• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. DESKRIPSI WILAYAH Penelitian mengenai Implementasi Program Pembangunan Zona Integritas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III. DESKRIPSI WILAYAH Penelitian mengenai Implementasi Program Pembangunan Zona Integritas"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

59

BAB III

DESKRIPSI WILAYAH

Penelitian mengenai Implementasi Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di Kota Malang ini dilaksanakan di Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang. Maka pada bab ini akan dijelaskan mengenai deskripsi secara singkat mengenai profil Kota Malang, Visi dan Misi Kota Malang sebagai bentuk komitmen pemerintah kota dalam menjalankan Reformasi Birokrasi dan profil dari Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang.

A. Deskripsi dan Laju Perekonomian Kota Malang

Kota Malang merupakan kota kedua terbesar yang berada di Provinsi Jawa Timur setelah Kota Surabaya yang juga merupakan ibu kota provinsi, letak Kota Malang berbatasan langsung dengan kecamatan di wilayah Kabupaten Malang, yakni sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji, serta sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau. Dalam menyelenggarakan pemerintahannya, Kota Malang terbagi kedalam lima kecamatan, diantaranya Kecamatan Kedungkandang, Kecamatan Sukun, Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Lowokwaru.

(2)

60

Gambar 3.1. Peta Kota Malang

Perekonomian Kota Malang ternyata ditunjang dari berbagai sektor, yakni industri, jasa, perdagangan dan pariwisata. Sebagai kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur, laju ekonomi Kota Malang merupakan yang terpenting kedua di Provinsi Jawa Timur setelah Kota Surabaya. Berbagai macam industri tersebar di Kota Malang, dari mulai home industry berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM) yakni industri tempe dan kripik tempe yang ada di daerah Sanan hingga industri manufaktur padat karya seperti industri rokok, karoseri dan body repair, tekstil dan garmen dan persenjataan pesawat tempur. Di bidang pariwisata, Kota Malang yang terletak di dataran tinggi sehingga berhawa sejuk, menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi Kota Malang. Di Kota

(3)

61

Malang juga banyak dijumpai hotel dan rumah singgah (guest house) yang mengakomodasi kunjungan wisatawan.

Laju pertumbuhan ekonomi Kota Malang pada awal tahun 2017 yaitu sebesar 5,61%, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang sebesar 5,55% dan nasional sebesar 5,02%. Perekonomian Kota Malang didukung oleh kegiatan perdagangan yang merupakan sektor yang sangat dominan dalam membentuk perekonomian Kota Malang, kontribusi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 29,54% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 28,90%. Perkembangan laju pertumbuhan sektor perdagangan di Kota Malang sebesar 6,31%. Kondisi tersebut didukung oleh usaha kecil termasuk jasa perbengkelan yang cukup banyak beroperasi di Kota Malang, yang disebabkan juga oleh pertumbuhan kendaraan bermotor. Sektor perdagangan Kota Malang memberikan kontribusi sebesar 5% - 5,3% tiap tahun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Timur.

Selanjutnya inflasi Kota Malang pada tahun 2017 tercatat sebesar 3,75%, yang relatif rendah jika dibandingkan dengan inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 4,04% dan Kota Surabaya sebesar 4,37%, akan tetapi menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 3,61%.

B. Visi dan Misi Kota Malang ditinjau dari Aspek Reformasi Birokrasi

Visi dari pemerintah daerah tidak terlepas dari kondisi nyata dan isu-isu strategis yang terjadi. Dalam konteks pembangunan di Kota Malang selama lima tahun (2013-2018), visi pembangunan daerah dirumuskan dengan berangkat dari kondisi yang saat ini ada sebagai hasil dari pembangunan sebelumnya. Dengan

(4)

62

demikian, visi kepala daerah terpilih adalah cerminan dari pemahaman atas kondisi nyata dan isu-isu strategis yang ada di Kota Malang, untuk kemudian dijadikan sebagai tujuan dari pembangunan daerah. Adapun Visi Kota Malang periode 2013-2018 adalah: “Terwujudnya Kota Malang sebagai Kota Bermartabat”. (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Malang, Tahun 2013-2018)

