2. LANDASAN TEORI
2.1 Followership
Kepengikutan bukan peran yang pasif, melainkan para pengikut yang paling berharga adalah seorang yang terampil, karyawan yang mandiri, orang yang berpartisipasi aktif dalam menetapkan arah kelompok, menginvestasikan waktu dan tenaganya dalam kerja kelompok, berpikir kritis, dan pendukung bagi ide-ide baru (Grossman & Valiga, 2000).
Kelley (1992), mendefinisikan kepengikutan sebagai satu kumpulan manusia yang faham apa yang perlu di buat (tanpa diberitahu) yang dapat bertindak dengan bijaksana dan bebas, berani dan mempunyai etika yang melaksanakan sesuatu tindakan menggunakan skill yang terbaik untuk mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian, followership adalah kesediaan antara pemimpin dan pengikut yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, memperlihatkan kemampuan dalam berkelompok dan membangun suasana saling mendukung antar pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Tidak ada kepemimpinan tanpa pengikut dan tidak ada kepengikutan tanpa pemimpin yang dimana keduanya saling berhubungan dan berinteraksi.
Followership baik atau followership gagal memiliki potensi untuk mencegah atau berkontribusi terhadap kesalahan masing-masing. Seiring dengan kepemimpinan yang baik, baik followership dapat menghasilkan lebih percaya lingkungan dengan pengaruh atas sesuai yang membantu menghindari kesalahan dan memberikan kontribusi untuk terus menerus pembelajaran dan perbaikan (Wilson, 2012).
2.1.1 Follower
Menurut Barry (2011), follower atau pengikut adalah orang yang memiliki pemimpin yang telah dipilih atas kemauannya sendiri. Pengikut sendiri memiliki dua pilihan : memperlakukan pemimpin sebagai seorang pemimpin dan pelatih
sehingga kita berkembang menjadi pemimpin; atau pindah bekerja untuk seseorang yang telah dipilih pengikut sebagai pemimpin.
Menurut Kean et al (2011), menjelaskan bahwa pengikut adalah individu yang membuat penilaian tentang para pemimpin dan kemudian memutuskan apakah mereka mengikuti pimpinannya atau tidak. Hal ini juga menunjukkan bahwa ada pembagian kekuasaan antara pemimpin dan pengikut yang mempengaruhi hasil, dan itu tergantung pada keputusan untuk mengikuti atau tidak.
Menyimpulkan dari dua definisi yang dijabarkan, maka disimpulkan follower adalah individu yang bebas berkehendak untuk menilai, mendukung dan mengikuti pimpinannya dengan tidak melupakan tanggungjawabnya dalam peran sebagai pengikut.
2.1.2 Klasifikasi Followership Styles
Robert Kelley (1992), menjelaskan teorinya mengenai followership style yang terdiri dari 2 dimensi:
1. Dimensi Derajat Berpikir Kritis.
Yaitu dimensi yang merupakan kontinum dari berpikir kritis independen sampai dengan berpikir tidak kritis . Pada ujung yang satu terdapat pengikut yang terbaik dalam dimensi ini adalah individu yang berpikir untuk diri sendiri, memberikan kritik yang konstruktif, kreatif dan inovatif. Pada ujung yang lain pengikut yang terburuk adalah pengikut yang harus diberitahu apa yang harus dilakukan, tidak dapat ke kamar mandi dan pengikut yang tidak berpikir. Diantara kedua ujung itu terdapat pengikut yang memerlukan pengarahan dan tidak menentang pemimpin.
2. Dimensi derajat keaktifan pengikut dalam bekerja.
Dimensi ini merupakan kontinum dari aktif sampai ke pasif. Menurut Kelley pengikut yang baik adalah pengikut yang mengambil inisiatif, mengasumsikan memilki organisasi, berpartisipasi aktif, pemula sendiri dan bekerja melebihi target yang ditetapkan. Pada ujung yang lain adalah
pengikut yang paling buruk yaitu pengikut yang pasif, malas, memerlukan dorongan, memerlukan supervisi yang terus-menerus dan menghindari tanggungjawab. Ditengah-tengah adalah pengikut yang menyelesaikan pekerjaannya tanpa supervisi setelah diberi tahu apa yang harus dikerjakannya.
