• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. KEMISKINAN DI TINGKAT RUMAHTANGGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VII. KEMISKINAN DI TINGKAT RUMAHTANGGA"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

Sensus kemiskinan rumahtangga di wilayah desa merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota setempat atas dasar kebutuhan dan desakan untuk mengidentifikasi rumahtangga miskin. Informasi potensi dan karakteristik rumahtangga dapat diketahui melalui kegiatan pendataan lengkap (sensus) rumahtangga. Hasil dari pendataan tersebut menghasilkan data dasar seluruh rumahtangga yang ada di suatu wilayah dan karakteristik rumahtangga yang diidentifikasi menjadi golongan rumahtangga miskin dan tidak miskin.

Selama ini kebutuhan akan informasi rumahtangga miskin sulit didapat, ketersediaan informasi kemiskinan tersebut disadari sangat penting. Pemerintah daerah (Pemda) perlu berusaha secara sungguh-sungguh agar informasi rumahtangga miskin secara mikro tersedia yang akan membantu perencanaan menjadi lebih terarah.

Keterbukaan dan keingintahuan mengenai kondisi masyarakatnya serta mengetahui potensi yang ada di lingkungannya adalah cerminan tanggung jawab pimpinan daerah terhadap kemajuan di wilayahnya, bisa dimulai dari wilayah terkecil, yang tentunya akan mempengaruhi kemajuan di wilayah yang lebih tinggi lagi yaitu kabupaten/kota, provinsi dan nasional. Pemerintah daerah di wilayah terkecil diharapkan dapat mengidentifikasi rumahtangga miskin secara terus menerus dan berkesinambungan.

Pemda dan Bappeda memegang peranan kunci untuk merangkum seluruh aspirasi yang berkembang dari semua sektor agar proses pelaksanaan

(2)

identifikasi rumahtangga dapat diterima oleh semua pihak. Hal mendasar lainnya, peran Pemda sebagai pelaksana komando utama dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan data lapangan. Namun secara teknis, pelaksana kegiatan lapangan dapat dilakukan oleh seluruh aparat sektoral. Hal tersebut akan berdampak positif terhadap hasil akhir dengan memikul tanggung jawab bersama, karena dari hasil pelaksanaan pengumpulan data pemerintah daerah harus menerapkannya di dalam penulisan target rencana kegiatan jangka panjang, menengah dan pendek untuk pemerintah daerah, dengan harapan program yang dijalankan tepat guna dan sesuai dengan prioritas bersama.

Sebelum mengidentifikasi dan mendapatkan data dasar rumahtangga perlu menterjemahkan indikator-indikator kedalam bentuk pertanyaan yang terstruktur yang sederhana dan mudah pemahamannya pada saat pengumpulan data di lapangan. Dasar penetapan variabel dilihat dari indikator inti yang dapat diperoleh dan didasari atas sensitifitas variabel terhadap kondisi penduduk setempat dan juga didasari atas variabel-variabel yang sudah teruji dari kegiatan-kegiatan survei/sensus terdahulu. Kesepakatan tim kerja daerah dalam menganalisa hasil pendataan menjadi penting sesuai dengan muatan lokal.

7.1 Analisis Kemiskinan Relatif Pendekatan Departemen Pertanian

Analisis rumahtangga miskin di Kabupaten Pandeglang pada tahap pertama didekati dengan pendekatan kemiskinan relatif yang digunakan oleh Departemen Pertanian yaitu melakukan pengelompokan variabel pertanyaan menjadi lima indikator dan antar indikator-indikator tidak menunjukkan tingkat gradasi terhadap penilaian kemiskinan dengan pengelompokan sebagai berikut:

(3)

Indikator 1: IF (b4k3<2 and b4k14=1) indik1 = 1

Rumahtangga dengan tingkat pendidikan kepala rumahtangga tidak pernah sekolah atau belum tamat sekolah dasar (SD) (b4k3<2) dan lapangan pekerjaannya bertani (b4k14=1). Pengelompokan ini didasari atas kelemahan dari pendapatan rumahtangga apabila tingkat pendidikan kepala rumahtangga rendah dan dengan lapangan pekerjaan sebagai petani sangatlah rawan terhadap kemiskinan, maka ditetapkan sebagai indikator satu.

Indikator 2: IF ((b4k12=0 and b4k13=0) | b4k15=0 | drop_out>0 ) indik2 = 1 Pengelompokan rumahtangga ini didasari atas ketidakmampuan rumahtangga dari sudut ekonomi yaitu, apabila rumahtangga dalam satu minggu terakhir ini tidak mengkonsumsi daging/ayam/telur/ikan selama satu minggu yang lalu (b4k12=0) dan juga tidak mempunyai persediaan bahan makanan pokok (b4k13=0). Didalam kelompok ini juga diklasifikasikan berdasarkan ketidakmampuan rumahtangga untuk membeli paling sedikit satu stel pakaian selama satu tahun yang lalu (b4k15=0) atau di dalam rumahtangga ini terdapat anak usia sekolah 7 – 15 tahun yang tidak bisa sekolah (drop_out>1), maka dikategorikan sebagai indikator dua.

Indikator 3: IF (b4k16=0 | (b4k17=0 and b4k18=0 and b4k19=0 and b4k20=0)) indik3 = 1

Kepemilikan aset rumahtangga dijadikan sebagai ukuran sederhana dari kemampuan cadangan rumahtangga didalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, bahkan dapat dijadikan sebagai modal usaha rumahtangga. Apabila rumahtangga tidak mempunyai motor/mobil/perahu motor atau kendaraan motor (b4k17=0) dan juga tidak memiliki sepeda/sampan atau kendaraan motor lainnya

(4)

(b4k18=0) dan juga tidak memiliki kasur/tempat tidur (b4k19=0) dan tidak memiliki hewan ternak(b4k20=0), maka rumahtangga tersebut dapat dinyatakan tidak memiliki aset berharga yang dapat cepat dijual sewaktu-waktu untuk membeli bahan makanan dan dikategorikan sebagai indikator tiga. Didalam kelompok faktor ini ditambahkan juga pada rumahtangga yang tidak memiliki lahan/ladang untuk berkebun kurang dari 0.05 Ha dan bahkan tidak memiliki lahan untuk bertani (b4k16=0).

Indikator 4: IF ((tempat<8.1) | (b4k9>5 and b4k10>4 and b4k11>2) ) indik4 = 1 Kondisi dan fasilitas rumah tinggal yang diperhatikan adalah luas lantai perkapita tempat tinggal apabila kurang dari 8.1 meter persegi (tempat<8.1) atau kondisi tempat tinggal dengan lantai tanah (b4k9>5) dan sumber air minum selain dari pada leding, pompa dan sumur terlindung (b4k10>4) serta tidak mempunyai fasilitas listrik PLN (b4k11>2) maka rumah tersebut dalam kondisi yang kurang sehat dan identik dengan rumahtangga yang tidak mampu, dikatagorikan indikator empat.

Indikator 5: IF (makanan>80.00) indik5=1

Penentuan rumahtangga kurang mampu dilihat dari pola konsumsi makanannya maka apabila proporsi membeli bahan makanan terhadap pengeluaran rumahtangga keseluruhan dalam satu bulan lebih besar dari 80 persen, maka dianggap rumahtangga tersebut sebagian besar kemungkinannya memperoleh pendapatan hanya untuk makanan saja, untuk kebutuhan lainnya sangat kecil sehingga kemampuan rumahtangga untuk membeli kebutuhan pendidikan, kesehatan dan biaya-biaya listrik, bahan bakar tidak lebih dari 20 persen (makanan>80 persen). Indikator ini sangat sensitif terhadap kebijakan

(5)

pemerintah yang menyangkut kebutuhan dasar rumahtangga, seperti kenaikan harga BBM, kenaikan tarif dasar listrik dan kenaikan harga tarif telepon.

Berdasarkan indikator-indikator yang ada, maka untuk mengidentifikasi rumahtangga menjadi miskin dapat melihat kondisi tertentu. Sangat dimungkinkan apabila syarat indikator satu, indikator tiga dan indikator lima ketiga-tiganya terpenuhi, maka dapat dikatakan sebagai rumahtangga dengan kepala rumahtangga yang berpendidikan tidak pernah sekolah atau tidak tamat sekolah dasar dan juga bekerja di bidang pertanian, mempunyai pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi makanan > 80 persen serta rumahtangga tersebut ketika diwawancarai tidak memiliki aset berupa mobil, motor, sepeda, kasur dan hewan, akan tetapi dimungkinkan rumahtangga tersebut memiliki rumah dengan luas rata-rata kurang dari 8.1 m2 dan memiliki atau tidak memiliki lahan sawah atau ladang. Pemilikan ladang atau sawah dijadikan sebagai aset rumahtangga yang sulit untuk cepat dijual sehingga rumahtangga yang memiliki aset tanah atau ladang kurang sensitif untuk indikator kemiskinan, akan tetapi biasa dijadikan sebagai informasi aset yang diberdayakan untuk dapat menghasilkan tambahan pendapatan rumahtangga. Selain memenuhi ke tiga faktor tersebut, ada beberapa rumahtangga yang tidak memenuhi ketiga faktor tersebut akan tetapi memenuhi indikator dua dan empat sehingga dijadikan sebagai kelompok yang sama.