Kata pada Kota Bermartabat sendiri memiliki akronim dari Bersih, Makmur, Adil, Religius-toleran, Terkemuka, Aman, Berbudaya, Asri dan Terdidik, sehingga jika ditinjau dari aspek Reformasi Birokrasi maka yang menjadi akronim ialah kata bersih dan Adil. Bersih disini memliki arti Kota Malang harus menjadi ciri dari sistem penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan harus diciptakan agar kepentingan masyarakat dapat terlayani dengan sebaik-baiknya, sedangkan akronim dari kata Adil merupakan terciptanya kondisi yang adil di dalam aspek kesetaraan posisi semua masyarakatnya di dalam hukum dan proses penyelenggaraan pemerintahan.

Selain visi Terwujudnya Kota Malang yang Bermartabat, Pemerintah Kota Malang telah mengupayakan agar visi tersebut dijalalankan melalui misi, salah satunya ialah “Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik yang Adil, Terukur dan Akuntabel” misi tersebut merupakan penjabaran dari visi Bersih dan Adil. Dimana misi ini akan memberikan prioritas pada peningkatan kualitas pelayanan pemerintahan daerah kepada masyarakat, yang diarahkan pada pemberian pelayanan yang mudah, cepat dan akuntabel. Pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan menjadi perhatian dalam misi ini. Dalam menjalankan pelayanan publik pemerintah harus senantiasa mengedepankan

(5)

63

konsep adil sebagai landasan etik dalam melakukan setiap layanan kepada masyarakat. Misi ini juga akan mendorong pemerintah dalam menjalankan pelayanan publik yang bersih. Kondisi ini dibangun dengan melaksanakan reformasi birokrasi dalam Organisasi Pemerintah Daerah Kota Malang. Aparatur Pemerintah akan ditingkatkan kualitas profesionalitas mereka, serta akan dilakukan berbagai penataan dan mekanisme guna menghilangkan praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam menjalankan roda pemerintahannya, khususnya dalam pelayanan terhadap masyarakat. Selain itu, dalam menjalankan pelayanannya harus berpedoman terhadap mekanisme serta standar operasional prosedur yang berlaku.

Pada tabel berikut ini, akan disajikan secara sistematis rangkaian antara pernyataan Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Malang Tahun 2013-2018 terkait Misi Kota Malang dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang adil, terukur dan akuntabel.

Tabel 3.1. Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Malang 2013-2018

Misi Tujuan Sasaran

Misi 2: Meningkatkan kualitas pelayanan publik yang adil, terukur dan akuntabel.

Terwujudnya kualitas pelayanan publik yang prima.

Meningkatnya kualitas layanan publik kepada masyarakat.

Meningkatnya

pengelolaan keuangan dan kinerja daerah. Meningkatnya kualitas aparatur pemerintah daerah dalam melakukan pelayanan publik.

Terwujudnya

peningkatan kualitas peraturan daerah.

Meningkatnya kualitas dan legitimasi peraturan daerah. Terwujudnya peningkatan kualitas perencanaan daerah. Meningkatnya kualitas perencanaan daerah.

(6)

64

C. Profil Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Struktur organisasi Badan Pelayanan Pajak Daerah kota Malang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah serta Peraturan Walikota Malang Nomor 48 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Orgaisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang dan Peraturan Walikota Malang Nomor 84 Tahun 2016 Tentang Pembentukan, Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Layanan Pajak Daerah pada Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang.

Badan Pelayanan Pajak Daerah merupakan perangkat daerah yang melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan di bidang keuangan khususnya dalam hal pemungutan pajak daerah. Badan Pelayanan Pajak Daerah dipimpin oleh seorang kepala badan yang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dibantu oleh seorang sekretaris dan tiga orang kepala bidang, yaitu bidang pendataan, pendaftaran dan penetapan, bidang penagihan dan pemeriksaan serta bidang pengembangan potensi.

