THE
NEW
NORMAL
L I F E A F T E R C O V I D - 1 9
YUSWOHADY | FARID FATAHILLAH | AMANDA RACHMANIAR
FAMILY LIFE
1. Family Is Living in Anxiety 2. Insurance Becomes Necessity 3. Deeper Family Bond 4. Healthy Is the New Caring 5. Comeback of Homecooking 6. Work-Life-Play Balance
URBAN LIFE & THE CITY
7. End of the City as We Know It 8. De-densication, De-urbanization 9. Healthy & Greener City 10. Digital City
11. Pandemic-Resilient Urban Planning 12. Changing Street
13. New Modal Mix 14. More Localized City 15. Private Car Wins (Again) 16. Rise of Cycling & Pedestrian 17. Urban Farming & Gardening 18. Open Public Space Winback 19. Community Involvement 20. Reduced Ofce Space
39. Shop Local 40. Close-Loop Shopping 41. Go Hygiene, Go Fresh 42. Store Going Omni
43. Health & Safety Condence Is a Must 44. Appointment-Only Shopping 45. Personal Shopping Assistant 46. Sameday, Contactless Delivery 47. Cashierless Store
48. AR/VR Shopping Revolution
WORKING & PROFESSIONAL LIFE
49. Permanently WFH 50. Local Coworking Space Rises 51. Six-Feet Ofce
52. Employer Branding Is Key 53. Reskilling Talent 54. Rethinking Meetings 55. Remote Recruiting
56. "Working @ Home" Jobs Thrive 57. Digital (Remote) Leadership 58. Zoom Fatigue
59. Zoomable WFH Setup
LEARNING & SCHOOLING
60. The "New" School 61. Online+Home Schooling 62. Parent-Based Learning 63. From Teacher to Peers 64. Online Learning Readiness Turmoil 65. Shorter School Day
66. Digital Skill Is a Must 67. The MOOCs Revival
LEISURE & TRAVELLING
68. Touchless Travelling 69. The "New" Hotel 70. Hygiene Is the New Green 71. Nature Will Triumph 72. Space Is the New Luxury 73. The Boom of Staycation 74. Micro Tourism
75. The Growth of Local Tourism 76. Bali Revival & Social Capital 77. The Fall of Senior Travellers 78. Self-Guided Tours 79. Hot Deals Everywhere
THE NEW
NORMAL
LIFE AFTER
COVID-19
P R E D I C T I O N S
SOCIAL & RELIGIOUS LIFE
21. Empathic Society 22. Constantly-Fear Citizen 23. Low-Trust Society 24. The New Face of Crimes 25. Social Distance/Virtual Prayer 26. Funeral: Return of Ukuqhusheka
DIGITAL LIFE & PRIVACY
27. Welcome to the Virtual Century 28. Digital Banking
29. Catalyst for Telemedicine 30. The Rise of Robot 31. Cashless Society 32. Health Surveillance 33. Mobility Data Tracking 34. Cybersecurity Threats 35. Automated Social Control
SHOPPING & CONSUMING
36. Cut Spending for Non-Essentials 37. Online Shopping Deepening 38. "Look, Don't Touch" Shopping
80. Rise of Wellness 81. Virtual MICE 82. Minimalist Interior Hotel 83. Rural & Remote = Luxury Escapes 84. Digital Nomad Is the New Travel Trend
ENTERTAINMENT
85. The Rise of Loneliness & Depression 86. Streaming Services
87. Drive-In Cinema 88. Rise of Animation Movie 89. Micrashell for Partygoers 90. Virtual Concert
91. The Rise of Game Console & Esports 92. Return of TV Viewership
FLYING & AIRPORT
93. Flying Gets Expensive 94. Airplane Design Redened 95. Inight Meals Is a Thing of the Past 96. Digital Health Passport 97. Airport Health & Safety Is a Norm 98. Goodby Long, Crowded Lines 99. Contactless, Self-Service 100. Digital Airport
CONTENT
#1. FAMILY IS LIVING IN ANXIETY
Krisis COVID-19 membuat keluarga hidup dalam
ketidakpastian dan selalu dibayangi oleh
kecemasan. Beban pekerjaan selama WFH,
ancaman PHK, dan ekonomi tidak stabil
berpotensi menciptakan stres tinggi.
Fokus utama mereka adalah menyelamatkan diri
dan keluarga dari ancaman resesi. Pengeluaran
ditekan semaksimal mungkin dan dialihkan
untuk dana darurat jika hal buruk menimpa.
Survei dari McKinsey menunjukkan, masyarakat
Indonesia menjadi lebih berhati-hati dalam
melakukan konsumsi. Sebabnya gampang
ditebak, dalam kondisi tidak menentu seperti
sekarang mereka cemas akan masa depan yang
tidak menentu.
Melihat situasi saat ini, dana darurat lebih
penting dibandingkan konsumsi yang sifatnya
non-esensial. Dana darurat ini sekaligus
difungsikan untuk mengantisipasi ancaman
resesi global.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 0 5 Sumber: McKinsey & Company
INSURANCE
BECOMES
NECESSITY
Salah satu consumer megashift dengan adanya pandemi adalah apa yang kami sebut “back to bottom of pyramid” yaitu prioritas kebutuhan konsumen kembali kepada kebutuhan dasar, di antaranya kesehatan dan keselamatan jiwa. Ketika ancaman terhadap kesehatan dan nyawa terus mengintai di tengah pandemi, maka prioritas konsumen kini bergeser ke keselamatan jiwa. Tak heran jika kini asuransi terutama kesehatan dan jiwa menjadi semakin krusial. Insurance becomes a necessity.
Dengan risiko kesehatan dan kematian yang melonjak oleh adanya pandemi, maka kami memperkirakan kesadaran masyarakat kita akan pentingnya asuransi akan meningkat pesat.
