22 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Gender
Jika membicarakan gender, maka ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gender memiliki makna sederhana sebagai jenis kelamin. Sementara dalam istilah yang dikemukakan Oakley, bahwa gender adalah lebih dari sekedar perbedaan jenis kelamin secara biologis (Oakley, 1972). Dalam hal ini tentu saja gender lebih dari sekedar perbedaan jenis kelamin. Antara lain banyak aspek sosial yang mempengaruhi. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Caplan, yaitu yang mengklasifikasikan bahwa gender memiliki struktur sosial berdasarkan jenis kelamin manusia (Caplan, 1987).
Pada dasarnya terdapat pemisah antara laki-laki dan perempuan dalam konsep gender, yaitu jenis kelamin (sex) dan gender itu sendiri. Jenis kelamin mengkategorisasikan manusia berdasarkan perbedaan fisik, khususnya fungsi reproduksi. Sementara gender membentuk kontruksi sosio-kultural manusia sebagai feminim dan maskulin dalam atribut sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak harus berpacu pada jenis kelamin saja (D. Susilo, 2014). Sebenarnya tidak salah jika anggapan gender itu berpacu pada jenis kelamin, namun tidak selalu berhubungan dengan perbedaan fisik.
2.2 Konsep Kesetaraan
Istilah kata setara seringkali muncul di berbagai media. Namun, sampai saat ini masyarakat masih belum teredukasi dengan baik mengenai definisi dari kata ‘setara’. Dalam praktik kesetaraan gender misalnya yang belum bisa diterapkan. Justru budaya patriarki di Indonesia dan belahan dunia lainnya masih kental membelenggu masyarakatnya. Timbul kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.
Arti setara sendiri menurut KBBI berarti sejajar atau sama tinggi, sama tingkatnya, sebanding, sepadan dan juga seimbang. Hal ini berarti setara itu sama dan tidak ada yang lebih tinggi. Jika digabungkan, secara garis besar maka kesetaraan gender bisa dipahami sebagai kesamaan, keseimbangan, sepadan atau kesamaan antar jenis kelamin dan struktur sosial.
23 2.3 Konsep Kesetaraan Gender
Acap kali kita mendengar istilah “kesetaraan gender” namun masih tabu dalam praktiknya, asing malah. Lantaran masih banyak yang salah mengartikan. Tidak jarang ada yang beranggapan bahwa orang-orang yang menjunjung ‘kesetaraan gender’ adalah feminist padahal tidak seperti itu. Memang umumnya, perihal kesetaraan gender ini didasari konsep orang awam, khususnya media yang masih konsep kesetaraan gender dengan jenis kelamin. Mengutip dari Susilastuti dalam Susilo yang mengungkapkan bahwa dua konsep tersebut dianggap sama padahal berbeda (Sakina, 2017).
Kesetaraan gender (gender equality) muncul karena adanya ketidaksetaraan gender (gender inequality) di lingkungan sosial, yaitu kondisi dimana perempuan mendapat perlakuan diskriminasi dengan tidak bisa melakukan banyak hal bahkan di segala bidang pada daerah-daerah penganut patriarki. Padahal dengan adanya kesetaraan gender, pembedaan peran, perilaku, karakteristik, mentalitas sampai emosional laki-laki dan perempuan akan dianggap sama. Selain itu, juga keduanya bisa sama-sama berkembang tanpa adanya suatu diskriminasi pada salah satu pihak (Mestiani, 2015). Adanya budaya patriarki menimbulkan cara pandang bahwa laki-laki adalah sosok yang gagah, kuat dan pantas memegang kontrol dalam kehidupan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, hubungan perempuan dan laki-laki memposiskan perempuan selalu berada di belakang atau disebut dengan istilah “wengking”, “subordinasi”, selalu kalah, lemah, pemuas laki-laki dan juga sekedar pelengkap dunia pria (Bungin, 2009). Bahkan paham ini juga ada diterapkan di agama-agama yang dianut oleh masyarakat bahwa laki-laki (suami) adalah imam dalam keluarga. Padahal, setara di sini maksudnya sama, seimbang antara laki-laki dan perempuan bukan seperti memberikan kekuasaan penuh dan seutuhnya kepada laki-laki saja.
2.4 Konsep Konstruksi Secara General
Secara umum, susunan atau pembangunan sering disebut sebagai konstruksi seperti yang tercantum dalam KBBI bahwa kosntruksi dapat diartikan sebagai susunan (model, tata letak) atau suatu bangunan yang meliputi jembatan, rumah dan sebagainya. Secara bahasa, dalam KBBI Edisi Empat, konstruksi bisa juga berarti susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata. Didukung oleh pendapat Sarwiji bahwa konstruksi memiliki makna (construction meaning) yang mengkonstruksi sesuatu berdasarkan aspek kebahasaan (Suwandi, 2008). Adapula pernyataan dari kamus komunikasi adalah wujud dari generalisasi atas hal-hal yang spesifik, non-abstrak dan dapat diukur (Effendi, 1989).
24 Sehingga, bisa ditarik kesimpulan bahwa kontruksi memiliki makna ganda, yang mana bisa berarti bangunan, membangun, pembangunan atau susunan tata letak dari suatu bangunan seperti hunian, akses jalan umum dan lain sebagainya. Adapun arti lain, yaitu susunan dan hubungan kata dalam kalimat. Bisa sebagai bentuk abstraksi yang mengeneralisasai hal-hal khusus dan dapat dikerucutkan.
2.4.1 Konstruksi Sosial Media Massa
Manusia sebagai makhluk sosial yang mana ada dan berinteraksi antar individu dalam lingkup sosial. Umumnya dalam pandangan paradigma, manusia dianggap sebagai aktor yang kreatif dan realistis. Padahal, manusia itu memiliki banyak kebebasan bertindak di luar batas kontruksi, struktur dan stigma sosialnya. Dalam penjelasan kebahasaan paradigma konstruktivis, realitas bekerja sebagai kontruksi sosial yang ditujukan pada masing-masing individu (Santoso, 2016). Realitas sosial ini bersifat relatif yang mana tergantung dengan bagaimana individu itu mengkonstruksi secara subjektif. Konstruksi sosial ini populer sejak dikenalkan Peter L. Berger dan Thomas Luckman lewat buku “The Social Construction of Reality, a Treatise in the Socialogical of Knowledge” yang dirilis pada 1996. Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana proses sosial berjalan di atas aksi dan interaksi yang diciptakan individu secara berkelanjutan sebagai realitas yang dilihat dalam sudut pandang subjektif.