(7)

65

Bagan 3.2. Struktur Organisasi Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang melaksanakan tugas menyusun dan melaksanakan kebijakan daerah di bidang pemungutan pajak daerah. Untuk melaksanakan tugas pokok sebagimana dimaksud, Badan Pelayanan Pajak Daerah mempunyai fungsi:

a. Penyusunan perencanaan strategis perangkat daerah;

b. Penyusunan rencana intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah; c. Pengembangan potensi pajak daerah;

(8)

66 e. Pemungutan pajak daerah;

f. Penyelesaian keberatan pajak daerah;

g. Penyelesaian permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan, penghapusan, pengurangan sanksi dan kelebihan pembayaran atas pajak daerah;

h. Pembinaan dan pengendalian terhadap sistem pemungutan pajak daerah;

i. Penertiban Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD);

j. Pembukuan dan pelaporan atas pemungutan dan penyetoran pajak daerah;

k. Pengelolaan barang milik daerah yang berada dalam kewenangannya; l. Pengelolaan administrasi umum;

m. Pemberdayaan dan pembinaan jabatan fungsional; n. Penyelenggaraan Unit Pelayanan Teknis (UPT).

D. Sumber Daya Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Susunan kepegawaian Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang dapat dikelompokkan menurut golongan kepangkatan, tingkat pendidikan dan eselon. Jumlah pegawai Badan Pelayanan Pajak Daerah sebanyak 170 orang, yang terdiri dari 107 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 63 orang tenaga bantu Badan Pelayanan Pajak Daerah yang menurut golongannya terbagi dalam diagram berikut (data per Januari 2017).

(9)

67

Gambar 3.3. Persentase ASN dan Tenaga Bantu BP2D Kota Malang

Dalam menjalankan sebuah orgaisasi setingkat Badan Pelayanan Pajak daerah Kota Malang memerlukan adanya sumber daya manusia yang dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya, maka dengan demikian terdapat 107 sumber daya manusia yang berstatus sebagai aparatur sipil negara dan terbagi kedalam 35 orang perempuan dan 72 laki-laki. Adapun sumber daya manusia yang diperbantukan di Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang yaitu sebanyak 63 orang yang terdiri dari 19 perempuan dan 44 laki-laki.

Gambar 3.4. ASN Berdasarkan Tingkat Pendidikan

72 35

Aparatur Sipil Negara

Laki-laki Perempuan 44 19

Tenaga Bantu

Laki-laki Perempuan 3 6 53 1 31 12 1 SEKOLAH DASAR (SD) SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA (SLTP) SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS (SLTA) DIPLOMA 3 (D3)

STRATA 1 (S1) STRATA 2 (S2) STRATA 3 (S3)

Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota

Malang

(10)

68

Sumber daya manusia yang terdapat di Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang terklasifikasi menurut jenjang pendidikannya. Adapun jenjang pendidikan yang berasal dari Sekolah Dasar berjumlah tiga orang, Sekolah Menengah Pertama/sederajat sejumlah enam orang, Sekolah Menengah Atas/sederajat berjumlah 53 orang, Sekolah Vokasi atau setara dengan Diploma 3 berjumlah satu orang, sedangkan yang berasal dari Perguruan Tinggi setingkat Srata 1 berjumlah 31 orang, Strata 2 berjumlah 12 orang dan Strata 3 sejumlah 1 orang.

A. Perlengkapan Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang Gambar 3.5. ASN Berdasarkan Golongan

Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang memiliki aparatur berdasarkan kepangkatan. Adapun kepangkatan tersebut dimulai dari Tingkat Juru yaitu golongan I dan bertugas sebagai pelaksana pembantu (pemberi asistensi) yakni I/b sebanyak satu orang dan I/c sebanyak satu orang. Tingkat Pengatur yaitu golongan II dan bertugas melaksanakan langkah-langkah realisasi suatu kegiatan yang merupakan operasionalisasi dari program instansinya yakni II/a sebanyak enam

1 1 6 6 26 1 16 21 7 13 7 1 1

I/B I/C II/A II/B II/C II/D III/A III/B III/C III/D IV/A IV/B IV/C

Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota

Malang

(11)

69

orang, II/b sebanyak enam orang, II/c sebanyak 26 orang, II/d sebanyak satu orang. Tingkat Penata yaitu golongan III dan bertugas penanggungjawab serta menjamin mutu proses yakni III/a sebanyak 16 orang, III/b sebanyak 21 orang, III/c sebanyak tujuh orang, III/d sebanyak 13 orang. Tingkatan dari kepangkatan yang terakhir adalah pembina dan bertugas dalam membina dan mengembangkan kekuatan sumberdaya untuk jangkauan pandang kedepan yakni IV/a sebanyak tujuh orang, IV/b sebanyak satu orang dan IV/c sebanyak satu orang.

