1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Perkebunan kelapa sawit saat ini bukan hanya diusahakan oleh perkebunan negara (PTPN), tetapi juga oleh perkebunan besar swasta ataupun masyarakat baik secara kemitraan maupun bermitra dengan perusahaan perkebunan (Sunarko 2009).
Tanaman Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit (Hartanto, 2011).
Beberapa diantara hama yang paling banyak menyerang adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) yang terdiri dari ulat api, ulat kantong, dan ulat bulu yang sering menimbulkan kerugian. Salah satu dari ulat pemakan daun kelapa sawit tersebut yang menyebabkan penurunan produksi hingga mencapai 30 – 40% adalah hama ulat api (Setothosea asigna). Hal ini terjadi pada tanaman kelapa sawit berumur 8 tahun (Prawirosukarto, dkk 2002).
Pengendalian ulat api dapat dilakukan dengan cara mekanis, biologi maupun kimia tergantung pada intensitas serangannya. Untuk intensitas ringan, serangan ulat api dapat diatasi dengan mengambil ulat api yang ada pada tanaman kelapa sawit yang terserang secara manual (hand picking). Untuk pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan menggunakan musuh
2
alami seperti predator, patogen hama/entomopatogen atau parasitoid dan juga menggunakan pestisida nabati (Prawirosukarto dkk., 1997).
Penggunaan pestisida nabati merupakan alternative untuk mengendalikan serangga hama ulat api (Setothosea asigna). Insektisida nabati relative mudah didapat, aman terhadap hewan bukan sasaran, dan mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan pengaruh samping (Kardinan. A, 2002).
Upaya pengendalian alternatif yang dilakukan yaitu menggunakan tanaman yang memiliki senyawa yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Insektisida nabati memiliki beberapa kelebihan yakni aman, mudah dibuat, murah, dan dapat diterapkan oleh petani, serta efektif dalam membunuh hama (Syahputra, 2001)
1.2 Urgensi Penelitian
Pengendalian yang paling cocok dilakukan adalah pengendalian nabati. Ekstrak buah cabai merah (Capsicum annum L.) dan umbi bawang putih (Allium sativum L.) sangat cocok untuk mengendalikan hama ulat api dilapangan karena memiliki sifat yang mudah terurai dan mengandung senyawa kimia yang berfungsi sebagai insektisida nabati, yang mana diharapkan dapat mengurangi peningkatan serangan hama ulat api (Setothosea asigna) dan pengaruh terhadap serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus).
1.3 Tujuan Khusus
Berdasarkan latar belakang dan urgensi penelitian yang akan dilakukan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi yang terbaik ekstrak buah cabai merah (Capsicum annum L.) dan umbi bawang putih (Allium sativum L. ) terhadap tingkat mortalitas hama ulat api (Setothosea
3
asigna) dan pengaruh terhadap serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus).
1.4 Target Temuan
Untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak buah cabai (Capsicum annuum) dan umbi bawang putih (Allium sativum) terbaik untuk mengendalikan hama ulat api (Setothosea asigna) dan pengaruh terhadap serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus).
1.5 Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha, baik petani kelapa sawit maupun perkebunan kelapa sawit dalam mengendalikan hama ulat api (setothosea asigna) dan pengaruh terhadap serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus) menggunakan insektisida nabati buah cabai (Capsicum annum.L) dan umbi bawang putih (Allium sativum L.).
4 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ulat Api Setothosea asigna
2.1.1 Biologi Dan Siklus Hidup Ulat Api
Ulat api termasuk Famili Limacodedae yang pada umumnya menyerang perkebunan kelapa sawit periode TM, tapi serangan hama ini juga ditemukan pada tanaman kelapa sawit periode TBM. Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Ulat yang baru menetas hidup berkelompok mengikis daging daun dari permukaan bawah dan meninggalkan epidermis bagian atas permukaan daun (Ginting, 1995).
Ulat api yang memiliki banyak jenis, Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, Darna diducta, Darna bradleyi, Thosea vestusa, Thosea bisura, Susica pallid, Birthamula chara. Spesies yang ditemui di perkebunan kelapa sawit adalah Setothasea asigna, Setora nitens, dan Darna trima. Pada perkebunan kelapa sawit Setothasea asigna merupakan salah satu jenis yang paling sering ditemui (Norman, dan Basri, 1992).