Kesadaran ini akan didorong oleh agresifnya perusahaan asuransi yang menawarkan produk-produk asuransi yang di-customized untuk kebutuhan proteksi dari ancaman COVID-19 seperti yang dikeluarkan Prudential. Apa yang kami sebut: “Coronasurance”.
COVID-19 will accelerate the insurance awareness in Indonesia.
Mereka akan mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan yang non-esensial. Sebaliknya, mereka mengalokasikan uangnya untuk kebutuhan-kebutuhan penunjang kesehatan dan keselamatan jiwa, termasuk salah satunya adalah asuransi.
Tingkat kesadaran berasuransi di Indonesia selama ini berlangsung lambat, dimana tercatat baru 6% dari seluruh warga Indonesia yang memanfaatkan asuransi. Sebabnya bisa ditebak, karena asuransi adalah kebutuhan masa depan, tidak mendesak. Di samping itu kebanyakan masyarakat kita menganggap asuransi sebagai biaya, bukan investasi masa depan.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 0 6
#3.
DEEPER
FAMILY BOND
Misalnya saja, seseorang bekerja selama 8jam per hari dengan durasi perjalan dari rumah ke tempat kerja kurang lebih 1 jam. Setidaknya dalam waktu satu hari, 40% waktu dihabiskan di luar rumah sehingga sulit sekali mencari waktu untuk ngobrol santai dengan keluarga. Ketika mayoritas waktu dilakukan di rumah, antaranggota keluarga bisa lebih berinteraksi. Tentu hal ini akan sulit terjadi di kondisi normal. Khususnya bagi masyarakat urban di kota-kota besar. Sisi positif dari krisis COVID-19 adalah terciptanya hubungan keluarga yang semakin erat.
Setelah lebih dari dua bulan mulai beradaptasi dengan stay at home lifestyle. Antaranggota keluarga mulai
membangun sense of togetherness. Apapun masalah yang dihadapi keluarga selalu ada yang menemani.
Studi dari McKinsey menunjukkan, para eksekutif di China mengaku dekat dengan keluarga dan hal ini membantu mereka untuk lebih memahami emosi dan dukungan yang dibutuhkan saat mengalami masalah di tempat kerja.
Namun kini manfaat skala ekonomi itu menjadi antitesis ketika padatnya kota menghasilkan handikap mendasar yaitu risiko kesehatan dan kematian yang amat besar oleh adanya wabah. Karena itu pasca pandemi pemerintah kota dan urban planner akan kian mengarahkan perencanaan kota dengan mengurangi tingkat kepadatannya. Tujuannya jelas, untuk mengantisipasi serangan-serangan virus kini dan di masa-masa mendatang.
Tak hanya itu, kota pasca pandemi juga tak lagi semenarik dulu sebagai sasaran gelombang urbanisasi karena kota-kota padat penduduk akan kini kian tak aman untuk tempat bermukim. Sudah terbukti saat ini bahwa kota-kota yang menjadi sasaran empuk COVID-19 adalah kota-kota metropolitan padat penduduk. Asumsi dasar keunggulan kepadatan (density) kota adalah skala ekonomi (economies of scale). Ketika sebuah kota padat dan memiliki jumlah penduduk yang besar maka semua layanan kota menjadi sangat baik dan efisien. Warga kota akan mendapatkan pelayanan berbelanja di toko, akses air, listrik, sanitasi, pelayanan kesehatan, juga pekerjaan dan hiburan/pertunjukkan yang terbaik dan terjangkau.
Dengan menguatnya tren WFH, remote working, dan gig economy dimana karyawan bisa kerja di manapun tanpa harus berkantor di pusat kota, maka kawasan-kawasan seperti suburban, second city, third city, bahkan rural semakin menarik menjadi tempat bermukim. Hal ini menjadi faktor disinsentif bagi masyarakat untuk berurbanisasi.
DE-DENSIFICATION
DE-URBANIZATION
#8
#13. NEW MODAL MIX
Itu untuk kelas menengah-atas. Untuk warga kota di strata yang lebih bawah, penggunaan sepeda motor akan kian populer. Alasannya jelas, dibandingkan dengan angkutan massal sepeda motor memiliki risiko penularan COVID-19 yang lebih kecil.
Taksi (baik konvensional maupun online) memiliki risiko penularan virus yang lebih rendah dibanding transportasi massal, namun masalahnya di harga yang mahal, apalagi kalau untuk kebutuhan transportasi rutin sehari-hari.
Moda transportasi lain adalah mocromobility yaitu alternatif moda transportasi untuk jarak pendek dan kecepatan rendah di bawah 25 Km/jam (sepeda, skuter, jalan kaki). Pilihan rasionalnya adalah sepeda. Karena itu di new normal tren bike to work bakal makin kencang lagi di kota-kota besar Tanah Air.
Yang jelas penggunaan moda transportasi massal (mass transit) seperti bussway, MRT, LRT, atau communter line akan berkurang mengingat warga kota takut kerumunan massa di moda transportasi ini merupakan medium penularan virus yang sangat rawan.
Modal mix atau bauran penggunaan moda transportasi warga kota untuk menjalankan aktivitas sehari-hari juga akan berubah dengan adanya wabah COVID-19.
Kalau penggunaan transportasi massal berkurang lalu akan dikompensasi dengan apa? Di kota-kota besar di Indonesia kemungkinan paling besar akan beralih ke kendaraan pribadi. Tak mengherankan, mengingat “kecanduan” penggunaan mobil pribadi di Indonesia sangat tinggi. Kalau betul beralih ke kendaraan pribadi, maka kita akan menyongsong problem kemacetan yang lebih serius.