Sarana dan prasarana yang dimiliki Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang dalam rangka mendukung kegiatan organisasi meliputi:

a. Kantor (Gedung)

Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang terletak di Jalan Mayjend. Sungkono Gedung B lantai I Perkantoran Terpadu Pemerintah Kota Malang diatas lahan seluas 2.270 M2 dan bangunan seluas 2.270 dari luas bangunan tersebut seluas 1.870 M2 merupakan aset Badan

Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dan seluas 400 M2 merupakan aset Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D). Rasio antara jumlah bidang dan jumlah aparatur sipil negara sebanyak 107 orang dengan luas bangunan (kantor) sudah ideal.

b. Sarana Kendaraan

Sarana kendaraan terdiri dari roda empat sebanyak 18 unit dan roda dua sebanyak 53 unit, seluruhnya dalam keadaan baik dan berfungsi optimal. Walaupun dengan frekuensi kegiatan operasional yang cenderung

(12)

70

meningkat terutama operasi-operasi terhadap penagihan pajak daerah terhadap para wajib pajak.

c. Peralatan elektonik

Peralatan elektronik (komputer) untuk memproses data dan kegiatan surat menyurat terdapat sebanyak 76 unit. Untuk beberapa unit komputer yang tersedia kondisinya masih baik, namun kapasitas dan performanya sudah ketinggalan, sehingga program-program komputer yang terkini dan ragam yang sangat luas dalam mendukung kecepatan pemprosesan tidak terakomodasi. Akan tetapi dengan adanya perawatan dan pengadaan beberapa unit komputer baru maka dapat menunjang fungsi dari komputer yang lama tersebut, sedangkan peralatan manual seperti mesin ketik dan alat perforasi sebanyak satu unit masih difungsikan sebagai pendamping peralatan elektronik dalam mendukung kelancaran pekerjaan.

E. Gambaran Umum Pajak Daerah Kota Malang

Kemajuan yang pesat, khususnya di bidang ekonomi nampaknya telah menjadikan Kota Malang sebagai kota terbesar kedua setelah Kota Surabaya. Hal tersebut terjadi lantaran adanya pelaksanaan otonomi daerah yang dimana suatu daerah diberikan kewenangan dalam menggali sumber-sumber potensi pendapatan asli daerah untuk digunakan dalam hal pembiayaan pelaksanaan pemerintahan daerah. Pajak daerah merupakan salah satu dari pendapatan asli daerah yang dalam proses pengelolaannya di Kota Malang berpedoman pada Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000

(13)

71

(Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) dan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2010 (Tentang Pajak Daerah yang telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah).

Pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sebagai tindak lanjut dari peraturan tersebut, Pemerintah Kota Malang melakukan pemungutan pajak daerah guna mendukung pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Berikut merupakan pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah Kota Malang.

1. Pajak Hotel

Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Adapun pengertian hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan atau peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, sedangkan yang tidak termasuk ke dalam pajak hotel ialah: a.) jasa tempat tinggal yang disediakan oleh pemerintah; b.) jasa sewa apartemen; c.) jasa tempat tinggal di pusat pendidikan dan kegiatan keagamaan; d.) jasa sewa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti asuhan, panti jompo, dan panti sosial lainnya; e.) jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel yang dapat dimanfaatkan untuk umum.

