19 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Bobot Badan dan Ukuran -Ukuran Tubuh
Bobot badan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara sapi dinaikkan ke atas bantalan timbangan dengan posisi kaki sejajar satu sama lain. Sapi diusahakan tidak banyak bergerak saat dilakukan pencatatan bobot badan. Penimbangan dilakukan pada pagi hari sebelum ternak diberi pakan, agar ternak dalam kondisi bobot badan kosong (empty body weight). Ternak telah berpuasa sejak diberi makan pada sehari sebelumnya, pada sore hari. Menurut Anonim (2006) ternak sebaiknya dipuasakan selama 12 jam sebelum dilakukan pengukuran bertujuan agar kondisi ternak tersebut mencapai bobot badan kosong. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Willian dan Jenkins (1998) dalam Akbar (2008) menyatakan bahwa badan kosong yaitu bobot badan ternak meliputi berat tanpa isi saluran pencernaan.
Tabel 1. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Sapi Bali Betina yang dipelihara secara semi intensif
Variabel N Minimum Maximum CoefVar Rataan
Bobot Badan 30 156 199,50 7,71 178,1 ± 13,73 kg
Lingkar Dada 30 133 150 2,96 140,8 ± 4,17 cm
Panjang Badan 30 102 117 3,83 111 ± 4,25 cm
Tinggi Pundak 30 102 108 2,12 106,3 ± 2,26 cm
Tinggi Pinggul 30 102 108 1,81 106,7 ± 1,93 cm
20 Berdasarkan Tabel 1 menunjukan bahwa bobot badan dan ukuran tubuh sapi Bali betina yang dipelihara secara semi intensif di kelompok peternak Mawar Mekar Jaya Desa Iloheluma, Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango memiliki rata-rata bobot badan 178,1 kg; lingkar dada 140,8 cm; panjang badan 111 cm; tinggi pundak 106,3 cm; tinggi pingang 106,7 cm. Bobot badan, lingkar dada dan tinggi pinggul sapi Bali betina dewasa tersebut relatife lebih rendah dibandingkan hasil Pane (1990) dalam Wibisono (2010) yang menyatakan bahwa bobot badan sapi Bali betina dewasa 300-400 kg, lingkar dada 158-160 cm, panjang badan 117- 118 cm, tinggi pundak 105-114 cm. Namun pada ukuran tinggi pundak dalam penelitian ini diperoleh nilai yang lebih besar dibandingkan dengan penelitian oleh Pane (1990) dalam Wibisono (2010) menyatakan bahwa, tinggi pinggul sapi bali dewasa adalah 122 cm. Rendahnya bobot badan disebabkan oleh sistem pemeliharaan pada kelompok peternak Mawar Mekar Jaya Desa Iloheluma, Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango yang masih bersifat semi intensif dimana ternak sapi Bali betina dewasa dilepas pada siang hari di padang pengembalaan sekitar kandang pemeliharaan yang secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan sapi. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian jenis pakan yang diberikan selama ternak dikandang adalah jerami padi dan jerami jagung namun pemberiannya secara adlibitum dan tanpa melalui penghitungan sesuai kebutuhan ternak. Jenis pakan yang dikonsumsi selama ternak ternak merumput dipadang penggembalaan hanya mengandalkan rumput liar dan daun-daunan yang tumbuh disekitar padang
21 pengembalaan. Hal ini juga sesuai dengan yang dikemukakan oleh Gunawan, dkk. (1998) dalam Laya (2005) yang menyatakan bahwa sapi Bali yang dipelihara tradisional dengan pakan hijau berupa rumput-rumputan memberikan pertambahan bobot badan yang rendah yaitu 0,1kg/ekor/hari.
Rendahnya bobot badan dan ukuran tubuh sapi Bali betina dewasa juga disebabkan oleh pemberian pakan yang tidak efektif, lingkungan kurang kondusif untuk media pemeliharaan, cuaca yang tidak menentu khususnya perubahan suhu yang menyebabkan stress pada ternak yang dipelihara. Selain itu perlu diperhatikan sanitasi dari pakan, air, pekerja, peralatan, dan kandang. Pakan dan air yang digunakan dalam areal peternakan harus terbebas dari kontaminan untuk mengurangi resiko infeksi. Pekerja peternakan juga harus terbebas dari penyakit yang bisa menular ke ternak (zoonosis). Sanitasi peralatan dan kandang harus diperhatikan agar tidak ada penyakit yang berasal dari kedua hal tersebut.
4.2. Analisis korelasi antara bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh
Berdasarkan Tabel 2 Hasil perhitungan analisis statistik korelasi antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan sapi Bali betina diperoleh koefisien korelasi (r) memiliki tingkat keeratan yang berbeda-beda. Koefisien korelasi menunjukkan nilai keeratan hubungan antara variabel pengamatan ukuran tubuh dengan bobot badan untuk menduga bobot badan sapi Bali betina.