Ojek online yang sebelum pandemi begitu populer memiliki risiko menularkan virus yang cukup besar. Karena itu minat warga kota tak akan setinggi sebelumnya. Mereka akan lebih prefer menggunakan motor sendiri
Ketakutan kepada virus rupanya mengubah secara drastis pola mobilitas dan pilihan moda transportasi masyarakat.
Euforia angkutan massal moderen seperti MRT, LRT, commuter line, dan
bussway yang tahun-tahun terakhir happening di Jakarta agaknya
mengalami titik balik saat kini pandemi datang. Ya, karena kerumunan di angkutan massal tidak diinginkan demi kepentingan social distancing. Maka mobil pribadi pun menemukan momentum pertumbuhannya kembali sebagai moda yang paling aman dari terjangan COVID-19.
Survei di Cina oleh Ipsos akhir Februari 2020 lalu terhadap 1620 responden menunjukkan, mobil pribadi meloncat dari urutan ketiga ke urutan pertama sebagai moda transportasi yang diinginkan di masa new normal. Survei oleh Kantar di Cina juga mengindikasikan hal serupa.
Bagaimana dengan di Indonesia? Di tengah angkutan umum yang kini sangat berisiko menularkan virus mobil pribadi akan menjadi pilihan rasional bagi masyarakat untuk menangkal serangan COVID-19. Mobil pribadi tak hanya menjadi pilihan menarik untuk ke kantor tapi juga untuk berlibur keluarga mengingat pesawat dan kereta pun dinilai berisiko besar menularkan virus.
Survei itu menemukan, 2/3 responden yang tidak memiliki mobil berkeinginan membeli mobil dalam 6 bulan ke depan. Alasannya, 3 dari 4 orang mengatakan, untuk melindungi diri dari infeksi COVID-19.
#15. PRIVATE CAR WINS (AGAIN)
#21. THE BIRTH OF
EMPATHIC SOCIETY
COVID-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera.
Krisis COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan yang paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar.
Umat manusia di seluruh dunia terketuk hatinya menyaksikan ratusan ribu korban meninggal di seluruh dunia. Begitu banyak orang yang cemas, takut, dan mengalami kesulitan hidup.
Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. COVID-19 melahirkan rasa senasib dan sepenanggungan yang melahirkan tujuan bersama (common goal) untuk melawannya. Tak heran jika rasa empati dan kepedulian berbagai pihak
terhadap nasib sesama tumbuh luas di Tanah Air dan di seluruh dunia. Berbagai gerakan kepedulian dan aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat secara genuine untuk mengurangi penderitaan orang-orang yang terdampak. Rasa simpati yang luar biasa diberikan kepada para nakes yang telah berjuang
menyelamatkan para korban dengan risiko nyawa.
#22. CONSTANTLY-FEAR CITIZEN
Constantly
Fear
Customer
Fear Of Death Fear Of Economic Fear Of Actualiza on Social Distancing Moral Vigilance Social Distrust Lay off Cut of salary Run out of saving Lost interest in social hopeless Feel uselessTakut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar hutang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa.
Di tengah krisis dan ketidakpastian, orang mengalami kekacauan mental healthiness dan
well-being sehingga menjalani sehari-hari dalam
ketakutan.
Pandemic Causes Spike in
Anxiety & Depression
% of U.S. adults showing symptoms of anxiety and/or deprssive disorder*
Symptoms of
anxiety disorder depressive disorderSymptoms of Symptoms of anxietyor dpressive disorde 8.2% 28.2% 6.6% 24.4% 11.0% 33.9%
* Based on self-reported frequency of anxiety and depression symptoms. They are derived from responses to the first two ques on of the eight-item Pa ent Health Ques onnaire (PHQ-2) and the seven-item Generalized Anxiety Disorder (GAD-2) scale.
January-June 2019 May 14-19, 2020
Sumber: statista
Dampaknya, orang akan meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga jarak dan mencurigai setiap orang sebagai sumber penularan virus. Krisis COVID-19 bisa menjadi awal dari social distrust dimana manusia cenderung konformis dan kurang bisa menghargai perbedaan.
Sementara itu, dengan kondisi perekonomian yang penuh ketidakpastian dan risiko, dalam hal konsumsi orang akan lebih berhati-hati dalam
spending dan melakukan penghematan. Less spending means low economic growth.
Ketidakberdayaan mengatasi stres ditambah dengan ekonomi yang terpuruk, ujung-ujungnya orang akan kehilanga self-esteem karena merasa menjadi manusia yang tidak berguna.
LOW-TRUST SOCIETY
social distrust di antara anggota
masyarakat akan semakin tinggi.
Selama vaksin penangkal
COVID-19 belum ditemukan dan
diproduksi secara massal untuk
didistribusikan ke seluruh
pelosok dunia termasuk
Indonesia, maka kami meyakini
kecurigaan dan ketakutan akan
tertular COVID-19 ini akan tetap
berlangsung.
Akibatnya bisa ditebak,
Krisis COVID-19 juga turut
membuat kecurigaan antar warga
meningkat di masyarakat.
Beberapa kasus penolakan
jenazah positif COVID-19 atau
pengusiran tenaga kesehatan
karena takut tertular
menciptakan kondisi yang kami
sebut low-trust society.
Pun terkait isu mudik saat
lebaran, dimana para pemudik
yang berasal dari zona merah
atau daerah dengan tingkat
terjangkit virus tinggi mengalami
penolakan. Menurut survei yang
dilakukan Kementerian Desa,
89% kepala desa menolak
pemudik untuk pulang pada saat
IMPACT ON SHOPPING & OUT-OF-HOME ACTIVITIES
Reduced shopping from
brick & mortar stores
Reduced their ourdoor
entertainment ac vi es
Are ea ng out less
Visit malls less o en
Started working from
home more than before
Increased their online
shopping ac vi es
37%
57%
51%
31%
55%
41%
IMPACT ON SOCIAL MEDIA BEHAVIORS
With need to spend more me indoors than before, online entertainment ac vi es is on the rise. Online gaming, social network browsing and online video streaming are the primary ac vi es engaged in.