(14)

72

Tabel 3.2. Realisasi Pajak Hotel Tahun 2015 - 2017 No Nama Pajak Tarif

Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Hotel Bintang 4 10 % 14.237.332.802,73 18.069.580.299,45 20.395.589.343,80 2. Hotel Bintang 3 8.944.505.410,90 9.094.583.456,56 10.808.390.403,00 3. Hotel Bintang 2 2.790.233.066,54 3.350.820.810,70 3.913.640.545,00 4. Hotel Melati 3.074.179.253,45 3.598.604.950,60 4.362.071.761,65 5. Wisma Pariwisata 177.548.917,30 277.312.000,00 390.499.794,80 6. Guest House 866.131.945,01 979.707.423,70 824.154.790,00 7. Rumah Kost 5 % 1.738.576.832,50 2.487.028.903,25 2.425.628.187,80 Realisasi Pajak Hotel 31.828.508.228,43 37.857.637.844,26 43.119.974.826,05 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Grafik 3.1. Realisasi Pajak Hotel Tahun 2015 – 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Hotel di Kota Malang yang meliputi Hotel Bintang 4, Bintang 3, Bintang 2, Hotel Melati dan Wisma Pariwisata relatif naik setiap tahunnya, hal ini dapat dilihat melalui grafik diatas. Namun pada kelas Guest House dan Rumah Kost mengalami naik turun, yang dimana pada tahun 2016 kedua kelas tersebut naik hingga Rp. 979.707.423,70 untuk Guest House serta Rp. 2.487.028.903,25 untuk Rumah Kost dan pada tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan.

0,00 5.000.000.000,00 10.000.000.000,00 15.000.000.000,00 20.000.000.000,00 25.000.000.000,00 1 2 3 4 5 6 7

Pajak Hotel

2015 2016 2017

(15)

73

2. Pajak Restoran

Pajak Restoran adalah pajak yang dipungut atas pelayanan yang disediakan oleh restoran, sedangkan yang dimaksud dengan restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran yang mencakup rumah makan dan cafe.

Tabel 3.3. Realisasi Pajak Restoran Tahun 2015 - 2017 No Nama Pajak Tarif

Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Restoran 10 % 18.534.638.762,94 23.534.895.464,07 27.012.725.874,41 2. Rumah Makan 17.650.332.272,21 20.404.257.532,69 24.600.486.805,18 3. Café 2.886.349.149,07 3.559.076.282,63 3.579.399.360,85 Realisasi Pajak Restoran 39.071.320.184,22 47.498.229.279,39 55.192.612.040,44 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Grafik 3.2. Realisasi Pajak Restoran Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Restoran di Kota Malang dalam kurun waktu Tahun 2015 hingga 2017 mengalami kenaikan di semua jenis pajak, dari mulai restoran, rumah makan dan cafe. Namun pada pajak yang dihimpun dari cafe, penerimaannya tidak begitu signifikan dan relatif kecil diantara semua jenis pajak yang ada di dalam pajak restoran. 0,00 5.000.000.000,00 10.000.000.000,00 15.000.000.000,00 20.000.000.000,00 25.000.000.000,00 30.000.000.000,00 1 2 3

Pajak Restoran

2015 2016 2017

(16)

74

3. Pajak Hiburan

Pajak Hiburan adalah pajak yang dipungut atas penyelenggaraan hiburan, dimana hiburan yang dimaksud adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.

Tabel 3.4. Realisasi Pajak Hiburan Tahun 2015 - 2017 No Nama Pajak Tarif

Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Tontonan Film/Bioskop 10 % 3.214.029.500,00 3.144.935.530,21 3.838.627.019,54 2. Pagelaran Seni 15 % 572.678.400,00 286.030.312,50 488.543.475,00 3. Pameran 15 % 161.296.500,00 192.487.050,00 81.789.000,00 4. Karaoke 25 % 1.156.210.680,54 1.579.536.471,58 1.615.894.315,40 5. Bilyard 15 % 48.474.225,00 101.311.837,23 - 6. Bowling 15 % 39.864.000,00 23.382.975,00 - 7. Permainan 15 % 589.388.952,40 859.697.989,00 1.039.926.012,10 8. Panti Pijat 25 % 87.915.410,00 137.532.456,50 278.635.875,31 9. Pertandingan Olahraga 15 % 75.507.525,00 173.781.479,63 335.308.771,00 Realisasi Pajak Hiburan 6.031.213.792,94 6.610.023.251,65 7.816.824.218,35 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Grafik 3.3. Realisasi Pajak Hiburan Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Hiburan merupakan pajak yang paling banyak jenis pajaknya, akan tetapi yang paling banyak menyumbang penerimaan pajak daerah ialah pajak

0,00 500.000.000,00 1.000.000.000,00 1.500.000.000,00 2.000.000.000,00 2.500.000.000,00 3.000.000.000,00 3.500.000.000,00 4.000.000.000,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pajak Hiburan

2015 2016 2017

(17)

75

tontonan film atau bioskop. Pada Tahun 2014, penerimaan pajak dari tontonan film atau bioskop saja mencapai Rp. 3.838.627.019,54. Tentu hal ini akan terus bertambah setiap tahunnya, melihat kondisi Kota Malang yang terus berkembang.