If ((indik1=1 and indik5=1 and indik3=1) | indik2=1 | indik4=1) miskin=1

Hasil penetapan rumahtangga miskin tersebut perlu diverifikasi untuk melihat kembali persepsi petugas lapangan, sehingga apa yang sudah diamati secara langsung dan diberikan penilaian dapat dijadikan sebagai salah satu dasar yang lebih akurat untuk pengidentifikasian rumahtangga miskin tersebut. Apabila

(6)

dipasangkan antara penilaian hasil penghitungan statistik dan kemudian dilihat juga dari hasil penilaian petugas lapangan, maka akan dihasilkan sebagai berikut: 1. Menurut petugas miskin dan dari hasil penghitungan miskin.

2. Menurut petugas miskin tetapi dari hasil penghitungan tidak miskin. 3. Menurut petugas tidak miskin tetapi dari penghitungan dinyatakan miskin 4. Menurut petugas tidak miskin dan dari penghitungan juga tidak miskin.

Sehingga apabila memenuhi syarat penghitungan statistik dinyatakan miskin dan dari pengamatan petugas dinyatakan miskin juga, maka rumahtangga tersebut diidentifikasi sebagai rumahtangga miskin. Rumahtangga yang telah teridentifikasi miskin tersebut terdapat rumahtangga yang memiliki balita sehingga untuk rumahtangga-rumahtangga tersebut dapat dijadikan sebagai prioritas utama yang mendapatkan penanganan program bantuannya.

Hasil dari analisis kemiskinan di wilayah desa di Kabupaten Pandeglang dengan kasus di desa Babakan Keusik, Bulagor dan Sudimanik menunjukkan bahwa jumlah rumahtangga miskin di empat desa tersebut lebih tinggi dari 50 persen. Desa Babakan Keusik memiliki jumlah rumahtangga sebesar 698 rumahtangga, dari angka tersebut sebanyak 495 rumahtangga (70.92 persen) dikategorikan miskin sedangkan sisanya 203 rumahtangga (29.08 persen) termasuk kategori tidak miskin. Desa Bulagor memiliki jumlah penduduk sebesar 625 rumahtangga, dari angka tersebut 356 rumahtangga (57.06 persen) dikategorikan miskin sedangkan 269 rumahtangga (43.04 persen) dikategorikan tidak miskin. Desa Sudimanik dari 467 rumahtangga yang ada di desa tersebut, 381 rumahtangga (81.59 persen) di antaranya dikategorikan sebagai rumahtangga miskin, sedangkan sisanya 86 rumahtangga (18.41 persen) dikategorikan tidak

(7)

miskin. Desa Cikalong dari 450 rumahtangga yang terdapat pada desa tersebut, sebanyak 330 rumahtangga (73.33 persen) dikategorikan sebagai rumahtangga miskin, sedangkan sisanya sebanyak 120 rumahtangga (26.67 persen) dikategorikan tidak miskin.

Tabel 44. Status Rumahtangga di Kabupaten Pandeglang Berdasarkan Survei Data Dasar Rumahtangga, Tahun 2006

No Desa Status Rumahtangga Jumlah Rumahtangga (Rumahtangga) Persentase (%) Tidak miskin 203 29.08 Miskin 495 70.92 1 Babakan Keusik Total 698 100.00 Tidak miskin 269 43.04 Miskin 356 57.06 2 Bulagor Total 625 100.00 Tidak miskin 86 18.41 Miskin 381 81.59 3 Sudimanik Total 467 100.00 Tidak miskin 120 26.67 Miskin 330 73.33 4 Cikalong Total 450 100.00

Sumber: Hasil Olahan Data Dasar Rumahtangga

Apabila dibandingkan dengan hasil survei BLT yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2006 maka diperoleh hasil bahwa jumlah rumahtangga miskin hasil survei DDRT lebih tinggi jika dibandingkan hasil survei BLT. Berdasarkan survei BLT jumlah rumahtangga miskin di Desa Babakan keusik sebanyak 431 rumahtangga (65.10 persen). Jumlah rumahtangga miskin di Desa Bulagor sebanyak 280 rumahtangga (44.87 persen). Sebanyak 360 rumahtangga (83.72 persen) di Desa Sudimanik termasuk kategori miskin sedangkan di Desa Cikalong sebanyak 153 rumahtangga (39.33 persen).

(8)

Tabel 45. Status Rumahtangga di Kabupaten Pandeglang Berdasarkan Survei BLT, Tahun 2006

Sumber: BPS Kabuapeten Pandeglang 2007

Apabila dibandingkan antara data rumahtangga miskin BPS berdasarkan hasil survei untuk BLT dan data rumahtangga miskin hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin hasil penelitian memiliki angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan data yang dikeluarkan BPS. BPS mengakui belum bisa secara maksimal mengungkap angka kemiskinan. Keterbatasan kemampuan BPS terutama disebabkan belum dimilikinya informasi tentang kondisi kemiskinan secara spesifik pada semua daerah di Indonesia. Penyebab kemiskinan di satu daerah tidak sama dengan daerah lain, sehingga diperlukan cara pengentasan yang beragam. Terkait hal itu, kebutuhan data statistik kemiskinan yang lebih beragam baik di pedesaan maupun perkotaan sangat mendesak.

Sistem penghitungan kemiskinan yang berlaku saat ini, yakni dengan menggunakan persentase angka kemiskinan di desa, kelurahan atau kecamatan dengan memanfaatkan hasil sensus penduduk yang diperoleh dari kegiatan pemetaan kemiskinan (proverty mapping), tidak bisa memberikan hasil yang lebih komprehensif. Kondisi itu menyebabkan data kemiskinan pada umumnya mengedepankan jumlah. Padahal kemiskinan tidak hanya terkait jumlah atau persentase. Sebaliknya, kemiskinan berkaitan erat dengan kualitas hidup

No Desa Jumlah Rumahtangga (Rumahtangga) Rumahtangga Miskin (Rumahtangga) Persentase (%) 1 Babakan Keusik 662 431 65.10 2 Bulagor 624 280 44.87 3 Sudimanik 430 360 83.72 4 Cikalong 389 153 39.33

(9)

masyarakat miskin. Kualitas hidup masyarakat miskin, berkaitan dengan status kesehatan, tingkat pendidikan, seberapa jauh mengakses fasilitas kesehatan dasar, pendidikan dasar, air bersih dan sanitasi (Muttaqin, 2008).

Terkait dengan hal di atas, penjabaran karakteristik kemiskinan secara deskriptif diperlukan guna menopang pengukuran kualitas hidup masyarakat miskin. Dengan demikian akan lebih memudahkan pemerintah (khususnya Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Pandeglang) dalam melakukan perencanaan program bantuan dan target kegiatan pada kelompok sasaran. Adapun gambaran umum dari rumahtangga miskin di Kabupaten Pandeglang khususnya di empat desa yang dijadikan sampel yaitu: Desa Babakan Keusik, Bulagor, Sudimanik dan Cikalong adalah sebagai berikut.

7.1.1 Kependudukan

Karakteristik rumahtangga dari aspek kependudukan dapat dilihat dari jumlah anggota rumahtangga dan jumlah balita yang dimiliki oleh rumahtangga. Gambar 39 menunjukkan bahwa rumahtangga di Desa Babakan Keusik secara umum memiliki jumlah anggota rumahtangga satu hingga empat orang (53.70 persen), angka ini lebih kecil bila dibandingkan dengan rumahtangga tidak miskin yaitu 78.40 persen. Rumahtangga dengan anggota lima hingga delapan orang pada kelompok miskin sebesar 40.70 persen sedangkan pada kelompok tidak miskin hanya sebesar 20.70 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki jumlah anggota lebih dari delapan orang sebesar 5.40 persen sementara pada kelompok yang tidak miskin hanya satu persen. Dapat disimpulkan bahwa di Desa Babakan Keusik rumahtangga miskin secara umum memiliki jumlah anggota rumahtangga yang lebih banyak jika dibandingkan dengan rumahtangga tidak miskin.

(10)

78.40 53.70 60.80 20.70 40.70 34.90 1.00 5.40 4.20 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00

T idak M iskin M iskin T otal Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) 1-4 5-8 >8

Gambar 39. Jumlah Anggota Rumahtangga Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Gambar 40 menunjukkan bahwa rumahtangga miskin di Desa Bulagor umumnya memiliki jumlah anggota rumahtangga satu hingga empat orang (55.30) persen, angka ini lebih kecil bila dibandingkan pada rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase 74.00 persen. Rumahtangga dengan anggota lima hingga delapan orang pada kelompok miskin sebesar 38.50 persen sedangkan di kelompok tidak miskin sebesar 26.00 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki jumlah anggota lebih dari delapan orang sebesar 6.30 persen sedangkan pada kelompok yang tidak miskin tidak ada.

74.00 55.30 63.30 26.00 38.50 33.10 0.00 6.30 3.70 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

Tidak M iskin M iskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) 1-4 5-8 >8

Gambar 40. Jumlah Anggota Rumahtangga Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

(11)

Rumahtangga miskin di Desa Sudimanik umumnya memiliki jumlah anggota rumahtangga satu hingga empat orang (51.70 persen), angka ini lebih kecil bila dibandingkan pada rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase 74.40 persen. Rumahtangga dengan anggota lima hingga delapan orang pada kelompok miskin sebesar 42.20 persen sedangkan di kelompok tidak miskin hanya sebesar 25.50 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki jumlah anggota lebih dari delapan orang sebesar 5.70 persen sementara pada kelompok yang tidak miskin tidak ada yang memiliki anggota rumahtangga lebih dari delapan orang, hal tersebut ditunjukkan pada Gambar 41.