Konstruksi sosial ini berawal dari filsafat konstruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Bungin juga menjelaskan dalam bukunya “Sosiologi Komunikasi” bahwa Berger dan Luckman menyatakan bahwa konstuksi sosial terjadi melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi yang mana ketiganya ada di antara masing-masing individu dalam sosial bermasyarakat (Bungin, 2009). Beberapa pakar sosiologi bahkan menyatakan bahwa konstruksi sosial ini tidak bisa dipisahkan dari teori-teori komunikasi massa yang mana berlangsungnya memang antar individu dalam bermasyarakat.
Dalam kehidupan bersosialisasi antar manusia tentu saja tidak lepas dari kebutuhan informasi yang bisa didapatkan lebih mudah dan cepat melalui media massa, sebab fungsi dari media massa itu sendiri menyebarkan informasi secara luas dan merata. Menurut Tuchman dalam Suryadi bahwa tindakan untuk membangun realitas baru di atas realitas yang sebenarnya terjadi (Suryadi, 2011). Ia juga mengatakan bahwa berita merupakan konstruksi realitas sosial. Berita sendiri merupakan sumber daya sosial yang konstruksinya
25 bisa menjadi batas pemahaman analisa mengenai kehidupan yang sementara. Menyajikan realitas menjadi teks bermakna (berita) merupakan pekerjaan media massa dan disajikan kepada publik merupakan bentuk dari proses konstruksi sosial. Memulai proses konstruksi dalam media massa dengan adanya fakta yang terdiri dari orang, benda, fenomena, keadaan atau bahkan ide. Kemudian diproses yang membentuk konstruksi realitas, yaitu pengumpulan data menjadi pernyataan yang bermakna. Bentuknya pun bisa beraneka ragam, mulai dari tajuk, artikel, berita atau features (Suryadi, 2011). Merujuk pada pendapat Beter dan Luckman dalam Pratiwi mengemukakan bahwa pernyataan muncul dari suatu peristiwa dan komunikasi dengan banyak pihak (Pratiwi, 2018).
Pendekatan konstruksi realitas sosial terjadi dalam tiga tahap, pertama eksternalisasi yang berarti tahap penyesuaian diri seseorang baik secara fisik ataupun psikis. Kedua, objektivitas yang mana merupakan wujud dari interaksi eksternal individu secara fisik maupun mental dalam bentuk objek yang nyata. Sementara itu, yang terakhir adalah kebalikan dari proses yang kedua, yaitu wujud interaksi internal yang diserap kembali dalam kesadaran sehingga individu tersebut terpengaruh oleh struktur dunia sosial. Bisa disimpulkan bahwa dengan adanya tiga tahapan yang berlaku secara terus menerus ini membuat individu memahami tentang realitas sosial. Bungin menjelaskan bahwa dasar teori sosial dalam pendekatan ini berupa masyarakat transisi-modern di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, yang pada saat itu media massa belum menjadi objek yang intens untuk dibahas (Tamburaka, 2012). Konstruksi sosial ini berlangsung lambat, berjarak dan memiliki ketimpangan antara penguasa kepada bawahan, pemimpin pada rakyatnya, pemuka agama kepada pengikutnya juga orangtua kepada anak-anaknya dan sebagainya. Namun, saat modernisasi mulai berjalan dinamis, teori ini mulai tumpul karena di Amerika masyarakat menjadi modern dan postmodern yang berarti hubungan antar personal dengan kelompoknya, pimpinan terhadap rakyatnya, orangtua dengan keluarganya bertransformasi ke bentuk sekunder-nasional. Seperti yang diterangkan oleh Eriyanto mengutip Abdat, bahwa masyarakat itu dialektias konvergen secara dinamis dan individu tersebut menjadi produk dari masyarakat itu sendiri (Abdat, 2014). Sehingga, kini konstruksi sosial itu sudah mengalami perubahan berdasarkan variabel atau fenomena media massa yang menjadi sangat substansial dalam ketiga proses tersebut. Maka, sifat kelebihan dari media massa telah memperbaiki kelemahan proses konstruksi sosial yang tadinya berjalan lamban. Konstruksi sosial media massa pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas berlangsung cepat dan menyebar secara merata dengan membentuk opini
26 massa yang cenderung apriori dan sinis. Proses kelahiran konstruksi sosial media massa mengalami beberapa tahap, yaitu tahap menyiapkan materi konstruksi, tahap sebaran konstruksi, tahap pembentukan konstruksi dan tahap konfirmasi (Abdat, 2014).
2.5 Media Sosial Dalam Kehidupan
Kehidupan manusia di era digital seperti sekarang seolah rekat hubungannya dengan internet. Tidak hanya dalam berkomunikasi, tapi juga berbisnis, edukasi atau sekedar mencari hiburan. Media sosial adalah salah satu unit yang ada di media online, yaitu media online atau media daring yang dimanfaatkan sebagai sarana berhubungan atau lebih tepatnya pergaulan secara online di jaringan internet (Maxmanroe, n.d.). Menurut Philip Kotler dan Kevin Keller, media sosial adalah wadah bagi masyarakat untuk berbagi informasi dalam bentuk yang beragam, antara lain gambar, video, audio maupun teks. Sementara itu, Kaplan berpendapat yang dikutip Sulianta menjelaskan bahwa media sosial adalah sekumpulan layanan daring yang dibentuk berdasarkan ideologi dan teknologi web 2.0 sehingga memungkinkan terciptanya website yang interaktif (Sulianta, 2015). M. Terry mengungkapkan lebih jelasnya bahwa media sosial merupakan sarana komunikasi yang memungkinan masyarakat bisa memberikan opini secara bersamaan dengan masyarakat lainnya yang berbasis internet (Sulianta, 2015). Sedangkan Michael Cross menyatakan bahwa media sosial sebuah wadah yang mampu menggabungkan masyarakat ke dalam suatu kolaborasi melalui berbagai platform, sehingga bisa saling terhubung dan bertukar informasi (Sulianta, 2015).
Sulianta menyimpulkan pendapat dari Halonen M. dan Haenlin Michael bahwa media sosial bisa memunculkan dan mengartikan metode komuniasi baru yang modern dan berbeda dengan media konvensional (Sulianta, 2015). Maka, tidak heran jika dengan adanya media sosial dunia seolah tanpa batas berada dalam genggaman publik. Namun, media akan semakin berevolusi mengikuti perkembangan zaman yang kian canggih, seperti pendapat Heidi Cohen dalam Liliweri (Liliweri, 2015). Hal ini diperkuat dengan fakta bahwasanya media sosial itu memiliki keterkaitan antara teknologi dengan platform yang memungkinkan menciptakan kolaborasi antar penggunanya secara bebas.
