8
Penulisan ini memiliki beberapa penelitian terdahulu tentang analisis
kesempatan kerja sektoral yang dapat membantu peneliti dalam mencari referensi
pendukung penelitian yang ada, adapun beberapa penelitian yang menjadi acuan
sebagai berikut :
Purwanti (2009), tentang kesempatan kerja sektoral di Kabupaten Bangli.
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan basis ekspor
terhadap kesempatan kerja yang ada di Kabupaten Bangli. Adapun hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja dan keunggulan kompetitif Provinsi
Bali berpengaruh positif terhadap kesempatan kerja di Bangli, sedangkan bauran
industri berpengaruh negatif terhadap kesempatan kerja.
Penelitian yang dilakukan oleh Darman dan Afiat (2016) yang meneliti
tentang penyerapan tenaga kerja dan sektor unggulan di Sulawesi Tenggara.
Metode yang digunakan adalah Loqation Quatient (LQ), dengan hasilnya adalah
sektor yang unggul di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sektor pertanian,
pengangkutan, komunikasi dan jasa-jasa, sementara dalam penyerapan tenaga
kerja yang ada memiliki penyerapan tenaga kerja yang tinggi adalah sektor
pertanian.
Setiawan (2013), tentang kesempatan kerja di Kabupaten Kebumen
Kabupaten Kebumen adalah tujuan dari penelitian, hasil penelitian dapat diketahui
sektor basis ialah sektor pertanian dan sektor jasa, namun sektor tersebut tidak
menjadi sektor yang basis atau potensial dalam penyediaan lapangan pekerjaan di
Kabupaten Kebumen, yang menjadi sektor basis dalam penyedian lapangan kerja
adalah sektor non basis di Kabupaten Kebumen diantaranya adalah sektor
konstruksi, sektor perdagangan juga industri.
Ostinasisa (2010), yang menganalisis tenaga kerja sektoral dengan
pendekatan demometrik. Tujuannya ialah mencaritahu kondisi penyerapan tenaga
kerja sektor ekonomi yang ada, juga mengetahui sejauh mana sektor-sektor
ekonomi yang ada di Jawa Tengah mampu menciptakan kesempatan kerja untuk
masyarakat Jawa Tengah . Variabel yang digunakan adalah PDRB sektoral juga
pertumbuhan penduduk yang ada di Jawa Tengah.
Rahajunigtyas (2006) tentang strategi pengembangan wilayah di
Kabupaten Situbondo dengan pendekatan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan
kondisi internal yang lemah yang belum bisa memanfaatkan kekuatan dan peluang
daerah. Hasil strategi berada pada kuadran ke V (lima) yang artinya Kabupaten
Situbondo harus mampu mempertahankan kekuatan daerah dengan regulasi yang
dibuat.
Ilhami (2014), membahas tentang penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Alat analisis yang digunakan ialah regresi dan analisis SWOT. Penelitian ini
menunjukan keberadaan pekerja paruh waktu dapat memberi pengaruh positif
perencanaan starategi tenaga kerja didasarkan pada cara menghadapi MEA di
tahun 2015.
Penelitian ini memiliki kesamaan dan perbedaan dari penelitian-penelitian
sebelumnya yaitu kesamaan dari penelitian ini dengan beberapa penelitian diatas
adalah memiliki tujuan yang sama untuk mengetahui kebasisan kesempatan kerja
sektoral yang disediakan oleh sebuah daerah serta strategi perencanaan
kesempatan kerja di daerah tersebut, selain itu alat analisis yang digunakan adalah
Loqation Quatient (LQ), Shift-share dan SWOT, namun dari perbedaan penelitian
ini ialah ada beberapa penelitian tidak menggunakan alat analisis LQ melainkan
pendekatan demometrik, selain itu perbedaan tempat dan kurun waktu dalam
penelitian ini berbeda, ada juga penelitian yang memiliki perbedaan tujuan dari
penelitian ini misalnya untuk mengetahui sektor-sektor basis yang menggunakan
data PDRB sedangkan penelitian ini menggunakan data jumlah tenaga kerja per
sektor di Provinsi Indonesia.