74.40 51.70 55.90 25.50 42.20 39.20 0.00 5.70 4.70 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

T idak M iskin M iskin T ot al Stat us Rumahtangga P e rs e n ta s e ( % ) 1-4 5-8 >8

Gambar 41. Jumlah Anggota Rumahtangga Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Rumahtangga miskin di Desa Cikalong umumnya memiliki jumlah anggota satu hingga empat orang (67.88 persen), angka ini lebih kecil bila dibandingkan pada rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase 84.17 persen. Rumahtangga dengan anggota lima hingga delapan orang pada kelompok miskin sebesar 28.79 persen sedangkan di kelompok tidak miskin hanya sebesar 15.83 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki jumlah anggota lebih dari delapan orang sebesar 3.33 persen sementara pada kelompok yang tidak miskin

(12)

tidak ada yang memiliki jumlah anggota rumahtangga yang lebih banyak dari delapan orang, secara lengkap hal ini disajikan pada Gambar 42.

84.17 67.88 72.22 15.83 28.79 25.33 0.00 3.33 2.44 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00

Tid ak M is kin M is kin To tal Statu s Ru mah tan g g a

P e rs e n ta se ( % ) 1-4 5-8 >8

Gambar 42. Jumlah Anggota Rumahtangga Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Jumlah anggota rumahtangga menurut kelompok miskin dan tidak miskin di empat desa di Kabupaten Pandeglang memiliki kecenderungan lebih banyak pada rumahtangga miskin jika dibandingkan dengan rumahtangga tidak miskin. Data ini memberikan informasi tentang pola dan keberhasilan atau kemunduran dari program Keluarga Berencana (KB). Idealnya perlu dilakukan penyuluhan KB agar generasi yang akan datang rumahtangga miskin mempunyai jumlah anak yang lebih sedikit.

Dilihat dari kepemilikan balita di Desa Babakan Keusik, terdapat 58.10 persen rumahtangga tidak memiliki balita pada kelompok tidak miskin dan 52.30 persen pada kelompok miskin. Rumahtangga yang mempunyai balita satu orang sebanyak 38.40 persen pada kelompok tidak miskin sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 36.40 persen. Rumahtangga yang memiliki balita dua hingga empat orang secara kumulatif mencapai 3.50 persen pada kelompok tidak miskin, pada kelompok miskin sebesar 11.30 persen, hal ini disajikan pada Gambar 43.

(13)

58.10 52.30 54.00 38.40 36.40 37.00 3.00 9.30 7.40 0.500.00 1.400.60 1.100.40 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tid ak M is kin M is kin To tal Statu s Ru mah tan g g a

P e rs e n ta se ( % ) 0 1 2 3 4

Gambar 43. Jumlah Balita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Gambar 44 menunjukkan kepemilikan Balita di Desa Bulagor, pada kelompok tidak miskin sebanyak 58.00 persen rumahtangga tidak memiliki balita sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 52.20 persen. Rumahtangga yang mempunyai balita satu orang pada kelompok tidak miskin sebanyak 36.80 persen sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 38.20 persen. Rumahtangga yang memiliki balita dua hingga empat orang secara kumulatif pada kelompok tidak miskin sebesar 5.20 persen sedangkan pada kelompok miskin sebesar 9.50 persen.

58.00 52.20 54.70 36.80 38.20 37.60 4.80 8.40 6.90 0.400.00 0.800.30 0.600.20 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tid ak M is kin M is kin To tal Statu s Ru mah tan g g a

P e rs e n ta se ( % ) 0 1 2 3 4

Gambar 44. Jumlah Balita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

(14)

Kepemilikan balita di Desa Sudimanik ditunjukkan pada Gambar 45, pada kelompok tidak miskin sebanyak 62.80 persen rumahtangga tidak memiliki balita sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 45.70 persen. Rumahtangga yang mempunyai balita satu orang pada kelompok tidak miskin sebanyak 31.40 persen sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 38.60 persen. Rumahtangga yang memiliki balita dua hingga empat orang secara kumulatif pada kelompok tidak miskin sebesar 5.80 persen sedangkan kelompok miskin sebesar 15.70 persen. 62.80 45.70 48.80 31.40 38.60 37.30 5.80 10.504.70 9.603.90 0.00 0.50 0.40 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P e rse n ta se ( % ) 0 1 2 3 4

Gambar 45. Jumlah Balita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Kepemilikan balita di Desa Cikalong ditunjukkan pada Gambar 46, kelompok tidak miskin 55.00 persen rumahtangga tidak memiliki balita sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 46.67 persen. Rumahtangga yang mempunyai satu orang balita pada kelompok tidak miskin sebanyak 40.83 persen sedangkan pada kelompok miskin sebanyak 40.30 persen. Rumahtangga yang memiliki dua hingga empat balita secara kumulatif pada kelompok tidak miskin mencapai 4.16 persen sedangkan pada kelompok miskin sebesar 13.03 persen.

(15)

55.00 46.67 48.89 40.83 40.30 40.44 3.33 10.00 8.22 0.830.00 2.120.91 1.780.67 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak M is kin M is kin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) 0 1 2 3 4

Gambar 46. Jumlah Balita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Beban hidup kelompok rumahtangga miskin semakin besar karena jumlah balita yang dimiliki lebih banyak dibandingkan kelompok rumahtangga tidak miskin. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian dimana kepemilikan balita yang lebih besar pada rumahtangga miskin di empat desa di Kabupaten Pandeglang. Hal tersebut akan berimplikasi pada pembiayaan anak usia balita yang jumlahnya akan lebih banyak dibandingkan bukan balita khususnya untuk menyelamatkan gizi anak-anak.

7.1.2 Karakteristik Pendidikan

Jumlah anak usia sekolah di Desa Babakan Keusik, pada kelompok rumahtangga miskin lebih besar dibandingkan dengan pada kelompok rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga yang memiliki anak usia sekolah pada kelompok rumahtangga tidak miskin secara kumulatif sebesar 48.80 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin sebanyak 65.30 persen seperti ditunjukkan pada Gambar 47.

(16)

51.20 34.70 39.50 30.50 33.30 32.50 15.80 22.80 20.80 2.50 5.30 4.40 0.00 3.80 2.70 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) 0 1 2 3 > 3

Gambar 47. Jumlah Anak Usia Sekolah 7-15 Tahun Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Jumlah anak usia sekolah di Desa Bulagor, pada kelompok rumahtangga miskin lebih besar dibandingkan dengan pada kelompok rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga yang memiliki anak usia sekolah pada kelompok rumahtangga tidak miskin secara kumulatif sebesar 58.70 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin sebanyak 63.50 persen. Secara lengkap jumlah anak usia sekolah di Desa Bulagor ditunjukkan pada Gambar 48.

41.30 36.50 38.60 37.50 26.40 31.20 14.90 22.50 19.20 5.60 9.60 7.80 0.70 5.00 3.30 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

Tid ak M is kin M is kin To tal

Statu s Ru mah tan g g a

P e rs e n ta se ( % ) 0 1 2 3 > 3

Gambar 48. Jumlah Anak Usia Sekolah 7-15 Tahun Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

(17)

Jumlah anak usia sekolah di Desa Sudimanik, pada kelompok rumahtangga miskin lebih besar dibandingkan dengan pada kelompok rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga yang memiliki anak usia sekolah pada kelompok rumahtangga tidak miskin secara kumulatif mencapai 53.50 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin sebanyak 66.40 persen. Secara lengkap jumlah anak usia sekolah di Desa Sudimanik ditunjukkan pada Gambar 49. 46.50 33.60 36.00 37.20 28.30 30.00 14.00 21.30 19.90 2.30 12.60 10.70 0.00 4.20 3.40 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 50.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) 0 1 2 3 > 3

Gambar 49. Jumlah AnakUsia Sekolah 7-15 Tahun Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Jumlah anak usia sekolah di Desa Cikalong, pada kelompok rumahtangga miskin lebih besar dibandingkan dengan pada kelompok rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga yang memiliki anak usia sekolah pada kelompok rumahtangga tidak miskin secara kumulatif mencapai 37.50 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin sebanyak 52.12 persen. Secara lengkap jumlah anak usia sekolah di Desa Cikalong ditunjukkan pada Gambar 50.

(18)

62.50 47.88 51.78 30.83 28.18 28.89 5.00 17.58 14.22 0.830.83 5.151.21 4.001.11 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

T id ak M is kin M is kin T o tal Statu s Ru mah tan g g a

P e rs e n ta se ( % ) 0 1 2 3 > 3

Gambar 50. Jumlah Anak Usia Sekolah 7-15 Tahun Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Jumlah anak 7 – 15 tahun yang drop out, di Desa Babakan Keusik pada kelompok rumahtangga yang tidak miskin tidak ada anak usia 7 – 15 tahun yang drop out. Sedangkan pada kelompok miskin anak yang drop out mencapai 24.00 persen. Jumlah anak yang drop out dalam satu rumahtangga umumnya sebanyak satu orang (18.20 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 51.