22 Tabel 2. Analisis Korelasi Bobot Badan dengan Ukuran-Ukuran Tubuh
Ukuran Tubuh
Bobot Badan Lingkar Dada Panjang Badan Tinggi Pundak Lingkar Dada 0.658 0,000 Panjang Badan 0.637 0.458 0,000 0.011 Tinggi Pundak 0.249 0.425 0.096 0.185 0.019 0.614 Tinggi Pinggang 0.013 0.043 -0.276 0.547 0.947 0.820 0.140 0.002
Sumber : Pengolahan Data, 2013
Berdasarkan hasil analisis korelasi antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh diperoleh korelasi tertinggi dengan bobot badan adalah lingkar dada (0,658) diikuti panjang badan (0,637), tinggi pundak (0,249) dan tinggi pinggul (0,013). Nilai korelasi antara bobot badan dengan lingkar dada dan panjang badan termasuk kategori tinggi namun korelasi antara bobot badan dengan tinggi pundak dan tinggi pinggul cukup rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Warwick, dkk. (1995) dalam Chrisnawati, (2009) bahwa korelasi dikatakan kecil bila dibawah dari 0,25-0,5, korelasi dikatakan sedang bila berada diantara 0,25-0,5 dan berkorelasi tinggi bila lebih besar dari 0,50. Hal ini sesuai juga yang dikemukakan Nurhayati (2004) dalam Bakari (2013) menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara bobot badan dan panjang badan.
23 Djagra (1994) dalam Chrisnawati (2009) menambahkan bahwa dimensi tubuh yang mempunyai tingkat kedewasaan awal, misalnya tinggi pundak tidak baik untuk menaksir berat badan sebab mempunyai koefisien yang kecil, koefisien korelasi terbesar terdapat pada lingkar dada. Tingkat ketepatan pengukuran lingkar dada lebih baik karena lebih mudah melakukan pengukurannya, sehingga kesalahan dalam penaksiran bobot badan lebih kecil. Selanjutnya Harjosubroto (1994) dalam Chrisnawati (2009) menyatakan bahwa ukuran-ukuran tubuh yang sering digunakan adalah panjang badan, lingkar dada dan tinggi pundak yang semuanya merupakan indikator dari bobot badan. Lana dkk (1983) dalam Chrisnawati (2009) menambahkan bahwa dimensi tubuh yaitu panjang badan, lingkar dada memiliki korelasi positif dengan bobot badan. Soeparno (1998) dalam Chrisnawati (2009) menyatakan bahwa umur sangat mempengaruhi bobot badan dari seekor ternak, semakin dewasa ternak semakin bertambah bobot badan. Ukuran-ukuran tubuh serta tanda luar merupakan salah satu cara yang mudah untuk menduga bobot badan maupun untuk mengetahui sifat keturunan dari seekor ternak.
4.3. Analisis Regresi Bobot Badan dengan Ukuran- ukuran Tubuh
Analisis regresi berganda adalah persamaan regresi dengan satu peubah tak bebas (Y) dengan lebih dari satu peubah bebas (X). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel peubah bebas (X) berhubungan positif atau negatif dengan variabel satu peubah tak bebas (Y) Secara umum data hasil pengamatan Y
24 Y= a + b1x1+ b2x2 + b3x3 + b4x4 (Laya, 2005). Dalam penelitian ini variable bebas (X)
yang digunakan adalah lingkar dada (X1), panjang badan (X2), tinggi pundak (X3) dan tinggi pinggul (X4).
Metode analisis regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode stepwise. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari adanya korelasi antar variable X (multikoleneritas) yang dapat mempengaruhi tingkat validitas dari persamaan regresi yang diperoleh.
Tabel 3. Output Perhitungan Analisis Berganda Metode Stepwise
Step 1 2 Constant -127.3 -189.4(a) Lingkar Dada 2.17 1.53(b1) T-Value 4.63 3.29 P-Value 0.000 0.003 Panjang Badan 1.37(b2) T-Value 3.02 P-Value 0.005
Sumber : Pengolahan Data, 2013
Berdasarkan hasil analisis regresi berganda metode stepwise (Tabel 3) diperoleh persamaan regresi Y = -189,4 + 1,53X1 + 1,37 X2, dengan (Y) adalah bobot
badan, (a) adalah intersep, (X1) adalah lingkar dada dan (X2) adalah panjang badan.
Variebel tinggi pundak (X3) dan variable tinggi pinggul (X4) tidak dimasukkan dalam
persamaan regresi sebab ditemukan multikoleneritas pada kedua variable tersebut. Nilai a= -189.4 pada persamaan regresi yang diperoleh berarti jika nilai (X1) lingkar
25 dipelihara secara semi intensif adalah sebesar -189.4 kg. Koefisien regresi variabel lingkar dada (X1) sebesar 1.53 artinya jika variabel panjang badan nilainya tetap dan
nilai lingkar dada mengalami kenaikan 1 cm maka bobot badan sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif akan mengalami peningkatan sebesar 1,53 kg. Koefisien regresi variabel panjang badan (X2) sebesar 1.37 artinya jika variabel lingkar dada
nilainya tetap dan nilai panjang badan mengalami kenaikan 1 cm maka bobot badan sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif akan mengalami peningkatan sebesar 1,37 kg.
Hasil analisis regresi berganda metode stepwise juga diperoleh nilai R Square (Rsq) sebesar 57.64 yang berarti bahwa 57.64% pengukuran bobot badan pada sapi Bali betina yang dipelihara secara semi intensif dipengaruhi oleh lingkar dada dan panjang badan. Sedangkan sisanya di pengaruhi oleh variable lain diluar variable yang dimaksukkan dalam model persamaan regresi.