Dari kedua dimensi yang telah dijelaskan, followership style terdiri dari lima jenis follower :
1. Alienated Follower (Jumlah sekitar 15-25 % dari jumlah pengikut)
Ciri utama jenis pengikut ini adalah berpikir kritisnya tinggi sedangkan derajat keikutsertaaanya dalam pekerjaan rendah. Ia seorang yang pasif dalam bertindak tapi sangat kritis terhadap organisasi dan pemimpin. Pengikut jenis ini adalah pengikut yang menambah luka bagi organisasi karena kebanyakan pengikut jenis ini sering menantang tanpa alasan, sinis, keras kepala dan sukar bekerja dalamtim. Pemimpin sering menganggap pengikut jenis ini sebagai biang kerok, sinis, negatif dan kurang pertimbangan. Kelley yakin allienated follower berasal dari effective follower yang mengeluh karena kemunduran atau hambatan. Pengikut ini dapat kembali menjadi effective follower jika mereka dapat mengurangi tingkat kenegatifannya melalui belajar sendiri dan problem solving konstruktif.
2. Conformist Follower (Berjumlah sekitar 20-30% dari jumlah pengikut) Pengikut konformis berpikir tidak kritis tapi ikut sertanya dalam pekerjaan sangat aktif. Ia mempunyai karakteristik effective Follower yaitu aktif melaksanakan tugas dan dan karakteristik passive Follower yaitu berfikir tidak kritis. Ia melaksanakan tugas tanpa kritik dan aktif melaksanakannya. Oleh karena itu sering disebut yes men yang selalu mengerjakan jika diberikan tugas tanpa berkomentar banyak.
3. Passive Follower (Berjumlah sekitar 5-10% dari jumlah pengikut)
Pengikut pasif derajat berpikirnya rendah dan keikutsertaan dalam pekerjaan pasif. Ia tergantung pada pemimpin untuk melaksanakan tugasnya yang ia lakukan tanpa antusias. Ia tidak punya inisiatif dan tanggungjawab dan selalu diarahkan serta tidak melakukan pekerjaannya melebihi yang telah ditetapkan.
Para pemimpin memandang pengikut pasif merupakan hasil personalitas pengikut bukan akibat perannya dalam organisasi, mereka menganggap pengikut ini malas, tak kompoten, tak termotivasi bahkan bodoh.
4. Pragmatist Follower (Berjumlah sekitar 25-35% dari jumlah pengikut) Pengikut jenis ini memiliki tingkat berpikir kritiknya dan keaktifan yang sedang. Jarang setia terhadap tujuan organisasi dan tak pernah berusaha untuk merubahnya. Ia meletakkan segala sesuatu dalam perspektif dan tahu bagaimana menyelesaikan pekerjaan serta mampu menjaga organisasi tetap berjalan sesuai arahnya dengan menggunakan aturan main. Tetapi dalam waktu bersamaan ia akan bermain politik melakukan tawar-menawar untuk keuntungan dirinya sendiri. Karena tidak senang mengaitkan dirinya keseluruhan pada organisasi, kinerjanya berada di tengah.
5. Effective Follower
Para pengikut yang diharapkan oleh perusahaan yang menunjukkan perilaku kepada pemimpin dan teman kerjanya sebagai orang yang independen, inovatif, kreatif, konsisiten dan mau membela pemimpin. Ia menerapkan bakatnya untuk kepentingan organisasi bahkan ketika mereka terbentur pada hambatan birokratik,
teman kerja pasif atau situasi pragmatik. Dapat bekerjasama dengan pemimpin dan rekan kerjanya. Effective follower berpikir kritis dan aktif.