B. Landasan Teori
1. Perencanaan Pembangunan
Menurut Kunarjo dan Hanafi dalam Rahajuningyas (2006) perencanaan
dapat diartikan sebagai proses mempersiapkan segala keputusan yang kemudian
dilaksanakan kedepannya, atau menyiapkan segala kegiatan secara sistematik
untuk mencapai hal yang diinginkan. Selain itu tahap-tahap perencanaan
pembangunan dapat dibagi menjadi beberapa bentuk dan gaya perencanaan.
a) Perencanaan alokatif adalah perencanaan alokasi sumberdaya yang
terbatas diantara pemakai yang bersaing.
b) Perencanaan Inovatif ialah perencanaan yang mencakup kegiatan
mengadakan perubahan struktural sosial masyarakat kedalam
pembangunan.
c) Perencanaan Transaktif yaitu gabungan dari perencaan alokatif dan
inovatif, dimana ada interaksi antara perencana dan sasaran kegiatan.
Pembangunan ekonomi daerah merupakan proses perubahan mendasar
struktur sosial, sikap masyarakat ataupun instansi pemerintah yang nantinya
mendukung pertumbuhan ekonomi juga kesenjangan kemiskinan. Pada dasarnya
perencanaan pembangunan ekonomi bertujuan untuk menggerakkan
perekonomian kearah yang lebih baik dari sebelumnya. (Setiawan,2013)
Pembangunan daerah berarti membangun disetiap sektor dari pertanian
industri ataupun sektor jasa disetiap wilayah dari pedesaan sampai dengan
wilayah lebih besar yaitu kota ataupun provinsi. Pada dasarnya pembangunan
haruslah mencerminkan perubahan untuk masyarakat dengan menyesuaikan
sistem sosial menyeluruh, selain itu pembangunan harus memiliki pandangan
tentang sebuah proses multidimensi yang mencakup tentang berbagai perubahan
dasar untuk berbagai masalah yang ada. (Todaro,2000;20)
2. Kesempatan Kerja
Menurut UU No. 13 Tahun 2003 tentang tenaga kerja, tenaga kerja
diartikan sebagai seseorang yang mampu untuk melakukan setiap pekerjaan dan
pengertian lain tentang tenaga kerja ialah penduduk yang sedang mencari kerja
ataupun melakukan kegiatan lain,selain bekerja. Tenaga kerja dianggap sebagai
faktor produksi penting. Sesuai dengan UU No. 13 tentang ketenagakerjaan dimana “Perencanaan tenaga kerja ialah penyusunan rencana secara sistematis
sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan ataupun program pembangunan
berkesinambungan”. Perencanaan tenaga kerja disini salah satunya adalah
menciptakan kesempatan kerja. Pasal 4 point kedua undang-undang
ketenagakerjaan ini menyatakan bahwa “Akan diwujudkan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang rata dan sesuai kebutuhan pembangunan”. Dari hal
itu maka memang perlu menyusun program yang mampu mendorong peningkatan
penciptaan kesempatan kerja untuk mengatasi kelebihan penawaran tenaga kerja.
Menurut Badan Pusat Statistik kesempatan kerja adalah banyak orang
yang dapat ditampung untuk bekerja pada suatu instansi. Penciptaan kesempatan
kerja merupakan langkah tepat mengingat penawaran kerja saat ini lebih tinggi.
Ada juga yang mengartikan kesempatan kerja sebagai jumlah lowongan pekerjaan
yang tersedia. Menurut Malik (2013;11), mengklasifikasikan kesempatan kerja
dalam tiga kategori yaitu : 1) Kesempatan kerja formal, 2) Kesempatan kerja
informal termasuk pekerjaan keluarga didalamnya, 3)Tambahan kesempatan
kerja.
3. Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja ialah pertemuan dari permintaan juga penawaran dari
tenaga kerja. Teori ini adalah interaksi dari permintaan juga penawaran tenaga
pemberi kerja. Pelaku disini adalah pemberi dan pencari pekerjaan, juga pihak
yang berada diantaranya yang memudahkan komunikasi antar kedua belah pihak.
Definisi lain ialah seluruh mekanisme yang memungkinkan adalanya transaksi
produktif antara orang yang menjual tenaganya dengan pihak pengusaha yang
membutuhkan tenaga tersebut (Sukirno,2006).