Online Games
Social network ac vi es
Online video streaming
Listen to music/ radio programs online
Online reading 44% 7% 48% 2% 38% 5% 55% 2% 36% 6% 52% 5% 27% 6% 60% 8% 21% 7% 55% 17%
INCREASE DECREASE REMAIN UNCHANGED I DONT ENGAGE IN THIS ACTIVITY
Sumber: Nielson, 2020
WELCOME TO THE VIRTUAL CENTURY:
WORKING, LEARNING, PLAYING
Akibatnya, di new normal, gedung-gedung kantor, mal dan tempat perbelanjaan, sekolah, stadion olahraga, bioskop, tempat pertunjukkan akan semakin sepi karena semuanya tergantikan oleh platform digital. So, welcome to the
virtual century.
Riset Nielsen (2020) menunjukkan secara global perubahan perilaku manusia ke arah online learning meningkat 21%, lalu aktivitas entertainment mereka secara digital seperti: online games, social network, online
streaming, dan online music meningkat lebih dari 30%. Di
Singapura, lebih dari 41% pekerja kantoran juga lebih memilih untuk working from home menggunakan perangkat online. Setelah stay at home beberapa bulan masyarakat juga kian terbiasa menikmati hiburan melalui
streaming services dan di kenormalan baru mereka akan
mengurangi menonton bioskop atau pertunjukkan musik
live karena adanya risiko wabah.
COVID-19 menciptakan era baru yang begitu besar dampaknya bagi umat manusia yaitu: ”The Virtual
Century”. Sebuah abad baru dimana semua orang bekerja
(work), belajar (learn), dan bermain/menikmati hiburan (play) dengan menggunakan perangkat digital dan online
platform. Rupanya pandemi mempercepat proses migrasi
digital dan menciptakan “the renaissance of digital
adoption”. Welcome the virtual society.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 3 4
Consumer are accelera ng adop on of digital channels
Most first- me customers (~86%) are sa sfied/ very sa sfied with digital adop on and majority (~75%) plan to con nue using digital post-COVID
% of respondents
Average (All
industries) Banking Grocery Apparel Travel Regular users First me users
17% 33% 51% 21% 51% 73% 31% 30% 61% 13% 31% 45% 6% 31% 37%
Average journey sa sfac on, credit-card customers, %
Shopping for new credit card Opening new credit card Making
purchases Payingbills standing Under-spending Managing credit-card account No fying poten al fraud Managing rewards Resolving
credit-card issue 49 56 74 71 71 65 76 74 71 Source: McKinsey, 2020
#28.
DIGITAL
BANKING GETS
THE MOMENTUM
Data McKinsey (2020) mengenai adopsi digital channel menunjukkan sektor banking merupakan bisnis yang paling tinggi persentase konsumen (51% reguler users, 21%
first-time users) menginginkan adopsi digital channel yaitu
fitur digital banking. Digitalisasi di dunia bank juga
memainkan peran menurunkan penyebaran COVID-19 dengan membantu nasabah mendapatkan layanan secara
remote yang lebih baik di banding bank konvensional.
Bank BCA misalnya, saat ini sudah menutup 30% kantor cabangnya di Jabodetabek. Kantor cabang tidak lagi menjadi point of diferentiation bagi bank karena digerus oleh digital banking. Kantor cabang nantinya tak lagi untuk melayani mass consumer tapi beralih fungsi untk memberikan high-value services ke high-worth consumers. Kita sudah familiar dengan fitur mobile & internet banking
yang memudahkan nasahah dalam bertransaksi, namun COVID-19 membuka gap baru lebih besar di dunia perbankan dimana perusahaan harus mampu
menghadirkan layanan end-to-end solution mereka dalam satu aplikasi & fitur yang berbasis digital. Maka inilah momentum yang tepat untuk perusahaan bank menyalip di tikungan dengan “digital banking”.
Shi in behavior toward digital payment Increase in acceptance for digital payment Increase in new e-commerce users plus higher average spending of exis ng users More retailers adop ng online or omnichannel approach
... Physical stores will rise
... E-commerce will rise
4
to
8
points
1
to
2
points
Digital payment
increases for ...
Spurs to increased adop on for
Consumer
Merchants
5-to-10-percentage-point increase
Es mated percentage
of transac on values
done digitally in 2025
Es mate before COVID-19 Es mate a er COVID-19Note: Digital payment methods include contactless, online, or through apps or wearable devices
57%
67%
Sumber: Bain
Bain & Co (2020) memprediksi bahwa setelah adanya COVID-19, lebih dari 10% masyarakat berpindah melakukan transaksi mereka menggunakan digital payment seperti: E-money,
debit/credit card, online banking, barcode payment, dan jenis
layanan uang digital lainnya.
Hal ini juga didorong oleh beralihnya masyarakat ke online
store dan ecommerce untuk menunjang proses transaksi
konsumen saat mereka hanya bisa di rumah saja. Akibatnya, mereka harus membayar dengan metode cashless. COVID-19 membuat perilaku konsumen semakin berubah,
contactless saat ini menjadi fitur dan layanan yang wajib
disediakan oleh pelaku bisnis ketika melayani konsumen. Salah satunya ialah dengan mengurangi penggunaan uang fisik dan mulai beralih kepada cashless payment.
Cashless society menjadi tren baru di tengah banyaknya kasus
penyebaran virus melalui uang fisik. Di sisi penyedia layanan, fitur digital payment semakin canggih dan beranekaragam sehingga menjadi solusi bagi problem pembayaran apapun secara praktis dan efisien.