Menurut Effendy (1989), kepengikutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kepengikutan Berdasarkan Naluri
Dalam klasifikasi ini, terjadinya kepengikutan pada sejumlah orang disebabkan timbulnya dorongan untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, sehingga mereka bersedia untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dikehendaki orang yang memperoleh kepercayaan itu. Orang yang menerima kepercayaan itu diakui sebagai pemimpin karena dianggapnya mampu melindungi kepentingan atau mewujudkan aspirasi orang-orang yang menaruh kepercayaan tadi.
2. Kepengikutan Berdasarkan Tradisi
Kepengikutan ini timbul disebabkan adanya kebiasaan secara turun menurun. Kepengikutan jenis ini terdapat baik dalam masyarakat skala besar seperti negara, maupun dalam skala kecil seperti desa. Dalam kepengikutan jenis ini, orang-orang yang menjadi pengikutnya tidak melakukan penilaian terhadap benar salahnya atau baik buruknya kebijakan yang dijalankan pemimpin.
3. Kepengikutan Berdasarkan Agama
Para pengikut berdasarkan agama biasanya bersifat fanatik, berani mati, karena matinya itu demi Tuhan penguasa dunia akhirat. Pengikut yang pimpinannya berdasarkan agama menganggap bahwa pimpinannya itu adalah orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya, karena sebagai tokoh agama ia selain menguasai ketentuan-ketentuan agama mengenai apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, ia sendiri yang pertama-tama akan mematuhinya.
4. Kepengikutan Berdasarkan Rasio
Kepengikutan ini dapat dijumpai di kalangan orang-orang terpelajar. Mereka mengakui seseorang sebagai pimpinannya berdasarkan pertimbangan rasional, berlandaskan penalaran. Pemimpin dipilih karena
berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Perilaku pemimpin didasari oleh pemikiran yang matang.
5. Kepengikutan Berdasarkan Peraturan Kepengikutan
Berdasarkan peraturan terdapat pada masyarakat modern, dimana orang-orang mengelompokkan diri untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan kepentingan yang sama secara bersama-sama. Namun jika peraturan tersebut mulai diabaikan, maka kerjasama yang terjadi dalam kepengikutan juga mulai terganggu.
Teori Leadership Grid yang dikemukakan oleh Robert R. Blake dan Anne Adams McCanse (1991) juga mengemukakan teori kepengikutan yang disebut sebagai The subordinate grid atau teori Kisi-Kisi Pengikut. Teori ini paralel dengan teori Leadership Grid dan didasarkan pada 2 dimensi :
1. Concern for the boss
Yaitu dimensi yang melukiskan tinggi-rendahnya perilaku pengikut ingin menyenangkan pemimpinnya.
2. Concern for accomplishing the Task
Yaitu dimensi as horizontal yang melikisnkan tinggi-rendahnya pengikut ingin menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Berdasarkan kedua faktor tersebut The Subbordinate Grid mengemukakan 7 gaya kepengikutan utama yaitu :
1. Gaya Pengikut Picik
Perhatian umum gaya kepengikutan ini adalah menyelesaikan tugas tinggi dan perhatian terhadap pemimpinnya dan teman kerja minimal. Jika terjadi interaksi dengan atasnnya pengikut cendrung untuk menggurui atasannya mengenai bagaimana bekerja. Jika terjadi perbedaan maka ia cenderung mengabaikan pendapat orang lain dan bersikukuh dengan pendapatnya sendiri dan ia terus sibuk melaksanakan tugasnya. Ia tidak memberikan kesempatan oarang lain mendahuluinya.
2. Gaya Kepengikutan Ingin Menyenangkan
Pengikut yang mempunyai gaya ini mempunyai perhatian terhadap pekerjaan rendah dan perhatian untuk menyenangkan pemimpinnya.