Masalah yang sering muncul saat ini salah satunya selain
ketidakseimbangan permintaan dan penawaran tenaga kerja ialah terkait
perbedaan dan keragaman kualitas pekerja serta pekerjaan mempengaruhi
kompleksitas masalah pasar kerja dan menentukan karakteristik pasar kerja
sehingga asumsi neo klasik yang memandang semua tenaga kerja homogen tidak
sepenuhnya benar (Malik, 2013;40).
Ekuilibrium dalam pasar tenaga kerja terjadi dimana kuantitas input tenaga
kerja yang ditawarkan sama dengan kuantitas input tenaga kerja yang diminta.
Tingkat permintaan dan penawaran tenaga kerja yang dilihatkan pada pasar tenaga
kerja maka salah satu hal yang menentukan dalam pasar tenaga kerja untuk
penawaran ataupun permintaan dari tenaga kerja ialah tingkat upah, pasar tenaga
kerja akan menjelaskan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dengan tingkat upah
tertentu (Sukirno, 2006). Upah akan dapat mempengaruhi jumlah dari permintaan
juga penawaran tenaga kerja yang dibutuhkan untuk sebuah produksi,
keseimbangan pasar tenaga kerja dengan berbagai tingkat upah yag ditawarkan
Sumber: Makro Ekonomi,2006 Gambar 2.1. Kurva Pasar Tenaga Kerja
Kurva diatas menjelaskan ketika permintaan berada dititk DL upah menjadi
sedang jumlah tenga kerja menjadi No. Apabila terjadi peningkatan misalnya D1L
maka jumlah kesempatan kerja dan upah menjadi N1 dan W1. Begitupun
seterusnya saat permintaan berubah menjadi D2L maka kesempatan kerja dan upah
juga meningkat menjadi N2 dan W2. Hal ini berarti peningkatan upah terjadi
seiring penambahan kesempatan kerja.
Teori ketenagakerjaan dalam hal pasar tenaga kerja juga mengalami
ketidakseimbangan ketika penawaran tidak sebanding dengan permintaan ataupun
sebaliknya, ketidak seimbangan ini biasa disebut excess demand of labor
(Kelebihan permintaan tenaga kerja) or excess supply for labor (Kelebihan
penawaran tenaga kerja) (S.Mulyadi, 2008;57).
DL D1L D2L W2 W1 W0 N0 N1 N2
4. Teori Pertumbuhan NeoKlasik
Teori ini dikembangkan oleh Robert M.Solow (1970) dengan model yang
memakai pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, peningkatan teknologi juga
besar output yang terkait. Selain itu model yang digunakan oleh Solow dalam
produksi memungkinkan adanya pengganti antar kapital dan tenaga kerja. Teori
ini melihat banyak hal dalam mekanisme pasar untuk menyeimbangkan antara
permintaan dan penawaran sehingga pemerintah tidak perlu terlalu ikut campur
didalamnya. Pertumbuhan menurut mereka dapat meningkat dengan tiga sumber
yang ada yaitu akumulasi modal, meningkatnya penawaran tenaga kerja dan
peningkatan teknologi. Peningkatan teknologi pada model ini adalah fungsi dari
waktu untuk tenag kerjameningkatkan kualitas ataupun keahlian untuk
menggunakan teknologi yang ada (Tarigan ,2005;52).