Ini adalah hukum pasar saja, ketika pasar membesar maka para pemain berlomba-lomba menyempurnakan layanannya sehingga economies of scale terbentuk dan semua diuntungkan.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 3 8
Not applicable (nothing else needed)
Home supplies
Others
Electronics (for online classes/work from home) Can’t say Mobile phones Books 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 23% 11% 8% 7% 5% 2%
Online retail Local retail
44% 36% 33% 15% 8% 4% 4% Sumber: Statisca
#36.
CUT SPENDING
FOR THE NON
ESSENTIALS
35%8%
SHOP FOR CLOTHES SHOP FOR ELECTRONICS
OCCASIONAL SHOPPING
Occasional intended shopping (clothes and electronics) remain the same
More often Same as before Less often
Source: Nielsen, 2020
57%
31%
7%
61%
Untuk ke depannya, di masa new normal pembelian produk
non-esensial akan mengalami kondisi yang sama dan cenderung statis. Angka pembelian produk non-esensial masih berada di bawah pembelian produk esensial.
Di saat essential good mengalami pelonjakan transaksi, sebaliknya non-essentials goods mengalami pemerosotan, terutama untuk penjualan personal luxury goods.
Di masa new normal orang akan memilih untuk menabung dibandingkan dengan membeli produk berharga tinggi. Konsumen mulai mengatur ulang mengenai prioritas pembelian produk non-esensial. Mengingat di masa pandemi orang mengalami kesulitan finansial dan menjalankan prinsip smart spending.
Perubahan perilaku konsumen yang lebih concern dengan kebersihan dan kesehatan, berbanding lurus dengan pembelian produk grocery dan essential goods yang meroket selama krisis.
Di sisi lain, consumer electronics yang merupakan kebutuhan non-esensial, di awal pandemi mengalami penurunan nilai pasar lebih dari 25%.
Menurut data McKinsey berkolaborasi dengan majalah
Business of Fashion, penjualan personal luxury goods atau high-brand ternama mengalami penurunan sebesar 35-39%, pada periode awal januari hingga maret 2020 dibanding tahun sebelumnya.
ONLINE SHOPPING DEEPENING:
FROM "WANT" TO "NEEDS"
A shift from offline to online spending continues to play out across
almost all categories
Pembelian konsumen pun mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs).
Sehingga kami mengatakan, COVID-19 telah membuat pola belanja konsumen secara online semakin melebar (widening). Konsumen mulai membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari (daily needs) secara online.
Wabah COVID-19 membuat banyak orang berdiam diri di rumah sehingga toko online menjadi salah satu pilihan untuk berbelanja. Seiring dengan meluasnya penerapan physical distancing, maka belanja online menjadi satu alternatif bagi banyak orang.
Tak hanya melebar, dari hanya pembelian barang non-essensial ke barang essensial, COVID-19 juga memaksa konsumen melakukan pembelian online lebih besar (deepening).
Pergeseran ini diprediksi tidak hanya bersifat sementara namun akan permanen membentuk kenormalan baru.
Permintaan tertinggi umumnya ada di produk sehari-hari (home care), groceries dan produk kesehatan seperti vitamin dan produk-produk pencegah penyakit.
#39
SHOP LOCAL
Terputusnya rantai pasokan ekonomi dalam skala global berdampak pada proses produksi dan distribusi barang yang mengalami keterlambatan pengiriman. Terlebih lagi di saat pemberlakuan lockdown di berbagai negara mulai diterapkan.Selain mempertimbangkan waktu pengiriman dan kondisi keamanan barang, perubahan preferensi masyarakat terkait produk lokal juga didasari oleh tindakan masyarakat untuk mendukung brand lokal atau UMKM untuk dapat bertahan dan maju selama krisis ini.
Konsumen lebih memilih produk dengan stok barang yang terjangkau, sehingga pengiriman lebih cepat dan barang masih dalam kondisi aman. Singkatnya tren produk lokal akan mengalami peningkatan penjualan baik selama pandemi maupun setelah pandemi.
Sementara di sisi lain, stok barang, terutama untuk produk kesehatan dan makanan mengalami penipisan sedangkan permintaan barang terus mengalami kenaikan. Akibatnya stok barang kosong, terjadi kelangkaan dan harga barang melambung tinggi.
Contohnya produk pertanian dari Etanee mengalami peningkatan transaksi sebesar 5-7 kali lipat dari biasanya terhitung dari bulan Maret.
Untuk alasan itu, baik perusahaan maupun konsumen menjadi lebih sadar mengenai sumber produksi barang, efeknya, preferensi konsumen mengalami pergeseran.
Figure 1: 74% of Companies Plan to Permanently Shi to More Remote Work Post COVID-19
What percentage of your workforce will remain permanently remote post-COVID who were not remote before COVID?
0% will remain remote 5% will remain remote 10% will remain remote 20% will remain remote 50% will remain remote More than 50%
% of Companies 26% 27% 25% 17% 4% 2% Sumber: Gartner
PERMANENTLY
REMOTE WORKING:
FROM “9 TO 5” TO “3 TO 2”
#49
Di sisi lain, WFH juga berdampak positif bagi operasi perusahaan. Menurut studi dari Gatner, lebih dari 70% perusahaan berkeinginan menerapkan WFH untuk karyawan mereka secara permanen pasca COVID-19.
Setelah berlangsung beberapa bulan, karyawan merasakan mulai nyaman bekerja di rumah (WFH) karena berbagai benefit yang ditawarkan (fleksibilitas waktu, family time yang lebih berarti, produktivitas yang lebih baik, dsb.). Hal ini tentu saja akan menjadi value tersendiri yang bisa ditawarkan perusahaan.