Pengikut jenis ini ingin mempertahankan iklim hubungan baik dengan pemimpinnya maupun dengan teman kerjanya. Ia mempunyai kecendrungan untuk tidak dapat mengatakan tidak terhadap permintaan orang lain. Jika terjadi perbedaan pendapat atau konflik pengikut jenis ini cenderung untuk mundur dari posisinya.
3. Gaya Kepengikutan Paternalistik
Jika pengikut mempunyai gaya kepengikutan seperti ini maka ia mempunyai sifat ingin mengontrol dan tidak ingin dikontrol. Walaupun demikian posisinya sebagai bawahan tidak dapat mementang pemimpinnya. Hubungannya dengan atasan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: - Menyetujui apa yang dikatakan atasan. Dengan cara ini pengikut
memposisikan diri sebagai tangan kanan yang dimana ia dapat mengontrol teman sekerjanya.
- Jika tidak dapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin pengikut mungkin akan menunda-nunda atau mengulur-ngulur waktu. Dalam waktu yang bersamaan ia akan mencari strategi atau taktik untuk merubah pemimpinnya.
4. Gaya Kepengikutan Masabodoh
Gaya kepengikutan ini ditandai dengan perhatian rendah terhadap atasan dan perhatian rendah terhadap pekerjaan. Pengikut menyandarkan diri kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan. Ia mematuhi instruksi atasannya dengan sepenuhnya tanpa menilai dan menafsirkannya. Pengikut hanya merasa sekedar menjalankan tugas dan tanggung jawab berada di tangan atasannya.
5. Gaya Kepengikutan Sadar Status
Ciri utama dari kepengikutan ini adalah perhatian terhadap atasan sedang. Pengikut dengan gaya ini diperlakukan dengan sopan dan dengan cara give and take. Ia beroperasi menurut apa yang pernah ia lakukan. Jika atasannya mengemukakan cara untuk melakukan tugas, maka ia mengganggap atasannya sebagai orang yang hirarkinya lebih tinggi dan lebih benar dan harus diikuti apa adanya. Jika ia diperintahkan untuk melaksanakan sesuatu yang baru yang ia belum mempunyai pengalaman dan prosedur yang tidak
ada maka ia akan bergantung pada bosnya. Ia takut gagal, takut mengambil resiko yang salah.
6. Gaya Kepengikutan Oportunistik
Inti dari gaya kepengikutan oppurtunistik adalah mengutamakan interes pribadi baik secara terang-terangan maupun secara terselubung. Pengikut dengan gaya ini ingin mencapai apa ia inginkan tanpa tanpa mengancam atasan dan teman kerjanya. Pengikut menganggap atasan adalah bantu loncatan ke atas, karenanya kemungkinan besar pengikut akan bersikap menjilat atasan.
7. Gaya Kepengikutan Pencari Solusi
Gaya kepengikutan tipe ini ditandai dengan tingginya memperhatikan atasan dan menyelesaikan tugas. Jika pengikut tidak sejalan dengan atasan, pengikut berusaha mendiskusikan pokok masala. Pengikut tidak mau pembatasan atau menerima pendapat dari orang lain tanpa adanya fakta pendukung. Ia tidak dapat menerima perilaku atasan dan teman sekerjanya yang tidak efektif.
Ada beberapa faktor yang menentukan pemilihan gaya dominant grid : 1. Budaya Organisasi.
Budaya organisasi mempengaruhi hubungan antara anggota organisasi. Salah satu diantaranya adalah asumsi dan prilaku kepemimpinan dan kepengikutan.
2. Nilai-nilai.
Asumsi seorang konsisten dengan nilai-nilainya, kepercayaan dan ide yang berhubungan dengan memperlakukan orang lain untuk mencapai tujuan. 3. Sejarah pribadi.
Orang mempunyai kecenderungan gaya pengikut tertentu karena pengalaman keberhasilan melaksanakan cara tersebut secara berulang-ulang.