5. Teori Basis
Ekonomi regional membagi kegiatan ekonomi menjadi dua, yaitu basis
dan non basis. Kegiatan basis adalah kegiatan ekonomi yang mampu
menyediakan produk sampai keluar wilayah, sedangkan kegiatan non basis adalah
kegiatan yang menyediakan produk hanya pada lingkup tempat tinggal
masyarakat yang bersangkutan. Menurut Arsyad dalam Darman (2016) Teori
basis dikemukakan untuk menjelaskan faktor penentu pertumbuhan daerah
dihubungkan pada permintaan barang juga jasa, atau dalam arti lain teori ini
merupakan pertumbuhan ekonomi dengan melihat tingkat ekspor regional daerah
itu. Pertumbuhan industri wilayah akan memanfaatkan sumber daya diantaranya
sehingga dapat meningkatkan kekayaan wilayah juga menciptakan lapangan kerja
daerah. Teori ini digunakan dengan menentukan sektor yang unggul, karena
dengan mengetahui sektor unggul dan dalam pengembangan yang baik akan
memberi pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ekonomi regional mengartikan ekspor sebagai suatu kegiatan menjual
suatu produk ke luar wilayah. Pada dasarnya kegiatan ekspor berarti seluruh
kegiatan penghasil atau penyedia jasa dan barang yang mampu mendatangkan
pendapatan dari wilayah luar disebut kegiatan basis. (Tarigan,2005;56)
Salah satu yang harus dilakukan untuk studi basis ekonomi ialah dengan
memilih satuan ukuran. Satuan ukuran dapat berupa pendapatan,ataupun jumlah
orang yang bekerja/kesempatan kerja, dan sebagainya. Basis ekonomi akan
berkaitan dengan penentuan sektor unggulan yang ada di daerah tersebut, sektor
unggulan adalah sektor yang memiliki daya saing tinggi apabila hasil sektor
tersebut lebih unggul apabila dibandingkan dengan sektor yang ada didaerah lain.
Perkembangan sektor basis akan membantu pertumbuhan ekonomi diwilayah
tersebut. Peningkatan pada sektor basis baik pendapatan ataupun produktifitas
akan meningkatkan lapangan pekerjaan yang ada di setiap sektor ekonomi yang
ada di Daerah tersebut.
6. Teori Keunggulan Kompetitif dan Komparatif
Keunggulan ialah kelebihan pada suatu komoditi yang dihasilkan sebuah
wilayah dibandingkan dengan wilayah lain yang memproduksi komoditi yang
sama. Keunggulan kompetitif disebut juga sebagai keunggulan bersaing, setiap
agar sektor tersebut dapat mendorong pembangunan sebuah daerah. Menurut teori
ekonomi klasik tentang keunggulan suatu komiditi dilihat dari keunggulan
kompetitif dan keunggulan komparatifnya.
Keunggulan kompetitif adalah kelebihan untuk lebih dari pesaing lain
yang dapat dilakukan dengan menawarkan nilai yang lebih baik pada konsumen
dibandingkan dengan pihak lain dengan produk yang sama. Untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi maka suatu wilayah dapat memanfaatkan segala sumber
daya yang dimiliki untuk bersaing dengan wilayah yang lain. (Setiawan, 2013)
Keunggulan kompetitif akan melihat perbandingan dari potensi komoditas
yang sama antar satu daerah dengan daerah lainnya merupakan saingan daerah
tersebut, selain itu juga keunggulan kompetitif akan melihat kemampuan suatu
daerah untuk memasarkan produknya keluar daerah, istilah ini lebih mudah
dipahami dengan melihat produk yang dihasilkan mampu atau tidak bersaing
diluar daerah (Tarigan,2005;81).
Kemudian istilah keunggulan komparatif, istilah ini pertama kali
dikemukakan oleh David Ricardo dalam Darman (2006) menurutnya suatu negara
akan untung apabila masing-masing negara berkonsentrasi dan mengekspor
barang yang memiliki keunggulan komparatif. Salah satu sumsi yang digunakan
untuk teori tersebut ialah labor theory of value yang berarti nilai dari barang yang
dilihat dari jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang
tersebut.
Keunggulan komparatif juga diartikan dimana komoditi itu lebih unggul
perbandingan yang sama-sama diproduksi oleh dua wilayah. (Tarigan,2005;79)
Banyak komoditas diproduksi guna memenuhi kebutuhan lokal tapi tidak
memiliki kemampuan masuk ke dalam pasar global, keunggulan komparatif bisa
digunakan untuk melihat prospek komoditi tersebut kedepan.
7. Manajemen Strategi SWOT
Menurut Robbins Stephen dalam Jubaedah (2010), manajemen startegi
berarti penggabungan langkah-langkah yang dapat menghasilkan penilaian
terhadap sumber daya dan kemampuan organisasi tersebut dengan berbagai
peluang dilingkungan eksternalnya yang disebut dengan analisis SWOT, karena
analisis ini menggunakan faktor-faktor internal dan eksternal sehingga para
pemerintah ataupun pemimpin dapat mengidentifikasi strategi yang dapat
dimanfaatkan.