Penulis bisa menyimpulkan bahwa media sosial adalah media baru di era digital yang memudahkan berkomunikasi antar sesama dengan berbasis web. Bisa berinteraksi dengan siapapun dan di manapun asalkan menggunakan internet yang terjangkau dan mendapatkan respon. Setidaknya, kita bisa mencari tahu tentang banyak hal di dunia
27 dengan adanya media sosial juga, pun dengan menunjukkan eksistensi diri kita seperti salah satunya di Instagram. Namun, media sosial bersifat dinamis juga yang mana memungkinkan adanya perubahan atau perkembangan di masa depan.
2.5.1 Karakteristik Media Sosial
Munculnya media sosial di era digital ini tentu disambut hangat sebagian besar manusia. Sebab, kehadirannya membentuk jaringan komunikasi yang kaya tanpa batas apapun, sekalipun itu ruang dan waktu. Berikut karakteristik dari Media Sosial yang diberdayakan untuk promosi seperti yang dipaparkan Rivers dalam Zein:
a. Transparansi, keterbukaan dari media sosial karena tujuannya konten-konten tersebut untuk konsumsi publik.
b. Dialog dan komunikasi, adanya hubungan interaktif antara komunikator dan komunikannya yang memanfaatkan banyak layanan, contohnya “Brand Bisnis” dan “para fans-nya”.
c. Jejaring relasi, hubungan yang terjalin pada publik terhadap media sosial seperti jaring-jaring yang terhubung dan menyebar antara satu dengan lainnya semakin kompleks seraya menjalin komunikasi dan terus membangun relasi atau pertemanan. Komunitas jejaring sosial memiki peran penting yang bisa mempengaruhi audiensnya.
d. Multi opini, di mana pengguna bisa berpendapat sesuai opini pribadinya.
e. Multi form, konten yang memiliki beragam bentuk, seperti perilisan pers, portal web dan sebagainya.
f. Kekuatan promosi online, media sosial berguna menjadi alat yang bisa memberikan peluang bagi organisasi atau perusahaan (Zein, 2019).
Nurhalimah berpendapat bahwa karakteristik media sosial online seringkali melahirkan bermacam-macam persitiwa yang popular di tengah masyarakat (Nurhalimah, 2019). Berikut ini karakter dari media sosial yang tidak dimiliki media siber menurut Nasrullah dalam Rasyidah, diantaranya sebagai berikut:
a. Jaringan (network), mempunyai sifat yang menghubungkan banyak pengguna dalam jaringan sosial, seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Secara teknologi, mediasinya berupa laptop, komputer, ponsel, atau tablet.
b. Informasi (information), media sosial menyebarkan konten yang didistrubsi dan konsumsi antar pengguna.
28 c. Arsip (archieve), informasi bagi para pengguna media sosial bisa diakses dan
disimpan kapan saja melalui perangkat apapun.
d. Interaktif (interactive), sifat dasar media sosial adalah yang mampu membangun informasi dalam sebuah jaringan (Sari Rasyidah, 2017).
Adapun delapan karakteristik media sosial secara akademis menurut Liliweri secara aplikatif, yaitu:
a. Meliputi berbagai format konten seperti audio, video, teks, presentasi, dokumen yang bervariasi untuk dipilih pengguna
b. Memungkinkan menghubungkan antar pengguna melalui lebih dari satu platform, seperti surat elektronok, social sharing, dan berbagi feed.
c. Melibatkan berbagai tingkatan penyampaian opini melalui kolom komentar. d. Menyebarkan informasi secara dinamis dan cepat.
e. Mampu memberikan informasi antar individu, individu ke banyak orang maupun antar kelompok.
f. Bisa sebagai sarana interaksi secara tepat waktu dan relevan sampai kapanpun. g. Menjadi “device different” dengan bantuan alat yang terkomputerisasi dan bisa
dimanfaatkan masyarakat.
h. Pengguna bisa terlibat bersamaan guna membangun momen secara tepat waktu sekaligus memperluas komunikasi daring maupun luring (Liliweri, 2015).
Sedangkan dari segi keunggulan, menurut Mark W. Schaefer dalam Liliweri mengungkapkan bahwa media sosial memiliki karakteristik evolusi, revolusi dan konstribusi. Evolusi sebab media sosial memberikan cara baru dalam berkomunikasi. Sedangkan revolusi memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk saling berkomunikasi secara global. Ketiga, konstribusi sebab kehadirannya bisa menyampaikan opini yang berbeda-beda pada kelompok yang dituju (Liliweri, 2015).
Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan karakteristik media sosial yang sama yaitu interaksi. Di mana penggunanya bisa saling berinteraksi di media sosial tanpa batas apapun dan dengan cara apa saja yang dipermudah oleh kehadiran media sosial. Serta, media sosial yang lebih efektif digunakan karena untuk masyarakat luas dan bersifat transparansi.
29 2.5.2 Jenis-jenis Media Sosial
Media sosial menjadi wadah masyarakat di era baru untuk berinteraksi ini memiliki beberapa jenis dengan fungsinya masing-masing. Menurut praktisi jejaring sosial, Liana Evans jenis-jenisnya ada 6 yaitu yang pertama adalah social news sites yang mana memungkinkan seseorang untuk memberi informasi berupa berita, artikel, foto maupun video yang kemudian bisa dikomentari orang lain. Contohnya ada Reddit.com dan digg.com yang merupakan platform berita mendunia. Adapula di Indonesia yang populer seperti kumparan, tempo.co, liputan6.com dan lain-lain.
Kedua yaitu jenis social networking yang memiliki popularitas di Tanah Air seperti MySpace, Friendster, MySpace, hingga Facebook. Ketiga yaitu social sharing yang menfokuskan diri pada fitur berbagi konten seperti YouTube dan Flickr. Melalui YouTube dengan konten yang menarik memang memudahkan orang untuk menjadi terkenal, seperti misalnya Justin Bieber. Bermula dari video cover yang direkam ibunya lalu diunggah ke YouTube membuatnya bisa sepopuler sekarang. Selanjutnya ada jenis blog yang membuat penggunanya bisa mengekspresikan diri melalui tulisan dalam bentuk artikel ide, pemikiran dan informasi hingga kini bisa kita jumpai banyak blogger yang menjadi terkenal lantaran tulisan mereka.