Klasifikasi ulat api (Setothosea asigna) sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Klass : Insekta Ordo : Lepidopera Famili : Limacodidae Genus : Setothosea
5
2.1.2. Siklus Hidup Hama Ulat Api Setothosea asigna a. Telur
Telur berwarna kuning kehijauan, berbentuk oval, tipis dan transparan. Telur diletakkan berderet 3 – 4 baris sejajar pada permukaan daun bagian bawah, biasanya pada daun pelepah ke 6 – 17 (Gambar 2.1). Satu tumpukkan berisi sekitar 44 butir dan seekor ulat api betina dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 300 – 400 butir telur menetes 4 – 8 hari setelah diletakkan
Gambar 2.1.Telur ulat api Sumber foto : (Sudharto, 1991)
b. Larva
Larva yang baru menetas, hidupnya berkelompok memakan bagian permukaan bawah daun. Larva instar 2 – 3 memakan helaian daun mulai dari ujung ke arah bagian pangkal batang daun. Selama perkembangannya larva mengalami pergantian instar sebanyak 8 – 9 kali dan mampu menghabiskan helaian daun seluas 400 cm. warna larva dapat berubah – ubah sesuai dengan instarnya, semakin tua umurnya akan menjadi semakin gelap. Larva instar terakhir (instar ke – 9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14,5 mm. Menjelang menjadi pupa, ulat menjatuhkan diri ke tanah. Stadia larva ini berlangsung selama 49 – 50 hari (Gambar 2.2 ).
6
Gambar:2.2 Larva Setothosea asigna Sumber foto : (Indrata, 2019)
c. Pupa
Pupa berada di dalam kokon yang terbuat dari campuran air liur ulat dan tanah, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap, terdapat di bagian tanah yang relative gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Masa kepompong ± 40 hari, menjelang akan menetas menjadi kupu-kupu kepompong berwarna coklat tua. (Gambar 2.3).
Gambar 2.3 Pupa Setothosea asigna Sumber foto : (Sudharto 1991)
d. Imago
Lebar rentangan sayap serangga dewasa (ngengat) jantan dan betina masing – masing 41 mm – 51 mm. Sayap depan nya berwarna coklat kemerahan dengan garis transparan dan bintik – bintik gelap, sedangkan sayap belakang berwarna coklat muda. Kupu-kupu mempunyai periode hidup yang pendek yaitu 7 hari. Waktu yang pendek tersebut hanya digunakan untuk kawin (Gambar 2.4).
7
Gambar 2.4 Imago Setothosea asigna Sumber foto: ( Sudharto 1991)
Untuk lebih jelasnya siklus ulat api dapat dilihat pada table 2.1
Tabel 2.1 Siklus Hidup Hama Ulat Api (Setothosea asigna)
Stadia Lama (Hari) Keterangan
Telur 6 Jumlah telur 300 butir
Larva 50 Terdiri dari 9 instar, konsumsi daun 400cm2
Pupa 40 Habitat ditanah
Imago 7 Jantan lebih kecil dari betina
Total 103 Tergantung pada lokasi dan lingkungan
Sumber: (Susanto, 2012)
2.2 Gejala Serangan Ulat Api
Serangan hama ulat api pemakan daun kelapa sawit banyak menimbulkan masalah yang berkepanjangan dengan menyebabkan kehilangan daun yang berdampak pada penurunan produksi (Gambar 2.5). kehilangan daun yang mencapai hampir 100% pada TM berdampak langsung terhadap penurunan produksi 70%. Seekor hama ulat api mampu mengkonsumsi daun seluas 300 – 500 cm perhari. Pada serangan berat ulat api memakan seluruh daun tanaman kelapa sawit sehingga daun tanaman tampak melidi. Oleh sebab itu itu, diperlukan pengendalian hama ulat api (Syahputra 2013)
8
Gambar 2.5 Gejala serangan ulat api Sumber foto : (Indrata, 2019)
2.3 Pengendalian Hama Ulat Api 2.3.1 Dengan Cara Mengutip
Pengendalian ulat dengan cara mengutip dapat dilakukan pada tanaman muda umur 1 sampai dengan 3 tahun, apabila luas areal yang mengalami serangan mencapai 25 Ha, Pengutipan ulat dapat di mulai apabila pada pemeriksaan global banyak ulat yang di temukan 3-5 ekor/pelepah.
2.3.2 Pengendalian Dengan Cara Hayati
Secara umum pengertian pengendalian hama secara hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan. Makhluk hidup dalam kelompok ini seperti predator, parasitoid, pathogen (Purnomo, 2010).