Saat ini, orang mulai aware dengan konsep New Normal. Mereka mulai menerima dan mempersiapkan diri menghadapi kenormalan baru. Termasuk di lingkungan kerja.
Menariknya, hal ini dilakukan tak hanya dalam rangka memenuhi
protokol kesehatan semata, tetapi para CFO juga mulai melihat peluang untuk memangkas overhead perusahaan.
Mungkin tidak sepenuhnya WFH dalam seminggu, tapi terbagi antara kerja di kantor dan rumah. Prediksi kami jam kerja "9-to-5" akan berubah menjadi "3-to-2" yaitu jam kerja 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah dalam seminggu.
Di tengah risiko bisnis yang kian tinggi pasca wabah, operasi perusahaan dituntut semakin "asset-light" dengan memangkas sebanyak mungkin overhead. Maka perusahaan kian terdorong menerapkan WFH secara permanen pasca COVID-19.
To lead their companies’ digital response to the crisis, chief digital officers must act across four dimensions.
Be a resillent leader for the organiza on and your people
Recra the digital strategy and rebalance the product road map Engage with customers now and prepare for the next normal
Scale the use of agile and tools
for accelerated remote delivery
01
02
03
04
Sumber: McKinsey & Company
Four dimensions of CDO leadership
during a crisis
Di momen ini, digital menjadi satu-satunya
senjata agar proses bisnis tetap berjalan seperti
saat kondisi normal. Digital leadership sangat
krusial agar bisa memastikan karyawan bekerja
remote dengan efektif.
Ketika remote working menjadi kenormalan baru,
maka remote leadership menjadi penentu sukses
Percakapan yang bisa dilakukan secara online
mendorong frekuensi berinteraksi antara atasan
dan karyawan menjadi lebih intens. Pengaruh ke
komunikasi juga menjadi tidak bersekat.
Implikasinya komunikasi dengan karyawan
menjadi lebih personal sehingga membantu saat
delivery pekerjaan.
Kunci keberhasilan remote working (WFH)
bergantung pada seberapa adaptif peran leader
dalam memimpin perusahaan di masa krisis.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 6 7
REMOTE
LEADERSHIP
IS THE KEY
#58. ZOOM FATIGUE
Koneksi internet yang tersendat, jadwal video conference marathon, pekerjaan yang menuntut dan keterbatasan komunikasi adalah beberapa masalah yang disebabkan oleh aktivitas video conference.
Selama masa pandemi, aplikasi virtual meeting memang menjadi juru selamat bagi karyawan agar tetap terkoneksi dengan pekerjaan. Sayangnya, jadwal
meeting yang tak terkendali berakibat pada zoom fatigue. Faktor psikologis
yang mendasari yaitu, ketidakberdayaan untuk memaksimalkan performa di depan kamera dan “missing out real people”.
Hasil analisis Google Trends di US selama sepekan (16-23 April 2020) menunjukkan tren pencarian Zoom Fatigue dan Zoom Happy Hour berada di titik yang sama. Grafik ini berbeda jauh dibandingkan pada masa awal pandemi, saat masyarakat masih menikmati euphoria zoom meeting. Ketika orang mengalami zoom fatigue, layanan telepon seluler akan kembali menjadi primadona. Hal ini dikarenakan orang bisa lebih leluasa berbicara dan koneksi internet lebih stabil. Hal yang menarik bagi milenial karena
sebelumnya milenial dikenal sebagai “Generasi Mute”, generasi yang lebih suka chatting daripada telepon.
THE RISE OF
ONLINE+HOME SCHOOLING
THE RISE OF
ONLINE+HOME SCHOOLING
Sumber: Educause Research
Data dari UNESCO menunjukkan, 1,4 juta siswa di seluruh dunia terkena dampak dari krisis COVID-19. Anak-anak diwajibkan belajar di rumah dengan metode
online learning. Pada awalnya, transisi ini tentu
mengalami kendala karena berpuluh tahun, metode belajar dilakukan secara konvensional, yaitu harus tatap muka. Namun, seiring urgensi siswa belajar dan tidak
ada waktu pasti kapan virus berakhir, baik siswa maupun guru harus beradaptasi.
Sisi positifnya, metode belajar secara online dapat mengakselerasi digital skill yang akan sangat dibutuhkan di masa pemulihan ekonomi pasca-krisis COVID-19.
Situasi ini mendorong kebutuhan online-home schooling meningkat. Studi dari Educause, baik siswa maupun guru mulai nyaman dengan sistem belajar online. Salah satu bentuk adaptasinya adalah implementasi blended
learning yang merupakan gabungan antara belajar online dan offline
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 7 2
#61
DIGITAL
SKILL IS
A MUST
Di masa pandemi ini, digital adalah kekuatan utama untuk bertahan. WFH membuat karyawan bekerja secara online, SFH membuat siswa dan guru semakin adaptif dengan teknologi, stay at home lifestyle memaksa bisnis
bertransformasi ke online. Tidak dapat dipungkiri, COVID-19 menjadi akselerator digital.
Prediksi jenis pekerjaan yang akan populer di masa post-COVID akan sangat bergantung pada teknologi. Maka dari itu, digital skill menjadi topik yang wajib diajarkan mulai level pendidikan dasar.
Beberapa sekolah khususnya sekolah swasta sudah
menjadikan digital sebagai kurikulum unggulan jauh sebelum pandemi. Hal ini dilatarbelakangi urgensi dari dunia kerja yang mencari talent dengan keahlian digital.
#66
Sumber: World Economic Forum
Sumber: Class Central
Sebelum ada krisis, MOOCs (Massive Open Online
Course) tumbuh merayap. Namun rupanya bencana
pandemi membangkitkannya.