Jenis media sosial kelima adalah microblogging, contohnya yaitu Twitter. Di mana Twitter juga menulis tweet namun tidak bisa sebanyak di blog sekaligus jadi ada fitur thread yang membuat pesan atau informasi menjadi beberapa bagian. Selain itu, Twitter juga menyediakan trending topic yang menampilkan beberapa topik terhangat saat ini dengan taggar (#) sehingga lebih mudah diakses penggunanya. Jenis yang terakhir yaitu forum yang merupakan tempat berdiskusi tentang banyak hal dalam rutinitas keseharian, mulai dari tempat makan, buku, olahraga, game, gadget, dan masih banyak lagi. Contohnya yang sangat populer di Indonesia adalah Kaskus, bermula dari kata Kasak Kusuk.
Hampir sama dengan Liana, menurut pendapat Nasrullah dalam Rasyidah yang menyatakan bahwa ada tujuh jenis media sosial termasuk Blog dan Microblog, penjelasan lengkapnya seperti berikut:
a. Blog, adalah sarana yang memfasilitasi pengguna untuk membagikan banyak hal, saling berkomentar dan informasi lainnya.
30 b. Microblogging, sedangkan microblogging memfasilitasi pengguna untuk menulis dengan kapasitas katanya lebih pendek yang merujuk dengan munculnya Twitter. c. Facebook adalah wadah untuk penggunanya berinteraksi dengan jarak jauh dengan
memiliki beberapa fitur tambahan, seperti game, chatting, videochat, dan lain-lain. d. Twitter yaitu situs web yang dioperasikan twitter.inc dan merupakan situs jaringan
juga microblog yang membuat penggunanya bisa mengirim dan menerima pesan berupa teks dengan maksimal 140 kata yang disebut kicauan (tweet) juga bisa memperpanjang teks dengan fitur thread. Tidak hanya kata, tapi juga bisa foto dan video. Selain itu Twitter juga bisa saling mengirim pesan privat di Direct Message (DM) dengan karakter yang lebih panjang.
e. Instagram, sebuah jejaring sosial yang memfokuskan pada pengiriman dan penerimaan gambar atau foto dan video namun juga bisa dilengkapi dengan teks (caption). Instagram berasal dari dua kata yaitu “instan” yang berarti kemudahan dan “gram” dari kata telegram yang maksudnya pengiriman foto, jadi memudahkan pengiriman foto.
f. LINE, merupakan aplikasi chatting yang bisa mengirim pesan gratis di berbagi platform seperti smartphone, tablet dan komputer. Pengguna dapat bertukar teks, foto, video juga pesan suara di LINE dilengkapi dengan sticker dan juga situs berita, LineToday.
g. BBM (BlackBerry Messenger), salah satu aplikasi chatting yang sudah punah ini serupa dengan LINE, hanya saja ia milik smartphone BlackBerry. Pengguna juga bisa bertukar pesan teks, gambar, video maupun audio dilengkapi dengan karakter sticker dan emoticon (Sari Rasyidah, 2017).
2.6 Instagram Menjadi Aplikasi Kegemaran Masyarakat
Instagram adalah salah satu platform membagikan moment berupa foto, video, teks di media sosial yang digemari banyak orang, apalagi di era 4.0 ini dengan banyaknya fitur yang dihadirkan. Menurut data hasil survei WeAreSocial.net dan HootSuite, Instagram adalah akun yang memiliki pengguna paling banyak ketujuh di dunia. Pada Januari di tahun 2018 lalu, pengguna Instagram di dunia mencapai 800 juta orang (Data, n.d.). Indonesia sendiri berada di peringkat ketiga sebagai pengguna Instagram terbanyak di dunia dengan mencapai angka 53 juta.
Instagram merupakan aplikasi buatan Kevin Systrom yang juga sebagai CEO dan Mike Krieger dimulai pada 6 Oktober 2010 dengan ditandai lahirnya photo sharing revolusioner
31 Instagram. Asal mula kata Instagram menurut Putri dalam Ghoni berasal dari kata “insta” atau “instan”, maksudnya instagram bisa mempublikasikan gambar secara instan. Kemudian, kata “gram” merujuk dari kata telegram yang fungsinya untuk mengirimkan informasi secara cepat (Ghoni, 2018). Begitupun, dengan Instagram yang membagikan informasi berupa gambar maupun video sehingga dapat diterima dengan cepat.
Budiargo juga mengungkapkan bahwa Instagram diartikan sebagai media yang memberikan kemudahan berbagi informasi berbentuk visual, video, dan layanan jejaring sosial secara online (Ghoni, 2018). Terdapat pendapat lain dari Politwika dalam Yasaruna mengatakan bahwa Instagram adalah platform yang digunakan untuk penggunanya berbagi informasi melalui konten-konten visual (Yasaruna, 2019). Tapi, tidak hanya visual, melainkan juga audio. Sebab, instagram kini memang sudah mengalami banyak kemajuan, tidak hanya berbagi melalui foto atau gambar tapi juga video, live streaming, instagram story hingga IG TV.
Serupa dengan pendapat Politwika, menurut Kertamuki Instagram adalah aplikasi untuk saling berbagi foto yang mana pengikut dari pengunggahnya dapat melihatnya serta saling berinteraksi dalam memberikan komentar (Kertamukti, 2015). Instagram memang awalnya dibuat sebagai platform berbagi momen melalui foto dan video, namun seiring dengan pengembangannya juga bisa untuk berjualan atau bisnis, edukasi, melakukan live streaming dan yang terbaru ada IG TV.
Dengan banyaknya fitur yang ditawarkan maka tidak heran menjadikan Instagram sebagai wadah komunikasi yang digemari banyak orang. Terlebih, penggunanya juga bisa mencari dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru di belahan dunia manapun serta bertukar pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana fungsinya media sosial untuk memudahkan berkomunikasi tanpa adanya batas ruang dan waktu. Hal ini menjadikan Instagram digemari oleh khalayak dalam bersosialisasi di dunia maya.