100.00 76.00 83.00 0.00 18.20 12.90 0.00 5.80 4.10 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 T id a k M is kin M is kin T o t a l S t a t u s Ru ma h t a n g g a P e rs e n ta s e ( % ) 0 1 > 1

Gambar 51. Jumlah Anak Usia 7 – 15 Tahun Drop Out Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Jumlah anak 7 – 15 tahun yang drop out di Desa Bulagor pada kelompok rumahtangga yang tidak miskin tidak ada anak usia 7 – 15 tahun yang drop out.

(19)

Sedangkan pada kelompok miskin anak yang drop out mencapai 23.30 persen. Jumlah anak yang drop out dalam satu rumahtangga umumnya sebanyak satu orang (15.20 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 52.

1 0 0 .0 0 7 6 .7 0 8 6 .7 0 0 .0 0 1 5 .2 0 8 .7 0 0 .0 0 8 .1 0 4 .6 0 0 .0 0 2 0 .0 0 4 0 .0 0 6 0 .0 0 8 0 .0 0 1 0 0 .0 0 T id a k M is k in M is k in T o t a l S t a t u s R u m a h t a n g g a P e rs e n ta s e ( % ) 0 1 > 1

Gambar 52. Jumlah Anak Usia 7-15 Tahun Drop Out Menurut Kelompok Rumah Tangga Miskin dan Tidak Miskin Desa Bulagor

Jumlah anak 7 – 15 tahun yang drop out di Desa Sudimanik pada kelompok rumahtangga yang tidak miskin tidak ada anak usia 7 – 15 tahun yang drop out. Sedangkan pada kelompok miskin anak yang drop out mencapai 27.30 persen. Jumlah anak yang drop out dalam satu rumahtangga umumnya sebanyak satu orang (19.20 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 53.

1 0 0 .0 0 7 2 .7 0 7 7 .7 0 0 .0 0 1 9 .2 0 1 5 .7 0 0 .0 0 8 .1 0 6 .6 0 0 .0 0 2 0 .0 0 4 0 .0 0 6 0 .0 0 8 0 .0 0 1 0 0 .0 0 T id a k M is k in M is k in T o t a l S t a t u s R u m a h t a n g g a P e rs e n ta s e ( % ) 0 1 > 1

Gambar 53. Jumlah Anak Usia 7-15 Tahun Drop Out Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

(20)

Jumlah anak 7 – 15 tahun yang drop out di Desa Cikalong pada kelompok rumahtangga yang tidak miskin tidak ada anak usia 7 – 15 tahun yang drop out. Sedangkan pada kelompok miskin anak yang drop out mencapai 19.40 persen. Jumlah anak yang drop out dalam satu rumahtangga umumnya sebanyak 1 orang (16.10 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 54.

1 0 0 .0 0 8 0 .6 0 8 5 .8 0 0 .0 0 1 6 .1 0 1 1 .8 0 0 .0 0 3 .3 0 2 .4 0 0 .0 0 2 0 .0 0 4 0 .0 0 6 0 .0 0 8 0 .0 0 1 0 0 .0 0 T id a k M is k in M is k in T o t a l S t a t u s R u m a h t a n g g a P e rs e n ta s e ( % ) 0 1 > 1

Gambar 54. Jumlah Anak Usia 7-15 Tahun Drop Out Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Karakteristik rumahtangga miskin di empat desa di Kabupaten Pandeglang memiliki jumlah anggota rumahtangga yang lebih banyak dengan komposisinya terdapat anak usia balita dan anak usia sekolah, sehingga beban ekonomi rumahtangga miskin semakin jelas terlihat dari ketidakmampuan rumahtangga untuk menyekolahkan anak-anaknya pada jenjang usia sekolah (7 – 15 tahun) yang seharusnya menjadi usia wajib belajar karena biaya sekolah sampai jenjang tersebut seharusnya gratis. Hal yang sama juga dihasilkan oleh Nurmanaf et al. (2000) yang menyatakan bahwa anggota rumahtangga miskin memiliki rata-rata tingkat pendidikan rendah. Ada kegagalan dalam program pendidikan karena cukup banyak (di atas 20 persen) anak-anak yang tidak mampu yaitu dari rumahtangga miskin tidak mendapatkan kesempatan untuk sekolah.

(21)

7.1.3 Karakteristik Rumah Tinggal

Pendataan DDRT diperoleh pula informasi mengenai kondisi rumah tempat tinggal meliputi luas lantai (m2), jenis lantai, sumber air minum dan sumber penerangan. Apabila dilakukan penghitungan luas lantai per kapita kasus di Desa Babakan Keusik, terlihat kelompok rumahtangga miskin mempunyai karakteristik luas rumah kecil dan dihuni oleh banyak anggota rumahtangga. Hal ini terlihat dengan tingginya persentase hunian per kapita kurang dari 5 m2 dan antara 5 - 9 m2 mencapai 62.83 persen. Sedangkan untuk kelompok tidak miskin sebesar 10.84 persen, seperti ditunjukkan Gambar 55.

22.02 15.62 10.84 40.81 32.09 57.14 25.45 34.67 30.05 10.71 16.33 1.480.49 1.01 1.150.14 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) < 5 m2 5 - 9 m2 10 - 19 m2 20 - 49 m2 50 - 99 m2 > 100 m2

Gambar 55. Kelompok Luas Lantai Per Kapita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Desa Bulagor seperti ditunjukkan oleh Gambar 56, kelompok rumahtangga miskin mempunyai karakteristik luas rumah kecil dihuni oleh banyak anggota rumahtangga terlihat dengan tingginya persentase hunian per kapita kurang dari 5 m2 dan antara 5-9 m2 mencapai 51.97 persen. Kelompok rumahtangga tidak miskin, 60.22 persen memiliki luas lantai per kapita 10 – 19 m2.

(22)

0.00 16.01 9.12 8.92 35.96 24.30 60.22 31.18 43.70 29.37 14.89 21.10 1.49 1.120.84 1.300.50 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) < 5 m2 5 - 9 m2 10 - 19 m2 20 - 49 m2 50 - 99 m2 > 100 m2

Gambar 56. Kelompok Luas Lantai Per Kapita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

Desa Sudimanik juga memperlihatkan kelompok rumahtangga miskin mempunyai karakteristik luas rumah kecil dan dihuni oleh banyak anggota rumahtangga terlihat dengan tingginya persentase hunian per kapita kurang dari 5 m2 dan antara 5 - 9 m2 mencapai 62.99 persen. Kelompok rumahtangga tidak miskin, 67.44 persen memiliki luas lantai per kapita umumnya 10 – 19 m2 seperti ditunjukkan oleh Gambar 57.

30.18 24.60 8.14 32.81 28.30 67.44 26.51 34.00 22.09 8.92 11.30 1.161.16 0.790.79 0.900.90 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) < 5 m2 5 - 9 m2 10 - 19 m2 20 - 49 m2 50 - 99 m2 > 100 m2

Gambar 57. Kelompok Luas Lantai Per Kapita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

(23)

Demikian halnya Desa Cikalong, terlihat jelas kelompok rumahtangga miskin mempunyai karakteristik luas rumah kecil dihuni oleh banyak anggota rumahtangga terlihat dengan tingginya persentase hunian per kapita kurang dari 5 m2 dan antara 5 - 9 m2 mencapai 54.85 persen. Kelompok rumahtangga tidak miskin, 60.80 persen memiliki luas lantai per kapita berkisar 10 – 19 m2 seperti ditunjukkan oleh Gambar 58.

0.00 16.06 11.78 8.33 38.79 30.67 60.83 32.42 40.00 28.33 12.12 16.44 2.50 0.00 0.67 0.00 0.61 0.44 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) < 5 m2 5 - 9 m2 10 - 19 m2 20 - 49 m2 50 - 99 m2 > 100 m2

Gambar 58. Kelompok Luas Lantai Per Kapita Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Jenis lantai hunian kelompok tidak miskin di Desa Babakan Keusik mayoritas adalah lantai semen sebesar 38.40 persen. Kelompok rumahtangga miskin mayoritas berlantai tanah (58.00 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 59. Di Desa Bulagor, jenis lantai hunian kelompok tidak miskin mayoritas adalah lantai semen sebesar 30.10 persen sedangkan kelompok rumahtangga miskin mayoritas berlantai bambu (41.60 persen) seperti ditunjukkan oleh Gambar 60.

(24)

15.80 5.50 8.50 2.00 1.20 1.40 38.40 20.20 25.50 4.40 2.20 2.90 15.80 12.70 13.60 23.60 58.00 48.00 0.00 0.20 0.10 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Marmer/keramik/teraso Ubin (tegel) Plester semen/bata Kayu/papan Bambu Tanah Lainnya

Gambar 59. Jenis Lantai Hunian Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

29.40 6.20 16.20 7.10 3.90 5.30 30.10 21.10 25.00 7.10 8.70 8.00 21.20 41.60 32.80 5.20 17.70 12.30 0.00 0.80 0.50 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Marmer/keramik/teraso Ubin (tegel) Plester semen/bata Kayu/papan Bambu Tanah Lainnya

Gambar 60. Jenis Lantai Hunian Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

Jenis lantai hunian kelompok tidak miskin di Desa Sudimanik terbesar pada lantai bambu yaitu sebesar 31.40 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin terbesar pada lantai bambu mencapai 50.70 persen seperti ditunjukkan oleh Gambar 61. Jenis lantai hunian kelompok tidak miskin di Desa Cikalong mayoritas adalah lantai bambu yaitu sebesar 49.20 persen sedangkan pada kelompok rumahtangga miskin terbesar lantai bambu mencapai 75.20 persen seperti ditunjukkan oleh Gambar 62.