MOOCs menjadi kebutuhan primer. Pemicu utamanya adalah anak sekolah yang diwajibkan belajar secara
online. Berdasarkan rangking Alexa, situs-situs yang
menawarkan kursus online termasuk dalam situs yang paling banyak dikunjungi selama masa pandemi. Coursera, salah satu penyedia MOOCs mengalami
peningkatan user yang signifikan selama masa pandemi sejak pertama kali dikembangkan 10 tahun lalu. Bisnis edutech termasuk ke dalam bisnis yang diuntungkan dengan adanya krisis COVID-19.
Pengguna MOOCs tidak hanya terbatas pada pelajar saja namun juga untuk kelas pekerja. Riset dari Class Central menunjukkan, topik-topik dalam MOOCs makin variatif. Tidak hanya digital, topik seputar bisnis juga menjadi topik yang paling sering diikuti.
The
“MOOCs”
Revival
Penerapan protokol kesehatan yang ketat dan physical distancing di masa new normal nanti akan mengubah wajah pariwisata beberapa waktu ke depan. Wisatawan akan sebisa mungkin membatasi kontak fisik dan jarak selama melakukan perjalanan demi mengurangi risiko terkena COVID-19 selama melakukan liburan.
Sebelumnya, maskapai penerbangan dan hotel telah berusaha untuk membuat konsumen bermigrasi ke layanan check-in online dan transaksi-transaksi yang bersifat contactless. Namun, seiring dengan semakin massifnya social distancing maka layanan digital yang memungkinkan contactless atau touchless akan dipilih.
Beberapa hotel dan bandara sudah menyediakan konter check-in tanpa kontak, dan outlet ritel telah menawarkan pembayaran secara cashless selama bertahun-tahun; pandemi ini akhirnya mempercepat akselerasi digital pada konsumen.
Tentu saja, pesawat tidak akan dapat terbang tanpa awak dan hotel tidak dapat beroperasi tanpa staf frontline. Namun, di masa new normal mereka akan berusaha mengurangi jumlah transaksi tatap muka dan pengalaman pelanggan intim lainnya dengan menggunakan teknologi untuk menggantikan interaksi langsung, bila memungkinkan.
Namun, penggunaan teknologi untuk menggantikan layanan pelanggan secara langsung akan menjadi tantangan besar bagi perusahaan seperti resort mewah dan maskapai premium yang mengandalkan layanan pribadi dan pengalaman perjalanan intim sebagai keunggulan kompetitif mereka. Namun, para wisatawan akan rela melepaskan human touch sebagai ganti untuk rasa aman.
#68. TOUCHLESS TRAVEL
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 8 0 hawaiianairlines.com
#70. HYGIENE IS THE NEW GREEN
Pun di industrI pariwisata, tren tersebut juga naik dengan semakin sadarnya wisatawan akan kelestarian dan keberlanjutan di destinasi wisata. Namun, dengan adanya wabah COVID-19 tren green tersebut bertambah dengan unsur higienitas yang menjadi prioritas wisatawan saat ini.
Maka di era new normal setelah pandemi COVID-19, “hygiene” akan menjadi “the new green”.
Studi yang dilakukan oleh Pacific Asia Travel Association (PATA) mengonfirmasi prediksi perubahan preferensi ini. Survei lebih dari 1.200 turis di Tiongkok mengkonfirmasi bahwa kesehatan dan keselamatan telah menjadi perhatian utama untuk perjalanan di masa depan.
10 tahun terakhir istilah “green” seakan menjadi mantra yang sakti untuk untuk komunikasi pemasaran. Hal ini terjadi seiring bertumbuhnya konsumen yang semakin sadar akan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan.
Pemerintah dan pengelola destinasi wisata setempat perlu memberlakukan langkah-langkah kesehatan yang lebih ketat dan bukan tidak mungkin memiliki standar seperti sertifikasi ISO yang diberikan kepada fasilitas kesehatan dan kebersihan.
Wisatawan akan lebih peka dengan kebersihan kabin pesawat, kamar mandi hotel, dan restoran. Dengan adanya pandemi ini mereka akan menuntut penerapan protokol kesehatan dan kesehatan seperti desinfektan, ketersediaan produk sanitasi, dan penggunaan masker wajah (serta sarung tangan) oleh frontliner.
8 2 | T h e N e w N o r m a l 1 0 0
Misalnya sebelum pandemi, otoritas pariwisata di Venesia dan Barcelona sudah menyusun kebijakan untuk membatasi cara wisatawan ke kota mereka melalui berbagai kontrol. Untuk museum populer,
landmark, taman hiburan, dan kompleks hiburan dapat menerapkan
skema serupa untuk membatasi akses pada wisatawan.
Melakukan aktivitas solo travelling bisa membantu mengenal lebih dalam tentang diri sendiri dan bakat terpendam yang dimiliki. Selain itu traveller juga bisa mendapatkan perasaan puas setelah
mendapatkan waktu me-time dengan solo travelling.
Contoh lain, bisa berkaca pada pengalaman Kerajaan Bhutan di mana program pariwisata “High Value, Low Impact” yang sangat ketat membatasi kuota wisatawan yang masuk ke negaranya demi melestarikan budaya asli dan lingkungan alamnya.
Dengan begitu, beberapa destinasi yang selama ini populer dikunjungi banyak orang (mass tourism) juga sementara akan dihindari. Karenanya agen-agen perjalanan mungkin akan membatasi ukuran grup yang mereka tampung. Sementara destinasi populer mungkin mulai diberlakukan pembatasan untuk mengelola volume pengunjung dengan lebih baik.