4. Tidak ada kesadaran pilihan.
Perilaku orang diarahkan oleh asumsinya yang diadopsi semenjak awal kehidupannya tanpa memahami konsekuensi perilaku tersebut. Sampai menemukan asumsi baru, perilaku masih cenderung sama.
2.1.3 Effective Follower
Follower yang diinginkan dan dibutuhkan oleh atasannya, jelas adalah effective follower yang dapat memberikan pengaruh paling kuat. Effective Follower memiliki beberapa ciri khas (Blackshear, 2004) :
1. Bersedia untuk mengatur ego dan fungsi sebagai pemain tim, 2. Cukup diberdayakan dengan inisiatif dan kemauan untuk bertindak, 3. Menetap atau memiliki daya tahan,
4. Pendekatan wirausaha dan semangat dengan fokus pada mengambil resiko untuk mencapai hasil dan melakukan apa yang diperlukan
5. Lebih proaktif sebagai pemecah masalah bukan reaktif mengindentifikasi masalah,
6. Beradaptasi, fleksibel dan mampu mengelola perubahan, 7. Optimis atau positif dalam pendekatan,
8. Mengejar perbaikan terus-menerus dan terlibat dalam pengembangan pribadi untuk mencapai kompetensi.
Willson (2012), menjelaskan bahwa kepengikutan juga menjelaskan tentang kapan harus diikuti, dan ketika bagaimana harus memimpin yang lain. Dimana ada kepengikutan yang baik, ada tampilan konstan perilaku yang tepat yang diwujudkan dalam pekerjaan keseharian :
1. Tiba tepat waktu.
2. Memikirkan kepentingan bersama dan mengutamakannya. 3. Mudah berkelompok dan ramah.
4. Menjadi optimis: mencari pelajaran positif untuk ditarik.
5. Mengintegrasikan ke dalam budaya yang berbeda dan menjadi cukup rendah hati untuk bekerja dengan cara baru.
6. Menjadi seorang pendengar yang efektif dan komunikator. 7. Menampilkan integritas dan dapat dipercaya.
Menurut Williams (2012), pengikut yang baik adalah pengikut yang berkomitmen pribadi untuk berani berkontribusi dalam lingkungan kolaboratif. Sekarang proses menjadi aktif dan membutuhkan komitmen dan tanggung jawab pribadi.
Pengikut yang efektif selain memiliki kemampuan dan inisiatif tinggi, juga memiliki keberanian yang beragam (Daft, 2010) :
1. Keberanian untuk memikul tanggung jawab. 2. Keberanian untuk menghadapi tantangan.
3. Keberanian untuk berpatispasi dalam perubahan. 4. Keberanian untuk melayani.
5. Keberanian untuk meninggalkan.
Covey (1998), menjelaskan juga bahwa ada tujuh kebiasaan yang dimiliki oleh seorang pengikut yang efektif yang dikatakan sebagai proses dari dependence to independence :
1. Menjadi Proaktif
Menjadi proaktif berarti lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Orang proaktif mengakui bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memilih dan bertindak dengan integritas. Mereka tidak menyalahkan orang lain atau keadaan hidup untuk hasil mereka.
2. Mulailah dengan akhir dalam pikiran.
Ini berarti untuk memulai dengan gambaran mental yang jelas mengenai tujuan kita. Untuk setiap individu, mulai dengan akhir dalam pikiran berarti mengetahui apa yang kita inginkan, apa yang sangat penting bagi kita, sehingga kita bisa hidup setiap hari dengan cara yang memberikan kontribusi untuk visi pribadi kita.
3. Mengutamakan hal yang terutama
Kebiasaan ini mendorong orang untuk mengontrol waktu dan peristiwa dengan mengaitkannya dengan tujuannya dan dengan mengelola diri sendiri. Kita harus fokus pada mempertahankan dan meningkatkan hubungan dan menyelesaikan hasil.