(25)

29.10 10.80 14.10 8.10 3.90 4.70 7.00 8.90 8.60 19.80 19.20 19.30 31.40 50.70 47.10 4.70 6.60 6.20 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Marmer/keramik/teraso Ubin (tegel) Plester semen/bata Kayu/papan Bambu Tanah Lainnya

Gambar 61. Jenis Lantai Hunian Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

9.20 1.80 3.80 1.70 0.00 0.40 12.50 4.20 6.40 23.30 17.60 19.10 49.20 75.20 68.20 4.20 1.20 2.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Marmer/keramik/teraso Ubin (tegel) Plester semen/bata Kayu/papan Bambu Tanah Lainnya

Gambar 62. Jenis Lantai Hunian Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Persentase rumahtangga miskin di Desa Babakan Keusik yang mengkonsumsi air dari sumber yang kurang sehat seperti sumur tak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai dan air hujan jika dikumulatifkan seperti ditunjukkan oleh Gambar 63 adalah sebesar 39.40 persen. Kelompok rumahtangga yang tidak miskin untuk hal yang sama sekitar 24.10 persen.

(26)

0.500.50 0.000.00 0.100.10 56.20 28.90 36.80 5.40 20.60 16.20 18.70 31.70 27.90 17.70 16.60 16.90 0.001.00 0.401.80 0.301.60 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % )

Air dalam kemasan Pompa

Sumur terlindung Sumur tak terlindung Mata air terlindung Mata air tak terlindung Air sungai

Air hujan

Gambar 63. Sumber Air Minum Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Persentase rumahtangga miskin di Desa Bulagor yang mengkonsumsi air dari sumber yang kurang sehat seperti sumur tak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai dan air hujan seperti ditunjukkan oleh Gambar 64 jika dikumulatifkan adalah sebesar 55.60 persen. Kelompok rumahtangga yang tidak miskin untuk hal yang sama sebesar 43.50 persen.

4.10 3.70 3.80 0.701.90 1.700.30 1.301.00 46.80 34.00 39.50 41.60 53.10 48.20 3.001.90 4.802.20 4.002.10 0.00 0.30 0.20 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Lainnya

Air dalam kemasan Pompa

Sumur terlindung Sumur tak terlindung Mata air terlindung Mata air tak terlindung Air sungai

Gambar 64. Sumber Air Minum Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

(27)

Persentase rumahtangga miskin di Desa Sudimanik yang mengkonsumsi air dari sumber yang kurang sehat seperti sumur tak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai dan air hujan seperti ditunjukkan oleh Gambar 65 jika dikumulatifkan adalah sebesar 70.40 persen. Kelompok rumahtangga yang tidak miskin untuk hal yang sama sekitar 49.90 persen. Sistem perolehan sumber air minum yang layak dan sehat untuk dikonsumsi di Desa Sudimanik masih perlu dibenahi. 1.20 1.00 1.10 11.60 2.40 4.10 2.30 1.30 1.50 26.70 17.60 19.30 8.10 18.10 16.30 8.10 7.30 7.50 17.40 31.80 29.10 24.40 20.50 21.20 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % )

Air dalam kemasan Leding

Pompa Sumur terlindung Sumur tak terlindung Mata air terlindung Mata air tak terlindung Air sungai

Gambar 65. Sumber Air Minum Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Persentase rumahtangga miskin di Desa Cikalong yang mengkonsumsi air dari sumber yang kurang sehat seperti sumur tak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai dan air hujan seperti ditunjukkan oleh Gambar 66 jika dikumulatifkan adalah sebesar 67.80 persen. Kelompok rumahtangga yang tidak miskin untuk hal yang sama sekitar 45.80 persen. Secara umum di Desa Cikalong ini masih perlu dibenahi sistem perolehan sumber air minum yang layak untuk dikonsumsi.

(28)

0.00 0.30 0.20 4.20 1.80 2.40 50.00 29.70 35.10 30.80 20.90 23.60 0.00 0.30 0.20 7.50 22.40 18.40 7.50 24.50 20.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Leding Pompa Sumur terlindung Sumur tak terlindung Mata air terlindung Mata air tak terlindung Air sungai

Gambar 66. Sumber Air Minum Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Sumber penerangan di Desa Babakan Keusik secara keseluruhan masih sangat rendah untuk pemakaian listrik PLN (23.40 persen) atau listrik disel (Non PLN) sebesar 6.40 persen. Gambar 67 menunjukkan bahwa secara umum rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Babakan Keusik menggunakan sumber penerangan dengan menggunakan pelita/sentir (masing-masing mencapai 39.20 persen dan 32.00 persen).

36.00 18.20 23.40 11.80 4.20 6.40 32.00 39.20 37.10 20.20 38.40 33.10 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

Tidak Miskin Miskin Total Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Listrik PLN Listrik non PLN Pelita/sentir Lainnya

Gambar 67. Sumber Penerangan Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

(29)

Sumber penerangan di Desa Bulagor secara keseluruhan sudah cukup baik untuk pemakaian listrik PLN (82.60 persen). Gambar 68 menunjukkan bahwa secara umum rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Bulagor menggunakan sumber penerangan dengan menggunakan listrik PLN (masing-masing 77.50 persen dan 89.20 persen).

89.20 77.50 82.60 5.90 16.30 11.80 4.80 6.20 5.60 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 T id a k M is kin M is kin T o ta l Sta tu s Ru ma h ta n g g a P e rs e n ta se ( % ) Lis trik PLN Pe lita /s e n tir La in n y a

Gambar 68. Sumber Penerangan Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

Sumber penerangan di Desa Sudimanik secara keseluruhan sudah cukup baik untuk pemakaian listrik PLN (82.90 persen). Gambar 69 menunjukkan bahwa secara umum rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Sudimanik menggunakan sumber penerangan dengan menggunakan listrik PLN (masing-masing 80.60 persen dan 93.00 persen).

Sumber penerangan di Desa Cikalong seperti ditunjukkan oleh Gambar 70 secara keseluruhan masih rendah terutama untuk rumahtangga miskin. Rumahtangga miskin umumnya mereka menggunakan pelita/sentir (49.70 persen). Sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin umumnya telah menggunakan listrik PLN (mencapai 80.80 persen).

(30)

93.00 80.60 82.90 1.200.003.502.30 1.602.608.906.30 1.502.107.905.60 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00

Tidak M is kin M is kin Total

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Lis trik PLN

Lis trik non PLN Petromak/aladin Pelita/s entir Lainnya

Gambar 69. Sumber Penerangan Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

80.80 47.60 56.40 1.700.80 2.700.00 2.400.20 16.70 49.70 40.90 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 T id a k M is kin M is kin T o t a l S t a t u s Ru ma h t a n g g a P e rs e n ta s e ( % ) Lis t rik P LN Lis t rik n o n P LN P e t ro ma k/ a la d in P e lit a / s e n t ir

Gambar 70. Sumber Penerangan Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

7.1.4 Karakteristik Ekonomi

Rumahtangga di Desa Babakan Keusik seperti ditunjukkan oleh Gambar 71 umumnya tidak memiliki lahan, rumahtangga miskin yang tidak memiliki lahan sebanyak 67.50 persen sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin yang tidak memiliki lahan berjumlah 42.90 persen. Rumahtangga miskin di Desa Bulagor yang tidak memiliki lahan sebanyak 81.50 persen sedangkan untuk

(31)

rumahtangga tidak miskin yang tidak memiliki lahan berjumlah 49.80 persen. Rumahtangga miskin di Desa Sudimanik yang tidak memiliki lahan sebanyak 45.40 persen sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin yang tidak memiliki lahan berjumlah 34.90 persen. Rumahtangga miskin di Desa Cikalong yang tidak memiliki lahan sebanyak 62.40 persen sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin yang tidak memiliki lahan berjumlah 55.00 persen.

42.90 67.50 60.30 49.80 81.50 67.80 34.90 45.40 43.50 55.00 62.40 60.40 57.30 32.40 39.30 50.20 18.50 32.40 65.20 54.70 56.50 45.00 37.60 39.60 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Tidak Punya

Gambar 71. Karakteristik Kepemilikan Lahan Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

Kemampuan rumahtangga untuk memiliki persediaan bahan makanan di Desa Babakan Keusik dan Bulagor sudah cukup baik seperti ditunjukkan oleh Gambar 72, pada kelompok rumahtangga miskin masing-masing hanya 24.60 dan 18.50 persen saja yang tidak mempunyai persediaan bahan makanan. Kemampuan rumahtangga di Desa Sudimanik dan Cikalong untuk memiliki persediaan bahan makanan pada kelompok rumahtangga miskin masih buruk. Desa Sudimanik sebanyak 77.20 persen dan di Desa Cikalong sebanyak 80.60 persen rumahtangga miskin tidak mempunyai persediaan bahan makanan pokok.