Analisis SWOT adalah bagian dari manajemen starategi dengan
menganalisis faktor internal dan faktor eksternal. Perencanaan tersebut dikaji
dengan mengumpulkan setiap faktor dari perusahaan atau organisasi yaitu
kekuatan (Strength), kelemahan (Weaknes), peluang (Opportunity), dan ancaman
(Threat). Adapun teknik analisis SWOT dikembangkan dengan model matriks SWOT yaitu menggabungkan dasar-dasar dari faktor perencanaan yang ada.
Matriks SWOT dibuat berdasarkan hasil perhitungan dari faktor internal dan
eksternal yang ada. (Solihin, 2012)
Perhitungan setiap faktor yang ada akan memberikan gambaran tentang
letak sebuah perusahaan atau organisasi dalam strategi yang akan dibuat, letak
membantu pengambil kebijakan untuk mengetahui kondisi perusahaan atau
organisasi tersebut. Berikut adalah gambar kuadran pengambilan keputusan
strategi SWOT :
Sumber: Rangkuti (2009) Gambar 2.2 Kuadran SWOT
Kuadran SWOT selalu mengkombinasikan setiap faktor eksternal dan
internal didalamnya, kuadran-kuadran tersebut adalah hasil silang setiap faktor
yang ada. Ada 4 (empat) kuadran di kuadran SWOT yaitu
a.) Kuadran I ialah kuadran dengan sifat mendukung kebijakan yang agresif mempertahankan kekuatan dan memanfaatkan peluang.
Opportunities Weaknesses Threats Strenghts KUADRAN I KUADRAN IV KUADRAN III KUADRAN II
b.) Kuadran II yaitu kuadran yang mendukung strategi diversifikasi,dengan memanfaatkan kekuatan dan meminimalisir ancaman.
c.) Kuadran III ialah kuadran yang mendukung kebijakan yang meminimalisir masalah internal atau kebijakan turn around.
d.) Kuadran IV yaitu kuadran yang mendukung kebijakan defensive dengan meminimalisir kelemahan dan ancaman.
8. Kerangka Pikir
Pembangunan ekonomi sebuah wilayah akan memanfaatkan sektor-sektor
ekonomi yang ada di sebuah daerah tersebut. Untuk mengelola sektor-sektor
ekonomi tersebut membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat berproduktifitas
dengan baik. Kegiatan tersebut akan menyerap tenaga kerja dari sisi penawaran
tenaga kerja. Kesempatan kerja yang ada menggambarkan besarnya pekerja yang
bekerja disebuah sektor karena adanya peluang didalamnya. Di Kota Denpasar
perlu diketahui jumlah kesempatan kerja untuk setiap masyarakat agar dapat
bersaing dengan daerah lain sehingga akan terbentuk strategi kesempatan kerja
yang baik di Kota Denpasar.
Sektor-sektor basis dan non basis yang sudah diketahui dari kesempatan
kerja yang ada di Kota Denpasar maka akan lebih mudah membuat strategi
pengembangan untuk meningkatkan kesempatan kerja di Kota Denpasar. Strategi
yang dibuat didasarkan pada situasi dan kondisi yang ada di Kota Denpasar.
pemikiran untuk menggambarkan basis kesempatan kerja dan strategi yang akan
dibuat di Kota Denpasar adalah sebagai berikut:
Gambar 2. 2 Kerangka pikir
Dari sektor-sektor ekonomi yang ada di Kota Denpasar akan menampung
tenaga kerja disetiap sektornya, tenaga kerja akan membantu setiap produktifitas
dari setiap sektor tersebut, kemudian kesempatan kerja di setiap sektor tersebut
akan dikelompokkan dalam sektor basis ataupun non basis dengan menggunakan
data jumlah tenaga kerja di Kota Denpasar yang diolah dengan alat analisis
Location Question (LQ), Shift-share, dan juga angka pengganda kesempatan kerja, setelah itu maka akan diidentifikasi faktor - faktor internal dan eksternal
untuk mendukung strategi perluasan kesempatan kerja di Kota Denpasar. Sektor-sektor Ekonomi Kota Denpasar
Pembangunan Wilayah
Kesempatan Kerja Basis dan Non Basis
- Location Question (LQ)
- Shift-Share
- Employment base Multiplier