Selain mikrobia antagonis tersebut di atas, populasi ulat api dapat stabil secara alami dilapangan oleh adanya musuh alami predator dan parasitoid. Predator ulat api yang sering ditemukan adalah Eochantecona Of Furcellata dan Sycanus leucomesus. Pengendalian hayati, walaupun usahanya memerlukan waktu yang cukup lama tetapi banyak keuntungannya, antara lain aman, relative permanen, dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Pengendalian hayati hama kelapa sawit dapat menggunakan entomopatogenik, yaitu jamur
9
Cordyceps militaris. Parasitoid dapat diperbanyak dan dikorservasi di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Borerialata dan Elephantopus tomentosus (Prawirosukarto, 2003). (Gambar 2.6)
Gambar 2.6 Turnera sp Sumber foto : (Indrata, 2019)
2.3.3 Pengendalian Dengan Cara Kimiawi
Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menyemprot tanaman yang terserang dengan insektisida diantaranya Decis 2,5 EC, Agrothion 50 EC, dan lain-lain. Bila terjadi serangan yang luas pada tanaman yang sudah menghasilkan, penyemprotan dapat dilakukan dengan menggunakan alat semprot mesin (power sprayer) bahkan bila tanaman telah tumbuh tinggi dapat juga digunakan pesawat udara atau dengan cara fogging (Setyamidjaja, 2006).
2.4 Serangga penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus)
Serangga penyerbuk kelapa sawit E. kamerunicus ini termasuk dalam ordo coleopetra yang juga disebut dengan kumbang. Kumbang ini memiliki panjang tubuh sekitar 4 mm, dan dengan lebar tubuh sekitar 1,5 mm, adapun warna tubuh serangga tersebut berwarna coklat kehitam-hitaman (Satyawibawa dan Widyastuti, 1992).
10 2.4.1 SIKLUS HIDUP SERANGGA 1. Telur
Telur berbentuk lonjong dan berwarna keputih-putihan, ukuran panjang telur berkisar 0,60 - 0,68 mm dan lebar berkisar antara 0,3 – 0,5 mm (Gambar 2.7)
Gambar 2.7 siklus hidup E. kamerunicus Sumber foto : (Wikipedia)
2. Larva
Stadium larva berkembang melalui tiga instar. Larva instar pertama berada disekitar tempat menetasnya telur hingga terjadinya pergantian kulit. Larva instar pertama ini berwarna keputihan dengan bagian kepala yang memiliki bintik hitam dengan ukuran panjang 2 – 3 mm dengan lama stadium larva berkisar antara 2 – 3 hari. Sumber makanan larva ini yaitu cairan yang terdapat pada bagian dalam telur yang menetas. Pada larva instar kedua mulai bergerak dan pindah kea rah pangkal bunga jantan yang sama. Larva instar kedua ini memiliki ukuran panjang tubuh 4 – 5 mm, dengan lebar 1,5 – 2 mm, berwarna kekuning – kuningan dengan bagian kepala yang berwarna kecoklatan, adapun lama stadium dari larva instar kedua ini berkisar antara 2 – 3 hari. (Gambar 2.8)
11
Gambar 2.8 Larva E. kamerunicus Sumber foto : (Wikipedia)
3. Pupa (kepompong):
Pada saat pupa akan terbentuk, larva instar ketiga terlebih dahulu menggigit bagian ujung bunga jantan sehingga terlepas dengan demikian terjadilah lubang yang kelak menjadi tempat keluarnya kumbang, larva instar ketiga juga menjadi tidak aktif sekitar sehari sebelum terbentuknya pupa (kepompong). Pupa berwarna kuning cerah dan sudah tampak bagian – bagian tubuhnya seperti bakal tungkai, pupa berukuran panjang sekitar 5 – 7 mm dengan lebar tubuh sekitar 2 – 3 mm, periode pupa diselesaikan dalam waktu 5 – 6 hari. (Gambar 2.9)
Gambar 2.9 Pupa E. kamerunicus Sumber foto : (Wikipedia)
4. Dewasa (Kumbang):
Kumbang ini berwarna coklat kehitaman, pada bagian sayap terdapat bulu – bulu halus. Selama hidupnya dewasa (kumbang) E. kamerunicus memakan tangkai sari bunga jantan yang sudah mekar. Perkawinan (kopulasi) terjadi pada siang hari, antara 2 – 3 hari. (Gambar 2.10)
12
Gambar 2.10 E. kamerunicus dewasa Sumber foto : (Wikipedia)
2.5 Morfologi Tanaman cabai
Cabai atau Lombok merupakan tanaman yang mudah ditanam didataran rendah ataupun dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah - rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari – hari tanpa harus membelinya dipasar (Harpenas, 2010).