4. Pajak Reklame

Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame, yang dimana reklame merupakan benda, alat, perbuatan atau media yang menurut bentuk dan fungsiya untuk tujuan komersial seperti halnya memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan. Adapun yang tidak termasuk kedalam objek reklame ialah: a.) penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, hingga majalah atau surat kabar; b.) satu nama pengenal usaha paling luas 0,5 m2 dan diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha tersebut; c.) satu nama profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi paling luas 2 m2 dan diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur profesi tersebut; d.) reklame yang diselenggarakan oleh pemerintah, TNI/Polri dan Partai Politik dengan tidak mencantumkan sponsor produk komersial.

Tabel 3.5. Realisasi Pajak Reklame Tahun 2015 - 2017 No Nama Pajak Tarif

Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Reklame Papan 20 % 16.308.504.436,82 18.509.060.435,25 15.937.053.935,88 2. Reklame Kain 2.916.709.852,50 3.291.652.670,00 2.942.760.583,50 3. Poster 14.175.000,00 - - 4. Selebaran 240.000,00 1.020.000,00 1.560.000,00 5. Reklame Berjalan/mobil 317.413.731,00 299.854.112,00 212.847.784,00 Realisasi Pajak Reklame 19.557.043.020,32 22.101.587.217,25 19.094.222.303,38

(18)

76

Grafik 3.4. Realisasi Pajak Reklame Tahun 2015 - 2017

Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Jenis Jajak Reklame yang menempati penerimaan yang paling besar ialah pajak papan, yang dimana pajak papan ini memperoleh Rp. 18.509.060.435,25 pada Tahun 2016, sedangkan penerimaan pajak yang paling kecil diperoleh dari pajak selembaran yang hanya Rp. 1.020.000,00 pada Tahun 2016.

5. Pajak Penerangan Jalan

Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, sedangkan yang dimaksud dengan penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik untuk menerangi jalan yang rekeningnya dibayar oleh pemerintah.

Tabel 3.6. Realisasi Pajak Penerangan Jalan Tahun 2015 - 2017 No Nama Pajak Tarif

Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. PLN - 45.603.347.367,00 47.362.861.046,00 54.010.635.569,00 2. PPJ Non PLN 202.130.764,18 205.207.919,81 202.892.021,24 Realisasi Pajak Penerangan

Jalan 45.805.478.131,18 47.568.068.965.81 54.213.527.590,24 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

0,00 2.000.000.000,00 4.000.000.000,00 6.000.000.000,00 8.000.000.000,00 10.000.000.000,00 12.000.000.000,00 14.000.000.000,00 16.000.000.000,00 18.000.000.000,00 20.000.000.000,00 1 2 3 4 5

Pajak Reklame

2015 2016 2017

(19)

77

Grafik 3.5. Realisasi Pajak Penerangan Jalan Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Penerangan Jalan terbagi menjadi dua jenis pajak, yakni pajak penerangan jalan yang bersumber dari PLN dan pajak penerangan jalan yang bersumber dari Non PLN. Dalam jenis pajak penerangan jalan, pajak yang bersumber dari PLN merupakan pajak yang terbesar dalam penerimaannya dan relatif naik dari tahun ke tahun. Akan tetapi jenis pajak penerangan jalan yang bersumber dari non PLN relatif naik turun yang dimana pada tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar Rp. 205.207.919,81.

6. Pajak Parkir

Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, sedangkan yang dimaksud parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor yang bersifat sementara.