4. Berpikir Win-Win
Untuk berpikir win-win berarti memahami bahwa tanpa kerjasama, organisasi tidak dapat berhasil. Ketika pengikut memahami hal ini, mereka bekerja sama dengan cara yang memastikan mereka untuk saling sukses dan memungkinkan setiap orang untuk menjadi pemenang.
5. Mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti
Prinsip ini adalah kunci untuk komunikasi yang efektif. Banyak orang tidak mendengarkan dengan maksud untuk memahami. Mereka terlalu sibuk berpikir tentang apa yang ingin mereka katakan. Cara ini memperlukan dengan tidak menghakimi serta mampu berempati dengan situasi orang lain. 6. Sinergi
Sinergi adalah tindakan gabungan yang terjadi ketika orang bekerja sama untuk menciptakan alternatif baru dan solusi. Selain itu, kesempatan terbesar untuk sinergi terjadi ketika orang memiliki sudut pandang yang berbeda, karena perbedaan melahirkan sebuah kesempatan baru. Inti dari sinergi adalah untuk menghargai dan menghormati perbedaan dan mengambil keuntungan dari keduanya untuk membangun kekuatan dan mengkompensasi kelemahan.
7. Mempertajam penglihatan
Ini adalah kebiasaan yang membuat semua yang lain mungkin. Cara ini adalah proses menggunakan dan terus-menerus memperbarui aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial dari kehidupan kita. Untuk menjadi pengikut efektif atau pemimpin efektif memerlukan hidup kehidupan yang seimbang. Pengikut yang efektif memang tidak mudah ditemukan karena terlalu banyak hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan tanggungjawab sebagai pengikut yang efektif. Pemimpin yang sukses memang tidak lepas dari pengikut-pengikut yang berhasil melaksanakan arahan pemimpinnya.
2.2. Aturan Kepengikutan
Meilinger (2007), menjabarkan tentang kepengikutan yang baik memiliki sepuluh aturan yang harus diingat untuk menghindar dari konflik yaitu :
1. Tidak menyalahkan atasan untuk keputusan yang salah.
2. Berdebat dengan atasan jika perlu, namun dilakukan di ruang tertutup. Hindari hal memalukan dan tidak menyebarkan apa yang dibicarakan. 3. Buat keputusan, kemudian beritahu atasan. Gunakan inisiatif
4. Terima tanggungjawab, apapun yang ditawarkan 5. Beritahu kebenaran, jangan berdalih
6. Lakukan pekerjaan rumah kita. Berikan semua informasi yang dibutuhkan atasan untuk membuat keputusan.
7. Ketika membuat rekomendasi, ingat siapa yang harus mengimplementasikan. Ini berarti kita harus mengetahui batasan dan kelemahan kita seperti mengetahui kelebihan kita.
8. Tetap membuat atasan mengetahui informasi yang terbaru.
9. Jika melihat masalah, selesaikan. Jangan khawatir siapa yang disalahkan atau siapa yang dipuji.
10. Habiskan waktu lebih banyak di hari pekerjaan yang jujur, tetapi jangan pernah melupakan kebutuhan keluarga.
Selain itu, Followership Styles yang baik tidak pernah melupakan keinginan pengikut-pengikutnya. Berikut adalah hal-hal yang diinginkan para atasan dari pengikut-pengikutnya (Daft, 2010) :
1. Sikap yang Membuat sesuatu nyata
Pemimpin tidak ingin banyak alasan dan ingin hasil yang terbaik. Itulah mengapa pengikut yang baik adalah pengikut yang mendukung ide dari pimpinan dan membuat ide tersebut berjalan menjadi nyata.
2. Kesediaan untuk berkolaborasi
Pemimpin memang memiliki tanggungjawab besar dalam organisasi untuk setiap organisasi. Setiap pengikutnya adalah bagian dari sistem pemimpin itu sendiri dan harus sadar bahwa kerjasama antar pemimpin dengan pengikut sangat dibutuhkan.