(32)

12.80 24.60 21.20 9.30 35.10 24.00 32.60 77.20 69.00 50.80 80.60 72.70 87.20 75.40 78.80 90.70 64.90 76.00 67.40 22.80 31.00 49.20 19.40 27.30 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Tidak Ya

Gambar 72. Karakteristik Persediaan Bahan Makanan Pokok Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

Pemilikan kendaraan bermotor seperti ditunjukkan oleh Gambar 73, umumnya rumahtangga di Desa Babakan Keusik, Bulagor, Sudimanik dan Cikalong tidak memiliki kendaraan bermotor. Desa Babakan Keusik, Sudimanik, Bulagor dan Cikalong memiliki persentase rumahtangga miskin yang tidak memiliki kendaraan bermotor secara umum di atas 87.00 persen.

79.30 88.70 86.00 77.00 93.30 86.20 69.80 89.20 85.70 69.20 87.60 82.70 20.70 11.30 14.00 23.00 6.70 13.80 30.20 10.80 14.30 30.80 12.40 17.30 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Tidak Ya

Gambar 73. Karakteristik Pemilikan Kendaraan Bermotor Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

(33)

Pemilikan kendaraan tidak bermotor seperti ditunjukkan oleh Gambar 74, umumnya rumahtangga di Desa Babakan Keusik, Bulagor, Sudimanik dan Cikalong tidak memiliki kendaraan tidak bermotor. Persentase rumahtangga miskin yang tidak memiliki kendaraan bermotor di Desa Babakan Keusik, Sudimanik, Bulagor dan Cikalong mencapai lebih dari 83.00 persen.

80.30 83.60 82.70 86.20 94.90 91.20 73.30 88.70 85.90 89.20 94.20 92.90 19.70 16.40 17.30 13.80 5.10 8.80 26.70 11.30 14.10 10.80 5.80 7.10 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Tidak Ya

Gambar 74. Karakteristik Pemilikan Kendaraan Tak Bermotor Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

Terkait dengan pemilikan kasur seperti ditunjukkan oleh Gambar 75, baik rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Babakan Keusik, Bulagor dan Sudimanik umumnya telah memiliki kasur. Namun di Desa Cikalong sebagian besar (55.80 persen) rumahtangga miskinnya tidak memiliki kasur, sedangkan rumahtangga tidak miskin umumnya telah memiliki kasur.

Terkait dengan pemilikan hewan ternak seperti ditunjukkan oleh Gambar 76, baik rumahtangga miskin maupun tidak miskin umumnya mereka tidak memiliki hewan ternak. Rumahtangga miskin yang tidak mempunyai ternak di Desa Babakan Keusik mencapai 66.70 persen angka ini sedikit lebih kecil jika

(34)

dibandingkan rumahtangga tidak miskin yang mencapai 70.90 persen. Begitu pula di Desa Bulagor dan Sudimanik rumahtangga miskin yang tidak mempunyai ternak jumlahnya sedikit lebih kecil jika dibandingkan rumahtangga tidak miskin. Sedangkan di Desa Cikalong rumahtangga miskin yang tidak memiliki ternak sebanyak 82.70 persen sedangkan kelompok tidak miskin sebesar 70.80 persen.

14.80 24.00 21.30 7.80 19.70 14.60 16.30 43.80 38.80 20.80 55.80 46.40 85.20 76.00 78.70 92.20 80.30 85.40 83.70 56.20 61.20 79.20 44.20 53.60 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga Pe rs en ta se (% ) Tidak Ya

Gambar 75. Karakteristik Pemilikan Kasur Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

70.90 66.70 67.90 81.40 77.50 79.20 61.60 56.20 57.20 70.80 82.70 79.60 29.10 33.30 32.10 18.60 22.50 20.80 38.40 43.80 42.80 29.20 17.30 20.40 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total Tidak Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga Pe rs en ta se (% ) Tidak Ya

Gambar 76. Karakteristik Pemilikan Ternak Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

(35)

7.1.5 Karakteristik Konsumsi

Melihat dari kemampuan rumahtangga untuk mengkonsumsi daging/ayam/ikan/telur selama seminggu yang lalu di Desa Babakan Keusik sudah cukup baik, terlihat dari kelompok rumahtangga miskin hanya 20.60 persen saja yang tidak mengkonsumsi. Kemampuan rumahtangga untuk mengkonsumsi daging/ayam/ikan/telur selama seminggu yang lalu di Desa Bulagor juga sudah cukup baik, terlihat dari kelompok rumahtangga miskin hanya 31.20 persen saja yang tidak dapat mengkonsumsi daging/ayam/ikan/telur selama seminggu yang lalu.

Sementara itu di Desa Sudimanik masih buruk, terlihat sebanyak 60.10 persen yang tidak mengkonsumsi daging/ayam/ikan/telur selama seminggu yang lalu sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin hanya 19.80 persen. Begitu pula di Desa Cikalong masih buruk, terlihat dari kelompok rumahtangga miskin hanya 72.10 persen saja yang tidak mengkonsumsi daging/ayam/ikan/telur selama seminggu yang lalu. Karakteristik konsumsi daging menurut kelompok rumahtangga dapat dilihat pada Gambar 77.

11.80 20.60 18.10 10.80 31.20 22.40 19.80 60.10 52.70 7.50 72.10 54.90 88.20 79.40 81.90 89.20 68.80 77.60 80.20 39.90 47.30 92.50 27.90 45.10 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total Tidak

Miskin

Miskin Total

Babakan Keusik Bulagor Sudimanik Cikalong

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Tidak Ya

Gambar 77. Karakteristik Konsumsi Daging/Ayam/Telur/Ikan Satu Minggu yang Lalu Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

(36)

Kemampuan membeli pakaian satu stel untuk kelompok rumahtangga miskin tidak miskin untuk di empat desa seperti ditunjukkan oleh Gambar 78 sudah cukup baik, terlihat 100 persen rumahtangga tidak miskin mampu membeli pakaian minimal satu stel dalam satu tahun. Sementara itu untuk rumahtangga miskin tidak semua rumahtangga dapat membeli. Rumahtangga miskin di Desa Babakan Keusik sebesar 84.60 persen yang dapat membeli pakaian, di Desa Bulagor sebesar 69.90 persen, di Desa Sudimanik sebesar 63.30 persen sementara itu di Desa Cikalong rumahtangga miskin yang mampu membeli pakaian satu stel sebesar 34.50 persen. 0.00 15.40 10.90 0.00 30.10 17.10 0.00 36.70 30.00 0.00 65.50 48.00 100.00 84.60 89.10 100.00 69.90 82.90 100.00 63.30 70.00 100.00 34.50 52.00 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Tidak M is kin

M is kin Total Tidak M is kin

M is kin Total Tidak M is kin

M is kin Total Tidak M is kin

M is kin Total

Babakan Keus ik Bulagor Sudimanik Cikalong Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Tidak Ya

Gambar 78. Konsumsi Minimal Satu Stel Pakaian Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin

7.1.6 Karakteristik Ketenagakerjaan

Lapangan usaha kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Babakan Keusik seperti ditunjukkan oleh Gambar 79, masih didominasi oleh sektor pertanian. Sekitar 52.70 persen rumahtangga miskin di Desa Babakan Keusik bermata pencaharian di sektor pertanian sedangkan pada kelompok

(37)

rumahtangga tidak miskin sebesar 48.30 persen. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor jasa sebanyak 9.50 persen sedangkan untuk kelompok rumahtangga yang tidak miskin sebanyak 12.30 persen. Sementara itu, sebanyak 11.50 persen rumahtangga miskin tidak bekerja sedangkan pada rumahtangga tidak miskin yang tidak bekerja sebanyak 12.30 persen.

16.30 19.60 18.60 48.30 52.70 51.40 1.000.501.50 0.201.201.40 0.401.001.40 6.40 3.20 4.20 1.50 0.60 0.90 12.30 9.50 10.30 12.30 11.50 11.70 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % )

Lainnya Pertanian Pertambangan dan penggalian

Industri/kerajinan Konstruksi/bangunan Perdagangan

Angkutan, pergudangan dan komunikasi Jasa-jasa Tidak bekerja

Gambar 79. Lapangan Usaha dari Pekerjaan Utama Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

Lapangan usaha kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Bulagor seperti ditunjukkan oleh Gambar 80, masih di dominasi oleh pertanian. Sekitar 58.70 persen rumahtangga miskin di Desa Bulagor bermata pencaharian di sektor pertanian sedangkan pada kelompok rumahtangga tidak miskin sebesar 52.40 persen. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor perdagangan sebanyak 2.80 persen sedangkan rumahtangga tidak miskin sebanyak 4.50 persen. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor jasa sebanyak 2.50 persen, sedangkan untuk kelompok rumahtangga yang tidak miskin sebanyak 8.20 persen. Sementara itu, sebanyak 11.50 persen rumahtangga miskin

(38)

tidak bekerja sedangkan pada rumahtangga tidak miskin yang tidak bekerja sebanyak 4.10 persen. 19.30 18.80 19.00 52.40 58.70 56.00 2.603.301.504.504.10 2.201.401.102.800.80 2.402.201.303.502.20 8.20 2.50 5.00 4.10 11.50 8.30 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % )

Lainnya Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri/kerajinan Konstruksi/bangunan Perdagangan

Angkutan, pergudangan dan komunikasi Jasa-jasa Tidak bekerja

Gambar 80. Lapangan Usaha dari Pekerjaan Utama Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

Lapangan usaha kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Sudimanik seperti ditunjukkan oleh Gambar 81, masih di dominasi oleh sektor pertanian. Sekitar 56.50 persen rumahtangga miskin di Desa Bulagor bermata pencaharian di sektor pertanian, sedangkan pada kelompok rumahtangga tidak miskin sebesar 44.20 persen yang bekerja di sektor pertanian. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor jasa sebanyak 18.10 persen sedangkan untuk kelompok rumahtangga yang tidak miskin sebanyak 18.60 persen saja yang bekerja di sektor jasa. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor perdagangan sebanyak 5.80 persen sedangkan pada rumahtangga tidak miskin yang bekerja di sektor perdagangan sebanyak 14.00 persen. Sementara itu, sebanyak 9.40 persen rumahtangga miskin tidak bekerja sedangkan pada rumahtangga tidak miskin yang tidak bekerja sebanyak 10.50 persen.