0,00 10.000.000.000,00 20.000.000.000,00 30.000.000.000,00 40.000.000.000,00 50.000.000.000,00 60.000.000.000,00 1 2

Pajak Penerangan Jalan

(20)

78

Tabel 3.7. Realisasi Pajak Parkir Tahun 2015 - 2017

No Nama Pajak Tarif

Pajak

Tahun

2015 2016 2017

1. Realisasi Pajak

Parkir 20 % 3.662.965.828,90 4.887.815.130,00 5.280.261.785,00 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Grafik 3.6. Realisasi Pajak Parkir Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Parkir mengalami kenaikan setiap tahunnya, dimana penerimaan pajak yang berhasil dihimpun oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang pada Tahun 2015 berjumlah Rp. 3.662.965.828,90, Tahun 2016 berjumlah Rp. 4.887.815.130,00 dan pada Tahun 2017 mencapai Rp. 5.280.261.785,00.

7. Pajak Air Tanah

Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah, yang dimaksud air tanah adalah air yang berada di dalam perut bumi termasuk mata air yang muncul secara alamiah diatas permukaan air tanah.

Tabel 3.8. Realisasi Pajak Air Tanah Tahun 2015 - 2017

No Nama Pajak Tarif

Pajak

Tahun

2015 2016 2017

1. Realisasi Pajak

Air Tanah 20 % 777.523.080,54 809.743.186,19 807.463.681,49 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

0,00 5.000.000.000,00 10.000.000.000,00 1

Pajak Parkir

2015 2016 2017

(21)

79

Grafik 3.7. Realisasi Pajak Air Tanah Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Air Tanah mengalami naik turun di setiap tahunnya, pada tahun 2016 realisasi penerimaan pajak yang berhasil dihimpun oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang mencapai Rp. 809.743.186,19 yang dimana pada tahun tersebut menempati posisi tertinggi.

8. Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Adapun objek pajak yang tidak dikenakan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah: a.) perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan perlakuan timbal balik; b.) penyelenggara negara dan/atau pembangunan guna kepentingan umum; c.) badan atau perwakilan internasional yang ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan diluar fungsi dan tugasnya; d.) orang pribadi atau badan karena wakaf; e.) orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.

760.000.000,00 780.000.000,00 800.000.000,00 820.000.000,00

1

Pajak Air Tanah

(22)

80

Tabel 3.9. Realisasi Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Tahun 2015 - 2017

No Nama Pajak Tarif Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 5 % 111.466.125.751,23 144.892.155.137,10 170.091.879.687,33

Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Grafik 3.8. Realisasi Bea Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Bea Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Dimana pada Tahun 2017, pajak yang berhasil direalisasikan mencapai Rp. 170.091.879.687,33 dan menempati posisi tertinggi yang berhasil dihimpun oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang.

9. Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan

Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan untuk perkotaan kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan. Adapun objek pajak yang tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan adalah sebagai berikut: a.) digunakan oleh

0,00 100.000.000.000,00 200.000.000.000,00 1

Pajak BPHTB

2015 2016 2017

(23)

81

pemerintah; b.) digunakan untuk kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan; c.) digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala; d.) merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.

Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan:

a. Nilai jual objek pajak sampai dengan Rp. 1.500.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,055 % per tahun;

b. Nilai jual objek pajak Rp. 1.500.000.001,00 – Rp. 5.000.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,112 % per tahun;

c. Nilai jual objek pajak Rp. 5.000.000.001,00 – Rp. 100.000.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,145 % per tahun;

d. Nilai jual objek pajak diatas Rp. 100.000.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,113 % per tahun.

Tabel 3.10. Realisasi Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan Tahun 2015 - 2017

No Nama Pajak Tarif Pajak Tahun 2015 2016 2017 1. Realisasi Pajak Bumi dan Bangunan - 58.611.552.685,00 62.416.413.408,00 59.324.193.363,00 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

(24)

82

Grafik 3.9. Realisasi Bea Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan Bangunan Tahun 2015 - 2017

Sumber: Data diolah

Pajak Bumi dan Bangunan dalam realisasi penerimaan pajak periode Tahun 2015 hingga Tahun 2017 mengalami naik turun, dimana pada Tahun 2016 pajak yang berhasil dihimpun oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang mencapai Rp. 62.416.413.408,00 dan menempati posisi tertinggi di dalam periodenya.