2.6.1 Fitur-fitur Instagram
Instagram menjadi media sosial yang digemari masyarakat dengan fitur-fitur menarik di dalamnya. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII pada 2017 saja menunjukkan bahwa 89,35% rakyat Indonesia yang menggunakan internet dihabiskan waktunya ke media sosial. Sedangkan di tahun 2018, dari data APJII Instagram menjadi aplikasi kedua setelah Facebook yang digemari di Indonesia sebanyak 17,8%. Adapun fitur-fitur Instagram yang ditawarkan menurut Winarso, yaitu:
32 a. Kamera
Di instagram, penggunanya tidak cuma sebatas upload gambar dari galeri personal namun juga bisa memotret atau merekam momen secara langsung untuk diunggah. b. Tool Editor
Di sini pengguna bisa mengedit foto terlebih dulu sebelum diunggah. Ada sepuluh tool editor yang disediakan untuk memperindah gambar secara mudah dengan menggerakkan jari saja. Bahkan dengan tampilan instagram yang baru, foto yang diunggah juga tidak harus berbentuk kotak, tapi bisa portrait dan landscape.
c. Tag dan Hashtag
Instagram juga memiliki fitur tag untuk menandai teman juga menambahkan lokasi dan hashtag untuk mengelompokkan foto dalam satu label. Melalui hashtag juga foto atau video yang diunggah jadi lebih mudah dicari dan populer.
d. Caption
Pada fitur caption pengguna bisa menambahkan rangkaian kata yang juga bisa ditambah hashtag.
e. Interaksi ke Jejaring Sosial
Aplikasi ini bisa membuat penggunanya untuk membagikan (share) konten ke jejaring sosial lainnya, seperti Twitter, Facebook dan sebagainya. Jadi, pengguna tinggal mengaktifkan tool ini maka postingan yang diunggah di instagram langsung terhubung ke jejaring yang dikaitkan (Winarso, 2015).
Seiring dengan perkembangan zaman, Instagram pun mengalami perkembangan fitur-fiturnya. Bahkan kini untuk mengunggah foto atau video tidak harus di feed tetapi bisa juga di instagram story yang berlaku 24 jam saja. Berikut beberapa fitur terbaru instagram menurut Sepaya:
a. Insight, fitur ini bisa dimanfaatkan penggunanya untuk mengetahui siapa saja dan berapa jumlahnya yang masuk ke profil bisnis sesuai dengan demografis dan usia followers. Fitur ini bisa digunakan apabila penggunanya menggunakan akun bisnis b. Auto reply, berfungsi menampilkan balasan cepat yang mirip dengan fitur “Frequently
Asked Questions” atau FAQ yaitu balasan pesan baku yang mempercepat respon kepada followers.
c. Instagram Stories, berfungsi untuk mengunggah konten selama 24 jam saja. Menurut Natanael Sepaya, dalam Instagram stories pengguna bisa menambahkan filters, teks,
33 boomerang, gif, polling, ask me a question, juga sticker dan menariknya lagi bisa dilihat siapa saja yang sudah menonton instagram story kita.
d. Live atau Siaran Langsung, pengguna bisa melakukan siaran langsung dengan merekam secara langsung dan disaksikan audience atau followers-nya (Sepaya, n.d.).
2.7 Munculnya Budaya Patriarki
Budaya Patriaki masih kental di lingkungan sosial kita, bukan hanya karena paparan dari media tapi juga bagaimana pandangan masyarakat yang menjadi sanki sosial. Seperti pendapat Oakley dikutip dari Yuwono bahwa gender berkaitan dengan nilai- nilai budaya berdasarkan klasifikasi sosial dalam suatu masyarakat (Yuwono, 2008). Hal ini mengartikan adanya perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan di lingkungan bermasyarakat dan itu tergantung dengan nilai budaya yang ada di lingkungan tersebut. Di Arab misalnya, menganggap bahwa selaput yang menutupi organ kelamin luar adalah bagian yang terpenting dan paling berharga, bahkan lebih bernilai daripada anggota badan lainnya dari perempuan (Saadawi, 2001). Bahkan kehilangan nyawa tidak terlalu mengkhawatirkan daripada kehilangan keperawanan. Apabila seorang gadis ketahuan tidak lagi perawan setelah menikah bisa mendapat hukuman mati baik secara fisik, moral, bahkan setidaknya diceraikan.
Keperawanan adalah aturan moral dalam lingkup masyarakat kita yang diterapkan secara terbatas, yaitu kepada perempuan. Padahal seharusnya kriteria pertama moral harus diterapkan pada semua orang tanpa terkecuali dan juga tidak dihasilkan dari deskriminasi dalam bentuk apapun, baik jenis kelamin, warna kulit, suku, ras bahkan kelas sosial (Saadawi, 2001). Hingga hari ini, masih banyak orang yang melabelkan “perawan” hanya kepada perempuan dan tidak pada laki-laki. Menurut konsep gender, Juddit Bennet dalam Yuwono mengungkapkan bahwa patriarki bisa berbeda konsep. Dalam terminologi sastra, Shoemaker dan Vincent mengutip pada Yuwono mengungungkapkan patriarki adalah “kekuasaan oleh ayah” yang kemudian oleh kaum feminist diperluas jadi konsep yang membuat laki-laki lebih dominan daripada kaum hawa (Yuwono, 2008).
Bagi kaum feminist, patriarki bukan penjelasan adanya penindasan pada kaum perempuan tapi lebih kepada menjadi masalah adanya penindasan pada kaum perempuan. Patriarki juga bisa dibilang menjadi sistem yang meletakkan laki-laki menjadi pusat pemegang kekuasaan di organisasi terkecil sekalipun, keluarga misalnya (Gumelar, n.d.). Sehingga ayah dalam keluarga memiliki peranan paling besar, paling dihormati.
34 Sebenarnya itu bukan hal yang salah, apalagi ayah juga memiliki peran sebagai orangtua. Hanya saja, bukan berarti yang mana hak-hak sebagai istri maupun anak yang berbeda dengan ayah atau kakak laki-laki tertua menjadi satu-satunya opsi dalam pengambilan keputusan.
Patriarki sendiri menurut Alfian Rokhmansyah dikutip dari Sakina dan Siti mengungkapkan berasal dari kata patriarkat, yang artinya struktur dalam memposisikan laki-laki sebagai penguasa tunggal dan mutlak (Sakina, 2017). Berdasarkan beberapa konsep patriarki tersebut bisa disimpulkan bahwa budaya patriarki di Indonesia ini menjadikan laki-laki berperan dominan dan mengakibatkan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di semua aspek dan berperan di lingkungan sehari-hari. Menciptakan pandangan bahwa perempuan harus di bawah laki-laki dan lebih rendah. Keberadaan paham patriarki ini bermula dari sejarah peradaban umat manusia. Awalnya, kehidupan dimulai dengan berburu dan mengumpulkan makanan yang dilakukan oleh laki-laki, sementara perempuan tinggal di rumah. Hal ini menjadikan perempuan memiliki waktu yang lebih banyak di rumah dan bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas bercocok tanam. Bahkan kaum perempuan juga menjadi penemu “ilmu cocok tanam” (Bara, 2016).