(39)

8.10 5.20 5.80 44.20 59.30 56.50 0.000.001.20 0.300.300.80 0.200.200.90 14.00 5.80 7.30 2.301.20 0.800.00 1.100.20 18.60 18.10 18.20 10.50 9.40 9.60 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

Tidak Miskin Miskin Total

Status Rumahtangga P er se n ta se ( % ) Lainnya Pertanian

Industri/kerajinan Listrik, gas dan air

Konstruksi/bangunan Perdagangan

Angkutan, pergudangan dan komunikasi Keuangan

Jasa-jasa Tidak bekerja

Gambar 81. Lapangan Usaha dari Pekerjaan Utama Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Lapangan usaha kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Cikalong, masih di dominasi oleh sektor pertanian. Sebesar 37.00 persen rumahtangga miskin di Desa Cikalong bermata pencaharian di sektor pertanian, sedangkan pada kelompok rumahtangga tidak miskin sebesar 45.80 persen. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor jasa sebanyak 36.40 persen sedangkan untuk kelompok rumahtangga yang tidak miskin sebanyak 23.30 persen saja yang bekerja di sektor jasa. Jumlah rumahtangga miskin yang bekerja di sektor perdagangan sebanyak 1.20 persen sedangkan rumahtangga tidak miskin yang bekerja di sektor jasa sebanyak 6.70 persen. Sementara itu, sebanyak 15.5 persen rumahtangga miskin tidak bekerja sedangkan pada rumahtangga tidak miskin yang tidak bekerja sebanyak 12.5 persen. Lapangan usaha kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Cikalong secara lengkap disajikan pada Gambar 82.

(40)

11.00 8.50 8.70 55.00 37.00 39.30 0.000.001.00 0.600.300.30 0.400.200.40 8.00 1.20 2.70 2.00 0.30 0.70 28.00 36.40 0.33 15.00 15.50 14.70 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

Tidak Miskin Miskin Total Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) Lainnya Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri/kerajinan Konstruksi/bangunan Perdagangan Angkutan, pergudangan dan komunikasi Jasa-jasa Tidak bekerja

Gambar 82. Lapangan Usaha dari Pekerjaan Utama Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

Nurmanaf, et al. (2000) menyatakan bahwa jenis kegiatan utama rumahtangga miskin adalah kegiatan di sektor pertanian, khususnya buruh tani. Sedangkan kegiatan di sektor luar pertanian cenderung melakukan jenis kegiatan yang mengandalkan tenaga fisik seperti buruh industri, buruh bangunan, dan buruh angkutan. Sementara itu, sumber pendapatan rumahtangga miskin di pedesaan berasal dari berbagai sumber (dua hingga tiga sumber). Sektor pertanian (usahatani dan buruh tani) merupakan sumber pendapatan yang dominan disusul oleh buruh di sektor luar pertanian.

7.1.7 Karakteristik Pengeluaran Rumahtangga

Proporsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran menjadi salah satu indikator yang cukup sensitif untuk melihat kecukupan pendapatan dirumahtangga. Apabila persentase pengeluaran makanan sudah mencapai 80.00 persen lebih maka itu menunjukkan daya beli rumahtangga terbesar hanya untuk kebutuhan makanan saja, yaitu kebutuhan dasar untuk hidup, sementara untuk

(41)

kebutuhan non makanan seperti pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi dan lainnya hanya dapat dialokasikan maksimum 20.00 persen dari total pendapatannya.

Sangat menarik untuk dianalisis, persentase pengeluaran makan terhadap total pengeluaran di Desa Babakan Keusik pada kelompok rumahtangga tidak miskin yang persentasenya lebih besar dari 80.00 persen cukup tinggi yaitu 35.20 persen. Kelompok rumahtangga tidak miskin yang proporsi pengeluaran untuk makanan kurang dari 50.00 persen mencapai 30.10 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki persentase pengeluaran untuk makanan lebih dari 80.00 persen dari total pengeluaran adalah sebanyak 41.70 persen. Sementara itu rumahtangga miskin yang memiliki proporsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran kurang dari 50.00 persen adalah sebesar 29.59 persen. Proporsi pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran menurut kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Babakan Keusik secara lengkap ditunjukkan oleh Gambar 83. 30.10 26.35 27.43 15.82 15.35 15.49 9.189.69 8.717.88 8.858.41 5.61 14.11 11.65 29.59 27.59 28.17 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

T idak miskin Miskin T otal

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) < 50 50 - 59 60 - 69 70 - 79 80 - 89 > 90

Gambar 83. Proporsi Makanan Terhadap Total Pengeluaran Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik

(42)

Persentase pengeluaran makan terhadap totalnya di Desa Bulagor pada kelompok rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase lebih besar dari 80.00 persen cukup tinggi yaitu 51.16 persen. Rumahtangga miskin yang persentase pengeluaran untuk makanan lebih dari 80.00 persen dari total pengeluaran adalah sebanyak 61.10 persen. Proporsi makanan terhadap total pengeluaran menurut kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Bulagor secara lengkap ditunjukkan oleh Gambar 84.

21.32 14.99 17.69 8.53 3.46 5.62 9.309.69 10.0910.37 9.7510.08 13.95 19.31 17.02 37.21 41.79 39.83 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

T idak miskin Miskin T otal

Status Rumahtangga P e rs e n ta se ( % ) < 50 50 - 59 60 - 69 70 - 79 80 - 89 > 90

Gambar 84. Proporsi Makanan Terhadap Total Pengeluaran Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Bulagor

Persentase pengeluaran makan terhadap totalnya di Desa Sudimanik pada kelompok rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase lebih besar dari 80.00 persen cukup tinggi yaitu 57.65 persen. Untuk rumahtangga miskin yang persentase pengeluaran untuk makanan lebih dari 80.00 persen dari total pengeluaran adalah sebanyak 62.20 persen. Proporsi makanan terhadap total pengeluaran menurut kelompok rumahtangga miskin dan tidak miskin di Desa Sudimanik secara lengkap ditunjukkan oleh Gambar 85.

(43)

2 .3 53 .5 3 1 .8 8 1 .9 7 5 .9 0 5 .4 6 1 1 .7 6 1 1 .5 3 1 1 .5 7 2 4 .7 1 1 8 .5 0 1 9 .6 5 3 2 .9 4 3 2 .1 7 3 2 .3 1 2 4 .7 1 3 0 .0 3 2 9 .0 4 0 .0 0 5 .0 0 1 0 .0 0 1 5 .0 0 2 0 .0 0 2 5 .0 0 3 0 .0 0 3 5 .0 0

T idak m isk in M isk in T o t al

St at us Rum ah t an gga P e rs e n ta se ( % ) < 5 0 5 0 - 5 9 6 0 - 6 9 7 0 - 7 9 8 0 - 8 9 > 9 0

Gambar 85. Proporsi Makanan Terhadap Total Pengeluaran Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Sudimanik

Persentase pengeluaran makan terhadap totalnya di Desa Cikalong pada kelompok rumahtangga tidak miskin yang memiliki persentase untuk makanan lebih besar dari 80.00 persen hanya sebesar 17.54 persen. Rumahtangga miskin yang memiliki persentase pengeluaran untuk makanan lebih dari 80.00 persen dari total pengeluaran adalah sebanyak 30.70 persen. Proporsi makanan terhadap total pengeluaran menurut kelompok rumahtangga di Desa Cikalong ditunjukkan oleh Gambar 86. 1 0 .5 3 6 .6 5 7 .6 7 1 4 .0 4 5 .0 6 7 .4 4 3 5 .0 9 2 0 .8 9 2 4 .6 5 2 2 .8 1 3 6 .7 1 3 3 .0 2 1 1 .4 0 2 4 .6 8 2 1 .1 6 6 .1 4 6 .0 1 6 .0 5 0 .0 0 5 .0 0 1 0 .0 0 1 5 .0 0 2 0 .0 0 2 5 .0 0 3 0 .0 0 3 5 .0 0 4 0 .0 0

T idak m isk in M isk in T o t al

St at us Rum ah t an gga P e rs e n ta se ( % ) < 5 0 5 0 - 5 9 6 0 - 6 9 7 0 - 7 9 8 0 - 8 9 > 9 0

Gambar 86. Proporsi Makanan Terhadap Total Pengeluaran Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong

(44)

7.2 Faktor Penciri dan Karakteristik Kemiskinan Rumahtangga Berdasarkan Hasil Analisis CHAID

7.2.1 Faktor Penciri dan Karakteristik Kemiskinan Rumahtangga di Desa

Babakan Keusik

Berdasarkan hasil analisis CHAID diperoleh 12 peubah yang signifikan mencirikan kemiskinan atau berperan memisahkan karakteristik kemiskinan di Desa Babakan Keusik. Ke-12 peubah tersebut adalah luas lantai per kapita, kemampuan membeli pakaian, jenis lantai, sumber air minum, sumber penerangan, kemampuan konsumsi lauk, punya persediaan makanan, proporsi pengeluaran makanan, hewan ternak, usaha rumahtangga, luas lahan sawah/ladang/kebun dan pendidikan kepala rumahtangga. Sementara itu Kemala et al. (1991) menyatakan bahwa kemiskinan sering digambarkan oleh satu atau kombinasi dari: tingkat pendidikan yang rendah, indeks mutu hidup yang rendah (tingkat kesehatan dan perubahan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah).