Menurut Hendayana (2014) hama yang terkena atau memakan tanaman yang terkena semprotan air cabai akan mengering dengan membrane sel rusak kehabisan cairan. Karena itulah cabai menjadi pestisida nabati yang ampuh mengendalikan kutu, tungau, ulat, sampai cacing perusak akar.
Aplikasi ekstrak cabai dengan konsentrasi 100% berpengaruh terhadap tingkat mematikan larva Culex sp. Sebesar 31,25% dari seluruh jumlah sampel dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Dengan demikian tingkat konsentrasi insektisida dianggap memiliki tingkat kematian yang baik dan tidak berbahaya bagi lingkungan hidup (Sujiprihati, 2007).
13
Klasifikasi tanaman cabai (Capsicum annuum) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Sub kelas : Sympetalae Ordo : Tubiflorae Family : Solanales
Genus : Capsicum
Jenis : Capsicum annum
Gambar 2.11 Tanaman Cabai Sumber foto : (Wikipedia)
2.6 Morfologi Bawang Putih
Bawang putih merupakan tanaman yang membentuk umbi lapis. Tanaman ini tumbuh secara berumpun dan berdiri tegak sampai setinggi 30 – 75 cm. Batang yang nampak diatas permukaan tanah adalah batang semu yang terdiri dari pelepah – pelepah daun. (Gambar 2.12). Sedangkan batang yang sebenarnya berada didalam tanah. Dari pangkal batang tumbuh akar berbentuk serabut kecil yang banyak dengan panjang kurang dari 10 cm (Santoso, 2000).
Penggunaan alisin dari bawang putih sebagai salah satu sumber insektisida didasarkan atas pemikiran bahwa terdapat mekanisme pertahanan dari tumbuhan akibat interaksinya dengan serangga pemakan tumbuhan, alisin ini
14
tidak akan menimbulkan resistensi karena baunya saja sudah membuat serangga tersebut untuk tidak mendekat. Salah satunya aroma tajam menyengat yang dikeluarkan alisin membuat hama takut untuk mendekat dengan adanya bau yang dimilikinya. Dihasilkan senyawa metabolik sekunder oleh tumbuhan yang bersifat penolak, penghambat, penghambat perkembangan dan sebagai bahan kimia yang mematikan dengan cepat (Jones, 2008).
Klasifikasi tanaman bawang putih (Allium sativum) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Sub kelas : Lillidae Ordo : Liliales Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium sativum
Gambar 2.12 Bawang Putih Sumber foto : (Wikipedia)
15 BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Kampus STIPAP Medan, untuk mendapatkan bahan aktif proses maserasi dilakukan di laboratorium Kimia Fakultas MIPA USU Medan. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2019.
3.2 Desain Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Ancak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 4 taraf perlakuan konsentrasi ekstrak cabai (C). Dengan uraian sebagai berikut:
C0 : Kontrol (Aplikasi dengan air)
C1 : Aplikasi dengan konsentrasi 5% ekstrak cabai dan umbi bawang putih / liter air
C2 : Aplikasi dengan konsentrasi 10% ekstrak cabai dan umbi bawang putih / liter air
C3 : Aplikasi dengan konsentrasi 15% ekstrak cabai dan umbi bawang putih / liter air
Sehingga diperoleh:
Jumlah perlakuan : 1 perlakuan
Jumlah taraf : 4 taraf
Jumlah ulangan : 6 ulangan
Total sampel bibit : 24 bibit
Jumlah ulat per bibit + serangga penyerbuk : 5 ulat + 5 E.k Jumlah ulat seluruh nya + jumlah seluruh serangga penyerbuk : 120 ulat +
16 Berdasarkan model liniaer sebagai berikut:
Yij : µ + Ti + Bj + ∑ij
Yij : Hasil pengamatan dari faktor pemberian ekstrak buah cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum) pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j.
µ : Efek nilai tengah.
Ti : Pengaruh perlakuan ekstrak buah cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum).
Bj : Pengaruh ulangan pada taraf ke j.
∑ij : Pengaruh galat pemberian ekstrak buah cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum) ke-I dan ulangan ke-j.