Seiring berkembangnya zaman membuat kehidupan tidak mengharuskan manusia berburu, sehingga laki-laki menggantikan peran untuk bercocok tanam dari perempuan. Guna melanjutkan hidup yang ideal, pertanian dipilih sebagai aktivitas utama di tengah-tengah masyarakat. Sejak saat itulah aktivitas bercocok tanam yang dikerjakan bersama berubah menjadi individual. Sehingga sistem pertanian mengenalkan diri menjadi kepemilikan pribadi dan menjadi cikal bakal sistem patriarki. Budaya patriarki bermula saat masyrakat mengenal hak milik atas properti pribadi, yang sekaligus melahirkan system kasta dan kelas sosial. Hal ini yang menggeser peran perempuan untuk mengerjakan pekerjaan personal keluarga saja. Kemunculan budaya patriarki ini membuat kaum hawa terikat sebagai pihak pelayan dan budak atas superioritas laki-laki yang seolah sekedar menjadi mesin pembuat anak (Bara, 2016).
Maka tidak heran jika ada ungkapan bahwa perempuan hanya untuk bekerja di dapur untuk memasak, di kamar mandi untuk mencuci dan di kamar tidur (kasur) untuk melayani suami. Budaya patriarki inilah yang membuat pikiran kolot masih melekat di masyarakat. Menjadikan laki-laki sentral dan pokok utama dalam kehidupan bersosial kita.
35 2.7.1 Budaya Patriarki di Indonesia
Patriarki masih mengendap di banyak negara salah satunya Indonesia. Tidak hanya bagaimana media mengajak beropini bahwa perempuan lazimnya di bawah laki-laki dan menjadi objek yang pantas disalahkan apabila menjadi korban pemerkosaan, tapi juga dari budaya di Indonesia sendiri menanamkan nilai-nilai patriarki sejak dulu kala. Di Maluku misalnya, dipercaya bahwa perempuan memiliki posisi yang berada di bawah laki-laki. KepalaAdat Kamana di Maluku yang bermukim di Pulau Seram menyatakan karena perempuan mengalami menstruasi dianggap mendapat kotor dan hal ini sudah ada dari dulu kala yang berlangsung secara turun-temurun meskipun mereka sendiri tidak tahu asal muasalnya dari mana (Nina, 2012).
Fenomena menstruasi yang dialami perempuan setiap bulan (normalnya) inilah yang menjadikan perempuan berkedudukan lebih rendah dari laki-laki. Bahkan kedudukan itu berlaku selamanya meski perempuan sudah tidak lagi menstruasi atau memasuki masa menopause, seperti yang dikemukakan oleh Kepala Adat Peirisa yang juga diterima oleh tokoh perempuan yang dituakan di suku tersebut. Kepala Adat Peirisia mengatakan bahwa perempuan juga tidak diizinkan menjadi seorang pemimpin daerah tersebut. Sebab hal itu melanggar ketentuan adat Maluku. Bahkan mereka percaya jika pemimpinnya seorang perempuan bisa mendatangkan bahaya (Nina, 2012).
Dari pernyataannya saja, sudah menegaskan bahwa perempuan memiliki kodrat dalam adatnya untuk dibawahi laki-laki dan tidak boleh memimpin, tapi kalau membantu tidak apa malah dianjurkan. Itu kenapa pemimpin adat di Indonesia hampir semuanya dipegang oleh laki-laki. Sistem ini juga mengakibatkan ketidakadilan gender di berbagai aspek kehidupan manusia. Ketidaksetaraan gender dan perannya laki-laki dengan perempuan ini membuat individu dalam kelompok masyarakat tidak memiliki hak yang sama. Perempuan menjadi korban dari kebijakan tersebut dan merupakan tempat kedua setelah laki-laki.
Budaya patriarki ini masih berlaku hingga sekarang bahkan saat gerakan fenimisme muncul untuk membentuk kesetaraan gender. Seperti yang dikatakan Sakina dan Siti bahwa praktiknya terlihat dalam segala aktivitas domestik, ekonomi, politik dan budaya sehingga memunculkan banyak problematika di Indonesia, antara lain kekerasan seksual, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), pernikahan dini, dan stigma negatif tentang perceraian. Dampaknya sistem patriarki ini berwujud system blame approach, yang berarti masalah muncul akibat sistem yang berjalan tidak sesuai harapan (Sakina, 2017).
36 Pelecehan seksual, KDRT, pernikahan dini merupakan kasus-kasus yang dibiarkan terjadi di Indonesia karena dianggap wajar atau diperbolehkan secara terus-menerus.
Menurut CATAHU (Catatan Tahunan) KOMNAS HAM, kekerasan terhadap perempuan di tahun 2016 terdapat 259.150 kasus. Di tahun 2018 adanya peningkatan kasus yang dilaporkan perihal marital rape (perkosaan dalam perkawinan) sebanyak 195. Bahkan jumlah tersebut masih yang dilaporkan, belum terhitung jumlah yang tidak dilaporkan. Pasalnya, meski sudah 14 tahun lamanya diberlakukan UU P-KDRT, hanya 3 persen kasus KDRT yang berhasil masuk ke lembaga layanan hingga pengadilan. Berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga ini menjadi salah satu dari sekian banyaknya akibat dari terbelenggunya masyarakat Indonesia akan budaya patriarki yang menyebabkan laki-laki berkuasa dan semaunya sehingga perempuan memiliki keterbatasan dalam memilih dan cenderung menuruti suami meskipun itu pilihan terburuk sekalipun.
Budaya patriarki ini tentu saja tidak menguntungkan perempuan sekalipun menjadi korban. Perempuan acap kali disalahkan atas tindakan kekerasan laki-laki. Selain tindakan pemerkosaan yang banyak stigma menyalahkan pakaian korban, istri yang menjadi korban KDRT juga disalahkan karena perlakuannya terhadap suami. Kania dalam Sakina dan Siti mengatakan bahwa stigma yang didapatkan dari masyarakat terkait pelayanan kepada suami ini menempatkan istri seolah seburuk pelaku kejahatan itu sendiri (Sakina, 2017). Sistem patriarki di Indonesia ini memposisikan laki-laki berperan kuat dan leluasa untuk melakukan apa saja kepada perempuan sehingga tidak heran jika menciptakan angka pelecehan seksual di Indonesia yang tinggi.
Apalagi seorang suami merasa bahwa bisa berlaku sesukanya kepada sang istri, padahal tidak seharusnya begitu karena banyak faktor-faktor yang harus dipertimbangkan salah satunya kesehatan. Ada juga victimblaming, dimana korban menjadi objek untuk disalahkan dan menjadi sasaran dari sebuah kejadian, entah itu mengenai pakaian, perilaku, waktu kejadian bahkan hingga penilaian yang tidak membuat laki-laki sebagai tersangka (Sakina, 2017).