Penyebab dari kemiskinan ini dapat berupa isolasi daerah akibat sarana dan prasarana yang kurang memadai. Disamping itu sumberdaya alam, seperti rendahnya produktivitas lahan dan ketersediaan air untuk kebutuhan pengairan dan rumahtangga, tatanan kelembagaan yang menyebabkan timpangnya pemilikan faktor produksi. Rahmawati (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi peluang suatu rumahtangga berada dalam kemiskinan adalah jumlah anggota rumahtangga yang termasuk tenaga kerja, umur, pendidikan, jenis kelamin dan pendapatan.

Pada dendogram, proses pemisahan peubah-peubah yang signifikan dilakukan secara berhieraki. Peubah yang dibelah langsung dari peubah akar merupakan peubah yang paling berperan dalam memisahkan karakteristik peubah

(45)

akarnya. Kemudian peubah yang telah di belah ini akan melakukan pembelahan lagi secara berhierarki sampai tidak ada lagi peubah yang berperan di dalamnya (tidak ada pembelahan lagi). Luas lantai per kapita adalah peubah yang paling berperan dalam memisahkan karakteristik kemiskinan rumahtangga di Desa Babakan Keusik. Sedangkan peubah terakhir yang berperan adalah pendidikan Kepala Rumahtangga (KRT).

Hasil analisis CHAID menunjukkan bahwa terdapat 17 kategori (simpul) pada 12 peubah yang tidak melakukan pembelahan lagi. Ke-17 kategori tersebut adalah luas lantai perkapita kurang dari 8.1 m2, tidak mampu membeli pakaian, sumber penerangan bukan listrik, sumber penerangan listrik, tidak punya persediaan makanan (dua kategori), punya persediaan makanan (dua kategori), punya hewan ternak (dua kategori), tidak memiliki hewan ternak (dua kategori), sumber air minumnya bersih, sumber air minumnya tidak bersih, usaha KRT di non pertanian, pendidikan KRT tidak/belum tamat SD serta pendidikan KRT tamat SD ke atas. Ke-17 kategori tersebut akan membentuk sebanyak 17 kelompok rumahtangga yang memiliki karakteristik berbeda.

Tabel 46. Karakteristik Kemiskinan Desa Babakan Keusik

No. Karakteristik Rumahtangga Miskin Tidak

Miskin Total

1 Memiliki luas lantai perkapita kurang dari 8.1 m2 287 (98.3%) 5 (1.7%) 292 (41.8%) 2 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1

m2 dan tidak mampu membeli pakaian

53 (100%) 0 (0%) 53 (7.6%) 3 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1

m2, mampu membeli pakaian, jenis lantainya tanah, sumber air minum tidak bersih, penerangan rumahnya dari non PLN

52 (100%) 0 (0%) 52 (7.4%)

4 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantainya tanah, sumber air minum tidak bersih, penerangan rumahnya dari PLN

1 (20%) 4 (80 %) 5 (0.7%)

(46)

Tabel 46. Lanjutan

No. Karakteristik Rumahtangga Miskin Tidak

Miskin Total

5 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai tanah, sumber air minum tidak bersih, tidak mampu mengkonsumsi lauk, dan tidak punya persediaan makanan 17 (100%) 0 (0%) 17 (2.4%)

6 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai tanah, sumber air minum tidak bersih, tidak mampu mengkonsumsi lauk, dan punya persediaan makanan 6 (50%) 6 (50%) 12 (1.7%)

7 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai tanah, sumber air minum tidak bersih, mampu mengkonsumsi lauk, tidak punya persediaan makanan 2 (13.3%) 13 (86.7%) 15 (2.1%)

8 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai tanah, sumber air minum tidak bersih, mampu mengkonsumsi lauk, punya persediaan makanan

29 (55.8%) 23 (44.2%) 52 (7.4%)

9 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan lebih dari 80 persen, tidak memiliki hewan ternak

9 (10.8%) 74 (89.2%) 83 (11.9%)

10 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan lebih dari 80 persen, memiliki hewan ternak

0 (0%) 26 (100%) 26 (3.7%)

11 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, tidak punya persediaan makanan, sumber air minum tidak bersih

2 (28.6%) 5 (71.4%) 7 (1%)

12 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, tidak punya persediaan makanan, sumber air minum bersih

11 (100%) 0 (0%) 11 (1.6%)

13 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, usaha KRT di non pertanian 5 (14.7%) 29 (85.3%) 34 (4.9%)

14 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, Usaha KRT di pertanian, luas sawah kurang dari 0.05 ha, pendidikan KRT tidak/belum tamat SD

12 (100%) 0 (0%) 12 (1.7%)

(47)

Tabel 46. Lanjutan

No. Karakteristik Rumahtangga Miskin Tidak

Miskin Total

14 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, Usaha KRT di pertanian, luas sawah kurang dari 0.05 ha, pendidikan KRT tidak/belum tamat SD 12 (100%) 0 (0%) 12 (1.7%)

15 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, Usaha KRT di pertanian, luas sawah kurang dari 0.05 ha, pendidikan KRT tamat SD ke atas 2 (40%) 3 (60%) 5 (0.7%)

16 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, Usaha KRT di pertanian, luas sawah lebih dari 0.05 ha, tidak memiliki hewan ternak

7 (58.3%) 5 (41.7%) 12 (1.7%)

17 Memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2, mampu membeli pakaian, jenis lantai bukan tanah, pengeluaran makanan kurang dari 80 persen, punya persediaan makanan, Usaha KRT di pertanian, luas sawah lebih dari 0.05 ha, memiliki hewan ternak

0 (0%) 10 (100%) 10 (1.4%) Total 495 (70.9%) 203 (29.1%) 698 (100%)

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS

Berdasarkan dendogram analisis CHAID, dihasilkan 17 karakteristik yang mencirikan kemiskinan di Desa Babakan Keusik. Ke-17 karakteristik tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok rumahtangga yang memiliki luas lantai perkapita kurang dari 8.1 m2 dan yang memiliki luas lantai perkapita lebih dari 8.1 m2. Tabel 44 menunjukkan karakteristik rumahtangga nomor satu adalah karakteristik rumahtangga yang memiliki luas lantai perkapita kurang dari 8.1 m2 sedangkan karakteristik nomor dua sampai dengan 16 adalah kelompok rumahtangga yang memiliki luas lantai per kapita lebih dari 8.1 m2.

Gambar

Tabel  45. Status Rumahtangga  di  Kabupaten  Pandeglang  Berdasarkan  Survei BLT, Tahun 2006
Gambar 39. Jumlah  Anggota Rumahtangga  Menurut Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik
Gambar 42. Jumlah  Anggota Rumahtangga  Menurut    Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Cikalong
Gambar 43. Jumlah Balita Menurut  Kelompok Rumahtangga Miskin dan Tidak Miskin di Desa Babakan Keusik
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keputusan desain : Dari analisis yang dilakukan dengan membandingkan produk kompetitor, dihasilkan keputusan desain untuk perancangan alat pengolah sampah kemasan

Oleh karena itu, pihak manajemen Perusahaan Konveksi Goldman Kudus dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja karyawannya perlu memperhatikan masalah yang

satu jawaban yang paling tepat; (c) soal uraian/esai disusun berdasarkan prinsip karakter jawaban esai terdiri atas empat jenis yakni jawaban pasti, jawaban

2. Post- test ini diberikan sebagai data hasil belajar siswa yang diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung. Tes ini untuk mengetahui sejauh mana hasil

Dari permasalahan tersebut diusulkan sebuah metode baru yaitu seeded region growing pada ruang warna HSI untuk segmentasi citra ikan tuna, dengan parameter

Sebagai bentuk ekspresi dalam kehidupan kita, humor dibagi men- jadi tiga jenis yakni (1) humor personal, yaitu kecenderungan tertawa pada diri kita, misalnya

Menurut Mel Silberman (2009: 251) strategi pembelajaran aktif College Ball yaitu siswa belajar berkelompok dengan mendiskusikan materi dan tugas-tugas matematika,

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang terbangun di kawasan pesisir Kota Manado antara arahan dalam RTRW Kota Manado 2010-2030