3.3 Bahan dan peralatan
a. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah:
Etanol 96%, aquadest, Buah cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum), Ulat api (Setothosea asigna), Serangga penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus), Sungkup, dan Bibit kelapa sawit main nursery. b. Peralatan yang digunakan pada penelitian ini:
─ Blender ─ Gelas ukur ─ Hand sprayer ─ Kertas saring ─ Timbangan ─ Alumunium foil ─ Botol kaca
b. Peralatan di laboratorium adalah: Rotary evaporator dan Waterbath
17 3.4 Tahapan Penelitian
a. Persiapan Areal Penelitian
Areal lahan yang digunakan, dibersihkan dari gulma yang tumbuh dan sisa-sisa akar tanaman pada areal tersebut. Kemudian tanah diratakan sehingga polybag dapat disusun dengan rapi dan tidak miring.
b.Persiapan Sungkup
Sungkup dibuat menggunakan kayu dan kain kasa dengan ukuran 130 cm x 75 cm sebanyak 12 sungkup di areal penelitian kebun kelapa sawit STIPAP Medan.
c. Penyediaan Ulat Api (Setothosea asigna)
Pengambilan ulat api dilakukan di kebun LNK (Langkat Nusantara Kepong) dengan ukuran yang . Setelah sampai diareal penelitian ulat api dimasukkan kedalam sungkup yang berisi tanaman kelapa sawit.
d. Aplikasi Ekstrak Cabai Merah (Capsicum annum) dan Bawang Putih (Allium sativum)
Aplikasi ekstrak cabai merah (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum), dilakukan 1 hari setelah introduksi, pengaplikasian ekstrak cabai merah dan bawang putih sesuian dengan perlakuan konsentrasi 5%,10%,15% dan control, dengan cara disemprotkan dengan menggunakan hand sprayer ke tanaman kelapa sawit.
3.5 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloid, falavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat.
18 Pembagian metode ekstraksi yaitu:
a. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan dengan cara mengektraksi bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (perarut non polar) atau setengah air misalnya etanol encer, selama periode waktu.
Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara meredam serbuk kedalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperatur kamar terlindungi dari cahaya, pelarut akan masuk kedalam sel dari tanaman melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam sel dengan diluar sel.
b. Proses Maserasi
Masing-masing 150 gram cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum) yang telah di timbang, kemudian di giling menggunakan blender dan masukan ke dalam botol.
1. Setelah itu serbuk cabai (Capsicum annum) dan bawang putih (Allium sativum) direndam menggunakan etanol 96% sebanyak 300 ml.
2. Kemudian botol di bungkus menggunakan aluminium foil secara merata. Sekali maserasi menggunakan 3 botol. Kemudiana di aduk dan dibiarkan selama 5 hari.
3. Maserasi tersebut disaring menggunakan kertas saring whatman untuk mendapat filtrate. Residu yang di peroleh dilakukan kembali sampai 3 kali maserasi .
4. Setelah mendapat hasil keseluruhan filtrate dari hasil maserasi dilakukan pemekatan dengan menggunakan Rotary Evaporator untuk memisahkan pelarut pada filtrate sehingga didapatkan crude ectract.
19 3.6 Pengamatan Parameter
a. Pengamatan tingkat mortalitas hama ulat api secara visual selama 7 hari setelah aplikasi ekstrak buah cabai (Capsicum annuum) dan bawang putih (Allium sativum).
b. Indikator pengaplikasian ekstrak buah cabai (Capsicum annuum) dan bawang putih (Allium sativum), yaitu: Perubahan warna dan perilaku ulat api (Setothosea asigna) dan serangga penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus) setelah aplikasi ekstrak buah cabai (Capsicum annuum) dan bawang putih (Allium sativum).
3.7 Rotary Evaporator
Tahapan proses rotary evaporator adalah sebagai berikut:
1. Sampel dimasukan ke dalam labu rotary 2. Di rangkai labu destilasi
3. Alat rotary evaporator di hidupkan dan pompa vakum
4. Dibiarkan hingga pelarut tidak menetes lagi pada labu destilasi 5. Dilakukan pengenceran
3.8 Mortalitas Ulat Api
Mortalitas ulat api dihitung dengan menggunakan rumus:
P = x 100%
Keterangan:
P = Persentase mortalitas larva
a = Jumlah ulat yang mati
20 3.9 Bagan Alur Penelitian
Mulai
Penyiapan Areal Penelitian
Pembuatan Sungkup
Pembuatan Ekstrak Buah Cabai (Capsicum annuum) dan Bawang Putih (Allium sativum)
Penyediaan Ulat Api
Penyediaan serangga penyerbuk
Aplikasi Insektisida Nabati
Pengamatan
Pembahasan
Kesimpulan
21 3.10 Jadwal Penelitian
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No Jenis Kegiatan Bulan 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Pengajuan Judul 2 Pembutan Proposal 3 Seminar Proposal 4 Pembuatan Sungkup 5 Penyediaan Bibit 6 Penyediaan ulat api
(S.asigna)dan E. kamerunicus
7 Aplikasi Pestisida Nabati
8 Pengamatan
9 Pembahasan
10 Penyusunan laporan penelitian