2.8 Konsep Mengenai Pemerkosaan
Salah satu bukti nyata dari budaya patriarki yang merugikan ini adalah dimana korban pemerkosaan jika perempuan akan dianggap biasa bonus dengan cibiran yang menyalahkan. Misalnya saja ada komentar yang sering kali kita baca atau dengar, seperti “Pasti bajunya mancing”, “Kenapa nggak ngelawan?”, “Sama-sama mau pasti” atau “Ya
37 kucing kalau dikasih ikan asin juga nggak bakalan nolak”. Belum lagi, bagaimana media yang masih banyak belum sensitif gender sehingga pemberitaan seputar wanita digunakan untuk komersil media tersebut.
Perkosaan sendiri berasal kata rapere yang berarti mencuri, merampas, memaksa atau membawa pergi dalam bahasa Latin. Kejahatan kekerasan merupakan salah satu bentuk kejahatan di lingkungan sosial yang mana makin berkembang baik dari motif, sifat, bentuknya, dan sebagainya (Sulistyaningsih Faturochman, 2002). Salah satunya adalah kejahatan kekerasan seksual, baik secara verbal maupun fisik. Bentuk dari kekerasan ini pun beragam, mulai dari pemukulan, mengolok-olok dan mencaci dengan kasar, menghina, pelacuran, pornografi sampai pemerkosaan. Pemerkosaan sebagai bentuk perbuatan pemaksaan kehendak seseorang terhadap orang lain yang dalam hal ini bentuknya berupa melakukan perbuatan seksual (Nina, 2012). Siapapun itu yang memaksa bahkan suami/istri sekalipun jika mengajak berhubungan badan dengan paksaan termasuk tindakan perkosaan. Dalam Undang-Undang, perkosaan memiliki arti sempit sebagai perilaku persetubuhan yang didasari kekerasan hingga ancaman kepada perempuan yang bukan isri sah. Dalam KUHP pasal 285, perkosaan artinya sebatas tindakan penetrasi penis ke lubang vagina yang dilakukan secara paksa oleh laki-laki kepada perempuan. Namun, menurut Komnas Perempuan perkosaan tidak sesederhana itu, yang mana terjadi serangan hubungan seksual dengan cara memasukkan penis, jari tangan atau benda-benda lainnya ke dalam vagina, dubur, atau mulut korban dalam bentuk paksaan
Hal ini dibantah oleh Novita Joseph dan seorang Dr. Tania Savitri sebab selama ini pemerkosaan umumnya digambarkan memasukkan penis ke vagina, padahal semua bentuk perbuatan seksual yang tidak melibatkan penetrasi namun bersifat memaksa juga tergolong pemerkosaan. Bahkan hubungan seksual yang bermula dari sama-sama setuju namun di tengah-tengah salah satu menolak atau meminta berhenti dan salah satunya melawan, maka termasuk juga tindakan pemerkosaan (Joseph, 2019).
Kekerasan seksual bisa mengakibatkan efek buruk dari segi fisik maupun psikis secara permanen dan berjangka panjang (Kaplan, 2014). Pemerkosaan ini juga menunjukkan bahwa adanya motif pemuasan nafsu seksual. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa perkosaan adalah tindakan pemaksaan untuk melakukan hubungan intim bermotif demi kepuasan nafsu seksual. Bukan seperti opini publik selama ini yang mengenaralisir bahwa
38 perkosaan terjadi lantaran korban yang rata-rata perempuan memakai pakaian tidak senonoh sehingga memunculkan hasrat pelaku untuk melakukannya.
Ada dua faktor terjadinya pemerkosaan yang mana sebab utamanya adalah faktor internal seperti gangguan jiwa, rendahnya mental, daya emosional, anatomi, umur, seks, posisi individu dalam masyarakat, tingkat pendidikan individu dan masalah personal individu. Faktor kedua yaitu eksternal yang berasal dari luar individu seperti tingkatan ekonomi, keyakinan, film dan referensi populer lainnya. Didukung juga oleh pendapat J. E. Sahetapy bahwa tindakan kekerasan seksual didukung dari faktor eksternal individu seperti keluarga, lingkungan dan masyarakat pergaulannya. Dari dua sumber tersebut jelas menyebutkan bahwa penyebab adanya perkosaan dari pelaku, internal maupun eksternal bukan hanya dari pakaian korban yang menggoda seperti persepsi publik selama ini (Kristiani, 2014).
2.8.1 Jenis-jenis Pemerkosaan
Bentuk dari pemerkosaan itu dibagi menjadi beberapa tergantung siapa pelakunya, korbannya dan seperti apa tindakan spesifiknya. Berikut jenis-jenis pemerkosaan menurut Joseph:
a. Perkosaan pada orang difabel, yaitu tindakan perkosaan yang dilakukan oleh orang normal kepada kaum disabilitas atau keterbatasaan fisik, tingkatan intelektualitas, dan/atau mental. Sebab mereka tidak mampu mengungkapkan persetujuan dari hubungan seksual. Jenis kekerasan ini juga bisa terjadi apabila korban dalam keadaan sehat namun tidak sadarkan diri, sakit, pingsan, koma atau mabuk. b. Pemerkosaan oleh anggota keluarga, yang dilakukan oleh anggota keluarga korban
atau bisa disebut inses. Namun, kekerasan seksual inses juga bisa terjadi antara saudara tiri dan kebanyakan melibatkan korban yang umurnya belum legal.
c. Melanjutkan kategori sebelumnya, pemerkosaan pada anak di bawah umur atau statutory rape, yaitu kekerasan seksual oleh orang dewasa kepada anak di bawah umur.
d. Pemerkosaan dalam hubungan (partner rape), terjadi pada individu yang menjalin asmara baik sudah berkeluarga atau belum. Pebedaannya terletak pada spesifik hukum, namun dalam perkawinan tercantum pada Undang-Undang Penghapusan KDRT No. 23 Tahun 2004 pasal 8(a) dan pasal 66.
39 e. Pemerkosaan antar kerabat, terjadi antara dua orang yang sudah menjalin relasi, misalnya teman sekolah, rekan kerja, tetangga dan lain sebagainya (Joseph, 2019). 2.8.2 Dampak dari Pemerkosaan
Pemerkosaan bukanlah peristiwa yang enak untuk diingat, menyakitkan dan menimbulkan trauma juga dampak lainnya. Pemerkosaan hingga kini masih menjadi momok menakutkan yang meneror kehidupan sosial. Dilansir dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan, di tahun 2017 ada 1.288 tindak pemerkosaan dari 350 ribu kasus kekerasan seksual. Sekian banyaknya kasus yang dilaporkan dan ditangani kepolisian, belum yang ditutupi rapat-rapat karena takut, malu dan alasan lainnya.