F. Kinerja Pelayanan dan Realisasi Penerimaan pada Pajak Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Dalam upaya mendukung kinerja Pemerintah Kota Malang yang melingkupi fungsi pengelolaan pajak daerah, maka peran Badan Pelayanan Pajak Daerah sangat penting dalam menunjang kelancaran tugas-tugas tersebut. Saat ini terdapat sembilan jenis pajak daerah yang dipungut dan berhasil direalisasikan oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang.

50.000.000.000,00 60.000.000.000,00 70.000.000.000,00

1

Pajak Bumi dan Bangunan

(25)

83

Tabel 3.11. Realisasi Penerimaan Pajak Kota Malang Tahun 2014-2017

No Jenis Pajak

Realisasi Penerimaan Pajak Kota Malang

Tahun 2015 2016 2017 1. Hotel 31.828.508.228,43 37.857.637.844,26 43.119.974.826,05 2. Restoran 39.071.320.184,22 47.498.229.279,39 55.192.612.040,44 3. Hiburan 6.031.213.792,94 6.610.023.251,65 7.816.824.218,35 4. Reklame 19.557.043.020,32 22.101.587.217,25 19.094.222.303,38 5. Penerangan Jalan 45.805.478.131,18 47.568.068.965,81 54.213.527.590,24 6. Parkir 3.662.965.828,90 4.887.815.130,00 5.280.261.785,00 7. Air Tanah 777.523.080,54 809.743.186,19 807.463.681,49 8. BPHTB 111.466.125.751,23 144.892.155.137,10 170.091.879.687,33 9. PBB Perkotaan 58.611.552.685,00 62.416.413.408,00 59.324.193.363,00 Jumlah 316.811.730.702,76 374.641.673.419,65 414.940.959.495,28 Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

(26)

84

Grafik 3.10. Realisasi Penerimaan Pajak Kota Malang

Sumber: Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang

Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa setiap tahunnya realisasi penerimaan pajak daerah di Kota Malang mengalami kenaikan. Hanya saja ada beberapa jenis pajak yang mengalami ketidakstabilan yakni pajak reklame dan pajak bumi dan bangunan perkotaan. Realisasi dari penerimaan pajak daerah terbesar di Kota Malang disumbang oleh pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang pada tahun 2017 mencapai Rp. 170.091.879.087,33 sedangkan realisasi penerimaan pajak daerah yang terkecil ialah pajak air tanah yang pada tahun 2017 hanya mencapai RP. 807.463.681,49. Total keseluruhan realisasi penerimaan pajak daerah Kota Malang tahun 2017 mencapai Rp. 414.940.959.495,28 yang terdiri dari pajak hotel, restoran, hiburan, reklame, penerangan jalan, parkir, air tanah, BPHTB dan pajak bumi dan bangunan perkotaan.

0,00 20.000.000.000,00 40.000.000.000,00 60.000.000.000,00 80.000.000.000,00 100.000.000.000,00 120.000.000.000,00 140.000.000.000,00 160.000.000.000,00 180.000.000.000,00

Realisasi Penerimaan Pajak Kota Malang Tahun 2014-2017

Gambar

Gambar 3.1. Peta Kota Malang
Tabel 3.1. Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Malang 2013-2018
Gambar 3.4. ASN Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.2. Realisasi Pajak Hotel Tahun 2015 - 2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa pasien yang hidup kemudian Dari beberapa pasien yang hidup kemudian dirawat di intensive care unit (ICU) tetapi kemudian dirawat di intensive care unit

Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi

Upaya – upaya terwujudnya keberhasilan reformasi hukum telah dimulai dengan perubahan paradigma politik hukum yang diawali dengan struktur hukum, termasuk penegakan

[r]

Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh Spradley diatas maka tahapan pertama untuk mencapai pada analisis domain sebelumnya dilakukan pengamatan deskriptif,

1) Hubungan yang terjadi antara pengguna jasa pemborongan dan penyedia jasa pemborongan adalah hubungan hukum untuk melakukan suatupekerjaan tertentu bagi pengguna

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian adalah: (1) Gambaran kompetensi guru di lapangan secara keseluruhan dilihat dari hasil penelitian yaitu kompetensi pedagogik