3. Motivasi untuk mengikuti yang terbaru
Pemimpin-pemimpin ingin pengikutnya berusaha keras untuk mengetahui apa yang terjadi dalam dan di luar perusahaan. Dengan mengetahui hal-hal di luar perusahaan seperti perubahan teknologi, pengertian terhadap pelanggan dan perhatian terhadap kompetitor, membuat individu tersebut berkembang dalam pekerjaan dan pengetahuannya.
4. Semangat untuk mendorong pertumbuhan individu itu sendiri
Pemimpin menginginkan pengikut yang berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan mereka sendiri daripada hanya bergantung pada pemimpin untuk melakukannya. Dengan cara seperti itu, dipercaya bahwa pengikut tersebut memiliki inisiatif tinggi, kemauan yang tinggi untuk menghadapi tantangan dan tidak berhenti belajar.
2.2.1 Pengembangan Followership Styles
Ada pengakuan yang berkembang bahwa bagaimana pengikut mengelola pemimpin mereka sama pentingnya dengan bagaimana para pemimpin mereka mengelola pengikutnya. Itulah mengapa sebuah hubungan timbal balik antara pemimpin dan pengikut sangat penting. Daft (2010), menjelaskan ada empat cara untuk menciptakan followership styles yang berhasil :
1. Menjadi sumber daya bagi pemimpin
Pemimpin membutuhkan pengikut-pengikutnya untuk menjalankan tugasnya dan itulah sebabnya pengikut adalah sumber daya dan pemimpin wajib mengetahui segala sesuatu mengenai pengikutnya.
2. Membangun hubungan
Hubungan timbal balik antara pemimpin dan pengikut harus selalu ada. Hubungan timbal balik yang ada tidak harus selalu mengenai kesetujuan atau opini positif, melainkan kritik dan teguran.
3. Membantu pimpinan menjadi pemimpin yang baik
Pengikut harus memberitahukan pemimpinnya apa yang ada di pikirannya. Pengikut juga mampu belajar dari pemimpin dan meminta saran dari pemimpinnya.
4. Melihat pemimpin secara realistis
Menyerahkan harapan ideal pada pemimpin dan tidak menyembunyikan apapun terhadap pemimpin. Jangan selalu setuju jika salah, terkadang tidak setuju diperlukan.
Berbagai cara yang dilakukan untuk menciptakan followership styles yang benar, tentu ada manfaatnya. Para pengikut yang telah ikut dalam partisipasi kepemimpinan dan kepengikutan dalam perusahaan memiliki harapan dari pimpinannya. Daft (2010) juga menjelaskan ada beberapa hal yang diinginkan pengikut dari pemimpinnya dengan mengikuti jejak pemimpin :
1. Kejelasan dari arahan pemimpin
Pengikut yang efektif dan yang teladan tidak mungkin akan mampu menjalankan tugas sebagai pengikut dengan baik jika pemimpinnya tidak mampu memberikan arahan. Pemimpinlah yang bertugas untuk
berkomunikasi pada semua dan menjelaskan kemana perginya sebuah organisasi.
2. Umpan balik yang sering, spesifik, dan langsung
Umpan balik muncul ketika pemimpin berevaluasi dan berkomunikasi yang bertujuan untuk membantu setiap individu agar mengetahui tentang dirinya dan mampu berkembang. Yang seringkali menjadi masalah, umpan balik digunakan untuk menyelamatkan kesalahan dengan menggunakan kebohongan. Ada beberapa cara umpan balik yang baik untuk pemimpin : - Membuat umpan balik tepat waktu
- Fokus pada performanya, bukan pada orangnya - Spesifik
- Fokus pada kemauan ke depan, bukan masa lalu 3. Pembinaan untuk mengembangkan potensi
Dengan umpan balik, pengikut mampu berkembang dengan cara pembinaan. Pembinaan sendiri bertujuan untuk membangun potensi pada diri pengikut yang dimana berbeda dengan cara manajemen. Cara manajemen sendiri lebih fokus pada pemberian tugas, evaluasi, pengendalian dan memberikan arahan.