Pemerkosaan selama ini dianggap tindakan yang menjadikan perempuan korban, padahal perkosaan adalah tindakan yang tidak memandang gender, umur, tingkat perekonomian dan sebagainya. Pelaku dan korbannya bisa siapa saja dan mengakibatkan dampak tidak hanya fisik tapi juga trauma emosional dan psikologis. Ada dampak fisik yang ditimbulkan menurut Joseph(Joseph, 2019), antara lain:
a. Trauma fisik, seperti memar atau lebam di tubuh b. Pendarahan di organ intim korban
c. Mengalami sulit berjalan
d. Mengalami rasa sakit di daerah sekitar vagina, dubur, mulut atau bagian tubuh lainnya
e. Patah tulang atau luka sendi lainnya
f. Terinfeksi dan terjangkit penyakit menular seksual g. Kehamilan yang tidak diinginkan
h. Kehilangan nafsu makan
i. Dispareunia (nyeri sakit ketika atau sesudah melakukan hubungan seksual)
j. Vaginismus (peristiwa di mana otot vagina mengejang dan menutup secara natural) k. Sakit kepala akibat tensi darah yang tidak stabil
l. Tubuh mengelami gemetar m. Mual dan muntah
n. Insomia o. Kematian
40 Selain luka fisik yang ditimbulkan, perkosaan juga mengakibatkan luka emosional dan psikologis seperti shock (mati rasa), menarik diri dari lingkungan sosial karena malu atau takut, depresi, agresi dan agitas, mudah kaget dan terkejut, paranoid, disorientasi (linglung dan kebingungan), gangguan disosiasi, PTSD, hingga gangguan kecemasan atau gangguan panik. Efek-efek yang ditimbulkan tersebut bisa berbeda tergantung dengan respon korban terhadap hal traumatis yang dialami. Korban pemerkosaan bisa pula merasakan trauma atau biasa disebut Rape Trauma Syndroms. RTS ini merupakan turunan dari bentuk PTSD yang umumnya mempengaruhi perempuan. Gejalanya bisa dari campuran dampak fisik dan trauma psikologis juga flashback akan kejadian perkosaan dan meningkatnya frekuensi mimpi buruk. Parahnya dampak yang ditimbulkan dari pemerkosaan tersebut juga bisa memicu ingin bunuh diri dengan anggapan cara terbaik mengakhiri penderitaan. Hampir sama dengan pendapat Joseph, menurut Faturochman dampak yang ditimbulkan dari tindakan perkosaan pada fisik korban bisa berupa rusaknya organ tubuh seperti selaput dara yang robek, pingsan bahkan mengakibatkan meninggal dunia. Korban juga bisa terjangkit penyakit menular seksual (PMS) dan kehamilan yang tidak dikehendaki. Selain itu juga bisa menimbulkan syok dan trauma jangka pendek maupun panjang. Apalagi, di masyarakat Indonesia ada stigma yang menyebutkan kalau perempuan korban pemerkosaan adalah perempuan kotor atau hina. Menurut Taslim (1995) dalam Faturochman juga mengatakan bahwa adanya pandangan yang seringkali menyalahkan perempuan korban pemerkosaan. Taslim juga menambahkan bahwa masyarakat melabeli perempuan korban pemerkosaan sebagai “penggoda” atau “menantang” laki-laki dengan memakai busana yang ketat dan seksi yang sengaja membangkitkan birahi laki-laki pelaku (Sulistyaningsih Faturochman, 2002).
Selain kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan oleh Joseph, korban pemerkosaan juga bisa menaruh curiga bahkan memiliki trust issue terhadap orang lain dalam waktu yang lama. Dampak psikologis yang ditimbulkan juga bisa membuat korban terdorong melakukan bunuh diri akibat trauma yang hebat. Penelitian dari majalah MS Magazine mengatakan bahwa 30% perempuan korban pemerkosaan mengalami bunuh diri, 31% mencari psikoterapi, 22% mengambil kursus bela diri dan 82% mengatakan bahwa pengalaman tersebut telah mengubah mereka untuk selamanya, artinya tidak bisa melupakan (Sulistyaningsih Faturochman, 2002).
41 2.9 Teori Analisis Wacana
Istilah wacana ini berasal dari kata “discourse” dalam bahasa Inggris dan “discursus” dalam bahasa Latin yang artinya “lari kian kemari”. Seiring dengan perkembangannya, wacana berarti bentuk komunikasi gagasan melalui kata, ekspresi, ide dan percakapan. Menurut Ismail Marahimin dalam Suharyo, wacana adalah urutan teratur dan semestinya yang menciptakan pikiran baik tulisan maupun lisan sehingga memiliki kemampuan untuk maju (Suharyo, 2018). Eriyanto dalam Machmud menafsirkan wacana dalam kondisi dan situasi khusus (Machmud, 2018). Sementara Praktito dalam Suharyo berpendapat bahwa pikiran seseorang hanya erat dengan kajian linguistik (Suharyo, 2018).
Hal ini dibantah oleh pandangan Mills bahwa wacana tidak sekedar mengutamakan aspek linguistik namun juga menjelaskan kebahasaan serta norma implisit yang berbentuk simbol. Pendapat Mills serupa dengan Machmud yang mengatakan bahwa wacana merupakan perkembangan bentuk komunikasi yang memanfaatkan simbol-simbol untuk menginterpretasikan persitiwa di dalam lingkup masyarakat (Machmud, 2018). Pesan-pesan komunikasinya juga bukan hanya berupa teks, tapi juga gambar, simbol hingga karakter digital. Sehingga, analisis wacana dalam penelitian berarti sebuah langkah untuk mengungkapkan maksud tersembunyi dari penulis dalam bentuk apapun, mulai dari teks, gambar, suara, symbol dan sebagainya. Pendapat ini juga didukung oleh Guy Cook dalam Machmud bahwa wacana terdiri dari teks dan konteks. Teks adalah aspek kebahasaan dan bukan sekedar kata-kata semata tapi juga menggambarkan ekspresi komunikasi melalui gambar, ucapan, efek suara, music, citra dan lain-lain (Machmud, 2018).
Maka dengan ini, peneliti menyetujui pendapat Mills dan Guy Cook dengan menyimpulkan bahwa analisis wacana bukan hanya memperhatikan kebahasaan dalam teks tapi juga konteks yang meliputi banyak hal seperti gambar, audio, simbol-simbol, musik dan lain sebagainya.