MICRO TOURISM IS THE MAINSTREAM
#74
Pendukung micro tourism mungkin benar selama ini. Selama beberapa dekade, mereka telah memperingatkan kita bagaimana mass tourism telah merusak lingkungan dan mengomersialkan budaya lokal. Karena pandemi, seiring self-social distancing akan menjadi new
normal, wisatawan mungkin masih akan menghindari travelling secara
grup atau rame-rame. Micro tourism bahkan solo travelling akan menjadi pilihan khususnya di generasi milenial. setidaknya sampai COVID-19 benar-benar hilang nanti.
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 8 6
Sumber: Social Pro
Survei dunia mengatakan organisasi penyelamatan hewan mengalami
peningkatan permintaan adopsi hingga 90%. Sementara itu, konteks di Indonesia perilaku mengakses layanan Telehealth untuk konseling psikologi mulai marak. Di Amerika, masa krisis membuat orang lebih sering merasa kesepian. Untuk memperoleh dukungan mental di masa krisis, orang mulai memelihara hewan sebagai teman untuk mendampingi aktivitas sehari-hari.
Masalah yang muncul ketika orang terlalu lama merasa “terkurung” akan mengarah pada depresi dan kesepian. Survei dari McKinsey menunjukkan, masa krisis membuat ikatan keluarga semakin erat dan bisa saling mendukung emosi satu sama lain. Namun, bagaimana dengan orang yang hidup sendiri?
Prevalensi gangguan kesehatan mental tentu akan lebih tinggi pada orang yang hidup sendiri. Terlebih dengan situasi pembatasan sosial, kegiatan alternatif mengisi waktu luang menjadi terbatas. Hidup akan terasa monoton.
LONELINESS
AND DEPRESSION
#85
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 9 8 Sumber: Fox Business
Di Indonesia selama bulan Maret 2020, watchtime
Youtube mengalami peningkatan 1.5X. Livestream
dan virtual concert menjadi mainstream baru di
dunia hiburan. Survei McKinsey menyebutkan
peningkatan akses ke online streaming sebesar 28%
oleh konsumen Indonesia selama pandemi ini.
Di tengah kebosanan karena stay @ home, layanan
entertainment streaming berbayar seperti Netflix,
Amazon prime, Spotify, hingga Iflix menjadi solusi.
Bulan lalu pelanggan Netflix di Italia 77% dan Spanyol
33% hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan.
Perilaku baru di era new normal nanti akan
mendongkrak home entertainment dan streaming
services. Konsumen lebih memilih menonton film di
rumah daripada ke bioskop atau berlangganan musik
streaming dibanding nonton konser. Model bisnis
subscription akan menjadi “the new big thing”.
STREAMING SERVICE
IS THE BIG WINNER
#86
T h e N e w N o r m a l 1 0 0 | 9 9#92. RETURN OF
TV VIEWERSHIP
86% 36% 47% 14% 25% 65% 36% 26% 25% Spend most of my me at homeWatch a lot more TV
Reduced Ea ng out, cooking more
Switched to more Online shopping
Increased Online educa on
Consuming more Vitamins/ Jamu
Started worrying about Job/ Income
Reduced spending to save more
Thinking not to Mudik
% who have changed following behaviors because of COVID
7-12th April 1-6th April 27-31st March 25-26th March Nutrition Staying at Home Impact Changing Online Behaviors Financial Concerns Festives
Changes Sumber: Kantar 2020
Behavioral & A tudinal Changes - Tracking the Trend
More Iindonesians are “in-home” than those at the start of the outbreak
Online adop on on an upward swing
Personal Finance has been a concern from the onset of outbreak
Rising trend in people re-considering Mudik Dalam buku Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa
milenial telah membunuh televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV Strikes back!!! Adanya pembatasan sosial mengakibatkan aktivitas stay @ home meningkat. Dampaknya, terdapat pergeseran konsumsi media, dimana salah satu yang paling dominan adalah televisi.
Di berbagai negara, konsumsi menonton TV mengalami peningkatan. Menurut survei dari Nielsen pada 2018, bahkan frekuensi menonton TV hampir seimbang dengan penggunaan Smartphone.
Adanya pelonjakan penonton televisi akan terus berlanjut pasca COVID-19 berakhir. Mengingat stay @ home telah menjadi kenormalan baru. Di Indonesia, menurut survei Kantar (2020) konsumsi TV meningkat 36% selama masa karantina. Pelonjakan penonton televisi dibarengi dengan minat orang terhadap konsumsi berita seputar perkembangan COVID-19. TV memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era “the death of
mobility” akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali.
New Book by Yuswohady
Free Virtual
Booktalk Ticket
Order Book Now at:
0877 3411 5676 - Sabil
More info:
bit.ly/inventure-product
BANKING & FINANCE
INDUSTRY OUTLOOK
YUSWOHADY | AMANDA RACHMANIAR | FARID FATAHILLAH GILANG BRILLIAN | ISTI HANIFAH
2 0 2 1
0877 3411 5676 - Sabil
More info:
Get The E-Book
0877 3411 5676 - Sabil
More info:
Get The E-Book
EVANGELIST
MARKETING
www.inventureknowledge.id
Jumat, 25 Juni 2021
Based on books:
Membangun konsumen fanatik melalui
CONTENT
("STORY"),
CONVERSATIONS
(WORD-OF-MOUTH) dan
ENGAGEMENTS
(COMMUNITY activation) sehingga tercipta CRAZY VIRAL.
Case study:
E = wMC
Crazy Viral
Word of MOUTH
2
Offline COMMUNITY
Online COMMUNITY
Webinar
Series
Yuswohady
STORY
BRANDING
Using STORY to Boost CALL TO ACTION
and SALES CONVERSION
EXPOSITION
“VILLAIN” “HEROISM”CLIMAX “CALL TO ACTION”RESOLUTION “THE FINDER” “THE GUIDE” “THE CHANGE MAKER”
N A R R A T IV E CUSTOMER AS HERO HAPPY ENDING