Cara terbaik untuk mengembangkan pengikutnya adalah dengan cara coaching. Namun coaching sendiri sering disamakan dengan cara manajemen karyawan. Berikut adalah perbedaan antara managing dan coaching.
Managing Coaching
Telling Empowering Judging Facilitating Controlling Developing Directing Supporting
Daft (2010), menjelaskan ada empat tahap dalam coaching : 1. Observasi
Pemimpin melihat kejadian yang membantu pemimpin mengindentifikasi perbedaan atau kesempatan untuk membantu follower.
2. Diskusi dan Kesepakatan
Berbicara dengan follower atau berdiskusi untuk memperoleh sebuah kesepakatan mengenai masalah yang ada.
3. Membuat dan Mengikuti rencana
Membuat tujuan dan waktu untuk meningkatkan kemampuan delegasi. 4. Follow-up
Memperhatikan proses, menawarkan umpan balik, membantu mempelajari.
Menerima masukan dan umpan balik dari pengikut yang baik akan membuat pemimpin sibuk untuk menghabiskan waktu dan energi untuk terbuka, tertarik, apresiatif, non-defensif, dan bersedia untk para pengikutnya dengan cara yang mengundang tantangan kreatif dan yang berfungsi dengan baik (Chaleff, 2003).
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya mengenai followership telah dilakukan oleh Blackshear (2004) yang menjelaskan tentang tahap-tahap follower dari awal hingga menjadi seorang follower yang teladan :
1. Karyawan
Tahap pertama dari followership di tempat kerja dimulai dengan menjadi seorang karyawan, menyediakan pekerjaan dengan imbalan gaji.
2. Berkomitmen
Pada tahap followership berkomitmen, karyawan tersebut terikat pada misi, ide, organisasi, atau memiliki janji internal untuk usaha atau orang. 3. Terlibat
Pada tahap followership terlibat, pengikut merupakan pendukung aktif, bersedia untuk pergi ke atas dan di luar rutinitas.
4. Efektif
Pengikut yang efektif mampu dan dapat diandalkan. 5. Teladan
pengikut teladan bekerja untuk mendukung pemimpin. Mereka juga mampu memimpin dirinya sendiri.
Data yang diperoleh oleh peneliti merupakan data primer yang didapat dari penelitan langsung mengenai umpan balik karyawan dan survei mengenai followership style pada karyawan.
Ada juga penelitian yang dilakukan oleh McCallum (2013), yang meneliti tentang kualitas-kualitas seorang follower yang terlihat ketika gaya kepemimpinan sebuah organisasi mampu memberikan arahan dan bimbingan pada follower. Kualitas-kualitas tersebut adalah :
1. Penghakiman 2. Etika Bekerja 3. Berkompetisi 4. Kejujuran 5. Keberanian 6. Kebijaksanaan 7. Loyalitas 8. Ego Management
Data yang diperoleh oleh peneliti merupakan data primer yang didapat dengan cara pendekatan grounded theory dalam sebuah program pengembangan dalam MBA.
Dengan penjelasan hasil kedua penelitian terdahulu, maka followership styles yang berhasil jelas tidak lepas dari bagaimana gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh perusahaan. Cara pemimpin untuk mengamati follower mereka tergolong pengikut yang efektif atau bukan, serta perilaku dan proses menuju effective follower juga diperlukan. Keberhasilan followership styles juga tidak lepas dari cara pemimpin memberikan arahan yang jelas, dan feedback yang terjadi antara follower dengan pimpinan.
2.4 Kerangka Berpikir
Sumber : Kelley (1992), Blackshear (2004), Willson (2012), Daft (2010), dan Melienger (2007)