suharsimi, Arikunto. 2002 : 250)

Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 1 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran adakah hal yang membuat anda terkesan?’ Bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 0,85 sedangkan kelas non akselerasi lebih besar dengan nilai rata 0,86 dari hasil tersebut sedikit terlihat bahwa pelajaran penjasorkes sangat di terima dan menarik oleh kelas non akselerasi di banding kelas akselerasi karena kelas akselerasi merasa bahwa pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan itu saja yang dilakukan tanpa ada Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 2 jelaskan ”dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda belajar gerak

(4)

baru yang sebelumnya anda belum bisa?” bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 1 sedangkan kelas non akselerasi lebih kecil dengan nilai rata-rata 0,79 dari hasil tersebut sangat terlihat jauh hasilnya, karena kelas akselerasi banyak yang tidak tahu gerakan-gerakan pelajaran penjasorkes di banding kelas non akselerasi.

3. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 3 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda menjadi tahu/paham tentang hal baru yang tadinya anda belum mengerti?” bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 1 sedangkan kelas non akselerasi lebih kecil dengan memperoleh nilai rata-rata 0,89 dari hasil tersebut, karena kelas akselerasi mempunyai rasa ingin tahunya sangat tinggi dengan hal-hal yang baru daripada kelas non akselerasi.

4. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 4 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda melaksanakan perintah/tugas dari guru dengan segera?” bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 0,95 sedangkan kelas non akselerasi lebih kecil dengan memperoleh hasil nilai rata-rata 0,86 dari hasil tersebut, karena kelas akselerasi lebih tanggap untuk melaksanakan perintah dan tugas yang diberikan daripada kelas non akselerasi. 5. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 5

yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda melaksanakan perintah/tugas dari guru dengan bersungguh-sungguh?” bahwa kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 0,95 sedangkan kelas non akselerasi lebih kecil dengan memperoleh hasil rata-rata 0,75 dari hasil tersebut sangat terlihat jelas bahwa kelas non akselerasi rata-rata tidak begitu sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah/tugas yang di berikan oleh guru karena kelas non akselerasi merasakan titik kejenuhan pada pengajar yang menjelaskan gerakan-gerakan hanya begitu saja.

6. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 6 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi,apakah anda melaksanakan perintah/tugas dari guru dengan senang?” bahwa hasil dari pertanyaan nomor 6, kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 1 dan kelas non akselerasi memperoleh hasil lebih kecil dengan nilai rata-rata 0,85, dari hasil tersebut maka kelas akselerasi mengikuti

pelajaran penjasorkes sangatlah senang di banding dengan kelas non akselerasi. 7. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 7

yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, pernahkah anda membantu teman agar dia dapat belajar dengan baik?” bahwa hasil dari pertanyaan nomor 7, kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 0,35 sedangkan kelas non akselerasi lebih besar dengan nilai rata-rata 0,68, dari hasil tersebut maka kelas non akselerasi jiwa sosialisasinya untuk membantu temannya yang tidak bisa sangatlah tinggi di bandingkan kelas akselerasi.

8. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 8 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda pernah dipuji atau koreksi oleh guru?” bahwa hasil dari pertanyaan nomor 8, kelas akselerasi memperoleh hasil nilai rata-rata 0,80, sedangkan kelas non akselerasi dengan nilai rata-rata 0,72.

9. Dari hasil penelitian di pertanyaan nomor 9 yang menjelaskan “dalam mata pelajaran penjasorkes tadi, apakah anda belajar sesuatu yang bermanfaat?” bahwa hasil dari pertanyaan nomor 9, kelas akselerasi memperoleh hasil rata-rata 1 sedangkan kelas non akselerasi memperoleh hasil rata-rata 0,86, dari hasil tersebut maka kelas akselerasi dengan pelajaran penjasorkes tadi sangat bermanfaat dan penting untuk kelas akselerasi di bandingkan kelas non akselerasi.

D. SIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini akan menyajikan kesimpulan dan saran-saran sesuai dengan tujuan penelitian sebagai rekomendasi hasil penelitian.

1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbandingan persepsi siswa kelas akselerasi dan non akselerasi terhadap pembelajaran pendidikan jasmani olahrga dan kesehatan di SMA negeri 3 Jombang, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Dari hasil pengolahan data dan angket di atas menyebutkan bahwa kelas akselerasi lebih menyukai pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dibandingkan dengan kelas non akselerasi.

2. Saran

Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, rekomendasi yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah :

(5)

1. Disarankan kepada para guru lebih memperhatikan cara pengajaran dan banyak modifikasi-modifikasi pembelajaran yang harus dipakai, agar peserta didik tidak jenuh dengan pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

2. Penelitian ini masih perlu dikembangkan lagi, sehingga dapat memberikan informasi tentang persepsi siswa terhadap pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

E. DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2011. “ Persepsi Mahasiswa Terhadap Kompetensi Dosen”. Surabaya : FIK – Universitas Negeri Surabaya.

Arief. 2007. “Pendahuluan Rasional Pendidikan Jasmani”. (Diunduh pada tanggal 12 September 2012. Pojokpenjas.blogspot.com) Arikunto, Suharsimi. 2002.”Prosedur Penelitian”.

Jakarta : Rineka Cipta.

Cepi, Safruddin.

jurnal.upi.edu/file/Cepi_Safruddin.pdf (Diunduh pada tanggal 30 April 2012) Dimyati. 2006. “Belajar dan Pembelajaran”. Jakarta

: Rineka Cipta.

Hidayat, Dessy Rachmawati. 2009. “Persepsi Siswa Terhadap Program Akselerasi”. (Diunduh pada tanggal 25 Februari 2012.

www.karya-ilmiah.um.ac.id)

Maksum. 2006. “Diktat Mata Kuliah Metodologi Penelitian Dalam Olahraga”. Surabaya : FIK – Universitas Negeri Surabaya.

Maksum. 2009. “Diktat Mata Kuliah Metodologi Penelitian Dalam Olahraga”. Surabaya : FIK – Universitas Negeri Surabaya.

Nadisah. 1992. “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Suroto. 2005. “Examining the relationship among students’ physical activity level, students’ learning behaviors, and students’ formative class evaluation during elementary school physical education classes”. Doctoral Program of Health and Sport Sciences University of Tsukuba.

Widodo, Aris. 2009. “Survey Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”. Surabaya : FIK – Universitas Negeri Surabaya.

Yustinus, Samiun. 2006. “Kesehatan Mental”. (Diunduh pada tanggal 25 Februari 2012

www.psychologymania.com)

Zainal. 2011. “Perbedaan Penjasorkes dan Olahraga ”. (Diunduh pada tanggal 25 Februari 2012.

www.teknikmengajarpenjaskes.blogspot.co

m)

Zakir naid. 2011. “Pengertian Perbandingan”. (Diunduh pada tanggal 1 April 2012

http://id.shvoong.com/writing-and-

Referensi

Dokumen terkait

bahan utama) dan katalis enzym (sebagai produk dari mikroorganisme).. Pengaruh dari hambatan pada batch atau

[r]

Hasil Evaluasi Aritmatik ini bukan merupakan pengumuman hasil pelelangan umum, namun merupakan salah satu proses evaluasi. Selanjutnya evaluasi penawaran masih dilanjutkan

Pokok - pokok penjelasan atau perubahan serta penambahan yang telah dilaksanakan dan disepakati pada penjelasan pekerjaan (Aanwijzing) secara online di website:

“ia mbk... saya disini sebagai satu-satunya guru yang mengajar PAI juga berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didik saya. pada saat di akhir pembelajaran di kelas,

PPL adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam semester – semester

Praktik pembelajaran yang praktikan lakukan selama kurang lebih dua bulan pada hari dan waktu yang telah ditentukan oleh guru pembimbing, baik di kelas X MIPA 1, X MIPA 2,

[r]